9 Napi di Rutan Jepara Sudah Dapat SK Remisi Idul Fitri

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Sembilan orang narapidana di Rumah tahanan Kelas IIB Jepara telah mengantongi Surat Keputusan (SK) remisi Hari Raya Idul Fitri 2017. Sedangkan 94 napi lainnya, masih menunggu otorisasi dari Direktorat Jendral Pemasyarakatan (Ditjen Pas) Kemenkumham RI.

“Tahun ini kami mengajukan usulan remisi untuk 103 narapidana secara online. Jumlah itu terdiri dari 88 napi pidana umum dan 22 napi yang termasuk dalam kategori PP 99 yakni narkoba. Dari jumlah tersebut, yang sudah turun SK-nya sebanyak sembilan orang, sisanya masih dalam proses,” kata Kepala Rutan IIB Jepara Selamet Wiryono, Rabu (21/6/2017). 

Ia menjelaskan, untuk sembilan orang yang telah mengantongi SK remisi, merupakan mereka yang sebelumnya telah memperoleh keringanan hukuman tahun lalu. Sementara sisanya baru pertama kali diusulkan mendapatkan remisi. 

Selamet menjelaskan, dalam pengajuan Remisi dilakukan secara bertahap melalui Kanwil lalu ke Ditjen Pas Kemenkumham RI, secara online. Oleh karenanya, pihaknya selalu memantau perkembangan otorisasi pemberian remisi baik melalui sistem ataupun jejaring percakapan media sosial. 

Karutan menyebut, saat ini Rutan IIB Jepara kini dihuni 236 warga binaan. Terdiri atas narapidana dan tahanan. 

“Per hari ini (Rabu) jumlah tahanan laki-laki ada 91 orang laki-laki dan dua perempuan. Sedangkan, untuk narapidana laki-laki berjumlah 142 orang dan satu perempuan,” jelas Selamet. 

Disinggung tentang napi yang tak mendapatkan remisi, Karutan Jepara menyebut ada empat orang. Mereka adalah narapidana yang terjerat kasus korupsi. Keempatnya tak diusulkan memeroleh pengurangan hukuman, karena tak bisa melunasi denda dan uang pengganti berdasaran putusan pengadilan. 

“Syarat untuk bisa diusulkan mendapatkan remisi diantaranya telah menjalani hukuman selama enam bulan dan berkelakuan baik. Untuk mereka yang masuk dalam kategori PP 99, harus memenuhi beberapa syarat satu diantaranya menjadi justice collaborator bagi kasus narkoba dan pelaku korupsi harus melunasi denda serta uang pengganti,” tutup Selamet. 

Editor : Kholistiono

Napi Rutan Jepara Selundupkan HP di Celana Dalam

rumah-tahanan

 

MuriaNewsCom, Jepara – Penyelundupan barang-barang terlarang di rumah tahanan (Rutan) Kelas II B Jepara berhasil digagalkan  petugas. Saat Lebaran lalu, petugas menemukan handphone (HP) dari pengunjung yang ingin diselundupkan.

Uniknya, cara-cara penyelundukan dilakukan mulai dari menyimpannya di dalam makanan, dititipkan anak kecil, hingga disimpan di pakaian dalam.

Kepala Rutan kelas II B Jepara Slamet Wiryono mengemukakan, pihaknya menggagalkan upaya penyelundupan sebanyak enam HP, dalam enam kasus. Masing-masing upaya yang dilakukan cukup unik dan cerdik.

Selain menyimpan di makanan, dititipkan pada anak kecil dan di celana dalam, juga disimpan di sela-sela antara kulit luar dan kulit dalam di tas.

“Kami berhasil menggagalkan upaya penyelundupan itu. Memang mereka ketika ditanya tidak mengaku. Tetapi dari gelagat dan penyimpanan HP yang tidak wajar itu kami nilai sebagai upaya penyelundupan. Apalagi disimpan di dalam makanan yang mau diberikan kepada tahanan. Itu sudah jelas upaya penyelundupan,” ujar Slamet kepada MuriaNewsCom, Kamis (4/8/2016)

Menurutnya, HP yang ingin diselundupkan oleh pengunjung merupakan HP yang jadul. Dia memprediksi, HP itu mau diberikan kepada narapidana atau tahanan agar dapat berkomunikasi. Upaya penyelundupan itu dilakukan ketika ramai-ramainya pengunjung yang menjenguk narapidana dan tahanan di dalam rutan.

“Pengamanan yang kami lakukan sesuai dengan SOP yang ada. Yakni ketika masuk dilakukan penggeledahan dan pemeriksanaan, baik tubuh maupun barang bawaan. Petugas yang melakukan itu juga telah dibagi-bagi, untuk pengunjung wanita, petugasnya juga wanita. Jika laki-laki, petugasnya juga laki-laki,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pintu masuk yang ada di dalam Rutan kelas II B Jepara ini juga berlapis-lapis. Sedikitnya lima sampai enam lapis pintu yang harus dilalui oleh pengunjung untuk sampai di dalam tahanan. Ketika diketahui ada upaya penyelundupan, pihaknya memberikan peringatan kepada pengunjung agar tidak mengulanginya lagi.

Editor : Akrom Hazami

 

Narapidana Rutan Jepara Diberi Pelatihan Pijat

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi membuka pelatihan pijat di Rutan Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi membuka pelatihan pijat di Rutan Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga binaan di Rumah Tahanan(Rutan) Jepara mendapatkan pelatihan pijat gratis. Kegiatan yang dimotori Kelompok Pusdiklat Pijat Wijaya Jateng perwakilan Jepara ini diikuti 32 peserta putra dan putri yang semuanya merupakan warga binaan Rutan Jepara.

 Ketua penyelenggara Agus Widodo menyampaikan, kegiatan ini murni kegiatan social, karena seluruh biaya dan anggaran penyelenggaraan didapat secara bergotong royong anggota dan pengurus Pusdiklat Pijat Wijaya. Harapannya pelatihan tersebut bermanfaat bagi para warga binaan setelah bebas.

 “Utamanya dalam membantu memberikan keterampilan sebagai mata pencaharian baru atau untuk menolong sesama. Sebagaimana yang dilakukannya selama ini, melalui keterampilan pijat mampu menghidupi keluarga. Bahkan, dengan pijat juga mampu membantu masyarakat yang terkena bencana melalui aksi sosial,” ujar Agus Widodo melalui rilis yang diterima MuriaNewsCom, Kamis (23/6/2016).

 Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengatakan, pihaknya sangat prihatin terhadap saudara-saudara warga binaan. Karena mereka adalah orang-orang yang tejerumus dalam kesalahan dan dosa, dan semestinya harus lebih diperhatikan serta dibantu.

 “Para warga binaan ini juga sangat butuh motivasi untuk menatap masa depan. Terkait hal inilah, kami sangat apresiasi atas upaya yang dilakukan Pusdiklat Pijat Wijaya yang bersedia memberikan bantuan kepada warga binaan di Rutan Jepara,” katanya.

Ia berharap, pelatihan keterampilan ini mampu menghilangkan pikiran negatif yang selalu terngiang di benak para warga binaan. Dia meminta, di rutan ini sebagai bentuk puasa. Dengan demikian, para warga binaan nantinya akan mendapat pahala, yaitu berupa keberhasilan dalam menempuh hidup bermasyarakat yang baru dan sukses setelah ke luar.

 “Apalagi para warga binaan telah menerima pelatihan pijat yang dapat diaplikasikan di masyarakat. Sehingga bekal keterampilan yang didapatkan di rutan dapat dijadikan sebagai mata pencaharian baru yang halal dan berkah,” harapnya.

Editor : Kholistiono