Hujan Sebentar, Jalan di Kawasan Menara Kudus Terendam Air

Pezaiarah tampak berjalan kaki di kawasan Menara Kudus, Kamis sore. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Kawasan Menara Kudus terendam pascahujan yang turun, Kamis (20/7/2017) sore sekitar pukul 17.00 WIB. Bahkan hingga sekitar pukul 18.00 WIB, hujan masih belum reda.

Di kawasan Menara Kudus, air merendam di beberapa sudut. Tentu saja kondisi itu mengganggu aktivitas peziarah yang sedang berlalu lalang.

“Jalannya terendam. Tapi tidak masalah. Yang penting masih tetap bisa berziarah di makam Sunan Kudus,” kata salah seorang peziarah, M Udin.

Ketinggian air di kawasan Menara Kudus mencapai sekitar 5 cm-10 cm. Meski demikian, para peziarah tetap memadati. Hanya saat hujan, peziarah memanfaatkan emperan toko untuk tempat berteduh. Air yang merendam di wilayah itu biasanya cepat surut begitu hujan reda. 

Editor : Akrom Hazami

 

Lalu Lintas di Kawasan Menara Kudus Akan Ditata Usai Dipasangi Lantai Granit

Sejumlah anggota komisi C DPRD Kudus melakukan inspeksi mendadak di Menara Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Penataan Menara Kudus akan diiringi dengan penataan lalu lintas. Demikian disampaikan Pemkab Kudus.

Jaswanto, Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Pekerjaan Rakyat (PUPR) Kudus, mengatakan, pemkab sudah berkoordinasi soal pengaturan lalu lintas dengan Dinas Perhubungan.

“Kalau informasi, rencananya akan dilakukan dengan cara tiket atau kartu yang dikhususkan bagi warga di sini (setempat). Supaya masyarakat setempat masih bisa melakukan aktivitas, seperti biasa. Kendaraan masih bisa masuk,” kata Jaswanto di Kudus, Senin (10/7/2017).

Adapun soal trotoar, Jaswanto menuturkan itu bukan milik pemerintah, memainkan milik YM3SK. Untuk itu, belum bisa dilakukan pembangunan.

Ketua Komisi C DPRD  Kudus Ahmad Yusuf Roni mengatakan, pemerintah harus punya cara untuk mengatur lalu lintas di area menara.

Editor : Akrom Hazami

Granit India untuk Dipasang di Kawasan Menara Kudus Tiba Pekan Ini

Sejumlah anggota komisi C DPRD Kudus melakukan inspeksi mendadak di Menara Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Tak lama lagi masyarakat Kudus bisa menikmati kawasan Menara yang lebih apik. Di antaranya adalah adanya lantai granit yang dipasang di titik itu. Sesuai rencana, granit tiba di Kudus dalam waktu tak lama lagi.

Jaswanto, Kabid Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum Pekerjaan Rakyat (PUPR) Kudus mengatakan, granit impor akan tiba pekan ini. Dijadwalkan granit sampai di Kudus, pada 12 Juli. “Rencananya demikian, pada awal pekan akan sampai di Kudus,” kata Jaswandi di Kudus, Selasa (10/7/2017).

Lantai granit memiliki corak warna hitam dan warna hijau. Dengan kombinasi warna tersebut, membuat kawasan Menara akan jadi lebih bagus. Setelah granit terpasang, kawasan Menara Kudus dilengkapi dengan lampu hias seperti lampu taman.

Selain pemasangan batu granit, drainase juga akan diperbaiki dengan lebar 1 meter persegi. Pengerjaan memakan waktu hingga 180 hari ke depan. Proyek dilaksanakan oleh konsorsium (KSO) PT Putra Mas Indah Baroe dan PT Kokoh Prima Perkasa.

Penataan kawasan Menara menelan biaya Rp 9,8 miliar. Pembangunan dilakukan di dua ruas, yaitu jalan di area Menara sepanjang sekitar 493 meter, serta Jalan Madurekso yang panjangnya kurang lebih 167 meter. Total panjang mencapai 660 meter. Sedang untuk lebar 5,1 meter.

Editor : Akrom Hazami

Praktik Parkir Liar di Kawasan Menara Kudus Dicegah

Pengendara melintas di salah satu titik yang bebas dari parkir liar di kawasan Menara Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Aditya Cahya Saputra)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perhubungan (Dishub) Kudus berupaya mencegah adanya praktik parkir liar di kawasan Menara Kudus, Rabu (12/4/2017).

Dishub melakukan patroli ke sejumlah sudut kawasan tersebut sejak pagi hari. Selain itu pula, mereka ingin menjaga area Menara Kudus lebih tertib dalam hal parkir kendaraan.

Pantauan MuriaNewsCom di lokasi, Dishub menyisir beberapa titik yang biasa jadi lokasi parkir liar. Sejauh ini, Dishub belum menemukan kendaraan yang melakukan parkir liar.

“Untuk patroli kami lakukan tidak hanya di sini (kawasan Menara Kudus). Tapi berkeliling juga ke seluruh wilayah Kabupaten Kudus. Apabila ada praktik parkir liar, akan kami tindak,” ujar Alfan (52), salah seorang petugas  Dishub di kawasan Menara Kudus.

Diketahui, Menara Kudus merupakan ikon wisata religi di Kota Kretek. Pemerintah berupaya menjaga ketertiban di wilayah itu. Termasuk soal penataan parkir.

Editor : Akrom Hazami

 

15 Febuari, Skema Baru Ojek Becak Menara Kudus Dilakukan

Dishub Kudus bersama paguyuban ojek dan becak Menara Kudus mengikuti kegiatan sosialisasi penataan transportasi wisata religi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Dishub Kudus bersama paguyuban ojek dan becak Menara Kudus mengikuti kegiatan sosialisasi penataan transportasi wisata religi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Penataan trayek ojek dan becak Menara Kudus, bakal ditata oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus. Pelaksanaan nanti dimulai dari 15 Februari mendatang. Untuk menjamin hal itu,  pemkab sudah melakukan sosialisasi terkait hal itu, Senin (23/1/2017) di Terminal Bakalan Krapyak. Saat sosialisasi, semua paguyuban dikumpulkan untuk diberikan pengarahan akan rencana perubahan tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto mengatakan, sosialisasi semalam berjalan lancar. Para tukang ojek dan becak juga antusias datang. “Hampir semuanya datang, kami mensosialisasikan tentang progam ini hingga larut malam. Dalam sosialisasi juga tak ada sikap keberatan dari para paguyuban,” kata Didik kepada MuriaNewsCom di Kudus, Selasa (24/1/2017).

Menurutnya, sebelum sosialisasi dilaksanakan, pihaknya juga sudah mengkomunikasikan dengan beberapa pihak. Di antaranya adalah pihak serikat pekerja, paguyuban dan sejumlah pihak lain yang juga terlibat. Dia mengatakan, nantinya saat seorang juru ojek membawa peziarah dari Krapyak ke Menara. Mereka kembali ke Krapyak kosong.

Dengan demikian, maka bakal mampu mengurangi kepadatan lalu lintas hingga 40 persen. Sebab, para tukang ojek dan becak tidak akan kelayapan tanpa adanya penumpang. Jika sekali trayek, maka jalanan akan penuh dan itu yang sering dikeluhkan pengguna jalan.

Dijelaskan kalau sebenarnya peziarah sudah capek setelah perjalanan jauh. Jadi mereka hanya ingin kenyamanan . Untuk itulah pemerintah harus menatanya agar peziarah nyaman, dan juga aman sampai tujuan. “Nanti semua parkir atau mangkal di Bakalan Krapyak. Termasuk paguyuban dari Menara Kudus. Dan keberadaan Taman Menara hanya digunakan sebagai pangkalan sementara saja sambil menunggu penumpang,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi adanya kecurangan, maka pembayaran akan menggunakan karcis. Dan petugas penukaran karcis direncanakan dari para paguyuban sendiri yang membentuk. Tentunya, dengan pendampingan dari pihak Dishub. Rencananya, progam akan dievaluasi dalam empat bulan ke depan. Selama empat bulan, akan dipantau mana saja yang membutuhkan pembenahan dan evaluasi. Sebab diakuinya kalau kebijakan pasti ada celahnya dan membutuhkan penyempurnaan.

Editor : Akrom Hazami

Antisipasi Konflik,Rencana Penggabungan Paguyuban Becak dan Ojek Menara Akan Disosialisasikan

Penarik becak mangkal menunggu penumpang di area Menara Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penarik becak mangkal menunggu penumpang di area Menara Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Rencana penggabungan paguyuban ojek dan becak menjadi satu di kawasan Bakalan Krapyak Kudus, berpotensi menyebabkan gesekan. Untuk itu, Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus merencanakan adanya sosialisasi dulu.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto mengatakan, rencana dilakukan sosialisasi sebenarnya sudah terjadwal pekan lalu. Hanya, lantaran satu hal, maka sosialisasi belum bisa dijalankan sampai sekarang.

“Rencananya bulan ini akan dilakukan sosialisasi. Tempatnya di Terminal Bakalan Krapyak. Namun kepastiannya masih belum tahu karena kami menunggu paguyuban juga,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus, Selasa (17/1/2017).

Menurutnya, sosialisasi sangat penting dilakukan. Karena dapat mengetahui respons dari paguyuban di dua tempat. Dengan sosialisasi juga akan mampu menampung aspirasi dan keinginan dari paguyuban. Dia mengatakan, jadwal operasi tetap sama, yakni siang hari untuk becak dan malam harinya ojek. Namun semuanya berangkat dari Terminal Bakalan Krapyak, dan kembali setelah membawa penumpang dari pangkalan.

Dengan pembagian waktu 24 jam yang terbagi dua sif, maka rata-rata ada 500 lebih tiap sif. Dan jumlah tersebut dianggap mencukupi kebutuhan peziarah dari terminal ke Menara Kudus dan sebaliknya. Selain itu , kata dia, kebut-kebutan penarik ojek dan becak juga tak muncul lagi. Sebab model yang diterapkan adalah model antre sesuai urutan.

Editor : Akrom Hazami

Dishub Akan Tata Ojek dan Becak Menara di Kudus 

Penarik becak saat mangkal di sekitar bangunan kelenteng di areal Menara Kudus, Selasa (17/1/2017). (MuriaNewsCom /Faisol Hadi) 

Penarik becak saat mangkal di sekitar bangunan kelenteng di areal Menara Kudus, Selasa (17/1/2017). (MuriaNewsCom /Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus merencanakan bakal menata kembali ojek dan becak wisata Menara. Sebab sampai saat ini becak dan ojek terlihat semrawut. Penataan dilakukan demi kelancaran arus lalu lintas di wilayah tersebut. 

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto mengatakan, pihaknya saat ini akan menata kembali aktivitas ojek dan becak. “Kami akan menatanya biar tidak semrawut,” kata Didik di Kudus, Selasa (17/1/2017). 

Menurutnya, paguyuban jasa agkut peziarah terbagi di dua tempat, yakni Menara dan Krapyak. Tak hanya itu, di dua tempat juga terbagi beberapa paguyuban seperti paguyuban ojek tersendiri dan paguyuban becak. 

 Untuk itu, kata Didik, rencananya, paguyuban jasa ojek dan becak bakal digabungkan. Hal itu bakal berdampak besar bagi ruas jalan, yang mulanya penuh menjadi lebih longgar dan mengurangi kepadatan lalu lintas. 

Biasanya, jalan menjadi penuh. Karena mereka hanya membawa peziarah sekali saja. Dia mencontohkan, saat seorang tukang ojek membawa peziarah dari Krapyak ke menara, maka pulangnya kembali ke Krapyak dalam keadaan kosong. Dan itu juga berlaku sebaliknya dari ojek menara, yang mana bisa membuat jalanan penuh akibat banyak ojek serta becak yang lalu lalang. 

Bila sudah tertata, jalan akan lebih longgar.  Selain itu, Taman Menara yang selama ini penuh dengan para tukang ojek Bakalan, benar-benar menjadi taman seutuhnya.

“Karena nanti parkirnya atau mangkalnya di samping kelenteng atau timur Taman Menara. Jadi lebih steril,” ungkapnya. 

Editor : Akrom Hazami 

Fotografer di Area Menara Kudus Raih Pendapatan yang Wow!

Seorang fotografer menata gaya kliennya di Menara Kudus, sebelum kegiatan berfoto dilakukan, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang fotografer menata gaya kliennya di Menara Kudus, sebelum kegiatan berfoto dilakukan, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Fotografer di kawasan Menara Kudus ternyata mendapatkan penghasilan yang tidak bisa dianggap remeh. Di hari libur khususnya, seorang fotografer bisa mendapatkan pendapatan hingga Rp 400 ribu. Sedangkan di hari biasa, pendapatan mereka sekitar Rp 100 ribu per hari.

Mashud, salah seorang fotografer kawasan Menara Kudus, mengatakan, saat tanggal merah atau hari libur, dia bisa mengantongi uang hingga Rp 400 ribu.

“Itu rata-rata saat hari libur. Banyak peziarah yang datang dan mengabadikan berfoto bareng. Sedangkan saat hari biasanya hanya sekitar Rp 100 ribu saja,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi Menara Kudus, Kamis (8/12/2016).

Menurutnya, Rp 100 ribu dalam sehari itu merupakan saat sepi. Sebab, jumlah tersebut merupakan pemasukan yang belum dibagi dengan pemilik Fotografer Menara. Model pembagian yang dilakukan, yakni 60 persen untuk pemilik usaha, termasuk biaya cetak dan kamera DSLR. Sedangkan untuk jasa fotografer, diberikan imbalan 40 persen.

Untuk sekali foto, peziarah akan ditarik Rp 10 ribu dengan mendapatkan foto berukuran 5 R. Jumlah tersebut, fotografer mendapat Rp 4 ribu, dan pemiliknya sejumlah Rp 6 ribu.

“Kalau pas ramai itu saat musim peziarah. Seperti sebelum puasa, dan saat Asyura. Biasanya saat hari ramai, dalam sehari mampu meraih 60 jepretan dengan jumlah Rp 600 ribu. Dari jumlah itu komisi saya sejumlah Rp 240 ribu,” ujarnya.

Meski demikian, pengalaman pahit tentu pernah dirasakan olehnya. Pernah satu hari penuh, dia tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.

Bahkan pada bulan puasa, dipastikan libur total lantaran tidak ada peziarah sama sekali.

Alasan lain sepinya peziarah adalah karena teknologi. Hal itu karena para peziarah sudah menggunakan kamera sendiri, baik dengan HP maupun digital.

“Kalau saingannya ya memang menggunakan HP. Sekitar 80 persen peziarah foto dengan Hp, dan sisanya baru menggunakan jasa kami,” imbuhnya.

Dijelaskannya, peziarah yang paling mudah dibujuk untuk foto adalah dari Jawa Barat, Madura dan Depok. Jika satu anggota mau berfoto, maka anggota lainnya besar kemungkinan bersedia foto juga.

Sedangkan wilayah lain yang lumayan mudah adalah Jawa Timur. Dan daerah yang hampir dipastikan menolak adalah peziarah yang berasal dari Jawa Tengah.

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Tukang Becak Berdemo, Jalan di Kudus Macet

Sejumah tukang becak memenuhi ruas Jalan Sunan Muria, Kudus, Selasa (6/12/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumah tukang becak memenuhi ruas Jalan Sunan Muria, Kudus, Selasa (6/12/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan tukang becak yang tergabung dalam Paguyuban Becak di Terminal Bakalan Krapyak dan Paguyuban Ojek di Menara, menggelar aksi demonstrasi di Kudus, Selasa (6/12/2016). Para tukang becak mengayuh becak mereka mengelilingi kawasan perkotaan di Kudus.

Aksi tersebut membuat jalanan di Kudus menjadi tersendat. Apalagi, para tukang becak berjajar dua becak, membuat jalanan di perkotaan semakin panjang. Bahkan panjangnya barisan becak mencapai ratusan meter karena banyaknya tukang becak yang turun ke jalan.

Seperti halnya di kawasan Simpang Tujuh Kudus, yang menjadi padat akibat becak yang melintas. Petugas kepolisian juga turut mengatur lalu lintas untuk mengkondisikan lalu lintas antara becak dan pengguna jalan lain.

Para tukang becak tersebut membawa bendera merah putih, bendera SPSI dan lengkap dengan rompi yang biasa dikenakan saat beroperasi biasa. “Kami melakukan aksi ini untuk menuntut bisa beroperasi seperti biasanya. Jadi kami harus tetap boleh narik becak seperti biasanya,” kata seorang tukang becak yang menolak menyebutkan identitasnya.

Seperti diketahui, para tukang becak terancam tak dapat beroperasi di kawasan wisata Menara. Hal itu terkait dengan progam pemkab dalam menambah angkutan wisata di kawasan Krapyak dan Pangkalan Menara.

Berdasarkan informasi yang didapat, para tukang becak menggelar aksi di dua tempat Hari ini.  Pertama aksi dilakukan di Gedung DPRD Kudus, guna menyuarakan aspirasi mereka. Setelah itu, barulah para tukang ojek menuju Simpang tujuh Kudus untuk melakukan aksi yang serupa.

Editor : Akrom Hazami

Ojek Dimungkinkan Tetap Beroperasi

Penarik becak menunggu penumpang peziarah di Terminal Bakalan Krapyak, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penarik becak menunggu penumpang peziarah di Terminal Bakalan Krapyak, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kudus Didik Sugiharto mengatakan, wacana penggantian angkutan wisata Menara Kudus, hampir 100 persen terwujud. Kendati demikian,  Dishubkominfo menyatakan ojek masih berpeluang beroperasi lagi, terutama yang ada di kawasan Menara dan Bakalan Krapyak.

“Untuk tukang ojeknya kemungkinan masih bisa beroperasi. Setelah kami lihat, mereka dimungkinkan dapat beroperasi seperti sedia kala. Itu pun hanya pada malam hari. Sedangkan untuk siang hari, dilarang,” katanya kepada MuriaNewsCom di kantornya, Kamis (1/12/2016).

Selama ini, para tukang ojek masih beroperasi. Khususnya saat siang hari. Jika nanti sudah ada angkutan wisata yang baru, maka otomatis ojek dilarang beroperasi pada siang hari. Termasuk saat ramai sekalipun.

Sementara apakah ojek boleh beroperasi saat malam hari, keputusan itu masih belum final. Pihaknya masih melakukan pembahasan hal tersebut. “Namun itu untuk ojek saja, sedangkan becak masih tidak bisa beroperasi,” ujarnya.

Pihaknya tak memungkiri kalau banyak tukang ojek yang menggantungkan nasibnya dari ojek. Karenanya, Dishubkominfo  terus berupaya masih memperbolehkan mereka beroperasi.

Berdasarkan data, total yang tergabung dalam Paguyuban Ojek Menara sekitar 520 orang. Sementara untuk ojek di kawasan Bakalan Krapyak sejumlah sekitar 260 orang. Untuk becak sejumlah 176 orang, dan yang aktif sekitar 60 orang.

Editor : Akrom Hazami

 

Rencana Penggantian Angkutan Wisata Menara Belum Final

Penarik becak dan sebuah dokar berada di kawasan terminal Bakalan Krapyak Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penarik becak dan sebuah dokar berada di kawasan terminal Bakalan Krapyak Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Rencana penggantian moda transportasi umum di wisata Menara Kudus masih terus dimatangkan. Pemkab Kudus melalui Dishubkominfo masih mempersiapkan skema lalu lintas, khususnya kawasan Menara.

Sebagaimana diketahui, pos pemberhentian peziarah yang dulu di bawah pohon beringin besar, kini sudah menjadi sebuah taman. Dengan demikian, Dishubkominfo dipaksa mencari lokasi lain yang dapat dengan mudah menampung mobil tersebut.

“Lokasi paling mudah ya itu, di jalan masuk peziarah atau lapak PKL Menara. Sama seperti tukang ojek dan juga becak yang kini menurunkan dan mengangkut penumpang,” kata Kabid LLAJ Dishubkominfo Kudus, Putut Sri Kuncoro, kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/11/2016).

Menurut dia, kondisi tersebut akan mengurangi badan jalan. Terlebih dengan jumlah kendaraan yang lebih dari satu. Hanya itu semua dianggap bisa untuk disiasati dengan cara menambah rambu lalu lintas

Selain itu, hal lainnya juga bisa ditambah dengan penyiagaan petugas yang khusus berjaga di kawasan Menara Kudus. Petugas tersebut juga dimaksudkan untuk mengatur angkutan umum yang datang. “Di sana juga dapat dijadikan sebagai tempat menunggu penumpang. Yang mana, peziarah yang hendak balik ke terminal bisa langsung menuju lokasi di mana mereka datang,” ungkapnya.

Soal arus lalu lintas dari terminal Krapyak dan juga halte, kata dia, tidak terlalu bermasalah. Sebaliknya, kebijakan itu justru membuat kawasan jalan semakin terkontrol dan lancar . Hal itu dapat diatur dengan memperbanyak rambu lalu lintas. Aturan demikian dianggap efektif untuk diterapkan guna mengatur pengguna jalan di kawasan yang kerap padat tersebut.

“Sebenarnya ini belum final, sebab persiapan masih dilakukan. Dan jika nanti jadi dan, masih membutuhkan waktu lagi untuk menyiapkan rambu dan juga memasangnya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Mobil Pikap Akan Angkut Peziarah Makam Sunan Kudus

Penarik becak menunggu penumpang di Terminal Bakalan Krapyak, Kudus, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penarik becak menunggu penumpang di Terminal Bakalan Krapyak, Kudus, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus berencana untuk menata kawasan terminal wisata bakalan Krapyak dan taman menara dari ojek dan juga becak. Penataan dilakukan dengan cara mengganti kendaran dengan mobil wisata.

Kepala Dishubkominfo Kudus Didik Sugiharto mengatakan, penataan akan dilakukan pada 2017. Angaran yang dikeluarkan juga cukup besar yang diambil dari APBD Murni 2017. Jumlah biaya yang diusulkan dan siap dilakukan adalah mencapai Rp 3,7 miliar.

“Ini adalah gagasan bapak Bupati, dan dengan mengganti pakai kendaraan wisata, maka daerah menara Kudus Hingga Bakalan Krapyak juga akan lebih teratur,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, keadaan itu nantinya sejenis mobil pikap, yang sudah dimodifikasi secara khusus untuk penumpang. Jumlah mobil yang disediakan senilai 15 unit mobil wisata. Waktu operasional, direncanakan akan beroperasi selama 24 jam..

Untuk tiap satu mobil, kata dia, akan mampu menampung hingga 14 orang. Sehingga dianggap lebih efisien dan mampu mengurangi lalu lalang kendaraan dari ojek dan becak. Dengan demikian lalu lintas juga lebih lancar.

Meski dianggarkan pemerintah, peziarah juga masih harus membayar untuk menaiki kendaraan wisata tersebut seharga Rp 6 ribu per orang. Dikatakan, uang hasil dari penjualan karcis penumpang itu akan disetorokan ke kas daerah.

“Kalai soal penunjang masih tetap membayar, ini kan juga untuk kas PAD Kudus. Jadi harus tetap membayar,” ujarnya.

Sedangkan untuk kondisi lalu lintas, diyakini akan mampu tertata lebih lancar. Jumlah kendaraan yang lebih sedikit dan diangkut secara bersama akan mampu mengurai kemacetan yang kerap dikeluhkan masyarakat.

Sebelumnya, Bupati Kudus, Musthofa, bakal mengganti keberadaan transportasi jenis ojek, becak dan dokar yang berada di wisata Menara dengan kendaraan transportasi jenis mobil wisata. Penggantian dilakukan lantaran dianggap lebih pas dan nyaman bagi pengunjung.

“Rencana, akan diganti dengan trasnportasi umum. Dengan demikian juga akan membuat lalu lintas menjadi lebih lancar,” kata Musthofa.

Menurut dia, selain dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di Jember dan sekitar kompleks Menara, pengunjung akan lebih nyaman jika menggunakan transportasi umum. Sebab keselamatan juga akan diperhitungkan dengan kendaran baru itu.

Editor : Akrom Hazami

“Demi Ojek Tetap Operasi di Menara Kudus, Kami Siap Bakar Motor”

Tukang ojek Menara Kudus saat mengantarkan peziarah menuju area makam Sunan Kudus. (MuriaNewsCom)

Tukang ojek Menara Kudus saat mengantarkan peziarah menuju area makam Sunan Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Rencana penggantian ojek, becak dan dokar dari tempat wisata Menara Kudus dan terminal wisata Bakalan Krapyak, memunculkan gejolak di kalangan paguyuban mereka. Para paguyuban menolak kebijakan tersebut dan siap memperjuangkan hingga darah penghabisan.

M Aris, Ketua Paguyuban Ojek Menara Kudus mengatakan, pihaknya akan melakukan berbagai cara untuk membela tukang ojek. “Kami sudah sejak 2004 lalu, dan pangkalan baru ada sekitar 2007. Jadi kami lebih dulu daripada pemerintah. Pemerintah tidak bisa asal menggusur kami,” kata Aris kepada MuriaNewsCom di Kudus, Kamis (24/11/2016).

Menurutnya, upaya yang dilakukan adalah memperjuangkan nasib mereka dan tetap mempertahankan diri sebagai ojek Menara Kudus. Bahkan disebutnya kalau sampai menumpahkan darah penghabisan juga akan dilakukan. “Bahkan kalau sampai membakar motor untuk aksi menolak, akan kami lakukan demi ojek di sini,” jelasnya.

Dia mengaku, selama ini pihaknya yang sudah membantu menertibkan lalu lintas di kawasan menara. Meski ada petugas dari Dishub, namun tidak berpengaruh lantaran dianggap tidak aktif mengatur lalu lintas. Mengenai ojek yang penyebab kemacetan, dia juga membantah. Selain ojek yang mengatur lalu lintas, jalan yang  dijadikan parkir peziarahlah, yang menyebabkan kemacetan yang sebenarnya.

Dia mengaku sebenarnya tak masalah jika ada penambahan armada, bahkan jikalau penambahan banyak, tidak menjadi persoalan lantaran peziarah yang akan memilih transportasi yang diinginkan. Ditambahkan, total yang tergabung dalam paguyuban ojek menara miliknya sekitar 520 anggota. Jumlah tersebut siap beraksi jika memang aturan nanti dilaksanakan.

Sementara, Ulung Suharto, Ketua Paguyuban Ojek Bakalan Krapyak, mengatakan kalau paguyuban miliknya menolak kebijakan tersebut. Dia akan melayangkan surat penolakan terkait hal tersebut. “Kami akan memberikan surat kepada Bupati dan Dinas untuk menolak. Bahkan kalau tidak ditanggapi akan kami lakukan aksi,” ujarnya.

Dia menambah, jumlah paguyuban miliknya sejumlah 260 anggota. Jumlah tersebut semuanya warga Bakalan Krapyak, yang mencarikan nafkah sebagai ojek di kawasan tersebut. “Jadi kan dulu perjanjian itu, terminal pakai tanah desa, sewa, dan kami warga diperbolehkan bekerja sebagai tukang ojek. Tapi kok malah demikian,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Supaya Peziarah Menara Sunan Kudus Nyaman, Maka Ojek, Becak dan Dokar Diganti

Sejumlah becak yang mangkal tak jauh dari makam Sunan Kudus. (MuriaNewsCom)

Sejumlah becak yang mangkal tak jauh dari makam Sunan Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus, Musthofa, bakal mengganti keberadaan transportasi jenis ojek, becak dan dokar yang berada di wisata Menara Kudus dengan kendaraan transportasi jenis mobil wisata. Penggantian moda transportasi jadi mobil wisata dianggap lebih pas.

“Rencana, akan diganti dengan transportasi umum. Dengan demikian juga akan membuat lalu lintas menjadi lebih lancar,” kata Bupati Kudus, Musthofa.

Menurut dia, selain dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di wilayah Jember dan sekitar kompleks Menara, pengunjung juga akan lebih nyaman jika menggunakan transportasi umum. Sebab keselamatan mereka terasa lebih terjamin.

Kepala Dishubkominfo Kudus, Didik Sugiharto, mengatakan pihaknya menyediakan anggaran Rp 3,7 miliar untuk mengubah alat transportasi di tempat wisata Menara Kudus.

Anggaran sebesar itu akan digunakan untuk pengadaan 15 unit mobil wisata, gaji pengemudi, dan bea perawatan selama setahun. Yang direncanakan mulai 2017 mendatang.

“Satu unit mobil wisata akan diawaki oleh satu orang pengemudi. Dan mampu mengisi belasan penumpang sekaligus,” imbuhnya

Dia menambahkan, para peziarah yang menumpang mobil wisata ini tetap akan ditarik karcis, seharga Rp6 ribu/orang. Uang hasil dari penjualan karcis penumpang itu akan disetorkan ke kas daerah.

Operasikan kendaran akan berlangsung selama 24 jam. Mengenai tenaga untuk pengemudi secara keseluruhan ada 45 orang, yang terbagi dalam tiga sif.

Editor : Akrom Hazami