Liburan, ‘Museum’ Banjarejo Diserbu Pengunjung

Rombongan pengunjung anak-anak dari wilayah sekitar Banjarejo sedang melihat koleksi benda bersejarah di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Rombongan pengunjung anak-anak dari wilayah sekitar Banjarejo sedang melihat koleksi benda bersejarah di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Keberadaan ‘Museum’ benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ternyata juga jadi pilihan untuk menghabiskan waktu pada libur panjang akhir pekan ini. Dalam dua hari terakhir, Minggu hingga Senin ini ada ratusan pengunjung yang datang untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, dalam dua hari kemarin, jumlah pengunjung yang datang sekitar 250 orang. Sebagian besar pengunjung datang pada hari Minggu (11/12/2016).

“Hari minggu pengunjung sekitar 150 orang. Sedangkan Senin kemarin, sekitar 100 an orang. Cuaca kemarin, seharian memang agak mendung dan kemungkinan banyak orang enggan jalan-jalan karena khawatir kehujanan,” katanya.

Pengunjung yang datang pada long weekend ini kebanyakan rombongan. Selain dari Grobogan, ada pengunjung yang datang dari luar kota. “Ada belasan pengunjung dari SMAN 1 Mayong, Jepara yang sempat ke sini juga. Rombongan ini terdiri dari guru dan perwakilan siswa,” jelasnya.

Menurut Taufik, sejak Banjarejo ditetapkan jadi Desa Wisata akhir Oktober lalu, dinilai punya dampak positif. Imbasnya adalah naiknya jumlah pengunjung dalam dua bulan terakhir. 

Tercatat, sudah ada 1.500 pengunjung yang datang untuk melihat ratusan koleksi benda bersejarah yang sementara tersimpan di rumahnya. Dari pengunjung tersebut, ada satu yang dinilai sangat spesial.

Yakni, adanya kunjungan warga negara Prancis yang bernama Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah, Rabu (30/11/2016) lalu. Pria asal Prancis ini bukan wisatawan biasa, tetapi merupakan seorang profesor arkeologi ternama di dunia.

“Salah satu keberhasilan dalam mendatangkan pengunjung ke sini adalah berkat peran dari rekan-rekan media. Melalui pemberitaan yang sangat sering dimunculkan menjadikan potensi di Banjarejo jadi terkenal luas. Terus terang, saya mengucapkan terima kasih atas atensi rekan media selama ini,” katanya.

Editor : Kholistiono

Kades, BPD dan Perangkat Desa Sengonwetan Grobogan Geruduk ‘Museum’ Banjarejo

Perangkat dan Kepala Desa Sengonwetan Priyo Hutomo (nomor lima dari kiri) bersama Kades Banjarejo Ahmad Taufik (samping kirinya) foto bareng di depan fosil kerbau raksasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Perangkat dan Kepala Desa Sengonwetan Priyo Hutomo (nomor lima dari kiri) bersama Kades Banjarejo Ahmad Taufik (samping kirinya) foto bareng di depan fosil kerbau raksasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Rumah Ahmad Taufik,Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, yang sementara jadi tempat penyimpanan benda purbakala mendadak kedatangan tamu banyak orang. Seluruh tamu ini merupakan aparat pemerintahan Desa Sengonwetan, Kecamatan Kradenan.

Kedatangan tamu dari desa tetangga itu dipimpin langsung Kepala Desa Sengonwetan Priyo Hutomo. Datangnya belasan aparat pemerintahan desa itu tak ayal sempat bikin kaget Ahmad Taufik.

“Sebelumnya, tidak ada pemberitahuan kalau mau ke sini. Jadi saya sempat kaget. Apalagi, kalau tidak salah ingat, baru sekali ini ada kunjungan kades lengkap dengan perangkat dan anggota BPD. Saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan ini,” kata Taufik, Selasa (6/12/2016).

Sementara itu, Priyo Hutomo ketika dimintai komentarnya menyatakan, kunjungan yang dilakukan dalam rangka memberikan dukungan moral kepala Kades Ahmad Taufik dan masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi yang ada di Desa Banjarejo.

“Secara pribadi, saya sudah sering main ke sini. Kebetulan Pak Taufik adalah teman baik dan desa saya juga tidak jauh dari Banjarejo. Kali ini, saya datang secara resmi dengan perangkat dan anggota BPD,” kata Priyo yang juga menjabat sebagai Ketua Paguyuban Demang Manunggal Grobogan itu.

Menurut Priyo, setelah ini, direncanakan akan melangsungkan kunjungan lagi ke Banjarejo. Nanti, gantian pengurus RT dan RW serta karang taruna yang akan diajak ke sana. 

“Meski hanya terpaut dua desa, namun belum semua warga Sengonwetan sudah pernah melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya di Banjarejo. Makanya, kami ingin mengajak berbagai komponen di Sengonwetan untuk melihat sekaligus menimba pengalaman dan memberikan dukungan moral,” tegasnya.

Priyo menambahkan, para kepala desa se-Grobogan nantinya juga akan diajak berkunjung ke Banjarejo maupun desa wisata lainnya. Dengan demikian, semuanya akan bisa saling berbagi dan bertukar pikiran dalam mengembangkan potensi yang ada di desanya masing-masing.

Editor : Kholistiono

Guru Besar Arkeologi dari Prancis Kunjungi ‘Museum’ Banjarejo Grobogan

Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah saat berkunjung ke “Museum” Banjarejo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah saat berkunjung ke “Museum” Banjarejo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Banyaknya penemuan benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ternyata tidak hanya memancing ketertarikan dari warga sekitar saja. Tetapi juga mulai dilirik wisatawan dari mancanegara.

Hal ini dibuktikan dengan adanya kunjungan warga Negara Prancis yang bernama Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah, Rabu (30/11/2016). Pria asal Prancis ini bukan wisatawan biasa, tetapi merupakan seorang professor arkeologi ternama di dunia.

“Nama Profesor Francois Semah ini sudah saya kenal ketika berkunjung ke Museum Sangiran beberapa waktu lalu. Saat berkunjung ke sana, saya diberi tahu tentang nama profesor ini, yang juga ikut andil mengenalkan keberadaan Museum Sangiran di kancah internasional,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Dari penelusuran dari berbagai sumber, sosok guru besar dari Prancis ini ternyata sudah banyak jasanya terhadap perkembangan penelitian dan studi arkeologi di Indonesia. Bahkan, guru besar dan arkeolog Museum National d’Histoire Naturelle Prancis ini pernah mendapat penghargaan kehormatan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, beberapa waktu lalu.

“Terus terang saya tidak menyangka bakal dapat kunjungan tamu istimewa hari ini. Ternyata profesor ini, selain bisa komunikasi dengan Bahasa Indonesia juga pandai berbahasa Jawa,” sambung Taufik.

Ia menyatakan, kunjungan yang dilakukan pakar arkeologi itu dilakukan mendadak. Sebelumnya, dia juga tidak pernah dapat kabar bakal kedatangan orang penting tersebut. Bahkan, Taufik mengaku sedang tidur saat pasangan suami-istri itu tiba di rumahnya yang sementara jadi tempat penyimpanan koleksi benda bersejarah tersebut, sekitar pukul 14.00 WIB.

“Saya tadi kaget dibangunkan kalau ada tamu orang asing yang datang melihat koleksi benda bersejarah. Ternyata, tamunya bukan wisatawan biasa,” ungkapnya.

Taufik menyatakan, tamu istimewa itu hanya berkunjung singkat, sekitar 30 menit. Oleh sebab itu, tidak begitu banyak yang sempat diperbicangkan. Hanya saja, professor dari Prancis itu menjanjikan bakal melakukan penelitian di Banjarejo tahun depan.

“Tadi, beliaunya agak buru-buru. Soalnya, harus menghadiri acara di Salatiga. Meski hanya singkat, namun saya merasa bangga sudah dikunjungi Profesor Francois Semah dan istri. Mudah-mudahan, beliau nanti jadi melakukan penelitian di sini dan ikut mengangkat nama Banjarejo di kancah internasional,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Puluhan Guru Sejarah SMA di Grobogan Kunjungi ‘Museum’ Banjarejo, Ini Komentar Mereka

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyampaikan penjelasan kepada guru sejarah SMA saat melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya di tempatnya, Kamis (17/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyampaikan penjelasan kepada guru sejarah SMA saat melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya di tempatnya, Kamis (17/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan-Luar Biasa. Itulah ungkapan yang dilontarkan para guru sejarah SMA di Grobogan usai melihat langsung beragam penemuan benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kamis (17/11/2016).

“Koleksi yang ada di Banjarejo memang luar biasa. Kami dapat banyak pengetahuan dari kunjungan yang kita lakukan bersama rekan-rekan hari ini di Banjarejo,” kata Ketua MGMP Sejarah SMA Prayitno Slamet.

Menurut Prayitno, sebenarnya jumlah guru sejarah SMA yang jadi anggota MGMP sebanyak 50 orang akan ikut semuanya. Tetapi, karena ada tugas lain yang tidak bisa ditinggalkan, hanya 27 orang ikut dalam kunjungan ke Banjarejo.

“Teman-teman yang lainnya nanti akan ke sini di lain kesempatan. Sementara baru 27 orang yang bisa ikut ke sini hari ini,” kata guru sejarah di SMAN 1 Godong itu.

Prayitno menyatakan, koleksi yang ada di Banjarejo dinilai cukup komplit. Selain jumlahnya banyak dan jenisnya beragam, koleksi di tempat tersebut berasal dari berbagai zaman. Mulai prasejarah, Hindu-Budha dan awal masuknya Islam.

Di samping itu, penataan koleksi juga sudah dilakukan dengan baik. Sehingga memudahkan pengunjung untuk melihat karena benda purbakala dan cagar budaya sudah dipisahkan tempatnya.

Selain itu, pendataan tentang benda penemuan juga dinilai sangat bagus. Dengan adanya data ini, pengunjung bisa dengan mudah mengetahui informasi tentang benda tersebut.

“Satu lagi, penjelasan yang disampaikan Pak Kades Ahmad Taufik juga makin melengkapi informasi yang dibutuhkan. Kami mengucapkan terima kasih pada Pak Kades atas perhatian dan kerja samanya,” kata Prayitno.

Menurutnya, banyaknya penemuan di Banjarejo itu dinilai suatu aset dan karunia yang tidak ternilai harganya. Dengan adanya penemuan itu, di sisi lain memang bisa dijadikan sarana edukasi bagi banyak pihak. Terutama para pelajar.

“Koleksi di Banjarejo bisa kita jadikan pelengkap dari pelajaran teori. Apa yang kita dapat dari sana akan kita aplikasikan pada anak didik. Ke depan, kita juga akan mengupayakan untuk mengajak siswa berkunjung sekaligus belajar di Banjarejo,” cetusnya.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengaku bangga dengan adanya kunjungan guru sejarah SMA untuk melihat aneka koleksi benda peninggalan masa lampau tersebut. Sebelumnya, Taufik memang berharap agar koleksi yang saat ini tersimpan di rumahnya bisa jadi sarana edukasi para pelajar. Selain koleksinya banyak ragamnya, keberadaan benda bersejarah seperti itu juga jarang ditemukan didaerah lainnya.

“Koleksi benda penemuan yang ada saat ini sudah memadai karena jumlahnya lebih dari 500. Ini bisa jadi sarana untuk pendidikan siswa tentang adanya sebuah kehidupan maupun peradaban di masa lampau. Salah satu pihak yang pas untuk melakukan upaya edukasi ini adalah sekolah-sekolah. Saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan istimewa dari para guru sejarah ini,” katanya.

Sejauh ini, sambung Taufik, memang sudah banyak siswa dari berbagai sekolah yang berkunjung ke ‘Museum Banjarejo’ untuk melihat berbagai koleksi benda bersejarah. Namun, sebagian besar masih sekolah di sekitar wilayah Banjarejo. Diharapkan, langkah ini juga bisa diikuti oleh sekolah lainnya yang ada di wilayah Grobogan. Baik dari level SD, SMP, SMA dan SMK.

“Banyaknya penemuan benda bersejarah di sini merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal, rasanya eman-eman (sayang),” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Kadinas Pendidikan Grobogan Janji Kerahkan Pelajar ke Desa Banjarejo untuk Wisata Edukasi Sejarah

Sejumlah pelajar sedang mendengarkan penjelasan tentang benda purbakala dari Kades Banjarejo Ahmad Taufik.(kanan). Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Karsono. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah pelajar sedang mendengarkan penjelasan tentang benda purbakala dari Kades Banjarejo Ahmad Taufik.(kanan). Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Karsono. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya menjadikan koleksi benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus untuk jadi salah satu sarana edukasi bagi siswa sekolah mendapat respon positif dari dinas terkait. Hal itu ditegaskan langsung Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Karsono saat dimintai komentarnya.

“Koleksi benda bersejarah yang ada di Desa Banjarejo layak dijadikan sarana edukasi. Kami mendukung langkah ini dan ke depan, para pelajar akan kita kerahkan ke sana. Para pengawas sudah saya perintahkan untuk menyampaikan pada pihak sekolah supaya siswanya diajak berkunjung ke Banjarejo,” katanya.

Menurut Karsono, koleksi yang ada di Banjarejo saat ini sudah beragam dan merupakan peninggalan dari beberapa era peradaban. Hal inilah yang menjadikan koleksi di sana bisa dijadikan sarana edukasi bagi para pelajar.“Di sana ada benda purbakala yang sudah ratusan jumlahnya. Benda era peradaban megalitikum, Hindu-Budha dan awal masuknya Islam juga ada. Jadi, koleksinya sudah cukup lengkap,” jelasnya.

Terkait dengan bakal ramainya pelajar yang datang ke sana, Karsono juga menghendaki supaya sarana dan prasarana pendukung juga dipersiapkan pihak pengelola. Seperti, ada pemandu yang bisa menerangkan gambaran singkat mengenai koleksi yang terdapat di situ. Kemudian, bila perlu ada juga brosur tentang data singkat koleksi di situ.

“Ketika datang ke sana, anak-anak nanti juga akan kita minta bikin semacam laporan singkat hasil kunjungan. Nah, kalau ada brosur tentu akan memudahkan untuk menyusun laporan,” sambung Karsono.

Selain di Banjarejo, Karsono mewacanakan agar para pelajar juga bisa mengenal potensi wisata lainnya yang ada di Grobogan. Seperti Api Abadi Mrapen, Waduk Kedung Ombo, Air Terjun Widuri hingga Bledug Kuwu. Hal itu perlu dilakukan karena sejauh ini masih banyak warga di Grobogan termasuk pelajar yang belum tahu semua potensi wisata di daerahnya.

“Saya ingin, agar jangan sampai orang tahu objek wisata di luar daerah tetapi tidak mengenal obyek wisata didaerahnya sendiri. Kedepan, barangkali perlu ada sebuah paket wisata lokal di samping wisata luar daerah,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kades Banjarejo Ahmad Taufik memang berharap agar koleksi yang saat ini tersimpan di rumahnya bisa jadi sarana edukasi para pelajar. Selain koleksinya banyak ragamnya, keberadaan benda bersejarah seperti itu juga jarang ditemukan di daerah lainnya.

“Koleksi benda penemuan yang ada saat ini sudah memadai karena jumlahnya lebih dari 500. Ini bisa jadi sarana untuk pendidikan siswa tentang adanya sebuah kehidupan maupun peradaban di masa lampau. Salah satu pihak yang pas untuk melakukan upaya edukasi ini adalah sekolah-sekolah,” katanya.

Sejauh ini, sambung Taufik, memang sudah banyak siswa dari berbagai sekolah yang berkunjung ke ‘Museum Banjarejo’ untuk melihat berbagai koleksi benda bersejarah. Namun, sebagian besar masih sekolah di sekitar wilayah Banjarejo. Diharapkan, langkah ini juga bisa diikuti oleh sekolah lainnya yang ada di wilayah Grobogan. Baik dari level SD, SMP, SMA dan SMK. “Banyaknya penemuan benda bersejarah di sini merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal, rasanya eman-eman (sayang),” imbuhnya.

 Editor : Kholistiono

Nunggu Buka Puasa, Museum Banjarejo Grobogan jadi Pilihan Ngabuburit

Rombongan jamaah Masjid Al Hidayah dari Kecamatan Kradenan tengah berkunjung ke Museum Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Rombongan jamaah Masjid Al Hidayah dari Kecamatan Kradenan tengah berkunjung ke Museum Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski tidak seramai hari biasanya, namun sepanjang Ramadan ini masih banyak orang yang berkunjung ke ‘Museum’ Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan.

Kebanyakan, pengunjung datang di sore hari sembari ngabuburit atau menunggu waktu buka puasa.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, dibandingkan dengan sebelum puasa, jumlah pengunjung memang berkurang jauh. Selama puasa, pengunjung rata-rata hanya sekitar 50 orang per hari. Sebelumnya, pengunjung bisa berkisar 200 orang per hari.

“Pengunjungnya memang turun selama bulan puasa ini. Pengunjung kebanyakan adalah warga dari sekitar Kecamatan Gabus. Kalau yang dari luar kota hanya beberapa saja. Selama puasa, pengunjungnya kebanyakan datang pada sore hari dan sebagian ada yang berbuka puasa disini,” cetusnya.

Berkurangnya pengunjung itu di sisi lain disebabkan adanya pengecoran jalan utama menuju tempat penyimpanan koleksi benda purbakala dan cagar budaya tersebut. Adanya aktivitas perbaikan jalan itu menjadikan akses menuju museum agak terganggu. Khususnya untuk kendaraan roda empat.

“Sejak awal puasa memang saya sudah woro-woro adanya perbaikan jalan ini lewat medsos. Barangkali, ini juga ada pengaruh dengan berkurangnya pengunjung. Perbaikan jalan ini kita targetkan selesai dalam satu atau dua hari nanti,” kata Taufik.

Disinggung soal penemuan barang baru, Taufik menyatakan, masih ada. Sepanjang puasa ini masih ada penemuan beberapa benda purbakala atau fosil. Hanya,, fosil yang ditemukan belum ada yang sensasional.

“Ada beberapa fosil potongan tubuh hewan purba yang ditemukan. Belum ada yang spektakuler,” imbuh bapak tiga orang anak itu.

Editor : Akrom Hazami

 

Digeruduk Ratusan Pengunjung, Kades Banjarejo Pede Jadi Pemandu

Ratusan pelajar dari SMPN 1 Gabus melihat ratusan koleksi benda purbakala saat melangsungkan kunjungan ke Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ratusan pelajar dari SMPN 1 Gabus melihat ratusan koleksi benda purbakala saat melangsungkan kunjungan ke Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan pelajar dari SMPN 1 Gabus, Selasa (24/5/2016) melangsungkan kunjungan ke “Museum Banjarejo”. Rombongan pelajar yang didampingi para pengajar tersebut datang ke Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus menggunakan dua bus dan beberapa mobil.

“Tamu saya hari ini banyak banget dari rombongan SMPN 1 Gabus. Saya merasa bangga dan mengucapkan terima kasih atas kesediaan mereka berkunjung ke sini,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Berbeda dengan sebelumnya, meski didatangi ratusan orang, Taufik tidak terlihat gugup untuk memberikan penjelasan seputar sejarah benda purbakala dan cagar budaya yang untuk sementara disimpan di rumahnya. Dibantu beberapa anggota komunitas Pecinta Fosil (Komcil) Banjarejo, Taufik dengan ramah menjawab pertanyaan yang dilontarkan para siswa maupun guru.

“Beberapa waktu lalu, saya dan anggota Komcil sudah sempat belajar soal benda purbakala di Museum Sangiran. Jadi, sekarang wawasannya sudah tambah banyak. Makanya, sekarang bisa menjelaskan dengan lebih baik dibandingkan dulu,” katanya sembari tertawa.

Menurutnya, saat ini, pengenalan benda purbakala yang ada juga jauh lebih mudah.  Sebab, sebagian besar benda purbakala yang ditemukan selama ini sudah dilabeli oleh tim dari BPSMP Sangiran saat melangsungkan penelitian di Banjarejo bulan Maret lalu.

Taufik menambahkan, selama ini, memang sudah banyak pengunjung dari rombongan siswa sekolah. Baik sekolah dari wilayah Grobogan maupun luar kota. Selain melihat koleksi mereka juga mendapat tugas dari sekolah untuk membuat laporan kegiatan.

“Terus terang, kepedulian dari berbagai pihak yang sudah berkunjung kesini membuat kami bahagia. Kami harapkan, dengan perhatian ini akan memudahkan mimpi kami untuk memiliki museum,” imbuh pria yang hobi naik gunung itu.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Gading Gajah Sepanjang 3 Meter jadi Idola Baru Pengunjung Museum Banjarejo

gading gajah purbaaa e

Warga melihat fosil gading gajah di Banjarejo Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Satu koleksi benda purbakala yang ada di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus menjadi idola pengunjung yang datang. Yakni, gading gajah purba yang panjangnya hampir mencapai 3 meter.

Gading gajah purba ini ditemukan tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (22/3/2016) saat melakukan observasi di Banjarejo. Saat diangkat dari dalam tanah, gading itu patah menjadi 10 potongan.

“Karena patah, gading ini kemudian dibawa ke Sangiran untuk direkonstruksi. Sekarang, gading ini sudah berhasil disatukan lagi. Ukurannya memang istimewa, panjangnya mencapai 2,83 meter, dengan lebar bagian bawah 15 cm dan ujungnya 5 cm,” ungkap Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, sebelumnya sudah ada satu gading yang ditemukan. Ukurannya lebih pendek, sekitar 2,17 cm. Sedangkan satu gading terakhir yang ditemukan ukurannya hanya sekitar 70 cm.

Yakni, hanya bagian ujungnya saja yang utuh. Sementara bagian tengah hingga pangkal sudah lapuk jadi tanah.

“Jadi koleksi gadingnya sekarang ada tiga. Dua gading bentuknya utuh dan satu lagi cuma sepertiga bagian saja. Ketiga gading gajah purba ini usianya sudah jutaan tahun,” cetusnya.

Adanya gading tersebut memang makin mengundang daya tarik para pengunjung. Rata-rata para pengunjung pasti menyempatkan foto dan menanyakan soal gading tersebut.

Sebelumnya, benda purbakala yang jadi andalan untuk dilihat pengunjung adalah fosil kepala kerbau raksasa. Selain usianya sudah mencapai jutaan tahun, ukuran fosil kepala kerbau yang ditemukan Rabu (9/9/2015) lalu, juga sangat besar.

Dimana, panjang antar ujung tanduk mencapai 170 cm. Kemudian tinggi tulang bagian kepala mencapai 60 cm dengan lebar 25 cm. Sedangkan panjang tiap tanduk sekitar 115 cm.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Lakukan Penelitian di Banjarejo, Ahli Purbakala dari BPSMP Sangiran Dibagi Dalam 3 Tim Kecil

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebanyak 20 orang ahli purbakala dari BPSMP Sangiran yang melakukan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akan dibagi menjadi tiga tim kecil. Masing-masing tim akan melakukan tugas berbeda.

“Nanti, rekan-rekan yang dilapangan akan dibagi jadi tiga tim. Tiap tim, bekerja sesuai spesifikasi yang dimiliki,” ungkap Ketua BPSMP Sangiran Sukronedi.

Dijelaskan, tim pertama akan melakukan penelitian, pengkajian dan mengungkap nilai-nilai penting dari penemuan benda purbakala yang ada di Banjarejo. Misalnya, soal struktur tanah, dan titik penemuan benda purbakala.

Kemudian, tim kedua akan melakukan upaya konservasi, registrasi, dan identifikasi benda purbakala yang sudah ditemukan selama ini. Mereka nanti akan melakukan perawatan terhadap benda purbakala agar awet dan tidak rusak. Beberapa potongan fosil juga akan dikumpulkan sesuai jenis hewannya.

Sedangkan, tim ketiga akan fokus pada pendisplaian dan penataan benda-benda purbakala biar terlihat rapi. Tim ini juga akan membuatkan tulisan singkat berisi cerita tentang benda purbakala tersebut.

“Jadi, personel yang datang ke Banjarejo cukup komplit. Ada ahli arkelogi, kimia, biologi, hingga desain komunikasi visual. Mereka akan melangsungkan penelitian selama dua minggu, terhitung mulai hari ini,” jelas Sukron.

Editor : Kholistiono

Puluhan Ahli Purbakala BPSMP Sangiran Mulai Lakukan Penelitian di Desa Banjarejo Grobogan

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Janji Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran untuk melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, pada tahun 2016 ini ternyata bukan omong kosong. Hal ini dibuktikan dengan sudah datangnya puluhan ahli purbakala dari BPSM ke desa yang kaya penemuan benda purbakala itu, Selasa (15/3/2016).

“Tim dari BPSMP Sangiran sudah tiba sekitar pukul 10.00 WIB. Jumlah rombongan kali ini cukup banyak,yakni 20 orang,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, begitu sampai di Banjarejo, rombongan dari Sangiran itu langsung menuju ke rumahnya. Soalnya, semua koleksi benda purbakala yang ditemukan selama beberapa tahun terakhir kebetulan disimpan dirumahnya.

Taufik mengaku sangat lega sekaligus gembira dengan datangnya para pakar purbakala dari BPSMP Sangiran yang akan melangsungkan penelitian hingga dua pekan lamanya. Dengan kegiatan itu, setidaknya akan bisa mengungkap lebih banyak lagi misteri yang ada didesanya.

“Masyarakat Banjarejo sudah menantikan kedatangan ahli purbakala yang akan melangsungkan penelitian disini. Mudah-mudahan, pelaksanaan penelitian nanti berjalan lancar dan bisa mengungkap tabir yang ada di bumi Banjarejo ini,” jelasnya.

Dikatakan, beberapa waktu sebelumnya, sejumlah ahli juga sudah datang ke Banjarejo untuk melakukan observasi lapangan. Antara lain, dari Balai Arkeologi Yogyakarta dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) berserta Disbudpar Jawa Tengah.

Editor : Kholistiono

Selama Libur Panjang, Ada Seribu Orang Kunjungi Museum Banjarejo

Selama liburan ini Museum Banjarejo ramai dikunjungi wisatawan yang penasaran akan benda-benda purbakala. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Selama liburan ini Museum Banjarejo ramai dikunjungi wisatawan yang penasaran akan benda-benda purbakala. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Pilihan orang mengisi libur panjang ternyata tidak hanya dilakukan pada objek wisata terkenal saja. Keberadaan ’museum’ Desa Banjarejo ternyata juga mengundang daya tarik pengunjung selama libur panjang natal dan tahun baru ini.

Indikasinya, bisa dilihat dengan ramainya pengunjung ke desa yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Purwodadi itu. Tujuan utamanya tentu saja untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang disimpan di rumah Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

”Kebetulan saya ada rencana ke rumah family di Kecamatan Wirosari yang mau punya gawe. Sekalian, saya ajak anak istri untuk melihat koleksi benda kuno di Banjarejo. Selama ini, saya sering menyimak kabar Desa Banjarejo dari media online,” kata Pramono, warga asal Wirosari yang sudah lama menetap di Surabaya.

Tidak hanya dari luar kota saja, pengunjung lokal dari wilayah Grobogan juga banyak yang bertandang ke Banjarejo. Kebanyakan, mereka ini datang secara rombongan. Ada yang naik sepeda motor dan mobil pribadi. Beberapa waktu sebelumnya, ada pula rombongan pengunjung yang datang naik sepeda.

”Liburan kali ini, saya tidak mengajak keluarga piknik ke luar kota seperti biasanya. Maklum kondisi ekonomi lagi tidak memungkinkan. Makanya, saya ajak saja jalan-jalan lihat koleksi benda-benda kuno dan bersejarah,” cetus Agus Triyono, warga Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengakui jika animo masyarakat untuk berkunjung ke desanya memang luar biasa. Tepatnya, setelah heboh adanya penemuan bangunan kuno mirip pondasi dari tatanan batu bata di Dusun Nganggil, (12/10/2015) lalu. Sejak saat itu, sudah ada ribuan orang yang berkunjung untuk melihat dari dekat benda kuno tersebut.

Pengunjung makin naik jumlahnya seiring adanya penemuan terus hingga saat ini. Baik dan hewan purba itu. Penemuan benda purbakala maupun cagar budaya.

”Khusus untuk liburan panjang bersamaan dengan natal dan tahun baru, pengunjungnya memang cukup banyak. Dalam dua minggu terakhir, kemungkinan ada 1.000 pengunjung yang datang. Beberapa di antaranya bahkan ada yang datang dari Kalimantan,” katanya. (DANI AGUS/TITIS W)