Syawalan, Warga Demaan Jepara Gelar Panjat Pinang di Laut

Sejumlah warga di Jepara mengukti panjat pinang yang digelar di laut, Minggu (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara –  Selain lomban atau larungan kepala kerbau untuk merayakan syawalan, adapula acara unik yakni panjat pinang dilaut. Kegiatan ini dilaksanakan oleh warga yang berada di Kelurahan Demaan RT 3/5, Kecamatan Jepara, Minggu (2/7/2017). Acara panjat pinang laut ini tak jauh beda dengan panjat pinang konvensional. Sekelompok orang berusaha meraih hadiah yang diletakan diatas bambu berlumur pelumas, yang dipancang di dalam air.

Hanya saja, untuk memanjatnya perlu usaha lebih keras. Lantaran, air laut yang terkena pelumas tak ayal menyebabkan bambu semakin licin.

Dimas, seorang peserta lomba tersebut mengaku kesusahan memanjat bambu setinggi lebih kurang 10 meter itu. 

“Wah susah, soalnya diolesi oli cair dan oli padat. Tapi tidak apa-apa, seru,” katanya.

Menurutnya, lomba yang diadakan setiap tahun bertujuan merekatkan rasa kekeluargaan antar penduduk. 

Ketua Panitia Panjat pinang laut Kandir mengatakan, kegiatan ini digagas oleh ikatan remaja kampung. Tujuannya memeriahkan syawalan.

“Dilakukan dilaut karena di kampung kami sudah tidak ada lahan lagi. Rumahnya kian padat,” terangnya.

Disamping itu, kegiatan ini juga dalam rangka mensyukuri berkah yang diperoleh warga dari laut. Lantaran, sebagian besar penduduknya merupakan nelayan, yang menggantungkan penghidupannya dari mencari ikan. 

Ia menyebut, kegiatan tersebut diselenggarakan secara swadaya oleh masyarakat dan dibantu oleh pengusaha setempat.  “Kalau total dana sekitar Rp 4 juta. Hadiahnya tak seberapa memang. Tapi tujuan dari kegiatan ini untuk merekatkan kekeluargaan warga yang penting bisa tercapai,” tutur dia.

Editor: Supriyadi

Unik, Ada Panjat Pinang Diadakan di Atas Laut Jepara

pinang e

Peserta panjat pinang beraksi di atas laut di Demaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 
MuriaNewsCom, Jepara – Panjat Pinang lumrahnya digelar di darat. Namun di Kelurahan Demaan, Kecamatan Kota, Jepara ini membuat acara panjat pinang lebih unik dengan menggelarnya di atas air laut, pada Rabu (13/7/2016).

Puluhan peserta saling bekerjasama untuk mampu ke puncak bambu yang telah diberi sejumlah barang berharga. Seperti pakaian, aneka jajan seperti makanan maupun minuman. Beberapa kali peserta terpeleset akibat saking licinnya bambu yang dibuat untuk panjat pinang.

Peserta didominasi remaja yang aktif di kelurahan setempat dan beberapa pemuda yang tinggal sekitar lokasi. Meski terlihat mudah, faktanya membutuhkan waktu cukup lama bagi peserta untuk sampai di puncak. Banyak peserta yang terjatuh hingga berkali-kali namun semangat untuk mencapai puncak tetap membara.

Salah satu panitia, Khonzir mengatakan selain panjat pinang, pihaknya juga menggelar lomba mendayung perahu kecil dan mengejar bebek di laut. Peserta tak hanya orang dewasa dan remaja saja tetapi juga anak-anak.

“Antusiasme penonton luar biasa, ratusan bahkan sampai seribu orang dari Kelurahan Demaan dan kampung sekitar. Ini kegiatan rutin hampir setiap tahun digelar,”  ujarnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (13/7/2016).

Acara yang dimulai setelah Ashar hingga menjelang azan Magrib. Memasuki senja penonton semakin banyak karena mereka disajikan tontonan panjat pinang yang unik dilengkapi dengan pemandangan dimulainya matahari terbenam di barat.

Salah seorang penonton, Busro mengaku senang menonton panjat pinang ini. Sebab, menurut dia, panjat pinang di laut sangat langka. Apalagi digelar sore hari sampai menjelang terbenamnya matahari sehingga membuat pemandangan semakin indah.

“Bagus sekali pemandangannya. Melihat peserta panjat pinang semakin menarik,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Biar Dapat Rezeki Nomplok, Warga Langon Jepara Jatuh Bangun Panjat Gedebok Pisang

Warga berlomba memanjat gedebok pisang di Langon, Tahunan, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Warga berlomba memanjat gedebok pisang di Langon, Tahunan, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Warga Desa Langon, Kecamatan Tahunan, Jepara, menggelar kegiatan yang cukup unik dalam memperingati kemerdekaan RI ke-70. Mereka menggelar lomba penjat pohon pisang alias gedebok. Seperti layaknya lomba panjat pinang, panjat gedebok ini dilombakan oleh sejumlah peserta untuk sampai diujung gedebok yang telah disediakan berbagai hadiah.

Salah satu panitia kegiatan, Deddy mengatakan, meski tidak digelar tepat pada 17 Agustus kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati hari kemerdekaan. Menurutnya, kegiatan ini mampu membuat keakraban antarwarga terutama pemuda di Desa Langon.

“Ini yang menggelar sebenarnya pemuda di RT 05 RW 03 Desa Langon. Tapi yang memeriahkan juga dari RT tetangga,” kata Deddy kepada MuriaNewsCom, Senin (24/8/2015).

Menurutnya, lomba panjat gedebok ini diikuti oleh enam peserta dengan dua gedebok. Masing-masing dibagi menjadi dua tim yakni tim A terdiri dari Arifin, Zainul dan Dona. Sedangkan tim B terdiri dari Solikul, Agung dan Faris.
“Kedua tim ini berlomba untuk cepat-cepat sampai diatas dan mengambil hadiah yang ada,” katanya.

Sementara itu, panitia lain yang juga memeriahkan lomba tersebut, Robi mengatakan, acara seperti ini sangat penting bagi kebersamaan pemuda di desa. Sebab, ada nilai keunikan tersendiri dan kegotong-royongan yang saat ini dinilai sudah sangat jarang.

“Harapannya setiap tahun bisa selalu menggelar kegiatan seperti ini,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Apa Sih Makna Panjat Pinang? Ini Kata Santri Kajen

Suasana panjat pinang yang digelar santri Pondok Pesantren Majlis Ta'lim Alhikmah, Kajen, Margoyoso, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana panjat pinang yang digelar santri Pondok Pesantren Majlis Ta’lim Alhikmah, Kajen, Margoyoso, Senin (17/8/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Panjat pinang yang digelar sejumlah santri di Pondok Pesantren Majlis Ta’lim Alhikmah, Kajen, Margoyoso, Senin (17/8/2015), ternyata menyimpan makna tersendiri. Tak sekadar seremonial dengan gegap gempita, panjat pinang memiliki makna yang visioner.

Hal ini disampaikan Nashiruddin, salah satu santri di ponpes tersebut. Menurutnya, panjat pinang mengajarkan untuk bekerja keras dalam menggapai cita-cita.
“Tak ada yang mudah untuk menggapai cita-cita. Semua butuh kerja keras dan jatuh bangun seperti memanjat pinang. Setelah bersusah payah, suatu saat cita-cita yang tinggi sekalipun pasti tergapai,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, kata dia, panjat pinang menjadi satu simbol persatuan dan kesatuan untuk menggapai satu tujuan, yaitu kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia. “Setiap warga Indonesia harus mencintai dan memajukan Indonesia. Tanpa satu rasa persatuan dan kesatuan seperti panjat pinang, cita-cita Indonesia akan susah tergapai,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Santri di Kajen Rayakan Kemerdekaan dengan Panjat Pinang

Panjat pinang yang berlangsung di Ponpes Majlis Ta'lim Alhikmah, Kajen, Margoyoso. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Panjat pinang yang berlangsung di Ponpes Majlis Ta’lim Alhikmah, Kajen, Margoyoso. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sejumlah santri Pondok Pesantren Majlis Ta’lim Alhikmah, Kajen, Margoyoso menggelar panjat pinang untuk merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-70, Senin (17/8/2015). Peserta terdiri dari 10 kelompok yang mewakili masing-masing kamar yang ada di pesantren tersebut.

Sementara itu, satu kelompok terdiri dari empat orang yang memperebutkan beragam hadiah, seperti pakaian, minuman ringan, dan satu buah dispenser yang dipasang di bambu dengan ketinggian 10 meter.

“Alhamdulillah, acara berlangsung meriah dan cukup menghibur untuk kalangan santri di Ponpes. Panjat pinang merupakan tradisi yang biasa dilakukan warga Indonesia saat merayakan Hari Kemerdekaan,” ujar Nashiruddin, salah satu santri saat dimintai keterangan MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, tradisi tersebut memang oleh sebagian orang dianggap tidak punya relevansi dengan Hari Kemerdekaan. Namun, ia menganggap, panjat pinang merupakan simbol persatuan dan kesatuan untuk mencapai visi dan misi bersama dalam satu frame, yaitu Indonesia. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Lahan Darat Sempit, Panjat Pinang di Laut

Puluhan pemuda dari remaja musala Al-Barokah RT 03 RW 05 Kelurahan Demaan melakukan panjat pinang sejak pukul 16.00 WIB hingga waktu magrib tiba. Kegiatan dilakukan di laut karena wilayah darat mereka sempit. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Puluhan pemuda dari remaja musala Al-Barokah RT 03 RW 05 Kelurahan Demaan melakukan panjat pinang sejak pukul 16.00 WIB hingga waktu magrib tiba. Kegiatan dilakukan di laut karena wilayah darat mereka sempit. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Menurut Khundir salah satu pembina kelompok remaja musala Al-Barokah RT 03 RW 05 Kelurahan Demaan, Jepara, pemuda yang mengikuti panjat pinang tersebut mayoritas merupakan anak dari para nelayan.
Lanjutkan membaca

Unik, Anak Nelayan di Jepara ini Panjat Pinang di Laut

Puluhan pemuda dari remaja musala Al-Barokah RT 03 RW 05 Kelurahan Demaan melakukan panjat pinang sejak pukul 16.00 WIB hingga waktu magrib tiba. Kegiatan itu menjadi agenda tahunan setiap Syawalan dan Lomban tiba. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Puluhan pemuda dari remaja musala Al-Barokah RT 03 RW 05 Kelurahan Demaan melakukan panjat pinang sejak pukul 16.00 WIB hingga waktu magrib tiba. Kegiatan itu menjadi agenda tahunan setiap Syawalan dan Lomban tiba. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Jika orang dewasa yang berprofesi sebagai nelayan di pesisir pantai di Jepara, memiliki tradisi pesta Lomban dengan melarung kepala kerbau. Generasi pemuda di kawasan pesisir pantai turut Kelurahan Demaan, Jepara, memiliki tradisi yang tak kalah unik. Mereka menggelar sejumlah lomba yang dilakukan di laut, salah satunya panjat pinang. Lanjutkan membaca