Ini Lho Kisah di Balik Keberadaan Patung Kuda di Perbatasan Desa Soco Kudus

Patung kuda yang berada di gapura perbatasan Desa Soco (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Patung kuda yang berada di gapura perbatasan Desa Soco (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan gapura yang terdapat dua patung kuda di perbatasan Desa Soco dan Puyoh,Kecamatan Dawe, Kudus, memiliki kisah yang terkait dengan legenda tokoh di desa setempat.
Menurut Tamsil (42), Warga Dukuh Kuwang, Desa Soco mengatakan, sepengetahuan dirinya, patung kuda yang dibangun di atas gapura perbatasan desa tersebut, sebagai bentuk penghormatan untuk mengenang cikal bakal desa setempat.

“Ceritanya, dulu di desa ini ada sebuah sendang yang selalu dijadikan sebagai tempat pemandian kuda semberani. Sendang itu sendiri dijuluki sebagai Sendang Centang Buntung,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Katanya, sendang tersebut ditemukan oleh seorang pengembara bernama Sawunggaling. Pengembara inilah yang merupakan pemilik dari kuda semberani, dan Sawunggaling sering memandikan kuda tersebut di sendang tersebut.

Namun katanya, mitos yang hingga kini menjadi cerita di masyarakat, kuda milik Sawunggaling tersebut bukan kuda seperti pada umumnya, tapi makhluk gaib.

“Setahu saya, cerita itu juga turun temurun, dan hinga kini tidak ada yang tahu secara rinci dan pasti. Akan tetapi, patung kuda tersebut mempunyai sejarah dan arti tersendiri. Untuk mengenang hal itu, maka dibangun patung kuda itu,” ujarnya.

Dia menambahkan, Sendang Centang Buntung yang selalu dijadikan tempat pemandian kuda sembrani itu, katanya, muncul pada masa kerajaan. “Namun rata-rata orang disini juga tidak tahu pasti kerajaan apa,” katanya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Kisah Horor ‘Wanita Penunggu’ Patung Kuda di Batas Desa Soco Kudus

Tiap Tahun Warga Potong Kambing untuk Gapura Kuda di Desa Soco Dawe Kudus

Gapura Kuda Dukuh Kuwang, Desa Soco, Kecamatan Dawe yang tepat berada di tikungan tajam, membuat warga setempat melakukan selamatan dengan menyembelih kambing. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Gapura Kuda Dukuh Kuwang, Desa Soco, Kecamatan Dawe yang tepat berada di tikungan tajam, membuat warga setempat melakukan selamatan dengan menyembelih kambing. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Guna mencegah kecelakaan dan menciptakan keselamatan bagi warga, patung yang juga menjadi gapura di Dukuh Kuwang, Desa Soco, Kecamatan Dawe yang berada di tikungan dan turunan tajam tersebut selalu dikirimi doa setiap tahunnya. Pasalnya, patung kuda berada tepat di tikungan dan turunan tajam. Di mana kondisi geografis tersebut selalu membahayakan warga dan pengendara yang melintas.

Salah satu warga Dukuh Kuwang, Desa Soco, Kecamatan Dawe, Kuwat (62) mengatakan, memang setiap tahun pihak warga Dukuh Kuwang ini menyembelih kambing untuk selamatan. ”Yakni tepatnya di bulan Ruwah hari Jumat Wage atau sebelum ramadan,” paparnya.

Dia menilai, keselamatan itu juga diperuntukan untuk warga Desa Soco dan warga lain. Supaya selamatan itu bisa menolak musibah. Baik itu musibah, bencana alam atau kecelakaan yang ada di desa.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, selamatan yang dilaksanakan sebelum Ramadan tersebut dilakukan di sekitaran patung kuda. Patung tersebut juga sebagai batas Desa Soco dan Desa Puyoh, Kecamatan Dawe.

”Selamatan itu dilakukan di batas desa. Dengan harapan balak bisa kita tolak. Yakni kejadian yang negatif, atau perbuatan yang tidak dikehendaki warga Desa Soco bisa ditolak dengan menggelar selamatan,” ujarnya.
Kuwat melanjutkan, selamatan tersebut juga sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan jika warga yang belum terbiasa melewati jalan tersebut diharapkan mengurangi kecepatan kendaraannya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kisah Horor ‘Wanita Penunggu’ Patung Kuda di Batas Desa Soco Kudus

Gapura di perbatasan Desa Puyoh dan Soco yang terdapat patung kudanya (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Gapura di perbatasan Desa Puyoh dan Soco yang terdapat patung kudanya (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Batas wilayah Desa Soco, Kecamatan Dawe, terdapat sebuah gapura yang terdapat patung kuda di bagian atas kanan dan kiri.

Ternyata, gapura yang terdapat patung kudanya tersebut, menyimpan cerita horor. Dari penuturan warga sekitar, katanya, ketika melewati patung tersebut, tak jarang dikejutkan dengan suara tangisan seorang wanita dari tempat itu. Hal ini, membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengar suara misterius itu langsung berdiri.

Suharyono (52), salah satu warga Desa Puyoh, Kecamatan Dawe memaparkan, beberapa waktu lalu dirinya berkunjung ke rumah saudaranya yang berada di Desa Soco mengalami kejadian mistis ketika melewati tempat tersebut.

“Waktu itu malam Jumat, sekitar pukul 23.30 WIB. Saya ke rumah saudara yang berada di Soco yang sedang sakit. Pas lewat gapura itu, tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara wanita menangis. Merinding saya dibuatnya,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, ada semacam mitos, jika melewati tempat itu, pengendara harus membunyikan klakson. Hal ini, sebagai bentuk isyarat untuk permisi kepada penunggu atau makhluk astral yang ada di tempat itu.

Nur Hadi (37), warga Wonosoco mengatakan, jika melewati perbatasan desa atau jembatan, disarankan untuk membunyikan klakson. “Istilahnya itu “kulo nuwun”. Sehingga biar dianggap tidak lancang melewati tempat, yang dimungkinkan ada makhuk tak kasat mata,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dirinya juga tidak tahu persis mengapa perbatasan desa tersebut dibangun patung kuda. “Bila dibangun patung, pasti ada arti tersendiri. Namun hingga saat ini belum ada yang tahu persis arti simbol itu,” imbuhnya.

Gapura yang terdapat di perbatasan Desa Puyoh dan Soco tersebut, kondisi jalannya menikung dan juga penurunan tajam. Sehingga, pengendara yang lewat di tempat ditersebut disarankan untuk lebih berhati-hati.

Terlepas apakah ada mitos mistis atau tidak, katanya, dirinya menyerahkan kepada masing-masing individu untuk percaya atau tidak.

Editor : Kholistiono

Penampakan Anak Kecil di Terowongan Kaligelis Kudus

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Banyak lokasi di Kudus dan daerah sekitarnya yang meninggalkan jejak misteri. Seperti yang diceritakan salah seorang pembaca, Anida Miftachul Janah warga Demaan, Kudus, kepada MuriaNewsCom.

Kejadian ini terjadi beberapa bulan yang lalu di tahun 2015. Sekitar pukul 01.00 WIB dini hari Novi dan Febri mengunjungi kediaman pamannya. Kala itu, malam-malam menantu dari paman mereka menghubungi Febri lewat telepon seluler, memberitahukan jika pamannya muntah-muntah.

Febri yang lulus dari sekolah kesehatan, memang sering dipanggil paman untuk memeriksa kesehatannya. Namun, karena Novi pulang malam, Novi menemani Febri.

Kemudian kakak beradik itu berangkat ke rumah paman mereka. Ketika sampai di rumah pamannya, keadaan paman mereka sudah membaik, namun tensimeter milik menantu paman rusak.

Kebetulan saat itu Novi dan Febri tidak membawa tensimeter. Mereka berdua bergegas pulang dan kembali lagi. Jalanan kala itu nampak sangat sepi. Rumah paman yang berada di sekitar sungai Kaligelis juga nampak sangat sepi.

Saat itu, Novi enggan masuk karena sekadar memberikan tensimeter, sehingga Novi hanya menunggu di atas motor. Sedangkan Febri masih berusaha mengetuk pintu rumah pamannya. Tak lama, tiba-tiba terdengar suara langkah anak kecil berlari menuju terowongan Kaligelis.

Novi yang mendengar sangat penasaran. “Anak kecil mana jam segini masih melek dan berlari-lari di terowongan,” ujarnya dalam hati.

Ada keinginan dari Novi untuk melihat langsung, namun posisi Novi kala itu terhalang mobil, sehingga tidak melihat anak itu.

Sesampainya di rumah, Novi menceritakan hal itu dengan Febri, Febri pun bingung. Febri merasa tak mendengar suara apa-apa tadi, apalagi suara langkah anak berlari. Padahal jarak mereka hanya sekitar 2 meter kala itu.

Keesokkan harinya, di tempat kerja Novi menceritakan hal itu kepada rekannya. Rekannya memang pernah dengar bahwa salah satu terowongan ditutup karena ada hantu anak kecil. Waktu itu hantu anak kecil itu muncul pukul 03.00 WIB dini hari dan diketahui oleh warga sekitar. Warga tersebut menganggap bahwa anak kecil itu adalah anak warga desa tersebut, ternyata bukan. Anak yang masih melek di daerah itu hanya satu, usianya masih 1 tahun, mana mungkin bisa jalan kalau tidak dengan orang tuanya.

Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom. Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami akan menghubungimu. Kami tunggu ceritamu.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Hantu Ular Nyeberang di Jalan Besito Kudus 

Misteri Kuntilanak Bonceng Sepeda Motor 

Sosok Pocong Sering Muncul di Kampus Bekas Kuburan di Kudus

Mbak Hantu yang Tiba-tiba Hilang di Pertigaan 

Hantu Ular Nyeberang di Jalan Besito Kudus

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Hati-hatilah saat di jalan raya. Sebab banyak hal mistis yang tiba-tiba datang. Ini menakutkan, tapi tetaplah tenang.

Seperti yang diceritakan Fajar, salah satu warga Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Fajar menceritakan pengalamannya kepada MuriaNewsCom.

Saat itu, Fajar baru pulang dari acara Manakiban di rumah temannya di Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Dia pulang dengan temannya, Rendi. Keduanya pulang menggunakan sepeda motor sendiri-sendiri. Tepatnya sekitar pukul 22.00 WIB.

Malam yang belum begitu larut membuat suasana jalan raya masih tak terlalu sepi. Udara malam sudah terasa dingin. Keduanya menembus kegelapanan malam.

Saat keduanya melewati perempatan Panjang ke utara arah Perempatan Besito. Tepatnya sebelum kantor KUD di Kecamatan Gebog. Mereka mengalami hal yang tak biasa.

Di sekitar kanan dan kiri jalan tampak hamparan sawah. Tiba-tiba dari arah selatan ada ular berukuran kaki orang dewasa, menyeberang jalan. Ular hitam menyeberang hampir 5 menitan. Keduanya langsung berhenti dengan mengerem mendadak. “Kenapa berhenti?,” tanya Rendi.

Fajar hanya diam saja. Rendi heran dengan tingkah temannya. Sambil menunggu jawaban Fajar, Rendi berhenti di samping sepeda motor Fajar.

Setelah hampir 5 menit, ular pun selesai menyeberang. Fajar langsung tancap gas tanpa berkata apa-apa. Rendi semakin heran sambil melanjutkan perjalanan di belakang Fajar.

“Kamu tidak tahu kalau ada ular lewat? Makanya saya berhenti,” jawab Fajar saat motornya didekati motor Rendi.
Rendi benar tidak paham dengan apa yang terjadi. Rendi hanya geleng-geleng kepala. “Saya tidak tahu ada ular lewat tadi,” kata Rendi.

Keduanya pun berlalu sambil meninggalkan tanda tanya besar. Tanda tanya tentang ular misteri tersebut. Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom. Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami akan menghubungimu. Kami tunggu ceritamu.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Misteri Kuntilanak Bonceng Sepeda Motor 

Sosok Pocong Sering Muncul di Kampus Bekas Kuburan di Kudus

Mbak Hantu yang Tiba-tiba Hilang di Pertigaan 

Setan Jebak Sepeda Motor di Hutan Jati 

Sosok Pocong Sering Muncul di Kampus Bekas Kuburan di Kudus

ilustrasi

ilustrasi

MuriaNewsCom, Kudus – Pernahkah Anda mengalami pengalaman menakutkan ketemu hantu? Kalau iya, silakan berbagi ceritamu di MuriaNewsCom. Seperti yang dilakukan oleh salah satu warga di Kudus yang ketemu pocongan, beberapa kali.

Berikut ceritanya. Kisahnya terjadi pada 1998. Dialami Rudi saat bekerja di sebuah PTS di Kota Kudus. Ketika itu, Rudi bekerja sebagai staf kantor kampus itu. Karena Rudi belum dapat kamar kos, maka disarankan untuk tinggal di kantor.

Diketahui, di kantor itu ada dua ruangan kamar yang dipakai untuk tinggal. Rudi menempati kamar bersama Kasno, rekannya. Satu ruang kamar lain dipakai petuhas kebersihan kantor, Bu Isa.
Pengalaman hari pertama tinggal di kamar kantor, tak pernah dilupakan Rudi. Waktu tengah malam, Rudi mendengar langkah kaki berat berjalan dan seperti berdiri di depan kamar. Disusul suara seperti orang berdehem. Suasana malam itu terasa menakutkan.

Pagi harinya, Rudi menceritakan pengalaman malam pertama tinggal ke Bu Isa dan Kasno. Dengan enteng, mereka memberi jawaban ke Rudi. “Pakdenya datang,” jawab Kasno.

Rudi bertanya-tanya, apa maksud pakde itu. Dengan sangat berat, Kasno menambahkan lebih lanjut maksudnya. “Pakde itu ya genderuwo,” tambahnya.

Malam berikutnya, sekitar pukul 02.00 WIB, Rudi tidur di luar karena di dalam kamar terasa panas. Waktu tidur dia diganggu suara besi dipukul-pukul. Dia terbangun mencari asal suara tersebut. Sepertinya suara di lantai 2, sehingga dia menuju arah suara tersebut.

Tepat di pojok ruang di bawah remang-remang lampu, dilihatnya sebentuk warna putih tegak sedang berdiri. Penasaran dengan apa yang dilihatnya, sosok itu didekati, setelah jelas Rudi langsung berjingkat. Sosok yang ada dihadapannya itu ternyata pocongan! Terlihat jelas sosok itu menatap ke arahnya.

Spontan Rudi lari terbirit-birit masuk kamar. “Aku melihat pocongan anak-anak tapi lama kelamaan menjadi besar. Benar-benar gila,” ceritanya pada Kasno.

Jawaban tentang hantu-hantu yang tiap malam berkelana dalam kantor, baru dapat ditemukan pada esok harinya. Saat jalan di belakang gedung kampus, Rudi melihat di tengah lapangan yang dipaving ada cekungan yang berderet-deret sejajar.

Rudi lalu bertanya pada Bu Isa, barulah ditemukan jawaban jelas, jika gedung sekolah yang dihuni sebelumnya bekas tanah pemakaman. Bu Isa dan Kasno sendiri sudah terbiasa tinggal di tempat itu, sehingga tidak begitu mengubris kalaupun ada kejadian aneh.

Setelah mendengar penuturan itu, sekujur tubuh Rudi langsung lemas. Dia tidak mampu berbuat apa-apa karena kenyatannya lahan kuburan telah berganti dengan gedung kampus. Sampai kini, hantu-hantu itu kadang masih menampakkan diri.

Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom. Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami akan menghubungimu. Kami tunggu ceritamu.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Misteri Kuntilanak Bonceng Sepeda Motor

Mbak Hantu yang Tiba-tiba Hilang di Pertigaan

Setan Jebak Sepeda Motor di Hutan Jati

Mbak Hantu yang Tiba-tiba Hilang di Pertigaan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Banyak hal mistis yang kadang kita temui. Bahkan, mungkin hanya kita sendiri yang mengalami meski itu di keramaian. Pengalaman itulah yang diceritakan oleh salah satu warga yang mengirimkan pengalaman misterinya ke MuriaNewsCom.

Nama saya Rois, warga Kecamatan Dawe, Kudus. Saya mencoba menceritakan pengalaman mistis yang saya alami, beberapa waktu lalu.

Tepatnya, saat saya dari Besito hendak pulang. Ketika itu jam tangan saya menunjukkan pukul 23.30 WIB. Jalan raya telah lengang. Hanya satu, dua pengendara sepeda motor, atau mobil yang melintas. Hanya beberapa sudut di pinggir jalan yang masih menunjukkan aktivitasnya.

Saya memacu gas kendaraan sepeda motor dengan kecepatan sedang. Angin malam, benar-benar membuat saya agak menggigil. Jaket kesayangan ternyata belum mampu melindungi desiran angin malam.

Begitu saya tiba di pertigaan kantor Koramil Dawe. Mata saya tertuju pada seorang perempuan yang berdiri di pertigaan. Tepatnya di arah menuju Desa Puyoh. Seingat saya, perempuan itu mengenakan pakaian kaus biru, serta dibalut dengan celana hitam. Perempuan itu berambut panjang hampir sebahu.

Saya mendekatinya. Lantas menyapanya usai mesin sepeda motor saya matikan. “Mba, kok neng kene dewean bengi-bengi (Mba, kok di sini sendirian malam-malam),” tanyaku sambil memandanginya.

Perempuan itu menjawab dengan wajah menunduk. “Iya mas. Saya nunggu mobil angkutan umum ke Colo,” jawabnya singkat. Mendengar jawabannya, saya heran. Sebab, jika yang dituju arah tersebut, seharusnya tidak menunggu mobil angkutan umum di lokasi dia berdiri.

“Lho kok ngenteni nek kene. Bukane nek pertigaan Pasar Piji? (Lho kok menunggunya di sini. Bukannya di pertigaan Pasar Piji? Mba, jenengan orang mana?” aku mencoba memberi tahu info arah yang benar untuk menuggu angkutan umum sesuai tujuannya.

Ditanya seperti itu, perempuan itu hanya diam. Saya masih menunggu jawabannya sambil membuang pandangan ke tempat lain. Malam ini benar-benar sepi dan gelap, kataku membatin.

Percakapan itu berakhir dengan singkat. Begitu pandangan saya kembalikan ke arah perempuan. Ternyata sosoknya sudah hilang. Saya pandangi lokasi sekitar dan tak menemui apa-apa. Saya masih terus bertanya-tanya sendiri. “Kemana perempuan yang baru saja aku sapa.”

Di tengah suasana yang penuh teka-teki itu, saya hanya diam. Saat itu, saya segera meninggalkan lokasi untuk melanjutkan perjalanan pulang. Namun setibanya di rumah, saya masih penasaran dengan perempuan yang tiba-tiba menghilang tersebut.

Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom. Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami akan menghubungimu. Kami tunggu ceritamu.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Ketemu Hantu Terbang Sedang Nyeberang Jalan 

Misteri Kuntilanak Bonceng Sepeda Motor 

3 Hantu Ini Sering Muncul Tiba-tiba di Jalur Pantura di Rembang

Kecelakaan maut di Jalur Pantura Purworejo Kaliori Rembang, Jumat (27/11/2015) lalu. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Kecelakaan maut di Jalur Pantura Purworejo Kaliori Rembang, Jumat (27/11/2015) lalu. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tempat terjadinya kecelakaan yang menewaskan pengendara sering kali dianggap sebagai tempat angker. Salah satu tempat yang dianggap angker di Rembang adalah ruas jalan yang terletak di sebalah barat Musala Babussalam Al Yasmani Purworejo, Rembang.

Bahkan, di tempat ini bukan hanya sekali atau dua kali saja terjadi kecelakaan lalu lintas yang menewaskan para pengguna jalan. Sebut saja, kecelakaan yang menewaskan tiga orang sekaligus, Jumat (27/11/2015) lalu. Kemudian disusul dengan tewasnya seorang polisi di lokasi yang sama pada Sabtu (28/11/2015) tahun kemarin.

Belum lagi, tentang mobil polisi yang berjalan sendiri sehingga menabrak sepeda motor ketika olah tempat kejadian perkara, dua jam setelah kecelakaan yang menewaskan seorang polisi yang terlindas trailer. Sontak saja, keangkeran lokasi itu menjadi buah bibir bagi warga sekitar.

Salah satu warga yang mengakui keangkeran lokasi itu adalah Endang Kismiati. Perempuan yang juga pemilik warung yang terletak tepat di tepi lokasi beberapa kecelakaan maut itu menuturkan, selama 40 hari setelah kecelakaan hampir setiap malam, ia mendengar ada suara minta tolong dari rongsokan trailer yang berada di lahan milik mertuanya.

“Sebelum 40 hari, saya hampir setiap malam mendengar teriakan tolong… tolong…!! dari rongsokan trailer yang sopirnya meninggal karena terjepit saat kejadian. Sebelum kecelakaan itu, biasanya jam tiga dini hari, saya sudah bangun dan ke warung ini. Tapi setelah kejadian, saya tidak berani karena sering mendengar suara itu. Namun setelah 40 hari, sudah tidak mendengar lagi,” ungkapnya ketika berbincang dengan MuriaNewsCom, Rabu (17/2/2016).

Selain itu, pernah juga ada seorang pelanggannya mengatakan bahwa ada tiga sosok asing yang berdiam diri di depan warungnya, namun sejurus kemudian ketika pelanggannya itu menoleh ketiganya sudah tidak ada. Pengakuan tersebut, ternyata menurut Endang tidak hanya disampaikan oleh seorang pelanggan saja.

“Pernah juga ada pelanggan yang cerita melihat tiga orang duduk di depan warung ketika sudah tutup. Terus saya bilangin, ‘itu mungkin sopir atau pengendara yang istirahat’. Namun, orangnya malah ngotot, ‘nggak ya bu, lha wong tidak ada truk atau sepeda motornya kok’. Meski saya takut, saya tetap membantah, ‘mungkin pejalan kaki yang istirahat’. Malah orang itu bilang, ‘setelah saya menengok sebentar saja, ketiganya sudah hilang’. Itu yang bilang bukan hanya satu orang saja,” kenang Endang.

Ia mengaku bersyukur, karena sejak kemarin hingga hari ini rongsokan trailer dan truk maut yang berada tepat di samping barat warungnya mulai diangkuti oleh pemilik masing-masing. Padahal sudah dua bulan lebih rongsokan bangkai kendaraan itu di lahan milik keluarga Endang. Bahkan, hingga ada yang mencuri ban trailer dan truk maut itu.

“Alhamdulillah sudah diambil pemiliknya. Semoga nantinya, cerita-cerita seram itu tidak ada lagi. Lahan akan ditanami Jagung,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
4 Tempat Angker Rembang Ini Amat Menakutkan Warga

Hantu Cantik di Tikungan di Rembang Siap Menakutimu

 

Setan Jebak Sepeda Motor di Hutan Jati

Misteri Kuntilanak Bonceng Sepeda Motor http://www.murianews.com/2016/01/19/68559/misteri-kuntilanak-bonceng-sepeda-motor.html

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pengalaman mistis hampir dialami oleh sebagian besar orang. Seperti yang dialami oleh salah satu warga berikut ini.

Perkenalkan saya Herman, warga Padurenan, Kecataman Gebog, Kudus. Saya ingin menceritakan kisah mistis yang saya alami bersama istriku di sekitar hutan jati. Tepatnya dari arah Purwodadi ke Blora.

Ketika itu, saya dan istri lagi merantau ke Karawang, Jawa Barat. Waktu itu sekitar habis maghrib, tepatnya sehabis buka puasa Bulan Ramadan. Istriku dapat kabar duka dari Kudus, bahwa neneknya yang berada di Blora, meninggal dunia.

Sempat kaget dan sedih karena di tempat kerja kami sedang tidak ada orang. Pasti akan susah untuk minta izin pulang ke Blora. Tapi saya beranikan diri untuk mengajukan izin ke atasan agar bisa dapat libur. Atasan mengizinkan, dengan catatan hanya salah satu dari kami yang boleh pulang ke Blora. Dengan berbagai alasan, akhirnya kami berdua bisa izin pulang ke kampung halaman istriku, Blora.

Habis sahur sekitar pukul 03.00 WIB, kami bertolak dari Karawang ke Blora dengan kendaraan sepeda motor. Kota demi kota, telah kami lalui. Baru sekitar pukul 16.00 WIB, kami tiba di Semarang. Kami istirahat sebentar sambil tanya-tanya jalur tembusan dari Semarang ke Purwodadi, tanpa harus melewati Kudus.

Begitu magrib, kami telah sampai di Purwodadi. Kami berdua mencari warung untuk berbuka puasa. Singkat cerita, perjalanan pun dilanjutkan. Semuanya terasa normal. Kendaraan kami melintasi hutan jati. Termasuk melewati permukiman warga.

Kendaraan kami berkecepatan 80-90 km per jam. Lama-lama, ada yang aneh dengan kendaraan saya. Karena dari pukul 18.00 WIB sampai pukul 20.30 WIB, perjalanan tak juga sampai. “Ibu merasakan aneh enggak? “ tanyaku kepada istri.

Namun istriku hanya diam. Dia merasa sudah merasakan itu sedari tadi. Dia hanya berpesan kepada saya untuk membaca salawat. Saya mencoba memperhatikan jalannya dengan seksama. “Lho kok lewat pom bensin ini trus. Trasa 3x lwat jln tu,” kataku dalam hati.

Tiba-tiba, badan semua jadi merinding. Langsung, saya dan istriku kembali baca salawat akhirnya keluar dari jalan yang muter-muter sampe tiga kali. Baru pukul 22.00, kami sampai di Blora. Dan keesokan harinya, saat kami kembali, hal itu tidak lagi terjadi.

Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom. Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami tunggu ceritamu.

Editor : Akrom Hazami

Baca Juga

Misteri Kuntilanak Bonceng Sepeda Motor 

Penemuan Makam Ukuran 3 Meter, Kades Dersalam Minta Warga Jangan Berlebihan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Makam mbah Jiwo atau Habib Ahmad Bin Abdullah Abu Bakar Arrumi, bukanlah makam yang biasa. Sebab jika dilihat dari ukurannya saja, makam tersebut memiliki ukuran yang tidak normal dari biasanya yakni sepanjang tiga meter.

Ukuran tersebut, sangat tidak wajar jika melihat postur orang sekarang. Apalagi warga sekitar khususnya yang merupakan orang yang berukuran sedang.

Kades Dersalam Kecamatan Bae Setya Gunawan Wahib Wahab menuturkan, warga tidak perlu berlebihan dengan makam yang baru ditemukan beberapa hari yang lalu itu. Melainkan, dia berharap warga tetap bersikap sewajarnya dengan adanya makam tersebut.

”Kita hormati para ulama yang sudah meninggal. Sebab dengan menuliskan ulama maka dapat meningkatkan rezeki masyarakat setempat juga,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia menjelaskan, warga harus menanggapi hal tersebut sesuai dengan batasannya atau dalam tatap wajar. Sehingga tidak menjadikan salah kaprah atau masuk ke jalur yang salah.

”Kita menghormati saja secukupnya. Dengan tahlilan, menjaga komplek makam, membersihkan serta membangunkan makam dengan lebih layak lagi,” ujarnya.

Dia mengutarakan, pihak desa akan menjembatani pembangunan makam tersebut. Pihaknya secara langsung juga sudah mengkomunikasikan dengan beberapa pengusaha di desanya untuk membantu pembangunan makam.

”Mudah-mudahan dalam waktu dekat dapat dibangun, supaya masyarakat juga bisa berziarah ke makam dengan lebih nyaman,” harapnya.

Baca juga: Lupa Permisi, Para Pemancing di Bantaran Sungai SWD 2 Kudus Dijumpai Hal Mistis

Ini Cerita Mistis Piring RA Kartini yang Bisa Buat Orang Kesurupan

Editor : Titis Ayu Winarni

Warga Dersalam Dikejutkan Keberadaan Ular Hitam Raksasa yang Sering Muncul di Kompleks Makam Mbah Jiwo

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Makam yang diyakini sebagai makam mbah Jiwo, atau Habib Ahmad bin Abdullah Abu Bakar Arrumi, tidak hanya muncul beberapa keanehan saja. Melainkan juga terdapat seekor ular raksasa yang kerap kali menampakkan diri di hadapan masyarakat.

Hal itu diungkapkan Bambang Hermanto (47) seorang warga setempat sekaligus ketua RT 3 RW 2 Desa Dersalam, Kecamatan Bae. Menurutnya, di sekitar makam sering muncul seekor ular dengan ukuran besar. Tidak tanggung-tanggung, ular tersebut memiliki besar hingga seukuran tiang listrik.

”Ular itu kerap kali muncul di sekitar lokasi. Tidak hanya pada malam hari saja, melainkan juga pada siang hari juga kerap menampakkan diri,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, ular tersebut berwarna hitam pekat. Meski ukurannya sangat besar, namun panjang ular tersebut tidak sampai lima meter. Sehingga dianggap terlalu pendek untuk ukuran ular yang besar.

Oleh warga, ular tersebut tidak dianggap berbahaya. Malahan sebaliknya, ular itu dianggap sebagai penunggu makam mbah Jiwo. Yang juga tugasnya menjaga lingkungan sekitar makam. ”Ular itu dinamai Ulo, atau nama panjangnya adalah Ulama. Jadi tidak berbahaya meski berbentuk ular,” ujarnya.

Dia menambahkan, beberapa orang kerap melihat ular tersebut, namun warga tidak akan membunuhnya lantaran percaya kalau ular tersebut merupakan ular yang baik.

Beberapa warga kerap dijumpai ular tersebut, misalnya saja Anam, warga setempat yang juga pernah dijumpai. Saat itu dia sedang berkendara di jalan perkampungan di sekitar desa tersebut. Namun tiba-tiba dia dikejutkan dengan munculnya ular di tengah jalan.

Melihat hal itu, dia langsung putar balik lantaran takut kalau ada apa-apa jika perjalan tetap dilaksanakan. Sebab ular yang muncul itu, cukup menutupi semua ruas jalan perkampungan di sana.

Baca juga : Lupa Permisi, Para Pemancing di Bantaran Sungai SWD 2 Kudus Dijumpai Hal Mistis

Ini Cerita Mistis Piring RA Kartini yang Bisa Buat Orang Kesurupan

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Misteri yang Sering Terjadi di Embung Ngemplak Undaan yang Buat Bulu Kuduk Berdiri

Warga sedang memancing di embung di RT 3 RW 2 Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan yang banyak kejadian misteri ketika memancing seorang diri. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga sedang memancing di embung di RT 3 RW 2 Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan yang banyak kejadian misteri ketika memancing seorang diri. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Siapa sangka embung atau penampungan air di RT 3 RW 2 Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan sebagai tempat memancing serta pengairan sawah warga ini, terdapat keanehan yang kerap membuat bulu kuduk berdiri.

Keanehan tersebut tidak banyak orang yang mengetahuinya. Karena kejadiannya di saat-saat tertentu. Seperti yang dialami Suarahmad warga Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan. Seusai ia pulang dari sawah menjumpai beberapa anak berambut panjang merah sedang mandi di embung tersebut.

”Saat pulang dari sawah, saya cek air dan tiba-tiba melihat ada lima anak kecil berambut panjang merah sedang mandi di embung ini. Kejadiannya dua pekan lalu, yakni pada Kamis Pon sore sebelum magrib,” kata Suarahmad.

Dia menilai, Kamis Wage malam Jumat Kliwon dan Kamis Pon malam Jumat Wage menurut orang Jawa merupakan hari angker. Sebab hari itu diyakini orang Jawa sebagai weton atau hari lahirnya mahluk halus.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, embung yang berada di sebelah timur Desa Ngemplak tersebut juga terdapat ikan yang melimpah. Menurut warga sekitar, kemungkin memang karena ada yang menjaganya yaitu mahluk gaib. ”Embung yang dinilai angker, biasanya banyak ikannya,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Rahmad, kemungkinan ke lima anak kecil yang berambut panjang merah tersebut adalah banas pati sejenis grandong. Mereka kerap ditemui mandi di sungai di saat sepi. Baik itu siang hari, sebelum magrib bahkan saat tengah malam.

Hal senada diiyakan warga Wates, Kecamatan Undaan, Ahmad Hartono. Dia mengutarakan, embung ini memang ikannya banyak. Tetapi biasanya para pemancing, memancing beramai-ramai. Sebab jika memancing sendirian, mereka akan dijumpai hal-hal yang tidak diinginkan.

”Sekitar satu bulan yang lalu ada orang Kaliyoso, Desa Karangrowo mancing di sini. Namun mereka berpencar dengan temannya. Tiba-tiba di sampingnya ada suara byur, seperti orang berenang. Setelah ditoleh tidak ada wujudnya. Tetapi ombak dan gemuruh air itu kelihatan. Setelah itu, orang tersebut beranjak dari bibir embung dan nampak pucat, mungkin ketakutan. Itu terjadi sebelum waktu zuhur,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Disantet, Bambu Kuning dan Doa Dipercaya Bisa Mengatasinya

Tanaman bambu kuning di salah satu rumah warga di Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tanaman bambu kuning di salah satu rumah warga di Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Siapa sangka, bambu kuning yang sering ditanam oleh seseorang di depan rumahnya, ternyata bukan tanpa alasan, lho.

Sebab pohon yag tidak mempunyai cabang dan berwarna kuning tersebut diyakini sejumlah kalangan, sebagai alat ampuh untuk menangkal guna guna dari orang jahat.

Salah satu warga Desa Jepang RT 1 RW 6, Dwi Achmad Rifai yang banyak menanam bambu kuning mengatakan, tanaman ini memang banyak digunakan seseorang yang percaya, jika bambu kuning mampu menangkal ilmu jahat. Baik itu guna guna (pelet), santet atau bakan yang lain.

“Sekitar 1990, bambu ini sangat moncer (terkenal,red). Sebab di tahun itu mitosnya ada serangan ninja. Sehinga secara otomatis warga menyerbu untuk memiliki tananan ini dan ditanam di halaman rumah,” kata Rifai.

Dia sendiri tidak tahu kenapa warga mempercayai hal itu. “Saya juga tidak begitu tahu persis, warga kok beranggapan bambu kuning ini bisa menangkal ilmu hitam. Apakah warga itu diberitahu oleh keluarganya terdahulu atau juga guru spiritualnya, saya tidak jelas, “ ungkapnya.

Meski demikian, dia tetap meyakini, segala hal bisa diselesaikan dengan doa dan ikhtiar. “Jangan hanya mengandalkan alat tertentu saja,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ketemu Hantu Terbang Sedang Nyeberang Jalan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ini peringatan untuk pengendara sepeda motor agar lebih hati-hati, dan waspada. Termasuk lebih menghargai akan keberadaan mahluk halus.

Seperti cerita misteri yang saya alami. Ini nyata dan terjadi di Kabupaten Kudus. Begini ceritanya. Saya mempunyai teman asal Puyoh, Dawe, Kudus. Malam itu, dia dan seorang temannya pulang dari Alun-alun Kudus. Keduanya pulang sekitar pukul 23.00 WIB.

Sepeda motor mulanya berjalan normal menembus kepekatan malam. Sesekali angin berhembus menyentuh lembut jaket yang mereka pakai. Udara malam terasa segar. Tibalah saat mereka melintasi perempatan Sucen ke utara. Mereka melewati jalan dengan permukaan paving. Tepatnnya di belakang wilayah Gereja Kopen.

Tiba-tiba, dengan mata telanjang, keduanya melihat perempuan berpakaian putih terbang menyeberang jalan. Seakan tak percaya, mereka mengucek matanya. “Apakah ini benar?”. Mereka lantas saling berpandangan.

Angin malam berdesir seketika, menambah rasa takutnya. Belum selesai menyeberang, perempuan itu langsung hilang. “Lho kok hilang?,” sekali lagi mereka dibuat tak percaya dengan apa yang dilihat. Mereka didera ketakutan yang luar biasa.

Suasana jalan itu juga sepi. Tak tampak aktivitas warga satu pun. Selain hanya mereka berdua. Masih belum hilang rasa takut itu, tiba-tiba keanehan kembali terjadi.

Mesin sepeda motor yang mereka naiki mendadak mati. Bahkan itu hampir 20 menitan. Mereka bergantian saling berusaha menyalakan mesin. Tapi tak juga berhasil.

Mereka sepakat untuk mendorong sepeda motor. Dengan harap, akan ketemu bengkel atau warga yang bisa menolong. Tapi sepeda motor saat itu terasa berat. Kedua ban sulit berputar. Mereka ngotot mendorong lebih keras, namun motor masih berat.

Mereka putus asa. Keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh masing-masing. Salah satu dari mereka spontan bergumam. “Amit mbah, kulo ora niat ganggu (Permisi mbah, saya tidak berniat mengganggu).”

Kemudian, salah satu dari mereka mencoba menyalakan mesin sepeda motor. Dan, mesin menyala dengan cepat. Keduanya pun berlalu heran.

Cerita ini dikisahkan oleh Pramono, salah satu warga Kecamatan Dawe. Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom. Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami akan menghubungimu. Kami tunggu ceritamu.

Editor : Akrom Hazami

Dikira Tidur di Rumah, Ternyata di Kuburan Manisan

Jalan jelang Kuburan Manisan, Kudus. (MuriaNewsCom)

Jalan jelang Kuburan Manisan, Kudus. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Siapa yang tidak takut kalau tidur di tengah kuburan di malam hari? Ini benar terjadi di Kudus. Tepatnya di Kuburan Manisan, Kecamatan Gebog, Kudus. Saat itu saya dan seorang teman naik sepeda motor. Kami berdua hendak pulang setelah pergi dari rumah teman di Desa Menawan.

Seingat saya, jam tangan menunjukkan pukul 00.30 WIB. Kami berdua harus pulang mengingat keesokan harinya harus berangkat kerja. Mulanya perjalanan normal-normal saja. Termasuk saat kami melintas di Jalan Gebog ke selatan arah kantor Polsek Gebog

Tak berapa lama, kami merasa sudah tiba di rumah. Teman saya malam itu ingin menginap di rumahku. Semua berlangsung normal. Saya membuka pintu rumah dan memasukkan sepeda motor ke ruang depan.

Karena kantuk yang terlalu menyerang, temanku langsung masuk dan tidur di ruang tamu. Saya menyusul masuk ke kamar untuk istirahat.

Tapi keanehan terjadi. Saya merasa benar-benar aneh. Sebab bantalnya keras. Padahal seingatku, bantal di kamarku empuk. “Bantal apa ini. Keras sekali,” saya membatin.

Saya tiba-tiba tersadar. Ternyata yang semula saya kira bantal, itu adalah patok kuburan. “Ternyata kami belum sampai rumah. Ini di kuburan Manisan,” ungkapku setengah tak percaya.

Karena kaget, bercampur takut, saya bergegas membangunkan teman yang masih tidur. Tak ingin temanku merasakan takut atau terkejut, maka saya berbohong. “Ayo kita cari makan. Perutku lapar,” kataku berulang-ulang saat membangunkannya.

Teman saya benar-benar tak sadar kalau kami berada di kuburan. Saya melihat dengan nyata bahwa tempat ini benar-benar kuburan. Bukan rumahku. Keringatku tambah mengalir deras. Saya kuasai diri supaya tak panik. Saya ambil sepeda motorku yang terparkir di atas kuburan dengan rasa takut.

Untungnya sepeda motor langsung menyala begitu mesin saya starter. Temanku dengan sedikit mengantuk pun membonceng. Kami akhirnya keluar dari Kuburan Manisan. Bulu kuduk masih merinding hingga beberapa saat.

Setelah kami melalui hampir 100 meter dari kuburan, saya baru ceritakan kepada temanku yang sebenarnya. Bahwa kami belum sampai di rumah. Tapi di kuburan.

Kami tak percaya tapi itulah yang benar terjadi. Berhati-hatilah saat melintasi jalan depan Kuburan Manisan.

Cerita ini dikisahkan oleh Hasan, salah satu warga Kecamatan Gebog. Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom. Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami akan menghubungimu. Kami tunggu ceritamu.
Editor : Akrom Hazami

Mistis, Kalinanas Blora Dulunya jadi Tempat Pertapaan

Warga menikmati lokasi Dinding Kalinanas, Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Warga menikmati lokasi Dinding Kalinanas, Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Dinding Kalinanas Blora menyimpan keindahan yang mempesona. Tapi tahukah Anda jika ternyata, lokasi itu dulunya adalah tempat pertapaan yang sampai saat ini dikeramatkan warga sekitar.

Jani, (50) Kepala Desa Kalinanas mengakui hal tersebut. Ia mengungkapkan, sampai saat ini masyarakat Kalinanas mempercayai bahwa tempat itu memang tempat pertapaan yang keramat. “Itu keramat,” kata Jani.

Ia menceritakan bahwa dulu ada dua orang kakak beradik yang diutus oleh gurunya untuk bertapa di aliran sungai Kalinanas. Menurut masyarakat, kakak beradik tersebut bernama Citro dan Kusumo. Citro adalah kakak dari Kusumo. Keduanya merupakan pasangan yang memiliki karakter berbeda. Citro akhirnya tak kuat menjalankan tirakat saat bertapa. Diceritakan ia membawa bekal makanan saat bertapa. Namun, setiap kali ia mau makan, ia selalu mencampurnya dengan pasir atau debu. “Jadi, kalau mau makan harus berhati-hati dan harus memilah satu persatu. Kesabaran yang diutamakan,” tutur Jani.

Sementara, Kusumo adalah sosok yang kuat dalam tirakat saat bertapa. Namun, dalam legenda masyarakat setempat Kusumo merupakan sosok yang sangat malas. Dalam pertapaannya ia selalu tidur.

Dalam keterangannya, Sukamto (38) warga sekitar mengatakan, bahwa dalam legenda tersebut diajarkan untuk selalu bersabar dan tidak bermalas-malasan. “Uwong urip kudu iso sabar lan ojo males,” jelasnya.

Saat dikonfirmasi oleh MuriaNewsCom, kedua sosok kakak beradik tersebut sampai saat ini tidak ada yang tahu keberadaannya. Selain itu, dipercaya tempat tersebut menyimpan unsur mistis yang sangat kental.

Purnomo (70) pemilik ladang di sekitar lokasi mengaku bahwa dirinya sering melihat sesosok pria dengan mengenakan baju putih panjang. Sesosok pria tersebut sering menjumpainya. Mungkin unsur mistis tersebut dipengaruhi oleh legenda warga yang mempercayai bahwa tempat itu merupakan pertapaan masa lampau yang dikeramatkan.

Selain itu, jembatan merah yang identik dengan penjajahan kolonial Belanda. “sering lihat namun tak pernah mengganggu,” kata purnomo.

Editor : Akrom Hazami

Misteri Kuntilanak Bonceng Sepeda Motor

Suasana di jalan Gondangmanis, Bae, yang berada di kompleks Makam Tionghoa. (MURIANEWSCOM)

Suasana di jalan Gondangmanis, Bae, yang berada di kompleks Makam Tionghoa. (MURIANEWSCOM)

 

KUDUS – Cerita ini terjadi di Kudus, tepatnya di jalan Gondangmanis, Bae, yang berada di kompleks Makam Tionghoa.
Karena ingin menyelesaikan tugas dengan fasilitas internet gratis, mas Bagong sekitar pukul 23.45 WIB mengendarai sepeda motor menuju kampusnya.

Jalan yang dilewati hampir setiap hari dilalui. Jadi dia tidak berpikir jika itu jalan angker. Gelap, dan tak ada satu pun kendaraan sepeda motor selain dirinya.

Ada aroma bau bunga melati yang sangat menyengat saat melintas jalan sepanjang pemakaman. Bau ini mengingatkannya pada situasi seram di film hantu Indonesia.

Tetapi bayangan bisa berselancar di dunia maya untuk menyelesaikan tugas, membuat nyalinya tetap terang.
Bulu kuduknya mulai merinding, tapi mas Bagong coba tak peduli. Tak sengaja, matanya berhenti di kaca spion sepeda motor. Seolah tak percaya.

Di boncengan motornya telah duduk seorang perempuan muda berwajah pucat, berbaju putih dan berambut panjang. “Apa benar ini kuntilanak?,” tanyanya dengan rasa takut.

Mas Bagong berpikir, kalau itu hanya bayangan saja. Sambil tangan kanannya merinding membetot gas sepeda motor supaya melaju lebih kencang.

Matanya melirik ke kaca spion, dan berharap pembonceng misteriusnya tadi tak ada. Ternyata, masih ada. Mata perempuan itu memandanginya saat matanya juga melihat spion.

Mas Bagong ingin berteriak tapi lidahnya kelu. Sepeda motor terus digasnya semakin kencang. Begitu sampai di depan kampus, mas Bagong diam. Merinding dan tak percaya kalau pengalaman misterius baru saja dialaminya.

Cerita ini diceritakan oleh salah satu mahasiswa di perguruan tinggi di wilayah Gondangmanis, Bae, Kudus.

Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom. Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami tunggu ceritamu. (AKROM HAZAMI)

7 Alasan Kenapa Warga Kudus Harus Bangga dengan Kotanya

KUDUS – Ada beragam fakta unik dan menarik yang hanya bisa ditemui di Kabupaten Kudus. Dan itu, menjadi ciri khas kota tersebut. MuriaNewsCom mengumpulkan beberapa hal tentang fakta tersebut.

Harapannya, Anda bisa lebih memahami Kudus, terutama bagi warga yang asli Kota Kretek. Sayang kalau mengaku warga Kudus, tapi tidak tahu fakta-fakta unik daerahnya. Berikut fakta uniknya :

1. Kudus punya Gerbang Senilai Rp 16 Miliar

Gerbang Kudus Kota Kretek .(MuriaNewsCom)

Gerbang Kudus Kota Kretek .(MuriaNewsCom)

 

Namanya Gerbang Kudus Kota Kretek. Diklaim dari berbagai sumber menyatakan, jika gerbang kota itu paling megah se-Indonesia. Bentuk bangunan gerbang didesain menyerupai daun tembakau. Serta memayungi sisi kiri dan kanan ruas jalan. Dengan total anggaran yang dihabiskan untuk membangun gerbany senilai Rp 16 miliar.

2. Ternyata Kudus adalah Kabupaten Terkecil di Jateng

Peta Provinsi Jateng

Peta Provinsi Jateng

Kudus adalah kota dengan segala keindahannya. Dari 35 kota dan kabupaten di Jawa Tengah, Kudus memiliki luas 425,5 km persegi.
Bahkan kalau kamu ingin tahu, luas wilayah Kudus bahkan tidak mencapai seperempat dari luas kabupaten Cilacap yang mencapai 2.142km persegi.
3. Warga Kudus Dilarang Menyembelih Sapi

Warga Kudus lebih memilih kerbau sebagai hewan kurban. (MuriaNewsCom)

Warga Kudus lebih memilih kerbau sebagai hewan kurban. (MuriaNewsCom)

Tahukah Anda, bahwa Kudus sebelum Islam masuk, mayoritas warganya menganut agama Hindu. Baru ketika Sunan Kudus mulai berdakwah,dengan berusaha mengakrabi warga yang masih beragama Hindu dan Budha. Cara dakwahnya pun berhasil.
Ini contohnya, sapi, Sunan Kudus memberikan toleransi. Ia melarang santrinya menyembelih sapi karena dalam agama Hindu hewan itu dianggap suci. Sebagian besar warga Kudus masih mempercayai dan melestarikan untuk menyembelih sapi. Karenanya, saat perayaan Hari Raya Kurban, warga lebih memilih kerbau, dan kambing. Kudus juga punya kuliner Sate Kebo (Kerbau).
4. Makanan Enak berupa Jenang

Jenang menjadi salah satu makanan khas Kudus. (MuriaNewsCom)

Jenang menjadi salah satu makanan khas Kudus. (MuriaNewsCom)

 

Jenang dibuat secara tradisional oleh sekitar 10 sampai 15 orang secara bersama-sama. Ada bagian yang mengupas dan memarut kelapa serta membuatnya santan, ada yang bertugas mengaduk adonan selama 4 jam berturut-turut di atas tungku api kayu dengan menggunakan wajan besar atau yang biasa disebut dengan kawah. Ada beberapa merek terkenan jenang di Kudus yang telah menasional, bahkan menginternasional.

5. Legenda Pemain Bulutangkis Dunia

Legenda pemain bulu tangkis PB Djarum, Liem Swie King. (PB Djarum)

Legenda pemain bulu tangkis PB Djarum, Liem Swie King. (PB Djarum)

Kemampuan PB Djarum mencetak atlet bulu tangkis dunia tidak perlu diragukan lagi. Salah satunya, Liem Swei King yang merupakan legenda bulu tangkis Indonesia dan dunia. Pemain berjuluk King Smash memiliki segudang prestasi besar di level internasional, pada masa jayanya.

6. Kota dengan 2 Makam Walisongo

Makam Sunan Kudus (MuriaNewsCom)

Makam Sunan Kudus (MuriaNewsCom)

 

Makam Sunan Muria (lanostrascrittura.files.wordpress.com)

Makam Sunan Muria (lanostrascrittura.files.wordpress.com)

Di Pulau Jawa, Walisongo berhasil menyebarkan Agama Islam. Termasuk Kudus. Ada dua makam Walisongo di Kudus. Yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria.

7. Tempat Lahirnya Rokok Kretek

Museum Kretek (MuriaNewsCom)

Museum Kretek (MuriaNewsCom)

Di Kudus, adalah tempat lahirnya rokok kretek. Penemu rokok kretek adalah Haji Djamari, raja kretek adalah Nitisemito, dan Museum Kretek. Tidak berlebihan jika Kudus dijuluki pula sebagai Kota Kretek. Ada yang mau menambahkan lagi?(AKROM HAZAMI)

Unik! Pohon Pisang di Cengkalsewu Pati Ini Berbuah dari Batang

Siswanto menunjukkan buah pisang aneh miliknya yang tumbuh di bagian batang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Siswanto menunjukkan buah pisang aneh miliknya yang tumbuh di bagian batang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pohon pisang milik Siswanto (33), warga Desa Cengkalsewu, Kecamatan Sukolilo, Pati berbuah dari tengah batang yang tumbuh menyamping. Padahal, pohon pisang yang wajar tumbuh pada bagian ujung pohon.

Sontak, pohon pisang unik tersebut menjadi perhatian warga. Bahkan, teman Siswanto sempat menawar buang pisang yang tumbuh secara tak wajar itu senilai Rp 500 ribu. Namun, Siswanto enggan menjualnya karena dinilai aneh dan unik.

“Awalnya, istri saya bersih-bersih pekarangan di belakang rumah. Kebetulan, belakang rumah saya itu kebun pisang. Istri saya kaget setelah salah satu pisang miliknya muncul bunga pisang disertai dengan buahnya dari samping batang, bukan dari ujung,” kata Siswanto kepada MuriaNewsCom, Senin (11/1/2016).

Kendati ditawar Rp 500 ribu, buah pisang itu rencananya tidak dijual sampai masak. Padahal, satu tandan pisang masak biasanya dihargai Rp 40 ribu hingga Rp 70 ribu.

“Ini baru tumbuh sekitar satu bulan yang lalu sudah ditawar teman Rp 500 ribu. Rencananya, mau diambil saat masak nanti. Tapi, saya tetap tidak mau. Soalnya ini unik dan tidak biasa,” ungkapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Kudus Zaman Majapahit, dan Kehebatan Kiai Telingsing

Makam Kiai Telingsing di Kudus.

Makam Kiai Telingsing di Kudus.

 

KUDUS – Daerah Kudus yang pada zaman Kerajaan Majapahit bernama Tajug, memang menjadi daya tarik tersendiri. Bagi warga Jawa, Palembang, Kalimantan, Persia, dan juga Tiongkok.

Disadur dari buku Legenda, Mitos & Sejarah 35 Kota di Jawa Tengah karya Hadi Priyanto, ada salah satu tokoh perubahan yang ikut masuk Tajug.

Adalah The Ling Sing. Ia berasal dari Tiongkok. The Ling Sing tinggal di Tajug. Kemampuannya mengukir kayu dengan indah, membuat masyarakat kala itu memanggilnya Kanjeng Sunan Sungging atau Kiai Telingsing. Sungging sendiri diambil dari tempat tinggalnya, Sunggingan.

Saking mahirnya mengukir, banyak orang yang ingin belajar darinya. Dari Jepara, Kudus, Pati dan daerah lainnya. Selain itu, dia juga membimbing penduduk dengan bertani yang baik. Mengingat, kemampuannya dalam bertani juga hebat.

Sejak Sunggingan dimasuki Kanjeng Sunan Sungging, nama wilayah itu kian tenar. Bahkan, kampung yang masuk di wilayah Kerajaan Majapahit itu juga membuat penasaran Prabu Brawijaya, selaku penguasa.

Kanjeng Sunan Sungging diundang ke kerajaan untuk membuat hiasan. Termasuk menghiasi bangunan candi-candi milik kerajaan Hindu itu. Hasilnya, sangat luar biasa. Raja Brawijaya senang. Sebagai bentuk terima kasih, Raja memberikan hadiah berupa tanah yang jadi tempat tinggal untuk mendirikan padepokan ukir.

Kehebatan Kanjeng Sunan Sungging terdengar pula sampai di Kerajaan Demak. Sultan Patah yang baru saja mendirikan Kasultanan Bintara, mengutus Syekh Jafar Shodiq. Dia merupakan ulama yang juga jadi salah satu panglima Kasultanan Demak.

Tujuannya untuk mengajak Kanjeng Sunan Sungging masuk Islam. Jafar Shodiq adalah putra Raden Usman Haji yang dikenal juga sebagai Sunan Ngundung. Nama kecil Jafar Shodiq adalah Raden Undung.

Ada versi lain yang menyatakan kedatangan Jafar Shodiq ke Kudus karena berselisih dengan Sultan Patah. Akibat terjadi beda pendapat dalam penetapan permulaan bulan puasa. Beda pendapat membuat Jafar Shodiq meninggalkan tugasnya sebagai penghulu Masjid Agung Demak Bintoro dan melakukan syiar Islam ke Kudus. (AKROM HAZAMI)

Menikmati Weekend Ala Street Art

Pelaku Street Art menyelesaikan gambar Kudus Graffiti Jamming di Perumahan Megawon Indah, Minggu (27/12/2015). (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

Pelaku Street Art menyelesaikan gambar Kudus Graffiti Jamming di Perumahan Megawon Indah, Minggu (27/12/2015). (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

KUDUS – Kudus Street Art (KSA) menggelar Kudus Graffiti Jamming di Perumahan Megawon Indah, Minggu (27/12/2015).

Kegiatan diikuti oleh 38 pelaku Street Art dari Kudus, Pekalongan, Yogyakarta, Temanggung, Semarang, Tuban, Purwodadi, Jepara, Tegal, Magelang dan Pati.

Para peserta membuat graffiti dan karakter di tembok perumahan Blok H. Dengan tema Kudus Graffiti Jamming.”Mulai acara jam 9 sampai selesai,” kata Ketua Panitia Danangsu, di lokasi, Minggu.

Tujuan diadakan kegiatan tersebut, katanya, untuk mempererat persaudaraan pelaku Street Art. Acara ini merupakan kegiatan rutin kali ketiga.Biasanya, kegiatan digelar tiap akhir tahun. (AKROM HAZAMI)

Horor ! Ada ‘Suster Ngesot’ dan Mayat Hidup di SMA 2 Rembang

Para 'hantu' ciptaan Teater Ataru bergentayangan di SMA 2 Rembang, Jumat (18/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Para ‘hantu’ ciptaan Teater Ataru bergentayangan di SMA 2 Rembang, Jumat (18/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Ada sosok menakutkan di SMA 2 Rembang, Jumat (18/12/2015) siang tadi. Para siswa melihat ada ‘suster ngesot’ yang bergentayangan di sekolah mereka.

Selain suster ngesot, ada juga zombie dan mayat hidup yang berkeliaran di SMA 2 Rembang. Namun, mereka bukanlah hantu sebenarnya, melainkan performance art dari Teater Ataru dalam memperingati Hari Ulang Tahun SMA 2 Rembang. Mereka sengaja memilih tampil dengan make-up dan kostum suster ngesot, zombie dan yang lainnya sebagai kritik sosial terhadap kecantikan.

Menurut Yuni Khomiatrin, Ketua Teater Ataru, penampilan mereka berdasarkan gagasan untuk mengingatkan para penonton, agar melihat kemanusiaan seseorang bukan sekadar dari pakaiannya. “Tampil cantik memang perlu, namun, pakaian tetaplah pakaian,” tutur siswi XI IPS 3 yang berkostum suster ngesot.

Senada dengan Yuni, Vita Dea Wardani, salah satu performer dalam acara itu, mengaku tidak mau mengukuti mainstream seperti fashion show tampil cantik. “Ataru harus beda. dengan begini, mungkin orang bisa ingat dengan banyaknya bencana di negeri ini,” kata siswi XII IPS 1 yang tampil dengan kostum zombie underground.

Sementara pelatih Teater Ataru, Arifin mengatakan, penampilan para siswi SMA 2 Rembang ini merupakan bentuk kebebasan berekspresi yang masih dalam satu benang merah sama, bernama kritik sosial. “Mereka punya pilihan kreatif dalam mengekspresikan arti pakaian di mana pakaian bisa mengingatkan siapapun yang melihatnya untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sudahkah saya sejalan dengan apa yang saya pakai? sudahkah saya cantik luar dalam?”, ujarnya.

Penampilan nyentrik mereka, sontak saja menarik perhatian para pelajar lainnya. Mereka pun berebut foto selfie bersama, kemudian membagikannya ke media sosial, facebook dan instagram dengan ekspresi beragam. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

Foto-Foto Jadul dan Sekarang Menara Kudus, Beda Banget

KUDUS – Sebagai salah satu pusat perhatian di Kudus, Menara Kudus memang mengalami perubahan yang luar biasa. Terutama dari segi penampilan. Jika saat ini, Menara Kudus dianggap sebagai salah satu tempat yang padat dengan peziarah, jika mengingat puluhan tahun lalu, tempat ini tak ubahnya tempat asri yang begitu indah dan sejuk.

Bagaimana, apakah kamu penasaran seperti apa penampilannya di masa silam? Ayo, intip foto-foto ini dan siaplah bernostalgia.

menara-1

Menara Kudus, fotografer H (Hendrik) Veen diambil 1880

 

 

menara-2

Menara Kudus, tak diketahui fotografernya, diambil 1913-1918

 

menara-3

Menara Kudus, tak diketahui fotografernya, diambil 1913-1918

 

menara-4

Menara Kudus tak diketahui fotografernya, diambil pada 1910-1939

 

Menara Kudus karya fotografer G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley, diambil 1920-1939

Menara Kudus karya fotografer G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley, diambil 1920-1939

 

Menara Kudus karya MuriaNewsCom/Akrom Hazami, diambil 2015

Menara Kudus karya MuriaNewsCom/Akrom Hazami, diambil 2015

Bagaimana, sudah puaskah melihat foto-foto jadulnya? Yang penting, kita terus melestarikan Menara Kudus ya. (AKROM HAZAMI)

Misteri ‘Watu Ngaleh’ yang Kerap Celakakan Pengendara di Pelang Mayong Jepara

Daerah Pelang, Mayong, Jepara yang diyakini warga sebagai daerah yang mistis dengan keberadaan Watu Ngaleh yang mencelakai masyarakat yang melintas. (AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)

Daerah Pelang, Mayong, Jepara yang diyakini warga sebagai daerah yang mistis dengan keberadaan Watu Ngaleh yang mencelakai masyarakat yang melintas. (AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)

 

JEPARA – Kisah mistis yang menggemparkan juga terjadi di ruas jalan raya daerah Pelang, Mayong, Jepara. Di jalur utama Jepara-Kudus tersebut sering terjadi peristiwa aneh yang berkaitan dengan hal gaib. Warga sekitar menyebutnya sebagai “Watu Ngaleh” atau batu berpindah.

Menurut warga sekitar Nur Cholis, dalam setahun sering terjadi kecelakaan di daerah tersebut. ” Dan dari pendapat korban serta saksi dan penduduk disebabkan karena ulah Watu Ngaleh yang membuat kendaraan terjatuh bahkan merenggut nyawa pengendara,” ujar Cholis.

Ali Rahman, salah satu korban yang pernah jatuh di daerah tersebut menceritakan pengalaman nahasnya di lokasi itu. “Awalnya ada kendaraan yang menyalip dan menghabiskan badan jalan hingga terpaksa saya turun dari jalan aspal. Namun ketika sudah di tanah ada batu berukuran cukup besar yang membuat saya terjatuh,” ungkapnya.

Kejadian tersebut juga dialami oleh kedua anaknya beberapa tahun setelahnya dengan cerita yang hampir sama. Pada akhirnya warga setempat pernah membersihkan batu-batu besar di ruas jalan tersebut. Namun kejadian yang sama masih sering terulang.

Di jalan yang cukup ramai dan rindang karena banyak ditumbuhi pohon besar tersebut juga diyakini dihuni oleh banyak makhluk halus. Apalagi dengan banyaknya korban yang meninggal di daerah tersebut membuat kondisi jalan semakin terlihat angker.

Beberapa tahun silam, sebuah kecelakaan besar juga sempat terjadi. “Pernah ada pohon besar yang tumbang dan jatuh ke arah jalan raya yang menewaskan anggota keluarga karena pohon menjatuhi mobil yang sedang melintas,” ceritanya.

Dalam kecelakaan tersebut hanya menyisakan seorang anak balita yang sementara sisa keluarga yang lain meninggal. Karenanya, dia berharap agar pengguna jalan melintas lebih hati-hati. “Tidak mengebut karena kondisi jalan yang menurun akan semakin meningkatkan potensi kecelakaan,” kata Ali.(AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)

Hal Mistis di Kali Gelis Jati Wetan Buat Warga Penasaran

Kali gelis yang berada di Sebelah utara jembatan Kencing, sering terjadi longsor dengan tiba-tiba. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kali gelis yang berada di Sebelah utara jembatan Kencing, sering terjadi longsor dengan tiba-tiba. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Salah satu penyebab longsornya bibir Kali Gelis Jati Wetan, Kecamatan Jati disebabkan oleh gelombang air tinggi saat banjir. Namun hal tersebut masih menjadi pertanyaan warga setempat. Sebab disaat air surut, terkadang warga setempat melihat adanya gelombang yang bisa menyababkan terkikisnya bibir kali tersebut.

Salah satu warga Jati Wetan Mashuri mengutarakan, disaat air datang atau banjir, Kali Gelis khususnya yang berada di sebelah utara jembatan Kencing ini sering longsor. Akan tetapi, itu merupakan hal yang wajar.

Namun disisi lain, ketidakwajaran tersebut disaat tidak ada hujan atau air kiriman, tiba-tiba aliran sungai tersebut menurut warga sering bergelombang. Seperti halnya ada ombak yang datang.

”Disaat saya lagi mancing, tiba-tiba sekitar pukul 11.30 WIB menjelang zuhur ada suara gemuruh dari selatan. Dan setelah saya melihat itu, ternyata ada ombak (air bergerak),” paparnya.

Pria yang akrab disapa Huri tersebut melanjutkan, setelah ombak itu menuju ke utara, tiba tiba ada hewan berbentuk buaya yang menggiring kepergian ombak tersebut. Namun buaya itu berada di belakang ombak tersebut.

Dari informasi yang dihimpun oleh MuriaNewsCom, Kali Gelis di Jati Wetan yang berada di sebelah utara jembatan Kencing tersebut, tak jarang membuat orang yang lewat kesurupan.

”Tempat ini memang terkadang bisa membuat orang yang lewat kesurupan. Terlebih bagi pemancing dari luar desa, yang tidak mengetahui hal gaib di tempat ini,” tuturnya.
Hal senada juga diiyakan warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati Saifudin Rohman. Ia mengatakan, dirinya pernah melihat hewan semacam buaya yang menggiring ombak di Kali Gelis tersebut.

”Saya juga heran, terkadang tidak ada angin tidak ada hujan, tiba tiba air sungai menjadi bergelombang (ombak). Sehingga terkadang warga setempat menjadi heran lantaran bibir sungai ini sering terjadi longsor dengan tiba-tiba,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)