10 Warga terjangkit DBD, 2 RT di Kaliwungu di Foging

Muhtarom, Kadus II Desa Kaliwungu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Muhtarom, Kadus II Desa Kaliwungu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – 10 warga di Dukuh Winong, Kecamatan Kaliwungu terjangkit DBD. Sehingga diadakan upaya pembasmian nyamuk dengan cara foging yang sekaligus dilakukan di dua RT. Yaitu di RT 3 RW 7 dan RT 3 RW 6.

Hal itu diungkapkan Kepala Dusun II Desa Kaliwungu Muhtarom, menurut data yang ia terima ada 10 warga yang terjangkit DBD dan dirawat di Rumah Sakit setempat. Kegiatan foging itu pun dari pemerintah melalui Puskesmas Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu.

”Ada dua RT yang mendapatkan jatah, sehingga pagi tadi dilakukan penyemprotan dan pembasmian nyamuk,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, dengan jumlah penderita yang banyak itu, seharusnya penyemprotan juga dapat dilakukan menyeluruh di satu dukuh. Hal itu juga yang menjadi harapan pihak desa serta masyarakat di dukuh tersebut.

Sebelum dilakukan penyemprotan, petugas dari Puskesmas melakukan pendataan. Dari tinjauan lapangan yang dilakukan, di daerah tersebut terdapat yang mengidap penyakit DBD, sehingga dilakukan penyemprotan di daerah tersebut. ”Ya bagaimana lagi, jatah hanya dua. Sebenarnya usulan sudah diusulkan namun hanya dapat dua RT saja,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Dokter Maryata mengungkapkan, cara melakukan Foging adalah sejauh 100 meter dari penderita yang ditentukan oleh ahli. Atau jika sulit menentukan radius, maka dapat dilakukan dengan mengukur jarak dari 20 rumah penderita.
”Sebab nyamuk tersebut tidak dapat terbang melebihi 100 meter. Jadi kalau ada ya sudah cukup untuk membasmi,” ujarnya.

Selain itu, penyemprotan juga silahkan pada pagi hari. Sebab nyamuk itu melakuan aktivitas pada pagi hari juga. Jadi lebih efektif pada pagi hari. Berdasarkan data yang diterima, penderita DBD tidak terlalu banyak. Sebab data yang dimiliki adalah sejumlah 56 penderita dalam Januari lalu. Itu pun jumlah se Kudus.

Editor : Titis Ayu Winarni

Nyamuk Penyebab DBD Tak Berani Serang 3 Desa di Kudus Ini

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Maraknya penyakit DBD di Kudus, ternyata tidak menyerang semua wilayah di Kudus. Seperti tiga desa di Kudus ini misalnya, selama tiga tahun berturut turut. Desa tersebut tidak pernah ada yang terjangkit penyakit yang disebabkan dari nyamuk.

Hal itu diungkapkan Kepala DKK Maryata. Menurutnya, hal membanggakan datang dari ketiga desa itu, ketiganya tercatat tidak ada yang terjangkit DBD.

“Desa itu adalah di Desa Kedungsari Kecamatan Gebog, Desa Krandon Kecamatan Kota dan Desa Piji Kecamatan Dawe. Selama tiga tahun dari 2013,2014 dan 2015 tidak ada yang terjangkit DBD,” katanya kepada MuriaNewsCom

Hal itu diperoleh, lantaran desa tersebut rajin memelihara kesehatan lingkungan. Sehingga tidak memberikan kesempatan nyamuk yang suka berpindah pindah tempat menggigit sehingga menyebabkan demam.

Sedangkan untuk wilayah yang paling banyak terserang DBD selama tiga tahun adalah Kecamatan Kota, Kecamatan Bae dan Kecamatan Jati.

Kondisi kebersihan lingkungan jelas memegang peranan penting dalam mengurangi jentik nyamuk. Cara itu juga, dianggap lebih ampuh ketimbang cara Foging, karena jika dosis tidak pas akan membuat nyamuk menjadi kebal.

Bukan hanya lingkup pemerintahan saja yang melakukan, namun setiap Jumat juga dilakukan kebersihan massal hingga tingkat desa, tingkat sekolah dan tiap rumah.

Editor : Akrom Hazami

Ini Alasan PMI Pati Kewalahan Penuhi Stok Darah Trombosit

Safaati tengah mengetes golongan darah yang masuk ke PMI Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Safaati tengah mengetes golongan darah yang masuk ke PMI Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Meningkatnya pasien demam berdarah dengue (DBD) di Pati, menyebabkan permintaan darah trombosit meningkat. Padahal, tidak semua darah yang masuk PMI bisa diproses menjadi trombosit.

“Untuk memproses darah yang masuk menjadi trombosit, pendonor harus memiliki berat badan di atas 55 kg, tidak mengonsumsi obat-obatan, dan darah harus dalam kondisi segar. Tidak lebih dari empat jam dari proses donor,” ujar Humas Unit Donor Darah (UDD) PMI Pati Safaati saat ditemui MuriaNewsCom, Rabu (3/2/2016).

Itu sebabnya, trombosit hanya bisa diproses dari donor darah yang dilakukan di Kantor PMI langsung. Sementara itu, donor darah yang dilakukan di luar kantor tidak bisa diproses menjadi trombosit karena lebih dari empat jam.

“Stok trombosit yang minim dibarengi kebutuhan yang semakin meningkat membuat PMI Pati kewalahan. Kami berharap, warga yang ingin donor bisa langsung datang ke kantor PMI,” katanya.

Saat ini, stok darah yang tersedia di PMI sekitar 345 kantong. Darah golongan A ada 14 kantong, darah B ada 64 kantong, darah O ada 187 kantong, dan darah AB ada 63 kantong.

“Untuk trombosit, darah golongan A ada 5 kantong, darah B ada 6 kantong, darah O ada 4 kantong dan darah AB ada 2 kantong,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono 

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

 

MuriaNewsCom, Pati – Pasien demam berdarah dengue (DBD) di Pati meningkat sejak memasuki musim pancaroba pada November 2015 lalu hingga sekarang. Akibatnya, permintaan darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Pati melonjak tajam.

Hal itu diamini Humas Unit Donor Darah (UDD) PMI Pati Safaati. Ia mengatakan, kenaikan itu bahkan mencapai seratus persen.

“Biasanya, permintaan darah per harinya cuma 30 hingga 40 kantong saja. Saat ini, permintaan darah mencapai 80 kantong. Artinya, kenaikan itu mencapai seratus persen,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (3/2/2016).

Sementara itu, permintaan darah khusus trombosit mencapai 5 kantong setiap harinya. Dengan kondisi itu, pihaknya mengaku kewalahan melayani permintaan yang terus meningkat.

“Penderita DBD memang cukup meningkat karena cuaca seperti ini. Kami saat ini bisa dikatakan cukup kesulitan dalam menyediakan stok darah trombosit, mengingat tidak semua stok darah yang masuk ke PMI bisa diproses menjadi trombosit saja,” tukasnya.

Editor : Kholistiono