Duh, Senangnya Jadi Bayi di Kabupaten Kudus

Bupati Kudus H Musthofa menyerahkan akta kelahiran bayi, dalam pencanangan program ”Si Buah Hati Lahir, Pulang Membawa Akta Kelahiran”, belum lama ini.(Istimewa)

Bupati Kudus H Musthofa menyerahkan akta kelahiran bayi, dalam pencanangan program ”Si Buah Hati Lahir, Pulang Membawa Akta Kelahiran”, belum lama ini.(Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Bayi-bayi yang baru lahir di Kabupaten Kudus, mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus. Salah satunya adalah mereka akan terlindungi hak-hak sipilnya.

Pemkab Kudus sudah mencanangkan program ”Si Buah Hati Lahir, Pulang Membawa Akta Kelahiran”. Ini adalah program yang sudah dicanangkan sejak Mei 2016 lalu.

Jika pada awal program ini dicanangkan hanya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Loekmono Hadi Kudus saja yang melayani program ini, namun sejak beberapa waktu lalu, beberapa rumah sakit swasta juga sudah ikut serta melaksanakan program ini.

”Kenapa kami canangkan program ini, agar bayi yang baru lahir terlindungi hak-hak sipilnya. Juga untuk tertib administrasi kependudukan, yakni pemberian akta kelahiran pada usia 0-18 tahun,” jelas Bupati Kudus H Musthofa.

Selain rumah sakit daerah, rumah sakit lainnya adalah RS Mardi Rahayu, RS Islam, RS Aisyiyah, RS Kartika Husada, RS Kumala Siwi, dan RS Nurussyifa. Sedangkan dua lainnya adalah RSIA Permata Hari dan RSIA Harapan Bunda.

”Sejak kita canangkan program ini, di RSUD dr Loekmonohadi Kudus, hingga kini sudah melayani kurang lebih 390 akta kelahiran. Sekarang pemkab melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kudus sudah menjalin kerja sama dengan rumah sakit swasta, sehingga akan makin banyak bayi-bayi yang lahir yang mendapatkan akta kelahirannya secara langsung,” paparnya.

Bupati juga meminta agar para kepala desa dan lurah, serta ketua RT dan RW, agar menyosialisasikan program ini kepada seluruh masyarakat. Termasuk menekankan bahwa layanan ini gratis, tidak ada pungutan biaya satu rupiah pun.

Urusan pelayanan ini, menurut bupati, juga tidak akan dibuat ribet. Semuanya akan dilayani dengan sebaik-baiknya, dengan cara yang mudah. ”Persyaratan yang kurang lengkap, saya minta bisa dilayani melalui email atau Whatsapp (WA). Sehingga masyarakat bisa semakin mudah untuk mendapatkan layanan ini,” tegasnya.

Bupati mengatakan bahwa ini merupakan bukti komitmen programnya untuk melayani masyarakat dalam bidang kesehatan. Karena dirinya telah berkomitmen untuk melayani masyarakat dari lahir hingga meninggal.

”Maka tidak ada perbedaan di rumah sakit negeri atau swasta. Jadi tolong bantu kami atas komitmen pelayanan kesehatan ini untuk masyarakat. Dan kerja sama ini juga menunjukkan bahwa, pelayanan kesehatan bukan hanya tanggung jawab kami, tapi juga tangggung jawab bersama,” harap bupati.

Editor: Merie

 

Bupati Kudus Apresiasi Tradisi Salaman Siswa Undaan

berita twitter musthofatyg pkl 0930 wib (e)

Akun Twitter milik Bupati Kudus H Musthofa, yang mengapresiasi berita siswa SMP 1 Undaan yang bersalaman sebelum masuk ke dalam kelas setiap harinya. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus H Musthofa rupanya mengapresiasi berita yang ditayangkan MuriaNewsCom. Salah satunya memberikan tanggapan melalui akun Twitter yang dimilikinya.

Berita MuriaNewsCom yang berjudul ”Tradisi Bersalaman Bisa Menjadi Pendidikan Moral”, diapresiasi bupati. Berita yang berisi tradisi siswa di SMP 1 Undaan, Kudus, itu memang berisi bagaimana sebelum masuk ke dalam kelas, para siswa bersalaman terlebih dahulu.

Berita ini kemudian di-share ke Twitter yang dimiliki MuriaNewsCom. Dan tidak lama kemudian, berita ini ditanggapi Bupati Kudus H Musthofa.

Lewat akun Twitter-nya @MusthofaWardoyo, bupati menyatakan setuju dengan tradisi yang dilakukan para siswa tersebut. Meski akunnya hanya menuliskan kata ”setuju”.

Ya, semua pihak rasanya memang akan setuju jika kemudian tradisi salaman itu, bisa menjadi cara untuk mendidik moral siswa. Meski terlihat sepele, namun hal itu sangat besar dampaknya.

Sebagaimana diberitakan, sebelum masuk kelas pagi hari, SMPN 1 Undaan membiasakan siswanya untuk bersalaman. Baik dengan guru maupun antarsiswa. Hal ini, diharapkan bisa menjadi media untuk menanamkan budi pekerti yang dimulai dari hal kecil.

Editor: Merie

Temu Dagang Jadi Cara Ampuh Promosikan Produk Masyarakat Kudus

iklan cukai-tyg 4 april 2016-pkl 10

Sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Aneka produk dagang yang diproduksi masyarakat Kudus, ternyata memiliki potensi yang sangat luar biasa guna dipasarkan ke berbagai daerah lainnya. Untuk itu, dibutuhkan bentuk promosi yang sangat tepat, agar tujuan itu tercapai.

Ini adalah tugas Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Disdagsar) Kudus, sebagai salah satu satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang menerima Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

”Dinas memang sudah beberapa kali mengikuti kegiatan promosi, guna memperkenalkan produk-produk dagang asal Kudus. Dan itu kita ikuti di berbagai daerah,” jelas Kepala Disdagsar Kudus Sudiharti.

Namun menurut Sudiharti, pihaknya memang hanya mengikuti even tersebut, melalui beberapa pameran yang digelar. Itu dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, di mana jika ada even tertentu, maka pihaknya akan mengikutsertakan produk asal Kudus.

Namun menurut Sudiharti, even-even yang diikuti tersebut hanya sebatas pameran saja. Padahal, setiap kali mengikuti even, dibatasi hanya empat produk dagangan yang boleh diikutsertakan.

”Itu sebabnya, kita berpikir bagaimana supaya kita bisa membuat sebuah even tersendiri. Yakni mempertemukan pedagang-pedagang Kudus dengan pedagang-pedagang yang ada di kota-kota lain,” ujarnya.

Dengan begitu, sesama pedagang akan saling bertemu satu sama lain. Saling mengenal produk satu sama lain, sehingga akan meningkatkan pengetahuan sesama pedagang mengenai produk khas Kudus.

”Karena memang produk dari Kudus itu tidak kalah dengan kota-kota lainnya. Sehingga, ini patut kita dukung supaya bisa lebih dikenal lagi. Apalagi memang ada dana dari dana cukai, yang mendukung hal itu,” terangnya.

Kegiatan temu dagang sendiri, dinilai akan lebih menarik. Pasalnya, akan lebih banyak lagi produk-produk khas Kudus yang tampil di sana. Dengan bertemunya pedagang-pedagang tersebut, diharapkan transaksi akan semakin meningkat kembali.

”Lebih banyak pedagang lebih baik lagi. Sehingga makin banyak produk kita yang dikenal luas. Dan sasaran dari temu dagang itu sendiri, memang adalah kota-kota besar di Indonesia. Misalnya Jakarta. Di sana, banyak sekali kesempatan untuk memperkenalkan produk kita,” tuturnya.

Namun, Sudiharti mengatakan jika pihaknya masih harus menelaah dahulu soal aturan penggunaan dana cukai. Apakah memang hal itu bisa dilakukan atau tidak. ”Karena kita tetap harus berpedoman atau berpatokan pada aturan. Tidak boleh sembarangan. Ini dana cukai, yang memang harus kita laksanakan aturan pemakaiannya,” terangnya.

Sudiharti menambahkan, pihaknya akan mencoba untuk bisa memaksimalkan penggunaan dana cukai ini, guna promosi produk-produk khas Kudus. Sehingga makin banyak yang kenal, dan makin banyak yang kemudian memesan produk tersebut.

”Dengan begitu, maka kesejahteraan warga akan meningkat. Itu kan, memang tujuan dari penggunaan anggaran yang ada di kita. Bagaimana bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya. (ads)