Hoax Penculikan yang Begitu Menyakitkan

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

ENTAH bagaimana awalnya, isu tentang penculikan anak menyebar hingga menjadi viral di media sosial. Entah awalnya hanya keisengan, atau memang ada tujuan tertentu, yang pasti isu ini sangat merugikan dan begitu menyakitkan.

Orang-orang jadi semakin mudah ”baper” hanya karena melihat seorang gelandangan tengah berkeliaran, atau melihat pengemis yang tengah duduk-duduk di emperan pos kampling. Polisi juga tak kalah bapernya, sibuk mencari-cari sambil bertanya-tanya, ”Katanya banyak kasus penculikan, kok tidak ada laporan yang masuk ke kita ya?”.

Tak terkecuali para orang tua, yang kini semakin super protektif dengan anak-anaknya. Bocah-bocah yang seharusnya bebas bermain, bercanda dengan teman sepermainan, kini ditakut-takuti menjadi sasaran penculikan. Mereka dijejali rasa takut dengan ancaman organ dalam mereka nantinya akan dibedah dan dijual ke orang tak bertanggungjawab.

Sungguh sangat kasihan, bocah-bocah ini seharusnya tak perlu tahu mengenai masalah-masalah mengerikan seperti ini. Apalagi isu-isu itu juga hingga kini belum terbukti kebenarannya. Pihak kepolisian sudah berkali-kali menyampaikan penjelasan bahwa kabar penculikan itu bohong.

Meski demikian, orang-orang sudah terlanjur termakan dengan isu penculikan itu. Yang begitu menyakitkan, akibat isu yang tak jelas juntrungnya ini orang-orang miskin yang menggantungkan hidup dari sisa-sisa orang, yang akhirnya kena dampaknya. Orang Jawa bilang, keno awu anget.

Mereka yang tak tahu apa-apa menjadi bulan-bulanan massa, dihajar, dikeroyok hingga babak belur. Tak hanya satu atau dua kasus, hampir di semua daerah terjadi kasus main hakim sendiri, gara-gara melihat pengemis atau gelandangan yang mondar-mandir. Mereka kelewat curiga, dan terlalu terpengaruh dengan isu penculikan itu, menjadikan orang tak bersalah jadi sasaran amarah.

Orang-orang yang keburu ”parno” menjadi buta mata dan buta hati, tak peduli itu benar atau salah, pokoknya ketemu pengemis mencurigakan langsung saja digebuki. Seperti yang terjadi di Kabupaten Pati beberapa waktu lalu, gara-gara seorang pengemis membawa uang satu juta rupiah yang ditaruh di dalam dunak, langsung saja dicurigai sebagai penculik dan bagian organisasi penjualan organ manusia. Orang Pati menyebutnya sebagai pelaku ”peletan”.

Nyatanya, setelah ditangkap dan diamankan di polres, tak terbukti sedikitpun jika orang itu adalah pelaku ”peletan”.  Ini semua karena masyarakat kita masih begitu mudah ”dihasut”. Isu-isu yang menyebar di media sosial dengan gampangnya mereka percayai tanpa melakukan kroscek terlebih dahulu.

Padahal jika mau sedikit membaca dan mencari informasi pembanding, orang tak akan mudah tertipu dengan isu penjualan organ dengan modus menculik anak ini. Apalagi untuk melakukan transplantasi organ dalam itu juga tak semudah yang dibayangkan.

Wakil Ketua Tim Transplantasi Ginjal RSCM, dr Maruhum Bonar H Marbun, Sp.PD-KGH, bahkan menyebut proses cangkok organ akan sangat sulit dilakukan jika organ donornya berasal dari korban penculikan. Karena menurut dia, sebelum dilakukan pencangkokan harus diteliti dulu kecocokan antara pendonor dan penerima.

Menurutnya, terdapat kesulitan melakukan pencangkokan organ dari orang asing. Tingkat kesesuaian lebih tinggi jika donasi berasal dari orang yang masih punya hubungan keluarga. Sehingga risiko ditolak oleh tubuh penerima lebih kecil.

Apalagi di Indonesia proses transplantasi organ prosesnya sangat njlimet, dan yang paling penting usia pendonor harus lebih dari 18 tahun. Nah kalau yang diculik itu anak-anak, kemungkinan besar organnya belum bisa dipakai.

Memang kewaspadaan itu penting, namun jika terlalu “parno” justru akan merugikan. Isu-isu seperti ini sebenarnya tidak kali ini saja muncul. Dulu zaman media sosial belum ada, juga kerap muncul isu-isu penculikan anak seperti ini.

Seperti yang dialami penulis di era 80-an akhir, juga sering ditakut-takuti dengan isu penculikan anak oleh penjual ”arumanis” (kembang gula) keliling.

Saat itu banyak beredar kabar jika para penculik menggunakan modus jualan arumanis untuk mencari mangsa anak-anak. Setelah diculik, organ bahkan kepalanya akan diambil untuk tumbal.

Alhasil ketika ada penjual arumanis lewat, anak-anak kecil langsung berlari ketakutan. Padahal mungkin saja awalnya, orang yang menyebarkan kabar ini hanya sekadar iseng menakuti anaknya agar tak terus merengek minta jajan arumanis.

Di zaman informasi yang tak bisa dikendalikan dengan adanya media sosial ini, masyarakat seharusnya lebih cerdas. Jangan mudah terhasut kabar yang belum tentu benarnya. Dan yang paling penting saring dulu kabar yang Anda terima sebelum di-sharing (bagikan). (*)

Kapolres Tegaskan Kabar Penculikan Anak di Jepara Hoax

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin. (Dok. Polres Jepara)

MuriaNewsCom,Jepara – Dalam beberapa pekan belakangan ini, media sosial heboh kabar penculikan anak di bawa umur dan dijual organ tubuhnya. Isu ini ramai dibicarakan di medsos dan dikabarkan terjadi di wilayah Kecamatan Donorojo dan wilayah lain di Kabupaten Jepara.

Terkait hal ini, Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin menegaskan, jika kabar penculikan anak yang beredar melalui pesan singkat berantai serta di dunia maya, tidak benar atau hoax. “Saya yakinkan dan sudah cek, di Donorojo dan beberapa wilayah lain di Jepara, berita tersebut adalah berita hoax,” ujar Kapolres Jepara, seperti dikutip dari laman tribratanewsjepara.com,Jumat (24/3/2017).

Salah satu pesan berantai tersebut menyebutkan, bahwa ada penculikan anak di RT 4 RW 5 Dukuh Senggrong, Desa Blingoh, Donorojo, Jepara, Minggu (19/3/2017). Pesan itu menyebutkan, pelaku berpura-pura gila saat ditangkap dan sekarang di proses Polsek Donorojo.

Menurut Samsu, penyebar isu penculikan anak sengaja menaikkan isu tersebut dengan tujuan untuk membuat takut dan resah di kalangan masyarakat.

“Saya selaku pimpinan kepolisian di Jepara menyatakan tegas, sepanjang sepengetahuan saya dan para kepala kepolisian sektor, semuanya menjawab dan telah melakukan pengecekan, dan menjawab tidak ada,” kata dia.

Samsu mengimbau, agar orang tua tidak perlu khawatir dengan isu yang beredar. Meski demikian, ia tetap meminta masyarakat waspada dan tidak mudah percaya dengan kabar hoax.

Dia mengingatkan, bila hal itu memang ada, sebaiknya langsung dilaporkan ke polisi. “Isu kasus penculikan anak ini menyebabkan keresahan dan ketakutan di masyarakat. Kalau ada kasus, dilempar saja ke penegak hukum. Jangan over reaktif dan menjadi panik. Klarifikasi dengan kepolisian, dengan warga di sana, betul atau tidak informasi tersebut sebelum mencerna informasi,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Polisi Amankan Musafir di Bumiayu Pati untuk Hindari Amukan Massa

Agus (kaos merah), seorang musafir yang dikira penculik anak diamankan petugas Polsek Wedarijaksa, Kamis (23/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petugas Polsek Wedarijaksa mengamankan seorang musafir asal Desa Pingit, Pringsurat, Temanggung, Agus Budi Munawar (41) yang mengalami pingsan di Desa Bumiayu, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, Kamis (23/3/2017).

Dia segera diamankan polisi untuk menghindari amukan massa yang saat ini terbawa isu adanya penculikan anak dari seorang pengemis atau gelandangan. “Isu penculikan anak saat ini memang terbawa oleh masyarakat. Karena itu, ketika ada laporan dari masyarakat, langsung kami amankan,” ujar Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum.

Menurut keterangan Agus, dia berangkat ke Lasem untuk menyusul saudaranya. Namun, saudaranya sudah berangkat ke Jakarta. Agus akhirnya pulang, tetapi kehabisan bekal sehingga meminta tolong petugas Polsek setempat.

“Agus dititipkan Bus Jurusan Semarang oleh petugas Polsek Lasem. Sampai di Terminal Pati, dia pindah bus. Sayangnya, dia tidak tahu kalau bus yang ditumpangi jurusan Pati-Tayu,” ungkap AKP Sulis.

Saat sampai di Gapura Dukuh Bapoh, Bumiayu, Agus diturunkan sopir bus karena tidak membawa uang saat ditarik kondektur. Setelah turun, dia bermaksud mencari rumah kepala desa setempat untuk meminta makan karena lapar.

Belum sampai di rumah kades, Agus jatuh pingsan. “Musafir itu sempat dikira akan menculik anak. Agus yang hanya berbekal fotokopi KTP langsung kami amankan di kantor. Kami kasih makan dan berikan uang dari iuran sukarela anggota Polsek Wedarijaksa agar bisa pulang ke rumahnya di Temanggung,” tandas AKP Sulis.

Editor : Kholistiono

Polisi Imbau Warga Pati Tidak Resah Adanya Isu Penculikan Anak

Warga beramai-ramai melihat seorang pengamen yang diduga penculik anak diamankan di Polsek Tayu, Rabu (22/3/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Pati diimbau untuk tidak resah dengan adanya isu penculikan anak yang dilakukan orang pura-pura gila atau pengamen. Hal itu disampaikan Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Kamis (23/3/2017).

“Kami harap masyarakat tidak resah. Rata-rata yang diisukan penculik anak adalah orang gila, gelandangan, pengemis, dan pengamen. Sampai saat ini, belum ada buktinya,” kata Kompol Sundoyo.

Kendati begitu, ia tetap meminta kepada orang tua untuk selalu memperhatikan dan mengawasi anak-anaknya. Langkah antisipasi tetap diperlukan, meski isu penculikan anak yang disebarkan saat ini lebih bersifat hoax atau berita bohong.

Bahkan, Polres Pati sendiri sudah menerjunkan tiga unit penyelidikan dari Intel dan tiga unit buru sergap (buser) dari Reserse dan Kriminal (Reskrim) untuk mengantisipasi bila benar-benar ada penculikan anak. Karena itu, masyarakat tidak perlu resah, tetapi tetap mengawasi putra-putrinya.

Baca juga : Seorang Pengamen di Sambiroto Pati Nyaris Dihakimi Massa Karena Dikira Penculik Anak

“Bila ada orang yang mencurigakan, jangan langsung main hakim sendiri. Ditanya baik-baik, diserahkan ke polsek setempat lebih baik supaya didata oleh petugas. Jangan sampai pengemis atau orang gila beneran dikira penculik anak langsung dikeroyok,” tuturnya.

Saat ini, Kabupaten Pati dinyatakan aman dan kondusif dari isu penculikan anak. Selain intelijen dan tim buser disebar, Babinkamtibmas di masing-masing desa juga sudah diminta melakukan antisipasi. Namun, langkah preventif dari orang tua untuk memperketat pengawasan anak juga dianggap perlu.

Editor : Kholistiono

LPAR Imbau Warga Tak Terprovokasi Isu Penculikan Anak

Sosialisasi tentang perlindungan hak anak yang berlangsung di Hotel Fave, Rabu (22/3/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) mengimbau warga di daerah itu tidak terprovokasi isu penculikan anak sehingga menimbulkan keresahan, apalagi sampai main hakim sendiri dan bisa merugikan orang lain.

Hal itu disampaikan Safiul Anam, Divisi Penguatan Organisasi LPAR. “Jangan sampai terprovokasi dan menjurus anarkis dan main hakim sendiri ketika melihat orang asing atau orang mencurigakan di lingkungan kita,” ujarnya, Rabu (22/3/2017).

Namun demikian, kata Safiul, warga juga diminta tetap mawas diri terhadap kehadiran orang tidak dikenal atau orang asing di suatu lingkungan. Kewaspadaan tersebut untuk mencegah kemungkin terjadinya sesuatu hal yang buruk, seperti main hakim sendiri terhadap orang tidak dikenal tersebut dengan sangkaan bahwa kehadiran orang itu ingin menculik anak.

“Yang penting adalah mawas diri dan jangan sembarangan menitipkan anak pada tetangga atau orang lain, ketika orang tua bekerja atau aktivitas lain,” imbuhnya.

Safiul juga membenarkan bahwa isu penculikan anak merebak secara nasional dan menyebar luas melalui postingan-postingan di media sosial.  “Kemarin juga ada seseorang yang  mencurigakan di kawasan Magersari, dan beruntung warga langsung melaporkan ke Polisi, bukan main hakim sendiri. Ketika diinterogasi polisi, orang tersebut bersikap aneh, seperti orang gila,” katanya.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, jika LPAR akan menggandeng Komisi Perlindungan Anak Desa(KPAD) untuk memantau dan melakukan pengawasan terhadap anak di desa masing-masing.

Editor : Kholistiono

Marak Isu Penculikan Anak, Wakapolres Rembang : Itu Hoax

Wakapolres Rembang Kompol Pranandya Subiyakto saat diwawancarai wartawan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Wakil Kepala Kepolisian Resor Rembang Kompol  Pranandya Subiyakto memastikan tidak ada kasus penculikan anak yang dikabarkan marak terjadi akhir-akhir ini.

“Kabar atau berita tersebut tidak benar. Itu hoax dan itu bisa meresahkan masyarakat .Sampai saat ini, khususnya di wilayah hukum Polres Rembang dalam keadaan aman terkendali, tidak ada kejadian yang menonjol, apalagi tentang penculikan anak,” ujarnya.

Dirinya juga menyarankan kepada seluruh masyarakat, jika menjumpai seseorang yang mencurigakan, seperti halnya pemulung atau pengemis yang tidak dikenal, maka bisa langsung melaporkan ke Bhabinkamtibmas setempat.

Dia melanjutkan, dengan adanya laporan kepada pihak berwajib atau perangkat desa setempat, nantinya laporan tersebut bisa ditindaklanjuti atau ditelusuri. “Kita sifatnya pencegahan adanya tindakan yang negatif. Selain itu, warga juga harus aktif dan peka terhadap keadaan yang ada di lingkungannya masing-masing. Supaya bisa saling memantau,” ucapnya.

Terpisah, Asfiroh, salah satu warga Gedangan, Kecamtan Rembang, mengutarakan, semua warga memang butuh kehati-hatian. Terlebih Rembang, merupakan jalur pantura.

“Rembang ini juga sering dijadikan tempat pembuangan orang gila, maupun orang misterius. Ya, kita harus sama-sama berhati-hati. Misalkan saja, sepanjang pantura Kaliori Rembang juga banyak orang gila yang ada di jalan. Apakah itu memang dibuang dengan sengaja atau juga berdatangan dengan sendirinya,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono