Tak Setuju Perda Toko Modern Disahkan, Dewan Grobogan dari PKB Pilih Keluar Sidang

Anggota fraksi PKB DPRD Grobogan bersiap meninggalkan ruang rapat paripurna setelah menyatakan walk out. (MuriaNewsCom/Grobogan)

MuriaNewsCom, Grobogan – Aksi walk out mewarnai jalannya rapat paripurna DPRD Grobogan, Selasa (15/8/2017). Dalam rapat tersebut tujuh anggota fraksi PKB memilih meninggalkan ruangan saat akan dilakukan pengambilan persetujuan secara voting mengenai Raperda tentang Penataan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

Sebelumnya, rapat paripurna yang dihadiri Bupati Grobogan Sri Sumarni itu sempat diskors selama hampir 1 jam karena fraksi PKB menyatakan penolakan. Dalam masa skors dilakukan pembicaraan antara pimpinan dewan, ketua fraksi, dan anggota Pansus I di ruang rapat paripurna II.

Namun pembicaraan dalam masa skorsing gagal mencapai titik temu. Akhirnya, rapat dilanjutkan untuk mengambil keputusan secara voting. Sebelum voting dilakukan, anggota Fraksi PKB Sukanto meminta izin bicara untuk menyatakan sikap walk out.

Wakil Ketua DPRD Grobogan dari PKB HM Nurwibowo yang sebelumnya duduk di deretan pimpinan juga ikut pula keluar. Ketujuh anggota dewan dari PKB ini keluar ruangan melalui pintu timur.

Selain raperda terkait toko modern, dalam rapat paripurna itu juga membahas persetujuan dua raperda lainnya. Yakni, raperda tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan dan raperda tentang Retribusi Jasa umum. Dalam kata akhir, semua fraksi sepakat menyetujui dua raperda ini.

Menurut Nurwibowo, sikap walk out itu dilakukan karena beberapa alasan. Antara lain, pihak eksekutif tidak mau melakukan kajian ekonomis terlebih dahulu terkait penataan toko modern. Terutama, soal pembatasan jumlah toko modern yang boleh berdiri di tiap kecamatan.

“Sebelumnya, kami sudah minta agar dilakukan kajian ekonomis dulu. Tujuannya, supaya hasil pembahasan bisa lebih baik lagi dengan adanya kajian ekonomis,” terangnya.

Alasan lainnya, terkait adanya pengurangan kuota jumlah toko modern di Kecamatan Brati, Ngaringan, Geyer, dan Kedungjati. Sebaliknya, di beberapa kecamatan justru ada penambahan kuota. Penambahan kuota di beberapa kecamatan itu disinyalir ada unsur titipan guna mengakomodir kepentingan beberapa pihak.

“Jumlah toko modern yang disepakati boleh berdiri hanya 62 unit di seluruh kabupaten. Soal jumlah ini sebenarnya kami tidak masalah. Hanya ada pengurangan dan penambahan di beberapa kecamatan yang kita persoalkan. Apalagi penentuan itu tanpa ada kajian ekonomis,” tegasnya.

Ia menambahkan, perubahan perda yang dibahas ini sebenarnya punya tujuan untuk keadilan ekonomi. Sebab, peraturan ini dibahas untuk menyempurnakan perda sebelumnya, setelah toko modern menjamur.

Editor : Ali Muntoha

Duh, Piutang Angsuran Pasar Tradisional di Jepara Capai Rp 13 Miliar

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Jepara Dwi Riyanto. (MuriaNewsComWahyu KZ)

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Jepara Dwi Riyanto. (MuriaNewsComWahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Ternyata beberapa pasar tradisional masih memiliki piutang angsuran. Jumlahnya cukup fantastis, karena dari depalan pasar yang masih memiliki piutang mencapai Rp 13 miliar lebih.

Hal itu seperti yang dikemukakan oleh Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Jepara Dwi Riyanto. Menurut dia, piutang angsuran delapan pasar tradisional yang dikelola Pemkab Jepara jumlahnya sangat besar. Piutang tersebut akibat tunggakan angusuran yang tidak dibayar pedagang untuk sewa kios.

”Jumlah Rp 13 miliar itu merupakan tunggakan pedagang dari sejak delapan pasar tradisional beroperasi sesuai dengan waktu operasional masing-masing,” ujar Dwi Riyanto kepada MuriaNewsCom, Selasa (17/5/2016).

Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi tersebut merupakan masalah yang pelik bagi dirinya yang baru menjabat di Dinas tersebut. Bahkan, kata dia, hal itu sudah menjadi bidikan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) karena jumlahnya sangat besar.

Dari jumlah piutang yang terdata itu, lanjutnya, tunggakan terbesar berada di Pasar Ratu yang mencapai Rp 7,748 miliar lebih yang dihitung sejak operasional pada 2006 lalu.

Dilanjutkan dengan Pasar Mayong sebesar Rp 2,6 miliar lebih yang angsurannya dihitung mulai tahun yang sama, Pasar Mindahan Kecamatan Batealit sebesar Rp 802 lebih mulai 2009, Pasar Lebak Kecamatan Pakis Aji sebanyak Rp 185 juta lebih terhitung mulai 2006, Pasar Tanggulasi Kecamatan Donorojo sebesar Rp 78,5 juta lebih mulai 2006, Pasar Ngabul Kecamatan Tahunan Rp 50,7 juta lebih mulai 2006, Pasar Kalinyamatan Rp 50 juta lebih mulai 2003, dan Pasar Tahunan sebanyak Rp 14,7 juta lebih mulai 2002 silam.

Editor: Supriyadi

Pasar Lokal Lesu, Bandeng Juwana Akhirnya Diekspor ke Jepang dan Tiongkok

Panen raya bandeng di suatu tambak, Desa Sambilawang, Trangkil, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Panen raya bandeng di suatu tambak, Desa Sambilawang, Trangkil, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Permintaan bandeng Juwana di sejumlah pasar lokal saat ini melesu. Salah satu penyebabnya, stok bandeng melebihi permintaan pasar, berbarengan dengan ekonomi yang diakui semakin sulit.

Stok bandeng yang berlebih akhirnya diekspor ke sejumlah negara, seperti Singapura, Jepang, dan Tiongkok. Nilai jual bandeng pun menurun, karena petani belum bisa melakukan ekspor secara langsung.

Mereka biasanya menjual ke pabrik yang melakukan ekspor bandeng. Sementara itu, pabrik membeli bandeng dari petani dengan harga di bawah standar. Bila harga bandeng berkisar di angka Rp 13 ribu per kg, pabrik membelinya dengan harga Rp 11 ribu.

“Saat pasar lokal lesu begini, kelebihan stok bandeng yang dipanen dari tambak dilempar ke pabrik. Dari pabrik, bandeng itu nantinya diekspor ke sejumlah negara yang membutuhkan bandeng,” kata Tamzis Al Annas, petani bandeng Juwana, Sabtu (7/5/2016).

Karena itu, ia berharap agar pemerintah bisa memfasilitasi petani supaya bisa ekspor sendiri. Dengan begitu, harga jual bandeng dari petani yang rendah saat dijual ke pabrik ekspor bisa diantisipasi.

Editor: Supriyadi

Bupati Baru, Tiga Pasar Tradisional di Rembang Akan Diperbaharui dengan Tampilan Modern

Pasar Sarang, salah satu pasar di Kabupaten Rembang yang akan direnovasi pada tahun 2016 ini. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Pasar Sarang, salah satu pasar di Kabupaten Rembang yang akan direnovasi pada tahun 2016 ini. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pemkab Rembang akan melakukan renovasi terhadap tiga pasar yang berada di wilayah kabupaten setempat. Tiga pasar yang dimaksud, yaitu Pasar Sarang, Pasar Pandangan, dan Pasar Lasem.

Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Rembang, Abdul Hafidz. Menurutnya, ketiga pasar itu akan segera direnovasi pada tahun 2016 dengan total anggaran mencapai Rp 21 miliar lebih. ”Insya Allah, mulai april nanti kita genjot renovasi tiga pasar tersebut,” ujarnya.

Rinciannya, lanjut Hafidz, renovasi Pasar Sarang dilakukan secara total dengan anggaran sekitar Rp 10 miliar. Sedangkan Pasar Lasem direnovasi dengan anggaran Rp 2,2 miliar. Sedangkan untuk Pasar Pandangan, dianggarkan dari dua sumber pendanaan, yakni Dana Alokasi Khusus (DAK) dan bantuan Pemprov Jateng dengan total Rp 9,2 miliar.

”Untuk anggaran Pasar Sarang 10 miliar. Kalau Pasar Lasem yang sempat tertunda, anggarannya 2,2 miliar. Sedangkan untuk Pasar Pandangan, dari DAK ada 3,7 miliar dan dari Provinsi 5,5 miliar,” beber Hafidz.

Hafidz menyebut, pembangunan ketiga pasar tersebut menggunakan konsep tradisional semi modern. Yakni dengan menjual produk lokal namun secara tampilan dan kebersihan sudah beda dengan pasar tradisional pada umumnya.

”Dari ketiga pasar itu, kami akan memulai membuat pasar-pasar tradisional semi modern. Jadi, isinya merupakan produk lokal tapi tampilan dan kebersihannya konsep modern, bersih dan tidak kumuh,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pasar Tradisionl Jepara Kumuh, Begini Cara Menyulapnya jadi Ciamik

Warga melintas di salah satu pasar tradisional di Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Warga melintas di salah satu pasar tradisional di Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Jepara melakukan upaya perbaikan pasar. Namun, perbaikan hanya bersifat pemeliharaan saja, untuk menjaga kebersihan dan kerapian pasar tradisional yang masih kumuh.

“Hampir semua pasar di Kabupaten Jepara yang dilakukan pemeliharaan. Tetapi ada beberapa pasar yang menjadi skala prioritas seperti pasar Mlonggo, Jepara satu dan dua serta Kalinyamatan,” ujar Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Dwi Riyanto kepada MuriaNewsCom, Senin (14/12/2015).

Menurut dia, perbaikkannya memang bersifat kecil, seperti pengecatan ulang pada tembok dan perbaikkan atap yang mungkin bocor. Sebab, menurut dia, untuk perbaikan besar-besaran dan pembangunan bukan menjadi tanggung jawabnya.

“Biasanya selama ini kalau untuk perbaikan besar dilakukan oleh Dinas Ciptakarya dan Tata ruang, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan,” ungkapnya.

Sementara yang dilakukan olehnya hanya perbaikan kecil, seperti pengecatan ulang pada tembok dan perbaikkan atap yang mungkin bocor. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Penataan Jaringan Listrik Pasar Diajukan Dalam APBD 2016

Salah satu pasar tradisional di Kudus. Saat ini, instalasi listrik di pasar yang ada di Kudus masih banyak yang semrawut (MuriaNewsCom)

Salah satu pasar tradisional di Kudus. Saat ini, instalasi listrik di pasar yang ada di Kudus masih banyak yang semrawut (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar, Sudiharti mengaku pihaknya memang sudah merencanakan penataan jaringan listrik di sejumlah pasar. Rencananya, penataan jaringan listrik tersebut akan diajukan dalam APBD 2016 mendatang.

Sama halnya, penyediaan hydrant rencananya juga akan dialokasikan pada tahun depan. Sebab, saat ini baru ada dua pasar yang memiliki hydrant memadai yakni Pasar Kliwon dan Pasar Bitingan.

”Mungkin secara bertahap seluruh pasar akan dibuatkan hydrant sebagai antisipasi terjadinya kebakaran,” tandasnya.

Lebih lanjut, menurut Sudiharti, saat ini ada 22 pasar tradisional di Kabupaten Kudus yang tengah direvitalisasi. Total, ada Rp 24 miliar lebih dana yang digelontorkan untuk pembangunan pasar ini.

”Melalui revitalisasi ini, saya ingin semua pasar tradisional yang ada di Kudus tidak lagi menjadi pasar yang kumuh dan jorok tapi berubah menjadi pasar yang bersih dan nyaman,” tukasnya. (MERIE/KHOLISTIONO)

Pedagang Inginkan Ada Pengembangan Kualitas Pasar Tradisional

Pasar tradisional pusat kerajinan Kalinyamatan yang mangkrak akibat tidak ada pengembangan dan keseriusan (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pasar tradisional pusat kerajinan Kalinyamatan yang mangkrak akibat tidak ada pengembangan dan keseriusan (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Sejumlah pedagang pasar tradisional di Kabupaten Jepara berharap agar pemerintah melakukan pengembangan dan perbaikan yang optimal pada pasar tradisional. Agar dapat bersaing dengan pasar maupun toko modern yang merebak di sejumlah wilayah di Jepara.

Hal itu diungkapkan Ketua Paguyuban Pasar Kalinyamatan Jepara, Masri. Menurut dia, selama ini pengembangan pasar tradisional cenderung mandek. Sehingga para pedagang berharap agar ada pengembangan dan perbaikan yang berkelanjutan.

”Harapannya juga pemerintah harus cepat merespon gejala masyarakat. Perilaku masyarakat yang sudah banyak beralih kepada pasar atau toko modern itu, menandakan pasar tradisional sudah harus dilakukan revitalisasi,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, pemerintah serta stakeholder yang ada harus mampu menciptakan inovasi dalam pasar tradisional, agar tak kalah bersaing dengan pasar modern yang kini merebak. Namun demikian, pihaknya tak menyepakati terlalu menjamurnya minimarket di Jepara. Pemerintah harus dapat mengatur dan membatasi.

”Makanya, dalam pembahasan terkait Ranperda tentang pasar di DPRD Jepara, kami berharap ada upaya yang serius untuk melindungi pasar tradisional,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Pedagang Sebut Pemkab Jepara Abaikan Pengembangan Pasar Tradisional

Pasar tradisional pusat kerajinan Kalinyamatan yang mangkrak akibat tidak ada pengembangan dan keseriusan (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pasar tradisional pusat kerajinan Kalinyamatan yang mangkrak akibat tidak ada pengembangan dan keseriusan (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ditengah membanjirnya keberadaan toko modern di Kabupaten Jepara,justru pengembangan bagi pasar tradisional dinilai mandek. Hal ini tentu saja semakin membuat daya saing antara pasar tradisional dengan toko maupun pasar modern melemah.

Hal itu dikatakan Ketua Paguyuban Pasar Kalinyamatan Jepara Masri. Menurutnya, pengembangan bagi pasar-pasar tradisional yang ada di Jepara sangat minim, bahkan, dia menganggap mandek. Sebab, rata-rata kondisi pasar tradisional sejak dibangun kali pertama hingga saat ini kondisinya masih sama.

“Pemerintah seolah hanya membangun saja, tapi pengembangannya mandek. Tidak ada pengembangan maupun perbaikan yang berkelanjutan,” ujar Masri kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, kemandegan tersebut dapat dilihat dari sisi barang dagangan hingga suasana pasar yang kurang nyaman. Padahal, jika ingin bersaing dengan toko maupun pasar modern harus ada perbaikan, inovasi dan evaluasi yang berkelanjutan.

“Saya mencontohkan di Pasar Kalinyamatan sendiri saja. Disini, kondisinya masih sama dengan awal pasar ini dibangun,” ungkapnya.

Dia menyampaikan, stagnasi yang terjadi dalam dunia pasar tradisiona itu membuat situasi makin sulit bagi para pedagang. “Pembeli di pasar tradisional adalah masayarakat atau pengecer, dan pelaku bisnis pertokoan. Namun, bisnis pertokoan itu juga sepi karena sudah banyak berdiri mini market yang menjadi pesaing mereka,” katanya.

Pasar tradisioal yang kalah bersaing itu, berdampak pada tidak diminati oleh masyarakat. Ia menyebutkan mangkraknya pasar kerajinan di Kalinyamatan karena tidak diminati oleh masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah membiarkan toko modern tumbuh subur di berbagai tempat. Lagi pula, katanya, barang yang dijajakan adalah produk-produk luar negeri. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Warga ’Tercekik’ Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Tradisional Kudus

Warga tampak melintas di depan Pasar Bitingan Kudus. Di pasar itu, harga kebutuhan masih tinggi. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Warga tampak melintas di depan Pasar Bitingan Kudus. Di pasar itu, harga kebutuhan masih tinggi. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Harga sejumlah kebutuhan bahan pokok di Kabupaten Kudus ternyata masih tinggi. Kondisi demikian membuat warga mengeluh.

Pantauan MuriaNewsCom, berbagai kebutuhan pokok di Pasar Bitingan Kudus terasa mahal. Misalnya, 1 kilogram (Kg) daging sapi masih berada di angka Rp 100 ribu. Satu sisir pisang raja masih seharga Rp 25 ribu. Selain itu, 1 kg bawang merah berada di angka Rp 20 ribu per kg.

Tingginya harga bahan pokok ini ditanggapi salah satu warga,  Linda, warga perumahan Muria Indah Kudus. Dia merasa harga kebutuhan masih memberatkan warga lantaran tingginya harga. ”Harga kebutuhan pokok masih terasa tinggi,” katanya.

Meski komoditas buah dan bawang merah juga dinilai masih tinggi. Namun, masyarakat tetap membeli untuk kebutuhan makanan. (HANA RATRI/AKROM HAZAMI)

Lani Tak tahu Ikan Jualannya Mengandung Formalin

Lani (kanan) mengaku tidak tahu jika dganganya mengandung formalin saat di datangi dinas kesehatan. (MURIANEWS/PRIYO)

Lani (kanan) mengaku tidak tahu jika dganganya mengandung formalin saat di datangi dinas kesehatan. (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora Bersama Pihak Satpol PP dan Kepolisian Polsek Jepon menggelar razia di pasar tradisional Kecamatan Jepon. Kegiatan razia pasar ini dilakukan untuk mengetahui sejumlah kondisi barang yang ada di pasar tradisional tersebut. Lanjutkan membaca

Di Pasar Tradisional Blora Ditemukan Ikan Berformalin yang Berasal dari Pati

f-formalin (e)

Petugas Dinkes Blora menunjukan hasil pengecekan cepat pada ikan yang mengandung formalin. (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA – Sidak yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora di pasar tradisional Jepon menemukan adanya ikan laut yang mengandung formalin yang dijual oleh salah satu pedagang. Lanjutkan membaca