Polisi Bekuk Remaja Pelaku Pencabulan Terhadap Anak di Bawah Umur

Pelaku pencabulan SP saat diwawancarai media pada gelar kasus di Mapolres Rembang , Selasa (4/7/2017) siang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Polres Rembang berhasil membekuk pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur. Pelaku adalah BP (19), warga Kecamatan Rembang.

Di hadapan awak media, pelaku dan korban awalnya berkenalan melalui Blackberry Messenger (BBM). Setelah melakukan komunikasi beberapa lama, akhirnya pelaku mengajak korban SP (14) yang tinggal di Kecamatan Rembang untuk bertemu dan mengajak.

Akhirnya, korban menyanggupi untuk diajak ketemuan dan jalan. Pertemuan tersebut terjadi pada 29 Juni 2017 sekitar pukul 21.00 WIB. Setelah itu, pelaku mengajak korban untuk jalan-jalan. Usai itu, korban kemudian diajak ke kamar pelaku.

Ketika di kamar itulah, kemudian pelaku melancarkan aksi bejatnya. “Saya memang mencium dan meraba, tapi tidak melakukan hubungan intim,” kata pelaku, Selasa (4/7/2017).

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Rembang AKP Ibnu Suka mengatakan, ketika korban dibawa jalan-jalan pelaku, orang tua korban melakukan pencarian, karena ketika itu sudah larut malam.

“Saat dalam pencarian, mereka kebetulan berpapasan di jalan, sehingga sempat memicu keributan. Polisi turun tangan menengahi, kasus tersebut dan berujung proses hukum,” ungkapnya.

Mengingat korban masih di bawah umur, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Soal kenapa korban menurut saja, polisi menduga akibat kuatnya pengaruh media sosial sekarang. Maka ia mengimbau orang tua lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak – anaknya, sehingga bisa memanfaatkan kecanggihan tekhnologi untuk keperluan positif.

Pelaku saat ini telah ditahan di sel Mapolres Rembang. Pelaku dikenakan pasal berlapis, yakni Pasal 82 Undang – Undang Perlindungan Anak dan pasal 332 KUHP. Ancaman hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

Editor : Kholistiono

Mungkinkan Kita Ini Kembali ke Zaman Jahiliyah?

Ali Muntoha muntohafadhil@gmail.com

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

ORANG bilang kita ini tinggal di dunia modern, dengan manusia-manusianya yang semakin cerdas. Kecerdasan orang-orang ini mampu menciptakan teknologi luar biasa yang memudahkan hidup mereka, dan ilmu-ilmu pengetahuan baru untuk memecahkan berbagai macam persoalan.

Bisa dikatakan sudah tidak ada lagi orang yang bodoh tanpa pendidikan. Namun faktanya kecerdasan dan kepintaran yang ada justru tak berbanding lurus dengan kecerdasan hati dan nurani. Sehingga yang terjadi, kepintaran dan kecerdasan itu justru membawa manusia kembali ke arah zaman jahiliyah, zaman kebodohan.

Zaman jahiliyah diidentikkan dengan konsep kehidupan yang tak manusiawi, moralitas berada pada titik paling rendah, penganiayaan, kedzaliman menyebar dan merusak tatanan kehidupan sosial. Tak beda dengan hari-hari ini, di mana kita disuguhi perkelahian, pertentangan oleh masalah-masalah yang sebenarnya sepele.

Pemimpin saling bertikai, tokoh agama diadu-domba, dan agama dijadikan sarana untuk memenuhi hasrat pribadi. Orang bisa dengan mudah mencaci maki jika tak sesuai dengan pandangannya, teman dengan sekejap bisa jadi musuh, keluarga tercerai berai, dan lainnya.

Di masa zahiliyah posisi perempuan sangat tidak berharga. Perempuan diposisikan layaknya barang, sebagai pemuas nafas dan bahkan bisa diwariskan. Di zaman ini pula anak-anak perempuan banyak yang dihabisi nyawanya, karena dianggap tak punya nilai yang berarti.

Dalam beberapa pekan ini kita disuguhi berita tentang kekejaman seorang anak perempuan di Kabupaten Rembang. Tiga orang gadis bau kencur menjadi korban ekspolitasi seksual. Tragisnya lagi, dua dari korban pelakunya bukan orang lain, melainkan keluarganya sendiri.

Dua gadis ingusan itu digagahi oleh ayah tirinya. Meskipun statusnya ayah tiri, tapi tugas utamanya seharusnya melindungi, mendidik dan membesarkan anaknya penuh dengan kasih sayang, bukan menggaghi dengan membabi buta. Bahkan satu di antaranya sampai hamil enam bulan, setelah dicabuli sang ayah tiri.

Perlakukan seperti ini, menunjukkan bahwa orang-orang seperti ini sudah tak ubahnya seperti binatang, yang mengumbar nafsu seenak hatinya. Tak hanya nafsu birahi, nafsu untuk melampiaskan kemarahan juga langsung diumbar dengan tanpa memperhatikan dampaknya. Seorang guru SD di Kabupaten Grobogan kehilangan nyawa setelah dibacok oleh suaminya sendiri yang tengah marah.

Kebiadaban orang tua kepada anaknya juga terjadi di Kabupaten Grobogan. Bocah umur empat tahun digorok oleh ibunya sendiri sampai meninggal dunia. Tak tahu apa penyebabnya, namun masalah kejiwaan yang disebut-sebut menjadi penyebab utama ibu tersebut nekat menghabisi nyawa anak kandungnya.

Dari berbagai macam kasus ini mengingatkan kita tentang zaman jahiliyah, di mana rusaknya tatanan sosial membuat degradasi moral anarkisme merajalela. Di sini peran agama perlu kembali diperkuat, pengamalan ajaran keagamaan, apapun agamanya menjadi kunci untuk mengentaskan berbagai macam persoalan sosial ini. (*)

Bahaya Laten Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

DALAM dua pekan terakhir ini, Kepolisian Resor (Polres) Rembang menangani tiga kasus pencabulan. Sungguh sangat ironis, apalagi kasus pencabulan ini terjadi dalam kurun waktu yang hanya dua pekan.

Bukan bermaksud untuk membesar-besarkan, namun, melihat realita yang terjadi, hal seperti ini bisa dikatakan darurat. Ya, darurat pelecehan seksual.

Apalagi, dua dari tiga kasus pencabulan tersebut, pelakunya adalah orang dekat, yaitu ayah tiri. Dua pelaku ini, dalam kesehariannya ada di antara korban maupun keluarga korban. Artinya, antara pelaku dan korban saling mengenal dan sangat dekat, karena tinggal satu atap.

Mirisnya lagi, korban dari pencabulan ini, usianya masih di bawah umur. Ada yang masih 14 tahun, dan juga 16 tahun. Bahkan lebih ironis lagi, satu dari korban pencabulan tersebut sampai hamil, yang kini usia kandungannya sudah enam bulan. Satu korban lain bahkan sudah mendapatkan perlakukan kekerasan seksual dari Sang Ayah Tiri selama lima tahun. Korban tak mampu menolak perlakuan bejat pelaku, karena korban mendapatkan ancaman, bahwa ibu korban akan dibunuh jika korban menolak untuk menuruti permintaan pelaku.

Kemudian, satu korban lagi yang mendapatkan perlakuan kekerasan seksual, yang pelakunya merupakan orang yang baru dikenal melalui handphone. Modus pelaku adalah, mengiming-imingi korban untuk dibelikan HP baru, agar korban mau diajak  keluar rumah, dan akhirnya berujung dengan tindakan pencabulan terhadap korban.

Melihat realita di atas, sungguh sangat miris dan kekerasan seksual ini nyata adanya mengancam di sekitar kita. Untuk itu,harus ada langkah solutif agar kejadian serupa tidak terulang kembali kedepannya. Jangan sampai, ada korban-korban baru di sekitar kita.

Perlu kita ketahui, bahwa kejahatan pencabulan merupakan suatu penyakit rohani yang harus di sembuhkan. Selain karena faktor kejiwaan, ada juga faktor lain yang dapat menyebabkan orang berperilaku menyimpang serta mengarah pada tindak kriminalitas. Contohnya dengan adanya penyalahgunaan media sosial dan mudahnya masyarakat mengakses situs pornografi, menyebabkan para pelaku pencabulan dengan leluasa melampiaskan perbuatan  kejinya terhadap para korban. 

Namun kadang kala para korban sendirilah yang menjadi pemicunya. Faktor pola atau gaya hidup dan  lingkungan sekitar juga sangat mempengaruhi munculnya aksi kejahatan ini.

Untuk itu, perlu adanya peran dan kepedulian bersama, agar angka pelecehan seksual terhadap anak tidak bisa diminimalisasi.

Keluarga, terutama orang tua, memiliki peran yang sangat krusial terhadap upaya mencegah terjadinya tindakan pencabulan terhadap anak. Sejak dini, sosialiasi dan pemahaman seputar seks perlu diberikan kepada anak. Persepsi mengenai seks yang “saru” untuk dibicarakan terhadap anak, nampaknya perlu diubah.

Pendekatan orang tua terhadap anak dalam hal memberikan pemahaman seputar seks, perlu diperbaiki. Anak-anak usia 3-12 tahun perlu diberikan pengertian, misalnya seperti perbedaan jenis kelamin, orientasi seksual, sampai kepada pemahaman bahwa daerah-daerah tertentu dari tubuh anak tidak boleh dilihat maupun dipegang oleh siapapun.

Orang tua, saat ini harus menghindari bersikap reaktif terhadap pertanyaan-pertanyaan anak seputar organ seksual. Penjelasan tentang orientasi seksual harus datang dari orang tua, karena kalau tidak, anak-anak berpeluang menerima informasi yang terdistorsi baik dari teman maupun tontonan.

Kemudian, perlu adanya pengawasan orang tua terhadap anak, baik itu berupa jam bermain anak, teman bermain atau dengan siapa anak bergaul, ke mana anak pergi dan apa tujuannya. Selain itu, orang tua juga harus memerhatikan acara apa yang sedang  di tonton anak di tayangan  televisi. Orang tua harus bisa memastikan bahwa tayangan tersebut  baik untuk anak.

Selanjutnya adalah peran dari pihak sekolah. Di sini, pihak sekolah harus mampu menjadi media yang tidak hanya mengajarkan anak tentang moral dan budi pekerti, namun, juga harus mampu menyentuh pada aktivitas peserta didik. Pendidik harus memperhatikan, bagaimana hubungan pertemanan, bahasa yang digunakan serta implementasi nilai-nilai karakter yang sudah diajarkan.

Tak kalah penting adalah, memberikan efek jera terhadap pelaku pencabulan. Penegak hukum mesti menjalankan aturan yang berlaku terkait sanksi terhadap pelaku. Seperti yang tertuang dalam Undang – Undang  ( UU ) Nomor 35 tahun 2014 yang merevisi UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa para pelaku tindak pidana kejahatan seksual terhadap anak akan di hukum sangat  berat. Pada pasal 88 menjelaskan bahwa hukuman bagi para pelaku pencabulan akan di kenai sanksi penjara yakni paling singkat  5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

Sedangkan apabila pelakunya di lakukan oleh orang tua, wali, pendidik, tenaga kependidikan  maka pidananya akan di tambah 1/3 dari ancamannnya. Misalnya apabila pelaku pencabulan adalah orang tuanya sendiri dan hakim memutuskan untukmenghukum 15 tahun penjara, maka lama kurungan akan di tambah 1/3 dari 15 tahun penjara.

Kemudian, pemerintah seyogyanya juga lebih intens lagi menggandeng lembaga atau organisasi yang peduli terhadap anak maupun remaja, untuk memberikan sosialisasi mengenai pencegahan kekerasan seksual. Di Rembang sendiri, saat ini juga ada Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR) dan beberapa organisasi lain, yang memiliki kepedulian terhadap perlindungan anak. Sehingga, peran mereka sangat ditunggu, agar tak ada kasus-kasus pencabulan yang menimpa anak atau remaja di Rembang, dan tentunya di sekitar kita. (*)

Bapak Bejat Tega Cabuli Anak Tiri Selama 5 Tahun

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Malang nasib SM (16) remaja putri di Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, jadi korban pencabulan ayah tirinya MA (44), selama lima tahun. Pencabulan sudah terjadi sejak Agustus 2011 lalu, hingga November 2016.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Rembang Iptu Ibnu Suka mengatakan, kelakuan bejat pelaku yang sudah berlangsung selama lima tahun tersebut, dilakukan di rumah ibu korban (LG) yang berada Kecamatan Kaliori.

“Korban ini terpaksa mau menuruti nafsu bejat ayah tirinya karena diancam. Jika korban tidak mau menuruti disetubuhi, maka MA  mengancam akan membunuh  ibu korban,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Karena diancam seperti itu oleh tersangka, maka, korban terpaksa melakukan hubungan persetubuhan hingga berkali-kali dengan pelaku.

Terkait kasus ini, pihaknya telah mengamankan pelaku, setelah adanya laporan pada 5 Desember lalu. Pihaknya juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap korban maupun sakis, dan juga sudah melakukan visum terhadap korban.

Dalam hal ini, polisi menjerat tersangka dengan persangkaan Pasal 81 ayat (1)(2) (3) dan Pasal 82 ayat (1) (2) Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Editor : Kholistiono

Bejat! ABG di Rembang Ini Disetubuhi Ayah Tiri Hingga Hamil 6 Bulan

AEP, pelaku pencabulan terhadap anak tiri saat dimintai keterangan penyidik di Mapolres Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

AEP, pelaku pencabulan terhadap anak tiri saat dimintai keterangan penyidik di Mapolres Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – AEP (43), seorang ayah tiri di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, terpaksa harus merasakan dinginnya jeruji besi. Ia dipolisikan istrinya sendiri S (34) karena tega menyetubuhi anak tirinya.

Namun, hal itu tak sebanding dengan penderitaan dan beban malu yang dirasakan korban, SR. Bahkan, perempuan belia yang berusia ini 15 tahun ini, kini hamil 6 bulan akibat perbuatan ayah tirinya tersebut. SR  sendiri, kini sudah tak bersekolah, sebab sejak kelas VIII SMP sudah memilih untuk berhenti.

Tak hanya sekali, AEP menyetubuhi SR sejak Desember 2015 lalu. Meski telah berulang kali terjadi, pihak keluarga SR baru melaporkan AEP ke Polres Rembang, pada Kamis (24/11/2016).

Kelakuan bejat buruh serabutan ini terbongkar ketika sang ibu melihat ada perubahan bentuk tubuh pada korban. Pada saat itu, ibu korban curiga dengan perubahan tersebut dan kemudian menanyakan kepada sang anak.

Saat didesak oleh sang ibu, kemudian SR berterung terang, jika dirinya telah disetubuhi oleh ayah tirinya sejak Desember 2015 silam. Mendengar penjelasan sang anak, kemudian ibu korban langsung melaporkan hal tersebut ke Polres Rembang.

Sementara itu, menurut keterangan pelaku di hadapan penyidik, AEP mengatakan jika dirinya sudah lupa berapa kali menyetubuhi anak tirinya tersebut.  “Saya lupa melakukan hal itu. Saya juga lupa sudah berapa kali hal itu saya lakukan. Yang pasti saya melakukannya saat dia pulang dari sekolah,” katanya, Senin (28/11/2016).

Dirinya mengaku melakukan perbuatan bejat tersebut, karena, sudah terbiasa tidur satu kamar dengan korban. “Saya kan sudah lama tidur dengannya satu kamar. Yakni satu kamar untuk 4 orang. Saya, istri, anak kecil saya, dan SR itu,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Gadis Disetubuhi di Jepara Usai Berkenalan Lewat HP

Pelaku pencabulan gadis menjalani pemeriksaan di Mapolres Jepara. (Tribratanewsjepara)

Pelaku pencabulan gadis menjalani pemeriksaan di Mapolres Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Seorang gadis berinisial RH (15), menjadi korban pencabulan di Desa Gedangan, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara. Pelakunya adalah HB (19). Pelaku mencabuli korban di rumahnya, pada 30 Juni 2016.

Kejadian berawal HB kenalan dengan RH melalui telepon seluler atau HP, pada Rabu 29 Juni 2016. Kemudian pada Kamis 30 Juni 2016, pelaku janjian ketemu di terminal Welahan. Kemudian korban diajak ke rumah tersangka dan sampai rumah diajak masuk kamar.

Pelaku mengunci pintu kamar. Kemudian, pelaku membujuk untuk bersetubuh layaknya hubungan suami istri sebanyak 2 kali. Satreskrim Polres Jepara setelah menerima laporan tentang persetubuhan terhadap anak ini langsung melakukan penyidikan. Setelah ditemukan ada bukti permulaan yang cukup, petugas segera melakukan penangkapan terhadap pelaku.

Polisi menangkap pelaku di rumahnya tanpa adanya perlawanan. “Selanjutnya pelaku dibawa ke Mapolres Jepara untuk dilakukan pemeriksaan,” tutur Kasatreskrim Polres Jepara AKP Suwasana.

Saat ini, pelaku masih dimintai keterangan polisi, guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Editor : Akrom Hazami

Polres Grobogan Ungkap Pelaku Pencabulan Gadis di Bawah Umur dengan Cara Ini

Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning memperlihatkan pelaku pencabulan terhadap gadis di bawah umur saat gelar perkara di Mapolres, Rabu (31/08/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning memperlihatkan pelaku pencabulan terhadap gadis di bawah umur saat gelar perkara di Mapolres, Rabu (31/08/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Satu kasus pencabulan terhadap gadis di bawah umur yang menjadi PR Polres Grobogan sejak tahun 2015 akhirnya berhasil diungkap. Meski demikian, untuk menguak kasus ini, pihak kepolisian terpaksa harus melakukan tes DNA terlebih dahulu.

Tes DNA itu diambil dari bayi yang dilahirkan korban pencabulan berinisial SM. Pelaksanaan tes DNA di laborat forensik di Jakarta itupun tidak bisa dilakukan segera. Tetapi, baru bisa dilakukan setelah bayi laki-laki yang dilahirkan itu berusia empat bulan.

“Dari hasil tes yang dilakukan menyatakan, kalau probabilitas pelaku berinisial DA sebagai ayah biologis bayi tersebut 99,999 persen. Dari hasil tes DNA inilah, pelaku kemudian kita amankan,” ujar Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning saat gelar perkara, Rabu (31/8/2016).

Peristiwa yang menimpa SM yang saat kejadian berusia 15 tahun itu terjadi Sabtu (14/3/2015) lalu sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu korban baru pulang dari acara pesta pernikahan sepupunya melewati areal persawahan.

Dalam perjalanan pulang itulah, pelaku ternyata sudah menghadang di luar Dusun Sempol Desa Geyer, Kecamatan Geyer. Selanjutnya, korban memegang tangan korban agar tidak melawan dan menuruti ajakan pelaku.

Saat itu, korban sempat berontak dan berteriak hingga akhirnya bisa berlari. Namun, pelaku akhirnya bisa menangkap korban hingga akhirnya menyetubuhi SM di areal persawahan.

Beberapa waktu kemudian korban diketahui hamil akibat kejadian yang menimpanya. Atas kejadian tersebut, keluarga korban kemudian melaporkan pada pihak kepolisian.

“Jadi, kasus ini dilaporkan saat korban diketahui hamil. Pihak penyidik sempat mengalami kesusahan mengungkap kasus ini karena pelaku tidak mengaku. Oleh sebab itu, kita harus melakukan pengungkapan kasus dengan science investigation atau penyelidikan melalui pendekatan ilmu pengetahuan dengan melakukan tes DNA. Pelaku akan kita jerat dengan Undang-undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,’’ imbuh Agusman.

Editor : Kholistiono

Sadis, Kakek 60 Tahun Ini Cabuli Bocah Usia Lima Tahun

Orang tua korban dugaan pelecehan seksual (dua dari kiri, red) saat memaparkan kejadian yang menimpa anak berusia lima tahun, yang diduga dilakukan tetangganya sendiri. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Orang tua korban dugaan pelecehan seksual (dua dari kiri, red) saat memaparkan kejadian yang menimpa anak berusia lima tahun, yang diduga dilakukan tetangganya sendiri. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Kudus – Satu lagi kasus dugaan pencabulan dilakukan terhadap anak balita. Pelakunya sudah tua, dan berstatus tetangga korban sendiri.
Kasus ini terbongkar, karena sang anak yang berusia lima tahun dan berinisial LS, menceritakan hal itu sesaat setelah kejadian berlangsung. Tentu saja orang tuanya kaget, dan akhirnya melapor ke pihak kepolisian.

Sejumlah pendamping kasus tersebut, Senin (20/6/2016) melakukan jumpa pers atas kasus itu, di Kedai Suko, Jalan Masjid Agung Kudus. Di sana turut dihadirkan ayah dari korban, bersama pendamping yang ditunjuk.

Korban yang merupakan warga Kecamatan Kaliwungu, menurut ayahnya yang berinisial S, menceritakan bahwa anaknya itu telah menjadi korban pelecehan seksual oleh tetangganya sendiri berinisial N (60).

Melalui pengacaranya Toni Triyanto, dikatakan bahwa kejadian itu terjadi pada Kamis (9/6/2016), sekitar pukul 10.00 WIB. Pada hari itu, korban akan membeli jajan di warung N.

”Namun setelah itu, korban diajak N untuk masuk ke kamarnya. Saat itu juga, celana korbaan dibuka oleh N. Kemudian N juga membuka celananya sendiri. Setelah itu, korban dipangku atau didudukkan oleh N,” kata Toni.

Dia melanjutkan, setelah itu, jari N dimasukkan ke kemaluan korban. Bukan sampai disitu saja, karena alat vital N digesek-gesekan ke tubuh korban, hingga keluar sperma.

Usai peristiwa itu, korban pulang ke rumah. Kepada ibunya, korban mengatakan ingin berganti celana karena basah. Ibunya yang heran, bertanya kenapa anaknya itu harus ganti celana.

”Kepada ibunya, korban kemudian menceritakan sebagaimana yang saya sampaikan di atas tadi. Curiga bahwa anaknya telah menjadi korban pencabulan, ibunya lantas membawa ke Puskesmas Kaliwungu,” terangnya.

Usai mendapatkan hasil visum dari puskemas, orang tua korban kemudian melapor ke pihak kepolisian. Toni mengatakan, selain melapor, orang tua juga meminta bantuan pihaknya untuk mendampingi.

”Karena itulah, bersama aktivis perempuan Mbak Eny Mardiyanti, kita terpanggil untuk ikut mendampingi korban. Supaya kasus ini dituntaskan, karena sangat membahayakan kalau dibiarkan begitu saja. Ini sudah menyangkut anak-anak yang harus dijaga masa depannya,” tuturnya.

Editor: Merie

Kenalan Lewat FB, Siswi SMK di Blora Ini Dicabuli Pemuda Pengangguran

20150105ilustrasi-pencabulan-418x215

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Blora – Facebook (FB) ternyata berperan penting terjadinya suatu tindak pidana. Buktinya, seorang siswi salah satu SMK di Blora, sebut saja Jingga (15) warga di Blora, jadi korban pencabulan oleh seorang pemuda pengangguran yang dikenalnya melalui jejaring sosial ini.

Pelakunya, BTW (17) warga Tunjungan akhirnya ditangkap petugas Polsek Blora pada Senin (11/4/2016), dan saat ini sedang ditangani penyidik bagian Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Peristiwa pencabulan ini bermula dari pertemanan pelaku dengan korban di FB, sekitar tujuh bulan lalu. Keduanya bertukar nomor ponsel, saling berkirim pesan singkat lalu membuat janjian dan bertemu, yang akhirnya keduanya berpacaran.

Bahkan ketika keduanya berpacaran, persetubuhan seperti layaknya suami istri sudah pernah dilakukan keduanya. Hal ini diakui pelaku, yang katanya tindakan tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka antara dirinya dengan korban.

“Kami pacaran sudah tujuh bulan lebih. Selama pacaran, kami sudah empat kali berhubungan intim,” ujar BTW.

Tindakan asusila ini, katanya, dilakukan di rumah Jingga, yakni ketika rumah dalam kondisi kosong. Meskipun korban awalnya sempat menolak, namun, karena bujuk rayu pelaku, akhirnya korban terpedaya dan tak mampu menguasai diri dan menuruti keinginan pelaku.

Tindakan asusila ini terungkap, ketika Kakak Jingga membaca SMS yang ada di handphone milik adiknya. SMS tersebut ternyata berasal dari pelaku, yang isinya mengancam agar kakak korban tidak menghalangi hubungan pelaku dengan korban.

Melihat isi SMS tersebut, kemudian kakak korban menanyakan secara langsung kepada korban mengenai hubungannnya dengan BTW. Namun, alangkah terkejutnya, ketika adiknya menyatakan jika sudah melakukan hubungan intim bersama BTW sebanyak empat kali, terhitung dari awal pacaran hingga sekarang.

Mendengar penjelasan dari adiknya itu, kemudian kakak korban berupaya menemukan kedua belah pihak, hingga akhirnya kasus itu dilaporkan ke Polsek Blora. Korban sendiri, saat ini juga mengalami trauma dan sempat mendapatkan perawatan medis.

“Pelakunya sudah kami amankan, dan saat ini sedang diperiksa penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Oleh penyidik, pelaku dijerat dengan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak, dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara,” ujar Kapolsek BloraAKP Sudarno.

Editor : Kholistiono