Petani Binaan UNISNU Jepara di Mindahan Kidul Panen Perdana Padi Semiorganik

Petani binaan Tim Program Hibah Bina Desa (PHBD) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Nahdlatul Ulama (FSH-UNISNU) Jepara panen padi semiorganik. (Istimewa)

MuriaNewsCom,Jepara – Petani binaan Tim Program Hibah Bina Desa (PHBD) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Nahdlatul Ulama (FSH-UNISNU) Jepara melakukan panen perdana padi semiorganik, pada Rabu (22/2/2017).

Penanaman padi ini dimulai pada November 2016 lalu di are persawahan Damaran, Desa Mindahan Kidul, Kecamatan Batealit, Jepara, dengan luas lahan sekitar 1 hektare. Dalam proses penanaman, Tim PHBD UNISNU Jepara bekerja sama dengan beberapa pihak, seperti Kemristekdikti, UPT Pertanian Kecamatan Tahunan, UPT Pertanian Kecamatan Batealit dan Gapoktan Ngudi Hasil sebagai pelaksana program.

Joko Suprihantono, perwakilan UPT Kecamatan Batealit menyampaikan, bahwa pola penanaman padi dengan menggunakan teknik semiorganik merupakan teknologi baru yang diterapkan di Desa Mindahan Kidul khusunya.

Dengan teknologi tersebut, diharapkan para petani dapat beradaptasi, sehingga tidak kaget dengan munculnya beberapa teknologi akhir-akhir ini. “Setelah menunggu selama kurang lebih 90 hari paska penanaman, kemarin para petani bisa panen menikmati hasilnya,” ujarnya, seperti rilis yang diterima MuriaNewsCom, Kamis (23/2/2017).

Sementara itu, Subakir dari Gapoktan Ngudi Hasil mengucapkan banyak terima kasih, terutama kepada mahasiswa UNISNU Jepara yang terlibat dalam penanaman padi tersebut. Baik selama masa pra penanaman, penanaman hingga para petani bisa panen.

“Banyak hal yang dapat kami dapatkan semenjak bekerja sama dengan mahasiswa. Kami telah dibantu benih, diajak membuat pupuk, baik padat maupun cair dan pestisida nabati. Terlebih banyak ilmu yang bisa kami serap,”katanya.

Dengan adanya teknologi semacam ini, nantinya diharapkan dapat meningkatkan produktivitas padi. Sehingga ada perbedaan antara sebelum dan sesudah menggunakan teknologi tersebut. “Sebelum menggunakan teknologi ini para petani hanya mampu menghasilkan 4,9 ton per hektare. Sementara setelah menggunakan teknologi ini dan setelah kita hitung dengan teknik sampling, para petani menghasilkan 6,2 ton per hektare. Artinya ada peningkatan 1,3 ton per hektare,” ujar Muhammad Iklil, mahasiswa UNISNU Jepara.

Editor : Kholistiono