Gudang Mebel di Jepara Ludes Dilalap Si Jago Merah

Gudang mebel di Desa Sowan Lor ludes diamuk api, Jumat (4/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara  – Sebuah gudang mebel di Desa Sowan Lor RT 12/RW 1, Kecamatan Kedung ludes dilalap Si Jago Merah, Jumat (4/8/2017). Belum diketahui pasti sebab kebakaran ini. Namun, kuat dugaan api berasal dari korsleting peralatan listrik.

Taufik (37) mengatakan, kejadian tersebut disertai ledakan besar. Diduga ledakan tersebut berasal dari thinner yang juga tersimpan di bangunan berdimensi lebih kurang 30×40 meter itu.

“Kejadiannya sekitar jam empat sore. Saya sedang bermain pingpong di rumah yang berada di barat gudang. Tiba-tiba ada orang yang berteriak kebakaran. Saat saya lihat bangunan yang ada di sebelah rumah saya terbakar,” ucapnya. 

Beruntung, pemadam kebakaran segera datang dan melokalisir api agar tidak merembet ke perumahan warga. Beberapa meubel juga berhasil diselamatkan dari amukan api, meski beberapa di antaranya ikut terbakar. 

Menurutnya, beberapa yang hendak menyelamatkan barang takut karena ada thiner di dalam bangunan itu. “Mungkin karena listrik, soalnya bangunan sedang kosong,” ungkap Taufik

Sementara itu Sholikul (40) mengatakan, asap dari kebakaran itu terlihat dari rumahnya di Desa Dongos, Kecamatan Kedung yang berjarak satu kilometer. 

“Tadi jam empat sore, saya lihat ada asap, saya pikir itu pasti kebakaran, soalnya lain jika ada orang membakar sampah bentuknya,” ceritanya. 

Warga sekitar Kasman (60) berujar, saat kejadian gudang memang tak ada orang. Hal itu karena setiap Jumat merupakan hari libur kerja. Ia mengatakan, pabrik tersebut merupakan kepunyaan Fakhrudin.

“Saat kejadian tidak ada orang, wong biasanya libur pas hari Jumat. Pas waktu itu, sebagian warga sekitar juga sedang melayat sehingga sampai di tempat sudah membesar,” kata dia. 

Editor: Supriyadi

Karyawan Mebel di Jepara Tuntut Gaji

Karyawan melakukan mogok kerja dan menuntut hak mereka di PT Kent Devon Kabupaten Jepara, Rabu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara  – Karyawan PT Kent Devon Kabupaten Jepara mogok kerja, Selasa (2/8/2017). Hal itu dlakukan karena pekerja menganggap perusahaan furnitur yang berada di Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan itu, selalu terlambat membayarkan gaji mereka.

Seorang karyawan Masykur menyebut, untuk gaji para karyawan minggu ini masih tertunggak. Selain itu, para pekerja pun menuntut manajemen perusahaan tersebut memenuhi hak karyawan berupa jaminan kesehatan bagi pekerja. 

“Aksi ini sebagai bentuk kekecewaan karyawan selama ini. Gaji yang diberikan pun sering terlambat dalam empat bulan ini,” katanya.

Selain permasalahan di atas, dirinya juga mengeluhkan setiap hari raya keagamaan, banyak karyawan baru yang tidak mendapatkan gaji pokok dan tunjangan hari raya. Terlebih lagi, lanjut Masykur, perusahaan juga sering merumahkan karyawan secara sepihak. 

Terpisah, Kasi Hubungan Industri dan Syarat Kerja Dinkopukmnakertrans Jepara Andhika Danan Jaya, mengaku telah bertemu dengan perwakilan perusahaan. Namun demikian dalam pertemuan, belum mencapai hasil yang diinginkan. 

“Kami sudah bertemu dengan pihak perusahaan begitu ada laporan dari karyawan Senin (31/8/2017) kemarin. Kami hadir untuk memediasi, namun hasilnya belum seperti yang diharapkan,” terang Andhika.

Ia menguraikan, dari hasil pertemuan perusahaan mengaku kesulitan membayar gaji karyawan karena belum menerima kiriman uang. Adapun, pekerja dibayar dengan upah Rp 65 ribu sampai Rp 75 ribu per hari. 

Editor : Akrom Hazami

 

Banyak Industri Mebel Jepara Gulung Tikar, Ini Penyebabnya

Ketua DPD Himki Jepara Raya Maskur Zaenuri. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Ketua DPD Himki Jepara Raya Maskur Zaenuri. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Jumlah pelaku usaha industri mebel rumahan di Kabupaten Jepara, mengalami penurunan hingga 10 persen setiap tahun. Itu terjadi disebabkan oleh sejumlah alasan.

Ketua DPD Himki Jepara Raya Maskur Zaenuri menyebut, di antara alasannya adalah pelaku industri mebel rumahan beralih menjadi eksportir yang hanya bermodalkan gawa (gadget). Diketahui banyak yang hanya berjualan online, mereka tidak perlu repot-repot melakukan produksi barang.

“Mereka cukup mengetahui harga-harganya lalu memiliki foto dan menjual secara online. Tetapi barangnya bukan milik dia sendiri. Itu terjadi karena belum ada regulasi yang ketat,” kata Maskur kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, alasan klasik juga turut memiliki pengaruh penurunan jumlah industri rumahan, yakni sulit dan mahalnya harga bahan baku kayu. Apalagi saat ini bahan baku diperoleh dari luar Kabupaten Jepara. “Setiap tahun harga kayu Perhutani terus naik. Ketersedian bahan baku kayu di Jawa berkurang. Solusinya mendatangkan kayu dari luar Jawa, tapi itu akan mengakibatkan biaya produksi membengkak,” kata Maskur.

Permasalahan lain yang dihadapi pelaku industri mebel rumahan di Jepara saat ini, sulitnya mencari tenaga kerja. baik tukang kayu maupun tukang amplas. Itu seiring dengan maraknya iklim investasi industri di Jepara. “Sekarang cari tukang kayu amplas sulit, mereka yang semual kerja di gudang-gudang mebel sekarang memilih kerja di pabrik-pabrik baru,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika permasalahan tersebut tak segera ditangani pemerintah, maka akan sulit mencapai target produksi mebel naional. Imbasnya, volume ekspor mebel pun turut menurun.

Editor : Akrom Hazami

Video – Kebakaran Gudang Mebel di Jepara


JEPARA – Kebakaran kembali terjadi di Bumi Kartini. Tapi kali ini bukan hutan yang ada di kawasan Lereng muria, tapi gudang mebel milik PT Baroba Furniture yang berada di jalan Jepara – Kudus di Desa Krasak, Kecamatan Pecangaan, Jepara, Minggu (1/11/2015) sejak pukul 16.00 WIB tadi.

Dari kebakaran tersebut, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp 3,7 miliar. Hal itu dikatakan penanggung jawab produksi perusahaan mebel tersebut, Yeni Panca kepada MuriaNewsCom di lokasi.

“Barang yang ada di dalam gudang sudah siap kirim ke Jepang. Tapi malah terbakar semua,” kata Yeni.

Menurutnya, kebakaran terjadi tidak ada yang mengetahui pasti penyebabnya. Sebab, seperti biasa, hari Minggu perusahaan memang diliburkan. Sehingga tidak ada karyawan yang berada di dalam gudang.

“Yang terbakar selain barang siap kirim, juga komponen mebel lainnya, peralatan dan dokumen penting. Kalau semuanya kerugiannya Rp 3,7 miliar lebih,” ungkapnya.

Kemacetan sekitar 1 kilometer lebih tak bisa dihindarkan di jalan Jepara -Kudus tersebut. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Pengusaha Mebel di Jepara Mulai Khawatir Kehilangan Karyawan

 

ana saat pertemuan pengusaha mebel dengan wakil bupati Jepara bersama pejabat terkait, Senin (21/9/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

ana saat pertemuan pengusaha mebel dengan wakil bupati Jepara bersama pejabat terkait, Senin (21/9/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pengusaha mebel di Kabupaten Jepara mulai merasa khawatir kehilangan karyawan dan perajin mereka. Pasalnya, saat ini di Kabupaten Jepara sudah mulai banyak investor asing dan perusahaan di bidang lain yang merekrut banyak karyawan.

Salah satu yang merasa khawatir adalah pengusaha mebel asal Krasak, Kecamatan Bangsri, Febri Estiningsih. Menurutnya, pihaknya mengaku mulai merasa was-was karena banyaknya pabrik milik orang asing yang berinvestasi di seputar daerahnya.

”Bisa-bisa perajin kami memilih kerja di garmen atau pabrik-pabrik yang lain,” ujar Febri saat menghadiri pertemuan dengan wakil bupati Jepara bersama pejabat terkait, Senin (21/9/2015).

Selain mengeluhkan hal itu, sejumlah pengusaha juga mengeluhkan terkait regulasi kayu jati. Salah satu yang mengeluhkan hal ini adalah Sasmiatun, seorang exportir dari desa Bandengan, Kecamatan Kota Jepara.

”Kami mengeluhkan tentang regulasi kayu jati yang seakan-akan tidak berpihak pada perajin kecil. Harga kayu jati yang terus meningkat sangat menyulitkan para perajin,” ujarnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Pengusaha Mebel di Jepara Didorong Kembangkan Produk yang Khas 

Suasana pertemuan wakil bupati Jepara dengan sejumlah pengusaha, perajin, dan pejabat terkait. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Suasana pertemuan wakil bupati Jepara dengan sejumlah pengusaha, perajin, dan pejabat terkait. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pengusaha mebel di Kabupaten Jepara didorong untuk mengembangkan spirit Jepara Incorporited guna menjaga kualitas produk, pengembangan manajemen, penatapan harga, dan promosi di pasar global. Selain juga dalam mengantisipasi berlakunya pasar bebas Asean.

Wakil Bupati Jepara Subroto mengatakan, Jepara Incorporated ini sangat diperlukan karena di pasar global dan juga pasar Asean kemampuan pengusaha kita relatif lemah baik dari sisi modal, manajemen maupun promosi.

”Karena itu yang harus dikembangkan bersama-sama adalah deferensiasi produk atau perbedaan produk dibandingkan dengan pesaing yang lain. Kalau kita justru menawarkan jenis produk yang kompetitor di pasar global  banyak, justru kita menjadi lemah dipasar global,” ujar Subroto saat melakukan pertemuan dengan para pengusaha dan perajin mebel di Jepara, Senin (21/9/2015).

Menurut Subroto, Jepara memiliki keunggulan lokal yang tidak dimiliki oleh daerah lain, yaitu ukir. Karena itu pelestarian seni ukir harus dilakukan, agar tidak kehilangan perajin terampil.

”Ini tudak mudah ditengah-tengah mengalirnya investasi ke Jepara non ukir yang kemudian menyebabkan generasi muda lebih mengarahkan minatnya ke sana. Karena itu kita harus mulai berfikir untuk meningkatkan upah bagi perajin ukir Jepara,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Petasan Diduga Jadi Penyebab Kebakaran Mebel yang Berada di Atas Truk

Mebel yang berada di atas truk pada saat terbakar (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

Mebel yang berada di atas truk pada saat terbakar (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

JEPARA – Kebakaran muatan truk berisi mebel yang akan dikirim ke pulau Bali mengalami banyak kerugian. Pihak pemadam Kebakaran (Damkar) Jepara menaksir, kerugian mencapai Rp 125 jutaan. Perhitungan itu berdasarkan nilai barang mebeler yang terbakar dan bagian kendaraan truk yang juga ikut terbakar.

Kepala UPT Damkar Jepara, Surono mengatakan, sejauh ini pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebab kebakaran yang terjadi pada dini hari tadi di ruas jalan Jepara – Kudus, Desa Rengging, Pecangaan tersebut. Namun, pihaknya memastikan bahwa sumber api tidak berasal dari mesin.

”Sumber api dari muatan truk, yakni barang-barang hasil produksi mebel. Sebab, ketika api muncul saksi mengatakan kendaraan masih hidup dan lampu juga masih nyala. Tapi kami belum mengetahui secara pasti penyebabnya apa,” kata Surono kepada MuriaNewsCom, Jum’at (10/7/2015)

Meski demikian, pihaknya tidak menutup kemungkinan, api yang memicu kebakaran tersebut berasal dari percikan kecil seperti dari kembang api maupun rokok. Bahkan, kuat dugaan api bersumber dari orang yang iseng melempar petasan atau rokok ke bak truk. Terlebih, truk yang bermuatan barang mebel tersebut tidak tertutup rapat.”Isinya kayu yang dibungkus kertas, jadi bsa mudah terbakar dan api juga cepat merambat,” imbuhnya.

Sementara itu, Sopir truk bernomor polisi B 9153 QK Nursubi, menceritakan, dirinya tak mengetahui dari mana sumber api yang menghanguskan seluruh muatan mebel truk yang dikemudikannya. ”Saya tidak tahu penyebabnya apa, dari spion saya lihat ada bara api merah di bak truck terus saya berhenti,” ujar Nursubi. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Kasihan! Mebel Ini Terbakar Ketika Dalam Pengiriman Menuju Bali

Kondisi mebel yang terbakar ketika dalam pengiriman menuju Bali (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

Kondisi mebel yang terbakar ketika dalam pengiriman menuju Bali (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

JEPARA – Nasib nahas menimpa truk bernomor polisi B 9153 QK. Barang yang dimuat di dalam truk berisi hasil produksi mebel terbakar di ruas jalan Jepara – Kudus, Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan Jepara.

Padahal, barang mebel yang dibawa senilai lebih dari Rp 100 juta itu mau dikirim ke pulau Bali. Peristiwa tersebut terjadi dini hari tadi, sekitar pukul 00.30 WIB, Jum’at (10/7/2015).

Api dengan cepat menghanguskan seluruh muatan mebel tersebut. Beruntung, api belum sempat membakar badan truk, dan tidak ada korban jiwa. Tim pemadam kebakaran datang ke lokasi kejadian selang beberapa menit kemudian.

Sopir Truk Nursubi mengatakan, dirinya kaget ketika mengetahui ada api di badan truknya saat melihat spion. Kemudian, dirinya bergegas berhenti.

Setelah menghentikan laju truk yang dikemudikannya, Nursubi mendapati api sudah membesar di bak truk yang penuh muatan mebel. Bergegas dirinya turun dari truck dan meminta bantuan warga untuk memadamkan api. ”Saya dari Kedungcino Kota mau kirim barang ke Bali mas,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Jepara Surono mengatakan, setelah pihaknya mengetahui informasi adanya kebakaran itu, pihaknya bergegas meluncur ke lokasi.

”Selang beberapa menit saja, kami sudah sampai di lokasi. Kemudian kami padamkan api dengan dua mobil Damkar,” ujar Surono kepada MuriaNewsCom, Jum’at (10/7/2015). (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)