HAMI Ingatkan Kades di Pati untuk Hati-hati Gunakan Dana Desa


Pengurus HAMI Pati berfoto bersama seusai mengikuti pelantikan di Hotel 21 Pati, Minggu (30/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Kabupaten Pati mengingatkan kepada kepala desa dan pemerintah desa untuk berhati-hati menggunakan dana desa. Sebab, dana desa yang jumlahnya besar dinilai rawan menjadi masalah.

Terutama, bila penggunaan anggaran dana desa tidak sesuai aturan. Karena itu, pemdes disarankan untuk cermat menggunakan dana desa sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan teknis, serta memiliki kemanfaatan pada masyarakat.

“Pemdes sudah semestinya menggunakan anggaran desa sesuai juklak dan juknis. Jangan sampai ada niat buruk seperti korupsi atau mengambil keuntungan pribadi dari dana desa. Pengawasannya saat ini melibatkan semua unsur,” kata Ketua DPC HAMI Pati Bowo Setiadi, usai pelantikan pengurus HAMI di Hotel 21 Pati, Minggu (30/7/2017).

Menurutnya, kehati-hatian pemdes dalam menggunakan dana desa harus dilakukan dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai pembuatan. Pasalnya, kesalahan fatal dalam pelaporan, apalagi ada indikasi korupsi, bisa membawa oknum pemdes ke penjara.

Tidak bermaksud menakut-nakuti, tapi Bowo ingin mengingatkan agar pemdes bisa menghindari pelanggaran hukum akibat ketidaktahuan atau unsur ketidaksengajaan. “Jangan sampai niatnya baik, tidak korupsi, tapi malah berurusan dengan hukum karena ketidaktahuan,” imbuhnya.

Pihaknya juga siap memberikan advokasi kepada pemdes bila diperlukan. Bahkan, advokasi yang diberikan HAMI rencananya dilakukan secara gratis, termasuk konsultasi hukum.

Pengurus HAMI sendiri dibentuk untuk menyatukan pada advokat yang ada di Pati. Mereka berharap, HAMI bisa menjadi wadah bagi advokat muda di Pati yang juga konsen pada agenda advokasi dan konsultasi hukum gratis.Editor : Akrom Hazami

Paguyuban Nelayan Rembang Pastikan Tak Ada Kapal Warga Rembang yang Terbakar di Juwana

Kapal yang ditambat di kawasan Pulau Seprapat, Juwana dilalap si jago merah, Sabtu (15/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Rembang – Kebakaran kapal yang terjadi di tambat kawasan Pulau Seprapat, Juwana, Sabtu (15/7/2017), dipastikan tidak ada kapal milik warga Rembang.

Ketua Paguyuban Nelayan Rembang Temo Supriyanto kepada MuriaNewsCom memastikan tidak ada kapal milik warga Rembang yang ikut terbakar. “Tadi saya sudah tanya kesana kemari dan hasilnya tidak ada kapalnya warga Rembang. Insya Allah tidak ada kapalnya orang Rembang,” kata Temo.

Ia mengatakan bahwa saat ini memang ada puluhan kapal yang bersandar di wilayah Seprapat. “Setelah Lebaran, Menteri Susi melarang cantrang melaut. Jadi ya banyak kapal yang di situ. Sehingga saat ada insiden itu, secara otomatis merambat ke kapal lain,” tambahnya.

Informasi yang dihimpun di lapangan, belasan kapal yang terbakar merupakan jenis cantrang dan freezer. Hingga berita ini turun, sudah ada 14 kapal yang terbakar.

Editor : Akrom Hazami

Ini Daftar 14 Kapal yang Mengalami Kebakaran di Juwana

Polisi tengah melakukan upaya evakuasi di sekitar kebakaran kapal di Juwana, Sabtu (15/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jumlah kapal yang mengalami kebakaran di kawasan tambat, Pulau Seprapat, Juwana, Sabtu (15/7/2017), bertambah menjadi 14 kapal.

Semula, satu kapal yang terbakar hanya menjalar di sekitarnya. Namun, api cepat menyambar kapal-kapal lain yang ditambat di kawasan tersebut.

Hingga berita ini turun, sedikitnya ada 14 kapal yang ludes terbakar api. Sementara tiga orang korban yang mengalami luka bakar dilarikan ke rumah sakit tengah mendapatkan penanganan intensif.

Sumber yang dihimpun dari Polres Pati, 14 kapal yang terbakar tersebut, di antaranya sebagai berikut.

1. Kapal Motor milik Sumarno
2. Kapal Motor milik Bagong
3. Kapal Motor milik warga Kudus
4.  Kapal Motor milik warga Ngemplak, Margoyoso
5. Kapal Motor milik PT Putra Leo
6. Kapal Motor milik PT Putra Leo
7. Kapal Motor penampung KM
8. Kapal Motor cantrang
9. Kapal Motor milik Umar
10. Kapal Motor milik Kades Bendar
11. Kapal Motor milik Tomo
12. Belum teridentifikasi
13. Belum teridentifikasi
14. Belum teridentifikasi

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo mengatakan, data tersebut masih bersifat sementara. Pihak kepolisian bersama dengan petugas dan relawan tengah melakukan evakuasi dan identifikasi lebih lanjut.

“Kerugian material belum bisa ditaksir. Namun, dilihat dari jumlahnya berkisar belasan miliar. Penyebabnya diduga karena aktivitas pengelasan kapal,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

VIDEO : Kapal di Juwana Terbakar, Nelayan Pati Salahkan Menteri Susi

Tampak kapal yang ditambat di kawasan Pulau Seprapat, Juwana dilalap si jago merah, Sabtu (15/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga menyalahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti,  dalam insiden kebakaran belasan kapal di tambat kawasan Pulau Seprapat, Juwana, Pati, Sabtu (15/7/2017).

Nelayan menuding kebakaran merupakan imbas dari kebijakan Menteri Susi yang melarang kapal  cantrang beroperasi. Akibatnya kapal tidak bisa melaut.

 

Berikut rekaman videonya:

Banyak masalah di daerah kami. Khususnya masalah di daerah Pati. Kapal banyak yang terbakar. Apalah Bu Susi mikir keadaan nelayan sekarang ini. Bayangkan berapa kerugian nelayan kami. Kebijakan Bu Susi melarang kapal tidak bisa melaut semua.

Apakah Bu Susi mikir? Ya Allah, Bu Susi. Bukalah mata hati Bu Susi sekarang. Inilah bukti kapal pada kebakaran, Bu Susi. Apakah Susi mikir? Ya Allah gusti. Bu Susi, lihat, bukalah mata hati akibat pelarangan, Bu Susi. Nelayan tidak bisa melaut.

Seperti ini keadaan bila ada musibah satu kapal akan terbakar semua. Bayangkan. karena peraturan Bu Susi ini bayak yang terdampak. Makanya bisa gak bisa kerja semua ini. nelayan mau di kemanakan, Bu Susi.

Inilah bukti rekaman kami, Bu Susi. Bu Susi yang tercinta. Tolonglah Permen Permen Bu Susi dicabut semua. Mulai kapal freezer, kapal cantrang, mulai perizinan yang sangat sulit saat ini, Bu Susi. Tidak memikirkan rakyat sama sekali. Banyak kerugian berapa kapal yang terbakar, Bu Susi. Inilah Bu Susi sebentar  lagi mau meremen (merembet), Bu Susi.

 

Editor : Akrom Hazami

Menguak Hubungan Pati dan Majapahit

Kompleks Taman Pendapa Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati disebut-sebut punya hubungan “darah” dengan Kerajaan Majapahit. Hal itu diungkapkan sejumlah pegiat sejarah yang tergabung dalam Tim Rekonstruksi Sejarah Pati, Senin (1/5/2017).

Susilo Tomo mengungkapkan, ada istilah Ken Satpada yang merujuk pada seorang putri bangsawan Majapahit tercatat dalam Suluk Wujil karya Sunan Bonang. Sementara di Serat Walisono menyebutkan adanya Menak Sembunyi dengan sebutan Satmuda.

Sunan Giri sendiri disebut Prabu Satmata. “Ken Satpada yang dimaksud dalam Suluk Wujil itu siapa? Ken itu perempuan atau nyai. Kalau ada nyai, pasti ada Ki. Ada Ken Satpada pasti ada Satpada,” ucap Susilo.

Merujuk pada sebutan Ainul Yaqin pada Sunan Giri, Susilo mengaitkan dengan Mohammad Nurul Yaqin pada Sunan Ngerang. Ki Ageng Ngerang disebut punya keterkaitan dengan Dinasti Kedaton Wetan Majapahit atau Blambangan.

“Prabu Menak Sembuyu (Satmuda), Raja Kedaton Wetan Majapahit. Trah Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk, pewaris sah dari Wangsa Girinata atau Wangsa Rajasa, dinasti raja-raja Singasari dan Majapahit,” tutur Susilo.

Satpada, suami Ken Satpada yang merupakan Ki Ageng Ngerang yang bernama Mohammad Nurul Yaqin inilah yang menurunkan para penguasa di Pati. Mereka adalah Abdullah Nurul Yaqin, Ali Nurul Yaqin (Sunan Pati), Umar Nurul Yaqin (Ki Penjawi), dan Siddieq Nurul Yaqin (Wasis Jayakusuma).

“Nurul Yaqin bersaudara dengan Ainul Yaqin. Keduanya sama-sama Menak Sembuyu, dalam Serat Walisana disebut Satmuda. Artinya, Ki Ageng Ngerang sebagai moyang para penguasa di Pati adalah trah raja-raja Singasari dan Majapahit dari Wangsa Girinata atau Rajasa, jalur Blambangan,” imbuhnya.

Hal itu ditegaskan Sugiono. Penguasa Pati merupakan persilangan dari trah Ngerang dan Bralit. Bralit diambil dari bray dan alit. Sebutan bray itu merujuk pada Majapahit dari Ranawijaya.

Pati mengalami masa keemasan pada masa kekuasaan Wasis Jayakusuma. Dengan senopati agungnya, Raden Sukmayana yang makamnya diduga di Dukuh Siman, Desa Tambahsari, Kecamatan Pati, Pati melebarkan kekuasaan hingga menaklukkan Madiun dan melepaskan diri dari Pajang yang dipimpin Joko Tingkir.

“Kami sudah menelusuri jejak Makam Senopati Agung Pati, Raden Sukmoyono di Dukuh Siman. Penduduk setempat mengenalnya dengan sebutan Mbah Soko. Sejarah ini tidak banyak dijumpai dalam literasi teks mainstream yang selama ini dipercaya masyarakat,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Alun-alun Pati Dipercantik Jelang Penilaian Adipura

Seorang pekerja tengah mengecat trotoar Alun-alun Pati, Jumat (24/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pati selalu mendapatkan penghargaan bergengsi di bidang lingkungan setiap tahunnya. Bahkan, Pati sempat menerima Adipura Kencana sebelum meraih Adipura Buana yang diterima Bupati Pati Haryanto di Istana Sri Indrapura, Siak, Riau pada 2016 lalu.

Namun, prestasi Pati yang langganan mendapatkan penghargaan Adipura tidak membuat Pemkab Pati cepat puas. Setiap tahunnya, pemkab selalu menyiapkan dan melakukan pembenahan agar kembali menerima Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Salah satu yang dibenahi, antara lain kawasan Alun-alun Pati. Wajah alun-alun dipercantik dengan melakukan pengecatan di sejumlah titik. Merah, kuning dan hijau masih menjadi kombinasi warna andalan untuk mempercantik Alun-alun Pati.

Dari pantauan MuriaNewsCom, Jumat (24/3/2014), sejumlah pekerja terlihat melakukan pengecatan di berbagai titik trotoar kawasan Alun-alun Pati. “Untuk warnanya, masih mempertahankan merah, kuning dan hijau. Soal motif, kami serahkan pekerja yang sudah lama bergelut di bidangnya,” ungkap Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) Pati Noor Azid.

Pengecatan sendiri sudah dilakukan sejak dua minggu yang lalu. Pengecatan dianggap perlu, karena cat yang lama sudah lusuh sehingga perlu mendapatkan pembaruan. Tak hanya kawasan alun-alun, pengecatan juga dilakukan di berbagai titik di wilayah Pati Kota.

Selain untuk memenuhi standar penilaian Adipura, pengecatan juga diharapkan bisa mempercantik pemandangan Pati Kota. “Bila paduan warna catnya tepat dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan, kota akan menjadi bersih dan indah,” tuturnya.

Sementara itu, Nurcahyo, pemegang desain tata ruang pengecatan trotoar mengaku akan membuat motif yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Motif yang berbeda diharapkan bisa memberikan nuansa yang baru dan lebih segar sehingga tidak monoton.

Editor : Kholistiono

Rumah Gebyok di Mojoluhur Pati Terbakar

Petugas pemadam kebakaran tengah memadamkan api di rumah milik Suwikyo, warga Mojoluhur, Jaken, Pati, Rabu (14/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas pemadam kebakaran tengah memadamkan api di rumah milik Suwiknyo, warga Mojoluhur, Jaken, Pati, Rabu (14/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah rumah gebyok milik Suwiknyo (55), warga Desa Mojoluhur RT 8 RW 1, Kecamatan Jaken, Pati, terbakar, Rabu (14/12/2016) sekitar pukul 14.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam tragedi tersebut. Namun, kerugian material akibat kebakaran ditaksir mencapai Rp 350 juta, karena rumah bagian depan dan belakang lengkap dengan isinya ikut terbakar.

Dwi Santoso (17), salah satu saksi mengatakan, asap hitam keluar dari rumah bagian belakang. Dia berlari menuju lokasi untuk mematikan sekring listrik dan mencoba menyelamatkan barang berharga.

Namun, api telah menjalar cepat dan melalap bagian atap rumah hingga terdengar suara ledakan yang berasal dari dalam rumah. “Setengah jam kemudian, ada mobil tangki pengisian air minum melintas. Warga menghentikan mobil dan meminta tolong supaya membantu memadamkan kebakaran,” ujar Dwi.

Diduga, kebakaran terjadi akibat korsleting listrik. Percikan api mengenai bangunan yang terbuat dari kayu itu,  hingga terbakar dan meluas. Selang beberapa lama, tiga unit mobil pemadam kebakaran Pemkab Pati tiba di lokasi.

“Berdasarkan keterangan dari korban, rumah ditinggal dalam kondisi hanya menghidupkan lemari es. Semua peralatan elektronik lainnya tidak dalam keadaan hidup. Berhubung rumah terbuat dari kayu, api menjadi cepat menjalar hingga meludeskan bangunan rumah,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo saat dikonfirmasi MuriaNewsCom.

Saat terjadi kebakaran, penghuni tidak berada di rumah sehingga tidak ada antisipasi sebelumnya. Pihaknya mengimbau kepada warga untuk berhati-hati dan waspada terhadap instalasi listrik di rumah, terutama rumah kayu yang mudah terbakar. Pasalnya, korsleting menjadi salah satu penyebab kebakaran yang sering terjadi di Pati.

Editor : Akrom Hazami

 

Foodo, Aplikasi Karya Gadis Cantik Asal Sukolilo Pati Ini Bikin Facebook dan Google Kesengsem

Nur Sitha Afrilia, asal Dukuh Lebakwetan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati. (Dok. Pribadi)

Nur Sitha Afrilia, asal Dukuh Lebakwetan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati. (Dok. Pribadi)

MuriaNewsCom, Pati – Meski berasal dari desa, bukan berarti hal tersebut membuat gadis asal Dukuh Lebakwetan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati Ini harus minder untuk meraih prestasi yang gemilang.

Justru, hal itu menjadikannya lebih bersemangat dan termotivasi untuk bisa bersaing. Bukan hanya di tataran lokal, maupun nasional, tetapi di tataran internasional.

Adalah Nur Sitha Afrilia. Gadis berusia 20 tahun ini mampu membuktikan diri, bahwa meski berasal dari desa ia bisa berkiprah di dunia internasional dan mampu meraih prestasi yang membanggakan.

Mahasiswi semester 5 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini, bahkan mampu membuat dunia internasional tercengang melalui temuannya. Ia mampu menunjukkan kapabilitasnya yang cemerlang saat menjadi duta dari Indonesia di ajang internasional.

Yang terbaru, ia mampu meraih predikat Best Inovation dalam Asia Pasific Future Leader yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, 23-27 November 2016 lalu. Ia berhasil mengungguli wakil dari Negara-negara lain, melalui konsepnya yang dinilai sangat inovatif.

Dalam ajang Asia Pasific Future Leader itu Sitha berpartner dengan Ardian dari Universitas Jember, mengusung konsep aplikasi Android bernama Foodo. Nama Foodo ini merupakan singkatan dari food donation (berbagi makanan). Konsep aplikasi Foodo inilah yang membuat para juri tercengang.

Bahkan konsep aplikasi ini membuat dua perusahaan internet raksasa yakni Google dan Facebook kepincut untuk membeli konsepnya. “Dalam even itu kan jurinya ada perwakilan dari Google dan Facebook. Dan baru dua hari dua perusahaan ini menawari untuk membeli konsep aplikasi Foodo,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (6/12/2016).

Meski dilirik oleh Google dan Facebook, Sitha mengaku belum rela melepas konsepnya. Ia bersama rekannya Ardian menginginkan jika aplikasi itu menjadi milik Indonesia, dan dikembangkan untuk kemaslahatan masyarakat. Karena menurut dia, aplikasi Foodo itu merupakan aplikasi saling berbagi.

“Konsep dari aplikasi Foodo itu untuk berbagi makanan kepada sesama yang membutuhkan. Konsepnya adalah kerja sama dengan toko modern untuk menyumbangkan bahan makanan yang mendekati masa kedaluwarsa untuk dibagikan ke yang membutuhkan. Daripada makanan itu terbuang sia-sia,” ujarnya.

Dalam aplikasi itu menurut dia, masyarakat umum juga bisa mendonasikan makananya melalui aplikasi Android. Yakni ketika masyarakat masuk ke dalam aplikasi dan mendonasikan, nanti sistem akan langsung memberitahu ke relawan untuk mengambil makanan yang didonasikan.

“Jadi konsepnya hampir sama dengan ojek online itu. Ini yang membuat juri memutuskan kelompok kami yang terbaik. Jurinya itu ada perwakilan dari Google dan Facebook,” pungkasnya.

Baca juga : Sitha, Alumni SMAN 1 Kayen yang Sukses Raih Best Speaker Pada Ajang Amity Youth Festival di India

Editor : Kholistiono

Warga Desa Ngawen Pati Tewas Tersengat Kawat Listrik Jebakan Tikus

Petugas mengidentifikasi jenazah korban yang tersengat kawat listrik di sawahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas mengidentifikasi jenazah korban yang tersengat kawat listrik di sawahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Nasib sial menimpa Sakiman (54), warga Desa Ngawen RT 2 RW 2, Kecamatan Margorejo, Pati. Pria paruh baya ini ditemukan tewas, Minggu (16/10/2016), lantaran tersengat listrik yang digunakan sebagai jebakan tikus.

Kejadian bermula, ketika Sakiman yang setiap harinya berprofesi sebagai petani tengah mengelilingi sawahnya yang berpagar kawat listrik untuk membunuh hama tikus. Namun, Sakiman justru secara tidak sengaja menyentuh kawat yang teraliri listrik.

Sontak, kawat dengan tegangan arus listrik tinggi tersebut langsung menyengat korban hingga merenggut nyawanya. Saat itu, istri dan anak korban mencarinya karena korban belum pulang hingga malam.

Ketika sampai di area persawahan, keduanya terkejut bukan kepalang karena melihat Sakiman dalam keadaan kaku, gosong dan sudah tidak bernyawa. “Bapak berangkat ke sawah pada jam 15.00 WIB. Hingga pukul 19.00 WIB, bapak belum pulang. Padahal, sore sebelum magrib biasanya sudah pulang. Saya dan ibu langsung mencari bapak ke sawah. Kami temukan bapak sudah tidak bernyawa,” ungkap Aris Siswanto, anak korban, Senin (17/10/2016).

Saat ditemukan, posisi korban dalam keadaan telentang dengan posisi tangan kanan menempel pada kawat listrik. Saat proses evakuasi, keluarga mematikan arus listrik yang mengaliri kawat.

Kapolsek Margorejo AKP Eko Pujiyono membenarkan adanya kejadian tersebut. Setelah mendapatkan laporan warga, pihaknya bersama anggota langsung menuju tempat kejadian perkara (TKP).

Setelah dilakukan pemeriksaan visum luar pada jenazah korban, terdapat luka bakar, yaitu pada bagian jari dan lengan kanan gosong dengan luka menganga sepanjang 12 cm.

Sebelumnya, Muspika Margorejo sudah mengimbau warga untuk tidak menggunakan jebakan tikus dengan pagar yang terbuat dari kawat listrik. Pasalnya, kawat listrik telah memakan banyak korban, baik pemilik sawah maupun warga yang tidak sengaja menyentuh.

“Kejadian ini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, ada beberapa kasus yang sama dan korbannya meninggal. Kami mengimbau kepada semua warga untuk tidak menggunakan kawat listrik untuk membasmi tikus,” imbau AKP Eko.

Editor : Kholistiono

Rumah Warga Tegalombo Pati Roboh Termakan Usia, Prajurit TNI Ikut Bantu Bedah Rumah

Prajurit TNI bersama dengan masyarakat ikut mendirikan rumah Sutrimah, warga Desa Tegalombo, Dukuhseti yang roboh karena termakan usia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Prajurit TNI bersama dengan masyarakat ikut mendirikan rumah Sutrimah, warga Desa Tegalombo, Dukuhseti yang roboh karena termakan usia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah prajurut TNI dari Koramil 10/Dukuhseti bersama dengan masyarakat ikut membantu membangun rumah Sutrimah (57), warga Dukuh Cengkihan RT 10 RW 2, Desa Tegalombo, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Sabtu (15/10/2016).

Rumah Sutrimah diketahui tidak layak huni, sehingga dibongkar. Masyarakat yang dibantu anggota TNI kemudian membangun rumah Sutrimah menjadi layak huni. Dana pembangunan rumah diambil dari anggaran pemerintah desa dan gotong royong warga setempat.

“Rumah ibu Sutrimah roboh, karena termakan usia. Pemdes dan warga punya inisiatif untuk membantu membangun rumah untuk Sutrimah, seorang janda yang kurang mampu. Kami kemudian ikut bersama-sama warga, gotong royong membangun rumah ibu Sutrimah,” ujar Babinsa Tegalombo Kopka Jahari.

Sebanyak 25 orang warga dibantu delapan anggota TNI beramai-ramai merehap dan membangun rumah Sutrimah. Sutrimah berterima kasih dan mengucapkan syukur, karena sudah dibantu memperbaiki rumah sebagai tempat tinggal satu-satunya.

Sementara itu, Danramil Dukuhseti Kapten Kav Suyatno memberikan apresiasi kepada anggotanya yang berjibaku bersama dengan masyarakat membantu membangun rumah warga kurang mampu. Hal itu diakui sebagai upaya prajurit TNI untuk manunggal, menyatu dengan rakyat.

“Hanya bersama dengan rakyat, TNI menjadi kuat. Keikutsertaan prajurit TNI dalam mendirikan rumah menjadi bagian dari upaya kami untuk manunggal dengan rakyat. Apalagi, rumah ibu Sutrimah roboh karena termakan usia sehingga benar-benar perlu bantuan,” tandas Suyatno.

Editor : Kholistiono

 

Tradisi Gugur Gunung di Desa Slungkep Pati Masih Lestari

Warga Desa Slungkep melakukan gugur gunung mengambil batu untuk dijadikan sebagai talut jembatan darurat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga Desa Slungkep melakukan gugur gunung mengambil batu untuk dijadikan sebagai talut jembatan darurat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pembangunan jembatan darurat dari bambu yang menghubungkan Desa Sumbersari, Slungkep, dan Jimbaran, Kecamatan Kayen adalah satu di antara tradisi gugur gunung yang masih lestari di daerah tersebut.

Gugur gunung merupakan sebuah konsep sosial untuk kerja bersama secara swadaya, tanpa dibayar untuk kepentingan masyarakat luas. Konsep ini dikenal juga dengan istilah gotong royong.

Namun, warga Slungkep lebih akrab dengan istilah gugur gunung. Konsep gugur gunung di Slungkep juga menjadi cara bagi tetua untuk mengenalkannya kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

“Saat ini, banyak anak yang tidak mengenal gotong royong atau gugur gunung. Zaman sekarang juga berjalan selalu mamakai uang. Padahal, gugur gunung punya banyak filosofi yang harus dipupuk dan dilestarikan. Gugur gunung adalah konsep sosial warisan leluhur untuk mengikat semangat emosional supaya tidak terpecah belah, wujud silaturahmi dan kebersamaan,” kata Krisno, tokoh Desa Slungkep, Kamis (06/10/2016).

Beragam tradisi gugur gunung di desanya, antara lain membangun rumah bersama-sama tanpa dibayar, pembersihan parit, dan orang punya kerja. Di sana, setiap orang membangun rumah, warga setempat membantunya sampai menaikkan genteng untuk atap rumah.

Beda halnya di kawasan perkotaan, pembangunan rumah selalu mempekerjakan kuli bangunan atau pemborong. Tradisi kebersamaan yang masih hidup di Desa Slungkep itulah yang akan mereka ajarkan kepada anak-anak generasi penerus bangsa.

Editor : Kholistiono

Tersengat Listrik, Seorang Kakek di Pati Tewas di Atas Pohon

Petugas Polsek Gembong tengah mengevakuasi korban yang tewas di atas pohon, karena tersengat arus listrik, Rabu (14/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas Polsek Gembong tengah mengevakuasi korban yang tewas di atas pohon, karena tersengat arus listrik, Rabu (14/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang kakek berusia 80 tahun, Marto Setu yang merupakan warga Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, tewas di atas pohon, Rabu (14/09/2016). Marto meninggal dunia, lantaran tersengat arus listrik.

Wagiman, warga setempat menuturkan, Marto pagi-pagi sekitar pukul 06.45 WIB sedang memotong ranting pohon untuk pakan ternak yang berada di depan rumahnya. Marto memanjat pohon hingga ketinggian sekitar empat meter.

Namun, Marto tiba-tiba tergeletak di atas cabang pohon karena tersengat arus listrik yang berada di sekitar pohon. “Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 06.45 WIB, sampai kemudian warga lapor polisi,” ucap Wagiman.

Dari hasil pemeriksaan, mulut korban mengalami lecet pada bagian bibir, tangan kiri terdapat luka bakar pada bagian empat jari dan telapak tangan, kaki kanan terdapat luka bakar disertai luka robek pada telapak kaki sepanjang 4 cm. Luka bakar juga ditemukan di kaki kiri pada jari kedua dan ketiga. Sementara itu, anggota badan lainnya normal.

Kapolsek Gembong AKP Sugiyanto mengatakan, korban meninggal dunia setelah tersengat arus listrik dengan tegangan tinggi pada jaringan listrik di sekitar pohon. Dia memastikan bila kejadian tersebut merupakan kecelakaan murni.

Pihak keluarga sendiri sudah menerima kematian korban. Karena itu, setelah diserahkan kepada keluarga, jenazah korban langsung dimandikan dan dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat.

Sugiyanto mengimbau kepada warga untuk berhati-hati ketika memanjat pohon. Selain faktor keamanan, warga harus memperhatikan jaringan listrik yang berada di sekitarnya. “Bila ada jaringan listrik yang berada di sekitar pohon, sebaiknya hindari memanjat pohon,” imbaunya.

Editor : Kholistiono

4 Kerawanan Lebaran di Pati Mengancam Warga

rawan 1 e

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo mengecek sepeda motor hasil curian. Jelang Lebaran, warga diimbau untuk waspada kejahatan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Polres Pati merilis, ada empat potensi kerawanan pada Lebaran 2016 di Kabupaten Pati. Kerawanan tersebut, antara lain keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas), gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), transportasi umum, serta ketersediaan sembako dan bahan bakar minyak (BBM).

“Kerawanan kamseltibcarlantas meliputi kemacetan, pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas, dan pemudik sepeda motor. Untuk kerawanan transportasi, antara lain banyaknya calo atau makelar, alat transportasi umum yang tidak laik jalan,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Senin (27/6/2016).

Pada kerawanan ketersediaan sembako dan BBM, yang dikhawatirkan adalah peredaran makanan kadaluarsa, distribusi sembako terhambat, dan ketersediaan BBM yang tidak mencukupi.

Sementara itu, kerawanan gangguan kamtibmas, di antaranya tawuran antarkampung, pencurian di rumah yang ditinggal pemiliknya, uang palsu, copet dengan berbagai modus termasuk gendam atau hipnotis, balap liar, pencurian umum, begal, dan pencurian kendaraan bermotor.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk waspada dan selalu berhati-hati pada empat potensi kerawanan tersebut, terutama aspek gangguan kamtibmas. “Untuk mengantisipasi itu semua, kami lakukan Operasi Ramadniya Candi 2016. Namun, kami juga mengimbau kepada warga untuk selalu berhati-hati,” imbau Sundoyo.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Graha Dewata Resto Juwana Sediakan Paket Ramadan dan Lebaran

graha dewata 2 e

Menu paket Ramadan Graha Dewata Restaurant Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Resto Graha Dewata Hotel Juwana saat ini tengah menyiapkan paket Ramadan dan Lebaran untuk para tamu yang menginap maupun pemudik yang melewati jalur utama pantura.

Ada tiga paket yang ditawarkan, yakni paket pertama meliputi nasi, ayam geprek dan soft drink, termasuk takjil. Paket kedua, meliputi takjil, nasi goreng Dewata, dan soft frink.

Paket tiga, antara lain takjil, nasi penyet, dan soft drink. “Ketiga paket itu sengaja kami siapkan untuk pemudik yang ingin berbuka, termasuk tamu saat Lebaran nanti,” kata Manajer Operasional Graha Dewata Hotel, Indra Pranata Darma, Sabtu (25/6/2016).

Selain paket Ramadan dan Lebaran, Resto Graha Dewata saat ini mengutamakan tempat istirahat yang nyaman, termasuk menyediakan fasilitas gazebo yang bisa dinikmati pemudik. Fasilitas itu cocok bila pemudik yang melintasi jalur pantura ingin istirahat sembari menunggu buka puasa.

“Paket itu bisa dinikmati cuma Rp 15 ribu. Untuk kakap asam manis bisa dinikmati hanya dengan Rp 40 ribu per pax setiap Senin-Sabtu pukul 17.00 WIB hingga 21.00 WIB. Dengan harga yang sama, kami utamakan servis dan pelayanan, keramahan, kenyamanan dan request dari tamu,” tambah Indra.

Editor : Akrom Hazami

 

Guru SD di Pati Belajar Matematika Alternatif

Fahrur HS, narasumber Matematika Dahsyat Indonesia tengah mengajarkan motode berhitung matematika kepada ratusan guru SD di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Fahrur HS, narasumber Matematika Dahsyat Indonesia tengah mengajarkan motode berhitung matematika kepada ratusan guru SD di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – LSM Gapura Indonesia bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pati menggelar workshop Matematika Dahsyat Indonesia di Gedung PGRI Pati, Rabu (22/6/2016).

Kegiatan itu dihadiri sekitar 700 guru sekolah dasar (SD) dari berbagai daerah di Kabupaten Pati. Mereka dilatih bagaimana menghitung matematika dengan cepat, tepat dan menyenangkan.

Dengan motode hitung matematika yang tak biasa, para guru diharapkan bisa mengajarkan matematika kepada muridnya dengan mudah dan menyenangkan. Dengan demikian, pelajaran matematika bukan menjadi momok yang menakutkan bagi murid.

Sebaliknya, murid diharapkan bisa menerima pelajaran matematika dengan mudah, senang, dan tanpa tekanan. “Gapura Indonesia punya tugas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kami ingin guru SD punya bekal untuk mengajarkan pelajaran matematika kepada anak supaya tidak sulit dan menakutkan,” ujar Ketua Gapura Indonesia, Utuh Nugroho Trianggoro kepada MuriaNewsCom.

Dikatakan, matematika selama ini menjadi salah satu pelajaran yang dianggap sulit dan menakutkan. Hal itu juga dipengaruhi keterampilan guru dalam melakukan transfer ilmu kepada muridnya.

Karena itu, ratusan guru SD tersebut bukan hanya diajarkan metode menghitung matematika yang cepat, sederhana dan menyenangkan, tetapi juga keterampilan mengajar yang tepat kepada anak. Hasil dari workshop diharapkan bisa dijarkan kepada murid-muridnya di sekolah.

Editor : Akrom Hazami

Manasik Calon Haji di Pati Dilakukan Setelah Lebaran

manasik e

Seorang jamaah haji bersiap berangkat ke Tanah Suci tahun lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bimbingan manasik haji di Pati rencananya akan dilakukan per kecamatan. Hal itu dilakukan, setelah adanya pelunasan dari calon jamaah haji.

“Nanti setelah pelunasan, bimbingan manasik akan segera dilakukan sebelum berangkat ke Tanah Suci. Pelunasan tahap pertama sampai 10 Juni, sedangkan pelunasan tahap kedua akan dimulai 20 Juni hingga 30 Juni,” kata Kepala Kemenag Pati Ahmad Mudzakir, Senin (6/6/2016).

Dengan tenggat waktu pelunasan itu, calon haji diharapkan bisa segera mengikuti praktik manasik setelah Lebaran. Dalam manasik tersebut, peserta calon haji akan mengikuti serangkaian peragaan ibadah haji sesuai dengan rukun-rukun yang berlaku.

“Pelaksanaan manasik kita pastikan akan dilakukan setelah Lebaran, mengingat kloter pertama akan berangkat pada 8 Agustus. Biar tidak terlalu jauh, praktik manasik rencananya akan dilakukan di masing-masing kecamatan,” tuturnya.

Ia menambahkan, proses pendaftaran saat ini berubah per April 2016 lalu. Dulu, peserta harus buka rekening ke bank, periksa kesehatan ke Kemenag, dan kembali ke bank lagi untuk mendapatkan kursinya. Sekarang, peserta cukup dari bank langsung ke Kemenag.

Editor : Akrom Hazami

 

Angling Darma Singgah di Jimbaran Pati Nyamar Burung Gagak

Chelsi bertutur tentang kisah Angling Darma dengan mengambil latar di Makam Sibatang, Jimbaran, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Chelsi bertutur tentang kisah Angling Darma dengan mengambil latar di Makam Sibatang, Jimbaran, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Pati, diyakni warga sebagai bekas peninggalan Prabu Angling Darma, kendati belum ditemukan bukti fisik yang menguatkan dugaan tersebut. Namun, warga sudah sangat yakin bila Angling Darma hidup di sana pada zaman jauh sebelum Majapahit berdiri.

Krisno, Guru SD Slungkep 02 Kayen kepada MuriaNewsCom, Sabtu (28/5/2016) mengatakan, ada sejumlah peninggalan berupa tutur yang bisa menjadi salah satu rujukan. Salah satunya, Gua Pancur yang pernah dijadikan tiga dara peri raksasa untuk mandi selepas pesta makan daging manusia.

“Angling Darma mengembara dan bertemua tiga orang yang cantik, yaitu Widata, Widati, dan Widaningsih yang dijadikan istri. Namun, ada keanehan dari perilaku ketiganya, yaitu selalu keluar pada tengah malam,” ujar Krisno.

Setelah sukma Angling Darma mengembara menjadi burung gagak, Sang Prabu melihat ketiganya tengah berpesta pora makan daging manusia di sebuah tempat yang saat ini menjadi Makam Sibatang, Jimbaran, Kayen. Tempat itulah yang dijadikan tempat mengambil seting gambar “cerita tutur” tentang peninggalan sejarah Angling Darma.

Chelsi Aprilia Putri Cahyati, siswi kelas 5 SDN Slungkep 02 Kayen, mengaku, tak sulit untuk menghapal cerita rakyat tentang Angling Darma yang diyakini pernah ada di kawasan Pati selatan. Sebab, tutur itu masih melekat di hati warga sehingga mudah dihapalkan.

“Saya bertutur dari kisah Dewi Setyowati yang melakukan pati obong karena tidak diberi ilmu aji geneng untuk berbicara dengan hewan. Angling Darma akhirnya mengembara ke belantara Jawa, karena tidak ikut pati obong hingga bertemu dengan tiga dara peri raksasa yang suka makan daging manusia di Makam Sibatang, Jimbaran, Kayen,” tutur Chelsi.

Editor : Akrom Hazami

 

Calon Penonton Konser Iwan Fals di Pati, Perhatikan Syarat Nonton Ini 

Ketua Panitia Konser Iwan Fals, Utuh Nugroho Trianggoro (kiri) menjelaskan aturan mengikuti konser Iwan Fals di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua Panitia Konser Iwan Fals, Utuh Nugroho Trianggoro (kiri) menjelaskan aturan mengikuti konser Iwan Fals di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Manajemen Iwan Fals memberikan syarat yang cukup ketat untuk peserta yang akan menghadiri konser Iwan Fals bertema “Untuk Sesama Untuk Bumi” di Stadion Joyokusumo Pati, Sabtu (28/5/2016) mendatang.
Selain wajib membawa tiket seharga Rp 75 ribu per orang, penonton tidak boleh membawa senjata tajam, kamera DSLR, ikat pinggang, narkoba, minuman keras, bendera, kayu, dan botol air mineral. Bila ada yang membawa botol air mineral, botolnya akan ditukar dengan plastik.

“Itu sudah menjadi aturan dari manajemen Iwan Fals. Penonton akan diseleksi di lapangan parkir screening. Kedua, mereka discreening di pintu masuk atau penukaran tiket. Penonton yang melanggar aturan tidak diperbolehkan masuk, meski membawa tiket. Aturan itu sudah ada di tiket,” ujar Ketua Panitia Konser Iwan Fals, Utuh Nugroho Trianggoro.

Terkait dengan jumlah penonton, Utuh saat ini menyediakan 30 ribu tiket. Pasalnya, kawasan Stadion Joyokusumo dihitung bisa menampung lebih 40 ribu orang. “Saat ini, kita baru mencetak 10 ribu tiket dan terjual sekitar seribu tiket. Kalau nanti tiket hampir terjual mendekati 10 ribu, kita akan cetak lagi,” katanya.

Ia mengatakan, harga tiket resmi adalah Rp 75 ribu. Bila ada yang menjual lebih dari Rp 75 ribu, itu artinya sudah jatuh di tangan calo. Tiket resmi sendiri bisa didapatkan di Sekretariat Panitia Iwan Fals di Desa Sidokerto, Kecamatan Pati Kota dan sejumlah radio.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Keluarga Korban Tuding SMK Tunas Harapan Tak Bertanggung Jawab Kasus Pemukulan Siswanya

Untitled-2

 

MuriaNewsCom, Pati – Kasus dugaan pengeroyokan terhadap dua siswa SMAN 2 Pati yang dilakukan puluhan siswa SMK Tunas Harapan menemui babak baru. Keluarga korban akhirnya mengadukan kasus itu kepada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pati, Kamis (12/5/2016).

Bambang Suprayitno, ayah Muhammad Asyrof yang menjadi korban pengeroyokan menuding SMK Tunas Harapan tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan siswanya. “Minta maaf saja tidak. Pernah wakil kepala sekolahnya minta maaf, tapi lewat telepon seluler. Itu tidak etis,” ujar Bambang.

Karena itu, Bambang meminta agar sekolah diberikan sanksi yang tegas karena mengabaikan perannya untuk mendidik siswa. Terlebih, pihak sekolah dianggap tidak punya itikad baik untuk menyelesaikan kasus tersebut.

“Saya berharap agar dua-duanya diberikan sanksi yang tegas, baik institusi sekolah maupun siswa yang melakukan pengeroyokan terhadap dua siswa SMAN 2 Pati. Hari ini saya bersama perwakilan orangtua Oka mendesak supaya polisi mengawal kasus ini hingga tuntas,” imbuhnya.

Ia menambahkan, puteranya, Muhammad Asyrof mengalami memar pada tulang belakang akibat dikeroyok siswa SMK Tunas Harapan. Sementara itu, Oka mengalami pembekakan darah.

“Saya sudah periksakan ke dr Eko Yulianto. Hasilnya, anak saya mengalami memar tulang belakang. Tindakan brutal SMK Tunas Harapan tidak bisa dibiarkan terus terjadi setiap perayaan kelulusan. Jangan ada korban lagi,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ilustrasi

 

 

Mi Daun Kelor Bikinan Warga Pati Bisa Obati Asam Urat dan Antikanker

Muryati menunjukkan menu mi daun kelor buatannya yang dijual di Pasar Pragola Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Muryati menunjukkan menu mi daun kelor buatannya yang dijual di Pasar Pragola Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tanaman kelor yang banyak dijumpai di ladang dan pekarangan rumah ternyata menyimpan sejuta manfaat untuk kesehatan tubuh. Padahal, tanaman ini biasanya hanya digunakan pakan ternak dan kayu bakar.

Potensi itu yang dimanfaatkan Muryati, warga Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong untuk membuat mi daun kelor yang kaya akan manfaat. Rasanya pun tak kalah dengan mi rebus atau goreng seperti umumnya.

Sebelum dimasak menjadi mi olahan, mi daun kelor memiliki warna hijau tua mencolok yang sangat cantik. Bau khas kelor alami juga bisa dirasakan ketika dimakan.

“Suami saya suka dengan sayur daun kelor. Tak lama mengonsumsi, asam urat yang lama dikeluhkan dan susah diobati ternyata hilang dengan sendirinya. Biar lebih bervariatif, saya memutuskan untuk membuat mi daun kelor. Kemudian, saya berpikir kenapa tidak dijual sekalian karena belum ada yang jual,” kata Muryati saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Jumat (6/5/2016).

Ia menambahkan, kelor sebetulnya sudah lama dikenal sebagai tanaman yang bisa mencegah beragam penyakit ganas. Misalnya, jantung, antikanker, dan antidiabetes.

Karena itu, mi daun olahannya diharapkan bisa meningkatkan kesehatan bagi pelanggannya. Dalam sehari, menu unik dari warung makan Mahakarya Mulya di Pasar Pragola Pati itu habis terjual sekitar 60 porsi.

“Mungkin pelanggan belum tahu. Sejumlah pelanggan ada yang sudah beberapa kali datang. Kami patok seperti harga mi pada umumnya, yaitu Rp 8 ribu per porsi dengan toping dari jamur tiram. Biasanya, toping dari suwiran ayam, tapi saya ganti jamur tiram,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Unik! Warga Pati Buat Mi Hijau dari Daun Kelor 

 

Sedekah Laut dan Bumi di Batangan Pati Meriah

Salah satu kegiatan di Batangan Pati.

Salah satu kegiatan di Batangan Pati.

 

MuriaNewsCom, Pati – Sukun Executive mensupport acara peringatan sedekah laut dan bumi, di  Pecangaan, Batangan, Pati.

Acara yang digelar sejak tanggal 3 Mei hingga 5 Mei 2016 ini merupakan wujud ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil laut dan bumi yang telah diberikan Tuhan kepada warga Desa Pecangaan, Batangan, Pati.

Semua warga desa yang mempunyai perahu ikut berpartisipasi dalam acara sedekah laut dan bumi ini. Sekitar tiga ratus perahu ikut dalam acara larung sesaji yang digelar pada Kamis (5/5/2016).

Berbagai acara menarik disuguhkan dalam peringatan yang bertujuan untuk menjalin silaturahmi antarwarga ini, di antaranya pengajian akbar, orkes dangdut, berbagai macam perlombaan, dan pagelaran ketoprak.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Wow, Kerupuk Daun Jati Buatan Warga Banyuurip Pati Diklaim Bisa Atasi Koleterol dan Anemia

Sutijah (kiri) bersama temannya, Lilik Martini menunjukkan kerupuk daun jati buatannya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sutijah (kiri) bersama temannya, Lilik Martini menunjukkan kerupuk daun jati buatannya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kerupuk daun jati buatan warga Desa Banyuurip, Kecamatan Margorejo, Pati diklaim memiliki sejumlah manfaat yag bisa memberantas sejumlah penyakit. Salah satunya, mengatasi kolesterol dan anemia, serta menurunkan tekanan darah.

Selain itu, kerupuk daun jati tersebut bisa dikatakan aman dan sehat dikonsumsi karena dibuat dari bahan alami, bebas dari penyedap rasa, pewarna, pengembang atau pengawet.

”Semuanya dibuat dari bahan alami, seperti tepung tapioka, bawang putih, ikan segar sebagai pengganti MSG, daun jati muda yang masih berwarna merah, gula dan garam,” ujar Sutijah, pembuat kerupuk daun jati kepada MuriaNewsCom, Senin (2/5/2016).

Sutijah menjelaskan, membuat kerupuk daun jati cukup mudah. Daun jati yang masih muda dipisahkan dari tulang daun, dicuci dan dicacah hingga lembut. Cacahan daun jati kemudian dicampur dengan tepung tapioka, serta bumbu-bumbu yang sudah dihaluskan seperti ikan segar, bawang putih, garam, dan gula.

”Bila semua sudah tercampur, kasih air panas dan aduk sampai rata. Setelah itu, kukus sampai matang dan masukkan kulkas sampai satu malam. Selanjutnya, potong-potong sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Jemur satu hari atau sampai benar-benar kering. Tinggal goreng,” tutur Sutijah.

Ia menambahkan, terlalu banyak daun jati membuat sensasi rasa kerupuk menjadi agak mengganggu di lidah. Karena itu, takaran daun jati dan bahan-bahan lainnya mesti pas.

Selain itu, daun jati yang digunakan diambil dari bagian pucuk yang masih sangat muda dengan warna agak kemerahan. Daun yang terlanjur tua sudah tidak bisa digunakan untuk membuat kerupuk.

Saat ini, kerupuk daun jati sudah mulai diproduksi dan akan dipasarkan di wilayah Pati, termasuk luar daerah. Pasalnya, kerupuk tersebut selama ini hanya dipasarkan di daerah Desa Banyuurip dan sekitarnya saja.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Hebat, Warga Banyuurip Pati Ini Sulap Daun Jati Jadi Kerupuk Lezat

HARI BURUH : Ternyata Seperti Inilah Buruh di Mata Pengusaha Pati

uplod jam 13 00 buruh maning (e)

Sejumlah perwakilan pengusaha di Pati saat berdialog dengan serikat buruh di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya ada 40 perusahaan di Pati yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Sementara itu, buruh yang tergabung dalam serikat buruh mencapai 22.000 orang dan 10.000 orang di antaranya tidak tercatat dalam organisasi serikat buruh.

Perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day di Bumi Mina Tani sudah disepakati untuk tidak melakukan kegiatan pengerahan massa atau demo. Sikap serikat buruh tersebut disambut baik dari pengusaha yang tergabung dalam Apindo.

M Ridwan, salah satu anggota Apindo Pati mengaku memposisikan buruh sebagai mitra kerja. Pasalnya, mereka yang bekerja untuk perkembangan dan kemajuan perusahaan.

“Buruh, termasuk serikat pekerja itu bukan musuh, tetapi mitra. Mitra untuk berembug, diskusi dan komunikasi bila ada hal yang harus dibahas terkait dengan kesejahteraan buruh yang pada akhirnya untuk perusahaan juga. Buruh bukan alat, tetapi mitra manajemen,” ujar Ridwan kepada MuriaNewsCom, Sabtu (30/4/2016).

Ia mengatakan, buruh juga harus mengetahui kondisi perusahaan di saat ekonomi nasional tengah terpuruk. Pada 2015, misalnya. Pihaknya harus melakukan efisiensi karyawan karena kondisi ekonomi nasional yang memang sulit.

Hampir semua perusahaan, kata dia, waktu itu banyak yang melakukan efisiensi karyawan, pengurangan tenaga kerja, bahkan ada yang melakukan penutupan. Karena itu, kondisi itu juga harus dipahami buruh.

“Kita memang harus saling sharing dan menghindari gesekan bila tidak terpenuhinya hak dan kewajiban. May Day itu tidak selalu identik dengan demo. Kegiatan positif seperti jalan sehat, bakti sosial, olahgara, diskusi, dan beragam kegiatan positif lainnya bisa menjadi ajang untuk memperingati May Day,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

 

HARI BURUH : Ratusan Polisi Pengendali Massa Disiagakan untuk Pengamanan di Pati

Bulog Pati Baru Serap Gabah Petani 40 Persen

uplod jam 18 serap gabah (e)

Tim Sergap Pusterad Mabes TNI AD bertemu dengan petinggi Kodim 0718/Pati membahas serapan gabah petani di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Bulog Subdivre II Pati sampai saat ini baru menyerap gabah dari petani berkisar di angka 40 persen. Padahal, Tim Serap Gabah Petani (Sergap) dari Pusterad Mabes TNI AD meminta agar Bulog meningkatkan serapan gabah kepada petani hingga 75 persen.

Kendati begitu, Bulog Subdivre II Pati dianggap sudah cukup baik ketimbang Bulog Sub di daerah lainnya yang hanya mencapai angka 33 persen saja. Penyerapan gabah dari petani dinilai penting untuk stok pangan nasional.

“Bulog Subdivre sudah cukup baik ketimbang sub di daerah lainnya yang hanya berada di angka 33 persen dalam menyerap gabah dari petani. Kalau bisa, semua gabah dari petani diserap Bulog semua. Bila belum mampu, kita targetkan bisa menyerap minimal 75 persen,” ujar Ketua Tim Sergap Pusterad Mabes TNI AD Brigjen Basuki Abdullah kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, TNI sekarang diberi mandat untuk mendampingi Bulog terkait dengan serapan gabah dari petani. Hal itu diharapkan agar stok pangan nasional bisa terpenuhi sehingga impor beras dari luar negeri dapat diantisipasi.

“Operasi Sergap akan selesai hingga akhir Mei 2016 mendatang. Dalam waktu sekitar 30 hari ke depan, Bulog harus bisa menyearap gabah dari petani minimal 75 persen. Masih perlu kerja keras agar target itu bisa tercapai untuk stok beras nasional,” ungkapnya.

Stok beras dari Bulog tersebut akan dikeluarkan bila sejumlah hal yang tidak diinginkan, seperti harga beras melonjak tajam dan bantuan bencana. “Stok beras nasional itu nantinya digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Misalnya, saat harga beras naik atau bencana yang tidak diduga yang membutuhkan stok beras,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Mabes TNI Minta Hasil Panen Gabah di Pati Diserap Bulog 75 Persen 

Desainer Busana Daur Ulang Pati Beberkan Tips Buat Baju dari Koran

uplod jam 20 cara buat gaun koran (e)

Novi Widya Ardani, model cilik yang mengenakan baju daur ulang dari koran. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sri Wahyuni, ibu pensiunan guru dari Kelurahan Kalidoro, Kecamatan Pati membeberkan tips membuat busana daur ulang dari koran. Salah satu kuncinya, mesti sabar, teliti, dan kreatif.

“Pertama, siapkan koran yang masih bagus biar tidak terkesan lusuh. Satu busana bisa menghabiskan satu hingga tiga kilogram sesuai dengan model yang dibutuhkan,” ujar Wahyuni, Selasa (26/4/2016).

Selanjutnya, koran dipotong menjadi beberapa bagian. Satu lembar hasil potongan dibuat menjadi tiga bagian, bawahnya dipotong dan dilipat-lipat seperti membuat kipas.

“Setelah itu, dilipat jadi dua bagian lagi, digunting bagian tengah pada kanan dan kiri. Potong tengahnya, ditali dan diberi perekat. Ada dua bagian yang diberi perekat. Hasilnya, seperti kipas bulat,” tuturnya.

Hal itu diulang-ulang hingga menghasilkan puluhan atau ratusan kipas-kipas kecil. Selain itu, koran dipola, dipotong dan dijahit seperti membuat baju untuk bagian dada hingga pinggang.

“Pada dasarnya butuh kreativitas. Dengan kreativitas, kita bisa membuat banyak model dan bentuk. Jadi, tidak hanya monoton satu bentuk gaun saja,” imbuhnya.

Sayangnya, baju dari koran tidak bisa bertahan lama. Terlebih, sangat susah bila dipakai pada musim penghujan. Karena itu, busana daur ulang dari koran biasanya dipakai untuk fashion dan acara perlombaan.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Percaya atau Tidak, Busana Anggun Buatan Warga Pati Ini Didesain dari Koran Bekas