Blora Contek Pariwisata Banyuwangi yang Maju Pesat

Wakil Blora Arief Rohman saat melakukan kunjungan di Kabupaten Banyuwangi, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Blora – Pemerintah Kabupaten Blora merencanakan untuk mendatangkan tim dari pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tujuannya untuk menjalin kerja sama yang berkaitan dengan E-Government khususnya di sektor pariwisata.

Demikian hal itu disampaikan oleh Wakil Blora Arief Rohman, pada saat melaksanakan kunjungan kerja, mewakili Bupati Blora Djoko Nugroho, di Pemkab Banyuwangi, beberapa waktu lalu.

“Kedatangan kami dari  Kabupaten Blora ke Kabupaten Banyuwangi untuk silaturahmi dan menimba ilmu, khususnya terkait program pengelolaan destinasi wisata. Segera akan saya koordinasikan dengan Bapak Bupati, mendatangkan tim dari Pemkab Banyuwangi untuk menyampaikan paparan di Blora. Utamanya terkait E-Government,” kata Arief dikutip web resmi Pemkab Blora.

Wabup menilai, Pemkab Banyuwangi telah berhasil mengembangkan potensi kearifan lokal, seni budaya dan pariwisata sebagai pontensi unggulan. Bahkan didukung dengan even.

Asisten Setda Banyuwangi Bidang Pembangunan dan Kesra Agus Siswanto mewakili Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menemui Arief di rumah dinas setempat.

“Sebagaimana arahan Bapak Bupati Banyuwangi, komunikasi dan kerja sama lintas OPD mendorong tercapainya target yang diharapkan dan menghilangkan ego sektoral,” kata Agus.

Di tempat yang sama, Kepala Bappeda Banyuwangi, Suyanto Tondo Waspodo, dalam arahannya mempersilahkan Pemkab Blora untuk mencontek program di wilayahnya.

“Kami persilakan Pemkab Blora untuk meng-copy-paste program-program pemerintahan yang dinilai bermanfaat untuk Blora. Tidak perlu bayar. Gratis saja. Tetapi harus ada MOU antara Bapak Bupati Banyuwangi dan Blora,” kata Suyanto.

Editor : Akrom Hazami

 

Resmikan Hotel Bintang 3, Bupati Grobogan Berharap Bisa Berdampak pada Sektor Pariwisata

 

Bupati Grobogan Sri Sumarni didaulat untuk menggunting pita saat soft opening hotel Front One Purwodadi, Kamis (26/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus) 

Bupati Grobogan Sri Sumarni didaulat untuk menggunting pita saat soft opening hotel Front One Purwodadi, Kamis (26/1/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni memberikan apresiasi dan penghargaan yang cukup tinggi seiring munculnya hotel bintang tiga di kota Purwodadi. Sebab, munculnya hotel yang representatif diyakini akan membawa dampak positif dalam bidang pariwisata.

“Saya salut dengan adanya pendirian hotel selevel bintang 3 di sebuah kota kecil seperti Purwodadi. Harapan saya, kehadiran hotel ini bisa membawa dampak positif, khususnya bagi bidang pariwisata,” kata Sri Sumarni saat menghadiri acara soft opening Hotel Front One Purwodadi, Kamis (26/1/2017).

D isamping itu, keberadaan hotel di satu sisi juga akan menekan angka pengangguran. Sebab, ada cukup banyak tenaga kerja lokal yang terserap jadi karyawan.

Selain itu, hadirnya hotel akan membuat gairah baru bagi pelaku usaha kecil. Seperti pembuat oleh-oleh khas Grobogan yang nantinya akan dibutuhkan para tamu hotel.

“Satu hal lagi, keberadaan hotel ini juga berkontribusi  dalam peningkatan pendapatan asli daerah. Seperti dari pajak hotel dan restoran serta retribusi jasa usaha,” katanya.

Menurut Sri, selama ini masih ada sebagian masyarakat yang berpandangan bahwa hotel dikonotasikan sebagai tempat untuk kegiatan negatif. Oleh karena itu, manajemen Hotel Front One diminta harus menjadi teladan dan dapat meluruskan fungsi hotel sebagaimana mestinya.

Dalam kesempatan itu, Sri menegaskan, pihaknya membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pemilik modal untuk berinvestasi di Kabupaten Grobogan. Ia menjanjikan akan memberikan kemudahan perizinan bagi para investor sepanjang memenuhi persyaratan dan ketentuan peraturan yang berlaku.

Selain bupati, sejumlah pejabat ikut hadir pula dalam soft opening hotel di Jalan Gajah Mada itu. Antara lain, Ketua DPRD Grobogan Agus Siswanto, Kapolres AKBP Agusman Gurning, Kajari Edi Handojo, dan Kepala BPPT Nur Ikhsan.

Hotel yang dibuat dengan konsep minimalis terdiri dari tiga lantai dan memiliki 40 kamar. Selain itu, berbagai fasilitas juga terdapat dalam hotel yang pengelolaan manajemennya di bawah naungan Azana Hotels & Resorts tersebut. Seperti kolam renang mini untuk tamu hotel.

“Kita ada restoran dan ruang pertemuan berkapasitas 200 kursi. Hal ini tentunya jadi pilihan bagi tamu yang ingin bikin acara bisnis atau gathering sosial. Selain itu, areal parkir yang luas memungkinkan kami menerima tamu dalam jumlah banyak,” ungkap CEO Azana Hotels & Resort Dicky Sumarsono didampingi General Manager Hotel Front One Purwodadi Bagus Saputro saat jumpa pers.

Editor : Akrom Hazami

Mandi di 7 Sumber Mata Air, Semar Tinggalkan Dua Batu Raksasa yang jadi Gua Sempol Seno

Seorang fotografer melihat Gua Sempol Seno yang masih asing baginya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang fotografer melihat Gua Sempol Seno yang masih asing baginya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Gua Sempol Seno yang berada di persimpangan jalan Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, Pati menyimpan sejuta cerita yang diyakini warga setempat. Mulut gua menghadap barat, berada di sekitar 150 meter dari Gua Wareh.

Ashari, warga Desa Kedumulyo RT 1 RW 4 mengatakan, suatu ketika Semar yang dikenal Nusantara sebagai dewa dalam tokoh pewayangan akan mandi di tujuh sumber mata air yang ada di Pegunungan Kendeng.

Salah satu sumber yang dituju, di antaranya Gua Wareh. Usai mandi di Gua Wareh, Semar membawa dua batu di kedua tangannya. Setelah berjalan tak jauh dari Gua Wareh, fajar ternyata mulai menyingsing.

“Semar akhirnya melepaskan dua batu itu dan mengurungkan niatnya untuk menuju sumber mata air selanjutnya. Dua batu yang dilepaskan itu menjadi dua gua. Satu bernama Gua Sempol Seno karena bentuknya mirip paha Bima. Kedua, bernama Gua Gendingan yang juga tak jauh dari Gua Sempol Seno,” kata Ashari saat bincang-bincang dengan MuriaNewsCom, Sabtu (23/4/2016).

Sayangnya, gua yang diyakini peninggalan Semar itu tak terawat. Warga Pati sendiri pun tak banyak tahu bila daerah pegunungan Kendeng memiliki sejumlah gua yang menawan.

Melandi Kurnia Putra, misalnya. Fotografer asal Pati itu menyayangkan minimnya pengelolaan aset daerah yang mestinya bisa menjadi daya tarik wisata.

“Guanya cukup bagus, berada di persimpangan jalan desa. Sayangnya, kondisi gua terkesan tidak terawat. Apalagi, ada beberapa coretan tangan-tangan jahil yang merusak kesan alami dari sebuah gua,” tukasnya.

Editor : Akrom Hazami

Jalan-jalan ke Gua “Sempol Seno” Peninggalan Semar di Kedumulyo Pati

uplod jam 20 tempat wisata gua sempol (e)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tak ada yang mengira bila jarak 150 meter dari Gua Wareh di Desa Kedumulyo, Sukolilo, terdapat gua yang diyakini warga setempat sebagai peninggalan Semar. Bentuknya yang mirip paha tokoh pewayangan Bima, membuat gua ini dinamakan warga setempat sebagai Sempol Seno.

Sejumlah warga juga mengenal gua ini dengan Gua Telemburan. Kondisinya yang tak terawat membuat gua hasil kekayaan Pegunungan Kendeng ini sepi pengunjung.

Ashari, warga setempat kepada MuriaNewsCom, Sabtu (23/4/2016) mengatakan, pengunjung rata-rata sekadar mampir setelah menikmati sejuknya udara di Gua Wareh. Gua Sempol Seno inipun akhirnya tak pernah jadi jujugan utama.

“Pengunjung biasanya mampir, setelah dari Gua Wareh. Rata-rata pengunjung masih dari warga sekitar, lokal Pati, dan sejumlah daerah lain seperti Grobogan, Kudus, dan Jepara,” tutur Ashari.

Ada yang berbeda antara Gua Wareh dan Gua Sempol Seno. Gua yang berada di persimpangan jalan desa ini lebih kering dengan langit-langit gua yang mengembun. Beda halnya Gua Wareh yang kaya akan air jernih menetes dari atas langit gua dengan derasnya.

Warga setempat pun tak sanggup bila harus merawat Gua Sempol Seno, karena keterbatasan anggaran dan ide wisata. Mereka lebih memilih membiarkan gua itu apa adanya.

Editor : Akrom Hazami

Paket Wisata Sehari di Pati Dikembangkan untuk Umum

Guide lokal mengarahkan peserta "One Day Exotic Tour" di Waduk Gunung Rowo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Guide lokal mengarahkan peserta “One Day Exotic Tour” di Waduk Gunung Rowo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Paket wisata sehari di Pati bertajuk “One Day Pati Exotic Tour” yang saat ini melayani pelajar, rencananya akan dikembangkan untuk umum. Hal itu untuk mempromosikan objek wisata Pati yang selama ini belum banyak dikenali warganya sendiri.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Pemuda Olahraga (Disbudparpora) Pati Sigit Hartoko mengatakan, Pati selama ini banyak menyumbangkan wisatawan ke luar daerah. Dengan adanya ekspansi tersebut, warga Pati sendiri diharapkan bisa mencintai objek wisata yang ada di daerahnya.

“Awalnya, sasaran utama One Day Exotic Tour adalah siswa tingkat TK dan SD. Itu hasil kerja sama dengan Dinas Pendidikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta biro perjalanan. Namun, tidak menutup kemungkinan akan membuka layanan untuk umum,” ujar Sigit.

Hal itu diamini Direktur Naura Tour, Shinta Amarawati Widyaningrum yang bekerja sama dengan pemkab untuk melayani program One Day Exotic Tour. Pihaknya membuka peluang untuk masyarakat umum yang ingin mengikuti program wisata sehari di Pati.

“Untuk mengikuti program ini, minimal 16 orang. Masing-masing orang dikenakan biaya Rp 85 ribu. Itu sudah termasuk fasilitas, seperti welcome drink di Kebun Jolong, makan siang prasmanan di Waduk Gunung Rowo, Dawet Pesantenan di Genuk Kemiri, serta voucher makanan dan minuman di Pasar Pragola,” tutur Shinta.

Saat menjelajah ke sejumlah tempat wisata, wisatawan akan dipandu guide lokal untuk mendapatkan beragam panduan wisata. Mereka diajak berkeliling dan dikenalkan setiap kekayaan alam lokal di wisata setempat.

Editor : Akrom Hazami

Siswa Pati Diberi Kemudahan Berwisata

Ratusan siswa tampak menikmati indahnya pemandangan Waduk Gunung Rowo di Desa Sitiluhur, Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan siswa tampak menikmati indahnya pemandangan Waduk Gunung Rowo di Desa Sitiluhur, Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Naura Tour bekerja sama dengan pemkab Pati meluncurkan program “One Day Pati Exotic Tour”. Selain untuk mendongkrak potensi wisata di Bumi Mina Tani, program tersebut menjadi cara bagi pemkab untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.

Direktur Naura Tour, Shinta Amarawati Widyaningrum mengaku optimistis program tersebut bakal mendongkrak potensi wisata dan ekonomi warga, serta menimbulkan multiplayer effect di daerah sekitar wisata.

“Banyak orang Pati yang keluar daerah untuk wisata. Padahal, Pati itu punya potensi wisata yang besar. Kalau warga Pati suka dengan potensi wisatanya sendiri, ekonomi warga setempat bisa maju. Timbul multiplayer effect, masyarakat juga berdaya,” ujar Shinta kepada MuriaNewsCom, Rabu (6/4/2016).

Program One Day Pati Exotic Tour sendiri merupakan program wisata sehari di Kabupaten Pati yang melibatkan pelajar, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Mereka diajak mengelilingi objek wisata di Pati seperti Kebun Jolong, Waduk Gunung Rowo, Genuk Kemiri, dan Pasar Unggulan Pragola.

Setiap siswa dikenakan biaya Rp 85 ribu dengan mendapatkan beragam fasilitas, mulai dari makanan dan minuman yang disuguhkan di tempat wisata setempat, serta voucher untuk mendapatkan snack dan minuman di Pasar Pragola. Di Genuk Kemiri, mereka mendapatkan Dawet Pesantenan untuk mengenalkan dawet sebagai sejarah awal berdirinya Kabupaten Pati.

“Peluncuran pertama, sudah ada 552 pelajar yang ikut program ini. Mereka tampak ceria mengikuti program wisata sehari, mulai dari pengenalan kopi di Kebun Jolong, keindahan alam waduk, sejarah Pati di Genuk Kemiri, hingga produk-produk unggulan khas Pati di Pasar Pragola,” imbuhnya.

Program itu diakui sebagai tahap awal untuk mengenalkan potensi wisata di Pati. Selanjutnya, pihaknya akan mencari lokasi wisata lain yang dianggap punya sejuta potensi seperti Gua Pancur, dan lainnya.

Editor : Akrom Hazami

Ganti Pansus III juga Minta Tambahan Waktu

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Hal yang sama pada Panitia Khusus (Pansus) I DPRD Jepara yang membahas tentang Ranperda Usaha Kepariwisataan yang meminta tambahan waktu membahas Ranperda tersebut. Pada pansus III yang membahas tentang Ranperda penyelenggaraan administrasi kependudukan juga demikian, meminta tambahan waktu pembahasan.

“Hal itu atas dasar hasil rapat pansus III pada Rabu (24/2/2016) kemarin. beberapa kendala dalam pembahasan ranperda itu, karena adanya sanksi pidana yang diterapkan dalam UU No.24 Tahun 2013 dengan ranperda yang tengah dibahas,” kata ketua Pansus III Arofiq, Kamis (25/2/2016).

Menurut dia, selama ini warga negara yang berpergian ke luar negeri baik tenaga kerja Indonesia (TKI) ataupun untuk tujuan lainnya tidak harus memiliki surat keterangan pindah luar negeri (SKPLN). Itu terlihat dalam mengurus dokumen kependudukan di Kantor Imigrasi yang tidak mempersoalkan SKPLN. Padahal, jika terjadi persoalan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), sebagai penerbit SKPLN sering disalahkan.

”Tidak hanya itu masalahnya, pada materi ranperda yang sedang dibahas, juga belum menyinggung persoalan kartu identitas anak (KIA). Padahal terbitnya Permendagri No 2 Tahun 2016 tentang KIA berlaku sejak mulai diundangkan yakni 19 Januari 2016. Sehingga hal ini mengharuskan pansus III mengkaji persoalan KIA guna dimasukkan ke dalam meteri ranperda tentang penyelenggaraan administrasi kependudukan,” tuturnya.

Karena kendala dan permasalahan tersebut, maka pansus III perlu mendapat waktu tambahan pembahasan. Sebab alokasi waktu yang disediakan, dirasa kurang.

Editor : Akrom Hazami

Duh, Pansus Ranperda Kepariwisataan Jepara Minta Perpanjangan Waktu Lagi

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Panitia khusus (Pansus) I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara yang membahas Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang usaha kepariwisataan kembali meminta tambahan waktu untuk melakukan tahapan. Padahal Ranperda itu merupakan Ranperda “warisan” dari tahun lalu.

Ketua Pansus I Japar mengatakan, tahapan dalam pembahasan Ranperda tersebut meliputi pembahasan tahap I, public hearing (dengar pendapat), mencari refrensi melalui studi banding ke daerah lain dan audiensi ke Kementrian Pariwisata serta Kementerian Hukum dan HAM. Selanjutnya penyempurnaan materi Ranperda, uji materi dan penetapannya.

”Sampai dengan batas waktu yang ditentukan, pansus I telah melalui tahapan ketiga, yakni mencari referensi atau studi banding. Sehingga tahapan berikutnya, kami menyepakati adanya perpanjangan waktu guna melaksanakan tahapan berikutnya,” ujar Japar, Kamis (25/2/2016).

Menurutnya, penyempurnaan materi tersebut antara lain, tentang perizinan sesuai dengan Pasa 15 UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan. Kemudian mengenai sanksi adaministrasi dan ketentuan pidana bagi pelaku usaha kepariwisataan yang melanggar.

”Itu termasuk kajian persyaratan dasar usaha karaoke yang tertuang pada Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 16 Tahun 2014 tentang standar usaha karaoke. Jadi sesuai undang-undag keberadaan karaoke harus diatur,” imbuhnya.

Lantaran proses yang harus dilalui cukup panjang, Japar berharap bisa menyelesaikan pembahasan pansus I ini sebelum 2017.

Editor : Akrom Hazami

Ini Strategi Pemkab Guna Tingkatkan Kualitas Pariwisata di Blora

Sosialisasi dan pembekalan sektor pendukung pariwisata oleh pemkab di pendapa Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sosialisasi dan pembekalan sektor pendukung pariwisata oleh pemkab di pendapa Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Sejumlah biro perjalanan wisata, desa wisata atau rintisan desa wisata dan rumah makan di Blora mendapatkan sosialisasi tentang penyelenggaraan usaha pariwisata pada Rabu (24/02/2016) di pendapa Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora. Hal itu dilakukan untuk mendongkrak pariwisata yang ada di Blora. Utamanya adalah faktor pendukung pariwisata.

Dalam hal ini faktor pendukung pariwisata, yakni biro perjalanan wisata, desa wisata dan rumah makan diberikan pengarahan dalam pengelolaan wisata. Selain itu, mereka diminta agar bisa meningkatkan mutu produk dan pelayanan bagi usaha pariwisata di Kabupaten Blora.

Di Blora ada Tourism Information Center (TIC) yang terletak di sudut utara alun-alun Blora. Slamet Pamuji, Kepala DPPKKI Blora berharap kepada seluruh biro wisata agar memanfaatkan TIC itu. ”Pengelolaan TIC kami pasrahkan sepenuhnya kepada biro wisata,” kata Slamet Pamuji.

Selain itu, Slamet pamuji meminta kepada biro agar bisa merekayasa, menjadi lebih menarik. Hal itu, tentu untuk memikat wisatawan agar lebih tertarik berkunjung ke Blora.

Sugiyanto, selaku Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata mengatakan, dalam sosialisai itu dihadiri 28 orang dari biro pariwisata, 25 orang dari desa wisata serta 12 orang dari rumah makan. Serta menghadirkan dari Dinas Pariwisata Jawa Tengah untuk memberikan sosialisasi.

Editor : Titis Ayu Winarni

Sektor Pariwisata Digenjot, Wacana Kereta Gantung di Binangun Lasem Kembali Mencuat

Pantai Karangjahe, salah satu tempat wisata di Rembang yang sedang ramai dikunjungi, belakangan ini. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Pantai Karangjahe, salah satu tempat wisata di Rembang yang sedang ramai dikunjungi, belakangan ini. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Sektor pariwisata menjadi salah satu prioritas Kabupaten Rembang di bawah kepemimpinan Bupati Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Bayu Andriyanto selama lima tahun ke depan. Dari penguatan sektor tersebut, diyakini dapat menjadi ujung tombak untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Menurut Hafidz, sektor pariwisata ternyata mampu menggerakkan UKM dan ekonomi kreatif. ”Seperti di pantai Karangjahe, sudah banyak warga Punjulharjo yang membuka usaha di sekitar lokasi wisata pantai Karangjahe,” tuturnya.

Selain wisata pantai, pihaknya juga akan mengembangkan wilayah Binangun, Lasem menjadi perpaduan wisata modern dan wisata religi. Salah satunya dengan mendirikan wahana kereta gantung yang sudah lama dicetuskan, dengan harapan agar masyarakat betah ketika singgah. ”Wacana kereta gantung sudah lama dicetuskan,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bayu Andriyanto, menambahkan Rembang harus berkaca dari kesuksesan Banyuwangi di sektor Pariwisata. Menurut dia, Rembang memiliki potensi yang luar biasa di sektor tersebut, namun belum digarap secara maksimal.

”Rembang memiliki situs kapal tertua di Indonesia, potensi Lasem yang begitu banyak bangunan kuno dan sejarah. Rembang memiliki Museum dan ada Makam RA. Kartini namun belum dimaksimalkan,” tambahnya.

Dengan sejumlah rencana ke depan, pihaknya berharap Pemkab Rembang bersama dengan media dan masyarakat bisa bersinergi dan bergerak bersama untuk memajukan sektor pariwisata.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pemerintah Pusat Lirik Pariwisata Blora

Komplek Taman Tirtonadi Kedung Jenar Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Komplek Taman Tirtonadi Kedung Jenar Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pariwisata melirik potensi wisata yang ada di Kabupaten Blora. Sugiyanto, Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora mengungkapkan, Blora menyiapkan dua destinasi yang nantinya dijadikan sebagai site destinasi.

Dalam hal tersebut, pihak Kementerian Pariwisata berkunjung langsung ke Blora untuk mengetahui potensi pariwisata yang ada.

”Kami menyajikan list kebutuhan data dan dokumen tentang dua destinasi wisata di Blora,” ujar Sugiyanto kepada MuriaNewsCom, Rabu (17/02/2016).

Kementerian Pariwisata nantinya akan mensurvei langsung ke dua destinasi tersebut. Yakni, Taman Tirtonadi dan Pemandian Sayuran. Dalam hal ini, Kementerian Pariwisata akan melakukan penyusunan proposal investasi pariwisata yang ada di Kabupaten Blora.

Tujuan dari program tersebut, Sugiyanto menambahkan, nantinya pariwisata yang ada di Blora di promosikan oleh Kementerian Pariwisata. Sehingga, dapat mengundang investor untuk mengelola pariwisata tersebut.

Sugiyanto juga menuturkan, dalam mendukung program tersebut pihaknya mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan. Di antaranya, informasi untuk disajikan mengenai peluang investasi pariwisata dan memberikan gambaran umum tentang bisnis, potensi, dan permasalahannya. ”Intinya bisa mengundang investor,” tandas Sugiyanto.

Editor : Titis Ayu Winarni

 

Baca juga :

Dinding Kalinanas, Jadi Tempat Wisata Memukau Dibalik Hutan Blora 

Begini Cara Desa Karangjati Blora Kian Mempesona

Khumaidi, Lurah Desa Karangjati (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Khumaidi, Lurah Desa Karangjati (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Lurah Karangjati, Blora, Khumaidi berinisiatif untuk meningkatkan perekonomian warganya dari sektor pariwisata. Ia mengungkapkan, bahwa sebelumnya beberapa hal telah ia lakukan guna meningkatkan perekonomian warga. Di antaranya bekerjasama dengan dinas terkait seperti Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, UMKM (Disperindagkop UMKM) untuk memberikan pelatihan keterampilan kepada warganya. Selain itu juga dengan Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos).

Dengan adanya Embung Rowo di Desa Karangjati tentunya membuatnya berkeinginan akan meningkatkan kualitas ekonomi dari potensi itu, “Akan dikembangkan potensi pariwisatanya,” ungkapnya kepada MuriaNewsCom (31/12/2015).

Sampai saat ini embung tersebut sudah selesai pengerukannya, direncanakan pada akhir 2016 sudah bisa diresmikan sebagai tempat wisata. Ia juga menambahkan bahwa di area embung tersebut akan diberi fasilitas berupa taman bermain, sarana hiburan, dan pemancingan. “Ada juga tempat untuk warga berjualan di sekitar,” ujarnya.

Dari beberapa upaya untuk meningkatkan kualitas warganya dengan beberapa pelatihan keterampilan, yang dalam hal ini bekerjasama dengan dinas terkait, ternyata menemui kendala. Dalam penuturannnya, kendala yang biasa dihadapi adalah dari pemasaran. “Seperti pelatihan pembuatan besek (bakul dari bambu, red) itu saya sulit memasarkan. Dan tentu ada pelatihan-pelatihan lain,” ungkapnya.

Selain kendala pemasaran, ia menambahkan, yakni mengenai sumber daya manusia dan kapasitas pengalaman atas keterampilan yang masih minim. Maka dari itu, Khumaidi akan meningkatkan kualitas ekonomi warganya dari sektor pariwisata. Selain ekonomi warganya terangkat, Karangjati juga memiliki ciri khas tersendiri dengan adanya tempat wisata. (RIFQI GOZALI/AKROM HAZAMI)

Promosikan Pariwisata Rembang, Disbudparpora Gandeng Penggiat Medsos

Kepala Disbudparpora, Sunarto dan Kepala Bidang Pariwisata, Murni Nur Rif'ah, dalam Rembug Socmed Dan Blogger di Hotel Fave Rembang, Sabtu (28/11/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Kepala Disbudparpora, Sunarto dan Kepala Bidang Pariwisata, Murni Nur Rif’ah, dalam Rembug Socmed Dan Blogger di Hotel Fave Rembang, Sabtu (28/11/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Rembang mengajak penggiat social media (socmed) untuk ikut mempromosikan wisata di Kota Garam. Kegiatan Rembug Socmed dan Blogger dipilih sebagai ajang komunikasi antara komunitas anak muda dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang.

Kepala Disbudparpora, Sunarto kegiatan tersebut sebagai jembatan antara penggiat media sosial (medsos) yang notabene anak muda dan pemkab Rembang dalam sosialisasi dan mensinergikan program-program pemkab Rembang agar lebih terkonsep dan fokus.

”Pariwisata di Rembang sangat lengkap, kita punya banyak potensi wisata alam, wisata religi, wisata kuliner, dan wisata lainnya. Namun, kami menyadari pariwisata di Rembang bisa dikatakan masih kalah dibanding dengan daerah lain. Oleh karena itu, peran adek-adek untuk turut menginformasikan tentang pariwisata di Rembang sangat diperlukan,” kata Sunarto dalam Kegiatan Rembug Socmed dan Blogger di Hotel Fave, Sabtu sore (28/11/2015).

Lebih lanjut Sunarto menjelaskan, saat ini terbukti perkembangan dunia socmed tumbuh dengan kecepatan yang sangat tinggi sebagai sarana untuk mempromosikan produk, dan tidak bisa dipungkiri bahwa dunia socmed menjadi alternatif promosi kepariwisataan yang tepat.

”Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan kepedulian para komunitas anak muda dalam mempromosikan potensi pariwisata di Rembang,” jelasnya.
Kepala Bidang Pariwisata, Murni Nur Rif’ah menyebutkan, Rembang sudah mempunyai 10 desa wisata. Meski begitu, lanjut Murni, kesadaran masyarakat terkait wisata masih terus digalakkan.

”Yang paling utama adalah sadar wisata. Sadar wisata itu bagaimana masyarakat bisa menjadi tuan rumah yang baik. Bagaimana masyarakat bisa mengenali lingkungannya sendiri. Sadar wisata juga harus menjadi akar dari pengembangan destinasi wisata,” tambahnya. (AHMAD WAKID/TITIS W)

Mengintip Keindahan Kota Purwodadi dari Bukit Pandang

Menikmati keindahan Kota Purwodadi dari Bukit Pandang (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Menikmati keindahan Kota Purwodadi dari Bukit Pandang (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Keindahan pemandangan Kota Purwodadi ternyata bisa dilihat dengan jelas dari Bukit Pandang di Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan. Lokasi yang berada di pinggiran lapangan olahraga desa setempat itu memang berada pada ketinggian, sehingga memungkinkan untuk melihat pemandangan yang ada di bawahnya.

“Kalau malam hari, pemandangannya lebih bagus lagi. Karena, banyak lampu yang menyala, sehingga kesannya cukup semarak,” ungkap Bambang Sudiarto, salah seorang warga setempat.

Saat musim kemarau seperti ini, pemadangan Kota Purwodadi bisa terlihat lebih jelas. Soalnya, pohon-pohon jati di kawasan hutan di bawah Bukit Pandang berguguran, sehingga tidak menghalangi pandangan mata.

“Kalau mau dapat pemandangan yang lebih sempurna, sebaiknya pakai teropong. Pengunjung yang kesini beberapa diantaranya ada yang pernah menggunakan alat itu untuk melihat pemandangan disana,” ungkap Pegawai Perhutani KPH Purwodadi itu.

Selain dari Bukit Pandang, pengunjung juga bisa menyaksikan pemandangan Kota Purwodadi dari Gua Jepang. Gua yang kabarnya jadi tempat persembunyian tentara Jepang itu berada persis di bawah Bukit Pandang. Untuk menuju kesana, pengunjung harus menuruni sekitar 75 anak tangga.

Kepala Desa Sumberjatipohon Eni Endarwati menyatakan, selama ini cukup banyak pengunjung yang datang ke lokasi Bukit Pandang. Khususnya, pada hari Minggu dan hari libur tanggal merah.

Selain menikmati pemandangan dan gua, pengunjung juga bisa berenang di kolam pemandian yang berada di kawasan tersebut.

“Kalau hari Minggu atau tanggal merah, pengunjung yang datang berkisar 100 orang. Adanya pengunjung ini, sedikit banyak mendatangkan rezeki buat warga yang berjualan disitu,” katanya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)