Cegah Radikalisme, Ini yang Dilakukan Kodim dan FKUB Kudus

ilustrasi

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Staf Kodim 0722/Kudus Mayor Infantri Sagimin mengutarakan pendidikan terhadap radikalisme bukan untuk siswa atau mahasiswa saja. Namun harus menyasar kepada seluruh kalangan.

Baca juga : PBNU Disebut Pemkab Kudus jadi Trik Ampuh Bernegara yang Baik

”Seperti contoh, radikal itu bukan hanya terhadap pemahaman teroris atau ormas yang melenceng dari aturan. Namun radikal itu bisa juga ditujukan kepada mereka yang ingin wilayahnya merdeka (makar),” katanya.

Selain itu, pihaknya juga berharap pendidikan terhadap radikalisme itu bisa menyasar kepada seluruh kalangan. Khususnya bagi mereka yang berkeinginan untuk merdeka.

”Pendidikan Pancasila, Undang-undang yang baik, serta Bhinneka Tunggal Ika itu harus bisa terus didengungkan. Supaya negara kesatuan republik Indonesia ini bisa abadi dan tidak terpecah belah,” ujarnya.

Disaat yang sama anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kudus Abdul Jalil mengatakan, seharusnya saling menghormati antar agama dan sesama itu harus bisa dikedepankan. ”Sehingga agama mayoritas dan agama minoritas bisa saling berdampingan. Serta tidak menimbulkan permusuhan dan tidak menumbuhkan bibit radikalisme yang didalamnya terdapat kekerasan,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

PBNU Disebut Pemkab Kudus jadi Trik Ampuh Bernegara yang Baik

Suasana kegiatan kebangsaan di Stikes Muhammadiyah Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suasana kegiatan kebangsaan di Stikes Muhammadiyah Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus menyebut trik ampuh bernegara yang baik. Di antaranya adalah mengikuti PBNU. Karena hal itu sudah terbukti manjur menjadikan warga lebih baik dalam bernegara.

“PBNU itu ialah sebuah singkatan yang mudah untuk diingat. Yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-undang,” kata Kepala Kesbangpol Kudus Djati Solechah.

Djati menyampaikan hal itu saat kegiatan pendidikan Cara Bernegara yang Baik. Kegiatan yang digelar di Aula STIKES Muhammadiyah, Kudus Selasa (1//3/2016) tersebut diikuti oleh ratusan mahasiswa setempat dan berbagai organisasi keagamaan yang ada di Kudus.

Acara bekerjasama dengan unsur TNI dan kantor Kesbangpol Provinsi  Jateng bertemakan “Menjadikan Jawa Tengah Benteng Pancasila. Djati menyinggung pula soal bahaya paham radikalisme yang melanda bangsa dan negara Indonesia, beberapa waktu terakhir.

“Kita jangan bosan memberikan pendidikan yang baik. Sebab ormas yang dinilai melenceng dari aturan juga tidak bosan membujuk warga negara kita supaya ikut bergabung,” ucapnya.

Dia menilai pendidikan dimulai dengan cara meningkatkan nasionalisme. Supaya jiwa warga negara akan tetap menyatu pada negara Indonesia dan tidak melakukan hal hal yang negatif. Nasionalisme itu juga perlu ditingkatkan dari diri sendiri, yakni melalui mencintai budaya lokal, mencintai produk dalam negeri. Dia menuturkan pula, untuk mengetahui seseorang yang sudah terkontaminasi jiwa radikal itu bisa dilihat dari gerak geriknya.

“Yakni pemikiran mereka yang fanatik (selalu membenarkan agama dan ajarannya,red), tidak toleran terhadap yang lain. Baik itu terhadap agama lain atau ormas lain. Bersikap eksklusif yaitu selalu berbeda pandangan dengan umat pada umumnya. Baik itu umat agama lain bahkan sesama agama yang dianutnya. Dan yang terakhir yakni revolusioner yakni selalu menggunakan kekerasan dalam bertindak untuk menuju tujuannya,” ungkapnya.

Dengan adanya pendidikan semacam itu, diharapkan bagi organisasi atau mahasiawa harus bisa selalu saling menghargai, mematuhi aturan yang ada serta mengedepan empat pilar dalam bernegara. Yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar, NKRI dan Bhineka tunggal Ika.

Editor : Akrom Hazami

Lesbumi Dituntut jadi Filter Budaya Asing

Kegiatan Lesbumi dihadiri berbagai kalangan NU di salah satu rumah makan di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kegiatan Lesbumi dihadiri berbagai kalangan NU di salah satu rumah makan di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Wakil Ketua NU Kudus Sanusi mengatakan Lembaga Seni Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) bisa menjadi penyaring kebudayaan asing yang berpotensi merusak mental bangsa.

Hal itu disampaikannya pada acara Gebyar Seni Budaya Lesbumi dan peringatan haul ke-VI KH Abdurrahman Wahid di salah satu rumah makan di Kudus, Minggu (31/1/2016) malam, “Mudah mudahan hadirnya Lesbumi ini bisa jadi filter bagi budaya. Baik lokal atau asing,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga berharap supaya Lesbumi bisa menampilkan kebudayaan lokal yang di dalamnya terdapat ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. Sehingga anak- anak bangsa bisa ikut terbina dengan baik.

Dalam kesempatan itu, Sanusi juga mengukuhkan organisasi seni budaya Lesbumi Kudus yang diketuai oleh Aris Junaidi. “Mudah mudahan setelah pengukuhan ini, Lesbumi bisa berkiprah di bidang kesenian dan kebudayaan dengan lebih positif,” ujarnya.

Selain itu, Sunardi selaku Wakil Ketua Lesbumi Kudus mengatakan,  Lesbumi cocok untuk menyaring budaya yang dinilai tidak mendidik .” Bila Lesbumi ini berkiprah di kalangan pemuda, dan remaja secara maksimal, maka akan bisa mencegah kenakalan remaja,” kata Sunardi.

Acara yang dihadiri oleh kalangan lintas agama tersebut juga dinilai bisa merekatkan rasa persaudaraan antarsesama bangsa atau umat beragama.

“Lesbumi ini harus bisa menjadi tontonan sekaligus tuntunan. Sehingga para pemuda atau remaja bahkan yang lain bisa merasa terdidik dengan kegiatan Lesbumi,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami