LMDH juga Diajak Pantau Hutan Selama Musim Kemarau

f-kebakaran

MuriaNewsCom, Rembang – Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang bakal memantau secara intens kawasan hutan yang ada di wilayah setempat. Dalam hal ini, mereka juga mengajak Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) untuk ikut serta berpartisipasi dalam memantau hutan.

Kepala Bidang Kehutanan pada Dintanhut Rembang Prasetyo mengatakan, setidaknya ada 84 desa di Rembang geografisnya berada di dekat kawasan hutan. “Dari 84 desa ini tergabung dalam LMDH. Diantaranya untuk KPH Mantingan ada sebanyak 40 desa dan KPH Kebunharjo ada sekitar 44 desa,” katanya.

Dalam hal ini, LMDH akan dilibatkan untuk ikut menjaga dan mengantisipasi adanya kebakaran hutan. Untuk itu, pihaknya bakal melakukan koordinasi. “Dengan kerjasama dari semua pihak, kita harapkan ada informasi yang cepat terkait pengawasan hutan ini,” ungkapnya.

Pihaknya juga mengimbau kepada warga untuk lebih berhati-hati dalam menyalakan api atau membuang puntung rokok, di sembarang tempat, apalagi pada saat kemarau. Karena, dikhawatirkan bisa menimbulkan kebakaran.

Editor : Kholistiono

Petani Kudus Ketakutan di Kebun Tebu

Petani tebu memanen tanamannya di salah satu lahan di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani tebu memanen tanamannya di salah satu lahan di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kemarau panjang yang menimpa Kudus, membuat para petani was-was. Karena para petani takut, jika tebu yang selama ini dirawat bakal terbakar karena cuaca panas yang berkepanjangan.

Hal itu dilontarkan oleh Kabid Kehutanan dan Perkebunan di Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Harnowo. Menurutnya para petani di kudus terpaksa memanen dini tebu yang ditanam karena takut akan merugi.

“Sebenarnya semakin lama tebu di panen maka hasilnya juga makin bagus. Tebu termasuk tanaman yang butuh air. Jika tidak maka akan mudah terbakar,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, tebu yang panen dengan kondisi kering juga melemahkan para petani. Sebab akan makin banyak rendemen yang menimpa para petani sebelum diolah menjadi gula.

Parahnya lagi, panen dini juga dialami hampir semua petani tebu. Sehingga jika digunakan menjadi gula pasir di PG. Dipastikan antre sehinga berdampak tebu makin kering dan rendemen juga makin banyak.

“Kalau seperti itu maka petani dapat rugi banyak. Tebu yang kering dengan diameter kecil, lalu panen juga dalam kurang air ditambah lagi harus menunggu sampai digiling di PG,” ujarnya.

Kudus memiliki luasan lahan pertanian seluas 26.326 hektare. Hanya, luasan lahan tersebut dibagi antara petani padi dengan petani tebu.

Untuk petani tebu, memiliki luasan lahan 6.320 hektare. Luasan tersebut terbagi antara produksi gula pasir 2.536,43 hektare. Sedangkan sisanya merupakan lahan gula tumbu.

Dan hingga kini, produksi tebu di Kudus 180.598,82 ton gula pasir dan 220,292,80 untuk gula tumbu. Dan untuk produksinya, 12.090,60 gula kristal dan 21.349,16 untuk gula tumbu.

Dalam kondisi standar, tanya tebu dalam satu hektare dapat menghasilkan sampai delapan ton. Namun juga harus melihat usia tebu yang sampai setahun atau sepuluh bulan. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Dua Embung Mengering, Pertanian di Japah Mandek

Salah satu embung di Kecamatan Japah tak lagi dipenuhi oleh air. Kondisinya mengering dan tanahnya merekah. (MuriaNewsCom/Priyo)

Salah satu embung di Kecamatan Japah tak lagi dipenuhi oleh air. Kondisinya mengering dan tanahnya merekah. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Musim kemarau di Kabupaten Blora semakin parah. Nampak dibeberapa kecamatan, embung sudah mulai mengering. Tak hanya itu, lahan pertanian di beberapa kecamatan juga tak lagi bisa ditanami karena kekeringan air. Seperti halnya, di Kecamatan Banjarejo, Ngawen, dan Japah.

”Di Japah sudah ada dua embung yang mengering salah satunya embung Ngebruk. Praktis, tak ada air untuk bisa mengairi sawah milik petani,” jelas Camat Japah, Kiswoyo, Kamis (6/8/2015).

Menurutnya, saat kemarau memang banyak embung yang kering. Ada 9 desa di Kecamatan Japah yang menjadi langganan kekeringan. Sehingga, bagi para penduduk banyak membutuhkan bantuan air bersih.

”Kalau kering ya tidak bisa untuk mengairi sawah, dan kondisi itu membuat pertanian di sekitar embung tidak bisa beraktivitas,” katanya.

Sementara itu Didik salah satu petani Kecamatan Banjarejo mengaku di tahun ini dirinya hanya berhasil memanen satu kali. Hal ini dikarenakan, memasuki kemarau seperti ini lahan pertanian tak bisa lagi ditanami. Sebab, kesulitan air untuk mengairi sawahnya.

”Kemarau ini sudah berlangsung sejak April lalu,” ungkapnya.

Dengan kejadian ini Didik harus menerima kerugian, dan terancam tidak memperoleh penghasilan dari bertani. Sebab sebagai petani, hasil tanilah yang menjadi sumber utama penghasilan keluarganya.

”Harapannya segara ada bantuan untuk pengairan di sini, mungkin salah satunya sumur bor. Dengan begitu, petani tak lagi kesulitan untuk mencari air. Bahkan, setidaknya bisa panen lebih dari satu kali dalam setahun,” harapnya. (PRIYO/TITIS W)

 

Musim Kemarau, Perajin Batu Bata Raup Rezeki

Burman dan Sulikan bekerja keras membuat batu bata. Minimal dalam sehari mereka menghasilkan seribu batu bata. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Burman dan Sulikan bekerja keras membuat batu bata. Minimal dalam sehari mereka menghasilkan seribu batu bata. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

KUDUS – Musim kemarau memberikan peluang bagi para perajin batu bata di wilayah Kudus dan sekitarnya. Sulikan dan Burman, kedua orang yang memanfaatkan peluang itu untuk meraup rejeki sehari-hari. Bertempat di tanah lapang di Gang Budi Utomo, Desa Jepang, Mejobo, mereka melakukan aktivitas pembuatan batu bata.

”Kami mulai membuat batu bata setiap jam enam pagi sampai jam sebelas siang. Selama lima jam itu, batu bata yang kami buat bisa mencapai seribu buah,” ungkap Sulikan, saat ditemui MuriaNewsCom siang ini.

Seribu buah batu bata yang dibuat Sulikan dan Burman ini, menjadi langganan pemesanan oleh toko bangunan dan masyarakat sekitar. Mereka berdua menjual batu bata ini sangat murah yakni Rp 550 per buah. ”Yang beli biasanya tergantung, mau pakai colt (mobil pick-up, red) atau pakai truk. Kalau pakai colt biasanya seribu buah cukup. Kalau pakai truk jumlahnya lima ribu buah,” ungkap Burman.

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang mereka lakukan sepanjang musim kemarau. Setiap harinya mereka mendapatkan keuntungan Rp 140 ribu yang dibagi dua orang. Masing-masing mendapatkan Rp 70 ribu per hari.

”Kalau musim kemarau, kami berdua usaha ini. Pakai modal bersama. Kalau musim hujan, nggak ada matahari, jadi kita libur,” ungkap Sulikan.

Keduanya mengaku jika masuk musim penghujan, mereka beralih menjadi buruh bangunan. Namun, pekerjaan itu dilakukannya sampai musim panas kembali datang. Keduanya beralasan melakukan dua pekerjaan itu berdasarkan musim. Agar kebutuhan sehari-hari dapat tercukupi.

”Cari kerja susah. Jadi kami memlikih usaha batu bata pas musim kemarau, dan buruh bangunan saat musim hujan. Itu menjadi pekerjaan kami selama ini,” pungkasnya. (HANA RATRI/TITIS W)

Kemarau, Petani Harus Ekstra Kerja Keras

Salah seorang petani saat memompa air di area persawahan. Mereka harus rela menggali tanah terlebih dahulu untuk bisa ditanami. (MuriaNewsCom/Priyo)

Salah seorang petani saat memompa air di area persawahan. Mereka harus rela menggali tanah terlebih dahulu untuk bisa ditanami. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Para petani di Dukuh Teleng, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora terpaksa harus menggali tanah terlebih dahulu, agar bisa ditanami tanaman. Sebab tanah yang mulai mengeras membuat para petani kesulitan untuk menanami berbagi jenis tanaman.

Saliman petani Dukuh Teleng mengungkapkan, kosongnya lahan pertanian akibat tidak ditanami sudah terjadi dua bulan terakhir ini. Hal itu membuat dirinya berpikir menemukan cara, agar lahan tetap bisa ditanami. Yaitu dengan cara digali dan digemburkan terlebih dahulu.

”Harus digali baru bisa ditanami. Dan itu membutuhkan tenaga ekstra, juga membutuhkan air untuk menggemburkan. Jika sudah ditanami, juga harus rutin menyiraminya,” jelas Saliman, Rabu (5/8/2015).

Sehingga Saliman setiap pagi dan sore rutin ke sawah, untuk menyirami tanaman yang tidak banyak itu.”Ya saya sirami pagi dan sore, dan tanaman yang saya tanam juga tidak banyak. Khawatir hasilnya nanti tidak maksimal dan merugi,” imbuhnya. (PRIYO/TITIS W)

Musim Kemarau Petani Kesulitan Lakukan Proses Tanam

Saliman petani warga di Dukuh Teleng saat menyirami tanamannya. Nampak tanaman dan kahan yang kering. (MuriaNewsCom/Priyo)

Saliman petani warga di Dukuh Teleng saat menyirami tanamannya. Nampak tanaman dan kahan yang kering. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Masyarakat Blora yang sebagian besar penduduknya adalah bertani benar-benar merasakan dampak musim kemarau. Selain sulitnya air, dampak kekeringan juga dirasakan pada sektor pertanian seperti yang dialami para petani di Dukuh Teleng, Desa Buluroto Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora.

”Kalau musim kemarau seperti ini masa tanamnya tidak maksimal. Banyak petani enggan untuk menanami lahannya, sebab permukaan tanah kering dan keras,” jelas Saliman petani warga di Dukuh Teleng, Rabu (5/8/2015).

Menurutnya, terlalu kerasnya tanah persawahanan yang mereka miliki akibat musim kemarau, sehingga sedikitnya kandungan air di dalam tanah. ”Tanaman yang kami tanam saat ini berupa palawija. Misalnya timun, labu dan tanaman lain yang masih bisa bertahan hidup di musim kemarau seperti ini,” katanya.

Pihaknya berharap dinas terkait bisa memberi solusi, agar lahan persawahannya tetap bisa ditanami saat musim kemarau. Karena hanya dari bertanilah sumber pendapatan mereka. (PRIYO/TITIS W)

Musim Kemarau, Warga Pati Diminta Waspadai Kebakaran

Sebuah tempat penggergajian kayu di Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak ludes dilalap api. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sebuah tempat penggergajian kayu di Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak ludes dilalap api. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Warga Pati diminta waspada terhadap potensi kebakaran yang dipicu dari aktivitas warga, disertai dengan musim kemarau. Hal ini disampaikan Heru Suyanta, Kepala UPT Pemadam Kebakaran DPU Kabupaten Pati.

”Ini sudah memasuki musim kemarau panjang. Aktivitas warga terkait dengan api harus benar-benar dipantau, mulai dari diri sendiri. Misalnya, membakar sampah harus ditunggu sampai selesai,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (29/7/2015).

Ia mengatakan, ada dua hal faktor pemicu kebakaran. Pertama, aktivitas warga yang lalai memantau api. Kedua, faktor pertama diperparah dengan kondisi musim kemarau sehingga api mudah menjalar dan meluas.

Selain itu, lanjutnya, sikap waspada terhadap listrik juga penting. Salah satunya dengan cara mematikan arus listrik di rumah saat ditinggal bepergian.

”Hal tersebut untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya konslet atau hal-hal yang tidak diinginkan dari listrik. Jangan lupa, tunggui kompor gas saat sedang memasak atau merebus air,” imbuhnya.

Heru menambahkan, pengalaman tersebut disaring dari peristiwa kebakaran yang selama ini melanda di sejumlah daerah di Kabupaten Pati. (LISMANTO/TITIS W)

Beberapa Wilayah di Jepara Sudah Mulai Panen

Petani sedang memanen padi di sawah. Saat ini di beberapa wilayah sudah mulai panen. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petani sedang memanen padi di sawah. Saat ini di beberapa wilayah sudah mulai panen. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Musim kemarau ini, beberapa wilayah di Kabupaten Jepara sudah mulai panen. Dari laporan yang diterima Dinas Pertanian dan Peternakan, yang sudah mulai panen ada di wilayah Jepara selatan. Meski demikian, pihaknya belum bisa menyebutkan secara detail terkait jumlah produksi hasil panen saat ini.  Lanjutkan membaca

Hujan Turun 1 Jam, Petani Grobogan Dapat Berkah

Ilustrasi Hujan

Ilustrasi Hujan

GROBOGAN – Setelah ditunggu hampir dua bulan lamanya, hujan deras akhirnya mengguyur sebagian wilayah Grobogan Selasa malam (20/7) sekitar pukul 22.00. Selama hampir satu jam, hujan mengguyur wilayah yang tengah dilanda kekeringan tersebut.

Meski hanya berlangsung satu jam namun turunnya hujan itu disyukuri warga. Khususnya para petani. Hal ini cukup beralasan mengingat saat ini sudah waktunya untuk menyiram tanaman palawija. Dengan adanya hujan maka pekerjaan mereka menjadi terbantu.

”Hujan ini sudah lama sekali dinantikan petani. Kalau tidak ada hujan maka sebagian tanaman terancam kekeringan karena saluran irigasi saat ini sedang terhenti lantaran ada pengeringan,” kata Eko, petani di Desa Genuksuran, Kecamatan Purwodadi yang saat ini tengah menanam kacang hijau.

Turunnya petani juga dirasa memudahkan sebagian petani yang hendak mengocor atau menyiram tanaman jagung. Sebab, air hujan itu sebagian tertampung di embung dan sumur gali yang ada di sawah. Dengan kondisi ini, mereka tidak perlu pergi jauh ke sungai untuk mencari air buat menyiram tanaman jagung yang baru berusia sekitar satu bulan.

”Setelah diguyur hujan, sumur ini airnya bisa terisi hampir separuhnya. Dengan begitu, saya tidak perlu repot pergi ke tempat lain karena persediaan air sebanyak ini sudah mencukupi,” cetus Rawijo, petani di Desa Depok, Kecamatan Toroh. (DANI AGUS/SUPRIYADI)