Budaya Senggol Bacok Belum Sepenuhnya Hilang di Jepara

Supriyadi terassupriyadi@gmail.com

Supriyadi
terassupriyadi@gmail.com

MINGGU, 20 November 2016, seorang pemuda ditemukan tewas bersimbah darah karena tusukan senjata tajam di Desa Bantrung, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Pembunuhan tersebut pun langsung beredar luas bahkan menjadi viral di media sosial.

Gara-garanya, pemuda yang diketahui bernama Andik Yulianto (26) warga Desa Bulungan RT 08/RW 1, Kecamatan Pakis Aji tersebut berprofesi sebagai debt collector. Masyaraat pun mulai menghubung-hubungkan dan membuat berbagai kesimpulan.

Beberapa kesimpulan bahkan terlontar dari teman-teman saya saat nongkrong di warung kopi. Pertama, mereka menduga Andik dibunuh oleh orang yang ditagih. Opini itu terlontar karena melihat image seorang debt collector yang selalu garang, ngomongnya kaku dan kasar, hingga mempunyai banyak musuh.

Ada juga yang menduga korban tewas karena rebutan perempuan. Lagi-lagi, hal itu didasarkan pada pola hidup debt collector yang terkesan mewah, suka hiburan malam, dan (maaf) suka ganti-ganti perempuan. Meski tidak semua debt collector seperti itu, teman saya yang sepropfesi pun mengamininya.

Namun, ada juga yang menghubungkannya dengan kompetisi di lapangan yang kurang sehat. Biasanya antar-debt collector, terutama yang berbeda perusahaan akan berlomba-lomba mendapat klien sebanyak-banyaknya. Disinilah terkadang muncul persaingan kurang sehat hingga membuat selisih faham.

Munculnya opini-opini tersebut langsung menjadi bumbu sedap untuk mengikuti kasus tersebut. Apalagi, segala kemungkinan memang bisa saja terjadi. Kebanyakan orang tentu tak langsung percaya jika debt collector dibunuh tanpa adanya motiv tertentu.

Selang satu pekan, pelaku akhirnya ditangkap. Di luar dugaan, semua dugaan tersebut terbantahkan. Debt collector yang jadi korban pembunuhan tersebut bisa dibilang karena hal sepele. Ia menjadi korban pembunuhan karena saling senggol saat naik sepeda motor usai melihat orkes dangdut di Desa Langon, Kecamatan Tahunan.

”Lah dalah, Jebul senggol bacok orak pembunuhan,” tulis salah satu teman saya melalui saluran WhatsApp.

Kala itu, koban berjalan beriringan dengan para pelaku. Tiba-tiba saja, tersangka Kuswo (40) yang mengendarai motor Vega disrempet oleh korban Andik yang memboncengkan Ridwan (25).

Tersangka Kuswo pun memperingatkan Andik supaya naik motor pelan-pelan, namun korban tidak menerimakan dan menendang motor Kuswo hingga keduanya terjatuh. Sebelum itu, korban Andik menendang motor Revo yang dikendarai oleh Taufik (22) dan Sofyan (26) hingga jatuh. Usai terjatuh inilah aksi saling pukul terjadi.

Senjata tajam yang digunakan oleh pelaku untuk menusuk korban sebenarnya adalah milik korban Andik. Namun karena kalah saat berkelahi akhirnya senjata tajam itu dikuasai oleh pelaku dan digunakan untuk menusuk korban.Setelah kedua korban terluka, ketiga pelaku melarikan diri meninggalkan kedua korban. Namun, nahas Andik tak terselamatkan, sementara Ridwan masih bisa selamat.

Kasus tersebut menjadi bukti jika budaya senggol bacok ternyata belum sepenuhnya di Jepara. Apalagi mereka yang terlibat kebanyakan masih cukup muda, empat di antaranya bahkan masih berumur antara 22-26 tahun.

Meski terbilang sudah cukup berumur, ternyata ego dan amarah  masih belum bisa dikendalikan. Hanya karena disenggol dan terjatuh, mereka terlibat perkelahian hingga menghilangkan nyawa seseorang.

Hal tersebut tentu sangat mengurut dada. Terlebih, dengan usia di atas 20 tahun, seharusnya bisa lebih bijak menyikapi masalah.

Meski begitu, polisi juga harus melihat unsur orkes yang didatangi para pelaku sebelum kejadian. Bisa jadi ketika menonton hiburan dangdut tersebut mereka menenggakminuman keras. Ini mengingat banyak miras yang beredar saat ada hiburan orkes.

Selain itu, dari pengakuan tersangka, senjata tajam yang ditusukkan ke tubuh korban berasal dari korban sendiri. Artinya, sudah ada niatan tidak baik, atau kekhawatiran berlebihan hingga harus melindungi diri dengan senjata.

Beruntung, jatuhnya korban tidak bertambah. Salah satu korban bisa diselamatkan setelah mendapat penanganan medis. (*)

Ini Kisah 3 Pembantai Debt Collector Jepara, Ngeri!

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin SIK MH  saat gelar perkara menyampaikan keterangan kepada wartawan di mapolres setempat. (Tribratanewsjepara)

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin SIK MH  saat gelar perkara menyampaikan keterangan kepada wartawan di mapolres setempat. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Jajaran Reskrim Polres Jepara berhasil mengamankan pelaku penganiayaan yang menewaskan Andik Yulianto (26), pria yang ditemukan tewas dengan luka tusuk di Desa Bantrung Batealit 20 November lalu. Andik Yulianto, merupakan warga Desa Bulungan, Kecamatan Pakis Aji yang diketahui bekerja sebagai debt collector Andalan Semarang.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin SIK MH  saat gelar perkara menyampaikan, tiga pelaku sempat diburu polisi selama sepekan. Kini, pelaku berhasil diamankan jajaran Sat Reskrim Polres Jepara. Mereka adalah Kuswo alias Kus (40) warga Desa Kedungleper, Kecamatan Bangsri; Taufikur Rochman alias Topik (22) warga Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri; dan Sofyan Dwi Sunarso alias Cungir (26) warga Desa Jambu Timur, Kecamatan Pakis Aji.

Lebih lanjut Kapolres Jepara mengatakan, dua pelaku ditangkap pada Sabtu 26 November lalu, dan seorang tersangka lainnya berhasil diamankan Senin (28/11/2016. Terkait peran dan motif dari masing- masing pelaku, pihaknya mengaku masih perlu melakukan pendalaman kasus tersebut.

Dari keterangan pelaku, awal mula terjadinya pembunuhan terjadi usai menyaksikan pertunjukan orkes dangdut di Desa Langon, Kecamatan Tahunan. Di mana, ketika korban dan para pelaku beriringan mengendarai sepeda motor dan terjadi saling serempet.

“Tersangka Kuswo yang mengendarai motor Vega disrempet oleh korban Andik yang memboncengkan Ridwan, lalu Kuswo memperingatkan Andik supaya naik motor pelan-pelan, namun korban tidak menerimakan dan menendang motor Kuswo hingga keduanya terjatuh. Korban Andik menendang motor Revo yang dikendarai oleh Taufik dan Sofyan hingga jatuh. Usai terjatuh inilah aksi saling pukul terjadi,” tuturnya.

Senjata tajam yang digunakan oleh pelaku untuk menusuk korban sebenarnya adalah milik korban Andik. Namun karena kalah saat berkelahi akhirnya senjata tajam itu dikuasai oleh pelaku dan digunakan untuk menusuk korban.Setelah kedua korban terluka, ketiga pelaku melarikan diri meninggalkan kedua korban.

Kini para pelaku diamankan di Mapolres Jepara dan dikenai pasal 170 (2) ke-3 KUHP dan pasal 351 (3) KUHP tentang melakukan kekerasan secara bersama-sama di muka umum yang menyebabkan matinya seseorang dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Editor : Akrom Hazami

Ini Luka di Tubuh Ibu yang Tewas di Kedungdowo Kudus

Polisi memeriksa tempat kejadian perkara di Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. (Istimewa)

Polisi memeriksa tempat kejadian perkara di Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Diduga dibunuh, ibu rumah tangga, Kamisih (51), warga Desa Kedungdowo 9/1, Kaliwungu, Kudus, tewas mengenaskan di rumahnya, Sabtu (22/10/2016).

Usai diketahui meninggal dunia, warga membawanya ke Puskesmas Kaliwungu Kudus. Hasil visum luar oleh dr Muhammad Sahli dari Puskesmas Kaliwungu dan Inafis Polres Kudus menerangkan, korban meninggal karena luka lebam di mata kanan.

Ada juga luka di sebelah telinga kanan akibat benda tajam, luka di pipi kanan dan lebam oleh benda tajam, pipi kiri bawah ditemukan juga luka lebam akibat benda tajam, tangan kiri ada 1 luka akibat benda tajam dan tangan kanan ada 3 luka akibat benda tajam.

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifai membenarkan adanya informasi pembunuhan di Kedungdowo. “Iya mas,” kata Andy saat ditanya MuriaNewsCom melalui telepon.

Polisi masih melakukan pemeriksaan kasus ini di tempat kejadian perkara, serta memeriksa saksi kejadian berdarah ini.

Sebelumnya diberitakan, Kamisih ditemukan meninggal dunia dengan luka di beberapa anggota tubuhnya. Putranya, Didik, merupakan orang yang pertama melihat kondisi korban meninggal dunia.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Diduga Dibunuh, Ibu Rumah Tangga Tewas di Kedungdowo Kaliwungu Kudus 

Diduga Dibunuh, Ibu Rumah Tangga Tewas di Kedungdowo Kaliwungu Kudus

Korban tewas dengan kondisi mengenaskan di Desa Kedungdowo 9/1, Kaliwungu, Kudus. (Istimewa)

Korban tewas dengan kondisi mengenaskan di Desa Kedungdowo 9/1, Kaliwungu, Kudus. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Insiden berdarah terjadi. Diduga dibunuh, ibu rumah tangga, Kamisih (51), warga Desa Kedungdowo 9/1, Kaliwungu, Kudus, tewas menganaskan di rumahnya, Sabtu (22/10/2016).

Info yang dihimpun di lokasi, Sabtu sekitar pukul 08.30 WIB. Anak korban, Didik (21) warga Purwosari, Kudus, datang ke rumah korban guna menjenguk. Saat Didik masuk ke rumah, kondisi kamar terlihat berantakan.

Tanpa pikir panjang, Didik keluar dan mendatangi rumah ketua RT setempat, Zuriyanto (54), yang letaknya bersebelahan. Didik dan Zuriyanto sama-sama mengecek keadaan korban. Saat itu, korban sudah meninggal dunia.

Mereka pun melaporkannya ke Polsek Kaliwungu. Sementara itu, warga setempat melarikan korban ke Puskesmas Kaliwungu. Sampai saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan kasus ini.

Editor : Akrom Hazami

Begini Kronologi Pemuda Gila di Kadilangu Pati yang Hantam Kepala Ayahnya Sendiri dengan Batu Hingga Tewas

Pelaku diamankan petugas kepolisian dan TNI untuk dibawa ke RSJ Semarang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Pelaku diamankan petugas kepolisian dan TNI untuk dibawa ke RSJ Semarang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tidak ada yang mengira bila Samiun, kakek berusia 59 tahun warga Desa Kadilangu RT 5 RW 1, Kecamatan Trangkil, Pati ini harus tewas di tangan anaknya sendiri. Peristiwa nahas itu terjadi pada Jumat (18/3/2016) sekitar pukul 23.00 WIB.

Tragedi itu bermula ketika Saroh (50), istri Samiun tengah menggantikan pakaian anak keduanya yang bernama Halimah. Halimah yang saat ini berusia 38 tahun itu memang menyandang idiot sejak lahir.

“Saya kewalahan menggantikan pakaian. Akhirnya saya meminta tolong kepada suami saya untuk ikut membantu menggantikan pakaian,” tutur Saroh kepada MuriaNewsCom, Sabtu (19/3/2016).

Saat Saroh minta tolong itulah, tiba-tiba Tursain, anak pertamanya yang menderita gangguan jiwa menghantam ayahnya menggunakan batu dari belakang. Hantaman itu mengenai pelipis sebelah kiri.

“Suami saya langsung dibawa anak ketiga saya ke RSI Margoyoso. Namun, suami saya itu meninggal dunia pada pukul 07.15 WIB hari ini,” imbuhnya.

Kapolsek Wedarijaksa AKP Sulistyaningrum mengatakan, pelaku tercatat sempat melukai ayahnya sendiri menggunakan senjata tajam. “Kalau kondisi jiwanya terganggu, dia menjadi agresif. Korban tercatat pernah dilukai dengan senjata tajam berupa parang,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, petugas kepolisian kemudian membawanya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Semarang. “Kondisi keluarga memang cukup memprihatinkan. Korban punya empat anak. Anak pertama terkena gangguan jiwa dan anak kedua idiot. Dua anak lainnya normal. Biar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, pelaku kami amankan dan dibawa ke RSJ Semarang,” tukasnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Tragis! Seorang Anak di Kadilangu Pati Bunuh Bapak Kandung dengan Batu

Tragis! Seorang Anak di Kadilangu Pati Bunuh Bapak Kandung dengan Batu

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo dan Kapolsek Wedarijaksa AKP Sulistyaningrum melakukan pengecekan pada jenazah korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo dan Kapolsek Wedarijaksa AKP Sulistyaningrum melakukan pengecekan pada jenazah korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Nasib nahas menimpa Samiun (59), warga Desa Kadilangu RT 5 RW 1, Kecamatan Trangkil, Pati. Ia harus meninggal dunia di tangan anaknya sendiri, Sabtu (19/3/2016).

Samiun meninggal dunia, setelah Tursain (35) yang tak lain anaknya sendiri menghantamkan batu hingga mengenai pelipis sebelah kiri. Sang ayah pun dilarikan ke RSI Margoyoso.

Parahnya luka dalam yang diderita sang ayah membuat nyawanya tak tertolong. Korban meninggal dunia sekitar pukul 07.15 WIB. “Kejadian itu terjadi pada Jumat, 18 Maret 2016 sekitar pukul 23.00 WIB,” ujar Kapolsek Wedarijaksa AKP Sulistyaningrum kepada MuriaNewsCom.

Atas insiden tersebut, Tim INAFIS Satuan Reserse dan Kriminal Polres Pati bersama Unit Reskrim Polsek Wedarijaksa yang dipimpin Kasat Reskrim AKP Agung Setyo Budi Utomo melakukan olah kejadian tempat perkara (TKP).

Dari hasil pengecekan luar di tubuh korban, ditemukan luka jahit di pelipis kiri sepanjang 3 cm, luka jahit dahi kiri 3 cm, dan luka lebam pada mata kiri. “Olah TKP yang kami lakukan, korban memang meninggal dunia karena dianiaya dengan posisi kepala sebelah timur dan kaki di bagian barat,” kata Agung.

Tak lama setelah peristiwa tersebut, polisi berhasil meringkus pelaku. Pelaku sendiri dinyatakan terkena gangguan jiwa dan pernah opname di RSJ Semarang pada 2006 selama 15 hari.

Editor : Akrom Hazami

Oknum TNI Pembunuh Mat Suro Menjalani Pemeriksaan di Lanal Semarang

Pembunuhan (e)

(MuriaNewsCom)

 

BLORA – Kematian Mat Suro bukanlah misterius lagi, karena pembunuhnya diketahui oknum TNI AL inisial AI (23). Berdasarkan penuturan Kapolres Blora, pelaku kini menjalani pemeriksaan di Denpomal Lanal Semarang.

Pelaku yang juga sebagai anggota TNI AL bertugas di Lantamal V Surabaya kini tengah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus pembunuhan Mat Suro.

”Kami menyerahkan sepenuhnya kepada Polisi militer angkatan laut di Semarang, meski tugasnya di Surabaya. Tapi Blora masih masuk regional Jawa Tengah,” ujar Kapolres AKBP Blora Dwi Indra Maulana (12/01/2016).

Diketahui tersangka menyerahkan diri kepada pihak Denpomal Surabaya yang selanjutnya dilimpahkan ke Denpomal Semarang. Karena itu ranahnya Jawa Tengah. Kapolres juga menambahkan, saat setelah kejadian pihak dari TNI AL langsung turun untuk melakukan penyelidikan langsung di TKP.

Diberitakan sebelumnya, Ahmad Subagyo alias Mat Suro (37) warga Dukuh Balongkare, RT 01 RW 10, Desa Pilang, Kecamatan Randublatung yang ditemukan tewas di teras ruko Jalan Diponegoro Desa Pilang, Kecamatan Randublatung, Jumat (08/01/2016).

Kronologinya, pada Kamis (07/01/2016) sekitar pukul 21.30 korban berangkat bersama temannya ke salah satu ruko di dekat lapangan Gelora Desa Pilang, Kecamatan Randublatung. Ruko itu menyediakan room untuk karaoke. Sesampai di tempat karaoke itu, room masih dipakai oleh pelanggan lain. Untuk menunggu giliran masuk. Korban bersama teman-temannya menunggu di luar ruko tersebut.

Sekitar pukul 23.30 WIB, korban mendapat giliran untuk masuk room. Pada saat korban dan teman-temannya akan masuk di dalam room datang rombongan lain yakni AI bersama teman-temannya. Sekitar pukul 01.00 WIB salah satu teman korban keluar dari room dan bertemu dengan AI. Di dalam perbincangan itu AI ingin masuk ke room namun tidak diizinkan oleh teman korban. Lalu, teman korban meminta agar AI menunggu giliran saja.

Usai berbincang, teman korban masuk ke room lagi. Tak lama kemudian korban keluar dari room dan terlibat cek cok dengan AI. Diduga dari cek cok itulah keributan terjadi. AI diduga melukai korban dengan menggunakan sangkur. Bahkan, sangkurnya masih tertinggal ditubuh korban. Kemudian, AI melarikan dari naik motor dan meminta tolong pada temannya agar mencabut sangkurnya. Karena teman AI tidak berani akhirnya AF turun dari motor lalu mencabut sangkurnya yang ada di tubuh korban. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

Diduga Pelaku Pembunuhan Sadis Mat Suro adalah Oknum TNI

Olah TKP pembunuhan Mat Suro oleh Polres Blora, Jumat (8/1/2016). (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Olah TKP pembunuhan Mat Suro oleh Polres Blora, Jumat (8/1/2016). (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Dari hasil penyelidikan Satreskrim Polres Blora mengenani kasus pembunuhan Ahmad Subagyo alias Mat Suro, pada Jumat 8 Januari lalu diduga pelaku pembunuhan adalah oknum TNI.
”Itu dari hasil penyelidikan kami, kami telah memeriksa sebelas saksi,” ujar AKP Asnanto Kasatreskrim Polres Blora kepada MuriaNewsCom, Senin (11/01/2016).

Dari hasil penyelidikan, pihaknya masih belum bisa menentukan jumlah pelaku dalam pembunuhan tersebut. Pihaknya juga memastikan kalau nanti terbukti pelaku adalah oknum TNI, pihaknya akan melimpahkan kepada yang berwenang.

”Kalaupun toh benar, kami akan berikan kepada yang berwenang. Militer punya hukum sendiri kami belum bisa memberikan nama dan dari kesatuan mana,” tambahnya.

Sebelumnya, Ahmad Subagyo alias Mat Suro warga Dusun Balongkare, Desa Pilang, Kecamatan Randublatung ditemukan tewas bersimbah darah di depan tempat karaoke di komplek ruko Jalan Diponegoro, Pilang, Randublatung. Korban mengalami luka serius akibat tusukan senjata tajam pada bahu kanan yang mengakibatkan urat nadi korban putus. Korban yang kesehariannya bekerja sebagai pencari kayu di hutan itu, mengalami luka serius pada bahu kanan.

Menurut Sri Hartanto, selaku dokter yang menanganinya, korban terkena sabetan senjata tajam pada bahu kanan. Luka selebar 6 cm memutuskan nadi besar hingga korban berucucuran darah dan tidak tertolong. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

Ditemukan Miras di Lokasi Pembunuhan di Blora

Olah TKP oleh Satreskrim Polres Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Olah TKP oleh Satreskrim Polres Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Pembunuhan sadis Ahmad Subagyo (37) atau Mad Suro, Jumat (08/01/2016) sampai saat ini masih dalam pemeriksaan polisi.

Kapolsek Randublatung, AKP Slamet Iriyanto mengatakan pihaknya bersama dengan Sat Reskrim Polres Blora sedang menyelidiki motif dari pembunuhan tersebut.

Sementara, saat kejadian pukul 03.00 WIB tak ada satupun warga yang mengetahui, dikarenakan warga sekitar sedang lelap tertidur.

Kasus yang menimpa warga Dusun Balongkare, Desa Pilang, Kecamatan Randublatung, Blora ini, menurut saksi mata, Kardi (44) aksi pembunuhan tersebut tidak dilakukan oleh satu orang.

“Tadi pagi, di sekitar lokasi pembunuhan terjadi kecelakaan yang merupakan gerombolan dari pelaku pembunuhan itu, mereka dalam kondisi mabuk,” ujarnya kepada MuriaNewsCom (08/01/2016).

Sampai saat ini polisi belum menyimpulkan siapa pelakunya. “Yang pasti nanti akan kami tindak lanjuti secara serius,” ujar Slamet.

Saat melakukan olah TKP tersebut, polisi menemukan minuman keras dalam botol plastik dan di dua gelas. Diduga, aksi itu dilakukan sambil menenggak miras. (RIFQI GOZALI/AKROM HAZAMI)

Pria Tewas di Tempat Karaoke Blora Dibunuh 5 Orang

Korban tewas mengenaskan di depan tempat karaoke di Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Korban tewas mengenaskan di depan tempat karaoke di Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Pembunuhan sadis Ahmad Subagyo alias Mad Suro di Blora, diduga dilakukan oleh pelaku secara bergerombol. Insiden terjadi di depan tempat karaoke milik di kompleks Ruko Jalan Diponegoro, Pilang Randublatung, Jumat (8/1/2016).

Salah satu pedagang di lokasi, Kardi (44) mengatakan bahwa pelaku bergerombol sebanyak lima orang. Sementara korban juga bergerombol beserta rekannya sebanyak empat orang.

“Mungkin kejadian terjadi pada pukul 03.00 WIB, masalahnya saat pukul 04.30 WIB, warga sudah berkerumun dan korban sudah meninggal,” kata Kardi yang juga warga Kediren.

Pedagang di lokasi lainnya, Suparno mengaku tidak tahu menahu soal kejadian. “Pagi pukul 06.30 WIB, ternyata ramai. Tak tahunya ada orang meninggal,” ungkap Suparno warga Desa Temulus.

Polisi begitu tiba di lokasi segera melakukan olah TKP, sekitar pukul 06.00 WIB. Kapolsek Randublatung AKP Slamet Iriyanto mengungkapkan kondisi korban amat mengenaskan dengan luka sabetan senjata tajam pada bahu kanan. Hal itu menyebabkan korban kehabisan darah.

Kini, pihaknya telah menyelidiki kasus tersebut, sementara untuk pelaku dan rekan pelaku masih dalam penyelidikan. “Kami belum bisa memastikan pelakunya yang pasti kami bersama Sat Reskrim Polres Blora masih menyelidiki penyebab dan pelaku pembunuhan tersebut,” ujarnya. (RIFQI GOZALI/AKROM HAZAMI)

Pria Tewas Bersimbah Darah di Depan Karaoke di Randublatung Blora

f-tewas dibacok (e)

Tempat kejadian perkara pembunuhan di depan karaoke milik Mejun (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Seorang laki-laki bernama Ahmad Subagyo alias Mad Suro (37) warga Dusun Balongkare, Desa Pilang, Kecamatan Randublatung, Blora, ditemukan tewas dalam kondisi bersimbah darah di depan tempat karaoke milik Mejun yang berada di Komplek Ruko Jalan Diponegoro, Pilang Randublatung, pada Jumat (8/1/2016).

Melihat kondisi tubuh korban yang mengalami luka, diduga laki-laki itu dibacok dengan senjata tajam. Dari informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, insiden pembunuhan tersebut terjadi pada Kamis (8/1/2015) sekitar pukul 4.00 WIB.

Menurut Sri Hartanto, dokter yang menangani korban, jika luka yang ada di badan korban terkena sabetan senjata tajam, yakni pada pada bahu bagian kanan. Akibat sabetan senjata tajam itu, korban mengalami luka selebar 6 cm dan memutuskan nadi besar hingga darah korban bercucuran dengan cepat dan nyawanya tak tertolong.

Edi, tetangga korban mengaku bahwa korban tidak ada dendam dengan siapapun. “Yang pasti tetangga kaget atas pembunuhan yang terjadi pada Mad Suro,” katanya.

Sementara, pihak keluarga korban saat ini belum bisa dimintai keterangan, karena masih berduka atas meninggalnya korban.Bahkan, ibu korban terus menerus memanggil nama anaknya tersebut. (RIFQI GOZALI/KHOLISTIONO)

3 Pembunuh Pasutri dan Tamunya di Gabus Pati Divonis Hukuman Seumur Hidup

 

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pati Wiyanto memutuskan hukuman seumur hidup untuk tiga terdakwa yang melakukan pembunuhan terhadap pasutri dan tamunya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pati Wiyanto memutuskan hukuman seumur hidup untuk tiga terdakwa yang melakukan pembunuhan terhadap pasutri dan tamunya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tiga pembunuh pasangan suami istri dan tamunya di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati diganjar majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Pati dengan hukuman penjara seumur hidup, Selasa (5/1/2016).

Ketiga terdakwa tersebut, yakni Mardikun, Suwarno alias Mbah To, dan Eko Sutaryo. Putusan tersebut disambut dengan rasa syukur dari pihak keluarga.

Ketua Majelis Hakim Wiyanto kepada MuriaNewsCom mengatakan, ketiga terdakwa berbelit-belit selama proses persidangan. Tak hanya itu, ketiga terdakwa tidak mengakui perbuatannya dan tidak menyesal atas perbuatannya.

”Ketiga terdakwa terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap tiga orang sekaligus. Ketiganya tidak menyesal, berbelit-belit selama proses persidangan, dan tidak mengakui perbuatannya. Itu sebabnya tidak ada yang meringankan ketiga terdakwa,” kata Wiyanto.

Ketiganya dijerat Pasal 340 KUHP jo pasal 55 KUHP, karena terbukti melakukan pembunuhan berencana. ”Ketiga terdakwa bersama-sama melakukan pembunuhan, bukan yang satu membantu atau apa,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Pembunuh Pasutri di Pati Dituntut Hukuman Seumur Hidup, Ini Fakta Persidangannya

Sejumlah petugas mengamankan jalan Mardikun menuju ruang sidang karena ingin dihadiahi bogem mentah dari pihak keluarga korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petugas mengamankan jalan Mardikun menuju ruang sidang karena ingin dihadiahi bogem mentah dari pihak keluarga korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Mardikun, terdakwa kasus pembunuhan berencana pasangan suami istri di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati dan tamunya dituntut hukuman seumur hidup. Hal itu dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di PN Pati, Senin (14/12/2015).

Dalam fakta persidangan, JPU menyatakan ada banyak hal yang menguatkan keterlibatan Mardikun dalam pembunuhan berencana terhadap tiga orang sekaligus. Salah satunya, kedua terdakwa lainnya yang mengaku secara bersama-sama dengan Mardikun.

Selain itu, hasil laboratorium juga mengungkapkan, racun yang berada di lambung korban sama dengan racun dalam botol yang dibawa terdakwa. Dari fakta persidangan tersebut, JPU akhirnya menuntut agar terdakwa dihukum seumur hidup.

“Salah satu fakta yang membuat terdakwa kami tuntut hukuman seumur hidup, antara lain racun sianida yang mengindikasikan pembunuhan berencana dan kesaksian dari terdakwa lainnya,” kata JPU Sri Harna.

Ia mengatakan, terdakwa dijerat dengan Pasal 340 jo 55 ayat 1 KUHP, yakni ikut serta melakukan pembunuhan berencana dengan korban tiga korban. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Pembunuh Kejam di Pati Ini Dituntut Hukuman Seumur Hidup

Mardikun menjalani sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Mardikun menjalani sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jaksa penuntut umum (JPU) Sri Harna menuntut agar Mardikun, terdakwa pembunuh pasangan suami istri di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati dihukum seumur hidup. Hal itu disampaikan dalam sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Pati, Senin (14/12/2015).

Sri Harna menyatakan, Mardikun terbukti telah melakukan pembunuhan berencana terhadap tiga orang, yakni pasangan suami istri beserta dengan tamunya.

Kendati begitu, Miftahul Huda, menantu korban mengaku tidak puas dengan tuntutan yang dibacakan JPU. Ia berharap, Mardikun yang telah menghabisi nyawa kedua mertuanya dengan racun jenis sianida tersebut dihukum mati.

“Kami ingin pembunuh itu dihukum mati. Tiga orang dihabisi menggunakan racun itu jelas biadab. Kami menyesalkan tuntutan JPU yang hanya menuntut hukuman seumur hidup,” kata Huda.

Usai persidangan digelar, sejumlah keluarga korban sempat mengejar terdakwa untuk dihadiahi bogem mentah. Kericuhan sempat terjadi. Namun, sejumlah petugas kepolisian berhasil mengamankan jalannya persidangan hingga selesai. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Pembunuh Eka Diancam Hukuman 15 Tahun Penjara

Sebuah foto yang memperlihatkan korban saat diwisuda, September 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Sebuah foto yang memperlihatkan korban saat diwisuda, September 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Pelaku pembunuhan Eka Jani Margawati (23), warga Desa Cendono, RT 3 RW 6, Kecamatan Dawe, Kudus, Sukriyanto (25), kini telah menempati tempat barunya. Yakni meringkuk di tahanan Mapolres Demak.

Hal itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pelaku ditangkap Satreskrim Polres Demak, satu hari pascaaksi kejamnya menghabisi nyawa Eka di Wonoketingal, Karanganyar, Demak.

Pria yang bekerja sebagai kuli bangunan menghabisi nyawa korban karena alasan sepele. Yaitu korban tidak mau diajak kenalan.Sebelum kejadian, pelaku hendak ke Kudus, guna mengunjungi keponakannya. Pelaku baru pulang dari tempat kerjanya di perumahah Akpol Semarang.

Di tengah perjalanan pulang yakni di lampu merah Trengguli Demak, pelaku melihat korban mengendarai sepeda motor. Pelaku berupaya mengajak kenalan korban. Namun korban menolaknya. Merasa ditolak, pelaku justru kian penasaran. “Saya colek dia (korban,red) tapi dia malah kabur dan masuk sungai,” kata pelaku di Mapolres Demak, Jumat (4/12/2015) malam kepada polisi.

Pelaku berniat membantu korban tapi malah berteriak. Pelaku lantas membenturkan kepala korban ke bibir sungai. Korban kian berteriak kencang. Pelaku pun membenamkan kepala korban ke sungai selama sekitar dua menit. Hingga korban tewas.

Mengetahui korbannya tewas, Sukriyanto urung ke Kudus. Spontan dia menuju rumah mertuanya di Wonosalam, Demak. Pengakuan pelaku, selama di rumah selalu dibayangi ketakutan. Hal itu membuat pelaku ingin menyerahkan diri ke polisi. Tapi keburu didatangi polisi.

Kasubag Humas Polres Demak AKP Zamroni mengatakan, pelaku saat ini masih menjalani penahanan di Mapolres Demak. Pelaku dikenai pasal 338 dan 351 KUHP tentang Pembunuhan. “Pasal itu ancaman hukumannya sekitar 15 tahun penjara,” kata Zamroni kepada MuriaNewsCom, Sabtu (5/12/2015).

Polisi masih melakukan pendalaman kasus ini. Termasuk apakah kasus ini murni pembunuhan tanpa perencanaan, atau dengan perencanaan. “Itu masih kami periksa,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, lulusan S1 Kebidanan UNS ditemukan tewas di saluran irigasi sungai wilayah Desa Wonoketingal, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Rabu (03/12/2015) malam.

Korban saat ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Korban yang mengenakan baju merah marun serta rok hitam itu terluka pada dagu dan mulut mengeluarkan darah. Di lokasi kejadian yang tak jauh dari SPBU Wonoketingal itu ditemukan sepeda motor Honda Scoopy bernopol K 2895 AR, handphone, tas, dan dompet korban. (AKROM HAZAMI)

Istri Korban Pembunuhan Jepang Pakis Kudus Histeris Dengar Vonis untuk Terdakwa

Istri korban pembunuhan Jepang Pakis histeris saat menghadiri sidang vonis untuk terdakwa (MuriaNewsCom/Merie)

Istri korban pembunuhan Jepang Pakis histeris saat menghadiri sidang vonis untuk terdakwa (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Sidang putusan atas terdakwa kasus penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, pada Rabu (4/11/2015) berlangsung singkat. Termasuk tertib sepanjang sidang, meski dijaga ketat aparat kepolisian.

Namun suasana ruang sidang menjadi ramai, saat istri korban bernama Siti Khoiriyah, mendadak menangis kencang meratapi nasib suaminya.Khoiriyah yang semula tenang duduk di bangku pengunjung, mendadak histeris dan menangis, setelah majelis hakim menutup sidang.

“Kowe salahmu opo. Kok dipateni. Ya Allah, salahmu opo kok dipateni,” katanya sambil menangis.
Berulangkali kalimat itu meluncur dari Khoiriyah. Tidak ada hujatan kepada kedua terdakwa. Dia lebih banyak meratapi nasib suaminya, Novianto, yang ditusuk kedua terdakwa di depan dirinya dan anak-anaknya yang masih kecil.

“Kok mesakke awakmu, pak. Kenopo kowe dipateni. Salahmu opo kok dipateni. Mesakke kowe, pak,” serunya dalam tangis yang terus meledak.

Beberapa keluarga yang ikut mendampingi Khoiriyah segera mengangkat tubuh perempuan itu, keluar dari dalam ruang sidang. Dia lantas dibawa ke musala kantor pengadilan, yang terletak di belakang kantor.

Sejumlah perempuan yang termasuk kerabat korban, berusaha menenangkan Khoiriyah. Mereka mencoba menghibur dan memintanya untuk lebih tabah dan ikhlas.

Khoiriyah termasuk rajin mendatangi sidang pengadilan, yang mengadili dua terdakwa pembunuh suaminya. Yakni Sugiyanto alias Bureng dan Dani alias Dan. Kedua terdakwa sendiri divonis 9 tahun penjara atas perbuatannya yang dianggap melanggar pasal 170 ayat 2 ketiga, yaitu penganiyaan yang mengakibatkan orang meninggal.

Pengacara keluarga korban Yusuf Istanto mengatakan, istri korban cukup kecewa mendengar putusan majelis yang menghukum terdakwa 9 tahun penjara.

“Kami anggap hal itu wajar. Karena kan, memang keluarga korban berharap supaya terdakwa dihukum seberat-beratnya,” katanya yang ditemui seusai sidang.

Yusuf mengatakan, pihaknya mengapresiasi apa yang sudah menjadi keputusan hakim. Apalagi hukuman yang dijatuhkan termasuk sudah maksimal.

“Kalau dalam pasal yang dilanggar, maksimal hukumannya memang 12 tahun. Jaksa sudah menuntut 10 tahun, hakim memutus 9 tahun. Sudah bagus saya kira. Sudah maksimal. Meski memang belum sesuai harapan kami,” terangnya.

Sayangnya, menurut Yusuf, ada beberapa orang yang sedianya dijadikan saksi, tidak mau melakukannya. Padahal, dari sana bisa diketahui apakah penganiayaan itu sudah direncanakan atau tidak. “Kalau misalnya saksi yang kami inginkan mau bersaksi, maka bisa diketahui apakah itu pembunuhan berencana atau tidak. Tuntutan hukumannya akan lebih tinggi kalau itu terjadi. Sayangnya saksinya tidak bersedia,” katanya.

Sebagaimana diberitakan, Novianto dianiaya kedua terdakwa pada 5 Juli 2015 lalu, di depan rumah korban. Penyebabnya karena terdakwa dendam pernah diingatkan oleh korban. Meski korban sempat dirawat, namun nyawanya tidak tertolong. (MERIE/KHOLISTIONO)

Terdakwa Pembunuhan Jepang Pakis Kudus Nyatakan Pikir-pikir Vonis Hakim

Kedua terdakwa divonis 9 tahun penjara. Namun, keduanya menyatakan masih pikir-pikir atas vonis tersebut (MuriaNewsCom/Merie)

Kedua terdakwa divonis 9 tahun penjara. Namun, keduanya menyatakan masih pikir-pikir atas vonis tersebut (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Dua terdakwa kasus penganiayaan yang mengakibatkan korbannya meninggal dunia di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, menyatakan pikir-pikir atas putusan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kudus.

Kedua terdakwa yakni Sugiyanto alias Bureng dan Dani alias Dan, menyatakan bahwa mereka akan pikir-pikir dulu atas putusan majelis.

Awalnya terdakwa Bureng menyatakan menerima putusan majelis hakim, yang memvonisnya 9 tahun penjara.”Saya menerimanya, pak hakim,” kata Bureng saat ditanya Ketua Majelis Hakim Wijawiyata, dalam sidang lanjutan, yang berlangsung Rabu (4/11/2015).

Hanya saja Bureng berubah pikiran, saat majelis ganti bertanya kepada terdakwa Dan. Saat ditanya mengenai vonis yang diberikan, Dan mengatakan pikir-pikir dulu. “Saya pikir-pikir, pak hakim,” jawabnya.

Mendengar apa yang disampaikan Dan, terdakwa Bureng kemudian juga meralat ucapannya yang pertama bahwa dia menerima putusan tersebut. “Saya juga mau pikir-pikir, pak,” katanya.

Wijawiyata setelah mendengar jawaban kedua terdakwa, mengatakan bahwa pihaknya akan mencatat apa jawaban dari keduanya.”Silakan kalau kemudian kedua terdakwa pikir-pikir. Kalau memang keberatan, bisa nanti mengajukan ke Pengadilan Tinggi untuk proses selanjutnya, ya. Termasuk jaksa. Kalau keberatan bisa banding ke pengadilan tinggi,” paparnya.

Majelis hakim sendiri, menjatuhkan vonis 9 tahun penjara kepada kedua terdakwa. Vonis ini lebih ringan satu tahun dibandingkan tuntutan  jaksa yang sepuluh tahun penjara.

Kedua terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melakukan penganiayaan terhadap korban bernama Novianto, warga Desa Jepang Pakis, RT 5/RW 4, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, pada 5 Juli 2015 lalu. Meski sempat dirawat di rumah sakit, namun korban akhirnya meninggal dunia. (MERIE/KHOLISTIONO)

Pembunuh Warga Jepang Pakis Kudus Divonis 9 Tahun Penjara

Kedua terdakwa divonis 9 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kudus (MuriaNewsCom/Merie)

Kedua terdakwa divonis 9 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kudus (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Dua orang terdakwa kasus penganiayaan yang berujung meninggalnya korban di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, divonis 9 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kudus, dalam sidang lanjutan yang berlangsung Rabu (4/11/2015).

Kedua terdakwa yaitu Sugiyanto alias Bureng, dan Dani alias Dan, dinilai majelis hakim terbukti melakukan penganiayaan yang menyebabkan korbannya meninggal dunia.

“Kedua terdakwa berdasarkan persidangan telah terbukti melanggar pasal 170 ayat 2 ketiga, hingga menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Ketua Majelis Hakim PN Kudus Wijawiyata, saat membacakan amar putusannya, didampingi hakim anggota Moch Nur Azizi dan Dedy Adi Saputra.

Kasus penganiayaan sendiri terjadi pada 5 Juli 2015 lalu. Korban sendiri bernama Novianto, yang ditusuk terdakwa saat petang. Meski sudah dirawat di rumah sakit, namun nyawa korban tidak bisa diselamatkan. Vonis hakim sendiri, lebih ringan satu tahun dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum. Jaksa sendiri menuntut keduanya sepuluh tahun penjara.

Vonis 10 tahun penjara itu dipotong masa tahanan keduanya selama dipenjara sebelumnya. Kedua terdakwa juga diwajibkan membayar biaya perkara sebesar Rp 2 ribu. (MERIE/KHOLISTIONO)

Polisi Tunggu Saksi Kunci Penganiayaan Pentas Dangdut Pulih

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Penganiayaan yang menewaskan Nor Hidayat (20), dan membuat kritis ABG berinisial F (15), saat pementasan orkes dangdut di Lapangan Kenari Desa Purwogondo, Kecamatan Kalinyamatan. Sampai saat ini tersangka masih belum ditemukan.

Kasatreskrim Polres Jepara AKP I Wayan Suhendar mengaku kesulitan mendapatkan identitas lengkap para pelaku. Hanya korban selamat yang dapat menjadi saksi kunci pada musibah tersebut. Padahal, kondisi korban selamat masih sakit dan belum memungkinkan dimintai keterangan lebih lengkap.

”Tidak ada saksi yang mengenali pelaku. Hanya korban yang tahu persis,” kata I Wayan Suhendar.

Lebih lanjut dia mengemukakan, korban F (15) masih dalam proses pemulihan setelah dioperasi lantaran luka parah dibagian perutnya hingga bagian lambung robek. Selain itu, diyakini masih dalam kondisi
trauma. Sebab luka yang didapatkan dari penganiayaan memang tergolong berat.

”Sebenarnya sudah bisa diajak komunikasi. Tapi belum bisa dimintai keterangan lebih jelas. Terlihat betul dia masih trauma. Kami tak bisa memaksa,” tandasnya.

Dia menambahkan, jika dilihat, pelaku dimungkinkan bukan satu orang. Mengenai motifnya, bisa jadi sebelumnya sudah ada dendam. Bisa juga murni bersitegang saat menonton orkes dangdut dengan keadaan mabuk. Pihaknya belum berani menyimpulkan karena belum ada pelaku yang tertangkap. (WAHYU KZ/TITIS W)

Hampir Sepekan, Pelaku Penganiayaan Orkes Dangdut di Jepara Belum Ditemukan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Hampir sepekan sejak peristiwa tragis pentas orkes dangdut di lapangan Kenari Desa Purwogono, Kecamatan Kalinyamatan, Sabtu (24/10/2015). Sampai saat ini pihak kepolisian Satreskrim Polres Jepara tak kunjung menemukan pelaku penganiayaan yang menimbulkan satu pemuda tewas dan satu anak baru gede (ABG) kritis.

Kasatreskrim Polres Jepara AKP I Wayan Suhendar mengatakan, pihaknya mengaku kesulitan mendapatkan keterangan lebih lengkap berkait pelaku penganiayaan tersebut. Sebab, ketika kejadian berlangsung, tidak ada saksi yang mengetahui betul kejadian tersebut.

”Tidak ada yang tahu siapa pelakunya. Yang tahu persis hanya korban yang selamat. Tapi, korban selamat belum bisa dimintai keterangan karena masih sakit, dan belum bisa dimintai banyak keterangan,” ujar I Wayan Suhendar.

Menurutnya, keterangan dari saksi yang melihat kejadian, termasuk dari rekan korban belum mencukupi. Sebab satupun tak menahu identitas pelaku. Meski demikian, pihaknya menjanjikan akan terus melakukan penyidikan dengan target mendapatkan identitas pelaku.

Seperti diberitakan, pertunjukan orkes dangdut kembali membawa petaka. Satu pemuda tewas bernama Nur Hidayat (20) warga Desa Bandungrejo Kecamatan Kalinyatam dan satu ABG berinisial F (15) warga Desa Teluk Sidi, Kecamatan Kalinyamatan mengalami luka parah. Kedua korban ini dikeroyok dengan sadis dan ditusuk di bagian perut dan bagian badan yang lainnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Satu Pelaku Pembunuhan Warga Kembang Masih Buron

Reka ulang, tersangka menyawer biduan dengan uang 20 ribuan saat menontonorkes dangdut. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Reka ulang, tersangka menyawer biduan dengan uang 20 ribuan saat menonton orkes dangdut. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jajaran Polres Pati saat ini tengah memburu pelaku pembunuhan terhadap Arif Pranoto, warga Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti yang meninggal di Dermaga Desa Banyutowo, usai menonton konser dangdut pada Sabtu (10/10/2015) lalu.

Korban tewas akibat tusukan pisau yang menghujam di lehernya hingga menganga, yang sebelumnya terlibat duel antara korban dengan empat warga Desa Dukuhseti di kawasan dermaga. Ketiga pelaku berhasil dibekuk, satu di antaranya kabur dan saat ini menjadi buronan polisi.

“Kami tetapkan empat tersangka. Tiga sudah kami amankan dan sudah melakukan reka ulang kejadian. Sedangkan satu tersangka masih menjadi daftar pencarian orang (DPO),” ujar Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kasat Reskrim AKP Agung Setyo Budi kepada MuriaNewsCom, Rabu (28/10/2015).

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 340 subsider 338 lebih subsider 170 lebih subsider 351 ayat 3 KUHP. “Tersangka diancam dengan pidana penjara seumur hidup,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Reka Ulang Pembunuhan Pemuda di Dermaga Dukuhseti Digelar di Mapolres Pati

Reka ulang kejadian duel maut di Dermaga Pantai Dukuhseti dilakukan di Mapolres Pati, Rabu (28/10/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Reka ulang kejadian duel maut di Dermaga Pantai Dukuhseti dilakukan di Mapolres Pati, Rabu (28/10/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Reka ulang pembunuhan terhadap Arif Pranoto (23), pemuda asal Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, pada Sabtu (10/10/2015) lalu digelar di Mapolres Pati, Rabu (28/10/2015).

Reka ulang tersebut melibatkan tiga tersangka, masing-masing berisial K (32), SA (24), dan IA (19). Ketiganya merupakan warga Desa Banyutowo.

Sementara itu, satu tersangka berinisial S (32), warga Desa Banyutowo masih dalam kejaran polisi, sehingga tidak bisa dihadirkan dalam reka ulang kasus pembunuhan terhadap Arif.

Dalam reka ulang tersebut, diketahui salah satu orang tersangka tengah menyawer salah satu biduan yang tengah bernyanyi. Belum sampai menyawer, tangan satu tersangka dipelintir korban hingga menyebabkan satu tersangka mengadukan insiden tersebut kepada tiga teman lainnya.

Usai konser dangdut, keempat tersangka mengajak korban untuk berduel di dermaga Pantai Banyutowo. Korban membawa satu senjata tajam dalam istilah Jawa “bendo”. Sementara itu, keempat tersangka membawa pisau dan senjata tajam lainnya.

Duel berlangsung di dermaga hingga menyebabkan korban terjatuh, kemudian dihujam dengan satu bilah pisau pada bagian leher. Akibatnya, korban meninggal dunia.

“Hari ini kami menggelar rekonstruksi jalannya peristiwa tindak pidana pembunuhan yang direncakan di muka umum secara bersama-sama melakukan kekerasan hingga mengakibatkan orang meninggal dunia. Tersangka terancam hukuman penjara seumur hidup,” Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kasat Reskrim AKP Agung Setyo Budi kepada MuriaNewsCom. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Polisi Belum Tetapkan Tersangka Kasus Pembunuhan Saat Pentas Dangdut di Jepara

penganiayaan

 

JEPARA – Pihak kepolisian Polres Jepara menyatakan belum menetapkan atau mengamankan tersangka dalam kasus penganiayaan yang menimbulkan korban jiwa, ketika pentas dangdut di lapangan Kenari Desa Purwogondo, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Sabtu (24/10/2015).

Kasatreskrim Polres Jepara melalui KBO Reskrim, Ipda Candra Bayu Septi mengatakan,  sampai saat ini pihaknya masih mengumpulkan bukti dan keterangan dari para saksi. Sehingga ditanya soal penetapan tersangka, dia menyatakan belum ada.

”Belum (penetapan tersangka). Kami masih pengembangan dari keterangan para saksi,” ujar Candra kepada MuriaNewsCom, Senin (26/10/2015).

Menurutnya, pihaknya telah memintai keterangan sedikitnya tiga orang saksi untuk kasus tersebut. Pihaknya juga masih ingin mendapatkan keterangan lebih detai dari saksi kunci yakni F (15) korban yang terluka parah pada kasus itu.

Seperti diberitakan, pertunjukan orkes dangdut berujung maut, satu pemuda bernama Nur Hidayat (20) tewas dan satu anak baru gede (ABG) berinisial F (15) terluka parah. Keduanya mengalami luka tusukan di bagian perut dan tubuh bagian belakang setelah dianiaya sejumlah orang yang sampai saat ini belum diketahui identitasnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Banyak Timbulkan Korban hingga Meninggal Dunia, Pentas Orkes Dangdut di Jepara Dievaluasi

penganiayaan

 

JEPARA – Pentas orkes dangdut yang ada di Kabupaten Jepara telah banyak menimbulkan korban, baik luka hingga meninggal dunia. Hal itu harus menjadi perhatian khusus bagi aparat maupun pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara untuk dilakukan evaluasi.

Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin mengatakan, pihaknya akan segera melakukan evaluasi terkait penyelenggaraan pentas orkes dangdut. Sebab, bagaimanapun juga keamanan pertunjukan itu juga menjadi tugas aparat kepolisian.

”Kami akan segera melakukan evaluasi atas kejadian yang menimbulkan korban saat pertunjukan orkes dangdut,” ujar Samsu.

Menurutnya, ada beberapa hal yang memang harus dievaluasi agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi. Terlebih peristiwa tersebut dalam catatan pihak kepolisian telah terjadi berulang kali yang dimulai dari cekcok, perkelahian hingga penganiayaan.

Seperti diberitakan, Sabtu (24/10/2015) malam terjadi penganiayaan ketika pertunjukan orkes dangdut dan setelah pertunjukan berlangsung di lapangan Kenari Desa Purwogondo, Kecamatan Kalinyamatan. Ada satu korban tewas bernama Nur Hidayat (20) dan satu ABG berinisial F (15) dalam kondisi kritis di RSUD Kartini. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ngeri! Korban Pengeroyokan Alami Beberapa Luka Tusuk

Korban F yang saat ini masih mendapatkan perawatan di rumah sakit (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Korban F yang saat ini masih mendapatkan perawatan di rumah sakit (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pertunjukan orkes dangdut kembali membawa petaka. Satu pemudatewas bernama Nur Hidayat (20) warga Desa Bandungrejo, KecamatanKalinyatan dan satu ABG berinisial F (15) warga Desa Teluk Sidi,Kecamatan Kalinyamatan, mengalami luka parah.

Ternyata, kedua korban ini dikeroyok dengan sadis dan ditusuk pisau dibagian perut dan bagian badan yang lainnya, usai nonton orkes dangdutyang digelar di lapangan Kenari, Desa Purwogondo, Kecamatan
Kalinyamatan, Sabtu (24/10/2015) malam Minggu.

Korban tewas, Nur Hidayat mengalami luka tusuk di bagian perut kanandan kepala bagian belakang. Akibat hal itu, nyawanya tak mampu diselamatkan, lantaran luka tusuk yang cukup dalam. Sebelum dikebumikan, korbantelah diotopsi oleh tim DVA Polda Jawa Tengah.

Sedangkan korban luka berinisial F (15) juga mengalami luka tusukdibagian perut dan badan bagian belakang. Beruntung, nyawa korbanmasih dapat diselamatkan setelah dilarikan ke RSUD Kartini. Korban
harus dioperasi di bagian perut dekat lambung akibat luka tusuk yangdialami.

Atas peristiwa ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan.Sejumlah saksi sudah dimintai keterangan. Meski begitu, sampai saat inibelum diketahui motif pembunuhan dan penganiayaan tersebut.

“Kami akan memintai keterangan F (15) sebagai saksi kunci dalamperistiwa ini. Semoga saja F kondisinya membaik dan dapat diajakberbicara,” kata KBO Reskim IpdaCandra Bayu Septi. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)