Tenggelam Tiga Hari, Nelayan Asal Kedungmalang Jepara Akhirnya Ditemukan

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Sari Uzaki (33), nelayan asal Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, Jepara, yang dikabarkan tenggelam Sabtu (29/4/2017) lalu, diketemukan dalam  kondisi sudah meninggal dunia. Saat ini, jenazah telah dibawa ke rumah duka. 

Hal itu disampaikan Koordinator Pos SAR Jepara Whisnu Yugo Utomo. “Untuk korban sudah diketemukan, sekitar hari ini, pukul 11.00 WIB. Saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah duka,” ucapnya, Senin (1/5/2017) siang. 

Dirinya mengatakan, penemuan mayat dari warga Desa Kedungmalang RT 04 RW 01, Kecamatan Kedung itu berdasarkan upaya dari tim SAR gabungan, yakni Basarnas, BPBD melibatkan nelayan sekitar. 

Dirinya menyebut, jenazah ditemukan tak jauh dari lokasi tenggelamnya korban. Adapun, korban diketahui tenggelam di sekitar perairan di Kedungmalang, saat hendak mencari ikan bersama rekan-rekannya. 

Uzaki diketahui tenggelam pada Sabtu pagi pukul 08.30 WIB. Sesaat setelah kejadian tersebut, rekan-rekan korban berusaha mencari keberadaan tubuh Uzaki, namun tidak diketemukan. 

Setelah berusaha pencarian tak berhasil, barulah rekan korban memberitahukan keluarga dan melaporkan kejadian itu pada Kepala Desa Kedungmalang. 

“Dalam pencarian kami bekerja sama juga dengan BMKG Provinsi untuk mengetahui cuaca di perairan. Karena tidak keadaan cuaca di tengah laut tak bisa berbeda dengan daratan,” lanjut Whisnu.

Editor : Kholistiono

3 Korban Kecelakaan Laut di Jepara Belum Dapat Santunan dari Pemerintah

BPN DPW PKS Jateng menggelar kunjungan dan dialog dengan para tokoh dan kelompok nelayan di Jepara dalam rangka Peringatan Hari Nelayan Nasional, (6/4/2017). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah dinilai kurang tanggap menyelesaikan persoalan sosial kecelakaan laut di wilayah perairan Kabupaten Jepara, pada Jumat (17/2/2017) lalu. Saat itu, tiga nelayan mengalami kecelakaan laut setelah sebuah perahu yang ditumpangi tiga nelayan pecah karena dihantam ombak di Perairan Bondo, Kecamatan Bangsri, yang berakibat satu orang meninggal, satu selamat dan satu lagi hilang.

Hal tersebut disampaikan Nur Ali, perwakilan komunitas nelayan Kabupaten Jepara saat serap aspirasi dengan Bidang Petani dan Nelayan (BPN) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah, Kamis (6/4/2017) di Jepara.

“Saat itu ada tiga nelayan yang menjadi korban, namun hingga saat ini, pemerintah kurang tanggap, bahkan masyarakat sudah melapor ke dinas terkait, namun belum juga mendapat tanggapan dari pemerintah,” ujar Nur dalam rilis yang diterima MuriaNewsCom.

Menurut Nur Ali, tiga nelayan yang menjadi korban itu adalah Nur Hadi (65) warga Dukuh Ngrandon, Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Hariadi (60) warga Desa Balongarto, Kecamatan Kembang dan Gisan warga Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri.

Atas kondisi dan pembiaran selama dua bulan itu, BPN DPW PKS Jateng mengaku akan segera menindaklanjuti persoalan sosial yang menimpa nelayan di Jepara.

Suharsono, Ketua BPN DPW PKS Jateng mengatakan, pihaknya akan meneruskan kepada pemerintah kabupaten dan provinsi agar segera ditindaklanjuti, terutama terkait santunan kepada korban.

“Kita akan menyampaikan kepada pemerintah kabupaten dan provinsi. Sehingga mereka mendapat bantuan. Mereka seharusnya mendapatkan kompensasi untuk kecelakaan laut. Kasihan, ini sudah dari Februari belum mendapatkan kepastian,” katanya.

Sebagai informasi, BPN DPW PKS Jateng menggelar kunjungan dan dialog dengan para tokoh dan kelompok nelayan dalam rangka Peringatan Hari Nelayan Nasional, 6 April 2017. Selain di Jepara, BPN PKS Jateng juga menggelar kunjungan ke Kabupaten Demak.

Editor : Kholistiono

Perairan Jepara Kerap Jadi ‘Rebutan’ Nelayan, Ini Alasannya

Warga sedang melintas di area tempat sandaran kapal di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Warga sedang melintas di area tempat sandaran kapal di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Wilayah perairan Jepara ternyata menjadi salah satu area yang favorit bagi sebagian nelayan dari luar daerah. Bahkan, mereka kerap “berebut” wilayah mencari ikan di perairan utara Jawa Tengah tersebut.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno menjelaskan, banyaknya nelayan luar daerah yang masuk mencari ikan di perairan Jepara, lantaran area tersebut memiliki klorofil yang banyak. Selain itu, terumbu karang juga masih terjaga dengan baik.

“Kondisi itu yang membuat jumlah ikan juga masih melimpah. Sehingga banyak nelayan dari luar daerah yang mencari ikan hingga masuk di perairan Jepara,” ujar Sudiyatno kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, dengan alasan itu, tak ada reaksi apapun dari nelayan Jepara berkait dengan penerapan aturan kebijakan pelarangan jaring cantrang oleh pemerintah, serta aturan lain yang membuat nelayan di daerah lain bergejolak. Sebab, nelayan di Jepara meyakini kebijakan yang diambil pemerintah adalah untuk melindungi ekosistem laut dan demi kebaikan jangka panjang.

“Di Jepara tak ada cantrang. Ikan melimpah dan cukup ditangkap dengan alat yang tak merusak lingkungan. Dengan hasil selama ini, ikan tangkapan nelayan sudah bisa mencukupi kebutuhan warga Jepara,” ungkapnya.

Dia berharap, aturan pelarangan cantrang diterapkan secara sungguh-sungguh. Hal itu untuk menghindari gesekan antara nelayan pemakai cantrang dan tidak. Menurutnya, memang ada kecemburuan nelayan yang tak gunakan jaring cantrang. Di satu sisi, ada aturan yang dilanggar tapi dibiarkan. Di sisi lain, ada ketimpangan jumlah tangkapan.

Editor : Kholistiono

Nelayan Jamin Tak Ada Jaring Cantrang di Laut Jepara

Beberapa perahu nelayan sedang bersandar (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Beberapa perahu nelayan sedang bersandar (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Nelayan yang tergabung dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara menjamin tak ada pemakaian jaring cantrang di perairan utara Jawa Tengah, Jepara. Sebab, mereka sadar, bahwa penggunaan jaring cantrang dapat merusak ekosistem laut.

Tentu saja, hal itu menjadi respon positif terhadp aturan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti yang melarang penggunaan alat tangkap tersebut. Itu yang disampaikan oleh salah seorang nelayan di Jepara bernama Rahmad saat berbicara langsung kepada Menteri Susi via handphone yang disambungkan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, pada Sabtu (16/4/2016) lalu.

Ketua HNSI Jepara Sudiyatno mengatakan, sejak aturan pelarangan cantrang mulai diterapkan oleh pemerintah, nelayan Jepara nyaris sudah tak ada yang menggunakannya. Selain memang kesadaran nelayan jika jaring tersebut merusak ekosistem laut, juga didukung dengan kemampuan kapal dan kebiasaan melaut nelayan Jepara.

“Hampir tak mungkin memakai jaring cantrang, karena mayoritas kapal nelayan Jepara berukuran kecil. Selain itu, nelayan Jepara melaut dalam waktu singkat, maksimal melaut selama 24 jam saja. Tidak sampai berpekan-pekan atau berbulan-bulan,” ujar Sudiyatno, Selasa (19/4/2016).

Menurutnya, pemakaian jaring cantrang di perairan Jepara justru banyak dilakukan oleh nelayan luar daerah. Tapi saat ini, sudah banyak berkurang lantaran nelayan Jepara sendiri aktif memberikan peringatan kepada nelayan pemakai cantrang tersebut.

“Jika bersaing dengan nelayan pemakai cantrang, nelayan kami jelas kalah. Hasil yang didapatkan akan sangat sedikit. Hanya kami beriperingatan. Tak ada tindakan berlebihan. Itu demi keadilan bagi nelayan,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Wow.. Nelayan di Jepara Dibangunkan Rumah Tahan Gempa dan Tsunami

Menpupera Basuki Hadimuljono saat pencanangan pembangunan rumah nelayan di Jepara. (MuriaNewsCom)

Menpupera Basuki Hadimuljono saat pencanangan pembangunan rumah nelayan di Jepara. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Hadirnya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) Basuki Hadimuljono ke Jepara, Sabtu (16/4/2016) kemarin, membawa berkah tersendiri bagi nelayan di Desa Kedung Malang Kecamatan Kedung, Jepara. Pasalnya Menteri mendorong pembangunan Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) di wilayah pesisir laut Jepara tersebut, Sabtu (16/4/2016).

Basuki Hadimuljono mengatakan, selain berbahan ekonomis, rumah tersebut juga diyakini tahan gempa dan tsunami. Rencananya akan ada 200 rumah buat nelayan yang akan dibangun. Namun untuk sementara ini baru akan dibangun sekitar 30-an dulu, lantaran permintaan dari Pemkab Jepara terbilang mendadak.

“Selain murah, rumah ini tahan gempa dan tsunami,. Bahannya sudah diuji di Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenpupera. Sebentar lagi, bahan bangunannya akan dijual secara massal,” ujar Basuki.

Menurutnya, pihaknya juga akan melatih masyarakat sekitar di kampung nelayan Desa Kedung Malang, untuk membuat bahan bangunan tersebut. Rencananya, nelayan Desa Kedung Malang akan mendapatkan rumah khusus satu unit tipe berukuran 36. Sedangkan anggaran untuk satu rumah senilai Rp 115 juta, dengan masa pembangunan sekitar satu pekan per unitnya.

“Untuk mekanisme pembagiannya kepada nelayan seperti apa, nanti kami serahkan kepada Pemkab Jepara. Jadi asetnya menjadi asset pemkab,” kata Basuki.

Saat ini, lanjut dia, Kemenpupera tengah mendorong pembangunan RISHA di daerah gempa, seprti di daerah Alor, NTT, Aceh dan beberapa daerah lain. Untuk pembangunan RISHA, kata dia, selain menggunakan teknologi bangunan terkini, juga diharapkan mempercepat proses pembangunan rumah warga.

Meski demikian, sumber daya manusia yang berkompeten dalam pembangunan RISHA masih sedikit.

“Kami akan terus berupaya menyosialisasikan teknologi Risha kepada masyarakat luas serta para pengembang dan tukang-tukang bangunan, sehingga masyarakat bisa memanfaatkannya,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha