Bulog Targetkan Kudus Mampu Serap Gabah 20 Ribu Ton

Bupati Kudus Musthofa saat menghadiri panen raya di Undaan Lor, Kecamatan Undaan, kabupaten Kudus, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa saat menghadiri panen raya di Undaan Lor, Kecamatan Undaan, kabupaten Kudus, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Sub-Divre II Pati  menargetkan  untuk wilayah Kabupaten Kudus, serapan komersil gabah kering panen (GKP) pada 2017 sebesar 20 ribu ton atau setara dengan 10 ribu ton beras. Target tersebut merupakan target minimal yang harus dipenuhi.

Kepala Perum Bulog Sub-Divre Pati Akhmad Kholisun mengatakan, target tersebut merupakan di bawah realisasi dari 2016 lalu yang terealisasi 32 ribu ton GKP atau setara 16 ribu ton beras. untuk itu dia yakin kalau akan mencapai target.

“Kami yakin akan terserap dengan baik, pada MT I ini sebagian besar sudah dipanen sehingga aman. Dan sepertinya kualitas juga cukup baik,” ungkapnya.

Pihaknya sudah menerjunkan satuan kerja (satker) untuk melakukan pembelian GKP milik petani, termasuk yang ada di Kudus sesuai HPP Rp 3.700. Harga itu mengikuti ketentuan kadar air gabah tidak lebih dari 25 persen dan derajat kesehatan maksimal 10 persen.

Untuk memenuhi target serapan gabah,kata dia, di Kudus tidak masalah. Bahkan dia optimistis tak hanya mencapai target, namun juga mampu hingga di atas target yang akan dijalani tahun ini.

Terkait kendala yang dihadapi, dikatakan terdapat beberapa hal. Seperti halnya keberadaan gudang penyumbang yang terbatas. Selain itu, banyak pula tengkulak atau penebas yang juga bersaing dengan bulog.

Dalam mengejar target, pihaknya siap menjalin kerja sama dengan paramitra, seperti KTNA, Gapoktan serta mitra pengadaan gabah yang ditunjuk Bulog. Sementara untuk memaksimalkan pembelian gabah dari petani, Bulog bekerjasama dengan TNI dan pihak dinas.

Komandan Kodim (Dandim) 0722 Kudus Letkol (CZi) Gunawan Yudha Kusuma menambahkan,  pihaknya siap membantu memaksimalkan hasil panen. Hal itu sesuai dengan progam yang dijalankan dalam beberapa tahun terakhir.

“Sejak awal TNI sudah membantu pemerintah dalam upaya meningkatan produksi padi. Kami juga membantu  untuk memenuhi target swasembada pangan tahun 2017,” ungkapnya.

Dia menambahkan kalau TNI siap membantu penyerapan gabah petani. Dan juga bersiap membantu para petani dalam kebutuhan para petani untuk hasil yang maksimal. Bahkan, membentuk satuan tugas  tim penyerapan gabah petani (tim sergap).

Editor : Akrom Hazami

 

Petani Kedelai di Grobogan Sumringah saat Panen Raya

Petani kedelai di Kecamatan Pulokulon sedang menjemur hasil panen. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petani kedelai di Kecamatan Pulokulon sedang menjemur hasil panen. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Memasuki panen raya, para petani kedelai di Grobogan merasa cukup lega. Sebab, harga kedelai hasil panen raya kali ini dinilai cukup bagus.

 “Saat ini harga kedelai memang lumayan tinggi. Sejak beberapa hari lalu, petani mulai masuk panen raya,” kata Ketua Kelompok Tani Kabul Lestari Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon Ali Mukhtar.

Menurut Ali, harga kedelai saat ini berkisar Rp 6.300 – 6.700 per kilogram. Harga ini, tergantung dengan kandungan kadar airnya. Semakin rendah kadar airnya, harganya bisa sedikit naik. Salah satu pakar kedelai di Grobogan ini menyatakan, hasil panen kali ini kualitasnya dinilai cukup bagus. Sebagian besar hasil panen akan digunakan sebagai benih.

Meski demikian, dilihat dari produktivitasnya, musim panen saat ini sedikit turun. Yang mana, dalam areal satu hektare hasil panen berkisar 2,4 ton. Biasanya, bisa sampai di atas 3 ton. “Saat kedelai mulai berbuah awal, sempat ada banjir di wilayah sini sehingga tanaman kedelai terendam. Makanya, produksinya agak turun. Kalau soal hama atau penyakit, hampir tidak ada tanaman yang terserang. Jadi, turunnya hanya masalah alam,” jelasnya.

Sebelum panen raya, para petani kedelai di Grobogan sempat dihinggapi kecemasan. Hal ini menyusul kondisi cuaca yang sering hujan terutama pada siang hari. Dengan kondisi cuaca yang seperti itu dipastikan bisa membawa dampak bagi para petani.

“Kalau tidak ada panas matahari maka kadelai yang habis dipanen sulit kering. Hal ini akan berpengaruh pada kualitas kedelai. Kalau kualitasnya kurang bagus maka harganya pasti turun,” kata Suwarlan, petani kedelai di Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi.

Panas matahari memang sangat diperlukan petani pasca panen. Sebab, setelah dipetik dari sawah, hasil panen kedelai butuh dijemur dulu hingga kering.

Setelah kering betul, maka biji kedelai bisa lebih mudah dikeluarkan dari kulitnya atau dipipil. Baik dilakukan secara manual atau menggunakan mesin pemipil.

Jika kondisi cuaca kurang panas maka kulit kedelai sulit kering. Kondisi ini terkadang bisa menyebabkan biji kedelai tidak bisa berwarna jernih karena muncul bintik-bintik hitam. 

Editor : Akrom Hazami

Polisi Sambong Blora Datangi Sawah yang Panen Semangka

Polisi membantu petani memanen buah semangka di Desa Temengeng, Sambong, Kabupaten Blora. (Polres Blora)

Polisi membantu petani memanen buah semangka di Desa Temengeng, Sambong, Kabupaten Blora. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Bhabinkamtibmas Polsek Sambong, Desa Temengeng, Kecamatan Sambong, Blora Brigadir Bambang Sudayat sambang desa guna mempererat tali silaturahmi dengan warga di pedesaan tersebut.

Brigadir Bambang S tidak canggung dan segan untuk membantu masyarakat Desa Temengeng yang sedang memanen hasil kebunnya berupa buah semangka.

Hal itu dilakukan Bambang untuk menunjukkan kedekatan polisi dengan masyarakat di mana pun tempatnya dan kepada siapa pun. Kapolsek Sambong AKP Joko Priyono mengatakan, polisi sudah seharusnya mau turun ke lapangan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Dengan turun ke lapangan akan dengan mudah melaksanakan deteksi dini dan menciptakan situasi aman, tertib dan kondusif. “Kegiatan ini untuk mewujudkan citra polisi yang dekat dengan rakyat,” ungkap Joko dikutip dari Polres Blora.

Bambang mengatakan, tugasnya sebagai bhabinkamtibmas harus selalu siap sedia membantu warga desa, apalagi dalam kegiatan panen seperti ini.

Dia menyadari bahwa tugas polisi adalah memberi pelayanan kepada masyarakat. Untuk itu, sebagai petugas bhabinkamtibmas yang masing-masing memiliki desa binaan wajib mengetahui perkembangan di desanya. “Sembari mendekatkan diri kepada warga desa agar terciptanya hubungan yang harmonis, “terangnya.

Sementara itu para petani mengaku sangat senang dengan adanya aparat kepolisian yang terjun langsung membantu para petani.

Editor : Akrom Hazami

Beras Organik Bakal Jadi Ikon Baru Pertanian di Pati

Wakil Bupati Pati Budiyono tengah memanen padi yang ditanam menggunakan metode SRI Organik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Wakil Bupati Pati Budiyono tengah memanen padi yang ditanam menggunakan metode SRI Organik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Selama ini Pati dikenal sebagai daerah pertanian yang cukup berhasil di tingkat nasional hingga dinobatkan sebagai salah satu daerah yang sukses memberikan kontribusi pada ketahanan pangan nasional.

Sayangnya, konsep pertanian yang dilakukan masih menggunakan bahan kimia, mulai dari pupuk hingga pestisida. Petani di Pati masih sangat jarang menggunakan konsep organik untuk menghasilkan beras yang berkualitas dan sehat untuk dikonsumsi.

Kondisi tersebut akan digebrak sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Padi “Mustika” dengan menanam padi organik menggunakan metode System of Rice Intensification (SRI). Padi tersebut ditanam menggunakan pupuk alami dan pestisida nabati dengan memanfaatkan mikro organisme lokal (MOL).

Suroto, salah satu petani Mustika kepada MuriaNewsCom, Kamis (14/1/2016) mengatakan, konsep organik tersebut sudah berhasil dilakukan dengan memanen sedikitnya 9,4 ton gabah kering dalam lahan seluas satu hektare.

Kendati begitu, perjuangan menanam padi dengan sistem SRI organik ternyata tidak mudah. Ia mengaku sudah pernah gagal dalam melakukan panen. ”Kami pernah gagal pada percobaan pertama di musim tanam ketiga tahun lalu. Waktu itu, kekeringan panjang melanda wilayah pertanian di Pati,” tuturnya.

Ia mengatakan, kelompok taninya tidak putus asa dan kembali menanam padi dengan metode SRI organik. Panen melimpah akhirnya berhasil dilakukan pada pertengahan Januari, setelah benih mulai ditanam pertengahan Oktober 2015 lalu.

Atas keberhasilannya tersebut, Wakil Bupati Pati Budiyono meminta agar kelompok tani Mustika terus melakukan agenda penanaman padi organik. Dengan begitu, produk padi organik akan menjadi ikon baru di dunia pertanian di Pati.

”Kami harap padi organik yang menghasilkan beras organik itu bisa jadi ikon baru pertanian di Pati. Selain sehat, harga jualnya mahal, yakni sekitar Rp 20 ribu di pasar modern. Itu bisa meningkatkan ekonomi petani di Pati,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Hebat! Petani Pati Berhasil Panen Padi Merah Organik 9 Ton per Hektare

Wakil Bupati Pati Budiyono bersama dengan Dandim 0718 Pati Letkol Inf Heri Setiono memanen padi merah organik di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Wakil Bupati Pati Budiyono bersama dengan Dandim 0718 Pati Letkol Inf Heri Setiono memanen padi merah organik di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sejumlah petani yang tergabung dalam kelompok tani padi “Mustika” berhasil memanen padi merah organik sebanyak lebih dari sembilan ton gabah kering yang ditanam dalam lahan satu hektare di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo. Panen itu dilakukan Kamis (14/1/2016).

Panen itu terbilang sangat luar biasa, karena panen dengan sistem konvensional menggunakan bahan kimia hanya mampu panen 4,5 ton setiap hektarenya. Namun, dengan penanaman dengan metode System of Rice Intensification (SRI), petani tersebut berhasil memanen padi dua kali lipat dari sistem penanaman konvensional.

Wakil Bupati Pati Budiyono saat ditemui MuriaNewsCom mengaku terkejut dengan hasil panen yang dilakukan petani Mustika. Pasalnya, satu hektare sawah biasanya hanya mampu memanen 4,5 ton gabah kering.

”Kami benar-benar memberikan apresiasi. Bukan hanya soal panennya yang melimpah dan luar biasa, tetapi kualitasnya juga organik yang ditanam tanpa menggunakan bahan kimia,” tutur Budiyono.

Ia berharap agar petani Mustika bisa mengajarkan metode penanaman dengan sistem SRI organik kepada petani lainnya yang ada di Pati. ”Selama ini, Pati memang dikenal sebagai lumbung padinya Indonesia. Pati juga dikenal sebagai pioner ketahanan pangan Indonesia. Kami berharap petani Mustika bisa mengenalkan model penanaman itu kepada petani lainnya,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Tengkulak Padi di Kayen Pati Rugi Jutaan Rupiah Akibat Banyak Padi Roboh

Petani di Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen panen padi lebih awal karena banyak padi yang roboh. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petani di Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen panen padi lebih awal karena banyak padi yang roboh. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Cuaca ekstrem yang disertai hujan lebat dan angin kencang dalam beberapa waktu terakhir membuat puluhan hektare tanaman padi di berbagai daerah di Kecamatan Kayen, Pati roboh.

Padahal, rata-rata padi yang siap panen tersebut sudah dibeli tengkulak mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 6 juta setiap bahunya. Akibatnya, banyak tengkulak atau “penebas” padi yang merugi.

Seperti yang dialami Mustakim, salah satu tengkulak yang dimintai keterangan MuriaNewsCom, Rabu (6/1/2016). ”Kami membeli padi siap panen beberapa bahu sawah. Per bahu rata-rata di kisaran Rp 6 juta. Kami benar-benar merugi saat padi yang sudah siap panen ternyata roboh,” kata Mustakim.

Untuk menyiasati kerugian yang lebih parah, ia terpaksa memanen padi yang roboh tersebut. Padahal, mestinya masa panen kurang sekitar delapan hari lagi.

Meski tidak semua, tetapi beberapa bulir padi yang roboh ditemukan sudah dalam keadaan muncul tunas. ”Ada memang bulir-bulir padi yang muncul tunas, karena menempel tanah dan tergenang air. Kami benar-benar merugi,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Hujan Lebat di Kayen Pati Sebabkan Puluhan Hektare Padi Roboh dan Dipanen Prematur

Sejumlah petani memanen padi yang roboh akibat diterjang angin kencang dan hujan lebat di Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petani memanen padi yang roboh akibat diterjang angin kencang dan hujan lebat di Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Angin kencang dan hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Kayen, Pati selama beberapa jam pada Selasa (5/1/2016) malam menyebabkan sejumlah petani terpaksa memanen padinya secara prematur.

Dari pantauan MuriaNewsCom di lapangan, Rabu (6/1/2015), puluhan hektare tanaman padi di Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen tampak roboh. Akibatnya, sejumlah petani terpaksa memanen padi meski belum laik panen.

Beberapa padi di antaranya sudah dibeli tengkulak, sehingga panen harus segera dilakukan sebelum bulir-bulir padi membusuk. Hal ini diiyakan Mustakim, salah satu tengkulak yang sudah terlanjur membeli sejumlah padi di wilayah Kayen.

”Sebetulnya belum laik panen. Daripada bulir-bulir padi membusuk, kami akhirnya memutuskan untuk panen lebih awal,” katanya.

Ia mengatakan, satu bahu sawah biasanya menghasilkan padi kurang lebih dua ton. Namun, setelah padi rubuh karena diterjang angin kencang dan hujan, pihaknya mengaku hanya panen 17 karung saja. (LISMANTO/TITIS W)

Terancam Gagal Panen, Begini Aksi Heroik Pak TNI Blora

Babinsa Koramil 14/Todanan melakukan aksinya di sawah. (ISTIMEWA)

Babinsa Koramil 14/Todanan melakukan aksinya di sawah. (ISTIMEWA)

 

BLORA – Di lahan seluas satu hektare (Ha) milik Daryanto, Poktani Makmur, terancam gagal panen. Ini desebabkan selain kurangnya pengairan, lahan tersebut lahan tadah hujan. Sedangkan musim hujan tahun ini sementara belum merata.

Perlu kerja keras untuk mempertahankan tanaman padi tersebut, yakni Serda Supari Babinsa Koramil 14/Todanan terjun ke lapangan, mereka bersama Daryanto, Ketua Poktani Makmur Dukuh Soronini, Desa Sonokulon, Kecamatan Todanan Blora melakukan pengairan di lahan tanaman padi seluas satu hektare yang hampir mengering.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan pengairan, sambil menunggu hujan turun, pengairan diambilkan dari sumur patek yang ada di sekitar lahan dengan cara, menarik selang sepanjang puluhuan meter. Ini usaha sementara yang harus dilakukan,” kata Babinsa Serda Supari, Kamis (31/12) di rilis pers yang dikirim.

Terpisah, Daryanto pemilik Lahan, menyatakan terima kasih kepada Babinsa Serda Supari yang berperan aktif membantu kesulitan masyarakat desa setempat. “Ini perlu dipertahankan,” ujarnya. (AKROM HAZAMI)

Perubahan Cuaca Sebabkan Panen Rambutan di Cluwak Pati Mundur

Wiwik menunjukkan buah rambutan siap panen di kebunnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang warga Gerit, Kecamatan Cluwak Menunjukkan rambutan di kebunnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, panen buah rambutan di sejumlah daerah di Kecamatan Cluwak, Pati mundur. Hal ini disinyalir akibat dari perubahan cuaca yang ekstrem.

“Musim kemarau tahun ini lebih lama dari tahun sebelumnya. Perubahan cuaca ini mungkin diikuti dengan perubahan musim panen buah rambutan di daerah kami,” ujar Wiwik Supriyanto, warga Desa Gerit, Cluwak kepada MuriaNewsCom, Sabtu (19/12/2015).

Hal itu cukup disayangkan, karena bulan-bulan ini biasanya warga Kecamatan Cluwak sudah panen raya rambutan. “Awal Desember mestinya sudah panen raya, tapi ini agak telat,” imbuhnya.

Ia menambahkan, saat ini harga rambutan di daerahnya dihargai Rp 12 ribu per ikat. Kalau panen raya, kata dia, harga bisa anjlok di angka Rp 6 ribu per ikat.

“Waktu rambutan masih jarang berbuah, harganya bisa mencapai Rp 20 ribu per ikat. Meski kalau panen raya harga anjlok, tetapi kuantitas buah rambutan yang banyak bisa diakumulasi sehinga pendapatan juga banyak,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)