Kepala Pasar Kliwon Bangga Pedagang di Pasar Kliwon Miliki Jiwa Nasionalime Tinggi

Seorang karyawan sedang menata barang dagangan milik Maryanto di kios Anugrah Murya Kompleks Pasar Kliwon Lantai 2 Blok A. (MuriaNewsCom)

Seorang karyawan sedang menata barang dagangan milik Maryanto di kios Anugrah Murya Kompleks Pasar Kliwon Lantai 2 Blok A. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Adanya pengumuman yang mengikat kepada semua pedagang di Pasar Kliwon tentang PKI, dinilai sebuah terobosan yang pas. Sebab dengan pedagang yang kompak, maka mampu membendung datangnya atribut PKI masuk Kliwon.

Kapala Pasar Kliwon Sugito mengatakan, para pedagang sangat kompak. Dengan adanya himbauan semacam ini dapat menyemangati pedagang untuk lebih waspada dengan hal yang menyangkut PKI.

“Mereka para pedagang kompak dan memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Selain itu, mereka juga sudah waspada dengan mengambil sikap untuk hati-hati dengan semua atribut berbau PKI. Ini patut dicontoh,” katanya

Kampanye lewat gambar dan mainan memang termasuk hal yang jarang ditemukan. Namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi, terlebih pasar sedang ramai seperti sekarang.

Jika tak ditangkal, ia khawatir barang berbau PKI akan masuk pasar, dan tersebar ke berbagai tempat. Apalagi lagi jika sampai ke anak-anak yang memang tidak tahu mengenai atribut PKI.

”Mudah mudahan masih kompak hingga nanti. Sebab ribuan pedagang selama ini masih kompak termasuk dengan tidak menjual pakaian dan barang kecuali kepada pedagang pasar,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

 

Pedagang Pasar Kliwon Siap Pasang ‘Mata’ Awasi Pin dan Gambar PKI

Salah satu selebaran sekaligus imbauan HPPK kepada pedagang untuk waspada dengan barang-barang berbau PKI. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu selebaran sekaligus imbauan HPPK kepada pedagang untuk waspada dengan barang-barang berbau PKI. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan pedagang Pasar Kliwon yang tergabung dalam Himpunan Pedagang Pasar Kliwon (HPPK) bakal pasang mata untuk ikut mengawasi adanya pin atau pakaian bergambar atribut PKI.

Ketua HPPK Sulistyanto mengatakan, selebaran mengenai imbauan dan pengawasan sudah disebarkan kepada pedagang di pasar nomor satu di Kudus tersebut. Bahkan, imbauan juga ditempelkan ke beberapa ruas titik untuk mengingatkan pedagang.

”Kami mewaspadai adanya hal-hal semacam itu (PKI). Sehingga kami membuat pedagang untuk cermat dengan dagangan yang dibeli, mulai pakaian, pin, gambar, mainan dan lain sebagainya yang berhubungan dengan PKI,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Sebagai pusat grosir yang pembelinya bukan hanya dari Kudus, tentunya barang yang masuk cukup banyak. Untuk itulah pedagang diminta waspada dengan atribut yang berhubungan dengan PKI.

”Kami juga meminta kepada pengunjung pasar, jika melihat barang demikian dapat segera lapor kepada petugas atau pemilik barang dan penjual,” ujarnya.

Dalam imbauan yang dibagikan, HPPK juga mengingatkan agar langsung melaporkan jika ada yang mengajak atau bernaung menjadi PKI. Tidak hanya lapor kepada petugas pasar, melainkan dapat langsung lapor kepada petugas kepolisan dan juga kodim.

“Ini juga termasuk tugaskan kami. Jadi kami juga memantau perkembangan PKI dan membentengi agar tidak masuk kedalam pasar dalam wujud apapun,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pengumuman tersebut merupakan pengumuman yang mengikat seluruh pedagang di Pasar Kliwon. Sehingga, ribuan pedagang bertugas untuk bersama mengawasinya.

Editor: Supriyadi

Mantan Bupati Kudus Ini Bilang, Nasionalisme Harus Diajarkan Lewat Lagu

nasionalisme-soedarsono (e)

Mantan Bupati Kudus Soedarsono bersama dengan anak-anak TK Pelita Nusantara, usai merayakan Hari Kartini di sekolah tersebut, Sabtu (23/4/2016). (MuriaNewsCom/MERIE)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Rasa nasionalisme yang dimiliki generasi muda sekarang ini, memang terbilang memprihatinkan. Banyak anak-anak yang mulai kehilangan rasa nasionalisme.

Itulah yang dirasakan mantan Bupati Kudus Soedarsono, yang menilai bahwa harus ada cara yang kemudian mampu membuat rasa nasionalisme anak-anak muda sekarang ini lebih meningkat.

”Misalnya saja lewat lagu. Karena lagu itu sangat luas maknanya, dan bisa membangkitkan rasa nasionalisme. Kita bisa melakukannya lewat lagu,” jelasnya saat peringatan Hari Kartini di TK Pelita Nusantara, Sabtu (23/4/2016).

Soedarsono mengatakan, lagu sudah dipakai sejak zaman perang kemerdekaan dulu, untuk membangkitkan semangat para prajurit yang sedang berjuang mengusir penjajah. ”Sepanjang berjuang, banyak lagu-lagu yang dibuat khusus, untuk bisa membangkitkan semangat. Supaya kita tahu siapa musuh kita, dan dengan sepenuh tenaga mengusir penjajah dari Indonesia,” terangnya.

Hal itu, menurut Soedarsono, juga bisa diterapkan sekarang. Termasuk dalam mengenal pahlawan nasional kita. Ambil contoh pahlawan emansipasi wanita RA Kartini.

Lagu berjudul ”Ibu Kita Kartini” itu juga memiliki nilai sejarah tersendiri. Anak-anak zaman sekarang memang tidak kenal siapa Kartini. ”Tapi bagaimana perjuangan Kartini bisa diketahui mereka, dengan menyanyikan lagunya. Di dalam lagu itu, anak-anak bisa tahu siapa itu Kartini,” terangnya.

Sayangnya, generasi muda sekarang malas menyanyikan lagu-lagu bernada nasionalisme. Mereka lebih suka lagu-lagu populer dan setiap hari didengar. Lagu-lagu nasionalisme cenderung diabaikan, bahkan terkadang dijadikan bahan-bahan olok-olok.

”Itu saya lihat di generasi yang sudah memasuki remaja ke atas. Misalnya di tingkatan mahasiswa. Kalau disuruh nyanyi lagu yang bertema nasionalisme, mereka malu. Ini yang perlu kita sadarkan dari mereka. Lagu nasionalisme itu bagus demi menjaga semangat cinta Tanah Air,” imbuhnya.

Editor: Merie

Kirab Merah Putih Kebangsaan, Tingkatkan Jiwa Nasionalisme Warga Undaan

Kirab Merah Putih Kebangsaan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Angudi Barokahe Gusti (ABG) Sabtu (30/1/2016), di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kirab Merah Putih Kebangsaan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Angudi Barokahe Gusti (ABG) Sabtu (30/1/2016), di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kirab Merah Putih Kebangsaan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Angudi Barokahe Gusti (ABG) di gedung Kanzus Sholawat cabang Kudus pada Sabtu (30/1/2016), di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan itu bertujuan meningkatkan jiwa nasionalisme warga Undaan.

Panitia Kirab Merah Putih Kebangsaan Zainul mengatakan, jemaah ABG Undaan Kudus merupakan cabang dari Jam’iyyah sholawat yang dipimpin oleh Habib Lutfi bin Ali BinYahya Pekalongan. Sehingga dalam kirab ini harus menyertakan tema kirab merah putih kebangsaan.

”Jemaah ABG yang dipimpin Datuk KH Moch Sokram ini mempunyai moto NKRI Harga Mati. Begitu pun Habib Luthfi dari Pekalongan. Sehingga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga disertai kirab tersebut,” katanya.

Kirab tersebut diharapkan memberikan pendidikan jiwa nasionalisme tehadap warga negara Indonesia. ”Dalam acara ini, pesertanya dari berbagai kalangan. Dari unsur pendidikan yang ada di Desa Undaan Lor, organisasi keagamaan, banser, tokoh masyarakat ataupun tokoh pemerintahan di kecamatan ini,” ujarnya.

Dia menambahkan, kirab dimulai dari perbatasan Desa Undaan Lor hingga Desa Wates dan menuju gang 12 Makam Syech Abdullah (Mbah Gareng). Hal itu sebagai prosesi dalam melaksanakan kirab agar tertanam rasa perjuangan dalam diri warga.

”Dalam kirab itu tidak terlepas dari bendera merah putih dan diakhiri dengan penghormatan kepada bendera merah putih di makam Mbah Gareng, yang merupakan anak buah Pangeran Diponegoro yang pernah berjuang melawan belanda sekaligus penyebar agama Islam,” katanya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Solusi Biar Pemuda Bersikap Nasionalisme

Suasana Sosialisasi empat Pilar Kebangsaan di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suasana Sosialisasi empat Pilar Kebangsaan di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sosialisasi empt Pilar Kebangsaan yang digelar di SMK NU Ma’arif 3 Mejobo, Kudus, Jumat (13/11). Kegiatan bertujuan membentengi sikap nasionalisme para kawula muda.

Acara yang dikuti oleh 60 siswa-siswi dan OSIS serta dihadiri oleh Ketua DPD Kudus Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Akhwan, anggota DPR RI Komisi IX Ir Ali Mahir dan pembicara dari Sekretaris GP Ansor Kudus Soeparno ini membahas tentang Pancasila, UUD, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam sambutannya, Ali mengatakan, sosialisasi empat Pilar Kebangsaan ini nantinya bisa membuat sikap pemuda, khususnya seusia anak sekolah bisa lebih sopan. Sebab di dalamnya terdapat ajaran pelajaran Pancasila.Yakni Sila yang pertama. Bila mereka bisa mengamalkan baik, maka siswa bisa mempunyai sikap baik pula.

Pembicara, Soeparno juga memaparkan bahwa warga negara itu harus dipahamkan dengan 4 Pilar Kebangsaan ini.

“Sosialisi ini memang gunanya untuk memahamkan empat pilar ini. Di antaranya yakni Pancasila. Sebab Pancaila itu sebagai ideologi bangsa. Sehingga kehidupan warga Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, dan agama tersebut bisa hidup damai,” katanya.

Selain itu, lanjut Soeparno,selanjutnya UUD, maka setiap warga negara harus bisa mematuhi aturan yang dibuat oleh negara. Sehingga kehidupan bersosial atau beragama bisa damai serta negara juga dapat menjaminnya dalam berkehidupan.

“Untuk pilar yang ke-3 yakni NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), Dengan begitu, Indonesia bisa bersatu, merdeka lantaran ada NKRI. Sebab seluruh suku, ras agama bisa dipersatukan sehingga jiwa untuk merdeka,berdaulat bisa dicapai dengan baik,” ujarnya.

Dia menambahkan, yang terakhir yakni Bhinneka Tunggal Ika. Adalah walaupun berbeda beda namun tetap satu jua. Dalam kondisi sekarang ini, masalah negara sangat kompleks. Baik isu agama, maupun ras. Sehingga pihaknya mengajak supaya para pemuda tidak larut dalam permasalahan. Dan yang paling utama bisa selalu mengedepankan prinsip Bhinneka Tunggal Ika tersebut.

Akhwan, mengatakan pihaknya juga berharap kepada pemuda jangan sampai mudah terprovokasi. Sebab pendidikan atau sosialisasi empat pilar ini memang sangat penting dilakukan di seluruh kalangan tanpa terkecuali. “Supaya pendidikan tersebut bisa menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara. (Edy Sutriyono/AKROM HAZAMI)