Dilema Lahan, Museum Patiayam Diwacanakan Akan Dipindah

Area lahan bangunan Museum Patiayam, yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom)

Area lahan bangunan Museum Patiayam, yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Kesulitan untuk mengembangkan museum Patiayam, hinggga kini masih dalam hal tanah yang berstatus sewa. Untuk itu, diwacanakan museum Patiayam dapat dipindah.

Kepala Disbudpar Sunardi mengatakan, museum Patiayam sebenarnya tidak harus diletakkan di desa Terban Jekulo. Hanya waktu itu yang terdekat hanya disana dan penemuan juga di desa setempat. Makanya, ditempatkan di daerah tersebut.

”Bisa dipindah, namun juga harus ada lahan yang ditempati terlebih dahulu. Kalau tidak ada lahan, maka kami masih menggunakan lahan tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, beberapa daerah sekitar sudah menjadi bidikan dalam membuat museum yang baru. Seperti tepi jalan raya dan ladang tebu. Namun untuk eksekusi masih membutuhkan banyak perhitungan.

”Ya bagaimana lagi, sebenarnya kami ingin membeli lahan yang kini digunakan. Namun tidak boleh desanya. Kalaupun ganti juga susah,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Pengembangan Situs Patiayam Terkendala Lahan

Area lahan bangunan Museum Patiayam, yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom)

Area lahan bangunan Museum Patiayam, yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Pengembangan Situs Patiayam, yang bertempat di Museum Patiayam memiliki beberapa kendala. Di antaranya yang paling banyak kendala adalah pada lahan yang hinggga kini masih berstatus sewa.

Kepala Disbudpar Sunardi mengatakan, lahan yang masih milik desa, memiliki kesulitan dalam mengambil anggaran dari pusat. Padahal, sebenarnya anggaran dari pusat sudah disediakan beberapa tahun sebelumnya.

”Kalau jumlahnya besar, seharusnya mampu untuk mengembangkan museum menjadi lebih baik lagi. Kalau nominal sekitar Rp 25 miliar,” katanya.

Menurutnya, untuk lahan yang dimaksud tidaklah terlalu luas. Sedikitnya hanya mempersiapkan lahan tiga hektare saja, anggaran yang sangatlah besar tersebut dapat dimiliki.

Hanya, nampaknya kesulitan pemkab dalam memperoleh lahan masih terjadi hingga sekarang. Sebab pemkab masih memaksimalkan museum dari tanah desa tersebut.

”Tiga hektar itu satu untuk museum. Sisanya parkir dan keperluan lainnya. Namun kami masih menggunakan tanah milik desa,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Belum Ada Perda yang Mengatur, Potensi Pendapatan dari Museum Patiayam Hilang

Salah satu koleksi gading gajah purba yang terdapat di Museum Patiayam (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu koleksi gading gajah purba yang terdapat di Museum Patiayam (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Bagi Anda yang ingin meluangkan waktu libur, tidak ada salahnya mengunjungi lokasi wisata ini. Sekian mudah dijangkau, tidak ada tarif retribusi bagi pengunjung.

Lokasi wisata tersebut adalah Museum Patiayam. Sejak museum tersebut dibangun, hingga tak biaya masuk untuk bisa melihat-lihat koleksi yang berada di dalam museum. Tidak dipungutnya, biaya retribusi, tak lain belum adanya perda yang mengatur.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Yuliono Tri Mulyono mengatakan, semenjak awal pembangunan obyek wisata Museum Patiayam, para pengunjung sama sekali tidak dipungut biaya sepeserpun. Hingga aturan mengenai tarif tersebut terbentuk, maka memasuki Museum Patiayam juga masih gratis.

”Kalau kami menarik retribusi di Museum Patiayam, kami malah yang melakukan kesalahan. Sebab aturanya saja belum ada. Jadi, ya masih kami gratiskan untuk semua pengunjung,” kata Yuli, kepada MuriaNewsCom.

Katanya, meski pemkab menginginkan adanya retribusi memasuki wahana tersebut, namun hal tersebut belum dapat dilakukan karena terbentur Perda yang belum ada pembahasan di DPRD. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Ini Sebabnya, Pengunjung Tak Betah Lama di Museum Patiayam

Salah satu koleksi gading gajah purba yang terdapat di Museum Patiayam (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu koleksi gading gajah purba yang terdapat di Museum Patiayam (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Meski setiap bulannya, rata-rata jumlah pengunjung Museum Patiayam mencapai ribuan, namun ternyata, kebanyakan pengunjung tak betah untuk berlama-lama di destinasi wisata tersebut.

Petugas Museum Patiayam Setia mengatakan, salah satu penyebab pengunjung hanya bertahan di tempat tersebut, karena kondisi bangunan yang terlalu sempit dan koleksi yang relatif sedikit, serta minimnya sarana atau fasilitas rekreasi lain.

”Para pengunjung kebanyakan hanya mampu bertahan sekitar 30 menit hingga satu jam saja. Paling cuma memutar saja, melihat tulang dan fosil yang ada disini. Setelah itu pada foto-foto dengan gading purba dan juga gajah purba yang ada di dalam museum,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kedua benda tersebut, baik gading maupun gajah purba merupakan ikon yang menjadi favorit di Museum Patiayam. Meskipun di sana juga dilengkapi dengan patung manusia purba yang terdapat di bagian belakang museum, namun, wisatawan lebih tertarik dengan kedua ikon tersebut. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Dalam Sebulan, Pengunjung Museum Patiayam Capai Ribuan

Salah satu koleksi gading gajah purba yang terdapat di Museum Patiayam (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu koleksi gading gajah purba yang terdapat di Museum Patiayam (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kunjungan wisatawan ke Museum Patiayam dalam sebulannya, rata-rata mencapai 1.800 orang.Jumlah tersebut, paling banyak dihuni oleh usia anak sekolah.

Menurut Setia, petugas Museum Patiayam, pengunjung akan semakin ramai jika pada hari libur kerja atau musim liburan sekolah. Ketika itu, katanya, pengunjung yang kebanyakan adalah anak-anak sekolah, biasanya selalu memadati museum.

“Ada yang datang sendirian namun juga ada yang berkelompok. Namun rata rata yang anak usia SD mereka datang bersama rombongan dari sekolah,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom, Selasa (22/9/2015).

Menurutnya, pengunjung yang datang juga dari berbagai daerah. Tidak hanya Kudus saja,pengunjung yang datang juga ada yang dari Pati, Jepara, Demak dan beberapa daerah lain di sekitar Kudus.

“Biasanya paling ramai itu kalau hari Minggu, kalau hari lainnya seperti Senin atau Selasa malah sepi. Bahkan terkadang juga tidak ada pengunjung sama sekali,” jelasnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Manfaatkan Waktu dengan Belajar Sejarah di Museum Patiayam

Salah satu warga sedang berkunjung ke Museum Patiayam (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Salah satu warga sedang berkunjung ke Museum Patiayam (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Ada banyak hal yang dilakukan untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat, di antaranya dengan mengunjungi museum. Seperti halnya yang dilakukan beberapa pemuda yang memilih Museum Patiayam, yang berada di Desa Terban, Jekulo, Kudus.

Wibowo, salah satu warga yang menyempatkan diri mengunjungi museum tersebut mengatakan, ia memilih museum untuk meluangkan waktu sekaligus belajar sejarah masa lalu.

“Lokasinya strategis. Dapat dijangkau masyarakat karena posisinya berada di Jalur Pantura Kudus,” ungkap Wibowo.

Tak hanya kalangan dewasa saja. Pantauan MuriaNewsCom, beberapa anak-anak terlihat gembira mengitari areal pintu masuk museum. Mereka mendapatkan tugas dari guru untuk belajar di museum tersebut.

Museum yang berdiri tepat di depan SD 01 Terban ini, berisi beberapa koleksi fosil makhluk hidup di areal Pegunungan Patiayam. Terdapat fosil manusia zaman dahulu, fosil kerang laut, fosil hewan dan sebagainya. (HANA RATRI/KHOLISTIONO)

Balar Adakan Agenda Penelitian Tiap Tahun di Patiayam

Kawasan situs purbakala Patiayam, yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. Menurut tim peneliti BPSMPS kawasan ini masih menyimpan banyak fosil. (MuriaNewsCom)

Kawasan situs purbakala Patiayam, yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. Menurut tim peneliti BPSMPS kawasan ini masih menyimpan banyak fosil. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Pada tahap pertama penelitian di kawasan Situs Purbakala Patiayam, yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta tidak melakukan penggalian atau ekskavasi. Melainkan hanya survei permukaan untuk mengetahui sebaran luas temuan dan mengetahui batas tanah perhutani dan milik warga.

”Pemetaan dan zonasi dilakukan pada tahap pertama penelitian. Intinya mengumpulkan data awal. Penelitian kemungkinan akan dilanjutkan pada tahun depan atau dua tahun lagi. Biasanya sudah penggalian atau ekskavasi,” ujar Wahyu Widianta, peneliti dari BPSMPS saat melakukan survei di kawasan Situs Patiayam, Selasa (11/8/2015).

Dari penelitian tersebut, lanjutnya, zonasi telah ditentukan. Yakni zona inti, penyangga dan pengembangan. Wilayah yang masuk zona inti merupakan wilayah yang banyak ditemukan sebaran fosil. Sedangkan penyangga berjumlah sedikit. Sedangkan pengembangan tidak ditemukan, namun diduga ada fosil dalam wilayah ini.

Dia menambahkan, biasanya setiap tahun yang memiliki agenda rutin untuk melakukan penelitain maupun ekskavasi adalah dari Balai Arkeologi Yogyakarta. Agendanya adalah melanjutkan penelusuran mengenai sebaran fosil pada jaman prasejarah di wilayah Perbukitan Patiayam yang membentang hingga Kabupaten Kudus.

Diakui dia, masih banyak fosil yang belum tergali dan masih banyak tertimbun di dalam tanah. Sehingga tidak heran banyak temuan fosil yang muncul ke permukaan ketika masyarakat yang tinggal di sekitar situs membuka lahan baru untuk pertanian.

Terkait dengan jumlah fosil temuan yang saat ini disimpan di Museum Purbakala Patiayam, dari catatan terakhir Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kudus, ada 2.471 fosil. (FAISOL HADI/TITIS W)

Situs Purbakala Patiayam Diyakini Menyimpan Banyak Fosil Terpendam

Kawasan situs purbakala Patiayam, yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. Menurut tim peneliti BPSMPS kawasan ini masih menyimpan banyak fosil. (MuriaNewsCom)

Kawasan situs purbakala Patiayam, yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. Menurut tim peneliti BPSMPS kawasan ini masih menyimpan banyak fosil. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Kawasan Situs Purbakala Patiayam, yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. Diyakini Tim dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) menyimpan banyak fosil terpendam. Tim melakukan penelitian di kawasan tersebut, dan rencananya penelitian tersebut rencananya dilakukan selama sepekan ke depan.

”Dilihat dari lapisan tanah dan temuan selama ini, saya yakin masih banyak fosil yang terpendam. Namun, memang harus dilakukan penggalian,” kata Wahyu Widianta, seorang peneliti dari BPSMPS saat melakukan survei di kawasan Situs Patiayam, Selasa (11/8/2015).

Penelitian dilakukan dengan membawa data dari kerja sama dengan Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta. Data tersebut merupakan hasil penelitian Balar selama 10 tahun terakhir.

Menurutnya, Patiayam memiliki lokasi temuan seluas 3600 hektar selama penelitian dan penggalian sejak 1979. Di luar lingkaran luas itu, Wahyu yakin masih banyak fosil yang terpendam di lahan milik warga dan Perhutani Pati itu.

Selama ini yang banyak ditemukan di Patiayam adalah fosil binatang. Misalnya, gajah, kerbau, banteng, rusa, badak, dan kuda nil. Namun, fragmen tengkorak dan indikasi gigi berjumlah satu juga pernah dijumpai. (FAISOL HADI/TITIS W)

Museum Patiayam Ramai Dikunjungi Setiap Hari

Para peserta Trail Running juga diberi kesempatan mengunjungi Museum Situs Purbakala Patiayam, yang berada di Desa Terban, Jekulo, Kabupaten Kudus. Siti Asmah juga bersedia memberikan informasi ketika peserta menanyakan tentang benda-benda purbakala di museum tersebut, Minggu (31/5/2015). (MURIANEWS/HANA RATRI)

KUDUS – Kudus dikenal sebagai tempat yang memiliki banyak potensi wisata. Terutama potensi wisata bersejarah. Salah satunya adalah Museum Situs Purbakala Patiayam, yang berada di Desa Terban, Jekulo, Kabupaten Kudus. Siti Asmah, juru pelihara Museum Patiayam, mengatakan museum ini sering ramai dikunjungi oleh masyarakat. Terutama pada hari Minggu.

Lanjutkan membaca