Menara Kudus Berpeluang Diusulkan jadi Warisan Budaya Tak Benda

Warga beraktivitas di depan Menara Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Warga beraktivitas di depan Menara Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud RI menetapkan 15 kriteria warisan budaya tak benda (WBTB) 2016.

Ada 150 karya budaya nasional dari berbagai daerah ditetapkan sebagai WBTB. Selanjutnya diusulkan ke Unesco untuk dicatat sebagai WBTB dunia.

Hal yang menarik, menurut Moh Rosyid, peminat kajian sejarah dari STAIN Kudus, perlunya kesadaran Pemkab Kudus untuk memenuhi kriteria kawasan Menara Kudus diusulkan menjadi WBTB tahun depan.

“Persyaratan dasar yang telah terpenuhi yakni identitas budaya, nilai budaya, keunikan, memory collective, berdampak sosial dan budaya, mendesak untuk dilestarikan, sudah diwariskan lebih dari satu generasi, mendukung keberagaman budaya,” kata Rosyid.

Potensi besar kawasan Menara Kudus menjadi nominator bila dipersiapkan mulai kini. Dengan catatan, menurutnya, bila kawasan Menara Kudus ditata lagi.

Biar tak kumuh akibat trayek angkot masih melewati kawasan menara dan masih adanya PKL. “Dua hal itu merupakan wilayah kerja Pemkab,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ini Mitos Daun Jati dan Beras yang Tersisa Usai Buka Luwur Makam Sunan Kudus

Petugas siap membagikan nasi berkah di areal Menara Kudus, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas siap membagikan nasi berkah di areal Menara Kudus, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi masyarakat Kudus kuno atau masyarakat sekitar Menara Kudus, momen Buka Luwur tidak hanya momen ganti luwur dan juga pembagian nasi berkah saja. Namun di balik itu, terdapat tanda apakah ke depan selama setahun akan ada kendala soal pangan, ataukah tidak. Hal itu dapat dilihat dari tersisanya bungkus daun jati serta nasi yang dibagikan kepada masyarakat.

Ketua Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus  (YM3SK) M Nadjib Hasan mengatakan, jika kepercayaan masyarakat dulu dan sekarang masih menjadi mitos, saat bungkus nasi berkah berupa daun jati kurang, maka diprediksi kalau nantinya kebutuhan pakaian akan susah. Sebaliknya jika masih tersisa, maka kebutuhan pakaian akan mudah dan murah.

“Ini hanyalah berita kuno, untuk benar dan tidaknya juga tidak dapat memastikan hal tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, tanda itu sudah berkembang secara turun temurun. Namun tidak ada bentuk bentuk tulisan atau dokumen akan hal itu, melainkan secara turun-temurun.

Selain itu, pertanda lain adalah dengan adanya nasi berkah yang dibagikan, pertanda nya adalah jika nasi berkah masih sisa, maka kebutuhan pangan Kudus akan tercukupi, sebaliknya jika kurang maka harga pangan juga akan mahal dan susah.

“Kalau pada Buka Luwur kali ini, Alhamdullah semuanya mudah. Termasuk juga dengan daun jati sebagai bungkusnya serta beras untuk nasinya,” imbuhnya

Sepertinya, kata dia, kebutuhan pangan dan sandang Kudus akan terpenuhi dan juga murah. Namun kembali dia menegaskan kalau itu hanya mitos dan kepercayaan saja.

Mitos tersebut, sudah berkembang di masyarakat tidak hanya di sekitar Menara Kudus saja. Namun juga sudah tersebar di beberapa wilayah Kudus khususnya yang pernah nyantri di sekitar Menara Kudus.

“Tapi ada yang dibilang Kanjeng Sunan (Sunan Kudus) itu terbukti, seperti melarang menyembelih sapi, dan sekarang Indonesia malah impor daging kerbau dalam jumlah banyak. Bukannya sapi,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Tak Ada MCK, Pedagang Dandangan Sasar Kamar Mandi Menara Kudus untuk Buang Hajat

Seorang pedagang mulai menjajahkan dagangannya menyambut tradisi dandangan di Jalan Sunan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang pedagang mulai menjajahkan dagangannya menyambut tradisi dandangan di Jalan Sunan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Tak adanya fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) dalam tradisi dandangan membuat para pedagang kelimpungan. Dampaknya, ratusan pedagang menggunakan fasilitas umum seperti, wc umun, toilet masjid ataupun musala, hingga kamar mandi di kompleks Menara Kudus untuk buang hajat dan mandi.

”Saya sudah sembilan tahun berjualan di setiap even dandangan, dan setiap tahun selalu manfaatkan kamar mandi di Menara Kudus,” kata Karsono, salah satu pedagang yang mengadu nasib di tradisi dandangan, Kamis (5/5/2016).

Pedagang berusia 42 tersebut mengaku terpaksa melakukan hal tersebut. Ini lantaran, sepanjang dandangan dimulai, memang tak ada toilet ataupun MCK khusus untuk pedagang.

”Ya kalau ada khusus pedagang pastinya tidak ke Menara. Apalagi, terkadang sampai terjadi antrean panjang hanya untuk mandi dan buang hajat,” ungkapnya.

Hal tersebut, lanjutnya, juga dilakukan oleh pedagang yang lain. Terlebih, pedagang yang mencoba peruntungan tak hanya berjumlah puluhan, melainkan ratusan. Praktis, mereka memanfaatkan fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan MCK.

”Selain di kompleks Menara, kalau ada rumah warga ya rumah warga. Tapi atas sizin yang punya rumah dulu. Kalau tak diizinkan ya kami tak berani,” terangnya.

Karsono pun berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemab) Kudus bisa mengadakan MCK khusus pedagang. Dengan begitu, ratusan pedagang yang berjualan tak merepoti orang-orang di sekitar.

”Harapannya ya ada tempat MCK khusus pedagang. Sehingga tak bergantung pada tempat umum dan rumah orang,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

 

Wisatawan Religi Kudus Akan Dimanja Fasilitas

Warga berada di depan salah satu objek wisata religi, Menara Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di depan salah satu objek wisata religi, Menara Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan dua wisata religi di Kudus yakni makam Sunan Muria dan Sunan Kudus, memang membuat kota semakin ramai. Namun masih dibutuhkan penambahan fasilitas, supaya bisa lebih baik.

Kepala Disbudpar melalui Kasi Destinasi pada Pariwisata di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Jami’an mengatakan penambahan fasilitas biar memberi rasa nyaman wisatawan.

“Kalau rencananya di kawasan Menara Kudus bakal dibangunkan gapura, sedangkan kalau di Colo Muria itu penambahan toilet, karena di sana yang banyak dibutuhkan itu toilet,” kata Jami’an kepada MuriaNewsCom.

Pembangunan gapura di kompleks makam Sunan Kudus juga sudah diusulkan ke pemerintah pusat. Gapura akan dipasang di lima titik yang sudah disurvei sebelumnya.

Di sebelah barat, katanya, gapura akan dipasang di perempatan Jember, kemudian di timur di perempatan Menara, pertigaan taman Menara, dan sekitar Kaligelis. Kemudian pada bagian utara rencananya bakal dipasang di perempatan Sucen.

“Itu rencananya, mudah mudahan dalam waktu dekat dapat direalisasikan untuk kemajuan wisata religi di Kudus,” ujarnya.

Dia menambahkan, wisata religi jelas memiliki pengunjung yang pasti. Sebab terdapat yang rutin berkunjung tiap pekan, atau pengunjung dalam waktu waktu tertentu.

“Kalau untuk warga sudah ada hari langganan ziarah. Sepekan sekali atau pada hari hari tertentu. Khususnya untuk muslim yang berkunjung untuk ziarah, hampir menjadi progam tahunan pasti datang,” imbuhnya

Namun kalau wisatawan asing lebih mengarah ke bidang budaya dan sejarah. Mereka biasanya datang ke dua makam wali itu. Mengingat, kedua objek wisata religi itu sarat dengan nilai sejarah.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Fantastis, Ini Jumlah Peziarah Makam Sunan Muria dan Sunan Kudus Per Bulan

Dokar, Transportasi Penghibur Anak-Anak

Salah satu bendi atau dokar sedang menunggu penumpang di Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu bendi atau dokar sedang menunggu penumpang di Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain sebagai alat transportasi, bendi atau dokar, juga menjadi hiburan anak-anak. Karena, alat transportasi yang memakai tenaga kuda tersebut mempunyai suara yang khas dan itu membuat anak tertarik.

“Kalau saya sudah mulai masuk gang atau kampung, baik saat seusai kerja atau mengantarkan penumpang, pasti banyak anak yang sudah menanti dipinggir jalan kampung. Yakni mereka ingin melihat kuda dokar ini,” kata Agus Sulikan, salah satu pemilik bendi. Selain itu, saat kudanya diistirahatkan, banyak anak yang naik bendi. Hal itu karena bentuk keretanya yang menarik.

Hal senada diamini Warso (55), pemilik bendi lainnya di Kecamatan Undaan. Keberadaan alat transportasi bendi memang menjadi primadona di mata anak-anak.

“Bahkan saat akan berangkat kerja dan akan keluar dari gang, ada salah satu tetangga terpaksa ikut naik bendi sampai jalan raya. Karena tetangga saya itu sedang momong cucunya yang sedang menangis,” ujarnya.

Warso mengaku meski jumlah bendi terus berkurang, tapi itu tidak menyurutkan kecintaan anak. Terlebih, nilai sejarah yang terkandung juga membuat pemilik sepakat tidak akan menjual bendi. “Yang penting bagi kita para pemilik bendi bisa mengusahakan untuk tidak menjual. Sehingga bendi ini bisa dipertahankan sampai anak cucu kita,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Nasib Dokar di Undaan Kudus yang Tergerus Zaman 

2 Gapura Menara Digagas Dibangun Tahun Ini

Aktivitas di depan Menara Kudus terlihat padat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Aktivitas di depan Menara Kudus terlihat padat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Untuk lebih menarik datangnya wisatawan ke Kudus, khususnya kawasan Menara Kudus dibutuhkan sebuah strategi khusus. Di antaranya, dibutuhkannya identitas yang menjelaskan kalau sudah memasuki kawasan Menara. Untuk itulah, pada tahun ini digagas adanya pembuatan gapura Menara.

Kabid Pariwisata Disbudpar Kudus Sancaka Dwi Supani mengatakan, pembangunan gapura itu digagas setelah datangnya tim dari Kementrian Pariwisata. Dalam pembuatan gapura itu, akan dibuatkan dua gapura sekaligus.

“Dua gapura Menara itu akan dibuatkan di dua titik. Pertama di perempatan Jember, sedangkan kedua di perempatan Kojan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Hal itu, merupakan kajian yang diperoleh beberap waktu yang lalu tentang penataan kawasan Menara. Dengan adanya dua gapura kembar, maka akan membuat kawasan Menara menjadi lebih indah.

Menurutnya, penataan itu juga dilakukan khusus di kawasan wisata religi. Sebab bagaimanapun Kudus termasuk wilayah yang kaya akan wisata religi.

Bukan hanya itu, tren sekarang bukan hanya untuk kaum muslim saja yang datang. Sebaliknya nonmuslim juga banyak yang datang ke sana untuk melihat langsung. Hal itu dilakukan lebih kepada aspek pendidikan dan budaya.

Hanya, mengenai kepastian pembangunan masih belum dapat diketahui. Sebab anggaran dari daerah yang terbatas, sehingga pemkab mengandalkan dari pemerintah pusat.

“Ini progam pemerintah pusat. Jadi kami menunggu adanya kebijakan pemerintah pusat terkait hal itu. Namun melihat tim yang datang langsung ke Kudus, kemungkinan besar akan terealisasikan tahun ini juga,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Wow! Penghasilan Pengemis di Kawasan Menara Kudus Lebih Besar dari PNS

Beberapa pengemis di kawasan Menara Kudus diamankan petugas Satpol PP (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Beberapa pengemis di kawasan Menara Kudus diamankan petugas Satpol PP (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Dengan muka memelas mereka menadahkan tangan meminta sedekah kepada para peziarah di Makam Sunan Kudus. Penampilan para pengemis itu mengundang iba. Selembar seribu atau dua ribuan direlakan para dermawan untuk mereka.

Namun, benarkah para pengemis yang setiap hari lalu lalang itu hidup menderita? Ternyata tidak semua.
Ada fakta yang mengejutkan, dalam sehari pengemis di kawasan Menara Kudus ini bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 200 ribu bahkan lebih.

Salah satu pedagang di kawasan Menara Kudus Yati menuturkan, penghasilan para pengemis sangatlah banyak. Bahkan, saat ramai seperti ini bisa mencapai Rp 200 ribu bahkan lebih untuk per harinya.
“Mereka banyak yang kasih, soalnya mereka sampai setengah memaksa. Bahkan kalau tidak dikasih langsung menepuk-nepuk tangan peziarah untuk diberikan uangnya,” katanya kepada MuriaNewsCom.
Bahkan, kalau masih juga tidak dikasih oleh peziarah, pengemis di kawasan menara melontarkan kata-kata yang kotor kepada peziarah. Dengan begitu, membuat para peziarah terpaksa memberikan uang kepada pengemis.
Dia menceritakan, pernah suatu ketika, peziarah hendak membeli dagangan yang dimiliki. Hanya, belum sempat membeli, pengemis langsung mengerumuni peziarah itu. Tidak hanya itu, ketika peziarah hanya memberikan uang kepada satu pengemis saja, yang lain juga mengerumuni untuk minta jatah.
“Saya pernah menawari pengemis itu untuk berjualan seperti saya. Meski hasilnya tidak terlalu banyak, namun cukup. Itupun ditolak mereka dan memilih untuk meminta-minta,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Sering Ditertibkan, Pengemis di Kawasan Menara Kudus Masih Tak Kapok

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengatakan, pihaknya bersama beberapa instansi terkait beberapa kali sudah melakukan penertiban terhadap pengemis yang ada di kawasan Menara Kudus. Namun, hal itu tak membuat pengemis kapok, dan masih saja melakukan aktivitas di tempat tersebut.

Terkait hal ini, pihaknya dalam waktu dekat ini bakal melakukan penertiban kembali terhadap pengemis. Tidak hanya yang berada di kawasan Menara Kudus saja, namun juga yang berada di lokasi lain, yang biasa dijadikan pengemis untuk meminta-minta.

”Sebenarnya kami sudah melakukan teguran dan bahkan penertiban kepada pengemis. Mereka bilang tidak akan mengganggu lagi, namun pada kenyataannya mereka masih saja meminta-minta kepada peziarah. Dalam waktu dekat, kita akan melakukan penertibab,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, masyarakat peziarah tentunya akan merasa terganggu dengan keberadaan pengemis itu, apalagi jika sampai pengemis tersebut meminta uang kepada peziarah dengan memaksa. “Untuk meminta uang, pengemis ini mengejar-ngejar peziarah sampai dikasih uang,” imbuhnya.

Terkait hal ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan intansi terkait untuk mengambil langkah tegas mengai keberadaan pengemis. Sehingga, nantinya, peziarah yang datang ke Kudus merasa nyaman dan aman. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Keberadaan Pengemis di Kawasan Menara Kudus Disebut Meresahkan

Sejumlah pengemis di kawasan Menara Kudus sedang meminta uang kepada para peziarah (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah pengemis di kawasan Menara Kudus sedang meminta uang kepada para peziarah (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Beberapa lokasi di Kabupaten Kudus menjadi sasaran empuk bagi pengemis untuk mengumpulkan recehan demi recehan. Di antaranya adalah kawasan menara Kudus atau kawasan Makam Sunan Kudus.

Namun, keberadaan pengemis di kawasan menara ini disebut meresahkan. Karena, ketika meminta uang kepada peziarah, pengemis terkesan memaksa.

”Musim ziarah seperti ini banyak pengemis, terlebih lagi menjelang bulan Ramadan nanti. Pengemisnya jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya, dan mereka terkesan memaksa dalam meminta kepada peziarah,”kata Suud, pedagang di kawasan Menara Kudus kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, selama dia bekerja di lingkungan menara, dia kerap kali melihat pengemis yang selalu mengejar peziarah. Bahkan, sebelum mereka dikasih uang oleh peziarah, para pengemis masih mengejarnya.

Bukan hanya itu saja katanya, jika mereka tidak dikasih uang oleh peziarah, ada juga di antara mereka yang malah mendoakan yang tidak baik kepada peziarah.

”Pengemisnya mengejar-ngejar peziarah, setelah dapat, mereka langsung pergi. Namun, jika tidak dikasih uang maka dia terus mengejarnya sampai dapat. Kalau saya lihat penghasilan pengemis ini banyak,”ujarnya.

Yang disayangkan juga, katanya, pengemis di lingkungan menara justru bergaya mewah dengan hasil mengemis tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan pola konsumsi yang tidak mencerminkan sebagai pengemis. “Kalau makan itu mereka yang enak-enak dan beli makanan yang mahal,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Pemerhati Sejarah Tunggu Kiprah Bupati jadikan Menara Kudus Warisan Nusantara

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Detik pergantian tahun 2015 ke 2016 oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjadikannya momen penting untuk menggugah warga Jawa Tengah khususnya Semarang bahwa Kawasan Kota Lama di Kota Semarang, dicanangkan sebagai destinasi wisata dunia.

Menyikapi hal ini, Moh Rosyid, pemerhati sejarah dari STAIN Kudus menggugah kepedulian Bupati Kudus untuk berinisiasi menjadikan kawasan Menara Kudus sebagai kota warisan Nusantara. Nilai positif yang didapatkannya adalah semakin menjadi prioritas bagi wisatawan asing dan domestik mengunjungi Kota Kudus.

”Konsekuensinya, penataan area Menara Kudus mempertimbangkan zona perspektif arkeologi, yakni zona inti, penyangga, dan pengembang,” ujar Rosyid.

Ia melanjutkan, pemilahan ketiga zona melibatkan peran arkeolog, ahli tata kota, dan sejarawan agar upaya nguri-uri kawasan sejarah Islamisasi di Kudus optimal hasilnya. Upaya awal sedang digarap Pemkab Kudus dengan menata Taman Beringin di kawasan Menara Kudus menjadi nyaman. Tahap berikutnya perlunya sterilisasi jalur Menara dan Masjid Al-Aqsha Kudus dari pedagang kaki lima, agar tak kumuh serta melarang mobil dan angkot melewatinya. Hal itu guna getarannya tak menimbulkan rapuhnya bangunan kuno yang bersejarah.

Rosyid berpendapat, masa bakti periode kedua bagi Bupati Musthofa perlu meninggalkan warisan positif bagi warga Kudus berupa penataan kawasan Menara Kudus. Hal ini merupakan modal besar baginya bila memimpin pada karir yang lebih tinggi. Job ideal yang memungkinkan didudukinya selain Kementerian UKM adalah Kementerian Pariwisata.

”Hal itu mungkin terjadi bila pengelolaan kawasan Menara Kudus sukses. Sudah saatnya putra Kudus menduduki jabatan kementerian sebagai pertanda kesuksesannya membangun daerahnya,” tandas Rosyid. (TITIS W)

Petugas Terminal Bakalan Krapyak Kudus Akhirnya Marah juga

Warga melintas di depan Terminal Bakalan Krapyak Kudus yang masih dalam proses pengecoran pelataran. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melintas di depan Terminal Bakalan Krapyak Kudus yang masih dalam proses pengecoran pelataran. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Petugas terminal Krapyak Kudus ternyata bisa marah juga. Setelah beberapa waktu terakhir tak mampu menghalau bus masuk terminal itu, kini mereka akan tegas.Kita tunggu saja praktiknya.

Adalah Alfan. Dia mengatakan, aturan lapangan kendaraan jenis bus atau kendaraan peziarah dipastikan dilaksanakan. Aturan tersebut, harus dilaksanakan mulai Minggu (13/12/2015) sore ini pukul 15.00 WIB.

“Mulai sore ini sudah tidak boleh ada bus masuk, apapun alasannya tidak diperbolehkan. Sebab sesuai aturan terminal masih dalam pengecoran,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Agar aturan itu dipatuhi, maka pintu masuk terminal ditaruh papan peringatan larangan masuk. Selain itu, petugas terminal juga disiagakan selama pengecoran berlangsung.

“Tidak boleh ada yang masuk ke dalam terminal. Itu sudah menjadi kebijakan yang harus ditetapkan. Kalau  tidak maka pembagunan bisa menjadi lebih lama malah,” ujarnya.

Kata dia, bus yang masuk hingga Minggu siang tadi memang masih ditoleransi. Hal itu dikarenakan petugas tidak tega dengan para pedagang yang sudah masak banyak untuk berjualan. Ditambah lagi dengan bus yang tidak terlalu banyak, maka petugas memperbolehkan untuk masuk.

Meski demikian, kata dia, bus yang boleh masuk tidak lama, melainkan dibatasi jamnya. Yakni hingga maksimal pukul 15.00 WIB dan itu harus sudah steril. Selebihnya dari itu tidak diterima alasan apapun, dan petugas akan menghalau bis masuk.

Sedangkan untuk bus yang parkir di sekitar makam Krapyak, pihaknya tidak dapat berbuat lebih. Dengan alasan jumlah petugas yang hanya empat saja, hanya mampu menghalau bis yang mau masuk terminal saja.

“Ya bagiamana lagi, kami kekurangan tenaga, sehingga yang dapat dilakukan adalah mencegah agar tidak masuk. Selain itu, petugas tetap menarik retribusi parkir untuk bus,” imbuhnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Duh, Bus Peziarah Makam Sunan Kudus Malah Parkir Sembarangan

Bus yang mengantarkan peziarah ke makam Sunan Kudus, parkir di luar Terminal Bakalan Krapyak. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bus yang mengantarkan peziarah ke makam Sunan Kudus, parkir di luar Terminal Bakalan Krapyak. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Meski masih ada yang nekat masuk ke Terminal Bakalan Krapyak, Kudus, untuk parkir, namun beberapa bus sudah parkir di luar terminal. Hanya bus tersebut malahan parkir di sepanjang jalan sekitar makam di Bakalan Krapyak.

Hal tersebut berakibat pada luas jalan menjadi lebih sempit. Selain itu, bus yang jumlahnya lebih dari satu membuat kendaraan parkir mengular hingga depan pintu masuk pabrik Polytron sebelah utara.

Hingga Minggu (13/12/2015) siang, sekitar pukul 14.00 WIB, bus yang parkir di Terminal Bakalan Krapyak ada sekitar empat bus. Meski jumlahnya hanya empat unit bus, tapi membuat arus lalu lintas menjadi terhambat.

Alfan, salah satu petugas Terminal Bakalan Krapyak mengatakan, bus atau kendaraan yang mengangkut peziarah ke Makam Sunan Kudus, memang dilarang masuk selama waktu pengecoran pelataran terminal berlangsung.

“Selama pengecoran tidak boleh masuk. Untuk sementara bus kami tampung dengan berada di Terminal Induk Jati Kudus,” terangnya.

Dia menambahkan, papan pengunjuk kalau terminal tidak bisa dipakai juga sudah ditaruh di beberapa titik. Hal itu untuk memberitahu peziarah rombongan kalau terminal dalam perbaikan. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Jelang Maulid, FKTP Ajak Tiap Kecamatan Pentaskan Terbang Papat

Kesenian Terbang Papat menjadi kesenian andalan dari Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kesenian Terbang Papat menjadi kesenian andalan dari Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Menjelang datangnya hari besar Islam Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Minggu (13/12/2015) mendatang. Forum Komunikasi Terbang Papat (FKTP) Kudus mengharap setiap koordinator kecamatan, mengadakan pentas seni musik tradisional Terbang Papat. Hal itu sebagai kegiatan yangbertujuan mempertahankan budaya kuno asli Kudus.

Pembina FKTP Kudus Anif Farizi mengatakan, pihaknya mengadakan rapat konsultasi kepada setiap Koordintor Kecamatan (Korcam) FKTP agar menggelar acara pentas seni musik Terbang Papat tersebut. Namun selama ini, kegiatan tersebut yang selalu berjalan hanya di beberapa kecamatan saja. Yaitu di Gebog dan Jekulo.

Kegiatan pentas seni yang dilakukan oleh empat penabuh rebana dan satu penabuh bedug tersebut, diharapkan memberikan semangat tersendiri untuk selalu mempertahankan kebudayaan Kudus.”Kalau kegiatan di Masjid Agung Kudus, nantinya dilaksanakan mulaitanggal 2 hingga 12 Maulid 1436 H atau 14  hingga 24 Desember 2015 di serambi masjid,” paparnya.

Selain itu, lanjut Anif, FKTP juga sering menggelar pentas Terbang Papat di Masjid Agung setiap Sabtu malam pada awal bulan. Dan itupun jadwalnya bergilir untuk 9 kecamatan yang tampil di Masjid Agung Kudus tersebut.

FKTP berharap, nantinya kegiatan pentas seni musik tradisional Kudus berupa Terbang Papat bisa terus diselenggarakan. ”Kami juga akan mengkroscek kembali. Apakah nantinya dilaksankan pentas seni Terbang Papat di masing-masing kecamatan atau tidak. Sebab sampai saat ini belum ada informasi, kecamatan mana yang menggelar Terbang Papat,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Rabu Wekasan, Air Salamun Disiapkan di Hari Penuh Musibah itu

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Masyarakat  Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus mempercayai anggapan tentang Rabu Wekasan. Yakni hari Rabu terakhir di bulan Safar. Biasanya di Rabu Wekasan diyakini sebagai hari turunnya berbagai jenis musibah.

Hal ini dituturkan oleh pengelola sumur di Masjid Al Makmur Jepang, Mejobo, Dwi Ahmad Rifai. Dwi menceritakan sejarah Rabu Wekasan yakni pada 1917 M. Menurutnya di wilayah Jawa, khususnya di tempatnya terjadi musibah. “Musibahnya terjadi saat Rabu Wekasan,” katanya.

Berangkat dari hal itu, masyarakat setempat meyakini bahwa Rabu Wekasan itu memang ada. Terlebih pengelola Masjid Al Makmur saat itu, Sayyid Ndoro Ali, juga mengajak warga untuk berhati-hati saat momen tersebut tiba.

Diketahui, masjid yang ada di RT 1 RW 6 tersebut merupakan peninggalan dari Aryo Penangsang, yaitu salah satu murid Sunan Kudus. Di masjid itu juga terdapat peninggalannya berupa sumur. “Saat itulah Sayyid Ndoro Ali memberikan pengetahuan kepada warga, bahwa di saat ada musibah di hari Rabu akhir Safar harus melakukan  istigasah dan juga selalu menggunakan air sumur dari masjid tersebut supaya bisa menolak musibah,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun air sumur tersebut merupakan media obat untuk menghindari musibah di hari Rabu Wekasan. Karenanya, air sumur itu diberi nama air salamun atau air keselamatan oleh Sayyid Ndoro Ali. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Foto-Foto Jadul dan Sekarang Menara Kudus, Beda Banget

KUDUS – Sebagai salah satu pusat perhatian di Kudus, Menara Kudus memang mengalami perubahan yang luar biasa. Terutama dari segi penampilan. Jika saat ini, Menara Kudus dianggap sebagai salah satu tempat yang padat dengan peziarah, jika mengingat puluhan tahun lalu, tempat ini tak ubahnya tempat asri yang begitu indah dan sejuk.

Bagaimana, apakah kamu penasaran seperti apa penampilannya di masa silam? Ayo, intip foto-foto ini dan siaplah bernostalgia.

menara-1

Menara Kudus, fotografer H (Hendrik) Veen diambil 1880

 

 

menara-2

Menara Kudus, tak diketahui fotografernya, diambil 1913-1918

 

menara-3

Menara Kudus, tak diketahui fotografernya, diambil 1913-1918

 

menara-4

Menara Kudus tak diketahui fotografernya, diambil pada 1910-1939

 

Menara Kudus karya fotografer G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley, diambil 1920-1939

Menara Kudus karya fotografer G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley, diambil 1920-1939

 

Menara Kudus karya MuriaNewsCom/Akrom Hazami, diambil 2015

Menara Kudus karya MuriaNewsCom/Akrom Hazami, diambil 2015

Bagaimana, sudah puaskah melihat foto-foto jadulnya? Yang penting, kita terus melestarikan Menara Kudus ya. (AKROM HAZAMI)

Ini Pantangan yang Tidak Boleh Dilanggar Ketika Berziarah ke Makam Sunan Kudus

Para peziarah sedang berdoa di Makam Sunan Kudus (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Para peziarah sedang berdoa di Makam Sunan Kudus (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

KUDUS – Ketika melakukan ziarah ke Makam Sunan Kudus, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh peziarah. Karena, pengelola Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus menerapkan aturan yang tidak boleh dilanggar pengunjung.

Berikut beberapa poin penting yang perlu diperhatikan pengunjung, seperti yang dituturkan Denny Nurhakim, juru bicara Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus.

“Pertama, pengunjung tidak boleh merusak bangunan ataupun fasilitas yang ada di komplek Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (5/11/2015).

Kemudian, pengunjung juga dilarang mengambil benda apa saja yang terdapat di komplek masjid maupun makam, untuk dijadikan jimat ataupun lainnya. Karena, menurutnya hal itu justru bisa merusak keimanan seseorang.

Selanjutnya, pengunjung juga tidak diperkenankan untuk duduk-duduk di pagar pembatas. “Jika ada peziarah yang tidak sopan seperti duduk di pagar pembatas, kami akan menegurnya, dan apabila ada yang merusak atau mengambil sesuatu guna jimat atau yang lain, maka kami selaku pengeleola akan menindak tegas,” ujar Denny.

Menurutnya, aturan tersebut diterpakan, guna menjaga kenyamanan pengunjung dan juga keaslian bangunan masjid maupun makam. (KHOLISTIONO)

Inilah Resep Bubur Asyura Khas Masjid Menara Kudus

Bubur Asyura yang dihidangkan dengan wadah yang dilapisi daun pisang ini siap dibagikan ke warga sekita Masjid Menara Kudus. (MuriaNewsCom/ Faisol Hadi)

Bubur Asyura yang dihidangkan dengan wadah yang dilapisi daun pisang ini siap dibagikan ke warga sekita Masjid Menara Kudus. (MuriaNewsCom/ Faisol Hadi)

 

KUDUS – Bubur Asyura yang tiap tahun dibuat dalam kegiatan buka tirai makamKanjeng Sunan Kudus, memiliki cara tersendiri dalam membuatnya. Seperti halnya bahan yang digunakan juga khas dan pilihan.

Yuliatin salah satu koki menjelaskan, bahan bubur Asyura ini adalah beras, kacang-kacangan, singkong, ubi jalar serta pisang dengan dikasih santan dan bumbu gule.

”Sehingga rasanya gurih dan sedap, sedangkan untuk hiasan diatas bubur Asyura adalah 9 macam yakni tahu, tempe, teri, tauge, udang, telur dadar, cabai, dan jeruk bali serta pentul yang terbuat dari bahan rempah-rempah yang dibuat bulatan kecil,” katanya.

Yuliatin menuturkan, dalam memasak bubur Asyuraini, lima kawah mampu untuk 750-an uter (wadah bubur Asyura) yang khusus dibagikan kepada warga. Sementara untuk satu kawah lainnya, mampu untuk 250-an uter dengan ukuran lebih kecil yang akan digunakan dalam suguhan saat pengajian.

”Rasa bubur Asyura ini memang cukup unik dan selalu membuat orang yang menikmatinya ingin menambah kembali. Buktinya selalu habis disantap saat dibagikan,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Ribuan Porsi Bubur Asyura di Masjid Menara Kudus Habis Terbagi

Para ibu-ibu dan remaja putri saling bekerja sama menyiapkan bubur Asyura untuk dibagikan ke warga sekitar Masjid Menara Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para ibu-ibu dan remaja putri saling bekerja sama menyiapkan bubur Asyura untuk dibagikan ke warga sekitar Masjid Menara Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ribuan porsi bubur Asyura, yang dimasak di Yayasan Menara Masjid dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) telah terbagi ke masyarakat sekitar masjid. Ribuan porsi bubur tersebut dimasak oleh ibu-ibu dan para remaja putri sekitar masjid Menara Kudus.

Satu dari para koki yang memasak bubur adalah Yuliatin, dia menjelaskan bubur tersebut menjadi salah satu penanda akan dilaksanakannya buka luwur makam Kanjeng Sunan Kudus, pada 10 Muharram atau Kamis siang (22/10/2015).

”Telah dibagikan kepada warga sekitar masjid Menara Kudus. Khususnya adalah warga Desa Kauman, Kecamatan Kota, yang memang sangat dekat dengan masjid Menara,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Di dapur umum, sejak dinihari para ibu-ibu serta remaja putri yang merupakan warga sekitar, bahu-membahu membuat bubur Asyura. ”Ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksankan setiap tahun. Jadi menjelang buka luwur dilaksanakan kegiatan semacam ini sebagai rentetan acara,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Seperti Apa Sih Penjamasan Pusaka Sunan Kudus? Begini Prosesinya

Prosesi penjamasan keris Sunan Kudus berlangsung di halaman Menara Kudus, Senin (28/9). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Prosesi penjamasan keris Sunan Kudus berlangsung di halaman Menara Kudus, Senin (28/9). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Proses penjamasan merupakan bagian dari ritual bersejarah dalam merawat pusaka Sunan Kudus. Untuk proses penjamasan ini sendiri, ada beberapa tahapan yang dilakukan.

Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Nadjib Hasan mengatakan, ritual penjamasan yang dimulai sekitar pukul 07.00 WIB,  diawali dengan ritual keagamaan dan doa bersama yang dipimpin ulama sesepuh di Kudus.

Selanjutnya, pusaka milik Sunan Kudus tersebut,  disiram “banyu landa”  atau air rendaman merang ketan hitam hingga tiga kali.

“Kemudian, keris dibersihkan menggunakan air jeruk nipis dan selanjutnya dikeringkan dengan cara dijemur di atas sekam ketan hitam oleh ahli penjamasan,” ujarnya.

Usai pengeringan, keris kembali dimasukkan ke dalam air rendaman merang ketan hitam, kemudian dijemur hingga kering. Selanjutnya, keris dikembalikan ke tempat semula, yakni berada di atap bangunan tajuk yang disediakan tempat khusus untuk penyimpanan pusaka dengan diiringi bacaan selawat.

Proses berikutnya, yakni dua mata tombak peninggalan Sunan Kudus dicuci dengan air jeruk nipis, yang  dipercaya dapat mencegah karat pada benda pusaka yang berumur ratusan tahun itu.

Selanjutnya dua tombak tersebut, dikembalikan di tempatnya semula di dekat mimbar imam masjid peninggalan Sunan Kudus untuk memimpin salat berjamaah. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Prosesi Penjamasan Dapat Disaksikan Masyarakat Umum

Prosesi penjamasan keris Sunan Kudus berlangsung di halaman Menara Kudus, Senin (28/9). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Prosesi penjamasan keris Sunan Kudus berlangsung di halaman Menara Kudus, Senin (28/9). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Nadjib Hasan mengatakan, proses penjamasan pusaka Sunan Kudus dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Menurutnya, masyarakat yang hadir tidak semata hanya undangan saja.

”Proses penjamasan keris yang dikenal dengan nama Keris Kiai Cinthaka, selama ini memang terbuka untuk umum, karena selama ini yang hadir juga bukan karena undangan semata,” kata Ketua YM3SK Nadjib Hasan kepada MuriaNewsCom.

Meski demikian, katanya, prosesi tersebut belum memungkinkan dijadikan sebagai objek wisata. Karena selama ini, pihak yayasan tidak pernah memberitahukan secara luas mengenai prosesi acara tersebut kepada khalayak.

Namun, ia mempersilahkan masyarakat yang ingin menyaksikan proses penjamasan Keris Sunan Kudus tersebut. Untuk tahun ini, ritual tersebut dilakukan pada Senin (28/9/2015) setelah hari tasyrik, yang dipusatkan di bangunan Tajug, depan pintu masuk kompleks Makam Sunan Kudus.

“Kalau tidak Senin ya pasti hari Kamis. Pelaksanaan prosesi penjamasan pusaka ini dilakukan usai hari tasyrik,” jelasnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Ada Penjamasan Pusaka Sunan Kudus, Akses Peziarah Ditutup Sementara

Prosesi penjamasan keris Sunan Kudus berlangsung di halaman Menara Kudus, Senin (28/9). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Prosesi penjamasan keris Sunan Kudus berlangsung di halaman Menara Kudus, Senin (28/9). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ritual penjamasan keris peninggalan Sunan Kudus di kompleks Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, membuat akses peziarah terganggu. Para peziarah harus menunggu hingga prosesi penjamasan usai.

Selain itu, para peziarah juga tidak dapat melihat prosesi penjamasan, lantaran harus undangan khusus yang boleh melihat.

Seperti halnya Mashud, Warga Kudus yang berada di lokasi. Pihaknya sebenarnya ingin menyaksikan penjamasan, namun tidak dapat dilakukan lantaran tidak dapat masuk.”Tidak bisa masuk, soalnya bukan orang khusus. Dan banyak lagi peziarah yang ada diluar,”  katanya kepada MuriaNewsCom.

Pintu makam untuk peziarah baru dibuka sekitar pukul 09.30 WIB. Peziarah baru dipersilahkan masuk setelah semua prosesi penjamasan pusaka dilaksanakan.

“Sudah selesai, peziarah sudah bisa masuk untuk berziarah ke Makam Sunan Kudus,” kata Sekretaris Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK)  Denny Nur Hakim. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Mantap, Keris Sunan Kudus Dijamas

Prosesi penjamasan keris Sunan Kudus berlangsung di halaman Menara Kudus, Senin (28/9). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Prosesi penjamasan keris Sunan Kudus berlangsung di halaman Menara Kudus, Senin (28/9). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ritual penjamasan keris peninggalan kanjeng Sunan Kudus, berlangsung dengan singkat di Kudus, Senin (28/9) pagi. Pelaksanaan ritual itu berlangsung kurang dari dua jam.

Seperti tahun tahun sebelumnya, pelaksanaan penjamasan sendiri, berlangsung di kompleks makam dan masjid Menara Kudus Pelaksanaan penjamasan dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dan berakhir pada 08.30 WIB.

Dalam penjamasan tersebut, juga dilakukan tahlilan serta doa kepada kanjeng Sunan Kudus. Penjamasan dilakukan dengan cara sederhana dan dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat.

Penjamasan dilakukan oleh H Abdul Faqih di samping pintu masuk Joglo Makam Sunan Kudus. Barang yang dijamas adalah keris peninggalan kanjeng sunan serta dua mata tombak.

Ketua Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Najib Hasan mengatakan kegiatan itu merupakan pegelaran rutin. “Ritual tahunan. Setiap tahun dilaksanakan,” kata Najib kepada MuriaNewsCom, Senin. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

PKL Menara Kudus Digoda Pemkab Biar Tergiur

PKL-Menara-Nangis

Pedagang membongkar lapaknya sendiri sebelum nantinya dibongkar paksa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sejumlah PKL di Menara Kudus yang digusur paksa Pemkab Kudus, ‘digoda’ yakni akan diberi solusi. Namun hal itu belum terpikirkan matang.

Sampai saat ini, pemerintah sedang menyiapkan lahan untuk digunakan para pedagang guna berjualan di lokasi baru.

Kasi PKL Dinas Perdagangan dan Pasar (Dagsar) Imam Santoso mengatakan, pemkab tidak serta merta menggusur para pedagang.  Pemkab rencananya bakal membangunkan lapak baru di lokasi baru.

“Kami sudah anggarkan Rp 3 miliar dalam pembangunan lokasi baru nantinya. Tentunya juga dengan pembangunan taman menara. Jadi para pedagang masih dapat berjualan seperti biasanya nanti,” katanya kepada MuriaNewsCom saat di lokasi penggusuran PKL.

Menurutnya, sambil menunggu lapak baru terbangun, para pedagang juga masih dapat berjualan seperti biasa. Hal itu dilakukan lantaran pemkab juga menyiapkan lahan sementara yang digunakan para PKL untuk berjualan.

Dia mengatakan, para pedagang dapat tetap berjualan di sepanjang jalan Madureksan dan di trotoar. Selama pembangunan belum selesai tidak ada penindakan untuk keamanan berjualan.

“Kalau total PKL sejumlah 61 orang, namun nanti di tempat baru dapat menampung hingga 70 orang. Paling November sudah selesai dibangun,”  jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Menara Kudus Dipenuhi ‘Tangisan’ PKL yang Tergusur

PKL-Menara-Nangis

Pedagang membongkar lapaknya sendiri sebelum nantinya dibongkar paksa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Puluhan Pedagang Kakli Lima (PKL) Menara Kudus, digusur paksa dari tempat dagangnya oleh pemkab setempat. Mereka hanya bisa ‘menangis’ atau mengeluh tanpa bisa berbuat banyak.

Penggusuran dilakukan karena lokasi tersebut nantinya bakal menjadi taman kota. Para pedagang yang berjualan selama puluhan tahun tersebut terpaksa mengikuti aturan pemerintah dengan mengosongkan lapak mereka.

Usman, seorang pedagang asesoris di sekitar Menara mengatakan, pihaknya sudah berjualan selama 10 tahun. Selama itu juga dagangannya selalu ramai dan  sudah memiliki pelanggan yang banyak.

“Selama ini tidak ada apa apa dan saya juga membayar retribusi senilai Rp 2 ribu tiap hari, karena saya berjualan mulai pagi hingga malam,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia terpaksa membongkar sendiri lapaknya karena takut jika dibongkar paksa oleh pemerintah. Namun dia mengeluhkan pemberitaan yang mendadak dari kegiatan tersebut.

“Baru tiga hari lalu kami mendapatkan surat peringatan. Dan terakhir besok harus sudah beres. Makanya kami harus membongkar ini sendiri,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Solusi Pemkab untuk Para Kusir Tidak Pas

Dokar yang menunggu penumpang di Terminal Wisata. Mereka akan tetap beroperasi seperti biasa di Jalan Sunan Kudus meski per 16 Agustus ini mereka tidak diperbolehkan beroperasi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Dokar yang menunggu penumpang di Terminal Wisata. Mereka akan tetap beroperasi seperti biasa di Jalan Sunan Kudus meski per 16 Agustus ini mereka tidak diperbolehkan beroperasi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Solusi yang diberikan kepada para penarik dokar wisata dinilai tidak pas oleh para kusir. Sebab untuk banting setir harus memutar otak dengan modal yang tidak sedikit.

Seperti seorang kusir di kawasan Menara, Sapari. Dia mengungkapkan, dirinya kurang setuju dengan aturan tersebut. Pasalnya dokar sudah menjadi pekerjaannya sehari. Jika dialihkan butuh penyesuaian. Apalagi umurnya sudah tidak muda lagi.

Dijelaskannya, para kusir diberi pilihan untuk beralih menjadi tukang ojek dan pedagang kios. Namun, untuk bisa menjadi tukang ojek atau pedagang kios, harus membayar sejumlah uang ke paguyuban.

”Kalau menjadi tukang ojek harus bayar Rp 15 juta. Sedangkan pedagang kios harus bayar sembilan juta,” katanya pada MuriaNewsCom.

Menurutnya, uang tersebut sebagai syarat masuk menjadi anggota paguyuban. Khusus tukang ojek ada dua pilihan. jika membayar Rp 15 juta, mendapat kartu anggota dan rompi. Namun, jika membayar lima juta, hanya mendapat rompi saja.

Dirinya merasa keberatan dengan persyaratan tersebut. Pasalnya dirinya tidak punya uang cukup untuk membayarnya.

Kusir lainnya, Baskun juga mengungkapkan hal yang sama. Dirinya tidak setuju dengan peraturan tersebut. Baginya, dokar adalah penghasilan satu-satunya. Pria asli Kudus ini menginginkan dokar masih tetap diperbolehkan beroperasi.

Terkait ganti dokar, peralihan menjadi tukang ojek dan pedagang kios juga dirasakan berat. Dirinya yang memilih menjadi pedagang kios, terlebih dulu harus membayar sembilan juta. Apalagi, untuk bisa menempati kios harus menunggu kios selesai dibangun.

”Sampai sekarang, kios yang disiapkan untuk pengganti belum selesai dibangun. Jika harus menunggu, kelamaan dan juga katanya sudah penuh penghuninya. Dan saya harus kerja apa,” ujarnya. (FAISOL HADI/TITIS W)