Sekitar Pegunungan Kendeng Ditanami Pohon Berbuah

Petugas Perhutani memantau kawasan pegunungan Kendeng di Wonosoco, Undaan, Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Camat Undaan Kuds Catur Widiyatno mengatakan, masyarakat sekitar pegunungan Kendeng, terutama di wilayahnya, mulai sadar akan pentingnya tumbuhan. Mereka pun rama-ramai menanam pohon buah.

“Sekarang beberapa titik sudah ditanam dengan pohon berbuah. Semacam mangga, kelengkeng, nangka dan lain sebagainya,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (8/9/2016).

Sebelumya, kata Catur, masyarakat di sekitar pegunungan Kendeng, susah diajak menjaga lingkungan. Bahkan, kawasan pegunungan yang gundul dijadikan sebagai areal pertanian dengan menanam tanaman semusim.”Padahal itu sangat berpengaruh dengan desa. Tanaman semusim seperti jagung, tidak kuat menjaga tanah dan air saat hujan,” ujarnya.

Selain itu, tanaman yang tidak berbuah juga dianggap tidak terlalu berpengaruh, selain hanya diambil kayunya. Hal itu juga yang membuat warga enggan merawat hutan.”Namun sekarang sudah disiasati dengan menanam pohon berbuah. Masyarakat membantu menjaganya karena menganggap ada manfaatnya,” imbuhnya.

Secara perlahan, lanjutnya, masyarakat diberikan pemahaman terkait kawasan hutan dan pentingnya untuk masyarakat. Sebelumnya, Perhutani DKPH Purwodadi Penganten menyatakan, pegunungan Kendeng gundul sampai sekarang. Padahal, pihaknya gencar melakukan penghijauan.

Rido Haryanto, Aster Perhutani DKPH Purwodadi Penganten, mengatakan pihaknya menanam ribuan pohon di area pegunungan, setiap tahunnnya. Selang beberapa lama, Perhutani mengecek pertumbuhan pohon. Hasilnya, Perhutani malah menemukan sebagian besar pohon itu mati.

Editor : Akrom Hazami

Pegunungan Kendeng masih Gundul Meski Tiap Tahun Dihijaukan

Petugas Perhutani memantau kawasan pegunungan Kendeng di Wonosoco, Undaan, Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Perhutani memantau kawasan pegunungan Kendeng di Wonosoco, Undaan, Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Perhutani DKPH Purwodadi Penganten menyatakan, pegunungan Kendeng gundul sampai sekarang. Padahal, pihaknya gencar melakukan penghijauan.

Rido Haryanto, Aster Perhutani DKPH Purwodadi Penganten, mengatakan pihaknya menanam ribuan pohon di area pegunungan, setiap tahunnnya. Selang beberapa lama, Perhutani mengecek pertumbuhan pohon. Hasilnya, Perhutani malah menemukan sebagian besar pohon itu mati.

“Paling beberapa saja yang masih hidup. Sedangkan yang mati itu lebih banyak, karena ada yang menyemprotkan obat agar tanaman mati,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (8/9/2016).

Perhutani menyatakan kondisi tersebut sudah berlangsung beberapa kali. Bahkan, mereka selalu menemukan pepohonan yang mati karena obat, setiap kali memantau. Perhutani juga menemukan banyak aksi pencurian kayu. Tidak heran jika pegunungan tersebut kini memprihatinkan.

“Kami kesulitan dalam mengawasinya karena petugas yang hanya berjumlah belasan. Kami berharap ada pihak masyarakat yang juga ikut dalam menjaganya,” ungkapnya.

Di kawasan itu, nantinya akan dibangun pula lapangan tembak dan Perang Semesta. Rido yakin keberadaan lapangan tembak akan menurunkan tingkat pencurian kayu dan pemusnahan pepohonan. Dia berharap pegunungan Kendeng akan ditumbuhi pohon keras lagi. Setidaknya wilayah Desa Wonosoco bisa terhindar dari adanya banjir tahunan.

Editor : Akrom Hazami

Keberadaan Lapangan Tembak di Pegunungan Kendeng Bisa Kurangi Pencurian Kayu

lapangan tembak 2

Sejumlah petugas perhutani DKPH Purwodadi Penganten meninjau lokasi yang direncanakan akan jadi lapangan tembak di Pegunungan Kendeng. (MuriaNewsCom/ Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pembuatan lapangan tembak dan perang semesta di pegunungan Kendeng, dinilai positif oleh Camat Undaan Catur Widiyatno, Kudus. Bahkan, dengan adanya lapangan itu maka dapat mengurangi risiko pencurian kayu yang selama ini terjadi.

Catur mengatakan, bahwa pihak kecamatan memberikan dukungan terkait hal itu. Sebab, penjarahan kayu selama ini sudah sangat parah. Dengan adanya lapangan tembak, maka pencurian kayu bisa berkurang.

“Dengan digunakan sebagai lapangan tembak, maka petugas akan siaga. Hal itu, bakal membuat pencuri kayu susahjika hendak melangsungkan aksi,” katanya, Jumat (26/8/2016).

Menurutnya, pencurian kayu sejauh ini berdampak buruk bagi sekitar. Termasuk juga datangnya banjir, lantaran air hujan tidak dapat tertahan oleh pepohonan.

Selain itu, penghijauan yang dilakukan juga mampu memperbaiki gundulnya hutan. Minimal dampak psikologis bagi pencuri akan kewalahan jika hendak menjalanakn aksinya.

“Lokasinya juga pas, jauh dari permukiman. Dengan adanya lapangan tembak, lokasi itu juga akan aman,” pungkasnya.

Rido Haryanto, Aster Perhutani DKPH Purwodadi Penganten, mengatakan rencana pembuatan lapangan khusus itu sudah jelas. Bahkan persiapan yang digunakan juga sudah dilaksanakan.

“Ada 2.329 hektare lahan yang digunakan, jumlah luasan tersebut merupakan areal hutan yang cukup terjal untuk dilewati,” katanya krpada MuriaNewsCom, Jumat (26/8/2016).

Lahan pegunungan dipilih, karena lokasi itu pas digunakan untuk perang semesta. Selain lokasi yang luas, medan yang terjal juga menjadi hal yang  mendukung jadi lapangan.

Hal lainnya yang menjadi dasar, adalah dengan jarak yang cukup jauh dari pemukiman. Hal itu, akan meminimalisasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti suara bising dan peluru yang nyasar.

“Lapangan tersebut harus seperti kawasan hutan yang sesungguhnya. Jadi, kerumunan tanaman juga menjadi hal yang diperhitungkan,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

PT Indocement Bantah Tudingan Pendirian Pabrik Semen Habiskan Sumber Mata Air Gunung Kendeng

 Aksi pawai lingkungan tolak pendirian pabrik semen saat melintas di Kayen, Sabtu (16/7/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)


Aksi pawai lingkungan tolak pendirian pabrik semen saat melintas di Kayen, Sabtu (16/7/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Koordinator aksi pawai lingkungan penolakan pabrik semen, Arif Novianto mengatakan, program CSR yang dilakukan PT Indocement hanya dimanfaatkan sebagai politik pencitraan dan ajang kampanye. Hal itu dilontarkan Arif, mewakili suara Aliansi Rakyat Kendeng Berdaulat, Sabtu (16/7/2016).

“Pawai lingkungan yang mengelilingi wilayah rencana terdampak ekspansi PT Sahabat Mulia Sakti, anak perusahaan PT Indocement ini dilakukan untuk mengobarkan semangat perlawanan. Kami tidak akan tergoyahkan dengan politik pencitraan pabrik semen dan penguasa, seperti melalui CSR. Kami tidak akan mundur selangkah pun untuk menghadapi korporasi perusak lingkungan,” ucap Arif.

Menanggapi tudingan tersebut, Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Chistian Kartawijaya saat dikonfirmasi MuriaNewsCom mengatakan, CSR yang selama ini digelontorkan di Pati sudah menjadi komitmen perusahaan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan.

“Program CSR memang sudah menjadi kewajiban perusahaan, sesuai dengan UUPT Nomor 40 Tahun 2007. Dalam UU tersebut, CSR sudah menjadi komitmen perusahaan untuk melakukan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Semuanya untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik perusahaan, komunitas setempat, dan masyarakat luas,” kata Christian.

Baca juga : Ribuan Rakyat Kendeng Lawan Pendirian Pabrik Semen di Pati dengan Pawai Lingkungan

Bahkan, program kelestarian air dan peningkatan akses air untuk masyarakat yang dilakukan PT Indocement berhasil mendapatkan penghargaan platinum pada ajang CSR Awards dari Kementerian Sosial RI dan Corporate Forum for Community Development (CFCD) tak lama ini. Karena itu, Christian membantah bila program CSR yang dilakukan PT Indocement hanya untuk politik pencitraan.

“Dalam pengembangan komunitas, PT Indocement juga sudah membangun infrastruktur jalan dan jembatan, perbaikan sarana dan pembinaan olahraga, renovasi musala dan madrasah, termasuk peningkatan sumber daya air. Misalnya, normalisasi saluran air Tambakromo-Kayen sepanjang 8,7 km, perbaikan pompa air dan pipanisasi dari Stasiun Pompa Tambakromo,” imbuhnya.

Selain itu, PT Indocement menegaskan sudah menyiapkan untuk membangun kualitas tenaga kerja yang siap pakai pada masa konstruksi dan operasi pabrik semen di Pati. Hal itu dilakukan dengan peningkatan keterampilan kompeten melalui kerja sama dengan Balai Latihan Kerja Dinsoskertrans Kabupaten Pati. “Dengan adanya pabrik semen, banyak tenaga kerja dari Pati yang nantinya akan diserap,” tutur Christian.

Ditanya soal tudingan kerusakan lingkungan dan habisnya sumber mata air, pihaknya memastikan pembangunan pabrik semen di Pati tidak akan merusak lingkungan. Justru, PT Indocement akan meningkatkan ketahanan air di area pabrik, tambang, dan sekitarnya.

Pembangunan infrastruktur berupa dam dan embung raksasa dengan daya tampung 2,1 juta meter kubik per tahun justru akan memberikan tambahan air bagi masyarakat sekitar. Dalam operasionalnya, PT Indocement tidak menggunakan air bawah tanah, tetapi menggunakan kolam air areal tambang dan pabrik untuk memenuhi kebutuhan air operasi pabrik dan membantu kebutuhan air masyarakat.

Dihubungi terpisah, Direktur Utama PT Sahabat Mulia Sakti, Budiono Hendranata menegaskan hal yang sama. “Kami bisa menjamin, simpanan air di Pegunungan Kendeng tidak akan berkurang. Kami ikuti kaidah produksi dry process, sehingga volume dan kualitas air dari Gunung Kendeng akan terjaga,” papar Budiono.

Sebagai bagian dari HeidelbergCement Group, pihaknya memastikan setiap usahanya mengacu pada Cement Sustainability Initiative (CSI) dari himpunan industri semen kelas dunia yang masuk dalam World Business Council for Sustainable Development. “Kami menjunjung tinggi penerapan prioritas keberlanjutan usaha dengan memerhatikan aspek lingkungan, menjawab permasalahan sosial dan ekonomi, seperti pengelolaan sumber daya air, pemenuhan pangan, menjaga ekosistem, antisipasi perubahan iklim, sumber daya manusia, dan pola hidup yang sesuai prinsip keberlanjutan,” pungkasnya.

Baca juga : Aksi Tolak Pendirian Pabrik Semen di Pati Dikawal Ketat Pasukan Bersenjata

Editor : Kholistiono

 

Temui Anggota DPRD Pati, Ini Tuntutan Warga JMPPK

Sejumlah wanita JMPPK menggelar aksi damai di depan Kantor DPRD Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah wanita JMPPK menggelar aksi damai di depan Kantor DPRD Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan warga Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) menginap di tengah Alun-alun Pati, setelah menempuh jarak sekitar 20 km dari Dukuh Ngerang, Tambakromo, Jumat (20/5/2016) dini hari.

Pagi hari, setelah berdoa bersama berharap Gunung Kendeng selamat, mereka mendatangi Kantor DPRD Pati yang disambut jajaran Komisi C DPRD Pati. Perwakilan warga JMPPK akhirnya menggelar audiensi di Ruang Sidang Paripurna.

Ketua JMPPK Gunretno mengatakan, warga JMPPK menuntut agar revisi Perda Nomor 5 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) segera direvisi. “Kami berharap agar daerah Pati selatan, pegunungan Kendeng dikembalikan sebagai kawasan pertanian dan pariwisata,” ujarnya.

Ia mengatakan, saat itu Pati bagian selatan dalam Perda ditetapkan sebagai kawasan pertanian dan pariwisata. Namun, daerah tersebut tiba-tiba saja menjadi kawasan industri dan pertambangan melalui revisi Perda tanpa ada sosialisasi.

Gunretno menuding, banyak data lingkungan yang dihilangkan pada saat daerah tersebut ditetapkan sebagai kawasan industri dan pertambangan pada 2011. “Banyak sumber mata air di Pati selatan yang bisa menjadi dasar untuk mengembalikan daerah selatan sebagai wilayah pertanian,” tambahnya.

Menanggapi tuntutan tersebut, Ketua Komisi C DPRD Pati Awi mengaku akan menampung aspirasi dari warga JMPPK. Awi berjanji akan memperjuangkan aspirasi melalui agenda revisi Perda RTRW.

“Kami sudah menampung aspirasi itu. Kami akan mengusulkan tuntutan itu saat revisi Perda RTRW berlangsung. Saat ini, draf revisi raperda masih digodok di Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda),” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Bawa Obor, Ribuan Petani Kendeng Jalan Kaki ke Pendapa Tolak Pabrik Semen

Sejumlah wanita membawa obor untuk mengikuti aksi long march tolak pabrik semen, sepanjang 20 kilometer menuju Pendapa Kabupaten Pati, Kamis (19/5/2016).(MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah wanita membawa obor untuk mengikuti aksi long march tolak pabrik semen, sepanjang 20 kilometer menuju Pendapa Kabupaten Pati, Kamis (19/5/2016).(MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan petani lereng Pegunungan Kendeng Utara melakukan aksi jalan kaki (long march) Ngrungkebi Bumi Mina Tani, sepanjang 20 kilometer, Kamis (19/5/2016) malam.

Aksi itu dimulai dari kompleks makam Nyai Ageng Ngerang, Tambakromo, menuju Pendapa Kabupaten Pati. Mereka berjalan menggunakan obor dan menyanyikan tembang Jawa berbalut kalimat tahlil, dan diiringi suara gendang. Tembang Jawa itu dilantunkan untuk keselamatan dunia pertanian di Kabupaten Pati.

”Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili. La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah,” begitu bunyi lantunan lagu mereka sepanjang jalan, dari Tambakromo. Perjalanan mereka memang panjang. Karena melewati Kecamatan Gabus, dan berakhir di Alun-alun Pati.

Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunretno kepada MuriaNewsCom mengatakan, long march dari petani mewakili suara masyarakat, yang terkena dampak langsung dari industri pabrik semen yang akan berdiri di Pati.

”Kami hendak mengingatkan kepada majelis hakim PTTUN Surabaya, agar memegang prinsip keadilan, dengan mengacu pada bukti-bukti di lapangan. Serta dampak kehidupan petani dan lingkungan di masa depan,” ujar Gunretno.

Gunretno mengatakan, pertambangan semen di Pegunungan Karst Kendeng Utara berpotensi memutus fungsi karst sebagai pendistribusi air melalui gua. Bila distribusi air terputus menyebabkan mata air hilang dan pemulihan seperti sediakala sulit.

Sementara itu, Direktur Utama PT Indocement Christian Kartawijaya saat dikonfirmasi mengatakan, isu pembangunan pabrik semen yang merusak lingkungan dan mengancam kehidupan petani merupakan kebohongan besar.

”Kami berbeda dengan penambang liar. Kami punya aturan yang ketat untuk kelestarian lingkungan dalam menambang. Kami tidak pernah menambang pada area yang ada mata airnya. Kami produksi dengan sistem dry process. Kami pastikan tidak mengambil mata air. Itulah yang membedakan kami dengan penambang liar,” ungkap Christian.

Editor: Merie

Pegunungan Kendeng Harus Dilindungi

Suasana seminar dengan tema “Kendeng, Tanah, Air dan Kehidupan” yang dilangsungkan di Pendapa Kendi Cinta di Jalan Tendean, Purwodadi, Sabtu (23/4/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Suasana seminar dengan tema “Kendeng, Tanah, Air dan Kehidupan” yang dilangsungkan di Pendapa Kendi Cinta di Jalan Tendean, Purwodadi, Sabtu (23/4/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) meminta agar Presiden Jokowi mengeluarkan moratorium aktivitas penambangan di pulau Jawa. Terutama sekali di kawasan Pegunungan Kendeng.

Hal itu disampaikan aktivis JMPPK Gunretno saat menjadi pembicara seminar dengan tema “Kendeng, Tanah, Air dan Kehidupan” yang dilangsungkan di Pendapa Kendi Cinta di Jalan Tendean, Purwodadi, Sabtu (23/4/2016). Acara seminar ini diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Lingkungan Grobogan.

“Kami dari JMPPK akan meminta Bapak Presiden Jokowi mengeluarkan moratorium penambangan di Jawa. Alasannya, aktivitas penambangan akan berdampak pada lingkungan yang saat ini sudah semakin padat penduduknya,” kata Gunretno yang menyampaikan materi dengan Bahasa Jawa itu.

Untuk wilayah Pegunungan Kendeng juga harus dijauhkan dari upaya penambangan. Sebab, wilayah itu merupakan kawasan karst harus dipertahankan sebagai kawasan konservasi, bukan untuk usaha pertambangan.

Selain itu, berdasarkan fakta di lapangan menunjukkan adanya tata air yang berada di batas kawasan karst. Yang mana, mata air yang sangat penting bagi kelangsungan hidup warga setempat dan pertanian.

Tokoh masyarakat Samin Sedulur Sikep itu menyadari, untuk merealisasikan terbitnya moratorium itu bukan urusan gampang. Perlu kerjasama dari banyak pihak. Khususnya, masyarakat di kawasan Pegunungan Kendeng agar bisa bersatu.

“Kami akan terus berupaya untuk bisa membebaskan pegunungan Kendengan dari segala aktivitas penambangan yang berpotensi merusak lingkungan. Khususnya, keberadaan mata air. Kalau masyarakat bisa bersatu maka upaya moratorium ini akan lebih mudah,” paparnya.

Sementara itu, pembicara lainnya, Eko Teguh Paripurno menyatakan, di kawasan karst Pegunungan Kendeng ada jejak karst dalam bentuk ponor, gua dan mata air. Terdapat 33 mata air di wilayah Grobogan, dan 79 mata air di wilayah Pati dengan debit relatif konstan.

“Mata air ini, menjadi sumber air bagi ribuan keluarga, ribuan hektare sawah serta aneka binatang dan tumbuhan. Jika ada perusakan ekosistem maka bisa berdampak bencana banjir dan kekeringan bagi kawasan tersebut,” kata dosen Teknik Geologi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta itu.

Editor : Akrom Hazami

Ada Api Misterius, Warga Rajin Pantau Kawasan Pegunungan Kendeng

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Munculnya api yang secara tiba-tiba di Pegunungan Kendeng, Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, menjadi perhatian tersendiri bagi para warga. Setidaknya, warga mengambil sikap dengan relawan melakukan pantuan secara intensif dan melakukan perawatan hutan dengan rutin.

Camat Undaan Catur Widiyatno mengatakan, para warga sudah sadar tentang api yang muncul di kawasan hutan. Warga sangat mengerti bahaya yang muncul, jika sampai api membakar dan menggunduli hutan di daerah tersebut.

Selain itu, ribuan bibit baru saat ini sudah tertanam di kawasan hutan. Hal ini untuk menjaga keasrian dan mengurangi munculnya api misterius.

“Hingga akhir tahun nanti, kami berencana menanam 1.000 bibit pohon bantuan dari Perhutani untuk ditanam di kawasan tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia menambahkan, tim direkrut dari relawan yang berasal dari penduduk sekitar. Tidak hanya diminta mewaspadai kemungkinan terjadinya kebakaran hutan, tetapi juga ikut melestarikan alam. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Boleh Percaya Boleh Tidak, Api Misterius Sering Muncul di Pegunungan Kendeng

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Kawasan Pegunungan Kendeng yang berada di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, sering terjadi ancaman kebakaran. Hal itu, karena disana sering muncul fenomena aneh seperti munculnya api di tengah hutan. Api misterius tersebut, disebut-sebut pernah muncul beberapa kali dan dipergoki para warga sekitar.

Para warga sekitar hutan yang menjumpai, selalu khawatir api bakal melalap hutan, lantaran sering muncul secara tiba-tiba. Api tersebut diduga dampak dari kemarau panjang yang menimpa Kudus, terlebih kondisi hutan yang kering.

Hal itu diungkapkan Camat Undaan Catur Widiyatno.Dia menjelaskan, para warga yang bermukim di sekitar hutan Wonosoco mengaku, setidaknya sempat melihat beberapa kali titik api dalam waktu yang berbeda. Api memang tidak membesar, karena sudah dipadamkan warga atau padam dengan sendirinya.

”Api sering muncul di tengah hutan. Kemunculan api biasanya terdapat di pinggiran semak-semak. Kalau pas saya yang melihat, langsung saya padankan sebelum api menjadi besar,” katanya.

Menurutnya, munculnya titik api merupakan fenomena yang biasa saat kemarau. Katanya, yang terpenting warga harus selalu bersiaga mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan.

”Kalau kebakaran hutan dalam skala besar belum terjadi sejauh ini, hanya kami masih mewaspadai jika terjadi hal yang tidak diinginkan, terlebih jika sampai terbakar,” paparnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Warga Kendeng Diminta Tunggu Keputusan Menteri Kehutanan

Administratur Perhutani KPH Pati Dadang Harjianto (pertama dari kiri) tengah memberikan penjelasan dalam audiensi kepada warga JMPPK di Perum Perhutani Pati, Rabu (3/6/2015). (MURIANEWS/LISMANTO)

PATI – Sejumlah perwakilan warga yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) menggelar audiensi di Perum Perhutani Pati, Rabu (3/6/2015). Dalam audiensi tersebut, warga meminta penjelasan soal keberlangsungan hutan yang ada di wilayah Pegunungan Kendeng.

Lanjutkan membaca