Cuaca Tak Menentu, Nelayan di Jepara Diminta Waspada Gelombang Tinggi

Puluhan perahu nelayan saat berlabuh (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Puluhan perahu nelayan saat berlabuh. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Cuaca di wilayah Kabupaten Jepara dan sekitarnya baik daratan maupun perairan, sampai saat ini masih tak menentu. Untuk itu, nelayan di Jepara diimbau lebih waspada terhadap gelombang tinggi dan angin kencang, meski saat ini belum memasuki punjak musim hujan maupun baratan.

Hal itu diungkapkan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno. Menurutnya, dengan anomali cuaca yang cenderung tak menentu, justru akan membahayakan nelayan. Sehingga nelayan harus lebih waspada.

“Musim baratan yang belum juga tiba hingga pertengahan Januari ini justru perlu diwaspadai. Sebab, gelombang air laut dan kecepatan angin sulit diprediksi kapan akan tiba,” ujar Sudiyatno kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia mengemukakan, berdasarkan pengalaman sebelumnya, musim baratan yang membawa gelombang tinggi di Perairan Utara Jawa Tengah dan Karimunjawa seharusnya mulai terjadi sejak awal Januari. Gelombang tinggi justru beberapa kali terjadi pada Desember tahun lalu.

“Kami mengimbau kepada nelayan agar tidak lengah. Salah satunya dengan mengurangi waktu melaut hingga tidak berlayar terlalu jauh. Sehingga, saat tiba-tiba terjadi gelombang tinggi, bisa segera menuju daratan,” katanya.

Dia menambahkan, prakiraan cuaca dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tidak sepenuhnya bisa dijadikan patokan tetap, meski bisa dijadikan sumber informasi. Yang perlu diwaspadai ketika di tengah laut, ketika sudah menunjukkan tanda-tanda cuaca buruk harus lebih berhati-hati.

Editor : Kholistiono

Camat Donorojo Pastikan Jenazah yang Ditemukan di Pantai Caruban Rembang Merupakan Warga Clering Jepara

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Ditemukannya jenazah di kawasan Pantai CarubanLasem, Kabupaten Rembang, telah dicek oleh Basarnas Pos Jepara, BPBD Jepara dan pihak keluarga yang sebelumnya kehilangan anggota keluarga saat melaut di Desa Clering, Kecamatan Donorojo, Jepara, pada Rabu (16/12/2015).

Dari hasil pengecekan, dipastikan jika jenazah tersebut benar merupakan nelayan bernama Sugiyono yang selama beberapa hari ini dicari setelah dikabarkan hilang tenggelam di laut.

Kepastian itu dikatakan Camat Donorojo Jepara, Nuryanto. Menurutnya, korban satu orang yang sebelumnya masih belum diketahui keberadaannya setelah melaut sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Korban ditemukan di perairan Rembang dan jenazah dilarikan ke RS Rembang.

“Korban satu orang Desa Clering,Kecamatan Donorojo sudah ditemukan meninggal di perairan Rembang. Saat ini, jenazah masih berada di RS Rembang,” ujar Nuryanto, Senin (21/12/2015).

Menurutnya, jenazah langsung dimasukkan ke peti untuk selanjutnya dibawa ke Desa Clering dan langsung dimakamkan. Rencananya, pemakaman dilakukan di pemakaman umum Desa Clering.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua nelayan hilang di perairan Jepara wilayah Kecamatan Donorojo pada Rabu (16/12/2015). Mereka adalah kakak beradik bernama Sugiyono (kakak) dan Sugiarto (adik).

Sang adik telah ditemukan dalam kondisi selamat di perairan Kabupaten Pati. Sedangkan sang kakak masih belum diketahui keberadaannya. Kini sang kakak ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa di perairan Rembang. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

1 Nelayan Karangaji Jepara Ditemukan Tewas

Ilustrasi Tenggelam

Ilustrasi Tenggelam

 

JEPARA – Dua nelayan Desa Karangaji Kecamatan Kedung yang hilang pada Rabu (16/12/2015) akhirnya keduanya telah ditemukan. Jika sebelumnya satu nelayan bernama Tabiin (anak) ditemukan dalam kondisi selamat di pantai Menco, Kabupaten Demak, Kamis (17/12/2015). Sang ayah yakni Muhtahar (sebelumnya ditulis Muhtar) baru ditemukan pada Sabtu (19/12/2015) sore dalam kondisi tak bernyawa.

“Jenazah Muhtahar ditemukan terapung di pesisir Pantai Semat, Kecamatan Tahunan. Jenazah tersebut memang dipastikan Muhtahar sebab ciri-cirinya sama dengan informasi dari pihak keluarga. Hal itu juga sesuai dengan keterangan tetangga korban yang ikut dalam pencarian,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Pujo Prasetyo kepada MuriaNewsCom, Senin (21/12/2015).

Menurutnya, saat melakukan pencarian, pihaknya juga memperoleh dua informasi penemuan jenazah yang terapung di laut turut Kabupaten Demak. Setelah ditelisik lebih lanjut, jenazah yang sebelumnya diduga Muhtahar, ternyata merupakan warga Semarang.

“Setelah kami cek jenazah yang ditemukan di Demak, ternyata warga Semarang. Kemudian informasi yang lain di pantai Semat Tahunan memang benar itu jenazah korban,” katanya.
Dia menambahkan, cuaca saat ini memang tidak bersahabat. Apalagi di laut, ombak memang sangat besar. Dia mengimbau agar para nelayan lebih berhati-hati ketika melaut dengan mempertimbangkan kondisi cuaca secara lebih cermat karena keselamatan lebih penting. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Dua Nelayan Jepara Dikabarkan Hilang di Laut

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Cuaca buruk mulai menghantui warga di Kabupaten Jepara. Tak hanya tanah longsor, ancaman banjir, dan terdamparnya kapal di perairan laut Jepara, tetapi dikabarkan ada dua nelayan hilang karena dijadwalkan kembali mendarat pada Rabu (16/12/2015) pagi sampai Kamis (17/12/2015) sore tadi, tak kunjung diketahui keberadaan dan kondisinya.

Kondisi perairan di laut Jepara saat ini sangat buruk. Di pinggiran laut kawasan Dermaga Kartini saja ombak mencapai ketinggian dua hingga tiga meter. Hal itu semakin membuat cemas keluarga yang ditinggalkan anggota keluarganya melaut di tengah cuaca ekstrem seperti ini.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Lulus Suprayitno mengemukakan, kedua nelayan merupakan ayak dan anak. Ayah yakni Muhtar, dan sang anak bernama Tabiin diketahui berangkat melaut pada Selasa (15/12/2015) malam.

”Semestinya paling lambat mereka pulang pada Rabu pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Tapi sampai hari ini (Kamis) kabar mereka belum diketahui alias belum pulang,” ungkapnya.

Kedua nelayan tersebut merupakan warga Desa Karang Aji, RT 21 RW 03, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Keduanya melaut menggunakan perahu kecil. Menurut Lulus, cuaca laut saat ini memang sangat membahayakan. (WAHYU KZ/TITIS W)

Jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan di Jepara Tak Mencukupi

SPBN di Kecamatan Kedung. Dengan panjang pantai mencapai 85 kilometer, di Jepara hanya memiliki empat SPBN. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

SPBN di Kecamatan Kedung. Dengan panjang pantai mencapai 85 kilometer, di Jepara hanya memiliki empat SPBN. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Selain masalah pendataan dan pencetakkan kartu nelayan program dari Pemprov Jawa Tengah, masalah lain yang muncul di nelayan Jepara yakni seputar kesiapan dan jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Jepara.

Dengan panjang pantai mencapai 85 kilometer, di Jepara hanya memiliki empat SPBN. Di ujung selatan di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung, di tengah di Ujungbatu Kecamatan Jepara Kota, wilayah utara di Jambu Kecamatan Mlonggo, dan terakhir di Ujungwatu, Kecamatan Donorojo.

”Jumlah ini kami akui memang tak bisa menjangkau semua nelayan,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Jepara melalui Kabid Perikanan Tangkap Isnan Haryoko kepada MuriaNewsCom, Rabu (11/11/2015).

Menurut dia, semestinya dengan panjang pantai dan banyaknya nelayan di Kabupaten Jepara, jumlah SPBN dapat ditambah.

Bahkan, Ketua Kelompok Nelayan Bumiharjo, M Rofiq Sunarto mengeluhkan terkait program kartu nelayan yang belum jelas, yang berdampak pada aturan pembelian bahan bakar.

Menurut dia, belum jelasnya realisasi kartu BBM Nelayan yang didata berdasarkan jumlah kapal dan perahu ini sangat disayangkan. Sebab, kepastian realisasi ini diperlukan agar ada kejelasan mengenai aturan pembelian bahan bakar solar bagi nelayan.

”Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahan pemahaman mengenai aturan pembelian solar. Baik dari nelayan, penyedia bahan bakar hingga aparat penegak hukum. Dengan kartu BBM Nelayan, maka aturannya jelas,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Program Kartu BBM Nelayan di Jepara Belum Jelas

kartu-nelayan (e)

 

JEPARA – Program Pemerintah provinsi (Pemprov) Jawa Tengah untuk memfasilitasi nelayan dengan kartu Bahan Bakar Minyak (BBM) Nelayan di Kabupaten Jepara dianggap belum jelas. Pasalnya, dari 3.500 kartu yang diajukan pihak Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Jepara, baru 800 kartu yang tercetak.

Penilaian tersebut muncul dari kelompok nelayan. Salah satu Ketua kelompok nelayan Bumiharjo, M Rofiq Sunarto mengatakan, pihaknya bersama nelayan lain mengeluh terkait belum jelasnya realisasi program pemprov tersebut.

”Seharusnya, kartu tersebut sebanyak jumlah nelayan yang ada di Jepara. Tapi sampai saat ini belum jelas kemana program tersebut mengarah,” kata Rofiq kepada MuriaNewsCom, Rabu (11/11/2015).

Sementara itu, Kepala Dislutkan Jepara melalui Kabid Perikanan Tangkap Isnan Haryoko mengatakan, sampai saat ini, memang baru sebagian kecil kartu yang sudah tercetak dan sudah diterima oleh dinasnya. Dari 3.500 yang sementara ini sudah diajukan, baru 800 kartu yang tercetak.

Pendataan pun masih terus dilakukan. Misalnya, di Karimunjawa, dari 900 lebih kapal nelayan, baru 500 yang didata.

”Semuanya diurus langsung dari Pemprov. Kami hanya membantu soal data. Pembagian kartu tentu menunggu semuanya selesai. Tak mungkin 800 kartu yang sudah ada dibagikan lantaran pertimbangan sosial,” katanya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Pengurusan Administrasi untuk Berlayar Dinilai Terlalu Rumit

Sejumlah kapal yang berada di Muara Kali Wiso Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah kapal yang berada di Muara Kali Wiso Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Nelayan di Jepara sebagian masih tak mampu melengkapiadministrasi pelayaran, salah satunya Surat Persetujuan Berlayar(SPB). Sebab, pengurusan administrasi tersebut dinilai terlalu rumit.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatnomengatakan, nelayan Jepara kesulitan jika harus melengkapi semuapersyaratan untuk bisa berlayar. Salah satunya SPB dari Unit
Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Syahbandar Jepara.

Menurutnya, hal itu bukan berarti nelayan tidak mau taat aturan. Hanyasaja, sejumlah aturan untuk bisa melaut yang ada selama ini memangmenyulitkan nelayan. Berbeda dari aturan untuk bisa berkendara di
darat yang cukup dengan adanya Surat Izin Mengemudi (SIM) serta STNK.

”Nelayan di Jepara bagian utara dan selatan, sulit jika harusmengajukan surat itu, karena jarak yang cukup jauh,” katanya.

Menurut dia, bagi nelayan banyaknya permasalahan terkaitaturan hingga bahan bakar, menjadi pertimbangantersendiri. Untuk bisa berlayar, butuh belasan dokumen. Salah satuyang pokok adalah Surat Izin Berlayar (SIB) dan Surat PeretujuanBerlayar (SPB). (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Cantrang Dilarang, No Problem! Tak Ada Imbas Besar Bagi Nelayan Jepara

Kapal-kapal nelayan di Muara Kali Wiso Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kapal-kapal nelayan di Muara Kali Wiso Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Sampai saat ini pemberlakuan Peraturan Menteri (Permen)Kelautan dan Perikanan Nomor 1 dan 2 tahun 2015 tentang Pelarangan Jaring Cantrang serta pembatasan penangkapan sejumlah spesies lautmasih menggantung. Hal itu dikatakan Ketua Himpunan Nelayan SeluruhIndonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno.

Menurutnya, nelayan Jepara saat ini menunggu kepastian. Sebab, wacanapelarangan cantrang tersebut sudah bergulir lama sejak awal menteriSusi Pujiastuti menjabat.

Meski demikian, Sudiyatno mengaku, pemberlakukan aturan itu tidakberpengaruh besar bagi nelayan Jepara. Sebab hanya beberapa nelayanyang memakai jaring cantrang. Itu pun masih di bawah 10 GT, sertaditarik secara manual.

”Pada dasarnya bagi nelayan Jepara tidak ada masalah. Sebab, nelayanJepara hanya sebagian kecil yang menggunakan cantrang dan itu punmasih dibawah 10 GT,” kata Sudiyatno kepada MuriaNewsCom.

Dia menambahkan, saat ini pihaknya tengah mengembangkan penggunaanbubu yang khusus bisa menangkap rajungan, kepiting dan lobster yangdiizinkan ditangkap sesuai Permen yang ada. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Ini Alasan Nelayan Minta Alat Pemecah Gelombang Segera Dibangun

Beberapa perahu milik nelayan sedang bertambat di muara Kali Wiso (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Beberapa perahu milik nelayan sedang bertambat di muara Kali Wiso (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno mengemukakan, pembangunan pemecah gelombang di area TPI Ujungbatu sangat penting, sebab di musim baratan, sampah yang terbawa di lautan selalu menepi di muara Kali Wiso.

Hal itu menyebabkan sedimentasi di muara kali yang dimanfaatkan ratusan nelayan untuk menambatkan kapal tersebut kian parah.

“Selain itu, juga agar gelombang yang menerpa daratan di lokasi itu tidak terlalu parah. Sehingga tepi pantai di sekitar TPI Ujungbatu hingga masuk muara Kali Wiso bisa dijadikan tempat tambat perahu, atau tempat berlindung saat musim baratan,” ujar Sudiyatno kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, selama ini muara Kali Wiso memang menjadi andalan bagi nelayan Jepara, khususnya di kelurahan Jobokuto dan Ujungbatu untuk menambatkan kapal mereka.

Menurut Sudiyatno, tempat tambat kapal yang sudah selesai dibangun, tepat di seberang TPI kurang diminati nelayan lantaran persoalan biaya tambat.

“Untuk musim normal kemungkinan nelayan masih bisa menyanggupi biaya tersebut. Sebab tiap hari masih bisa melaut. Tapi jika musim baratan, maka akan terlalu berat bagi nelayan sebab bisa berbulan-bulan mereka tak melaut,” ungkapnya.

Selain itu, di musim baratan, tanpa adanya pemecah gelombang, area di sekitar tambatan kapal tersebut juga masih diterpa gelombang tinggi. Hasilnya, nelayan masih mengandalkan muara Kali Wiso dan Dermaga Kartini sebagai lokasi berlindung dari ganasnya gelombang. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Nelayan Jepara Ingin Pembangunan Pemecah Gelombang Segera Terwujud

Nelayan Jepara sedang berupaya menyandarkan kapalnya (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Nelayan Jepara sedang berupaya menyandarkan kapalnya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kabupaten Jepara memiliki cukup banyak warga yang berprofesi sebagai seorang nelayan. Salah satunya, di Kelurahan Jobokuto dan Ujungbatu.

Nelayan di sana, menginginkan Pemkab Jepara segera membangun pemecah gelombang di sisi selatan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno menjelaskan, nelayan Jepara khususnya nelayan di Kelurahan Jobokuto dan Ujungbatu menuntut Pemkab Jepara membangun pemecah gelombang yang berintegrasi dengan tambatan kapal di area Syahbandar Jepara.

”Pemecah gelombang disitu sangat penting. Salah satu alasannya, agar dapat meminimalisir sedimentasi di muara Kali Wiso,” ujar Sudiyatno kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, secara resmi pihaknya sudah mengajukan usulan ini kepada Pemkab Jepara. Pihaknya berharap bisa segera dikabulkan. Sebab usulan ini juga melengkapi rencana normaliasi Kali Wiso tahun depan. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Nelayan Luar Daerah Juga Serbu Perairan Jepara

 

tangkapan ikan

Salah satu nelayan saat menjaring menangkap ikan di perairan Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA –  Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno mengatakan, hasil tangkapan ikan yang diperdagangkan di TPI Ujung Batu tersebut diakui memang tak semua dihasilkan oleh nelayan Jepara sendiri.

”Sebagian merupakan hasil tangkapan nelayan Demak, Pati dan Rembang yang menangkap ikan di perairan di wilayah Jepara,” kata Sudiyatno kepada MuriaNewCom.

Menurut dia, jika nelayan Jepara sendiri tidak akan mampu menghasilkan produktifitas tangkapan yang banyak. Sebab dari total nelayan di Jepara yang mencapai 13 ribu lebih, hanya sedikit nelayan menggunakan kapal dengan  kapasitas 20-30 GT. Sebagian besar hanya menggunakan kapal 10 GT.

”Kalau nelayan Jepara sendiri tidak mampu menghasilkan tangkapan yang melimpah seperti saat ini yang sudah mencapai 2 juta kilogram. Sebab, jumlah perahu dan kapal nelayan di Jepara ada sekitar 3.500 kapal. Tapi, 75 persen merupakan perahu kecil dengan kapasitas di bawah 10 GT,” ungkap Sudiyatno.

Lebih lanjut dia mengemukakan, keberadaan nelayan luar Jepara yang melakukan penangkapan ikan di perairan wilayah Jepara tersebut tidak menjadi masalah. Sebab, nelayan di Jepara sudah memahami jika laut bukan milik warga Jepara sendiri. Terlebih ada aturan baru, jika laut lepas mulai dari nol mil hingga 12 mill merupakan wewenang pemerintah provinsi.

”Tidak ada masalah. Yang terpenting semua nelayan menggunakan alat menangkap ikan yang tidak melanggar hukum,” imbuhnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Hingga September, Tangkapan Ikan Nelayan di Jepara Sudah Lampaui Hasil Tahun Lalu

tangkapan ikan

Salah seorang nelayan Jepara menjaring ikan di laut. Tahun ini tangkapan ikan nelayan di Jepara melimpah ruah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Hasil tangkapan ikan nelayan di Kabupaten Jepara tahun ini melimpah ruah. Sampai pada awal September ini, jumlah tangkapan ikan melebihi jumlah tangkapan ikan selama satu tahun di tahun 2014 lalu.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno mengemukakan, meski baru memasuki bulan September, hasil tangkapan nelayan di Jepara sudah mencapai 2 juta kilogram. Dibanding tahun lalu, jumlah tersebut telah melampaui jumlah keseluruhan di tahun 2014.

”Jumlah tersebut sudah melampaui jumlah total tangkapan nelayan sepanjang 2014 yang hanya mencapai 1,8 juta kilogram lebih ikan segar,” ujar Sudiyatno kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, tangkapan nelayan di Jepara tahun ini memang jauh lebih melimpah. Hasil tangkapan ikan oleh nelayan yang diperjual belikan di 16 Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Jepara mencapai 2.017.860 kilogram ikan segar.

”Jumlah itu cukup besar. Jika diuangkan, hasil tangkapan hingga Agustus itu mencapai Rp 8,974 miliar lebih. Sedangkan hasil tangkapan tahun lalu mencapai Rp 8,388 miliar lebih. Dengan sisa bulan yang ada, tentu tangkapan nelayan tahun ini jauh melampaui hasil tangkapan tahun lalu,” kata Sudiyatno.

Dia menambahkan, melimpahnya hasil tangkapan tersebut tak lepas dari hasil tangkapan nelayan dari luar Jepara yang menangkap ikan dengan kapal lebih besar, dan peralatan lebih mumpuni. Nelayan luar Jepara tersebut juga melakukan pelayaran lebih jauh dan lebih lama dibandingkan nelayan Jepara. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Sabarlah Nelayan Jepara ! Pemkabmu Belum Bisa Penuhi Janjinya Tahun Ini

Sejumlah kapal dan perahu milik nelayan bersandar di muara kali wiso (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah kapal dan perahu milik nelayan bersandar di muara kali wiso (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kepala Dinas Bina Marga Pengairan Energi Sumber Daya Mineral (BMP-ESDM) Budiarto menegaskan bahwa tahun ini, tidak ada anggaran untuk pengerukan kali wiso. Hal itu dikatakan Budiarto menanggapi keinginan nelayan yang meminta agar segera dilakukan pengerukan.

“Tahun ini belum ada alokasi untuk itu. Kita rencanakan di tahun 2016 besok,” kata Budiarto kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, tahun ini belum dianggarkan karena memang dananya dari Anggaran Pendapatan Daerah (APBD) tidak mencukupi. Sebab, untuk melakukan normalisasi kali wiso butuh dana yang sangat besar,” ujar Budiarto.

Lebih lanjut dia mengemukakan, untuk melakukan normalisasi kali wiso, pihaknya meminta bantuan dana ke pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Khusus tahun ini memang baru tahap perencanaan. Harapannya, permohonn bantuan dana ke pusat dapat segera cair dan dapat direalisasikan pada tahun 2016.

“Kalau kita lakukan tahun ini dengan dana yang sedikit, itu percuma. Ini selesai, yang lain belum dikerjakan. Nanti kembali lagi. Kalau normalisasi harus total dan itu butuh dana yang besar,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Perahu Nelayan Jepara Banyak yang Rusak, Janji Pemkab untuk Keruk Kali Ditagih

 

Salah satu nelayan tengah memperbaiki bagian perahu yang rusak akibat kali wiso yang dangkal. (MuriaNewsCom/Wahyu Kz)

Salah satu nelayan tengah memperbaiki bagian perahu yang rusak akibat kali wiso yang dangkal. (MuriaNewsCom/Wahyu Kz)

 

JEPARA – Di tengah euforia perayaan HUT ke-70 RI ini, nelayan di Kabupaten Jepara, terutama di kawasan kali wiso meminta agar pemerintah segera melakukan pengerukan kali tersebut.

Karena, semakin lama dibiarkan, maka sungai tersebut menjadi dangkal serta kondisinya semakin parah. Akibatnya, kapal dan perahu nelayan tak dapat bersandar maupun tak dapat keluar dari tempat sandaran.

Hal itu disampaikan salah seorang nelayan di Kelurahan Ujung Batu, Kecamatan Jepara Kota, Suparjo. Menurutnya, ketika perayaan lomban yang dilakukan beberapa waktu lalu, Pemkab Jepara melalui sambutan Bupati Jepara telah berjanji akan melakukan pengerukan kali wiso. Namun, sampai saat ini belum dilakukan.

“Kami sangat berharap pemerintah segera melakukan pengerukan atau normalisasi kali wiso. Pendangkalan sudah cukup parah,” ujar Suparjo kepada MuriaNewsCom, Senin (17/8/2015).

Lebih lanjut dia mengemukakan, musim kemarau saat ini membuat air di kali wiso semakin surut. Hal itu semakin memperparah pendangkalan yang sudah ada. Bahkan, sebagian sisi kali wiso, kedalaman air kurang dari setengah meter.

“Itu tentu saja membuat kesulitan jika akan bersandar, maupun jika akan keluar. Kami harus bersusah payah,” katanya.

Dia menambahkan, lantaran sulit menyandarkan dan keluar dari tempat sandaran akibat kali yang dangkal. Risikonya, kata dia, bagian kincir dari perahu atau kapal nelayan rusak. ”Sehingga harus sering diperbaiki,” ujarnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Pemkab Jepara Anggarkan Rp 660 Juta untuk Normalisasi Kali Wiso

Pemkab Jepara melakukan pengerukan Kali Wiso yang dilakukan pada November 2014 lalu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pemkab Jepara melakukan pengerukan Kali Wiso yang dilakukan pada November 2014 lalu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Keluhan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara mulai mendapat perhatian Pemkab Jepara. Mereka bahkan menganggarkan dana sebesar Rp 660 juta untuk mengeruk muara Kali Wiso.

”Tahun ini anggaran sebesar Rp 660 juta akan dikucurkan untuk pengerukan muara Kali Wiso. Secara umum pemgerukan akan dilakukan di titik yang memang menjadi tempat kapal bersandar. Untuk detailnya, dinas terkait yang tahu,” ujar Bupati Jepara Ahmad Marzuqi

Menurutnya, pemkab saat ini memang fokus pada pembangunan daerah pesisir. Khususnya pengembangan dan peningkatan kehidupan nelayan. Harapannya, dengan dana tersebut dapat memudahkan para nelayan dalam melakukan aktifitasnya.
”Fasilitas ini diharapkan bisa meningkatkan produktifitas nelayan,” katanya.

Dia menambahkan, pada November tahun 2014 lalu, pengerukan di Muara Kali Wiso juga dilakukan. Pengerukan dilakukan dengan jarak dari 200 meter. Tepatnya dari muara kali yang di bawah jembatan Ujung Batu menuju arah laut. Pengerukan dilakukan dengan kedalaman yang hanya berkisar satu meter. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)

Memprihatinkan, Nelayan Ujungbatu dan Jobokuto Jepara Tak Bisa Cari Makan Gara-gara Gagal Bersandar di Kali Wiso

Nelayan Ujungbatu dan Jobokuto Jepara

Nelayan Ujungbatu dan Jobokuto Jepara

JEPARA – Kondisi muara Kali Wiso yang dangkal mendapatkan keluhan dari para nelayan, termasuk Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara.

Pasalnya, kali tersebut menjadi titik vital bagi aktivitas nelayan di Ujungbatu dan Jobokuto. Praktis banyak nelayan setempat yang kehilangan pembeli dan harus merugi gara-gara tak bisa bersandar.

”Saat ini kondisinya memprihatinkan. Kali mengalami pendangkalan parah. Sehingga banyak kapal tidak bisa bersandar. Terlebih jika air surut,” kata Ketua HNSI Jepara Sudiyatno.

Karena kondisi itu, kapal nelayan tidak bisa dengan mudah keluar masuk. Pengerukan perlu dilakukan di area yang selama ini dijadikan tempat kapal untuk bersandar.

”November tahun lalu pengerukan sudah dilakukan. Hanya, karena derasnya ombak Kali Wiso kembali dangkal. Kami harap pemerintah bisa memperhatikan,” tandasnya. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)