Rencana Pembangunan Pusat Kuliner di Eks Lahan Pasar Pagi Purwodadi Bikin Resah PKL, Kok Bisa?

Bangunan ilegal di lahan PT KAI yang sudah diratakan beberapa waktu lalu akan segera dibenahi untuk pembangunan pusat kuliner (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah PKL merasa resah dengan rencana pembangunan pusat kuliner di eks lahan pasar pagi Purwodadi. Terutama, PKL yang biasa berjualan di sepanjang jalan R Suprapto. Keresahan PKL itu disebabkan adanya rumor yang sudah beredar saat ini. Yakni, pembangunan pusat kuliner tersebut disiapkan untuk merelokasi PKL di jalan R Suprapto.

“Informasi yang kita dengar memang seperti itu. Kabarnya, pusat kuliner itu digunakan untuk memindahkan PKL di jalan R Suprapto. Terus terang, informasi ini cukup meresahkan. Sebab, kami cukup keberatan jika harus pindah ke lokasi baru,” ungkap Yahmin, salah seorang PKL di Grobogan, Kamis (30/3/2017).

Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Sudarso mengatakan, keresahan para PKL dinilai kurang tepat. Sebab, konsep pembuatan pusat kuliner di lahan milik PT KAI tersebut bukan untuk merelokasi PKL.

Dijelaskan, setelah pembangunan berikut fasilitasnya selesai, pusat kuliner nanti akan disewakan kepada pedagang yang menginginkan. Termasuk, para PKL juga dibolehkan untuk menyewa tempat di pusat kuliner nanti.

“Kalau ada PKL di jalan R Soeprapto yang mau sewa, diperbolehkan. Kami tidak ada rencana untuk merelokasi mereka. Konsep pusat kuliner nanti diperuntuhkan buat pedagang yang mau sewa saja. Jadi, isu pusat kuliner untuk relokasi PKL itu tidak benar,” jelasnya, Kamis (30/3/2017).

Menurut Sudarso, sistem sewa diterapkan karena dinas dituntut menyumbang pemasukan ke daerah setelah menyewa lahan dari PT KAI. Keharusan adanya pemasukan itu berdasarkan saran dari Badan Pemeriksa Keuangan.

Pusat kuliner tersebut direncanakan didirikan tahun ini. Anggaran pembangunan gedungnya disiapkan sebesar Rp 4 miliar. “Saat ini sedang kita susun detail enginering desain (DED) melalui jasa konsultan. Kita targetkan tahun ini pusat kulinernya sudah jadi,” katanya.

Pembuatan DED ditarget kelar April nanti dan setelah itu dilelangkan. Untuk bangunan pusat kuliner direncanakan tidak ada sekat dan posisinya saling berhadapan. Jalan masuk menuju lokasi ada dua untuk memudahkan akses pengunjung.

Ditambahkan, pembangunan pusat kuliner tersebut bagian dari penataan Kota Purwodadi. Sebelumnya, pada lahan bekas Stasiun Purwodadi dulunya dipakai jualan pedagang Pasar Pagi dan lokalisasi.

“Beberapa bulan lalu, semua bangunan ilegal sudah dibongkor dan pedagang telah pindah ke lokasi baru. Di sekitar lokasi lama kita pasang pagar triplek agar tidak ditempati pedagang lagi,” tambahnya.

Editor : Akrom Hazami

Parah! 3 Minggu Padam, Lampu Penerangan Jalan Depan Pasar Pagi Terabaikan

Kondisi jalan di depan Pasar Pagi Purwodadi kurang penerangan akibat padamnya lampu, sekitar tiga minggu (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pedagang meminta agar lampu penerangan jalan yang ada di depan Pasar Pagi Purwodadi yang sudah lama padam segera diperbaiki. Sebab, padamnya lampu penerangan itu menyebabkan kondisi depan pasar jadi gelap dan cukup mengganggu aktivitas pedagang.

“Lampu penerangan ini sudah sekitar tiga minggu tidak nyala. Tapi sampai sekarang belum juga diperbaiki. Matinya lampu penerangan cukup mengganggu karena suasana depan pasar jadi gelap,” kata Santo, salah seorang pedagang di Grobogan, Rabu (29/3/2017).

Bagi pedagang, keberadaan lampu penerangan dinilai sangat penting. Sebab, aktivitas Pasar Pagi yang berlokasi di jalan Gajah Mada itu lebih banyak dilakukan pada malam hari. Tidak seperti pada pasar tradisional biasa.

“Aktivitas di sini dimulai pukul 21.00 WIB sampai pagi sekitar pukul 09.00 WIB.  Jadi keberadaan lampu sangat dibutuhkan,” ucap Mintono, pedagang lainnya.

Padamnya lampu penerangan juga dikeluhkan para pembeli. Sebab, suasana gelap itu membuat mereka merasa kurang nyaman saat belanja di Pasar Pagi.

Dari pantauan di lokasi Selasa (28/3/2017) malam, suasana depan Pasar Pagi yang dipakai parkir kendaraan tersebut memang cukup gelap. Sebab, delapan tiang lampu penerangan yang terdapat di depan pasar semuanya tidak menyala.

Beruntung, beberapa lampu penerangan yang terletak di pagar depan masih menyala. Sehingga suasana tidak jadi gelap gulita karena ada sinar lampu penerangan dari pagar itu.

Keberadaan lampu penerangan itu tergolong masih baru. Sebab, pembuatannya dilakukan bersamaan dengan pembangunan Pasar Pagi yang proyeknya selesai pada akhir tahun 2016 lalu. Pembangunan Pasar Pagi untuk merelokasi pedagang di bekas lahan PT KAI di jalan A Yani itu menelan biaya Rp 10,4 miliar.

Editor : Akrom Hazami

Satpol PP Marah Tertibkan Lapak Pedagang Pasar Pagi yang Bandel di Grobogan

 

 

Anggota Satpol PP mengangkut lapak dan dagangan pedagang Pasar Pagi yang nekat jualan di lokasi lama. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Aparat Satpol PP melakukan tindakan lebih tegas menyikapi kembalinya puluhan pedagang pasar pagi Purwodadi yang berjualan di tempat lama. Belasan lapak tempat jualan dan barang dagangan milik pedagang langsung dikemasi aparat saat melangsungkan penertiban, Selasa (7/3/2017).

Setelah didata pemiliknya, barang tersebut dimasukkan dalam truk milik Disperindag. Selanjutnya, barang milik pedagang ini diangkut ke Pasar Pagi yang ada di jalan Gajah Mada.

“Para pedagang yang jualan ini sebenarnya sudah dapat jatah tempat di lokasi baru. Namun, dengan berbagai alasan mereka tetap jualan lagi di sini. Padahal, di lokasi lama termasuk di sepanjang ruas jalan Banyuono ini sudah tidak boleh lagi digunakan untuk berjualan. Oleh sebab itu, kami lakukan upaya penertiban,” kata Sekretaris Kantor Satpol PP Grobogan Hadi Widoyoko.

Panertiban yang dilakukan Satpol PP didampingi petugas dari Disperindag, Polres dan Kodim 0717 dilakukan mulai pukul 07.00 WIB. Saat melihat kedatangan petugas, puluhan pedagang langsung bergegas membawa pergi barang dagangannya.

Sebagian lagi hanya mengemasi barang dagangannya dan menaruh di emperan kios atau depan rumah warga sekitar. Barang-barang yang terlihat inilah kemudian diamankan petugas saat melangsungkan penertiban.

“Barang-barang ini kita pindahkan ke pasar baru. Tepatnya, di lokasi jualan para pedagang tersebut yang memang sudah dapat jatah tempat di sana. Setelah ini, kami akan terus memantau supaya pedagang tidak lagi kembali jualan di lokasi lama,” imbuh Widoyoko.
Editor : Akrom Hazami

 

 

Pedagang Pasar Pagi Purwodadi Minta Paguyuban Pasang Instalasi PDAM

 

Paguyuban pedagang pasar pagi Purwodadi membeli tandon air untuk tambahan persediaan air, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pedagang Pasar Pagi Purwodadi meminta pihak paguyuban mencari upaya alternatif guna mendapatkan persediaan air. Salah satu caranya, dengan memasang jaringan instalasi air PDAM.

Hal itu dilontarkan seiring terhentinya pasokan air di kawasan pasar akibat mesin pompa terbakar. Selain itu, upaya yang dilakukan pihak paguyuban dengan membuat sumur bor juga belum berhasil mendapatkan sumber air. Padahal, pengeboran sudah dikerjakan di tiga titik.

“Saat ini, pasokan air memang sudah lancar lagi setelah mesin pompanya diganti. Tetapi, untuk antisipasi ke depan, ada baiknya kalau dipasang jaringan air PDAM di sini. Jadi, kalau sewaktu-waktu mesin rusak atau listrik padam tidak ada kendala soal air lagi,” kata Kasno, salah seorang pedagang pasar pagi.

Wakil Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Pagi Riyanto menyatakan, usulan untuk memasang jaringan PDAM dinilai cukup baik. Sebab, itu merupakan salah satu solusi untuk mendapatkan persediaan air bagi pedagang dan pembeli.

Menurutnya, kebutuhan air tiap hari dinilai cukup besar, sekitar 4.000 liter. Saat ini, jaringan instalasi air sudah terpasang di dalam pasar. Instalasi air dengan kran sebanyak 120 ini digunakan untuk menyalurkan air dari tandon penampungan.

“Soal pemasangan jaringan PDAM di pasar memang bagus untuk mengantisipasi kalau terjadi kendala seperti kemarin. Nanti, akan kita bicarakan dulu dengan pengurus paguyuban dan UPTD pasar,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur PDAM Grobogan Bambang Pulunggono menyatakan, pihaknya siap untuk menyediakan pemasangan jaringan air di Pasar Pagi. Ia mewacanakan untuk memasang hidran air umum yang bisa digunakan bersama untuk pedagang.

“Model ini lebih mudah dan murah karena cukup pasang satu meteran saja. Air dipakai bersama dan nanti pihak paguyuban yang menangani pengelolaannya. Jadi, pada prinsipnya kami siap membantu pedagang untuk menyediakan air disini,” jelasnya saat menyerahkan bantuan air bersih di Pasar Pagi, Jumat (24/2/2017).

Selain itu, bisa juga tiap pedagang memasang sambungan sendiri. Khususnya, untuk pedagang yang menempati kios.

Editor : Akrom Hazami

3 Titik Pengeboran Sumur di Pasar Pagi Purwodadi Gagal Keluarkan Sumber Airnya

Direktur PDAM Grobogan Bambang Pulunggono (kaos putih) menyalami Kepala UPTD Pasar Pagi Purwodadi Paiman saat menyerahkan bantuan air bersih. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya pihak Paguyuban Pedagang Pasar Pagi Purwodadi untuk mendapatkan air dengan mendatangkan tukang sumur bor gagal membuahkan hasil. Meski sudah melakukan pengeboran di tiga titik, namun sumber air yang diharapkan tidak kunjung keluar.

Kepala UPTD Pasar Pagi Purwodadi Paiman menyatakan, pengeboran tanah yang dilakukan itu lokasinya berbeda-beda. Satu titik pengeboran di halaman pasar sebelah selatan dan dua titik lagi di dalam pasar.

“Tiga-tiganya tidak keluar air. Padahal, pengeboran sudah dilakukan cukup dalam,” Paiman didampingi Wakil Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Pagi Riyanto, Jumat (24/2/2017).

Pembuatan sumur bor dilakukan dengan sistim borongan. Setelah keluar sumber air baru dibayar penuh sesuai kesepakatan. Namun, kalau gagal hanya dikenakan biaya untuk tukang saja.

Meski pembuatan sumur tidak berhasil, namun pedagang pasar sudah tidak kesulitan lagi mendapatkan pasokan air. Soalnya, pompa air yang selama beberapa hari lalu rusak sudah diganti oleh pihak rekanan.

Selain itu, pihak PDAM Grobogan juga menyalurkan bantuan air bersih  di Pasar Pagi. Dari pantauan di lokasi, ada satu unit mobil tangki milik PDAM yang sedang menyalurkan air ke tendon penampungan berkapasitas 3.000 liter yang ditempatkan di selatan bangunan los basahan.

“Menyimak berita media tentang kesulitan pedagang pasar pagi mencari air membuat kami merasa prihatin. Sebagai bentuk kepedulian, kami menyalurkan bantuan air gratis lewat mobil tangki,” kata Direktur PDAM Grobogan Bambang Pulunggono yang ikut hadir menyerahkan bantuan air bersih di Pasar Pagi.

Editor : Akrom Hazami

Serba Setengah Hati di Pasar Pagi Purwodadi

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

PASAR Pagi Purwodadi Kabupaten Grobogan, merupakan salah satu pasar besar di kota itu. Yang terbaru, pasar telah direlokasi ke tempat yang lebih strategis, dan laik. Gedung baru Pasar Pagi Purwodadi dikerjakan PT Reka Esti Utama yang berasal dari Semarang.

Total dana yang dialokasikan untuk pembangunan pasar di Jalan Gajah Mada Purwodadi ini senilai Rp 10,4 miliar. Adapun tujuan pembangunan Pasar Pagi tersebut, untuk memindahkan pedagang yang berjualan di lahan bekas Stasiun Kereta Api di Jalan A Yani Purwodadi.

Pembuatan pasar dilakukan di atas lahan seluas 9.000 meter persegi. Pasar ini digunakan untuk lokasi pemindahan 900-an pedagang yang biasa mangkal di lahan milik PT KAI tersebut.  Pada 18 Desember 2016, pasar rampung dibangun. Ada 72 unit kios berukuran 3 x 4 meter. Kemudian, ada 464 unit los kering berukuran 2 x 1,5 meter. Sedangkan 68 unit lagi disiapkan  untuk los basahan dengan ukuran 2 x 1,5 meter.

Dengan semangat baru, Bupati Sri Sumarni meresmikan pasar, 4 Februari 2017. Saat itu, semua menatap optimistis. Tempat baru dan asa baru yang membumbung. Minggu (5/2/2017), pedagang mulai memindahkan barang dagangan secara bertahap. Aksi boyongan pedagang diberi tenggat hingga 10 Februari.

Setelah 10 Februari, pemkab melarang pedagang kembali ke tempat lama. Lokasi lama akan dijaga Satpol PP dan diberi pagar pembatas. Tujuannya hanya satu, pedagang agar tertib di tempat yang baru. Bukan kembali berjualan di tempat lama. Pedagang manut mulanya. Meski diam-diam, mereka khawatir akan turunnya omzet yang didapat selama ini.

Mereka pun mulai belajar beradaptasi. Berdagang di tempat baru dan berharap pelanggan lama juga akan datang ke tempat baru. Satu, dua, hingga hari-hari berikutnya, pedagang mulai merasakan hal beda. Mereka sudah mendapatkan los sesuai pembagian. Karena dirasa sepi, pedagang pun beraksi.

Mereka ramai-ramai berdagang di luar lokasi pasar. Mereka berpikir, dengan cara itulah dagangannya akan laku. Bupati dibuat tak percaya saat memantau pada Minggu (12/2/2017). Betapa kagetnya, mendapati pedagang tidak tertib sesuai lokasi. Sri langsung memerintahkan kasatpol PP supaya segera menertibkan sebagian pedagang Pasar Pagi Purwodadi, yang memilih berjualan di luar. 

Sri juga meminta pedagang yang jualan di luar pasar, agar didata. Jika terbukti mereka sudah dapat jatah tempat di dalam, maka supaya dicoret saja. Tindakan tegas dilakukan. Sebab, jika dibiarkan maka semua pedagang akan memilih jualan di luar pasar.

Sebab, sebagian besar pedagang itu sudah mendapatkan jatah tempat berjualan di dalam pasar  yang beberapa hari lalu diresmikan. Menurutnya, area luar pasar sudah ditentukan untuk parkir dan bongkar muatan. Meski Satpol PP sudah bertindak, toh nyatanya pedagang kembali jualan di luar pasar.

Kamis (23/2/2017) terpantau ada pedagang jualan di pinggir jalan Banyuono. Sekitar 30 pedagang yang berjualan di tempat itu. Sebagian pedagang ada yang berjualan dengan lapak dan banyak juga yang lesehan dengan menggelar tikar plastik di tepi jalan.

Berdasarkan keterangan pedagang, mereka sengaja nekat berjualan di situ lantaran kondisi di Pasar Pagi dianggap masih sepi pembeli. Padahal, mereka sudah  menempati lokasi baru sekitar 20 hari. Realita yang terjadi memang demikian, pedagang yang menggantungkan sumber pendapatan dari  berjualan, harus makan apa jika pasar terus menerus sepi.

Rupanya tidak hanya pedagang yang setengah hati direlokasi.Pemkab juga serupa. Mereka kurang siap menyiapkan segalanya. Seperti halnya aliran listrik yang kerap padam. Belum lagi masalah pompa air yang rusak dan lambat ditangani. Termasuk juga penutup saluran depan pasar yang ambrol. 

Semua menjadi hal yang harus dievaluasi. Saling menyalahkan atau saling menyudutkan, bukan merupakan solusi cerdas. Tapi ada hal yang perlu digarisbawahi, yakni mulai dari kedisiplinan pedagang, pemkab gencar mensosialisasikan pasar baru, pemkab menyiapkan infrastruktur matang-matang dan sejenisnya. 

Jangan sampai anggaran miliaran rupiah, yang tentu uang dari rakyat, berujung pada mangkraknya bangunan megah. Lebih baik mencari solusi bersama, dan sama-sama enak. (*)

 

Puluhan Pedagang Pasar Pagi Purwodadi Kembali Jualan di Tempat Lama

Pedagang menggelar lapak dagang di lokasi lama setelah sebelumnya mereka direlokasi di Pasar Pagi Grobogan, Kamis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan pedagang Pasar Pagi Purwodadi kembali terlihat berjualan di lokasi lama, Kamis (23/2/2017). Yakni, di pinggir jalan Banyuono. Mereka

Dari pantauan di lapangan, sedikitnya ada 30 pedagang yang berjualan di tempat itu. Sebagian pedagang ada yang berjualan dengan lapak dan banyak juga yang lesehan dengan menggelar tikar plastik di tepi jalan.

Sebagian besar pedagang berjualan sayuran segar. Ada juga beberapa pedagang pisang, makanan kecil, ikan segar, dan daging ayam.

Berdasarkan keterangan pedagang, mereka sengaja nekat berjualan di situ lantaran kondisi di Pasar Pagi baru di jalan Gajah Mada dianggap masih sepi pembeli. Padahal, mereka sudah menempati lokasi baru sekitar 20 hari.

“Saya dapat jatah tempat di sana tapi masih sepi. Makanya, terpaksa pindah jualan lagi ke tempat lama,” ujar Suryati, salah seorang pedagang.

Di antara puluhan pedagang tersebut, ada juga yang mengaku berjualan di situ karena tidak dapat jatah tempat di pasar baru. Kondisi itu membuat mereka terpaksa berjualan di lokasi lama meski terkadang sempat dihalau Satpol PP.

“Kalau agak siangan sedikit biasanya ada petugas Satpol PP yang kesini. Kami diminta petugas segera mengemasi dagangan,” kata Sunar, pedagang lainnya.

Sebelum direlokasi, di sepanjang jalan Banyuono tersebut ditempati sekitar 400 pedagang. Kemudian, sekitar 500 pedagang lagi berjualan di bekas kawasan koplak dokar yang lahannya milik PT KAI.

Di sisi lain, kembalinya pedagang tersebut ternyata disambut gembira oleh banyak warga. Pasalnya, mereka tidak perlu repot jauh-jauh belanja ke Pasar Pagi atau ke Pasar Induk.

“Terlepas adanya larangan berjualan setelah relokasi, saya senang dengan adanya pedagang yang jualan lagi. Soalnya, saya bisa belanja di sini setelah ngantar anak sekolah. Saya agak takut kalau belanja ke pasar baru karena arus lalu lintasnya ramai dan banyak kendaraan besar. Kalau belanja di sini lebih dekat dari rumah,” kata Aminah, warga Jengglong, Purwodadi.

Editor : Akrom Hazami

 

Pasokan Air Terhenti, Paguyuban Pedagang Pasar Pagi Purwodadi Bikin Sumur Bor

Pekerja yang melakukan pengeboran sumur di Pasar Pagi Grobogan, Rabu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pasokan air di Pasar Pagi Purwodadi Grobogan, masih terhenti sejak senin hingga Rabu (22/2/2017). Masalahnya, mesin pompa air yang rusak belum diperbaiki lagi rekanan. Sambil menunggu proses perbaikan mesin pompa air, paguyuban pedagang berinisiatif membuat sumur bor. Hal itu dilakukan lantaran kebutuhan air dinilai cukup vital bagi para pedagang dan pembeli.

Dari pantauan di lapangan, pembuatan sumur bor ditempatkan di bagian belakang. Tepatnya, di sebelah selatan tempat kamar mandi umum Pasar Pagi. Ada empat pekerja yang melakukan pengeboran sumur. Proses pengeboran menggunakan cukup banyak peralatan, termasuk beberapa mesin penyedot air. Sepintas, cara pengeboran sumur mirip proses eksplorasi minyak tanah secara sederhana.

Saat itu, proses pengeboran tanah baru mencapai kedalaman sekitar 20 meter. Tanda-tanda ditemukan sumber air sudah mulai terlihat. Hal ini seiring sudah keluarnya butiran pasir hitam. “Mudah-mudahan, nanti bisa dapat sumber air yang besar. Sehingga kebutuhan air buat pedagang dan pembeli tercukupi,” kata Daryanto, pegawai Pasar Pagi Purwodadi yang ikut memantau pelaksanaan pengeboran sumur itu.

Beberapa waktu sebelumnya, sudah pernah dilakukan pembuatan sumur di sisi selatan. Namun, meski sudah dibor sampai kedalaman sekitar 100 meter, tidak ada sumber air yang keluar. “Di kawasan Pasar Pagi ini memang cukup susah sumber airnya. Ini memang kendalanya,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini memang sudah ada sumur buatan rekanan yang mengerjakan proyek Pasar Pagi. Tetapi, sumber airnya tidak besar sehingga tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Akibat sumber airnya terbatas itulah yang menyebabkan mesin pompa terbakar karana tidak mendapat pasokan air.

Sebelumnya, Kabid Pasar Disperindag Grobogan Nani Rachmaniarti ketika dimintai komentarnya menyatakan, soal rusaknya mesin pompa sudah disampaikan pada rekanan untuk diperbaiki. Sebab, sampai saat ini proyek pembangunan Pasar Pagi masih dalam tahap pemeliharaan yang jadi tanggungan pihak rekanan.

“Pihak rekanan sudah kita kasih tahu supaya segera memperbaiki mesin pompa. Soalnya, ini masih masa pemeliharaan. Pihak paguyuban pedagang juga sudah merencanakan untuk membuat sumur bor di dalam pasar. Hal ini untuk mengantisipasi jika ada kendala seperti saat ini,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Penutup Saluran di Depan Pasar Pagi Purwodadi Ambrol

Warga berada tak jauh dari lubang di penutup saluran di Pasar Pagi Purwodadi, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain pasokan air terhenti akibat mesin pompa terbakar, penutup saluran drainase di depan Pasar Pagi Purwodadi juga mengalami kerusakan. Ada satu titik penutup saluran yang ambrol sepanjang hampir 1 meter.

Titik yang jebol berada persis di seberang pintu masuk utama. Rusaknya penutup saluran dengan konstruksi beton disebabkan ada truk penuh muatan yang melintas di atasnya. Munculnya persoalan di Pasar Pagi langsung mendapat tanggapan dari Ketua Komisi B DPRD Grobogan Budi Susilo. Dia meminta agar dinas terkait segera melakukan upaya penanganan secepatnya. Khususnya, soal tidak adanya persediaan air akibat matinya mesin pompa.

“Kebutuhan air itu penting sekali buat pedagang ataupun pembeli di pasar. Jadi, masalah air harus ditangani segera karena semua orang yang ada di pasar membutuhkan. Kalau soal jebolnya saluran nanti bisa ditangani belakangan karena sifatnya tidak begitu mendesak. Saya sudah minta pihak Disperindag mengatasi persoalan ini,” tegasnya.

Sementara itu, Kabid Pasar Disperindag Nani Rachmaniarti ketika dimintai komentarnya menyatakan, soal rusaknya mesin pompa sudah disampaikan pada rekanan untuk diperbaiki. Sebab, sampai saat ini proyek pembangunan Pasar Pagi masih dalam tahap pemeliharaan oleh pihak rekanan.

“Pihak rekanan sudah kita kasih tahu supaya segera memperbaiki mesin pompa. Soalnya, ini masih masa pemeliharaan,” katanya. 

Terkait kondisi itu, pihak paguyuban pedagang juga sudah merencanakan untuk membuat sumur bor di dalam pasar. Hal ini untuk mengantisipasi jika ada kendala seperti saat ini.

Editor : Akrom Hazami

Mesin Pompa Air Rusak, Pedagang Pasar Pagi Grobogan Terpaksa Beli Air

Pedagang mengambil air bersih di Pasar Pagi Purwodadi Grobogan, Selasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Persoalan di Pasar Pagi Purwodadi, Grobogan, yang baru dua minggu lalu diresmikan Bupati Grobogan Sri Sumarni, kembali muncul. Kali ini, masalah disebabkan mesin pompa air yang ada di kompleks pasar mengalami kerusakan. Informasi yang didapat menyebutkan, kerusakan mesin pompa air terjadi Senin (20/2/2017) siang.

Akibat rusaknya mesin ini, praktis tidak ada persediaan air di dalam pasar. Kondisi ini membuat repot para pedagang. Khususnya, pedagang daging di los basahan yang ada di sisi selatan.

Sebab, mereka butuh air bersih untuk mencuci lapak dari bau amis pascaberjualan dan membersihkan peralatan kerja. Sebagian pedagang terpaksa membeli air bersih seharga Rp 2.000 per termos besar.

Sebagian lagi ada yang membawa air bersih dari rumah. Beberapa pedagang terpaksa menggunakan air sisa rendaman tahu dan air kelapa untuk membersihkan lapak dan peralatan.

“Kebetulan rumah saya dekat. Jadi ketika tahu tidak ada air, saya ngambil saja di rumah. Rekan-rekan lain memang ada yang beli air bersih. Ada juga yang pakai air tahu dan air kelapa,” kata Marsih, salah seorang pedagang.

Rusaknya mesin pompa air juga bikin repot orang yang ada di pasar. Terutama, bagi mereka yang butuh ke toilet. Sebab, gara-gara mesin pompa rusak, kamar kecil yang ada di bagian belakang terpaksa ditutup sementara.

Mereka yang ingin ke toilet terpaksa harus pergi di Pasar Agro yang letaknya di seberang Pasar Pagi.  Hanya saja jaraknya memang cukup jauh karena letak kamar kecil di Pasar Agro berada di ujung barat.“Saya tadi terpaksa numpang ke toilet Pasar Agro. Soalnya, toilet di sini tutup karena tidak ada airnya,” cetus Kriswanto, pedagang lainnya.

Tidak adanya air juga bikin susah bagi mereka yang ingin menjalankan ibadah sholat. Sebab, persediaan air di musala pasar untuk berwudu juga kosong.

 

Editor : Akrom Hazami

Bandel Jualan di Luar Pasar Pagi, Satpol PP Grobogan Tertibkan Pedagang 

Satpol PP Grobogan berupaya menertibkan pedagang yang bandel berjualan di luar Pasar Pagi, Senin. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan pedagang Pasar Pagi Purwodadi yang menggelar dagangannya di pelataran mulai ditertibkan Satpol PP, Senin (13/2/2017). Belasan Satpol mendatangi satu persatu pedagang dan meminta mereka pindah ke dalam pasar.

“Kami mohon pengertiannya pada pedagang semua untuk masuk ke dalam pasar. Di dalam masih ada tempat berjualan. Di luar pasar merupakan lokasi parkir dan bongkar muat barang,” kata Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Grobogan Sarjiyo saat mendatangi lapak pedagang yang ada di pelataran.

Sebelum meminta pindah, petugas juga melakukan pendataan identitas pedagang yang berjualan di pelataran tersebut. Dari pendataan diketahui di antara pedagang itu ternyata banyak yang sudah dapat lapak jualan di dalam pasar. Namun, mereka enggan menempati jatahnya dan pilih jualan di luar.

Sebagian pedagang lainnya merasa keberatan untuk pindah dari pelataran. Mereka berdalih tak dapat jatah tempat di dalam pasar.”Saya jualan di sini karena gak dapat tempat di dalam pasar. Kalau, jualan di dalam, tempat kami di mana?,” kata beberapa pedagang pada petugas.

Terkait keluhan ini, Sarjiyo bisa memaklumi. Namun, pihaknya tetap meminta pedagang untuk masuk ke dalam pasar. Pedagang yang tidak dapat jatah, untuk sementara dibolehkan menempati tempat yang masih kosong sambil menunggu penataan lebih lanjut. “Tempat kosong didalam ditempati dulu bagi yang belum dapat jatah. Yang pasti, depan pasar harus bersih dari pedagang. Kalau semuanya sudah masuk akan memudahkan penanganan selanjutnya,” tegasnya.

Sebagaimana diberitakan, penertiban pedagang di pelataran dilakukan menindaklanjuti perintah Bupati Sri Sumarni saat melangsungkan sidak di pasar pagi, Minggu (12/2/2017). Saat sidak pukul 06.00 WIB, Sri sempat dibikin kaget melihat banyak pedagang yang berjualan di pelataran dan pinggir jalan depan pasar. “Lho, ini kok banyak banget yang jualan di luar pasar. Kondisi ini membuat kawasan di luar pasar malah jadi semrawut,” cetusnya ketika sidak.

Terkait kondisi itu, Sri Sumarni langsung memerintahkan Kasatpol PP supaya segera menertibkan sebagian pedagang Pasar Pagi Purwodadi yang memilih berjualan di luar. Sebab, sebagian besar pedagang itu sudah mendapatkan jatah tempat berjualan didalam pasar yang baru seminggu lalu diresmikan. Sri meminta pedagang yang jualan di luar pasar agar didata. Jika terbukti mereka sudah dapat jatah tempat didalam maka supaya dicoret saja. “Kalau nggak mau jualan didalam coret saja. Kasihkan pada pedagang lain yang masih butuh tempat,” ucapnya.

Tindakan tegas memang perlu dilakukan. Sebab, jika dibiarkan maka semua pedagang akan memilih jualan di luar pasar.

Editor : Akrom Hazami

Aliran Listrik Pasar Pagi Purwodadi Padam 7 Kali dalam Satu Jam

Warga beraktivitas di Pasar Pagi Purwodadi setelah baru pindah dari lokasi lama, Selasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga beraktivitas di Pasar Pagi Purwodadi setelah baru pindah dari lokasi lama, Selasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,  Grobogan – Proses relokasi pedagang pasar pagi dari tempat lama di lahan bekas Stasiun Kereta Api Purwodadi ke lokasi baru di jalan Gajah Mada memang berjalan lancar. Ratusan pedagang sudah bersedia dipindahkan ke lokasi baru dan praktis tidak ada yang berjualan lagi di tempat lama. Meski demikian, ada beberapa hal yang masih perlu dibenahi demi kenyamanan pedagang dan pembeli di lokasi baru.

Dari pantauan di lapangan pada hari kedua relokasi, Senin (6/2/2017) malam, salah satu yang perlu dibenahi adalah masalah listrik. Hal ini menyusul padamnya aliran listrik sampai tujuh kali hanya dalam kurun waktu satu jam. Yakni, antara pukul 21.00-22.00 WIB.

Padamnya listrik ini menyebabkan aktivitas pedagang yang sedang mempersiapkan barang dagangan sempat terganggu. Matinya aliran listrik berulang kali ini kemungkinan besar disebabkan kurangnya daya. Hal ini cukup beralasan mengingat pada saat itu, belum semua kios yang jumlahnya 72 unit digunakan untuk berjualan.

“Listriknya byar pet dari tadi. Kondisi ini memang cukup mengganggu. Kayaknya daya listriknya kurang besar. Padahal ini belum semua pedagang menggunakan listrik,” kata Suwarti, salah seorang pedagang yang sedang menata barang dagangannya malam itu.

ps pagi malam

Warga beraktivitas di Pasar Pagi Purwodadi setelah baru pindah dari lokasi lama, dengan kondisi listrik padam, Selasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Selain listrik, masalah lainnya yang perlu ditangani adalah keberadaan lapak tempat berjualan pedagang di depan pasar. Yakni, diatas saluran drainase dan dibawa lampu penerangan jalan di depan pasar. Pada hari pertama relokasi, sebagian pedagang berjualan di situ. Namun, pada hari kedua, pedagang yang berjualan di tempat itu sudah berkurang.

Soalnya, petugas pasar sudah menyingkirkan sebagian penutup drainase dari papan dan belahan bambu yang dipasang pedagang sehingga tempat itu tidak bisa digunakan untuk menaruh lapak. Di samping itu, guyuran hujan deras menjelang dini hari menyebabkan pedagang yang ada di pinggir jalan depan pasar beralih ke dalam.

Meski demikian, masih ada beberapa pedagang yang jualan di bawah  lampu penerangan dan di atas saluran drainase di sisi barat. Kemudian, ada juga sejumlah pedagang yang pada pagi hari menggelar dagangan di depan pintu utama pasar dan dekat pos satpam. Keberadaan pedagang terlihat sedikit mengganggu arus keluar masuk pasar.

Satu hal lagi yang juga butuh penanganan adalah penataan parkir. Hingga hari kedua relokasi, masalah parkir masih terlihat kurang rapi. Banyak kendaraan yang parkir maupun bongkar muatan di lokasi terlarang.

“Penataan parkir sedang kita siapkan dengan pihak pasar. Kita sedang menganalisa situasi arus pedagang dan pembeli untuk merencanakan penataan parkir yang pas. Untuk bongkar muatan sudah kita tentukan di halaman pasar. Setelah bongkar, kendaraan segera keluar dan mengambil parkir di depan pasar,” kata Kasi Parkir Dishub Grobogan Susanto Adi Wibowo yang ditemui di Pasar Pagi, Selasa (7/2/2017) dini hari tadi.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Pedagang Pasar Pagi Grobogan Khawatir Omzetnya Turun di Lokasi Baru

Warga tampak hadir dalam peresmian Pasar Pagi Purwodadi, Grobogan, Sabtu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga tampak hadir dalam peresmian Pasar Pagi Purwodadi, Grobogan, Sabtu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Saat peresmian Pasar Pagi Kabupaten Grobogan, Sabtu (4/2/2017),  para pedagang yang hadir dalam acara itu menyatakan dengan tegas jika siap direlokasi ke tempat jualan baru di jalan Gajah Mada.

Pernyataan itu sempat pula dilontarkan ketika ditanya Bupati Grobogan Sri Sumarni saat memberikan kata sambutan dalam acara tersebut. “Siap, ibu bupati. Kami siap pindah ke lokasi baru,” tegas puluhan perwakilan pedagang yang duduk dalam tenda peresmian.

Meski begitu, ada pula kekhawatiran yang dirasakan pedagang ketika direlokasi. Yakni, kekhawatiran akan menurunnya omzet penjualan yang didapat dibandingkan saat berdagang di lokasi lama. “Hal inilah yang selalu ada dalam pikiran kami. Kalau pindah kesini pasti omzetnya turun drastis,” kata Sutino, salah seorang pedagang.

Menurut para pedagang, dengan pindah lokasi jualan maka butuh waktu untuk adaptasi, minimal, satu minggu. Selain itu, dengan pindah lokasi maka belum tentu para pelanggan lama juga akan mencari langganannya.

“Pelanggan saya kebanyakan ibu rumah tangga yang tinggalnya di sekitar lokasi bekas Stasiun Kereta Api Purwodadi. Biasanya, mereka ke pasar cukup jalan kaki sekalian olahraga. Setelah dipindah, bisa jadi mereka nanti enggan datang ke lokasi baru,” ujar Murtinah, pedagang sayuran.

Kepala Disperindag Grobogan Muryanto ketika dimintai tanggapannya menyatakan, pihaknya sangat memaklumi kekhawatiran para pedagang ketika harus direlokasi. Sebab, ketika pindahan memang butuh proses penyesuaian terlebih dahulu. Baik dari pedagang maupun pembelinya.

“Saya memaklumi masalah ini. Tetapi percayalah, soal rezeki sudah ada yang mengatur. Tidak lama setelah direlokasi pasti kondisinya akan berangsur-angsur normal. Nantinya, kita juga akan melakukan beberapa upaya supaya Pasar Pagi bisa cepat ramai,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Pasar Pagi Purwodadi Diresmikan Bupati, Pedagang Siap Direlokasi ke Tempat Baru

Bupati Grobogan Sri Sumarni melakukan gunting pita sebagai bentuk simbolik peresmian Pasar Pagi, Sabtu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni melakukan gunting pita sebagai bentuk simbolik peresmian Pasar Pagi, Sabtu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pasar Pagi Purwodadi diresmikan penggunaannya oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni, Sabtu (4/2/2017). Peresmian pasar yang dibangun dari dana Rp 10,4 miliar itu ditandai dengan pengguntingan pita dan penandatangan prasasti. Acara peresmian yang berlangsung sederhana juga dihadiri perwakilan FKPD dan para kepala SKPD.

Dalam kesempatan itu, Sri menyatakan, pembangunan Pasar Pagi itu dilakukan karena tempat yang selama ini dipakai pedagang dinilai sudah tidak layak untuk berjualan. Sebab, lokasinya sempit, sehingga terkesan semrawut . Selain itu, letaknya berada di tengah kota. Yakni, di sebelah timur Pasar Induk Purwodadi.

“Selain itu, lahan itu juga milik PT KAI sehingga sewaktu-waktu bisa diambil lagi oleh pemiliknya. Oleh sebab itu, kami berupaya menyediakan tempat yang lebih representatif buat pedagang,” jelasnya.

Pembuatan Pasar Pagi tersebut ditempatkan di atas lahan seluas 9.000 meter persegi yang berada di Jalan Gajah Mada. Pasar yang dibangun rekanan PT Reka Esti Utama ini nanti akan digunakan untuk memindahkan 901 pedagang yang ada di lahan milik PT KAI tersebut. 

Dalam pasar tersebut terdapat tempat jualan sebanyak 604 unit. Terdiri 72 unit kios berukuran 3 x 4 meter. Kemudian, ada 464 unit los kering berukuran 2 x 1,5 meter. Sedangkan 68 unit lagi disiapkan untuk los basahan dengan ukuran  2 x 1,5 meter. Selain itu ada sekitar 400 tempat lagi dipakai untuk pedagang yang berjualan di sepanjang jalan Banyuono. Pedagang ini ditempatkan pada lahan kosong yang masih tersedia dan lokasinya masih mencukupi.

“Setelah diresmikan, pedagang akan segera kita relokasi ke lokasi baru. Rencananya, relokasi akan kita mulai Minggu tanggal 5 Februari besok,” imbuh Kepala Disperindag Muryanto.

Editor : Akrom Hazami

 

Pasca Direlokasi, Pedagang Pasar Pagi Grobogan Diberi Toleransi Jualan di Tempat Lama

Sejumlah pejabat dari berbagai instansi terkait menggelar rakor persiapan pemindahan pedagang pasar pagi yang dipimpin Sekda Sugiyanto di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah pejabat dari berbagai instansi terkait menggelar rakor persiapan pemindahan pedagang pasar pagi yang dipimpin Sekda Sugiyanto di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Rencana pemindahan atau relokasi pedagang pasar pagi ke lokasi baru di jalan Gajah Mada Kabupaten Grobogan terus dimatangkan. Sejumlah instansi terkait bahkan sudah menggelar rakor persiapan pemindahan pedagang di ruang rapat Setda Grobogan lantai I, Selasa (24/1/2017).

Rakor dipimpin Sekda Grobogan Sugiyanto didampingi Asisten II Dasuki dan Kepala Satpol PP Bambang Panji. Rakor dihadiri pula Kepala Disperindag Muryanto, Kabag Perekonomian Anang Armunanto. Hadir pula perwakilan dari Dinas Perhubungan, dan Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan yang sekarang berubah nama jadi Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman.

Menurut Dasuki, dalam rakor sudah ditentukan jika peresmian pasar pagi yang sudah selesai dibangun akan dilangsungkan 4 Februari. Rencana peresmian oleh Bupati Sri Sumarni dan dihadiri para pimpinan FKPD.

Setelah peresmian, agenda selanjutnya adalah proses relokasi pedagang. Yakni, dari lokasi lama di kawasan bekas Stasiun Kereta Api Purwodadi ke Pasar Pagi baru di jalan Gajah Mada.

Proses pemindahan akan dilakukan sehari setelah peresmian, yakni Minggu 5 Februari. Pemindahan pedagang tidak dilakukan serempak tetapi akan dikerjakan bertahap selama beberapa hari. Hal itu dilakukan mengingat jumlah pedagangnya cukup banyak.

Setelah direlokasi, pedagang masih punya kesempatan jualan atau bersiap selama lima hari sampai 10 Februari. Setelah itu, semua pedagang dilarang lagi berjualan di tempat lama.

“Setelah tanggal 10 Februari, lokasi lama akan dijaga Satpoll PP. Tujuannya supaya pedagang tidak jualan lagi ditempat itu. Jadi kita beri toleransi lima hari,” katanya pada wartawan usai rakor.

Dijelaskan, jumlah pedagang keseluruhan ada 901 orang. Rinciannya, sebanyak 973 orang adalah pedagang di dalam kawasan bekas stasiun dan 928 orang merupakan pedagang di sepanjang jalan Banyuono.

Menurut Dasuki, pembangunan Pasar Pagi itu dilakukan karena tempat yang selama ini dipakai pedagang dinilai sudah tidak layak untuk berjualan. Sebab, lokasinya sempit, sehingga terkesan semrawut mengingat letaknya berada di tengah kota. Yakni, di sebelah timur Pasar Induk Purwodadi.

“Selain itu, lahan itu juga milik PT KAI sehingga sewaktu-waktu bisa diambil lagi oleh pemiliknya. Oleh sebab itu, kami berupaya menyediakan tempat yang lebih representatif buat pedagang,” jelasnya.

Pembuatan pasar dengan dana Rp 10,4 miliar ditempatkan di atas lahan seluas 9.000 meter persegi yang berada di Jalan Gajah Mada. Pasar yang dibangun rekanan PT Reka Esti Utama ini nanti akan digunakan untuk memindahkan 901 pedagang yang ada di lahan milik PT KAI tersebut. 

Dalam pasar tersebut terdapat tempat jualan sebanyak 604 unit. Terdiri 72 unit kios berukuran 3 x 4 meter. Kemudian, ada 464 unit los kering berukuran 2 x 1,5 meter. Sedangkan 68 unit lagi disiapkan untuk los basahan dengan ukuran  2 x 1,5 meter. Selain itu ada sekitar 400 tempat lagi dipakai untuk pedagang yang berjualan di sepanjang jalan Banyuono. Pedagang ini ditempatkan pada lahan kosong yang masih tersedia dan lokasinya masih mencukupi.

“Jadi, untuk pengundian tempat jualan yang sudah tersedia, tidak ada masalah. Baik, untuk kior, los kering maupun basahan sudah rampung,” imbuh Kepala Disperindag Muryanto.

Editor : Akrom Hazami

 

Woro-woro! Pasar Pagi Purwodadi Segera Diresmikan, Ini Jadwalnya

Ratusan pedagang pasar pagi di kawasan lahan PT KAI dalam waktu dekat akan direlokasi ke tempat baru di jalan Gajah Mada Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ratusan pedagang pasar pagi di kawasan lahan PT KAI dalam waktu dekat akan direlokasi ke tempat baru di jalan Gajah Mada Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses pengundian tempat jualan di Pasar Pagi Purwodadi sudah beberapa waktu lalu selesai dilakukan. Namun, hingga kini, rencana peresmian dan relokasi pedagang dari tempat lama ke pasar baru belum juga dilakukan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Muryanto ketika dimintai komentarnya menyatakan, rencana peresmian pasar pagi sudah disiapkan. Jika tidak ada kendala, peresmian akan dilakukan Bupati Sri Sumarni pada 4 Februari mendatang.

“Kita sudah siapkan beberapa alternatif untuk hari peresmian. Setelah kita sesuaikan dengan agenda bupati, dipilih hari Sabtu tanggal 4 Februari untuk acara peresmiannya. Rencana peresmian sudah kita bahas pula dengan komisi B DPRD Grobogan dan paguyuban pasar pagi,” katanya.

Setelah peresmian, agenda selanjutnya adalah proses relokasi pedagang. Yakni, dari lokasi lama di kawasan bekas Stasiun kereta api Purwodadi ke Pasar Pagi di jalan Gajah Mada.

Proses pemindahan akan dilakukan sehari setelah peresmian, yakni Minggu 5 Februari. Pemindahan pedagang tidak dilakukan serempak tetapi akan dikerjakan bertahap selama beberapa hari. Hal itu dilakukan mengingat jumlah pedagangnya banyak.

Menurutnya, pembangunan Pasar Pagi itu dilakukan karena tempat yang selama ini dipakai pedagang dinilai sudah tidak layak untuk berjualan. Sebab, lokasinya sempit, sehingga terkesan semrawut mengingat letaknya berada di tengah kota. Yakni, di sebelah timur Pasar Induk Purwodadi.

“Selain itu, lahan itu juga milik PT KAI sehingga sewaktu-waktu bisa diambil lagi oleh pemiliknya. Oleh sebab itu, kami berupaya menyediakan tempat yang lebih representatif buat pedagang,” jelas Muryanto.

Pembuatan pasar dengan dana Rp 10,4 miliar ditempatkan di atas lahan seluas 9.000 meter persegi yang berada di Jalan Gajah Mada. Pasar yang dibangun rekanan PT Reka Esti Utama ini nanti akan digunakan untuk memindahkan 901 pedagang yang ada di lahan milik PT KAI tersebut. 

Dalam pasar tersebut terdapat tempat jualan sebanyak 604 unit. Terdiri 72 unit kios berukuran 3 x 4 meter. Kemudian, ada 464 unit los kering berukuran 2 x 1,5 meter. Sedangkan 68 unit lagi disiapkan untuk los basahan dengan ukuran  2 x 1,5 meter. Selain itu ada sekitar 400 tempat lagi dipakai untuk pedagang yang berjualan di sepanjang jalan Banyuono. Pedagang ini ditempatkan pada lahan kosong yang masih tersedia dan lokasinya masih mencukupi.

“Jadi, untuk pengundian tempat jualan yang sudah tersedia, tidak ada masalah. Baik, untuk kior, los kering maupun basahan sudah rampung,” jelas Muryanto.

Editor : Akrom Hazami

Pengundian Tempat Jualan Rampung, Pasar Pagi Purwodadi Grobogan Segera Diresmikan

Para pedagang yang jualan di sepanjang jalan Banyuono sedang mengambil nomor undian, Pasar Pagi Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Selasa (10/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para pedagang yang jualan di sepanjang jalan Banyuono sedang mengambil nomor undian, Pasar Pagi Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Selasa (10/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pasar Pagi Purwodadi, Kabupaten Grobogan, dalam waktu dekat akan segera diresmikan. Hal itu ditegaskan Kepala  Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Muryanto saat memantau pelaksanaan undian tempat jualan pedagang lama yang lokasi berjualannya ada di jalan Banyuono, Selasa (10/1/2017).

“Peresmian akan dilakukan ibu bupati (Sri Sumarni). Kita masih koordinasi dengan bagian humas untuk menyesuaikan jadwal peresmiannya,” katanya.

Soal relokasi, akan dilakukan setelah proses peresmian dilakukan. Dijadwalkan, pada Februari sudah dilakukan relokasi secara serempak dari tempat lama ke lokasi pasar baru di jalan Gajah Mada.

Menurut Muryanto, pengundian tempat jualan hari ini merupakan tahapan terakhir yang dlakukan. Sebelumnya, sudah dilakukan proses pengundian tempat jualan yang berbentuk kios dan los.

Dalam pasar tersebut terdapat tempat jualan sebanyak 604 unit. Terdiri 72 unit kios berukuran 3 x 4 meter. Kemudian, ada 464 unit los kering berukuran 2 x 1,5 meter. Sedangkan 68 unit lagi disiapkan untuk los basahan dengan ukuran  2 x 1,5 meter.

“Jadi, untuk pengundian tempat jualan yang sudah tersedia, tidak ada masalah. Baik, untuk kior, los kering maupun basahan sudah rampung,” jelas Muryanto didampingi Kabid Perdagangan Sudarso.

Pembangunan Pasar Pagi tersebut dilakukan untuk memindahkan pedagang yang berjualan di lahan bekas Stasiun Kereta Api di jalan A Yani Purwodadi. Pembuatan pasar dengan dana Rp 10,4 miliar ditempatkan di atas lahan seluas 9.000 meter persegi yang berada di Jalan Gajah Mada. Pasar yang dibangun rekanan PT Reka Esti Utama ini nanti akan digunakan untuk memindahkan 901 pedagang yang ada di lahan milik PT KAI tersebut. 

Sementara itu, dari pantauan di lapangan, pelaksanaan pengundian tempat bagi 400-an pedagang berjalan lancar dan lebih tertib dibandingkan sebelumnya. Pelaksanaan undian kali ini dilakukan di dalam pintu masuk pasar. Ada empat meja yang disediakan untuk mengundi tempat jualan sehingga pelaksanaan jadi lebih cepat.

Para pedagang yang mengikuti undian diminta berada di luar pintu utama. Mereka baru boleh masuk lokasi undian setelah namanya diundang pihak panitia lewat pengeras suara. Pihak panitia juga menyediakan snack bagi pedagang yang sudah mengambil nomor undian.

“Untuk pedagang ini, akan ditempatkan pada lahan kosong yang masih tersedia dan lokasinya masih mencukupi. Pengkavelingan lokasinya sudah disesuaikan dengan jumlah pedagang,” imbuh Muryanto.

Ditambahkan, pembangunan Pasar Pagi itu dilakukan karena tempat yang selama ini dipakai pedagang dinilai sudah tidak layak untuk berjualan. Sebab, lokasinya sempit, sehingga terkesan semrawut mengingat letaknya berada di tengah kota. Yakni, di sebelah timur Pasar Induk Purwodadi.

“Selain itu, lahan itu juga milik PT KAI sehingga sewaktu-waktu bisa diambil lagi oleh pemiliknya. Oleh sebab itu, kami berupaya menyediakan tempat yang lebih representatif buat pedagang,” imbuh Muryanto.

Editor : Akrom Hazami

Pengundian Kios Pasar Pagi Kelar, tapi Rencana Relokasi Pedagang Belum Jelas

Para pedagang Pasar Pagi masih beraktivitas seperti biasa di lahan milik PT KAI di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para pedagang Pasar Pagi masih beraktivitas seperti biasa di lahan milik PT KAI di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pengundian kios pedagang Pasar Pagi Purwodadi akhirnya bisa dilakukan. Sebelumnya, proses pengundian pada Kamis (5/1/2017) tidak bisa tuntas menyusul adanya tudingan kurang transparannya pihak panitia saat melangsungkan undian.

“Soal pengundian kios sudah bisa dilakukan setelah para pedagang dan paguyuban duduk bersama. Jumlah kios keseluruhan ada 72 unit,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Muryanto.

Dalam pasar tersebut terdapat tempat jualan sebanyak 604 unit. Terdiri 72 unit kios berukuran 3 x 4 meter. Kemudian, ada 464 unit los kering berukuran 2 x 1,5 meter. Sedangkan 68 unit lagi disiapkan untuk los basahan dengan ukuran  2 x 1,5 meter.

“Jadi, untuk pengundian tempat jualan yang sudah tersedia, tidak ada masalah. Baik, untuk kior, los kering maupun basahan sudah rampung,” jelas Muryanto didampingi Kabid Perdagangan Sudarso.

Pembangunan Pasar Pagi tersebut dilakukan untuk memindahkan pedagang yang berjualan di lahan bekas Stasiun Kereta Api di jalan A Yani Purwodadi. Pembuatan pasar dengan dana Rp 10,4 miliar ditempatkan di atas lahan seluas 9.000 meter persegi yang berada di Jalan Gajah Mada. Pasar yang dibangun rekanan PT Reka Esti Utama ini nanti akan digunakan untuk memindahkan 901 pedagang yang ada dilahan milik PT KAI tersebut. 

Disinggung soal kapan para pedagang di relokasi ke tempat baru, Muryanto menyatakan belum bisa memastikan. Pihaknya masih perlu mempersiapkan banyak hal dengan instansi terkait lainnya sebelum memindahkan pedagang dari tempat lama.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan pengundian lagi untuk sekitar 300 pedagang yang belum kebagian tempat. Yakni, pedagang di tempat lama yang ada di kawasan Banyuono.

“Untuk pedagang ini, akan ditempatkan pada lahan kosong yang masih tersedia dan lokasinya masih mencukupi. Pengkavelingan lokasi baru kita lakukan sesuai jumlah pedagang. Mereka ini kebanyakan adalah pedagang yang jualannya dasaran di pinggir jalan. Habis pengundian ini, baru akan kita siapkan proses relokasinya,” jelasnya.

Ditambahkan, pembangunan Pasar Pagi itu dilakukan karena tempat yang selama ini dipakai pedagang dinilai sudah tidak layak untuk berjualan. Sebab, lokasinya sempit, sehingga terkesan semrawut mengingat letaknya berada di tengah kota. Yakni, di sebelah timur Pasar Induk Purwodadi.

“Selain itu, lahan itu juga milik PT KAI sehingga sewaktu-waktu bisa diambil lagi oleh pemiliknya. Oleh sebab itu, kami berupaya menyediakan tempat yang lebih representatif buat pedagang,” imbuh Muryanto.

Editor : Akrom Hazami

Dinilai Tak Transparan, Pengundian Kios Pasar Pagi Purwodadi Ditunda

Pedagang berkerumun di titik pengundian di Pasar Pagi Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Kamis (5/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pedagang berkerumun di titik pengundian di Pasar Pagi Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Kamis (5/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelaksanaan pengundian tempat berjualan para pedagang Pasar Pagi Purwodadi yang digelar Kamis (5/1/2017) tidak bisa tuntas. Khususnya untuk pengundian kios pasar yang dinilai kurang transparan. Akibatnya, pengundian kios bagi pedagang ini dihentikan dan ditunda pelaksanaannya di hari lain.

“Khusus untuk pengundian kios kita pending dulu. Para pedagang yang dapat jatah kios rencananya akan kita kumpulkan dulu, Sabtu lusa,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Muryanto.

Pembangunan Pasar Pagi tersebut dilakukan untuk memindahkan pedagang yang berjualan di lahan bekas Stasiun Kereta Api di jalan A Yani Purwodadi. Pembuatan pasar dengan dana Rp 10,4 miliar ditempatkan di atas lahan seluas 9.000 meter persegi yang berada di Jalan Gajah Mada. Pasar yang dibangun rekanan PT Reka Esti Utama ini nanti akan digunakan untuk memindahkan 901 pedagang yang ada di lahan milik PT KAI tersebut.

Dalam pasar tersebut terdapat 72 unit kios berukuran 3 x 4 meter. Kemudian, ada 464 unit los kering berukuran 2 x 1,5 meter. Sedangkan 68 unit lagi disiapkan untuk los basahan dengan ukuran  2 x 1,5 meter.

“Untuk pengundian los, baik los kering maupun basahan sudah rampung. Tinggal pengundian kios saja sebanyak 72 unit yang kita tunda dulu,” jelas Muryanto didampingi Kabid Perdagangan Sudarso.

Menurut Muryanto, ditundanya pengundian kios sebenarnya bukan disebabkan kurang transparan dalam pelaksanaannya. Tetapi lebih disebabkan adanya beberapa rumor yang diterima pedagang.

Misalnya, ada rumor menyatakan kalau ada satu pedagang yang dapat jatah dua kios. Kemudian, ada tukang becak yang dapat jatah kios. Kemudian, muncul pula isu kalau ada yang bayar Rp 25 juta untuk mendapatkan kios.

“Kabar-kabar tersebut sebenarnya hanya omong kosong saja. Oleh sebab itu, kami akan kumpulkan pedagang terlebih dahulu untuk diberi penjelasan. Setelah itu, baru kita lakukan pengundian biar tidak timbul rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tegas Muryanto.

Dari pantauan di lapangan, pelaksanaan pengundian sempat dikeluhkan banyak pedagang. Sebab, tempatnya dilakukan di depan ruang kantor Pasar Pagi Purwodadi yang lokasinya cukup sempit. Akibatnya, para pedagang terlihat saling berdesakan untuk mengambil kupon undian.

“Harusnya lokasi undian ditaruh di dalam pasar yang tempatnya luas sehingga tidak perlu untel-untelan seperti ini. Kalau seperti ini, kasihan pedagang yang sudah sepuh karena ikut berdesak-desakan,” cetus salah seorang pedagang yang mengaku bernama Sutriman itu.

Editor : Akrom Hazami

Pembangunan Pasar Pagi Purwodadi Grobogan Akhirnya Rampung

Warga tampak melakukan aktivitas di depan Pasar Pagi Purwodadi yang akan dipakai untuk merelokasi ratusan pedagang di kawasan bekas stasiun kereta api. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga tampak melakukan aktivitas di depan Pasar Pagi Purwodadi yang akan dipakai untuk merelokasi ratusan pedagang di kawasan bekas stasiun kereta api. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Salah satu mega proyek di Grobogan tahun 2016, yakni pembangunan Pasar Pagi Purwodadi, akhirnya berhasil selesai tepat waktu. Dengan selesainya pembangunan pasar ini maka para pedagang yang sebelumnya berjualan di kawasan bekas lahan bekas stasiun kereta api Purwodadi sudah siap dipindahkan ke tempat baru.

“Proyek pembangunan Pasar Pagi Purwodadi rampung 18 Desember lalu. Pihak rekanan berhasil menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan kontrak kerja,” kata Kepala Disperindagtamben Grobogan Muryanto melalui Kasi Distribusi dan Perlindungan Konsumen Sudarso, Kamis (29/12/2016).

Pembangunan Pasar Pagi Purwodadi tersebut dikerjakan PT Reka Esti Utama yang berasal dari Semarang. Total dana yang dialokasikan untuk pembangunan pasar di Jalan Gajah Mada Purwodadi ini senilai Rp 10,4 miliar.

Pembangunan Pasar Pagi tersebut dilakukan untuk memindahkan pedagang yang berjualan di lahan bekas Stasiun Kereta Api di Jalan A Yani Purwodadi. Pembuatan pasar dilakukan di atas lahan seluas 9.000 meter persegi. Pasar ini akan digunakan untuk lokasi pemindahan 900-an pedagang yang ada dilahan milik PT KAI tersebut. 

Menurut Sudarso, dalam pasar tersebut terdapat 72 unit kios berukuran 3 x 4 meter. Kemudian, ada 464 unit los kering berukuran 2 x 1,5 meter. Sedangkan 68 unit lagi disiapkan untuk los basahan dengan ukuran  2 x 1,5 meter.

“Jumlah pedagang keseluruhan sekitar 900 orang. Untuk pedagang lainnya, akan ditempatkan di lapak pada lahan kosong yang masih tersedia,” katanya.

Untuk pemindahan pedagang, kemungkinan akan dilakukan setelah acara peresmian pasar yang direncanakan pada Januari 2017. Untuk penempatan lokasi, nanti akan dilakukan dengan cara undian yang disesuaikan dengan pengelompokan pedagang.

“Untuk penentuan lokasi nanti akan dibahas lebih lanjut dengan berbagai pihak terkait lainnya. Yang pasti, gedung yang baru sudah siap dipakai untuk pemindahan pedagang,” imbuhnya.

Sementara itu, Asisten II Pemkab Grobogan dalam kesempatan sebelumnya menyatakan, tempat yang selama ini dipakai pedagang dinilai sudah tidak layak untuk berjualan.

Sebab, lokasinya sempit, sehingga terkesan semrawut mengingat letaknya berada di tengah kota. Yakni, di sebelah timur Pasar Induk Purwodadi.

Selain itu, lahan itu juga milik PT KAI sehingga sewaktu-waktu bisa diambil lagi oleh pemiliknya. Oleh sebab itu, kami berupaya menyediakan tempat yang lebih representatif buat pedagang.

Editor : Akrom Hazami