MUI Salurkan Pinjaman Lunak untuk Tiga Kecamatan di Pati

Ketua MUI Pati KH Abdul Mudjib Sholeh (tengah) dalam acara penyerahan bantuan pinjaman lunak bergulir di Kantor MUI Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua MUI Pati KH Abdul Mudjib Sholeh (tengah) dalam acara penyerahan bantuan pinjaman lunak bergulir di Kantor MUI Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pati menyalurkan pinjaman lunak kepada tiga kecamatan di Kabupaten Pati. Pinjaman lunak yang diberikan secara bergulir tersebut tanpa dikenakan biaya administrasi maupun jasa.

Praktis, penerima pinjaman lunak tanpa dikenakan suku bunga atau bagi hasil sepeser pun. Pinjaman tersebut diharapkan bisa membantu umat untuk mengembangkan usaha, sehingga bisa meningkatkan taraf ekonomi warga.

“Penyaluran bantuan berupa pinjaman lunak yang merupakan bentuk dakwah bil hal ini diberikan setiap tahunnya. Penerima pinjaman harus mengembalikan dana tersebut sesuai jumlah yang dipinjam, tidak ada suku bunga sepeserpun. Hal ini menjadi langkah MUI untuk meningkatkan kesejahteraan umat,” kata Ketua MUI Pati KH Abdul Mudjib Sholeh, Selasa (11/10/2016).

Setiap tahun, MUI menyerahkan pinjaman lunak secara bergulir di tiga kecamatan. Tahun ini, pinjaman tersebut diserahkan di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Pati, Gunungwungkal, dan Batangan. Masing-masing kecamatan mendapatkan alokasi pinjaman sebesar Rp 20 juta.

“Kalau uang itu dimanfaatkan untuk usaha tanpa dikenakan biaya administrasi maupun jasa, tentu akan memberikan manfaat yang besar bagi umat. Uang itu akan berkembang dan bisa mengentaskan kemiskinan. Kami berharap, pinjaman tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik,” ucap Mudjib.

Adapun dana diambil dari pelimpahan Badan Kesejahteraan Umat Islam (Bakaumi) dengan dana tambahan lain. Dengan pengelolaan yang baik, dana tersebut berkembang mencapai Rp 1 miliar pada Desember 2015. Bakaumi sendiri dibubarkan pada 2003 yang selanjutkan menunjuk MUI sebagai pengelola aset, inventaris, dan keuangan eks Bakaumi Pati.

Editor : Kholistiono

MUI Salurkan Bantuan untuk 162 Siswa Duafa di Pati

 Bantuan MUI untuk siswa duafa diserahkan kepada masing-masing perwakilan madrasah. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Bantuan MUI untuk siswa duafa diserahkan kepada masing-masing perwakilan madrasah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pati menyalurkan bantuan untuk 162 siswa duafa di lima madrasah yang ada di Kabupaten Pati. Lima sekolah tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Trangkil, Winong, Tambakromo, Margorejo, dan Cluwak.

Ketua MUI Pati KH Abdul Mudjib Sholeh mengatakan, satu madrasah mendapatkan bantuan senilai Rp 15 juta. Bantuan tersebut diserahkan secara langsung kepada MTs Islam di Kecamatan Margorejo, MI Maslahul Ulum di Trangkil, MI Miftahul Huda di Winong, MI Miftahul Ulum di Tambakromo, dan MI Manahijul Ulum di Cluwak.

“Bantuan tersebut menjadi salah satu upaya MUI yang tidak hanya bersifat membimbing, tetapi juga membina dan mengayomi umat Muslim. Terlebih, siswa adalah generasi emas bangsa, sehingga mereka yang secara ekonomi lemah harus mendapatkan bantuan,” kata Mudjib, Selasa (11/10/2016).

Dana MUI tersebut diambil dari pengembangan dana pelimpahan Badan Kesejahteraan Umat Islam (Bakaumi) Pati sejak 2003. Dana infaq masyarakat yang dihimpun dilimpahkan ke MUI sekitar Rp 687 juta, setelah lembaga Bakaumi dibubarkan.

Dari dana tersebut, MUI Pati berhasil mengembangkan asetnya mencapai Rp 1 miliar pada Desember 2015. Bakaumi sendiri dibubarkan pada 10 Juli 2013 melalui Surat Keterangan (SK) Bupati Pati Nomor 451.7/829/2003. Sejak itu, MUI ditunjuk sebagai pengelola aset, termasuk pengelola keuangan eks Bakaumi, dan inventaris.

Editor : Kholistiono

MUI Desak Aparat Tertibkan Rumah Esek-esek di Pati

Ketua MUI Pati KH Abdul Mudjib Sholeh mendesak aparat menertibkan rumah-rumah mesum. Desakan itu disampaikan di Kantor MUI Pati, Sabtu (08/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua MUI Pati KH Abdul Mudjib Sholeh mendesak aparat menertibkan rumah-rumah mesum. Desakan itu disampaikan di Kantor MUI Pati, Sabtu (08/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Keberadaan rumah esek-esek di sejumlah tempat di Kabupaten Pati menjadi sorotan dari berbagai kalangan. Setelah Komisi D DPRD Pati mendesak agar aparat dan pemerintah menertibkan rumah esek-esek, kini desakan itu muncul dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pati.

“Itu sudah menjadi kewajiban aparat untuk menertibkan¬† tempat-tempat maksiat yang sudah meresahkan masyarakat. Pemerintah di tingkat RT, RW, kecamatan, hingga Satpol PP harus bersama-sama membasmi tempat-tempat yang memiliki dampak negatif bagi masa depan anak-anak muda,” kata Ketua MUI Kabupaten Pati KH Abdul Mudjib Sholeh, Sabtu (08/10/2016).

Selain aparat, Mudjib juga mengimbau kepada masyarakat ikut aktif berpartisipasi dalam pemberantasan penyakit masyarakat (pekat). Dalam partisipasi tersebut, aparat dan masyarakat saling membantu untuk menertibkan rumah-rumah yang disewakan untuk tempat prostitusi.

Penertiban sarang prostitusi yang pernah terjadi di Dukuhseti disebut Mudjib sebagai salah satu peran masyarakat dalam membasmi pekat. Kala itu, gerakan swadaya masyarakat yang digawangi Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU berhasil membubarkan tempat prostitusi di Dukuhseti.

Berkaca dari keberhasilan itu, Mudjib yakin bila penertiban rumah-rumah mesum di Pati bisa saja dilakukan, bila dilakukan dengan sungguh-sungguh. “Penyakit yang satu itu memang masya Allah sulitnya ditertibkan. Tapi kalau aparat dan masyarakat sungguh-sungguh, saya kira bisa,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Bisnis Esek-esek di Pati Disebut Menggiurkan

Suasana penertiban rumah yang disewakan untuk short time di Desa Margoyoso, Kecamatan Margoyoso, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana penertiban rumah yang disewakan untuk short time di Desa Margoyoso, Kecamatan Margoyoso, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bisnis esek-esek disebut-sebut sebagai bisnis paling mudah dan menggiurkan. Dari sisi ekonomi, prostitusi memiliki dampak bisnis yang menjanjikan, mulai dari warung, jasa sewa kamar, dan sebagainya.

Hal itu yang membuat bisnis lendir selalu ada, sejak peradaban kuno sekalipun. Hal itu pula yang membuat bisnis lendir semakin menantang ketika ditentang. “Tidak hanya di Pati, bisnis esek-esek ada di mana-mana. Bisnis ini selalu sulit ditertibkan. Kalau berhasil ditertibkan, biasanya beralih ke tempat lain. Dulu, zaman di Dukuhseti ditertibkan, mereka lari ke Margorejo. Termasuk, lokalisasi Bribik Kudus yang setelah ditertibkan, larinya ke Margorejo,” kata pengamat sosial, Adiningtyas Prima, Sabtu (08/10/2016).

Berkembangnya bisnis esek-esek di Pati diakui tidak lepas dari ketidaktegasan pemerintah. Bila pemerintah mau bekerja, kata Tyas, lokalisasi jalanan yang bercecer di perkampungan mestinya ditertibkan atau dilokalisasi dengan baik.

“Pemerintah tidak tegas. Kalau dibuat lokalisasi, sekalian dikelola dengan baik. Itu kalau pemerintah mau. Sebab, kalau dibiarkan berceceran di perkampungan, justru bermasalah,” ucap Tyas.

Menurutnya, bisnis esek-esek tidak akan parnah habis. Meski sudah dibubarkan, mereka biasanya akan membuat tempat lagi. Hal itu disebabkan bisnis kelamin itu sangat menggiurkan. “Tinggal bagaimana peran pemerintah dalam menangani masalah itu dengan baik,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

MUI Pati Haramkan Keberadaan Rumah Esek-esek

Ketua MUI Kabupaten Pati KH Abdul Mudjib Sholeh ketika ditemui MuriaNewsCom di Kantor MUI Pati, Sabtu (08/10/2016). MUI Pati menegaskan keberadaan rumah esek-esek adalah haram. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua MUI Kabupaten Pati KH Abdul Mudjib Sholeh ketika ditemui MuriaNewsCom di Kantor MUI Pati, Sabtu (08/10/2016). MUI Pati menegaskan keberadaan rumah esek-esek adalah haram. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Fenomena merebaknya rumah esek-esek di Pati dinilai sudah meresahkan masyarakat dan menjadi sorotan publik. Fenomena tersebut yang membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pati angkat bicara.

Ketua MUI Pati KH Abdul Mudjib Sholeh mengaku sangat khawatir dengan keberadaan rumah yang berada di tengah-tengah perkampungan, disewakan untuk kegiatan prostitusi. Hal itu dianggap mencederai etika moral dan agama masyarakat, sekaligus menjadi awal kerusakan bagi generasi emas bangsa.

“Itu sangat mengkhawatirkan, terutama anak-anak generasi emas bangsa yang hidup di sekitarnya. Mental dan moral anak-anak akan dipertaruhkan bila tidak segera ditindak dengan tegas,” ujar KH Mujib saat ditemui MuriaNewsCom di Kantor MUI Pati, Sabtu (08/10/2016).

Dilihat dari perspektif Islam, kata dia, prostitusi masuk dalam perbuatan zina yang menjadi bagian dari sederet dosa paling besar dalam ajaran Islam. Bahkan, hukum Islam memberikan ganjaran berat bagi pelaku zina dengan rajam bagi yang sudah punya pasangan dan cambuk seratus kali untuk pelaku yang masih lajang.

“Siapa yang membantu maksiat, sama dengan orang yang bermaksiat. Kalau ada orang yang menyediakan, memfasilitasi rumah untuk dijadikan tempat maksiat, sama halnya orang yang bermaksiat. Kalau zina haram, rumah yang memfasilitasi zina juga haram,” paparnya.

Editor : Kholistiono