Urus Sertifikat Tanah 3 Tahun Tak juga Jadi, Warga Suwaduk Pati Bingung 

Arobi, buruh tani asal Suwaduk, Wedarijaksa yang kesulitan mengurus sertifikat tanah di desanya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ngatini (62), nenek asal Desa Suwaduk, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, bingung harus mengadu, karena sertifikat tanah yang diurus perangkat desa setempat tak kunjung jadi. 

Padahal, Ngatini mengaku sudah membayarkan uang senilai Rp 8 juta kepada Mantan Kasi Pemerintahan Desa Suwaduk Fahrur Rozi yang saat ini menjabat sebagai sekretaris desa. Uang itu dititipkan ketua RT setempat, Suwoto sekitar tiga tahun yang lalu.

“Saya ini orang bodo, tidak tahu apa-apa. Maunya mengurus sertifikat tanah, karena tidak tahu kapan saya mati. Tapi sampai sekarang, sertifikat tanah belum jadi. Padahal saya sudah urus sekitar tiga tahun yang lalu,” ungkap Ngatini, Kamis (31/8/2017).

Ia menjelaskan, uang Rp 8 juta itu diperoleh dari penjualan hewan ternak sapinya. Dia berharap, tanahnya agar segera bisa dilegalkan secara hukum. Namun, dia harus pasrah menerima realitas karena sertifikat itu tak kunjung jadi.

Ngatini sendiri tidak diberikan kuitansi atau bukti pembayaran saat uang Rp 8 juta itu diserahkan Fahrur Rozi melalui ketua RT setempat. Hanya, saat itu dia ditemani puterinya, Purmiah.
Hal yang sama disampaikan Arobi, warga Suwaduk RT 1 RW 2. Dia mengaku sudah menyetorkan uang Rp 3,75 juta kepada Fahrur Rozi, tetapi sertifikat tanahnya tidak kunjung jadi.

Kesal dengan ulah perangkat desa tersebut, Arobi meminta uangnya kembali. “Sudah saya ambil Rp 3 juta, sedangkan Rp 750 ribu katanya sudah digunakan untuk biaya balik nama,” papar Arobi.

Sebelum uangnya kembali Rp 3 juta, Arobi sempat meminta belas kasihan karena uang yang digunakan untuk mengurus sertifikat tanah diambil dari hutang. Sementara Arobi merupakan pria yang sudah tua dan tidak mampu.

“Saya tanyakan, gimana pak sudah empat tahun. Apa tidak kasihan sama saya? Wong saya orang tidak mampu. Dia bilang, gimana kamu tidak sabar kok. Gimana uangnya mau dikembalikan saja? Saya jawab kembalikan saja daripada lama. Uang itu dulunya saya dapat dari hutang,” tuturnya.

Arobi juga mengaku, sejak uang itu diberikan empat tahun yang lalu, belum ada petugas yang datang untuk mengukur tanah. Kakek yang bekerja sebagai buruh tani itu berharap agar pemerintah bisa memberikan solusi terhadap masalah tersebut.

Editor : Akrom Hazami

 

Panen Padi Melimpah, Petani di Mulyoharjo Pati Disarankan Jual ke Bulog

Petani Mulyoharjo tengah memanen padi jenis Inpari 32 yang didampingi babinsa, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani di Desa Mulyoharjo, Kecamatan Pati berhasil memanen padi dengan hasil yang cukup melimpah. Per hektare, mereka rata-rata bisa menghasilkan lebih dari delapan hingga sebelas ton gabah.

Asri Wibowo, misalnya. Lahan sawah seluas 2 haktare mampu menghasilkan 16 ton. Sementara Hepy dan Mustofa bisa menghasilkan 3,8 ton gabah di lahan seluas sepertiga hektare.

Babinsa Desa Mulyoharjo Serda Herna Bakri yang mendampingi panen raya tersebut menyarankan untuk menjual gabah ke Bulog. Pasalnya, Bulog yang menjadi representasi pemerintah memiliki tugas untuk membeli hasil panen dari petani untuk kembali disalurkan kepada masyarakat.

“Kami sarankan untuk dijual ke Bulog. Dari Bulog, hasil panen petani akan kembali didistribusikan kembali kepada masyarakat. Itu menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan,” kata Serda Herna, Rabu (30/8/2017).

Di Mulyoharjo, lahan pertaniannya diakui cukup luas. Aset berupa lahan sawah yang luas dengan ditopang saluran irigasi air yang baik diharapkan bisa meningkatkan produktivitas petani, sehingga bisa menyejahterakan petani itu sendiri.

Ia juga menyarankan agar petani tidak ragu untuk terus berkoordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL), mantri tani, babinsa dan kelompok tani. Sebab, mereka saat ini mendapatkan mandat untuk melakukan pendampingan dalam program Upaya Khusus Swasembada Pangan Nasional.

Adapun jenis padi yang dipanen petani Mulyoharjo sebagian besar Inpari 32. Jenis padi tersebut diakui punya kualitas yang baik untuk stok pangan nasional, karena bisa meningkatkan produksi gabah kering panen (GPK) hingga dua kali lipat.

Editor : Ali Muntoha

Kantor BPN Pati Pun Ikut Digeledah Tim Saber Pungli, Apa Hasilnya?

Polisi yang tergabung dalam Tim Saber Pungli memeriksa dokumen di loket pelayanan Kantor BPN Pati, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Pati juga digeledah polisi bersama Tim Saber Pungli Pati, Rabu (30/8/2017). Penggeledahan dilakukan setelah adanya laporan masyarakat yang menyebut ada indikasi pungutan di sana.

“Informasi yang kami terima dari masyarakat, ada pungli di Kantor BPN Pati. Kami langsung mendatangi kantor tersebut dan melakukan penggeledahan di loket-loket pelayanan masyarakat,” kata Ketua Tim Saber Pungli Pati Kompol Sundoyo.

Dari hasil penggeledahan, polisi tidak menemukan adanya indikasi pungli. Pelayanan di BPN Pati diakui sudah berjalan sesuai dengan prosedur dan administrasi.

Tak hanya penggeledahan dokumen, polisi juga bertanya kepada sejumlah pengunjung yang sedang mengurus di BPN Pati. Mereka mengaku tidak ada pungli di sana.

Namun, Kompol Sundoyo melihat papan pengumuman prosedur pengurusan di BPN Pati tidak begitu jelas. Karena itu, ia meminta kepada Kepala BPN Pati untuk memasang agar masyarakat tahu.

Baca juga : Edaan…Makelar di Pelabuhan Juwana Ini Bahkan Punya Kantor Khusus

Menanggapi hal itu, Kepala BPN Pati Yoyok Hadimulyo Anwar akan segera melakukan evaluasi penempatan poster prosedur pengurusan di BPN Pati. “Sebetulnya sudah ada, tapi kami kesulitan mau menempel di mana, nanti akan kami benahi,” kata Yoyok.

Penggeledahan di Kantor BPN Pati sempat membuat banyak pegawai dan pengunjung kaget. Namun, pegawai mempersilakan untuk melakukan pemeriksaan, setelah Kompol Sundoyo mengenalkan diri sebagai Tim Saber Pungli.

Editor : Ali Muntoha

Kantor Pelabuhan Juwana Digeledah Tim Saber Pungli

Tim Saber Pungli mendatangi Kantor Unit UPP Kelas III Juwana untuk pemeriksaan adanya dugaan pungli, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana diperiksa Tim Saber Pungli, Rabu (30/8/2017). Semua ruangan digeledah dan diperiksa.

Ketua Tim Saber Pungli Kabupaten Pati Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo mengatakan, pemeriksaan Kantor UPP Kelas III Juwana tersebut melibatkan semua unsur, dari polisi, TNI, pemkab, propam, dan inspektorat.

“Ada laporan dari masyarakat yang menyebutkan adanya indikasi pungutan liar di sana. Laporan itu kami tindak lanjuti dengan memeriksa seluruh ruangan untuk menemukan barang bukti,” kata Kompol Sundoyo.

Belasan petugas Tim Saber Pungli yang datang, langsung masuk ke berbagai ruangan untuk memeriksa berkas-berkas. Sasaran utama yang diperiksa paling awal adalah ruang pelayanan umum.

Di ruangan itu, Tim Saber Pungli mencium adanya prosedur penerbitan sertifikat kelayakan pada Kantor UPP Juwana yang tidak transparan. Hanya saja, pihaknya tidak menemukan adanya pelanggaran administrasi yang menunjukkan adanya pungli.

“Soal transparansi prosedur pelayanan masyarakat masih kurang. Tapi secara keseluruhan sudah sesuai dengan ketentuan administratif,” tambahnya.

Dia meminta kepada pegawai Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana untuk melengkapi tata cara prosedur pelayanan sesuai dengan aturan.

Dengan demikian, masyarakat bisa paham dengan mudah prosedur pengurusan di UPP Juwana.

Editor : Ali Muntoha

Karnaval di Pati Mengular 2 Kilometer, Jalanan Macet Total


Suasana karnaval pembangunan di Jalan Kolonel Sunandar Pati, Selasa (29/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Karnaval pembangunan bertema “Noto Projo Mbangun Deso” yang dihelat di sepanjang jalan di kawasan Pati Kota, Selasa (29/2/2017) menyebabkan macet total. Hal itu disebabkan panjangnya karnaval yang mengular hingga hampir menyentuh 2 kilometer.

Pantauan MuriaNewsCom di kawasan Jalan Kolonel Sunandar Pati, kendaraan roda empat yang terlanjur terjebak jalur karnaval terpaksa berhenti hampir sejam. Pasalnya, ribuan warga yang membanjiri karnaval masuk hingga ke badan jalan.

Mereka membentuk barisan di sepanjang jalan, melambaikan tangan kepada peserta karnaval, hingga mengabadikannya menggunakan telepon seluler. Kegembiraan warga meluap di sepanjang jalur yang dilewati karnaval.

Dyah Cahaya Paramudita (17), pelajar asal Winong Kidul mengaku sengaja menunggu karnaval di kawasan Pasar Puri sejak pukul 14.00 WIB. Dia senang karnaval tiba di Jalan Kolonel Sunandar sekitar pukul 15.00 WIB, setelah mulai berjalan dari Alun-alun sekitar pukul 13.30 WIB. 

“Meriah sekali ya suasananya. Saya datang bersama rombongan teman-teman SMK Tunas Harapan. Ini sudah sangat meriah, karnavalnya nggak selesai-selesai saking panjangnya,” kata Dyah.

Baca jugaRibuan Warga Pati Padati Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso

Untuk menghabiskan rombongan karnaval di satu jalan, waktu yang dibutuhkan hampir dua jam. Sebab, ada sekitar 177 kontingen yang berpartisipasi dalam karnaval.

Mukharom, pengendara roda empat asal Wedarijaksa mengaku hampir dua jam terjebak di kawasan Jalan Kolonel Sunandar. Sebelumnya, dia mengaku sudah mengetahui bila jalur tersebut akan digunakan sebagai jalur karnaval.

Namun, dia berpikir tidak berpapasan dengan rombongan karnaval. Sayangnya, setelah sampai di depan Pasar Puri, rombongan datang dan dia terpaksa mematikan kendaraannya hingga rombongan karnaval selesai.

Editor : Akrom Hazami

 

Anggota DPR RI Minta Pemerintah Batalkan Pajak Gula

Aksi tolak pajak gula yang dilakukan puluhan petani tebu di Pati, baru-baru ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo meminta pemerintah membatalkan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen untuk komoditas gula. Hal itu disampaikan Firman, di Pati, Senin (28/8/2017).

“Pemerintah itu mestinya beri insentif kepada petani dulu. Kalau mereka sudah dapat insentif, berkembang dan maju, mungkin bisa dikenakan pajak. Tapi petani saat ini tengah berjuang dan belum siap dikenakan pajak,” ujar Firman.

Insentif yang dimaksud Firman, salah satunya berupa pemberdayaan, fasilitasi alat pertanian, pemberian bibit, serta berbagai insentif yang bisa meningkatkan produksi pertanian dan kesejahteraan petani lainnya. Selama ini, insentif yang diberikan pemerintah sebatas pada subsidi pupuk.

Itu pun petani kurang bisa menikmati subsidi pupuk dengan maksimal, lantaran masih banyak distributor yang bermain. “Kalau subsidi pupuk itu yang diuntungkan bukan petani, tapi distributor,” kata Firman.

Menurut Firman, petani merupakan pahlawan bangsa yang perlu diperjuangkan dan disejahterakan terlebih dulu. Sebab, mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Karenanya, dia meminta kepada pemerintah supaya ada pengkajian ulang atas kebijakan dalam PP Nomor 31 Tahun 2007 yang menjelaskan perkebunan komoditas gula pasir tidak masuk barang strategis.

Pasalnya, imbas dari peraturan yang menyebut gula tidak masuk barang strategis, petani dikenakan pajak sebesar 10 persen. “Saudara-saudara kita petani tebu di Pati sudah menyuarakan dengan aksi unjuk rasa. Kami akan berupaya agar peraturan itu dibatalkan,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan petani tebu di Pati menggelar aksi unjuk rasa di sepanjang Jalan Wedarijaksa-Tayu untuk menolak PP Nomor 31 Tahun 2007. Mereka menuntut agar Menteri Keuangan membebaskan gula tani dari PPN 10 persen.

Editor : Akrom Hazami

PNS Pati Manipulasi Absen Sidik Jari, Bupati  Akan Tindak Tegas  

Bupati Pati Haryanto mengancam mengindak tegas PNS di Pati yang memanipulasi mesin sidik jari. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto ancam tindak tegas pegawai negeri sipil (PNS) memanipulasi mesin absen sidik jari (fingerprint). Hal itu disampaikannya, di Pati, Senin (28/8/2017).

“Modusnya, mereka melakukan scan sidik jari, lantas memesan sejenis stempel yang identik dengan sidik jari asli. Setelah itu, pelaku menitipkan stempel sidik jari pada orang lain,” ungkap Haryanto.

Saat salah seorang PNS bolos, temannya menempelkan stempel sidik jari itu di mesin sidik jari. Mereka secara bergantian memanipulasi mesin sidik jari bila sedang tidak masuk kerja. Hal itu dilakukan, karena absensi berpengaruh pada tunjangan yang diterima PNS. Tak mau masalah itu menghambat kinerja pemerintahan, Haryanto mengancam akan menindak tegas pelaku.

“Itu namanya tidak jujur dan tidak adil pada pegawai lain yang disiplin. Mesin sidik jari dibuat agar mereka disiplin, tapi kalau diakali begini kami akan menindak tegas,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, Haryanto meminta Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Pati untuk melakukan investigasi kepada PNS yang curang tersebut. Mereka yang kedapatan memanipulasi mesin sidik jari akan mendapatkan sanksi yang tegas.

Dia berharap, semua PNS di Pati bisa semangat untuk melayani masyarakat. Pasalnya, banyak masyarakat yang ingin menjadi PNS tapi gagal karena tidak lolos.

Bila sudah menjadi PNS, sudah menjadi kewajiban untuk bekerja dengan baik di pemerintahan. Sebab, pekerjaan PNS bukan semata-mata berorientasi gaji, tetapi juga pengabdian kepada negara dan masyarakat.

Editor : Akrom Hazami

 

Ratusan Siswa SDN 1 Muktiharjo Pati Ikuti Aksi Makan Bergizi Serentak

Siswa SDN 01 Muktiharjo mengikuti program makanan B2SA yang digalakkan Dinas Ketahanan Pangan Jateng, Sabtu (26/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan siswa SDN 01 Muktiharjo Pati mengikuti aksi makan makanan bergizi secara serentak, Sabtu (26/8/2017). Kegiatan tersebut diadakan di masing-masing kelas.

Mereka nampak lahap memakan menu yang disediakan pihak sekolah bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah. Menu yang dimakan terdiri dari karbohidrat, protein, dan mineral.

Viona Bilqis (10), salah satu siswi kelas 5 mengatakan, selama ini dia suka dengan sayur-sayuran seperti yang disarankan dalam aksi makan bergizi serentak. Sementara lauk-pauk yang paling ia gemari adalah ikan.

“Saya suka sayur. Untuk lauk-pauk sukanya ikan. Ini yang kita makan lengkap, ada ikan, telur, tahu, tempe, dan sup sayuran,” kata Viona.

Suhartono, petugas dari Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah yang meninjau lokasi tersebut menuturkan, SDN 01 Muktiharjo menjadi sasaran program makan bergizi bersama, karena jumlah siswanya mencapai lebih dari 250 orang. Selain itu, sekolah tersebut berada di pinggiran kota.

“Kita sasar sekolah yang berada di pinggiran kota, karena sekolah di kota rata-rata sudah mendapatkan pemahaman soal makanan bergizi. Selain itu, SDN 01 Muktiharjo siswanya banyak,” kata Suhartono.

Di Jawa Tengah, ada sebelas sekolah plus satu pesantren di sepuluh kabupaten yang menjadi sasaran program sosialiasi makanan beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA). Pati menjadi salah satu daerah yang menjadi sasaran program.

Sementara itu, Kepala SDN 01 Muktiharjo Kusriah menuturkan, program tersebut akan dilakukan sebanyak sepuluh kali. Lima kali dilakukan pada Agustus, sedangkan lima agenda lainnya akan dilakukan pada September 2017.

“Sekarang makanan empat sehat lima sempurna sudah diganti dengan B2SA. Tidak harus dengan susu, asal ada karbohidrat, protein hewani, nabati, vitamin dan mineral itu sudah sangat cukup untuk kebutuhan gizi anak,” pungkas Kusriah.

Editor : Ali Muntoha

Mantan Intelijen Kodim Pati Ungkap Kondisi Indonesia 10 Tahun Mendatang

Kapten Inf Yahudi saat mamaparkan kondisi Indonesia sekarang dan kemungkinannya yang terjadi pada 10 tahun mendatang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Mantan Perwira Seksi (Pasi) Intel Kodim 0718/Pati yang saat ini menjabat sebagai Danramil Juwana Kapten Inf Yahudi mengungkap kondisi Indonesia pada 10 tahun mendatang. Hal itu disampaikan dalam berbagai forum kebangsaan di sejumlah daerah.

Apa yang disampaikan Kapten Inf Yahudi bukan prediksi, apalagi ramalan. Dia mengungkapkan sesuai dengan analisis intelijen yang didasarkan pada kondisi Indonesia saat ini.

“Penjajahan yang terjadi di Indonesia sekarang ini adalah proxy war, perang tanpa bentuk, tanpa pasukan. Penjajah pasang mata-mata, politik dikacaukan, ekonomi dikacaukan, berbagai aspek dibeli,” katanya.

Semua aspek dikacaukan dengan tujuan agar kondisi Indonesia tidak stabil. Negara-negara lain juga disebut menanamkan pengaruhnya untuk merebut sumber daya alam (SDA) Indonesia yang begitu melimpah.

Berbagai “ranjau” yang ditebar untuk mengacaukan Indonesia itu memiliki ragam bentuk, dari narkoba yang merusak generasi bangsa, konflik politik yang mengguncang stabilitas nasional, terorisme dan kelompok radikal, hingga isu bangkitnya komunisme.

“Indonesia adalah negara equator, negara subur. Sepuluh tahun ke depan, negara yang tidak punya alam akan berbondong-bondong ke negara-negara equator untuk merebut SDA,” terangnya.

Dari data intelijen yang disampaikan, Indonesia akan menentukan nasibnya pada 28 tahun mendatang. Dia akan menjadi negara emas dan berjaya atau negara gagal yang penuh dengan kekacauan.

Karena itu, dia meminta kepada masyarakat untuk ikut bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI, tidak mudah terprovokasi untuk memusuhi saudara sendiri. Serta mengawasi generasi emas bangsa dari budaya asing, narkoba, serta perilaku tawuran antarpelajar.

“Maka, Indonesia saat ini perlu kita perjuangkan kembali. Masalah-masalah yang timbul jangan sampai membuat NKRI terpecah. Ini menyangkut nasib dan masa depan kita bersama,” tandas Kapten Inf Yahudi.

Editor : Ali Muntoha

Kejari Pati 6 Kali ‘Ping Pong’ Berkas Kasus CIMB Niaga, Kenapa?

Korban CIMB Niaga melakukan aksi long march menjemput keadilan sepanjang 25 km pada akhir 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati sudah enam kali mengembalikan berkas kasus dugaan tindak pidana perbankan yang dilakukan oknum Bank CIMB Niaga kepada polisi. Hal itu disampaikan kuasa hukum korban, Nimerodi Gulo, Selasa (22/8/2017).

“Terakhir, Kejari Pati meminta polisi membuktikan pemalsuan sertifikat rumah tanah ganda. Yang kami tuntut adalah kejahatan perbankan karena CIMB Niaga lalai, jaksa malah meminta polisi membuktikan pemalsuan sertifikat. Ini di luar tuntutan. Ada apa dengan jaksa,” ungkap Gulo kesal.

Menurut Gulo, kasus tersebut sudah jelas karena CIMB Niaga terbukti lalai dan melanggar pasal 49 ayat 2 huruf b UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Penetapan tersangka kepada oknum CIMB Niaga juga sudah dilakukan polisi.

Bukti-bukti yang disodorkan juga dianggap sudah cukup. Seperti bukti kredit yang dicairkan dan adanya prinsip ketidakhati-hatian dari pihak perbankan. Tim kredit CIMB Niaga diduga sengaja mencairkan kredit dengan membuat surat palsu, kendati Tim Appraisal CIMB Niaga sudah mewanti-wantinya.

“Kasus ini sudah jelas, tapi jaksa sengaja mengaburkan kasus. Dari kacamata hukum, mestinya sudah P 21 (lengkap), karena unsur-unsur pidana perbankan sudah terpenuhi. Anehnya, jaksa sudah memberikan catatan kepada polisi untuk dilengkapi, begitu dilengkapi, dikasih catatan lagi. Begitu terus sampai enam kali. Ini jelas membuktikan Kejari Pati tidak profesional,” tuding Gulo.

Sebelumnya diberitakan, Mashuri Cahyadi membeli sertifikat tanah yang dilelang CIMB Niaga melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Semarang. Namun, dia tidak bisa menguasai tanah yang dibelinya, karena ternyata bersertifikat ganda.

Sertifikat yang dibeli Mashuri dari lelang atas nama Kuswantoro, sedangkan sertifikat lainnya atas nama Sunoto. Meski Tim Appraisal CIMB Niaga disebut sudah memperingatkan masalah tersebut, tetapi Tim Kredit CIMB Niaga diduga nekat membuat surat keterangan yang menyebut Sunoto hanya menyewa.

Setelah dicek laboratorium oleh pihak kepolisian, surat keterangan sewa tersebut adalah palsu. Artinya, Gulo mengganggap Tim Kredit CIMB Niaga sudah melakukan rekayasa agar utang dengan agunan tanah tersebut dicairkan.

“Surat yang ternyata palsu itu dibuat untuk menangkis nasehat dari tim appraisal. Tampak dengan jelas ada kesengajaan untuk mencairkan kredit, meski tim appraisal tahu itu bermasalah karena sertifikatnya ganda. Lagipula, semestinya posisi surat keterangan tidak bisa mengalahkan sertifikat asli Sunoto,” imbuhnya.

Dia berharap, Kejari Pati bisa bekerja secara profesional dan tidak melakukan “ping pong” berkas kasus yang dilimpahkan dari polisi. Sebab, kasus itu sudah bergulir ke polisi sejak 26 Mei 2015 hingga sekarang.

Sementara saat dikonfirmasi, Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Pati menolak bertemu dengan wartawan. Alasan yang disampaikan petugas keamanan, ia sedang melakukan pemeriksaan.

Editor : Ali Muntoha

Pati Bakal Punya 3 Oven Tapioka Berkapasitas 30 Ton Sehari

Seorang pekerja tengah mengeringkan tepung tapioka basah di tempat penjemuran secara manual di Desa Ngemplak, Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati akan memiliki tiga oven berteknologi mutakhir yang digunakan untuk mengeringkan tapioka. Masing-masing oven yang mengusung compressed natural gas (CNG) tersebut memiliki kapasitas hingga 30 ton tapioka kering.

Penggiling tapioka asal Ngemplak, Margoyoso, Khoirul Umam mengatakan, sudah ada tiga investor yang menyatakan kesediannya membangun oven tapioka. Dua orang dari Jawa Timur, satu orang dari Jakarta.

“Sudah ada tiga investor yang menyatakan ketertarikan dan akan menginvestasikan oven pengering di Pati. Rencana ini tentu kita sambut dengan baik, karena nantinya membuat produksi tapioka menjadi stabil dan tidak mengenal cuaca,” ujar Umam, Senin (21/8/2017).

Dia yang sudah berkomunikasi dengan investor menegaskan, mesin pengering yang akan dibangun di Pati mengusung teknologi terbaru dan ramah lingkungan. Dengan demikian, keberadaan oven tapioka di Ngemplak selain akan membantu petani dan penggiling untuk terus berproduksi, juga tidak mengganggu lingkungan.

Hal yang sama disampaikan Cahyadi. Penggiling ketela di kawasan Ngemplak ini menuturkan, keberadaan oven membuat ketersediaan tapioka bagi industri terjamin.

“Keberadaan oven memang penting. Ada jaminan stok tapioka bagi perusahaan dan industri. Petani dan penggiling juga akan hidup, karena masih bisa beroperasi meski musim penghujan,” kata Cahyadi.

Selama ini, industri kecil dan menengah (IKM) tapioka di Pati mendapatkan pasokan ketela dari wilayah Karesidenan Pati, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Dengan tiga oven yang masing-masing berkapasitas 30 ton kering setiap hari, produksi tapioka di Pati bisa mencapai 90 ton per hari secara stabil.

Jika sudah berjalan, roda perekonomian petani dan penggiling ketela di Pati akan berjalan dengan baik tanpa terkendala cuaca. Terlebih, siklus tanam ketela bisa nyambung sehingga tapioka lokal bisa terus berproduksi tanpa mengandalkan impor.

Editor: Supriyadi

 

HUT Jateng ke-67, Pemkab Pati Diminta Tak Pelit Layani Masyarakat

Pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Pati sedang mengikuti upacara HUT Jateng ke-67, Selasa (15/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Pemkab Pati melaksanakan kegiatan upacara untuk memperingati Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah yang ke-67 di halaman Pendapa Kabupaten Pati, Selasa (15/8/2017).

Upacara tersebut dihadiri Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), anggota DPRD Pati, dan Organisasi Perangkat Derah (OPD). Mereka terlihat khidmat saat mengikuti upacara bendera.

“Di sini hanya upacara yang dihadiri pejabat Pati saja. Sebab, upacara HUT Pemrov Jateng kali ini dipusatkan di Jepara. Alhamdulillah berjalan lancar,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Pati Haryono.

Dalam HUT kali ini, pemkab di seluruh Jawa Tengah mendapatkan tugas dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk mengutamakan pelayanan masyarakat yang lebih mudah, murah dan ramah. Sebab, tugas pemerintah memang melayani masyarakat dengan baik.

“Yang dilihat masyarakat itu layanannya. Soal infrastruktur dan yang ada fisik-fisiknya itu gampang kalau ada duitnya. Maka, problemnya saat ini bagaimana melayani masyarakat sesuai deklarasi revolusi mental,” tuturnya membacakan amanat Ganjar.

Ganjar juga menekankan kepada setiap pemda untuk melakukan pembenahan di bidang pendidikan dan kesehatan. Pasalnya, masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan pemda terkait dengan masalah di bidang pendidikan dan kesehatan.

Tak hanya itu, pemda bersama dengan aparat dan masyarakat diminta untuk benar-benar melawan radikalisme-terorisme. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai upaya, salah satunya deteksi dini terhadap paham radikal yang berpotensi mengganggu pertumbuhan dan pembangunan masyarakat.

Editor : Ali Muntoha

Spot Sayap Burung Hantu jadi Daya Tarik Baru Bukit Pandang Durensawit Pati

Salah satu pengunjung berfoto di spot sayap burung hantu, kawasan wisata bukit pandang, Durensawit, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan wisata bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati, terus berbenah. Selain penambahan spot-spot baru, pengelola melakukan perluasan kawasan wisata.

Salah satu spot yang menjadi daya tarik wisatawan baru-baru ini adalah sayap burung hantu. Banyak wisatawan yang antre untuk berswafoto di dua spot tersebut.

Satu spot berada di pinggiran jurang bukit, sehingga pemandangannya cukup mengesankan. Satu spot lagi berada di perbukitan yang dilalui wisatawan.

Septi Nursanti (16), pengunjung asal Bumiayu, Wedarijaksa mengatakan, spot sayap burung hantu cukup menarik dan unik. Terlebih, dia belum pernah menemukan kawasan wisata yang dilengkapi spot unik untuk berswafoto tersebut.

“Hasilnya di foto cukup mengejutkan. Kita seolah-olah punya sayap. Kalau fotografinya pinter, kesannya kita melayang di atas pegunungan. Konsepnya mirip dengan wisata yang lagi ngetren di Jogja,” kata Septi, Selasa (15/8/2017).

Krisno, pengelola bukit pandang menuturkan, pemasangan dua spot baru berupa sayap burung hantu tidak lepas dari tuntutan pengunjung. Ada sejumlah pengunjung yang menyarankan pemasangan sayap burung.

Setelah dipertimbangkan dan melakukan uji coba, ternyata cukup menarik. Hasilnya, wisatawan saat ini punya banyak pilihan spot untuk berswafoto dan mengunggahnya ke situs jejaring sosial.

“Pengunjung masih didominasi dari pengguna Facebook, disusul Instagram. Kebanyakan pengunjung yang datang juga berasal dari rekomendasi teman atau penasaran, karena lagi booming di sosmed waktu fotonya diunggah,” pungkas Krisno.

Editor : Ali Muntoha

Menghipnotis Karyawan Toko HP di Pati, 4 Warga Iran Dibekuk di Polisi

Kawanan penipu berkewarganegaraan Iran yang ditangkap polisi karena menipu di kawasan Juwana, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Empat warga kenegaraan Iran terpaksa harus dibekuk petugas kepolisian, setelah melakukan penipuan dengan cara hipnotis di sejumlah toko handphone di kawasan Juwana, Pati.

Mereka adalah Bizan (52), Farhad (26), Farzad (31) dan Zhaleh (49). Keempatnya dibekuk petugas saat berada di Hotel Fave Rembang.

Satu dari empat komplotan penipu tersebut merupakan perempuan. Mereka menggasak sejumlah barang berharga seperti handphone, setelah berhasil menghipnotis karyawan yang menjaga toko.

“Modus operandi yang dilakukan dengan cara membuat karyawan toko tidak sadarkan diri. Metode yang dilakukan hipnotis. Setelah karyawan tidak sadarkan diri, barang-barang dibawa kabur,” ungkap Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Senin (14/8/2017).

Korban pertama adalah Adi Sulistya, pemilik konter HP Pusat Phone di Desa Pajeksan, Juwana dengan kerugian ditaksir sekitar Rp 5 juta. Sementara korban kedua, Kasmijah pemilik konter di kawasan Pasar Porda Juwana yang mengalami kerugian hingga Rp 16 juta.

Adi Sulistya membeberkan, awalnya kasus tersebut terungkap setelah ia mendapatkan telepon dari Nurika, salah satu karyawannya. Nurika mengaku tidak sadarkan diri, setelah berbincang dengan komplotan penipu tersebut.

Setelah sadar, barang-barang yang ia jual raib. “Setelah mendapatkan informasi itu, saya langsung melapor polisi,” tuturnya.

Pihak kepolisian yang berhasil menangkap kawanan penipu juga mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya satu unit mobil Avanza B 1904 PIA yang digunakan pelaku dan uang Rp 17,3 juta yang diduga hasil tindak kejahatan.

Editor : Ali Muntoha

Bagi-bagi Nasi Besek Bertuah jadi Tradisi Unik Sedekah Bumi di Wedusan Pati

Pembagian nasi besek kepada salah satu pedagang dalam festival budaya di Desa Wedusan, Dukuhseti, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Desa Wedusan merupakan salah satu desa terpencil di Kabupaten Pati yang berada di Kecamatan Dukuhseti, berada di kawasan hutan kaki Pegunungan Muria dan laut utara Jawa.

Pada bulan Apit dalam kalender Jawa, sebagaimana tradisi orang Jawa pada umumnya, desa tersebut mengadakan sedekah bumi. Namun, masing-masing desa ternyata punya keunikan sendiri dalam merayakan sedekah bumi.

Di Wedusan, ada tradisi bagi-bagi nasi besek kepada puluhan pedagang yang berjualan di sepanjang areal pentas seni wayang dan ketoprak. Nasi itu dibagikan setelah didoakan bersama di balai desa setempat.

Solikul Huda, salah satu panitia yang membagikan nasi besek mengungkapkan, tradisi itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Konsep sedekah menjadi spirit utama dalam agenda bagi-bagi nasi besek.

“Ini sudah menjadi tradisi, seolah agenda wajib. Nasi besek isinya cuma nasi, ayam, telur dan aneka lauk-pauk. Yang membuatnya istimewa karena sudah didoakan, sehingga dipercaya akan membawa berkah,” kata Huda.

Mutmainah, salah satu pedagang yang berjualan di festival budaya Desa Wedusan mengatakan, nasi itu diakui membawa berkah tersendiri. Karenanya, sebagian dari nasi besek itu dikeringkan dan dijadikan sebagai pelaris dagangan.

Para penjual sebagian besar datang dari luar daerah. Mereka berdatangan untuk mencari rezeki dengan berjualan, sekaligus mendapatkan nasi besek yang dipercaya memeliki tuah untuk pelarisan.

Editor : Ali Muntoha

Siswa Saka Kalpataru Pati Pasang Gapura Cantik dari Botol Bekas

Para siswa yang tergabung dalam Saka Kalpataru berhasil membuat gapura cantik dari botol bekas di kawasan wisata bukit pandang, Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 50 siswa dari berbagai sekolah menengah atas (SMA) di Pati yang tergabung dalam “Saka Kalpataru” menggelar kamping di kawasan wisata Bukit Pandang, Desa Durensawit, Kayen, sejak Sabtu (12/8/2017) malam.

Ada beragam kegiatan peduli lingkungan yang diagendakan di sana. Salah satunya, pengumpulan botol-botol bekas yang dikumpulkan di sekitar kawasan wisata.

Yang mengejutkan, botol-botol itu tidak dikumpulkan untuk dibakar atau dimusnahkan. Namun, ratusan botol bekas yang berhasil dikumpulkan disulap menjadi gapura yang cantik.

Gapura dari botol bekas itu dipasang di pintu masuk dan keluar wisata. “Saya terkejut ketika tiba-tiba instruktur Saka Kalpataru meminta izin untuk memasang gapura di pintu masuk dan keluar wisata. Ternyata gapura itu dibuat dari botol, saya izinkan saja karena sangat bagus dan kreatif,” kata pengelola bukit pandang, Krisno, Senin (14/8/2017).

Subekti, instruktur Saka Kalpataru mengatakan, para siswa selama kamping diajarkan untuk peduli pada lingkungan dan keanekaragaman hayati. Karena itu, ketika para siswa melihat sampah botol air mineral berserakan, mereka punya inisiatif untuk memanfaatkannya.

Aksi itu juga menjadi bagian dari anggota Saka Kalpataru untuk menyadarkan masyarakat bahwa sampah bisa dimanfaatkan menjadi barang berharga. Sebab, sampah plastik yang dibakar justru menyebabkan polusi udara yang tidak baik untuk kesehatan manusia dan lingkungan.

“Botol-botol itu ditumpuk, kemudian diapit menggunakan bambu membentuk gapura. Ide para siswa itu sebetulnya sangat simpel, tapi sangat menarik dan kreatif. Jadi botolnya tidak sia-sia,” kata Subekti.

Sementara itu, Septi Nursanti, salah satu siswi dari SMKN 1 Pati mengaku senang mengikuti kamping di kawasan bukit pandang dengan pemandangan Pegunungan Kendeng. Hanya, menurut dia, butuh fasilitas toilet lebih banyak dan penerangan yang cukup supaya lebih representatif.

Editor : Akrom Hazami

 

Anggota DPR Bongkar Penyebab Garam Langka, Pelakunya Diduga Kartel

Anggota DPR RI Firman Soebagyo menjelaskan penyebab garam langka, seusai mengisi sosialisasi empat pilar MPR RI di Karaban, Gabus, Pati, Sabtu (12/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota DPR RI Firman Soebagyo membongkar penyebab garam langka yang sempat membuat masyarakat resah. Pelakunya diduga adalah kartel di kawasan Jawa Timur yang melakukan aksi borong garam.

“Kemarin kita sinyalir adanya tengkulak-tengkulak di Jawa Timur yang melakukan aksi borong terhadap garam produksi nasional. Garam itu tidak langsung dijual, tapi distok,” ungkap Firman, seusai mengisi sosialisasi empat pilar MPR RI di Desa Karaban, Gabus, Pati, Sabtu (12/8/2017) malam.

Hanya saja, sumber yang ia dapatkan tidak berani membuka siapa pelaku yang berperan menjadi kartel untuk memonopoli distribusi garam nasional. Karena itu, Firman meminta kepada Satgas Pangan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.

Pasalnya, apa yang dilakukan kartel hingga membuat garam langka, masuk dalam kategori pelanggaran tindak pidana ekonomi yang harus ditindak tegas. “Saya sudah meminta Satgas Pangan untuk menelusuri, saya yakin pelakunya ketemu,” tuturnya.

Firman menjelaskan, pola kartelisasi yang dilakukan tengkulak dengan cara memborong garam produksi nasional untuk ditimbun dan sengaja membuat garam langka. Dengan demikian, tengkulak bisa mengambil keuntungan saat harga melonjak tinggi.

Peran kartel juga ikut menentukan harga di pasaran, karena suplai dan kompetisi sudah dibatasi melalui aksi borong. Firman berharap, pemerintah bisa membuat regulasi untuk mengatur strategi pergaraman nasional agar petani dan masyarakat tidak dirugikan.

“Saya bersama Satgas Pangan baru saja dari Jepang untuk mempelajari bagaimana mengatasi perilaku para kartel. Di sana, undang-undang sudah rapi sehingga perusahaan nakal bisa ditindak tegas. Di Jepang, impor dikendalikan melalui pasar grosir sehingga terkontrol dengan baik,” imbuhnya.

Di Indonesia, produksi garam terbesar adalah Nusa Tenggara Timur, disusul Madura dan Pati. Tingkat kebutuhan garam nasional juga terus meningkat dan garam menjadi persoalan yang serius, sehingga pihaknya akan terus berupaya memperjuangkan nasib petani dan rakyat.

Editor : Akrom Hazami 

 

Akhir Pekan, Kawasan Pemancingan Ikan di Talun Pati Dibanjiri Warga


Sejumlah pengunjung tengah menikmati aneka jenis masakan ikan air tawar di kawasan wisata pemancingan, Desa Talun, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan wisata pemancingan ikan di Desa Talun, Kecamatan Kayen, Pati dibanjiri pengunjung saat hari libur dan akhir pekan. Ada beragam tawaran yang diberikan pengelola kepada pengunjung di sana, mulai dari mancing ikan hingga langsung pesan menu dan tinggal makan.

Imbang Setiawan, salah satu pengunjung asal Pati Kota mengatakan, kawasan wisata Talun sangat cocok untuk menghabiskan liburan bersama keluarga. Pengunjung bisa menikmati aneka jenis ikan tawar dengan pemandangan hamparan tambak ikan.

“Suasananya asyik. Yang hobi mancing juga bisa mancing. Harganya bisa dibilang cukup terjangkau. Sangat direkomendasikan bagi yang ingin berburu ikan air tawar,” tuturnya, Sabtu (12/8/2017).

Dia sendiri bersama 12 orang temannya berkunjung ke kawasan wisata tersebut dan makan beragam jenis masakan ikan. Ikan goreng, ikan bakar dan kelo mrico menjadi salah satu andalan masakan di sana.

Satu kilogram gurami bakar dihargai Rp 65 ribu, dua kilogram nila bakar Rp 90 ribu dan satu kilogram ikan patin kelo mrico Rp 45 ribu. Bagi yang tidak suka ikan, ada pula pilihan tempe, tahu, dan telur.

Dari Pati Kota, kawasan wisata pemancingan ikan air tawar Talun bisa ditempuh dengan waktu sekitar 40 menit. Sementara dari jalan utama Kayen-Sukolilo, pengunjung bisa masuk ke objek wisata sekitar 10 menit.

Kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah pada hari-hari libur dan akhir pekan. Tidak ada objek menarik yang dikunjungi di sana, kecuali bagi yang hobi mancing dan makan ikan air tawar.

 

Editor : Akrom Hazami

Hanya Iuran Rp 1.000, Emak-emak di Runting Pati Berhasil Gelar Ketoprak

Pagelaran seni ketoprak di kawasan Runting Kulon, Tambaharjo, Pati, Sabtu (12/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Emak-emak di Dukuh Runting Kulon, Desa Tambaharjo, Pati, yang tergabung dalam kelompok “Srikandi Runting” menggelar agenda bersih desa dengan menanggap ketoprak, Sabtu (12/8/2017).

Uniknya, pagelaran ketoprak itu diambil dari iuran warga sebesar Rp 1.000 per hari. Dikumpulkan sejak November 2016, uang itu berhasil terkumpul yang digunakan untuk hiburan seni ketoprak.

Ketua Panitia, Muanah mengatakan, ada 70 rumah di wilayah rukun tetangga (RT) 3 yang mengumpulkan dana tersebut. Dari 70 rumah, hanya 40 rumah yang aktif secara rutin menyumbangkan Rp 1.000 setiap hari.

“Ada 40 rumah yang rutin iuran, sedangkan 30 lainnya terkadang mau, terkadang tidak. Kita tidak membebani, karena niatnya untuk hiburan seni bersama saat sedekah bumi bersih desa berlangsung,” kata Muanah.

Yang lebih menarik, semua panitia ternyata dari kalangan ibu-ibu. Mereka bahu-membahu dari menghimpun dana Rp 1.000 setiap hari untuk dikumpulkan ke bank hingga pelaksanaan agenda ketoprak.

Mereka mengenakan seragam berlogo “Srikandi Runting Kulon” saat pementasan ketoprak berlangsung. Sementara untuk konsumsi makanan dan air minum, mereka meminta bantuan dari warga RT 1,2, 3, dan 4.

“Acara ini dilaksanakan secara mandiri dari ibu-ibu secara gotong-royong. Sampai saat ini belum ada bantuan dari pihak pemerintah desa,” imbuhnya.

Adapun lakon ketoprak yang dipilih mengambil tema “Joko Tani”. Selain menghibur masyarakat, pilihan tema itu diharapkan bisa mengembalikan semangat para pemuda modern untuk bertani.

 

Editor : Akrom Hazami

Puluhan Anggota UN Swissindo di Pati Berencana Datangi Bank Mandiri

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan anggota UN-Swissindo di Pati rencananya akan mendatangi Bank Mandiri pada Jumat (18/7/2017). Mereka akan membawa surat kuasa dari UN Swissindo untuk mengambil uang di Bank Mandiri.

Namun, surat kuasa dari UN-Swissindo tersebut ternyata salah satu bentuk penipuan. Hal itu diungkapkan Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Sabtu (12/8/2017).

“Kelompok itu seakan-akan punya surat kuasa dari UN-Swissindo untuk ambil uang di Bank Mandiri. Padahal, sesuai informasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), UN-Swissindo merupakan penipuan,” kata Kompol Sundoyo.

Baca juga

Duh, 30 Warga Pati Jadi Korban Penipuan UN Swissindo

Untuk menjadi anggota UN-Swissindo, setiap orang dikenakan biaya Rp 250 ribu. Anggota mendapatkan semacam surat kuasa untuk mengambil uang di enam bank utama, seperti Mandiri, BRI, BNI, BCA, Danamon dan CIMB Niaga.

Padahal, pihak perbankan belum diberitahu sebelumnya. Bahkan, tidak ada kerja sama antara UN-Swissindo dengan sejumlah bank yang disebutkan.

Karena itu, pihak kepolisian mengimbau kepada masyarakat untuk tidak tergiur tawaran menjadi anggota UN-Swissindo. “Kami sudah berkoordinasi dengan pihak perbankan, ternyata informasi tidak benar. Ini penipuan,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, UN-Swissindo mengaku melepaskan uang senilai 6,1 triliun dolar kepada enam bank utama untuk membebaskan uang rakyat Indonesia. Surat kuasa yang berstempel mirip lembaga dunia Perikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu ternyata untuk mengelabui korban.

Editor : Akrom Hazami

 

Camat Wedarijaksa Diminta Tegas Tangani Persoalan Sampah

Seorang pesepeda tengah melintas di kawasan jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa yang dipenuhi dengan sampah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Camat Wedarijaksa diminta tegas menangani persoalan sampah yang menumpuk di kawasan pinggir jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa, Pati.

Pasalnya, kawasan tersebut kerap menjadi sasaran warga untuk membuang sampah. Akibatnya, polusi udara yang ditimbulkan mengganggu kenyamanan penduduk setempat dan pengguna jalan.

Ahmadi, warga Asempapan, Trangkil mengatakan, tempat tersebut awalnya hanya digunakan untuk membuang sampah satu-dua bungkus. Namun, sudah setahun ini, kawasan tersebut penuh dengan sampah yang menggunung.

“Pengelolaan sampah masih belum maksimal, terutama di desa-desa. Belum ada kesadaran dari masyarakat sendiri maupun pemerintah, baik pemdes atau pemkab,” kata Ahmadi, Jumat (11/8/2017).

Karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk tegas mengatur persoalan sampah. Jika tidak, warga setempat menjadi korban dari pencemaran lingkungan yang baunya hingga masuk ke sejumlah rumah warga.

Tegas yang dimaksud bisa berupa fasilitasi maupun pemberian sanksi kepada orang yang membuang sampah sembarangan. Sebab, tak jauh dari lokasi tersebut terdapat tempat pembuangan sampah yang jaraknya hanya sekitar 200 meter.

“Mungkin di tingkat kecamatan harus dibuatkan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, biar pengelolaan sampah bisa dilakukan secara terpadu dan tidak mengganggu masyarakat. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat dinantikan,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Dishub Pastikan yang Bakal Mengaspal di Pati Bukan Taksi Online

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Pati – Beredar rumor yang menyebutkan, Pati akan memiliki taksi online yang siap mengaspal dalam waktu dekat. Namun, rumor itu ditepis Kepala Seksi Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pati Heru Suyanta.

“Tepatnya bukan taksi online ya, tapi taksi reguler, umum. Ada delapan unit taksi yang sudah diajukan pengusaha kepada kami,” ujar Heru kepada MuriaNewsCom, Jumat (11/8/2017).

Taksi tersebut akan mangkal di sejumlah titik di kawasan Pati Kota, dengan operasional di seluruh daerah di Jawa Tengah. Salah satu yang diperbolehkan Dishub untuk mangkal, antara lain hotel, rumah sakit, dan tempat strategis yang tidak bersinggungan dengan angkutan umum.

Syarat itu diberlakukan agar tidak terjadi bentrok dengan angkutan umum. Kendati beda segmen, tetapi pihaknya perlu mempertegas aturan tersebut supaya keberadaan taksi dan angkutan umum bisa berjalan bersamaan.

“Surat perintah izin operasional (SPIO) sudah turun, tinggal kelengkapan lain ada yang belum. Mungkin sedang proses,” katanya.

Heru membocorkan, taksi yang akan beroperasi di Pati menggunakan mobil Avanza. Untuk melengkapi syarat, dua kursi di bagian belakang Avanza harus dihilangkan agar seperti taksi pada umumnya.

Sejumlah syarat seperti desain dan cat khusus, lampu dan atribut yang menunjukkan mobil tersebut sebuah taksi juga harus dipenuhi pemohon. Seperti angkutan pada umumnya, taksi yang akan mengaspal di Pati menggunakan pelat kuning.

Editor : Ali Muntoha

Kuota Sertifikasi Tanah Prona Kabupaten Pati Terbesar Kedua di Jateng

Suasana pengurusan sertifikasi tanah di Kantor BPN Pati, Kamis (10/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kuota sertifikasi tanah gratis dari pemerintah atau Program Nasional Agraria (Prona) untuk Kabupaten Pati tahun ini mengalami peningkatan signifikan. Di Jawa Tengah, kuota prona untuk warga Pati terbesar kedua setelah Kota Semarang.

“Tahun ini, kuota untuk Kabupaten Pati sebanyak 40.000, sedangkan paling besar adalah Kota Semarang yang mencapai 50.000, disusul daerah lainya yang jumlahnya belasan ribu,” ujar Kepala Kantor Badan Pertahanan Nasional (BPN) Kabupaten Pati Yoyok Hadimulyo Anwar, di Pati, Kamis (10/8/2017).

Kuota sebanyak 40.000 itu disebar di 97 desa di Kabupaten Pati. Sementara pemberkasan dari pendaftar prona di Pati sudah mencapai 75 persen.

Dia menyebut, Pati mendapatkan perhatian khusus setelah tahun lalu hanya mendapatkan kuota 15.000 sertifikasi. Karena itu, masyarakat diminta untuk ikut proaktif menyambut prona yang dicanangkan Presiden Jokowi.

“Aktif yang kami maksud, semua syarat harus dipenuhi, misalnya kartu tanda penduduk (KTP), pembayaran pajak, hingga buku C yang dilegalisasi desa. Ini program pemerintah, warga tinggal duduk manis, sertifikat sudah jadi. Maka harus disambut dengan baik dan proaktif,” tuturnya.

Ada sejumlah keuntungan bila masyarakat ikut ambil bagian dalam prona. Salah satunya, biaya murah dan mudah, mendapatkan jaminan kepastian hukum, serta memiliki status tanah yang jelas karena sudah mengantongi sertifikat tanah.

Sementara itu, Kepala Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan BPN Pati Joko Purwanto mengatakan, persoalan biaya prona memang menjadi kewenangan pemerintah desa. Hanya, pihak BPN ikut memberikan fasilitas berupa pengukuran dan sertifikasi.

“Sesuai dengan perbup, biaya lain-lain itu ada tim khusus dari desa. Kalau dari BPN tentu gratis, tapi di tingkat desa memang ada panitianya yang menentukan,” pungkas Joko.

Editor : Akrom Hazami

Cantiknya Gedung Juang 45 Pati Usai Dipercantik dengan Payung Merah Putih Melayang

Suasana Gedung Juang 45 Pati dengan payung merah dan putih saat digunakan untuk upacara Hari Veteran Nasional, Kamis (10/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Gedung Juang 45 di Jalan P Sudirman Pati dilengkapi dengan hiasan payung melayang berwarna merah dan putih. Pemandangan itu pun menyedot perhatian pengunjung.

Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusumah mengatakan, puluhan payung berwarna merah dan putih dipasang untuk menyambut HUT ke-72 RI. Sebab, Gedung Juang 45 menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan dari Pati dalam melawan kolonialisme.

“Gedung Juang 45 menjadi saksi bisu perjuangan para pendahulu kita saat melawan kolonialisme Belanda. Semangat para pahlawan itu yang kami sebarkan kepada masyarakat melalui simbol payung merah dan putih,” ujar Letkol Inf Andri, Kamis (10/8/2017).

Selain itu, payung memiliki makna mengayomi. Tanpa disadari, kata dia, setiap hidup masyarakat Indonesia diayomi oleh merah putih yang menjadi simbol bangsa Indonesia.

Payung yang mengayomi itu akan semakin kuat dan berjaya bila setiap warga bahu-membahu dalam semangat persatuan. “Ini juga menjadi simbol bagi anggota TNI untuk selalu siap kapan pun bila sewaktu-waktu terjadi pada NKRI,” tuturnya.

Semangat merah putih juga bisa dilakukan dalam berbagai ekspresi, baik dari ucapan maupun visual. Melalui payung berwarna merah dan putih yang cukup unik itu, dia ingin ikut menyemarakkan HUT RI.

Agus Armanto, salah satu pengunjung asal Pati mengatakan, upaya yang dilakukan Kodim 0718/Pati cukup menarik dan memiliki nilai seni.  Payung itu masih tetap terlihat bagus meski pada malam hari.

Gedung Juang 45 sendiri saat ini menjadi kawasan destinasi wisata malam dengan belasan penjual yang menjajakan aneka kuliner, dari makanan khas Pati maupun minuman. “Menjadi semakin semarak saat nongkrong di sana,” tandas Agus.

Editor : Akrom Hazami

 

Maling Kotak Amal di Makam Ronggo Kusumo Ngemplak Pati Diburu Polisi

Rekaman CCTV yang diamankan polisi menunjukkan maling tengah mendekati kotak amal, sebelum membawanya kabur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati tengah memburu maling kotak amal di makam Kiai Cilik, kompleks makam Syeh Ronggo Kusumo, Ngemplak, Margoyoso yang sempat terekam CCTV pada Senin (7/8/2017) lalu.

Rekaman berdurasi sekitar 78 detik tersebut menunjukkan, seorang maling terlihat memantau kondisi di sekitar sebelum melancarkan aksi dengan menggondol kotak amal. Beberapa kali maling terlihat mondar-mandir.

“Pelaku tunggal terlihat jelas memantau situasi di sekitarnya. Setelah kondisinya dipastikan kosong, pelaku membawa kotak amal yang berada di teras,” ujar Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Kamis (10/8/2017).

Saat ini, pihaknya mengamankan rekaman CCTV tersebut untuk keperluan penyelidikan. Polisi juga sudah meminta keterangan dari berbagai saksi untuk melakukan perburuan pelaku.

“Kotak amal yang berhasil dibawanya kemudian dibuang di areal persawahan kawasan Desa Margoyoso, setelah uangnya diambil. Kami akan segera menangani kasus ini,” tuturnya.

Akibat pencurian tersebut, pengelola makam diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp 4 juta. Sementara pelaku akan dijerat dengan Pasal 363 KUHPidana tentang tindak pidana pencurian dengan pemberatan.

Editor : Ali Muntoha