Nelayan Jateng Diserang di Mimika, DPRD : Jangan Melaut Dulu

Ilustrasi kapal nelayan Jateng. DPRD Jateng meminta agar nelayan Jateng sementara tak melaut di Perairan Mimika, Papua. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Bentrok antara nelayan asal Jawa Tengah dan nelayan lokal di Mimika, Papua, 9 Agustus 2017 lalu membuat para nelayan masih mengalami trauma. Sebanyak 126 nelayan dari provinsi ini harus dipulangkan menggunakan pesawat Hercules milik TNI, pascakejadian tersebut.

Kalangan DPRD Jawa Tengah mengaku sangat prihatin. Anggota Komisi B DPRD Jateng Mifta Riza, yang sempat datang ke Mimika untuk memediasi kasus tersebut, meminta nelayan dari Jateng untuk sementara tidak menangkap ikan di perairan sekitar Mimika, Papua, untuk menghindari memanasnya suasana.

“Saya minta mereka tidak kembali lagi ke Mimika untuk sementara waktu sampai situasinya benar benar kondusif,” katanya kepada wartawan, kemarin.

Nelayan Jawa Tengah yang bekerja di Mimika jumlahnya sekitar 400 orang. Mereka berasal dari Kendal, Brebes, Tegal, Pemalang, Demak, maupun Kota Semarang.

Mereka kebanyakan bekerja sebagai ABK kepada pengusaha kapal setempat. Selain itu ada juga nelayan yang membawa kapal sendiri dan menangkap ikan di Mimika.

“Ada satu faktor yang juga menjadi penyebab terjadinya konflik, yaitu masalah kecemburuan sosial. Nelayan asal Jateng rajin-rajin, sehingga ikan hasil tangkapannya banyak dan besar-besar. Sementara nelayan setempat hasilnya tidak sebanyak nelayan kita,” ujarnya.

Hal ini bisa terjadi, lanjut Politisi Gerindra ini, karena etos kerja Nelayan Jateng sangat bagus, mau kerja keras dan juga didukung dengan alat tangkap yang lebih baik dibanding Nelayan setempat.

“Kecemburuan tersebut diperparah dengan adanya provokasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga terjadi perusakan tempat tinggal nelayan Jateng dan perampasan terhadap harta benda mereka,” jelasnya.

Mifta Reza yang pada waktu itu melakukan mediasi bersama Anggota Komisi B Riyono di Mimika menambahkan, dari mediasi yang dilakukan, nelayan Mimika akhirnya sepakat minta dilakukan transfer teknologi dan pembelajaran cara penangkapan ikan kepada nelayan Jateng.

“Saya minta Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng memfasilitasi transfer teknologi ini dan mengkondisikan agar situasi disana benar benar kondusif dan nelayan yang dipulangkan bisa kembali melaut di Mimika,” terangnya.

Senada dengan Reza, Bupati Kendal Mirna Annisa mengatakan, sebelum kembali ke Mimika lagi, komunikasi dengan pemerintah daerah setempat akan dilakukan guna memastikan situasinya kondusif dan peristiwa serupa tidak terulang lagi. Dari 126 nelayan yang dipulangkan dari Mimika, 87 di antaranya merupakan warga Kendal.

“Komunikasi dengan pemerintah daerah setempat menjadi kewenangan Pemprov Jateng dengan Papua. Saya akan dorong komunikasi tersebut,” katanya dikutip dari Beritajateng.net.

Editor : Ali Muntoha

Tak Melaut, Nelayan Rembang Beralih Pekerjaan jadi Pekerja Bangunan

Ratusan kapal cantrang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasik Agung Rembang hingga saat ini masih bersandar. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Dilarang melautnya kapal cantrang Rembang membuat nelayan Rembang beralih jadi buruh bangunan. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Suharto, salah seorang nelayan, setelah Syawalan atau sedekah laut kapal, biasanya cantrang harus mulai melaut untuk mencari ikan.

“Mau bagaimana lagi, kapal belum melaut karena cantrang dilarang. Kami mencari pekerjaan sementara untuk menambal kebutuhan. Yakni pekerja bangunan yang dilakukan di Rembang,” kata Suharto.

Pekerjaan tersebut dilakukan di Rembang. Menurutnya, yang penting dia bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Termasuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.

Dari pantuan MuriaNewsCom, ratusan kapal cantrang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasik Agung Rembang hingga saat ini masih bersandar.

Yuharti, salah seorang pekerja di tempat pengolahan ikan memilih menjadi buruh serabutan di tambak garam,  untuk bisa memenuhi kebutuhannya.

“Saya milih kerja serabutan di lahan garam atau pembuatan garam. Baik itu menjadi tukang angkut garam. Meskipun tidak bekerja tiap hari, tapi bisa dapat penghasilan sebesar Rp 25 hingga Rp 30 ribu. Saya bisa membeli kebutuhan rumah tangga,” ujar Yuharti.

Editor : Akrom Hazami

 

Keluarga Nelayan Berharap Pemerintah Buka Mata

Para keluarga dan sanak saudara sedang mengantarkan nelayan yang akan berdemo ke Jakarta.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Ribuan nelayan di Rembang berangkat ke Jakarta dengan menggunakan armada bus pada Senin (10/7/2017). Mereka akan ikut aksi unjuk rasa bersama ribuan nelayan lain untuk menentang larangan cantrang, pada Selasa (11/7/2017).

Keberangkatan ribuan nelayan ini juga diantar anak dan istri. Keluarga nelayan berharap, perjuangan nelayan mendapatkan hasil yang positif.

Salah satu keluarga nelayan dari Tasik Agung Sunarti berharap, supaya apa yang dilakukan oleh para nelayan Rembang bisa berhasil. Sehingga nantinya para nelayan Rembang bisa melaut kembali dengan alat tangkap cantrang.

“Ya saya harap pemerintah bisa membuka mata hatinya. Sehingga para nelayan ini bisa hidup sejahtera, hidup layak dan bisa mempunyai penghasilan yang baik,” harapnya.

Di sisi lain, para keluaraga juga mendoakan para nelayan yang berdemo supaya bisa menyuarakan pendapatnya di depan presiden dan ditemui oleh presiden.

“Mudah mudahan mereka bisa bertemu Pak Presiden. Dan mudah-mudahan mereka bisa menyuarakan keinginan rakyat kecil atau nelayan ini,” ungkapnya.

Sementara itu, koordinator lapangan Lestari Priyanto mengatakan, nelayan saat ini sudah siap untuk berunjukrasa di Jakarta. “Bahkan saat ini ada rekan nelayan Rembang sudah ada di Jakarta,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Nelayan Rembang Tunggu Rencana Aksi 11 Juli Mendatang

Demo yang dilakukan nelayan Rembang beberapa waktu lalu terkait kebijakan larangan cantrang. Rencananya pada 11 Juli mendatang, nelayan juga bakal melakukan aksi unjuk rasa. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom,Rembang – Nelayan Rembang rencananya bakal memulai aktivitas melaut usai perayaan sedekah laut. Namun demikian, hal itu bisa saja tertunda, karena menunggu aksi gabungan nelayan terkait kebijakan larangan cantrang pada 11 Juli mendatang.

Mulyono, salah satu nelayan Rembang mengatakan, jika aksi yang dilakukan nelayan nanti menyeluruh. “Katanya nanti tanggal 11 Juli ini akan ada demonstrasi mengenai cantrang se-Jawa bahkan nasional,” katanya.

Aksi demontrasi yang dilakukan nelayan nantinya, katanya, ada yang berpusat di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah dan juga di Jakarta.

“Kabarnya ada yang akan bergerak di Kantor Gubernuran Jawa Tengah dan ada yang di Jakarta. Supaya bisa semuanya rata dan para nelayan bisa menyampaikan aspirasinya,” paparnya.

Di sisi lain, sebelum berangkat untuk demonstrasi, katanya, para nelayan juga sudah ada yang menggelar selamatan supaya nantinya bisa berhasil dengan baik.

“Ada yang masih menggelar selamatan supaya nantinya bisa menghasilkan keputusan bagi nelayan yang baik dan tidak merugikan rakyat kecil,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Anggota DPRD Rembang Dukung Nelayan Cantrang

Salah satu anggota komisi B dari Gerindra Yudianto saat mengunjungi posko pengaduan nelayan cantrang di depan Kantor Bupati Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Anggota DPRD dari Fraksi Partai Gerindra Yudianto akan mendukung penuh langkah para nelayan cantrang supaya bisa memenuhi keinginannya, yakni agar nelayan cantrang dibebaskan untuk beroperasi.

Yudianto dalam kunjunganmya ke posko pengaduan mengatakan, jika kedatangannya ke posko tersebut untuk mendengarkan keluh kesah ke nelayan. “Dengan adanya posko ini, kita berharap bisa dijadikan bahan untuk meminta Kementrian Kelautan dan Perikanan bisa membebaskan cantrang,” katanya.

Ia menilai, pelarangan cantrang di Indonesia akan bisa membuat nelayan cantrang yang ada di Jawa bisa kehilangan mata pencaharian.

“Sebenarnya DPR pusat itu juga sudah menganggarkan kepada kementerian supaya bisa melakukan penelitian terlebih dahulu terhadap cantrang. Akan tetapi mereka tidak melakukannya, dan kementerian melarang cantrang itu bukan berdasarkan penelitian namun berdasarkan egonya,” paparnya.

Dia menambahkan, nelayan cantrang di Rembang meminta kementerian yang ada bisa membebaskan cantrang.”Nelayan bukan hanya meminta perpanjangan waktu. Namun meminta supaya larangan cantrang bisa dicabut dan dibebaskan gitu aja,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Soal Larangan Cantrang, Nelayan Rembang Ngadu ke Komnas HAM

Kapal cantrang bersandar di Pelabuhan Tasikagung Rembang. Terkait dengan larangan penggunaan cantrang, nelayan mengadu ke Komnas HAM. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Ratusan nelayan cantrang di Rembang mengadu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Hal ini terkait dengan larangan penggunaan cantrang oleh pemerintah, karena hal itu dinilai dapat mengancam hak untuk hidup.

Ketua Paguyuban Nelayan Rembang Suyoto mengatakan, langkah tersebut dilakukan agar hak untuk hidup para nelayan tidak dirampas dengan adanya peraturan yang melarang cantrang.

“Kita melapor sudah sekitar satu bulanan. Namun baru ditindaklanjuti oleh Komnas HAM pada Selasa (23/5/2017) ini. Mereka akan menyambangi kota Rembang,” katanya.

Komnas HAM dan jajarannya bakal menyambangi para nelayan yang ada di Rembang. Nantinya, dari pertemuan atau hasil dialog dengan nelayan tersebut bakal dilaporkan kepada pihak terkait.

“Nantinya para nelayan akan kita persilakan untuk melaporkan kondisi yang ada di lapangan. Yakni bagaimana jika cantrang dilarang akan berdampak seperti apa atau kalau diperbolehkan akan berdampak seperti apa,” ungkapnya.

Dia menambahkan, hak untuk hidup nelayan cantrang harus diperhatikan kembali. Sebab nelayan juga salah satu warga yang harus dilindungi hak-haknya.”Terlebih cantrang ini sudah puluhan tahun kita gunakan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Cantrang Dilarang, 40 Ribu Warga Rembang Terancam Menganggur

Kapal nelayan bersandar di salah satu tempat di Kabupaten Rembang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Nelayan dan pekerja pengolahan ikan di Rembang resah dengan rencana pelarangan penggunaan alat tangkap cantrang yang diberlakukan awal Juli 2017. Sebab, selama ini mereka terbiasa menggunakan alat tangkap cantrang.

Jani selaku perwakilan dari Asosiasi Nelayan Dampo Awang Bangkit Rembang mengatakan akan muncul dampak akibat pelarangan penggunaan alat tangkap cantrang. “Di antaranya akan menambah pengangguran sekitar 40 ribu warga. Bukan hanya nelayan saja. Melainkan juga warga yang berkerja di pengolahan ikan,” kata Jani di Rembang, Sabtu (22/4/2017).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan  Kabupaten Rembang Suparman menuturkan, saat ini proses masa perpanjangan Surat Laik Operasi (SLO) kapal ikan tangkap jaring cantrang masih berlangsung hingga1 Juli 2017. Mereka harus segera menggaanti alat tangkap.

“Verifikasi ukur ulang untuk kapal cantrang sampai dengan saat ini masih berjalan dan  belum selesai seluruhnya,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

Curhat ke Ganjar, Nelayan Juwana Mengaku Pernah Ditangkap, Kena Rp 500 Juta dan Ikan Dirampas

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (dua dari kiri) berdialog dengan nelayan Juwana di Kantor Kecamatan Juwana, Rabu (18/1/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (dua dari kiri) berdialog dengan nelayan Juwana di Kantor Kecamatan Juwana, Rabu (18/1/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Nelayan Juwana semakin resah dengan perizinan melaut kapal cantrang yang tidak kunjung ada kejelasan. Sejumlah nelayan cantrang yang nekat melaut di luar Jawa Tengah mengaku pernah ditangkap, kena denda Rp 500 juta, ikan dirampas, hingga masuk jeruji besi.

Hal itu disampaikan Kasmijan, nelayan Juwana ketika curhat kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Kantor Kecamatan Juwana, Pati, Rabu (18/1/2017). “Pengen ada kejelasan, bagaimana perizinannya yang sudah mati. Keamanan laut bagaimana? Di luar provinsi, sekali ditangkap kena uang ratusan juta hingga setengah miliar, ikan  dirampas, ini yang saya takutkan,” kata Kasmijan.

Hal itu diamini Hadi Sutrisno. Dia mengungkapkan fakta, nelayan rawan dikriminalisasi. Akibatnya, ribuan nelayan cantrang saat ini takut melaut. Karena itu, dia membutuhkan toleransi lebih panjang kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, perlindungan, dan pemberdayaan nelayan.

Sulawi, salah satu nahkoda mengaku pernah ditangkap petugas saat melaut di luar provinsi. Dia ditangkap dan dipenjara selama tiga bulan. Saat ini, dia menganggur selama dua bulan karena tidak mengoperasikan kapal lagi.

Mereka sering tertangkap di kawasan Kalimantan Selatan, Makassar, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat. Kehadiran Ganjar diharapkan bisa memberikan solusi dan bisa menjembatani nelayan dengan pemerintah pusat.

Sementara itu, Ganjar sadar bahwa keberadaan nelayan butuh pendampingan dari dinas atau petugas negara. Bila tidak, polemik itu akan terus menjadi isu yang tidak ada habisnya. “Pati ini adalah tempat kedua yang saya datangi setelah Kabupaten Batang. Fakta-fakta yang mereka ungkapkan akan kami ajukan ke pemerintah pusat. Kami berharap agar persoalan itu akan segera selesai,” harap Ganjar.

Editor : Kholistiono

Pelarangan Kapal Cantrang Ditunda Hingga Juni 2017, Nelayan Juwana Sedikit Lega

 Sejumlah kapal cantrang bersandar di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Unit I Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah kapal cantrang bersandar di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Unit I Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Nelayan Juwana merasa sedikit lega, lantaran penerapan pelarangan kapal cantrang ditunda hingga Juni 2017. Sebelumnya, nelayan yang masih menggunakan kapal cantrang diberikan tenggang waktu hingga 31 Desember 2016 lalu.

Perpanjangan toleransi penggunaan kapal cantrang tersebut, menyusul kesepakatan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kesepakatan toleransi itu muncul, lantaran nelayan dianggap masih belum siap untuk meninggalkan kapal jenis pukat hela dan pukat tarik yang dilarang dalam Permen Nomor 2 Tahun 2015.

Bambang Wicaksana, salah seorang nelayan Juwana mengaku belum bisa meninggalkan kapal dengan alat tangkap cantrang. Jika dipaksakan, gejolak sudah pasti diakui akan terjadi di kalangan nelayan. Pasalnya, pemilik kapal akan berhenti melaut dan menunggu hingga ada bantuan untuk mengganti alat tangkap.

Akibatnya, banyak nelayan yang kehilangan pekerjaan karena tidak berani melaut. “Saat ini, sudah banyak kapal cantrang yang setelah bongkar, kemudian bersandar karena tidak berani melaut. Hal itu akan membuat kawasan parkir kapal di Juwana sangat padat. Karenanya, kebijakan toleransi hingga Juni 2017 ini cukup membuat kami lega,” ungkapnya, Senin (2/1/2017).

Di pelabuhan Juwana sendiri, setidaknya ada sekitar 500 kapal cantrang yang bersandar. Dari jumlah tersebut, 300 kapal milik warga Pati, sisanya milik nelayan asal Rembang dan daerah lainnya. Di tengah masa toleransi ini, nelayan masih menunggu bantuan dari pengusaha dan pemerintah untuk mengganti alat tangkap.

Untuk mengganti alat tangkap cantrang menjadi purse seine, setiap kapal membutuhkan biaya sekitar Rp 1 miliar. Biaya tersebut, belum termasuk modifikasi kapal untuk penyesuaian alat tangkap purse seine. Tak hanya itu, alat pendingin ikan juga akan menyesuaikan, sehingga total satu kapal diperkirakan mencapai Rp 3 miliar agar sesuai dengan aturan yang ditetapkan KKP.

Ironisnya, pemilik kapal sebagian besar sudah memiliki kredit di perbankan. Tak main-main, beberapa di antara pemilik kapal menjaminkan rumahnya untuk kredit perbankan. Karena itu, nelayan Juwana berharap ada bantuan dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Editor : Kholistiono

Tak Hanya Nelayan, Pekerja di Pengolahan Ikan juga Was-was Jika Kapal Cantrang Dilarang Beroperasi

Aktivitas di salah satu pengolahan ikan di Tasikagung, Rembang. Pekerja di pengolahan ikan juga khawatir, jika cantrang benar-benar dilarang beroperasi. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Aktivitas di salah satu pengolahan ikan di Tasikagung, Rembang. Pekerja di pengolahan ikan juga khawatir, jika cantrang benar-benar dilarang beroperasi. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Mendekati batas akhir toleransi masa pelarangan kapal cantrang, Sabtu (31/12/2016) mendatang, nelayan cantrang di Kabupaten Rembang dibikin pusing. Namun, tak hanya nelayan saja, para pekerja di pengolahan ikan juga was-was.

Sumarni, salah satu warga yang bekerja di pengolahan ikan di Tasikagung, Rembang, mengatakan, jika pada awal tahun 2017 nanti kapal cantrang benar-benar dilarang untuk beroperasi, maka, akan berdampak luas terhadap terhada perekonomian warga. Baik itu nelayan maupun mereka yang bekerja di sektor pengolahan ikan.

“Selain nelayan, kita yang bekerja di pengolahan ikan ini juga bisa terkena imbasnya. Sebab, kapal cantrang memang selama ini bisa mendapatkan ikan yang banyak, yang kemudian bisa menyuplai usaha pengolahan ikan dengan banyak juga,” kata Marni.

Dirinya berharap, pemerintah bisa nasib nelayan dan juga warga menggantungkan hidupnya dari hasil laut. Seperti halnya dirinya. Ketika hasil tangkapan laut lancar, maka, dirinya setiap hari bisa bekerja di pengolahan ikan, dengan gaji Rp 50 ribu per hari.

“Kalau benar-benar cantrang dilarang, lha seperti saya ini mau beralih ke pekerjaan apalagi. Karena memang selama ini, saya bekerja di pengolahan ikan. Kalau pengolahan ikannya sepi, tentunya, kami juga tidak bisa bekerja. Kami ini bingung,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Musim Baratan, Nelayan Pati Diimbau Waspada

Beberapa perahu nelayan sedang bersandar. Pada Baratan ini, nelayan diimbau untuk lebih berhati-hati ketik melaut. (MuriaNewsCom)

Beberapa perahu nelayan sedang bersandar. Pada Baratan ini, nelayan diimbau untuk lebih berhati-hati ketik melaut. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah perahu dengan alat tangkap jaring millenium milik nelayan asal Desa Puncel, Dukuhseti, karam setelah diterjang ombak setinggi dua meter yang disertai hujan deras di kawasan timur laut Pulau Mandalika Jepara, Senin (19/12/2016) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.

Beruntung, tiga awak perahu selamat karena menggunakan pelampung. Ketiganya adalah Ahmad Zainudin (32), Agus (35), dan Suwadi (50). Ketiganya lantas diselamatkan dua nelayan yang kebetulan lewat.

Kapal mereka akhirnya berhasil ditemukan dan dievakuasi, Senin siang, pada kedalaman sekitar delapan meter. Kapal yang karam ditemukan di kawasan Perairan Laut Desa Banyutowo. Bila tidak ditemukan, nelayan dipastikan merugi sekitar Rp 50 juta.

Kelompok Masyarakat Pengawas Perikanan Mina Bahari V Pati, Sumarlan mengatakan, musim baratan saat ini memang memiliki kerawanan cuaca buruk. Akibatnya, gelombang air laut bisa tinggi, menggulung-gulung, dan berlangsung ekstrem.

Karena itu, sikap antisipasi ketiga nelayan yang perahunya karam dengan menggunakan pelampung dianggap baik. Pasalnya, peralatan keselamatan, terutama pelampung diakui sangat penting di tengah kondisi gelombang air laut yang cukup tinggi pada saat cuaca buruk.

Sebelumnya, kecelakaan laut juga terjadi di kawasan perairan Desa Puncel. Pada September 2016, dua orang dinyatakan tewas setelah terjadi kecelakaan laut dengan perahu karam. “Musim baratan yang tengah berlangsung saat ini, sebaiknya nelayan bisa mengantisipasi dengan mengenakan pelampung,” imbau Sumarlan.

Baca juga : Perahu Cukrik Tenggelam di Laut Utara Pati, Begini Nasib 3 Nelayan

Editor : Kholistiono

Cuaca Tak Menentu, Nelayan Jepara Diminta Lebih Waspada

Nelayan Jepara menyandarkan kapalnya di tepi dermaga di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Nelayan Jepara menyandarkan kapalnya di tepi dermaga di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa hari terakhir cuaca di wilayah Kabupaten Jepara termasuk di perairan laut Jepara mulai tidak menentu. Gelombang air laut tinggi disertai angin kencang kerap melanda wilayah tersebut. Untuk itu, nelayan di Kabupaten Jepara diminta agar lebih waspada terhadap cuaca buruk yang bisa datang sewaktu-waktu.

Hal itu seperti yang disampaikan Ketua Himpinan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Kabupaten Jepara Sudiyatno. Menurutnya, cuaca di wilayah Jepara saat ini sering tidak menentu. Untuk itu, para nelayan diminta untuk lebih waspada dan berhati-hati.

“Nelayan harus lebih waspada pada situasi cuaca seperti ini. Harus juga pandai mencari celah kapan kondisi memungkinkan untuk mencari ikan dan kapan tidak. Kalau cuaca tidak baik, jangan memaksa untuk berangkat melaut,” ujar Sudiyatno, Rabu (5/10/2016).

Lebih lanjut ia mengemukakan, pihaknya sampai saat ini masih meyakini kalau nelayan Jepara sudah bisa memilah waktu kapan berangkat dan tidak, dengan melihat tanda alam. Kendati begitu, imbauan untuk lebih waspada tetap harus selalu disampaikan.

Guna menghadapi musim cuaca buruk, dan nelayan tidak bisa melaut hingga berminggu-minggu, pihaknya telah meminta pemerintah Kabupaten Jepara untuk memberikan keterampilan kerja kepada nelayan. Sehingga, saat nelayan tidak bisa melaut, masih bisa bekerja di sektor lain. “Selama ini sudah ada, tapi masih terbatas hanya pelatihan keterampilan mesin,” katanya.

Selain membekali nelayan dengan keterampilan, saat musim angin dan gelombang, pemerintah diminta untuk mengucurkan bantuan pangan. Terutama beras. Serta, memberikan pelatihan keterampilan kerja bagi para istri nelayan. “Kalau untuk ibu-ibu, biasanya pelatihan pengolahan ikan,” ucap Sudiyatno.

Ia menambahkan, meski kondisi cuaca tak menentu, hasil tangkapan ikan nelayan Jepara justru mengalami peningkatan. Pada Agustus, tangkapan ikan nelayan Jepara hanya 250 ton. Pada September meningkat menjadi 280 ton. “Dengan kondisi seperti saat ini, hasil tangkapan didominasi ikan tongkol. Jenis ikan yang satu ini banyak muncul saat pergantian musim,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Ini Alasan Nelayan Pengguna Cantrang Memilih Bertahan

 Beberapa kapal terlihat bersandar di Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang. Saat ini, beberapa nelayan pengguna cantrang masih bertahan menggunakan pukat hela atau tarik, karena beberapa alasan (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Beberapa kapal terlihat bersandar di Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang. Saat ini, beberapa nelayan pengguna cantrang masih bertahan menggunakan pukat hela atau tarik, karena beberapa alasan (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Wardi, salah seorang nelayan pengguna kapal cantrang mengaku jika dirinya akan bertahan menggunakan kapal cantrang yang alatnya memakai pukat hela (trawls) dan pukat tarik (seine nets).

Menurutnya, jika harus disuruh untuk beralih menggunakan alat tankap lain, maka alat yang selama ini sudah dipakai dengan pembelian alat hingga puluhan juta bahkan ratusan juta, akan menganggur begitu saja.

“Memang ada sosialisasi kepada kita yang dilakukan pihak pelabuhan bersama Perum Perindo. Namun, sosialisasi itu, secara tidak langsung menyuruh kita untuk membeli alat tangkap baru. Padahal sebelum aturan ini keluar, kami sudah membeli alat, yang harganya puluhan hingga ratusan juta,” katanya.

Selain itu, menurut dia, peralatan nelayan berupa pukat yang sudah terpakai sejak lama juga sudah memberikan penghidupan yang lebih baik. Meskipun saat ini, rata-rata nelayan mempunyai hutang modal di bank.

“Meskipun kita masih mempunyai tanggungan modal di bank, baik secara mandiri maupun berkelompok saat membeli atau mengadakan pukat cantrang, namun kita juga masih enteng. Akan tetapi, bila kita disuruh ganti alat yang lain, maka akan rugi. Sebab kita juga belum tentu tahu cara perawatannya dan cara menggunakan. Bahkan yang saya dengar, harganya juga puluhan hingga ratusan juta,” ucapnya.

Sementara itu, saat disinggung mengenai tidak diperpanjangnya surat izin operasi kapal untuk berlayar jika tidak beralih menggunakan peralatan seperti yang diatur dalam Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015, pihaknya mengaku akan tetap kompak nersama nelayan lainnya.”Tentunya bila itu ada konsekuensinya, maka kita akan kompak. Kecuali atuaran itu ada jalan keluar yang memang tidak memberatkan para nelayan,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Nelayan Jepara Keluhkan Minimnya Bantuan Ketika Ada Musibah

Sejumlah nelayan menangkap ikan dengan peralatan seadanya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah nelayan menangkap ikan dengan peralatan seadanya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Nelayan di Kabupaten Jepara yang tergabung dalam forum nelayan (fornel) Jepara utara mengeluhkan minimnya bantuan dari pemerintah. Khususnya bagi nelayan yang terkena musibah seperti kecelakaan laut.

Salah satu anggota Fornel Jepara Utara, Sholihul Huda mengatakan, nelayan di Jepara dalam beberapa waktu terakhir ini merasakan Dinas tidak responsive dalam memberikan bantuan kepada nelayan yang terkena musibah. Justru bantuan datang dari pihak lain.

”Kondisi ini berbeda dengan lima tahun lalu. Dulu meski anggaran sedikit, nelayan bisa menerima bantuan saat mengalami musibah,” ujar Sholikul kepada MuriaNewsCom, Selasa (10/5/2016).

Menurutnya, bantuan sangat dibutuhkan para nelayan ketika mengalami musibah. Misalnya ketika terjadi kecelakaan laut, kapal rusak dan lainnya. Tentu saja nelayan sangat membutuhkan bantuan karena nelayan kebanyakan hanya mengandalkan hasil laut.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dislutkan Jepara Achid Setiawan mengemukakan, saat ini memang tidak ada anggaran untuk memberikan bantuan terhadap nelayan yang mengalami kecelakaan laut. Akibatnya, pihaknya tidak bisa memberikan bantuan kepada nelayan.
“Kami tidak ada anggaran untuk memberikan bantuan kebencanaan. Jika kami maksa, maka regulasinya sangat banyak yang harus dilalui,” kata Achid.

Selama ini, lanjut Achid, bantuan dari pusat maupun provinsi untuk kelautan maupun perikanan, lebih banyak ke infrastruktur. Itu pun ditangani instansi lain. Adapun bantuan yang langsung turun ke dinasnya, lebih banyak berupa barang.

”Bantuan ini pun kerap tak sesuai kebutuhan nelayan. Untuk bantuan korban laka laut, memang tidak ada. Kita ambil dari mana,” katanya.

Editor: Supriyadi

Ternyata, Nelayan Jepara Lebih Pro Menteri Susi

Nelayan di Jepara sedang mencari ikan di perairan setempat. Di Jepara, nelayan lebih menerima kebijakan yang dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruzzaman)

Nelayan di Jepara sedang mencari ikan di perairan setempat. Di Jepara, nelayan lebih menerima kebijakan yang dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruzzaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Berbeda dengan nelayan yang berada di Kabupaten Rembang dan Pati yang menolak kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti, nelayan di Kabupaten Jepara ternyata lebih pro pada kebijakan sang menteri.

Nelayan di sana, lebih menerima saja sejumlah kebijakan yang diambil oleh Menteri Susi. Bagi nelayan Jepara, yang terpenting ada kejelasan mengenai kebijakan yang diambil pemerintah tersebut.

Hal itu seperti yang disampaikan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno. Menurutnya, pihaknya memastikan tak ada gelombang penolakan dari nelayan Jepara, terkait dengan sejumlah kebijakan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

”Nelayan Jepara dipastikan tidak terpengaruh dengan aksi penolakan dari nelayan di sejumlah daerah,” ujar Sudiyatno, kepada MuriaNewsCom, Kamis (7/4/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, nelayan Jepara justru menginginkan agar ada kejelasan mengenai kebijakan KKP. Informasi yang pihaknya terima, sejumlah kebijakan akan diterapkan akhir tahun atau awal 2017 nanti.

”Yang penting bagi kami ada kejelasan. Semoga saja informasi itu benar dan segera diterapkan kebijakan yang telah dikeluarkan,” ungkapnya.

Sudiyatno menerangkan, jika aturan tersebut tidak ditegakkan, maka akan ada kecemburuan dari nelayan Jepara. Mengenai pelarangan penggunaan jaring cantrang misalnya, nelayan Jepara sudah mentaati aturan tersebut.

Tapi di sisi lain, nelayan luar Jepara yang mencari ikan di wilayah sekitar pantai Jepara masih menggunakannya. Inilah yang dikhawatirkan akan menimbulkan kecemburuan.

”Tentu kawan-kawan nelayan akan cemburu. Sebab mereka hanya memakai jaring biasa. Cemburu karena tangkapan jelas akan lebih banyak dikeruk oleh nelayan pemakai jaring cantrang,” imbuhnya.

Editor: Merie

1 Nelayan Karangaji Jepara Ditemukan Tewas

Ilustrasi Tenggelam

Ilustrasi Tenggelam

 

JEPARA – Dua nelayan Desa Karangaji Kecamatan Kedung yang hilang pada Rabu (16/12/2015) akhirnya keduanya telah ditemukan. Jika sebelumnya satu nelayan bernama Tabiin (anak) ditemukan dalam kondisi selamat di pantai Menco, Kabupaten Demak, Kamis (17/12/2015). Sang ayah yakni Muhtahar (sebelumnya ditulis Muhtar) baru ditemukan pada Sabtu (19/12/2015) sore dalam kondisi tak bernyawa.

“Jenazah Muhtahar ditemukan terapung di pesisir Pantai Semat, Kecamatan Tahunan. Jenazah tersebut memang dipastikan Muhtahar sebab ciri-cirinya sama dengan informasi dari pihak keluarga. Hal itu juga sesuai dengan keterangan tetangga korban yang ikut dalam pencarian,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Pujo Prasetyo kepada MuriaNewsCom, Senin (21/12/2015).

Menurutnya, saat melakukan pencarian, pihaknya juga memperoleh dua informasi penemuan jenazah yang terapung di laut turut Kabupaten Demak. Setelah ditelisik lebih lanjut, jenazah yang sebelumnya diduga Muhtahar, ternyata merupakan warga Semarang.

“Setelah kami cek jenazah yang ditemukan di Demak, ternyata warga Semarang. Kemudian informasi yang lain di pantai Semat Tahunan memang benar itu jenazah korban,” katanya.
Dia menambahkan, cuaca saat ini memang tidak bersahabat. Apalagi di laut, ombak memang sangat besar. Dia mengimbau agar para nelayan lebih berhati-hati ketika melaut dengan mempertimbangkan kondisi cuaca secara lebih cermat karena keselamatan lebih penting. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Satu Nelayan Karangaji Jepara Hilang Sudah Ditemukan

Ilustrasi Tenggelam

Ilustrasi Tenggelam

 

JEPARA – Dua nelayan ayah dan anak asal Desa Karang Aji RT 21 RW 03 Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara yang dikabarkan hilang sejak Rabu (16/12/2015) mulai diketahui. Satu korban yakni sang anak bernama Tabiin diketahui selamat dan mendarat di pantai Menco, Kabupaten Demak.

“Sedangkan ayahnya bernama Muhtar sampai saat ini belum dapat diketahui keberadaannya,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/12/2015).

Menurutnya, berdasarkan informasi yang dihimpun. Peristiwa nahas terjadi pada Rabu (16/12/2015) siang. Ketika mereka beranjak pulang ke darat, tiba-tiba ombak besar datang dan menghantam kapal yang digunakan melaut.

“Seketika itu kapal langsung tenggelam, dan sang anak berusaha mengambil galon air. Karena letaknya yang agak jauh dan angin kencang, membuat galon semakin menjauh,” kata Lulus.
Namun, lanjutnya, saat berusaha mengejar galon, sang anak melihat posisi ayahnya sudah menghilang. Kemudian sang anak juga tak mampu menaklukkan ombak hingga akhirnya terdampar di pantai Menco, Demak.

Seperti diberitakan sebelumnya, cuaca buruk mulai menghantui warga di Kabupaten Jepara. Tak hanya tanah longsor, ancaman banjir dan terdamparnya kapal di perairan laut Jepara. Tetapi dikabarkan ada dua nelayan hilang karena dijadwalkan kembali mendarat pada Rabu (16/12/2015) pagi sampai Kamis (17/12/2015) sore tadi tak kunjung diketahui keberadaan dan kondisinya. Selengkapnya di http://www.murianews.com/2015/12/17/64538/dua-nelayan-jepara-dikabarkan-hilang-di-laut.html. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Kronologi Kecelakaan Laut yang Tenggelamkan Nelayan Jepara

Ilustrasi Tenggelam

Ilustrasi Tenggelam

 

JEPARA – Kecelakaan laut di wilayah perairan Jepara terjadi pada Kamis (17/12/2015) dini hari. Dua korban tenggelam dalam kecelakaan ini karena perahu yang digunakan mereka terbalik usai diterjang ombak besar. Satu korban ditemukan warga Kabupaten Pati dalam kondisi selamat dan satu korban lain masih dalam proses pencarian.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, kedua korban tenggelam merupakan kakak beradik. Awalnya, seperti biasa kedua nelayan tersebut berangkat melaut mencari ikan pada Rabu (16/12/2015). Keduanya menggunakan satu perahu sopek di perairan laut Clering Donorojo Jepara.
“Tapi saat tengah malam atau dini hari, perahu yang digunakan mereka terkena ombak besar hingga perahunya terbalik,” kata Lulus kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/12/2015).

Menurut dia, pagi harinya pada Kamis (17/12/2015) satu korban yakni Sugiarto (adik) ditemukan nelayan dari Tayu Kabupaten Pati. Sedangkan korban Sugiono (kakak) masih dalam proses pencarian.

“Untuk perahunya juga ditemukan nelayan dari Kajen, Kabupaten Pati. Korban hilang masih dalam proses pencarian,” tandasnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

2 Nelayan Kakak Beradik Tenggelam di Laut Jepara

Ilustrasi Tenggelam

Ilustrasi Tenggelam

 

JEPARA – Kecelakaan laut terjadi di perairan wilayah Jepara, tepatnya di kawasan perbatasan Jepara – Pati. Akibat kecelakaan laut tersebut, dua nelayan tenggelam. Satu diketahui ditemukan dalam kondisi selamat dan satu lainnya masih dalam proses pencarian.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, kecelakaan terjadi pada Kamis (17/12/2015) dini hari. Kedua korban merupakan kakak beradik, yakni Sugiono (kakak) dan Sugiarto (adik). Keduanya warga Dukuh Tawang Rejo RT 06 RW 02 Desa Clering, Kecamatan Donorojo Jepara.

“Iya, memang benar ada kecelakaan laut di wilayah Kecamatan Donorojo. Dua nelayan tenggelam setelah pada tengah malam perahu diterjang ombak besar,” ujar Lulus kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/12/2015).

Menurutnya, satu korban ditemukan selamat yakni Sugiarto (adik) di wilayah Tayu, Kabupaten Pati, pada Kamis (17/12/2015). Sedangkan sang kakak Sugiono masih dalam proses pencarian oleh tim dari BPBD Jepara.

“Kami mendapatkan informasi jika satu korban sudah ditemukan nelayan di wilayah Pati. Kemudian kami melakukan pencarian korban hilang,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Cewek Italia Ini Kagumi Mekanik Nelayan Rembang

Julia Morlacchi Tommaso, perempuan asal Italia yang diselamatkan oleh nelayan Rembang ketika mesin kapalnya rusak di perairan Masalembu pada Rabu (16/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Julia Morlacchi Tommaso, perempuan asal Italia yang diselamatkan oleh nelayan Rembang ketika mesin kapalnya rusak di perairan Masalembu pada Rabu (16/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Keahlian mekanik para nelayan di Rembang ternyata dikagumi oleh warga negara asing. Salah satunya yaitu Julia Morlacchi Tommaso, perempuan asal Italia yang diselamatkan oleh nelayan Rembang ketika mesin kapalnya rusak di perairan Masalembu.

Saat ditemui MuriaNewsCom di kapal yatch yang berlabuh di dermaga pelabuhan Tasik Agung Rembang, Kamis (17/12/2015), Julia memuji keahlian para nelayan yang membantu memperbaiki kapal yang ditumpanginya. “Mereka (para nelayan) mekanik yang handal,” pujinya dalam Bahasa Inggris.

Meskipun sudah terombang-ambing cukup lama di tengah laut, namun Julia tampak bugar. Bahkan, ketika ditemui MuriaNewsCom, Julia tampak asyik membaca sebuah novel yang berbahasa Italia. Julia sendiri sudah berada di Bali hampir satu bulan bersama pacarnya Veneziano Gilelia.

Keduanya bersama Fulbio dan seorang nahkoda asal Makasar Suhendra, rencananya hendak ke Batam dari Bali. “Kami mau ke Batam, kemudian dilanjutkan ke Thailand. Namun, cuaca memburuk,” ujar Fulbio dengan bahasa Indonesia yang kurang lancar.

Fulbio juga memuji keramahan warga Indonesia, khususnya nelayan Rembang. Menurutnya warga Indonesia suka menolong dan murah senyum. Oleh karena itu, Fulbio menetap di Bali sejak 15 tahun yang lalu. “Saya suka Indonesia, saya sudah lama di Indonesia,” katanya.

Meski kapal mereka sudah diperbaiki dengan bantuan nelayan setempat, namun mereka enggan untuk segera berlayar kembali. Mereka masih menunggu agar cuaca membaik. “Dua hari lagi kami berlayar, cuacanya masih belum baik,” tandasnya. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

Dua Nelayan Jepara Dikabarkan Hilang di Laut

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Cuaca buruk mulai menghantui warga di Kabupaten Jepara. Tak hanya tanah longsor, ancaman banjir, dan terdamparnya kapal di perairan laut Jepara, tetapi dikabarkan ada dua nelayan hilang karena dijadwalkan kembali mendarat pada Rabu (16/12/2015) pagi sampai Kamis (17/12/2015) sore tadi, tak kunjung diketahui keberadaan dan kondisinya.

Kondisi perairan di laut Jepara saat ini sangat buruk. Di pinggiran laut kawasan Dermaga Kartini saja ombak mencapai ketinggian dua hingga tiga meter. Hal itu semakin membuat cemas keluarga yang ditinggalkan anggota keluarganya melaut di tengah cuaca ekstrem seperti ini.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Lulus Suprayitno mengemukakan, kedua nelayan merupakan ayak dan anak. Ayah yakni Muhtar, dan sang anak bernama Tabiin diketahui berangkat melaut pada Selasa (15/12/2015) malam.

”Semestinya paling lambat mereka pulang pada Rabu pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Tapi sampai hari ini (Kamis) kabar mereka belum diketahui alias belum pulang,” ungkapnya.

Kedua nelayan tersebut merupakan warga Desa Karang Aji, RT 21 RW 03, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Keduanya melaut menggunakan perahu kecil. Menurut Lulus, cuaca laut saat ini memang sangat membahayakan. (WAHYU KZ/TITIS W)

Bupati Jepara: Ada Rp 1,5 Miliar untuk Docking Kapal Nelayan

Kapal-kapal nelayan ketika mengikuti lomban kemarin. Bupati Jepara menjanjikan sejumlah hal kepada nelayan, salah satunya mengenai dana untuk docking kapal. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kapal-kapal nelayan ketika mengikuti lomban kemarin. Bupati Jepara menjanjikan sejumlah hal kepada nelayan, salah satunya mengenai dana untuk docking kapal. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Menanggapi sejumlah permintaan dari para nelayan ketika pembukaan pesta lomban, akhir pekan kemarin. Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menjanjikan kepada nelayan sejumlah hal. Salah satunya, dia menyatakan ada dana sebesar Rp 1,5 miliar untuk docking kapal nelayan.  Lanjutkan membaca

Lahan Darat Sempit, Panjat Pinang di Laut

Puluhan pemuda dari remaja musala Al-Barokah RT 03 RW 05 Kelurahan Demaan melakukan panjat pinang sejak pukul 16.00 WIB hingga waktu magrib tiba. Kegiatan dilakukan di laut karena wilayah darat mereka sempit. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Puluhan pemuda dari remaja musala Al-Barokah RT 03 RW 05 Kelurahan Demaan melakukan panjat pinang sejak pukul 16.00 WIB hingga waktu magrib tiba. Kegiatan dilakukan di laut karena wilayah darat mereka sempit. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Menurut Khundir salah satu pembina kelompok remaja musala Al-Barokah RT 03 RW 05 Kelurahan Demaan, Jepara, pemuda yang mengikuti panjat pinang tersebut mayoritas merupakan anak dari para nelayan.
Lanjutkan membaca

Unik, Anak Nelayan di Jepara ini Panjat Pinang di Laut

Puluhan pemuda dari remaja musala Al-Barokah RT 03 RW 05 Kelurahan Demaan melakukan panjat pinang sejak pukul 16.00 WIB hingga waktu magrib tiba. Kegiatan itu menjadi agenda tahunan setiap Syawalan dan Lomban tiba. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Puluhan pemuda dari remaja musala Al-Barokah RT 03 RW 05 Kelurahan Demaan melakukan panjat pinang sejak pukul 16.00 WIB hingga waktu magrib tiba. Kegiatan itu menjadi agenda tahunan setiap Syawalan dan Lomban tiba. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Jika orang dewasa yang berprofesi sebagai nelayan di pesisir pantai di Jepara, memiliki tradisi pesta Lomban dengan melarung kepala kerbau. Generasi pemuda di kawasan pesisir pantai turut Kelurahan Demaan, Jepara, memiliki tradisi yang tak kalah unik. Mereka menggelar sejumlah lomba yang dilakukan di laut, salah satunya panjat pinang. Lanjutkan membaca

Bobot Kapal Lebih 30 GT, Nelayan Wajib Urus di Pusat

Bobot Kapal Lebih 30 GT, Nelayan Wajib Urus di Pusat (e)

Sejumlah kapal milik nelayan Rembang bersandar di kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung Rembang. Pihak Dinlutkan setempat berencana menggelar ukur ulang bobot mati ratusan kapal cantrang milik nelayan. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

REMBANG – Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Rembang membeber peraturan tentang perizinan bagi kapal penangkap ikan. Bagi kapal berbobot lebih dari 30 grosston (GT), pengeluaran Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) dilakukan oleh pemerintah pusat. Lanjutkan membaca