Musim Hujan Bikin Warga Mejobo Was-was

Warga tampak memenuhi lokasi di atas sungai yang meluap di Desa Kesambi Kudus, Sabtu.

Warga tampak memenuhi lokasi di atas sungai yang meluap di Desa Kesambi Kudus, Sabtu.

 

 

MuriaNewsCom, Kudus–Intensitas hujan yang cukup tinggi akhir-akhir ini membuat Camat Mejobo was-was. Hal itu, karena tidak menutup kemungkina, jika curah hujan tinggi wilayahnya terkena banjir seperti tahun-tahun sebelumnya.

Plt Camat Mejobo Andreas Adi Wahyu mengungkapkan, setiap musim hujan tiba, pihaknya selalu melakukan patroli serta pemantauan di berbagai lokasi di wilayahnya. Hal itu dilakukan untuk memastikan Kecamatan Mejobo aman dari banjir.

“Kalaupun libur atau hari Minggu kami tetap was-was, soalnya banjir datang tidak mengenal waktu. Makanya kami lakukan pemantauan wilayah,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, banjir yang datang hampir tiap musim hujan, seolah menjadi langganan bagi wilayahnya. Untuk itulah, pihaknya terus meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir.

Hanya, menurut dia, banjir yang datang sebenarnya bukan disebabkan dari wilayahnya, melainkan kiriman dari lokasi atas. “Kalau kawasan atas seperti daerah Dawe lagi hujan deras, maka kami harus waspada. Sebab dampaknya pasti ke wilayah kami,” ujarnya.

Dia berharap, normalisasi sungai dapat segera dituntaskan mulai dari atas hingga bawah. Sehingga, aliran air dapat lancar dan mengurangi potensi banjir.

Editor : Kholistiono

Musim Baratan di Jepara Diprediksi Mundur

Gelombang air laut nampak masih stabil. Diperkirakan musim baratan dimulai pada akhir Desember. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Gelombang air laut nampak masih stabil. Diperkirakan musim baratan dimulai pada akhir Desember. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Beberapa tahun terakhir musim Baratan yang ditandai dengan ombak besar di perairan laut Jawa termasuk di Jepara, terjadi pada pertengahan bulan Desember. Tetapi, seiring dengan molornya musim hujan, musim Baratan pun ikut mundur. Diprediksi musim Baratan dimulai sekitar akhir bulan Desember nanti.

Hal itu seperti yang dikatakan Kepala Syahbandar Jepara, Suripto. Menurutnya, hingga memasuki pekan kedua Desember saat ini belum nampak tanda-tanda datangnya musim Baratan. Saat ini ketinggian gelombang laut di wilayah perairan laut Jepara di bawah satu meter.

”Melihat kondisi yang ada, diperkirakan musim Baratan tahun ini mundur. Meski sudah memasuki pekan kedua, ketinggian gelombang riil masih bagus di bawah satu meter,” ujar Suripto kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, mundurnya musim Baratan disebabkan anomali perubahan cuaca yang terjadi tahun ini. Diperkirakan, musim Baratan akan melanda wilayah perairan Jepara pada akhir tahun.

”Jika biasanya pertengan Desember hingga Februari, tahun ini belum bisa diprediksi apakan baratan apakah akan berlangsung lebih lama atau cepat,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Musim Hujan Buat Perajin Batu Bata di Kudus Kelimpungan

Perajin batu bata

Perajin batu bata menyiapkan terpal untuk meneduhkan batu batanya ketika hujan. Selama musim hujan pembuatan batu bata tidak maksimal dan harganya pun merosot. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Derasnya hujan yang melanda daerah kudus beberapa hari ini membuat para perajin batu bata menjadi kelimpungan. Sebab mereka tidak bisa memproduksi batu bata untuk persediaan.

Salah satu perajin batu bata Desa Mejobo, RT 5 RW 1, Mejobo Kholidin mengatakan, saat ini pihaknya sangat bingung untuk membuat stok batu bata. Sebab akhir-akhir ini hujan deras, sehingga proses mencetak dan menjemur batu bata tidak maksimal.

Diketahui, tidak ketersediaan stok tersebut lantas tidak membuat harga melambung. Namun harga batu bata merah tersebut semakin merosot. ”Tidak adanya batu bata ini malah justru membuat harganya semakin merosot. Yakni kisaran Rp 500 ribu perseribu batu bata,” paparnya.

Selain itu, lanjut Kholidin, bila ada seseorang yang ingin membeli batu bata harus bersabar menuggu sekitar dua pekan. Sebab dalam pembakaran di musim hujan ini juga terlalu relatif lama dibanding musim lainnya.

Ia menjelaskan, dalam sekali pembakaran, perajin batu bata dapat membakar sebanyk 30 ribu batu bata. ”Untuk pembakaran di musm hujan ini, kami membakar langsung sebanyak 30 ribu bata. Karena sekaligus untuk persediaan, ketimbang membuatnya terlalu sedikit dicuaca yang sering hujan,” terangnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)