DPRD Yakin Skema Larangan Bus ke Colo Solusi Bagus

Sejumlah bus peziarah terparkir di Terminal Colo, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah bus peziarah terparkir di Terminal Colo, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua DPRD Kudus Mas’an yakin, rencana larangan bus ke Muria bukanlah sekadar wacana. Namun sudah menempuh sejumlah tahapan dan perencanaan yang lama. “Meskipun saat ini belum ada laporan, tapi saya yakin itu sudah melalui proses yang lama. Jadi mungkin memang jadi jalan terbaik,” kata Mas’an kepada MuriaNewsCom.

Pihaknya yakin, kalau itu sebuah solusi yang dicetuskan Pemkab Kudus. Dan dia mengapresiasi tentang rencana larangan kendaraan bus menuju Colo, karena nantinya peziarah akan lebih aman.

Menurutnya, banyak pemberitaan yang menyebutkan kalau kawasan dataran tinggi Colo rawan terjadi kecelakaan. Dengan kebijakan tersebut, maka berita soal tersebut bakal hilang. Selain itu, jalan menuju makam Sunan Muria juga cukup membahayakan untuk kendaraan besar.

Dia mengatakan rencana tersebut juga terjadi di sejumlah wilayah wisata Indonesia. Seperti halnya di Bali, bus tidak bisa masuk ke semua lokasi wisata. Namun dibuatkan terminal atau parkir bus, untuk kemudian diangkut menggunakan kendaraan wisata.”Jadi tidak ada masalah tentang rencana tersebut. Karena pasti sudah melalui pemikiran yang panjang meskipun saya belum tahu detail perkara tersebut,” ujarnya.

Terkait kekhawatiran sejumlah pihak tentang sepinya wisatawan atau peziarah, dia meyakini tak akan terjadi. Sebab orang yang sudah niat ziarah pasti sampai lokasi, dan orang yang berwisata pasti juga diniati. Pihaknya meminta warga tak usah panik, karena semua kebijakan pasti ada alasannya. Dan yang pasti semuanya juga melalui proses yang tidak mudah. “Buktinya tadi Bali, di sana meski modelnya naik kendaraan khusus, wisata tetap ramai. Jadi tidak ada masalah,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Biar Kendaraan Peziarah Bisa Simpangan dengan Aman, Jalan Colo Dilebarkan 

Pengendara melintas di perbatasan jalan di kawasan Dawe, Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pengendara melintas di perbatasan jalan di kawasan Dawe, Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Camat Dawe Eko Budi  mengatakan, jalan di kawasan Dawe menuju Colo sudah mulai dilebarkan. Meski belum sepenuhnya, namun pelebaran jalan cukup membantu bus yang naik ke kawasan Muria.

“Sudah dilebarkan kok, namun baru sampai di Kajar saja. Rencananya tahun ini dilanjutkan sampai kawasan atas atau Muria,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus, Jumat (3/2/2017).

Menurutnya, pelebaran jalan dilakukan oleh Pemprov Jateng selama beberapa tahun terakhir. Tahun ini pun dilanjutkan kembali aktivitas pelebaran jalannya hingga sepanjang jalan menuju makam Sunan Muria. Pelebaran yang dilakukan dengan memaksimalkan jalan. Pada dua sisinya dilebarkan dengan masing-masing setengah meteran. Sehingga, luas jalan yang awalnya hanya enam meter kini sudah selebar tujuh meter.

Dia menambahkan, pelebaran tersebut dilakukan guna mengatasi padatnya jalan. Jika jalan semakin lebar maka kendaraan peziarah, terutama bus juga bisa longgar saat simpangan menuju kawasan Muria. Dia kurang sependapat jika sampai ada larangan. Dikhawatirkan kawasan Muria akan sepi dengan hal tersebut. Dan yang berdampak adalah masyarakat yang banyak menggantungkan nasib dari pendatang. “Apalagi ada wacana segitiga wisata. Jadi kalau dilarang bisa-bisa gagal itu wacana meramaikan wisata di Kudus ini,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Pedagang Kudus Minta Pemkab Kaji Ulang Wacana Larangan Bus ke Muria

Warga tampak beraktivitas di kawasan Terminal Colo, Kabupaten kudus, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga tampak beraktivitas di kawasan Terminal Colo, Kabupaten kudus, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Adanya wacana larangan bus ke kawasan Muria di Kabupaten Kudus, membuat para pedagang di lokasi itu resah. Para pedagang khawatir, jika sampai kebijakan dilakukan maka dagangan mereka bakal sepi.

Wakil Ketua Perhimpunan Persatuan Pedagang Kios dan Warung (PPPKW) Colo Budiono, mengatakan kegelisahan para pedagang terkait hal itu. Bahkan para pedagang meminta agar hal itu tak usah direalisasi.

“Kalau sampai sepi bagiamana? Soalnya peziarah yang datang kesini memang kebanyakan memakai bus besar. Karena memang mereka rombongan dari jauh,” kata Budiono kepada MuriaNewsCom, di Kudus, Jumat (3/2/2017). 

Kebijakan tersebut berdampak pada sepinya wisatawan. Hal itulah yang dikawatirkan para pedagang, sehingga usaha yang dijalaninya berpeluang ikut sepi. Dikatakan, para peziarah kebanyakan merupakan golongan menengah ke bawah. Sehingga, jika harus mengganti kendaraannya dengan angkutan tambahan, jelas mengeluarkan biaya lebih. Hal itu dirasa memberatkan para peziarah.

“Sekali lagi saya katakan kurang setuju dengan hal itu. Pemerintah bisa menimbang lagi baik buruknya bagi perkembangan wisata di Muria ini. Kalau masih nekat dilakukan kebijakan, maka Muria bisa ditinggalkan oleh peziarah,” tegasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Langkah Disbudpar Kudus Ramaikan Wisata Colo

 

Wisatawan berada di area Makam Sunan Muria, Kabupaten Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Wisatawan berada di area Makam Sunan Muria, Kabupaten Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus merancang cara agar kawasan Colo bisa semakin ramai. Hal itu dilakukan tak hanya untuk meramaikan semata, namun juga dapat meningkatkan PAD sektor pariwisata di Colo. 

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Yuli Kasianto. Menurutnya, berbagai langkah sudah dirancang dalam hal keramaian di kawasan Colo. Termasuk juga dengan wisata pada malam harinya. “Kami memiliki Graha Muria, dan itu bisa dimaksimalkan. Jadi nanti bagian belakang atau kolam renangnya akan dibangunkan kafe. Dengan demikian akan membuat ramai kawasan di sana,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus, Rabu (1/2/2017). 

Pembuatan kafe dilakukan dengan cara menimbun kolamnya. Sebab selama ini kolam renang sudah tak berfungsi sehingga dapat dimanfaatkan untuk hal lainnya. Dan dalam kafe tersebut nantinya juga menyuguhkan makanan khas, seperti halnya kopi Muria dan makanan lainnya.

Untuk membuat suasana lebih seru, dia mengatakan bakal memberdayakan seniman atas di kawasan Dawe. Jika ada 10 grup musik yang ada, maka khusus malam Minggu dapat digilir satu-satu untuk menunjukkan kemampuan di kafe tersebut.

“Sebenarnya banyak yang bisa dimanfaatkan. Dan di 2017 ini sedang dicoba dalam hal peningkatan kualitas wisata di kawasan Colo. Dengan banyak pengunjung juga pasti menambahkan pemasukannya,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala UPT Colo pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Mutrikah menyebutkan, Selama 2017 ini, target pendapatan dipatok sebesar Rp 1.512.649.000. Target tersebut naik 0,9 persen dari target 2016 yang hanya Rp 1.387.291.000. Dia mengatakan, kalau target tersebut optimis dikejar di 2017 ini. Berbagai skema diatur mulai memperbanyak publikasi dan juga membuat acara even di wilayah dataran tinggi tersebut.

Editor : Akrom Hazami

Peta Wisata Kudus Terancam Terganggu

Warga berada di tangga makam Sunan Muria, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di tangga makam Sunan Muria, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kudus merancang sebuah peta wisata untuk wilayah setempat, sekarang. Peta tersebut meliputi Menara Kudus, Wisata Colo dan bermuara di kawasan timur yakni Museum Patiayam.

Hanya, Dinas Perhubungan membuat sebuah rencana larangan bus ke kawasan atas. Dengan demikian, maka skema tiga wisata akan terganggu lantaran kebanyakan wisatawan dalam skala besar menggunakan kendaraan bus.

Kepala Disbudpar Yuli Kasianto mengatakan, sebenarnya rencana sudah ada sejak lama. Wisata tersebut berakhir di bagian timur Kudus, yang bermuara pada sebuah tempat sentral oleh-oleh wisata di Kudus. “Selama ini sudah banyak pembangunan sebelah barat. Jadi rencananya akan kami fokuskan pula di bagian timur. Sebab selama ini kurang tersentuh,” katanya kepada MuriaNewsCom, di Kudus, Selasa (31/1/2017).

Pihaknya tak terlalu menyinggung tentang rencana Dishub tersebut. Namun pihaknya lebih menekankan pembangunan yang akan digunakan pada bagian timur Kudus tersebut.

Sementara, Camat Dawe Eko Budi menyebutkan kalau segitiga wisata Kudus (Menara, Muria dan Patiayam) sedang digulirkan. Wacana tersebut sudah lama didengar olehnya. Sehingga pihaknya kaget soal rencana dari Dishub tersebut. “Lha nanti bagaimanapun wisatawan yang ke Colo, bisa-bisa malah menjadi sepi. Soalnya selama ini yang ziarah itu dari berbagai tempat, dan paling banyak menggunakan kendaraan jenis bus,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pintu Wisata Colo Masih Gunakan 2 Pintu 

Bus parkir di kawasan parkir Terminal Colo Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bus parkir di kawasan parkir Terminal Colo Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Rencana Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus melarang bus masuk ke kawasan Colo atau Muria, berpotensi besar dilanggar. Sebab  pengoperasian pintu wisata Colo masih menggunakan dua jalur, yakni pintu dari Kudus dan dari Pati.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto mengatakan, kedua pintu wisata masih diberlakukan. Sehingga, bagi peziarah yang berasal dari Pati langsung menuju ke Colo, maka rombongan biasanya tak melalui pintu bagian barat atau lewat Kudus.

“Kami hanya melarang bus naik ke kawasan atas. Namun untuk kendaraan lain seperti mobil pribadi atau rombongan dalam mobil mini masih diperbolehkan. Jadi pintunya wisata masih dibuka,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus, Selasa (31/1/2017).

Sebenarnya, kata Didik, pintu bagian timur yang lewat Pati itu bukanlah untuk rombongan bus. Melainkan untuk rombongan peziarah dengan kendaraan nonbus. Hanya terkadang para sopir atau rombongan menggunakan pintu tersebut dari arah Pati, termasuk rombongan jenis bus.

Bagi dia, hal itu merupakan sebuah pelanggaran. Karena, jalan di sana tidak diperuntukkan untuk kendaraan jenis bus. Karena jalannya yang berkelok-kelok dan membahayakan. Untuk itulah jalan sepanjang Pati ke Colo bukan untuk bus.

“Kalau selama ini ya berani beraninya sopir bus melaluinya. Soalnya jalan-jalan di sana berbahaya. Dan kalau tak mahir, maka bisa-bisa bus terjun ke jurang seperti yang pernah terjadi sebelumnya,” ungkapnya.

Untuk itu, dibutuhkan pula kesadaran bagi pengguna bus yang berziarah. Pihak Pemkab Kudus menginginkan aman dalam hal berwisata religi di Kudus, terbukti dengan rencana larangan bus tersebut.

Editor : Akrom Hazami

Dishub Kudus Nilai Wacana Larangan Bus Peziarah ke Muria itu Terbaik

Bus melintasi jalanan yang menuju Makam Sunan Muria di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bus melintasi jalanan yang menuju Makam Sunan Muria di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus mewacanakan larangan bus wisata peziarah Sunan Muria melintas ke lokasi. Hal itu bertujuan untuk mengurangi tingkat kemacetan di akses menuju lokasi wisata religi tersebut.

Kepala Dishub Didik Sugiharto mengatakan, pihaknya mengeluarkan wacana tersebut usai berpikir keras mencari solusi kemacetan. Sebab, pihaknya menyatakan jika bus peziarah merupakan salah satu pemicu kemacetan.

“Jadi bus saja sudah penuh jalannya. Makanya kita buat rencana penanganannya yaitu dengan cara peziarah turun di terminal yang ditentukan. Kemudian mereka ganti naik angkutan khusus,” kata Didik di tempat kerjanya kepada MuriaNewsCom, Senin (30/1/2017). 

Cara tersebut merupakan hal terbaik saat ini. Dengan demikian, maka jalan akan longgar. Bahkan saat antarkendaraan simpangan, maka ruas jalan yang ada tidak sempit. “Saya berpikir banyak hal tentang rekayasa tersebut. Dan hasilnya memang cara tersebutlah yang terbaik saat ini,” ungkapnya.

Dengan mengubah tata kelola transportasi itu,  dia yakin akan muncul gejolak dari berbagai pihak. Namun itu dianggap tak lama. Lantaran cara yang ditempuh lebih pas. Hanya, bagi peziarah nantinya bakal mengeluarkan uang yang lebih banyak dengan adanya ongkos angkutan.  “Namun keselamatan jelas lebih penting ketimbang lainnya. Untuk itu angkot nanti juga bakal diseleksi dan dipilih yang memang benar-benar bagus,” ungkapnya.

Saat ini ongkos transportasi angkutan belum dibahas. Karena ini masih sebatas wacana. Pihaknya mengupayakan itu akan tuntas tahun ini. Terkait jumlah angkot, sekitar seribu unit bisa dimanfaatkan. Angkutan umum tersebut merupakan angkutan segala trayek di Kudus. Dengan jumlah yang banyak, kebutuhan transportasi bisa terpenuhi untuk peziarah Sunan Muria.

Di kawasan Muria, angkutan umum yang bisa tertampung di terminal setempat bisa mencapai ratusan. Sedangkan kalau bis hanya mampu menampung 70 unit saja. Sebenarnya ada cara lain pemecahan masalah kemacetan yang muncul. Diantaranya adalah dengan membuat terminal yang tak jauh dari kawasan Colo. Lokasi yang dibidik adalah kawasan Kajar. Cara lainnya adalah memperluas area jalan. Hal itu dianggap sangat susah karena luasan jalan yang sudah mentok untuk dilebarkan.

Editor : Akrom Hazami

Bus Peziarah Makam Sunan Muria Nyungsep di Tergo Kudus 

Polisi mengatur arus lalu lintas di samping bus nyungsep di Tergo, Kudus, Jumat (, 28/1/2017). (MuriaNewsCom /Faisol Hadi)

Polisi mengatur arus lalu lintas di samping bus nyungsep di Tergo, Kudus, Jumat (, 28/1/2017). (MuriaNewsCom /Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kecelakaan bus kembali terjadi di jalan berkelok di Desa Tergo, Dawe, Kudus, Sabtu (28/1/2017) petang. Kecelakaan menimpa sebuah bus pariwisata  AA 1522-CW yang mengangkut peziarah Sunan Muria asal Cilacap. 

Hal itu diungkapkan Kanit Laka Polres Kudus Iptu Sucipto. Menurutnya, kejadian kecelakaan menimpa rombongan peziarah sekitar pukul 18.00 WIB sore tadi. Kecelakaan dialami bus lantaran sopir, Imam Priyanto asal Cilacap,  tak bisa menguasai bus dan rem dalam keadaan blong.

“Jalan di sana memang berkelok-kelok. Dan posisi saat kejadian memang terjadi hujan yang lebat. Jadi jalanan licin dan sopir tak mampu kendalikan bus,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus. 

Menurutnya, bus rombongan peziarah tersebut kecelakaan saat melanjutkan perjalanan dari kawasan makam Sunan Muria menuju Pati. Saat itu, bus melintas di jalan dari arah utara ke selatan dengan kecepatan sedang. Saat di kawasan Tergo itulah, sopir kehilangan kendali. Bus tak mampu direm. Sopir memutuskan menghantam ke pembatas jalan agar tidak jatuh ke jurang.

Saat kejadian, bus sedang dinaiki oleh rombongan sekitar 58 orang. Dari puluhan penumpang beberapa di antara nya mengalami luka. Untuk itu penumpang dilarikan ke RS Mardi Rahayu untuk menjalani pengobatan.

“Beberapa yang luka adalah Asri di kaki kanan.  Rahma luka  lengan tangan kanan patah. Maulida luka punggung dan Nurfadilah luka perut sakit. Petugas sudah datang ke rumah sakit untuk kebutuhan informasi,” jelasnya. 

Kecelakaan lalu lintas sebenarnya sudah beberapa kali terjadi. Jalur tersebut memang kerap digunakan untuk kendaraan bus peziarah, saat menuju ke arah Colo dari Pati, ataupun sebaliknya.

“Kami mengimbau kepada pengguna jalan agar lebih hati-hati saat melakukan aktivitas. Khususnya jenis bus atau mobil berpenumpang, karena jika tak hati-hati bisa berakibat fatal,” ungkapnya.

Dua juga berpesan agar sopir berhati-hati dan menjaga stamina. Jika memang dirasa sudah tak menguasai, maka diharapkan para sopir untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. 

Editor : Akrom Hazami 

Kapasitas Terminal Wisata Colo Kudus Hanya Tampung 70 Bus

Bus terlihat terparkir di Terminal Wisata Colo, Kabupaten Kudus, Senin (16/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bus terlihat terparkir di Terminal Wisata Colo, Kabupaten Kudus, Senin (16/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Terminal Wisata Colo Kudus hanya mampu menampung 70 unit bus. Jumlah itu akan meningkat terutama saat musim ziarah ke makam Sunan Muria tiba.

Wakil Ketua Perhimpunan Persatuan Pedagang Kios dan Warung (PPPKW) Colo, Budiono mengatakan, batas maksimal terminal hanya 70 bus. Namun saat ramai, jumlah busa bisa sekitar 200 unit bus. “Kalau rata-rata sehari semalam jumlahnya  75 unit bus untuk saat ini,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jumlah tersebut merupakan hal normal. Bila musim ramai ziarah, maka dipastikan kemacetan di akses bus sampai menuju makam akan terjadi. Terlebih, banyak bus yang parkir di pinggir jalan.

Dia menambahkan, luas Terminal Colo sekitar 1 hektare (Ha). Pihak terkait telah mengusulkan pelebaran terminal tapi hal itu belum dilakukan. Dia berharap, selain terminal diperluas, juga jalan di sepanjang ke arah terminal bisa diperlebar.

Editor : Akrom Hazami

Wacana Penghapusan Bus Peziarah ke Makam Sunan Muria, Dishub : Angkutan Umum Bakal Ditata 

bus muria 2 oke

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto dan kiri adalah salah satu bus peziarah makam Sunan Muria sedang diparkir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Wacana larangan bus wisata ke kawasan sunan Muria, bakal berdampak pada angkutan umum yang membawa peziarah ke lokasi. Untuk itu, Pemkab Kudus akan menata  angkutan umum pengangkut peziarah tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto mengatakan, jumlah angkutan di Kudus mencapai angka sekitar 600 unit. Jumlah tersebut merupakan keseluruhan angkutan umum dari berbagai trayek di Kudus.

“Kami akan tata semuanya. Penataan awal adalah kondisi angkutan umum yang harus benar-benar layak. Jika tidak maka akan membahayakan penumpang,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus, Jumat (13/1/2017).

Menurutnya, hal itu tidak bisa ditawar lagi. Melihat medan yang ekstrim dengan penuh tanjakan, maka angkutan umum harus layak. Cara paling gampang, adalah dengan melihat usia angkutan. Jika angkutan usianya di bawah tahun 1992, maka pihaknya melarang untuk beroperasi.

Kata Didik, Hal itu bukan semata-mata hanya faktor usia angkutan samata. Namun juga dengan adanya aturan dari pemerintah pusat terkait trayek angkutan yang mana berbunyi larangan beroperasi.

“Kami tidak akan membuka pintu untuk sopir angkutan baru. Hanya, jika pemilik angkutan lama masih ingin narik, maka silakan angkutan diperbaharui dulu. Karena kembali keselamatan dan kenyamanan penumpang adalah hal yang utama,” ungkapnya.

Ditambahkan, dengan adanya trayek baru nanti. Maka angkutan yang selalu mengeluh sepi akan dapat pemasukan. Sebab peziarah makam Sunan Muria pasti ramai sehingga angkutan bakalan laku. “Kami akan bahas lebih lanjut lagi tentang penataan. Kami juga harus komunikasi dengan pihak-pihak yang terkait lainnya,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Bus Peziarah dari Muria Kudus Diwacanakan Dihapus

Bus peziarah melintas ke kawasan makam Sunan Muria di Kabupaten Kudus, Jumat (13/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bus peziarah melintas ke kawasan makam Sunan Muria di Kabupaten Kudus, Jumat (13/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus, mewacanakan penghapusan kendaraan jenis bus peziarah ke kawasan Muria. Dishuh menuturkan alasan penghapusan bus peziarah, karena memenuhi badan jalan. Bus tersebut menghambat arus lalu lintas.

Kepala Dinas Perhubungan, Didik Sugiharto mengatakan, pihaknya melihat lebar jalan menuju ke wilayah makam Sunan Muria sudah sesak jika dilintasi satu kendaraan bus saja. Jika terjadi simpangan antarbus, maka jalan kerap tak muat, bahkan mepet. Untuk itu, langkah larangan bus wisata dan peziarah ke Muria dianggap sebagai solusi.

“Kalau jalan dilebarkan sudah sulit, jadi solusinya ya bus tidak boleh naik ke Muria. Karena satu bus saja sudah menghabiskan jalan karena ukuran yang besar. Apalagi saat di belokan,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus, Jumat (13/1/2017).

Menurutnya, keselamatan penumpang jelas menjadi hal yang diutamakan. Kebijakan tersebut juga mendukung kenyamanan para peziarah ke makam Sunan Muria.  Dikatakan wacana tersebut bakal dilakukan tahun ini juga di 2017. Namun sebelum diujicobakan, terlebih dahulu harus dibuatkan skema penataan lalu lintas dan sosialisasi yang intens.

“Nantinya bus peziarah Sunan Muria akan berhenti atau parkir di terminal bakalan Krapyak. Kemudian, untuk naik ke atas akan digunakan angkutan umum ke wilayah atas,” jelasnya.

Cara semacam itu, akan lebih nyaman bagi peziarah. Sehingga kesan jalan Muria yang sesak tidak akan terjadi lagi seperti sebelumnya.

Editor : Akrom Hazami