KMPP Semarang Gencarkan Bakti Sosial di Kabupaten Pati

Mahasiswa KMPP Semarang berfoto bersama seusai kegiatan bakti sosial di Desa Klecoregonang, Winong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Keluarga Mahasiswa dan Pelajar Pati (KMPP) Semarang menggencarkan bakti sosial di sejumlah daerah di Kabupaten Pati. Salah satunya di Desa Klecoregonang, Kecamatan Winong.

Di sana, mereka berbaur dengan penduduk setempat dengan menggelar sarasehan, memberikan pelatihan budi daya jamur tiram, lomba anak-anak, pengajian umum, hingga membuat pasar murah dadakan.

Untuk membekali para pemuda setempat, KMPP juga mengadakan seminar kepemudaan yang menghadirkan alumni UIN Walisongo Semarang sebagai pemateri. Para pemuda diajak untuk mengeksplorasi apa yang dimiliki, baik sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) di sekitarnya.

Ketua KMPP Semarang Zainul Muttaqin mengatakan, bakti sosial menjadi wujud kepedulian mahasiswa asal Pati yang kuliah di Semarang untuk kampung halamannya sendiri. Bakti sosial biasa digelar setiap tahun dengan lokasi yang berbeda.

“Bakti sosial sudah menjadi agenda rutin KMPP setiap tahun. Bentuknya beragam, bisa bagi-bagi sembako, pelatihan, pemberdayaan, keterampilan, dan tanam pohon. Semuanya didedikasikan untuk Kabupaten Pati,” ucap Zain, Selasa (1/8/2017).

Di Desa Klecoregonang, masyarakat menyambut antusias kegiatan bakti sosial. Kegiatan yang melibatkan karangtaruna setempat diharapkan bisa memberikan semangat bagi pemuda untuk aktif “membangun” desa.

Sementara itu, KH Mas’ud Alwi yang sempat mengisi acara pengajian memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang peduli kepada kampung halamannya. Menurutnya, mahasiswa yang peduli masyarakat masih jarang.

Karena itu, dia berharap agar KMPP bisa menjadi organisasi daerah (orda) berbasis mahasiswa yang terus menggelorakan semangat untuk kemajuan daerahnya. Dengan demikian, ilmu dan pengalaman yang dimiliki bisa ditularkan kepada pemuda yang belum berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi.

Editor : Akrom Hazami

4 Mahasiswa UMK Rancang Aplikasi Android Deteksi Dini Kanker Payudara

Tim perancang Sadari 3D Hologram Berbasis Android memperlihatkan rancangannya di Universitas Muria Kudus. (Dok UMK).

MuriaNewsCom, Kudus – Hingga kini, kanker payudara masih menjadi salah satu penyakit menakutkan bagi perempuan. Tak pelak, pengetahuan untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker payudara menjadi niscaya, sehingga bisa secepatnya diatasi jika ada gejala.

Uswatun Hasanah, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika (Prodi TI) Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus (FT UMK), mengutarakan hal itu, Kamis (6/7/2017). Untuk itulah, dia bersama tiga mahasiswa Prodi TI UMK lain, merancang sebuah aplikasi untuk melakukan deteksi dini kanker payudara.

Aplikasi yang disebutnya dengan ‘’Sadari 3D Hologram Berbasis Android’’ ini merupakan karyanya bersama Maulida Ni’matus Sholikhah, Muhammad Rieza Maulana dan Deni Kusuma Wijaya. ‘’Sadari’’ merupakan akronim ‘’Periksa Payudara Sendiri’’.

 

Menurut Uswatun Hasanah, ide membuat aplikasi ini, bermula dari salah satu anggota keluarga yang mengidap kanker payudara, dan baru diketahui setelah stadium dua. ‘’Dari sinilah, saya dan teman-teman kemudian mencoba merancang aplikasi ini,’’ tuturnya.

Harapannya, aplikasi ini bisa berkontribusi positif bagi masyarakat dalam memberikan pemahaman mengenai kanker payudara. ‘’Aplikasi ini sudah kami uji coba bersama dosen, mahasiswa, dan beberapa pihak lain,’’ katanya.

Muhammad Rieza Maulana, menambahkan, pembuatan aplikasi ini, mulai dari riset awal hingga jadi, sekitar empat bulan. ‘’Perancangan hingga finalisasi, dilakukan per Maret hingga Juni,’’ ungkapnya diamini Maulida Ni’matus Sholikhah dan Deni Kusuma Wijaya.

Untuk ke depan, Uswatun Hasanah dan teman-temannya, berharap agar aplikasi rancangannya bisa diakses oleh masyarakat luas. ‘’Ini berbasis android, sehingga ke depan diharapkan bisa diunduh melalui Google Play Store,’’ paparnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Mahasiswa UMK Ikuti Kegiatan Internasional di Luar Negeri

Rektor Dr Suparnyo bersama mahasiswa yang mengikuti kegiatan internasional di luar negeri di UMK. (Dok UMK)

MuriaNewsCom, Kudus – Sembilan mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) dipastikan mengikuti kegiatan internasional di luar negeri. Kepastian itu nampak melalui pelepasan yang dilakukan oleh pihak universitas di Ruang VIP Gedung Rektorat, Selasa (4/7/2017).

Pelepasan dilakukan oleh Rektor Dr Suparnyo dan dihadiri para pejabat teras UMK, antara lain Dr Subarkah Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama, Dr Slamet Utomo Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Dr M Arwani kepala Lembaga Informasi dan Komunikasi, dan para dosen pendamping. 

Empat dari sembilan mahasiswa akan mengikuti teaching internship program atau program praktik pengalaman lapangan (PPL) di tiga sekolah mitra Hatyai University, Thailand, yakni Hatyai Amnuaywit Technological College (ANW), Pitchalai Prepatory School (P.Prep) dan Mattayom Siriwanwaree 2 Rattapum (Siriwanwaree 2).

Mereka adalah Ulfa Aulia Nurzuliyan (Prodi Bimbingan dan Konseling/ BK), Ayu Puji Astuti dan Vega Afifah (Prodi Pendidikan Bahasa Inggris/PBI), serta Vivi Niswatuzzahro (Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar/ PGSD).

‘’Teaching internship program atau PPL ini, berlangsung cukup lama, yaitu 5 – 24 Juli. Selain PPL, mahasiswa juga akan ikut dalam perkuliahan dan melakukan aktivitas bersama mahasiswa Hatyai University,’’ ujar Diah Kurniati.

Dua mahasiswa, Heni Pratiwi (Prodi BK) dan Nur Maulida Fadliyani (Prodi PGSD), akan mengikuti university visit di Universitas Malaya, Malaysia. ‘’Kegiatannya antara lain academic discussion, cultural sharing dan school visit. Untuk kepastian waktunya, masih menunggu konfirmasi dari sana,’’ Diah menambahkan.

Sedang tiga mahasiswa Fakultas Pertanian, yaitu Drajat Puji Setiawan, Riza Ramadhani dan Ikhyari Fatati Noryana, dijadwalkan mengikuti Summer Program: Agri-Relationship of ASEAN Universities Network di Universitas Thaksin, Thailand, 17-31 Juli 2017.

Slamet Utomo, mengatakan, bahwa sebelum pelepasan, terlebih dahulu para mahasiswa yang akan mengikuti kegiatan internasional di luar negeri, diberi pembekalan terlebih dahulu.

‘’Mengikuti kegiatan internasional ini tugas yang tidak ringan, makanya sebelumnya diadakan pembekalan terlebih dahulu. Harapannya, kegiatan ini membawa berkah bagi semuanya dan bisa membawa UMK lebih baik,’’ paparnya.

Sementara Rektor Suparnyo mengingatkan, agar para mahasiswa senantiasa memegang ciri dan budaya bangsa Indonesia. ‘’Jangan sampai meninggalkan budaya bangsa yang santun, sopan dan toleran, karena budaya itu mencerminkan bangsa,’’ ungkapnya. 

Editor : Akrom Hazami

Mahasiswa UMK Kembangkan Frame Kacamata Berbahan Baku Kayu Skateboard

Frame kacamata berbahan baku kayu skateboard tampak diperlihatkan oleh mahasiswa UMK. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Sungguh kreatif yang dilakukan oleh Farid Hidayat (21), mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK), yang sejak lima bulan terakhir, mulai mengembangkan atau memproduksi frame kacamata berbahan baku kayu skateboard.

Mahasiswa UMK angkatan 2015 ini, memang memiliki darah sebagai pengusaha mebel, karena ia lahir dari orang tua yang menjalankan usaha di bidang perkayuan (mebel). Dari pengalaman bergelut dengan usaha orang tuanya itulah, ia kemudian mencoba hal yang baru, kendati masih berkutat dengan kayu sebagai bahan baku produknya.

‘’Alhamdulillah, dari beberapa produk yang sudah jadi, tiga sudah terjual. Dua kacamata dibeli oleh orang Bali, dan satu lagi dibeli oleh orang Malaysia. Untuk harga promosi, Saya patok Rp 800 ribu,’’ ujarnya.

Dia mengemukakan, untuk bahan baku frame kacamata yang diproduksinya, didapatkan dari relasinya dari berbagai kota. ‘’Kebanyakan bahan baku, Saya dapat dari teman di Semarang, Yogyakarta, dan Bali,’’ lanjutnya.

Farid Hidayat mengemukakan, sudah banyak orderan untuk produk kacamata yang dibuatnya itu. Hanya saja, menurut alumnus SMPN 2 Pecangaan dan SMAN 1 Pecangaan ini, tenaga produksi masih sangat terbatas.

‘’Dalam sepekan, rata-rata hanya bisa menyelesaikan dua kacamata, dan paling cepat maksimal tiga buah, karena ini murni hand made. Salah satu yang membuat produk ini mahal, selain bahan bakunya, juga karena murni hand made itu,’’ jelasnya.

Ke depan, putra pasangan (alm) Adi Ahmadi dan Siti Fatimah itu, akan mencoba membuat produk sejenis, namun dengan bahan baku berbeda. ‘’Suatu saat, Saya akan mencoba memproduksi frame kacamatan dengan kayu jati atau sonokeling. Untuk memberikan pilihan pada pelanggan,’’ katanya.

Editor : Akrom Hazami

Keren, Mahasiswa PGSD UMK Lakukan Aksi Tepuk Pramuka Terlama

tepuk tangan

Para mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK), melakukan tepuk prampuka terlama di kampus setempat, Sabtu pagi (28/1/2017). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi para anggota pramuka, melakukan tepuk pramuka dua atau tiga kali, menjadi hal yang lumrah atau sudah biasa. Tapi bagaimana jika tepuk pramuka itu dilakukan berulang-ulang, hingga ratusan kali?

Hal tersebut tentu tidak biasa. Namun, itulah yang dilakukan oleh para mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu pagi (28/1/2017).

Bertempat di lapangan basket kampus, para mahasiswa Prodi PGSD yang sedang mengikuti kegiatan Kursus Mahid Dasar (KMD) itu, melakukan tepuk pramuka ratusan kali selama 99 menit di bawah arahan para pelatih dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Kudus.

Suara tepuk pun membahana, dari para mahasiswa yang terbagi dalam 11 regu itu. Dalam pelaksanaannya, tepuk pramuka dilakukan dua kali memutar bergantian dari satu regu ke regu yang lain.

Lelah membayangi wajah-wajah para mahasiswa itu. Namun mereka tetap bertahan, dan dengan penuh semangat bertekad menyelesaikan ’pemecahan rekor tepuk pramuka terlama’ yang digagas oleh para pelatih KMD itu.

‘’Ini pertama kalinya ada pemecahan rekor tepuk pramuka terlama. Kami puas telah melakukan pemecahan rekor ini. Ini adalah sejarah, dan  kami akan mencatatnya di Kwarcab,’’ ujar pemimpin kursus, Akhmad Rifai.

Dia menyampaikan, pemecahan rekor tepuk pramuka terlama, ini digagas oleh tim pelatih, yang kemudian dikomunikasikan dengan pihak kampus dan Himpunan Mahasiswa (Hima) PGSD. ’’Pelaksanaan dilakukan sebelum upacara penutupan KMD,’’ jelasnya diamini Sumarni dan pelatih lain. 

Pemecahan rekor tepuk pramuka terlama ini dimulai pukul 09.10 WIB dan baru selesai pada 10.50 WIb. Setelah para pelatih memberikan aba-aba bahwa pemecahan rekor tepuk pramuka terlampaui, sekitar 99 menit, para mahasiswa pun meluapkan kegembiraan. ‘’Dua kali tepuk pramuka,’’ kata salah satu pelatih yang kemudian disambut tepuk pramuka secara serentak.

Diamini para pelatih, Rifai menyampaikan, belum pernah mendengar ada pemecahan rekor tepuk pramuka terlama. ‘’Untuk durasi waktu, mengapa kami mematok 99 menit, karena ada makna di balik angka itu. 99 menunjuk pada asma’ul husna,’’ paparnya.

Dia melanjutkan, pemecahan rekor ini, selain untuk memberikan semangat kepada para mahasiswa. ‘’Kami bangga dengan para mahasiswa peserta KMD PGSD UMK 2017 ini, yang telah bersemangat. Semoga ke depan bisa menjadi  kader bangsa pilihan, sukses dan berkarakter,’’ ujarnya.

Para mahasiswa yang terlibat dalam pemecahan rekor ini pun nampak senang. Agustina Putri Hardiyanti, misalnya. Mahasiswa semester V ini mengaku, kendati merasa kelelahan, namun tetep semangat. ‘’Telapak tangan pegel-pegel, tetapi bahagia dan senang bisa menjadi bagian dari pemecahan rekor tepuk pramuka terlama ini,’’ tegasnya.

Hal sama juga dikemukakan Khansa Shofa Yunita, mahasiswa lain. ‘’Ya, capek juga karena lama sekali tepuk pramukanya. Tetapi seneng, sih, bisa ikut ini. Kalau ada pemecahan rekor tepuk pramuka lagi, saya siap ikut lagi. He he …,’’ katanya sembari tersenyum.

Editor : Akrom Hazami

 

Cendekiawan Syiria Berbagi Pengetahuan Alquran kepada Mahasiswa UMK 

Cendekiawan muslim asal Syiria Dr Mahir Hasan Al-Munajjid mengutarakan hal itu dalam Halaqah Qur'aniyyah yang diselenggarakan oleh Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (20/1/2017).

Cendekiawan muslim asal Syiria Dr Mahir Hasan Al-Munajjid mengutarakan hal itu dalam Halaqah Qur’aniyyah yang diselenggarakan oleh Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (20/1/2017).

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi seorang muslim, bisa membaca Alquran adalah merupakan bagian dari nikmat (karunia) yang diberikan oleh Allah SWT. Sebab, tak sedikit juga orang Islam yang tidak bisa membacanya.

Cendekiawan muslim asal Syiria Dr Mahir Hasan Al-Munajjid mengutarakan hal itu dalam Halaqah Qur’aniyyah yang diselenggarakan oleh Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (20/1/2017). ‘’Bisa membaca Alquran merupakan nikmat yang luar biasa. Selain itu, Alquran juga membawa manfaat baik di dunia maupun di akhirat,’’ ujar Mahir dalam halaqah yang digelar di Aula Masjid Kampus UMK itu.

Dia pun mengutip pernyataan Imam Syafi’i, bahwa siapa saja yang ingin meraih kebahagiaan di dunia, maka dengan Alquran. Barang siapa yang ingin bahagia di akhirat, maka dengan Alquran. Dan barang siapa yang ingin bahagia di dunia maupun akhirat, ya dengan Alquran.

‘’Alquran bersama amal salih, adalah penolong kita kelak setelah menemui kematian (ajal),’’ tegasnya di hadapan sekitar seratus peserta halaqah yang terdiri atas pelajar, dosen, guru, hingga pengasuh pesantren.

Terkait hukum positif yang ada di Indonesia, dia melihat banyak yang untuk kemaslahatan (kebaikan) masyarakat meskipun tidak secara tegas mengambil sumber dari Alquran. ‘’Contohnya adalah Undang-Undang (UU) Lalu Lintas. UU ini adalah untuk kemaslahatan,’’ tuturnya.

Sementara itu, terkait makalah Alquran diturunkan dalam tujuh huruf (sab’atu ahruf), Mahir menilai bahwa yang dimaksud adalah tujuh dialek, sehingga kemudian dikenal ada qira’at sab’ah, bahkan ada qira’at asyrah.

‘’Namun ada dua syarat, siapapun yang hendak mempelajari baik qira’at sab’ah maupun qira’at asyrah, pertama harus benar-benar menguasai satu qiraat terlebih dahulu dan menguasai kitab Syathibiyyah,’’ jelasnya. 

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Mahasiswa Kudus Aksi Damai di Gedung DPRD

demoMuriaNewsCom, Kudus – Aliansi Mahasiswa Muhammadiyah Kudus, menggelar aksi 171, di halaman gedung DPRD Kudus, Selasa (17/1/2017). Aksi menuntut tingginya Tarif Dasar Listrik (TDL) yang dinilai tak pro rakyat.

Sebelumnya, mereka melakukan aksi di Alun-alun Kudus, siang tadi. Aksi damai tersebut, diikuti oleh puluhan mahasiswa. Di antaranya, BEM STIKES Muhammadiyah Kudus, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Kudus dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kudus.

Koordinator Lapangan Rowi Mashad, menyebutkan tingginya TDL merupakan kebijakan yang dianggap tak pro rakyat . “Kami menuntut agar TDL bisa diturunkan,” kata Rowi dalam orasinya.

TDL tersebut, kata dia, terlalu membebani masyarakat kecil. Mahasiswa berpendapat kebijakan itu perlu ditinjau kembali. Yang jelas, TDL harus turun biar rakyat tak terbebani.

Selain itu, tuntutan lain adalah untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Harga BBM sekarang sangat tinggi. Masyarakat resah dengan naiknya harga kebutuhan.

“Jika BBM naik, maka harga juga ikut naik. Itu jelas dan dapat membuat rakyat menjadi sengsara. Untuk itu tolak kenaikan BBM,” ucapnya.

Dalam audiensi di dewan, anggota DPRD Komisi C Mawahib mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti tuntutan mahasiswa. “Dalam rapat DPRD akan kami tindaklanjuti. Apa yang menjadi usulan dan tuntutan, saya tampung, dan kemudian akan kami bahas dalam rapat pembahasan,” kata Mawahib.

Dalam aksi tersebut, massa sempat melakukan orasi di depan pendapa Kudus. Kemudian dilanjut dengan mengelilingi Alun-alun Kudus dan akhirnya long march ke DPRD.

Aksi diikuti sampai dengan 100 mahasiswa. Aksi dimulai sekitar pukul 09.41 WIB hingga 11.45 WIB. Massa bubar setelah dari gedung DPR D.

Editor : Akrom Hazami

PGSD Cup Rangsang Kreativitas Mahasiswa UMK

Mahasiswa melakukan kegiatan kreativitas di Universitas Muria Kudus (UMK). (ISTIMEWA)

Mahasiswa melakukan kegiatan kreativitas di Universitas Muria Kudus (UMK). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Aktivitas menarik dilakukan para mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK), dalam mengisi liburan semester.

Mengisi liburan semester ini, para mahasiswa menggelar PGSD Cup 2017 di Auditorium UMK, Senin-Jumat (9-13/1/2017). Ada empat lomba yang digelar oleh panitia, yakni Himpunan Mahasiswa (Hima) PGSD. Empat lomba itu adalah Drama Musikal, PGSD Cerdas (Cerdas Cermat), Futsal Putra dan Voli Putri.

Bayu Noor Wicaksono, ketua panitia, mengatakan, PGSD Cup telah menjadi agenda rutin yang dilaksakan Hima setiap kali usai semesteran. ‘’Tujuannya mempererat silaturahmi dan harmoni antarmahasiswa,’’ katanya.

Dia menambahkan, selain mempererat silaturahmi dan harmoni antarmahasiswa PGSD, juga untuk menggali potensi para mahasiswa, khususnya di bidang seni. ‘’Potensi mahasiswa di bidang seni mahasiswa Prodi PGSD sangat beragam. Ini bisa dilihat dari penampilan-penampilan apik dalam PGSD Cup 2017 kali ini,’’ ucapnya.

Ya, penampilan-penampilan apik mahaisswa PGSD UMK dalam even ini, bisa dilhat dari suguhan drama musikal yang dipersembahkan pada hari pertama, antara lain “Toleransi” (kelas 5 F); “Stop Bully” (kelas 5 D); dan drama musikal “Laskar Pelangi” (kelas 3 A).

“Untuk drama musikal di hari pertama PGSD Cup 2017, diikuti sekitar 20 kelompok. Peserta sendiri merupakan semua mahasiswa dari semester I – VII,’’ lanjut Bayu menambahkan diamini M. Abdul Aziz, Ketua Himas PGSD.

Ika Oktavianti M.Pd. mewakili ketua Prodi PGSD, Yuni Ratnasari S.Si. M.Pd., berharap, selain menggali potensi dan kreativitas, mahasiswa juga dididik untuk berkompetisi. ‘’Dalam kompetisi, ada hal yang mesti dipahami, yakni sportivitas. Sportivitas ini menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa,’’ katanya.

Editor : Akrom Hazami

Mahasiswa FKIP UMK Harus Berani  Lakukan Terobosan

Salah satu pembicara, Agus Siswanto, guru Bahasa Inggris SMK Taman Siswa, saat berbicara di depan mahasiswa FKIP UMK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu pembicara, Agus Siswanto, guru Bahasa Inggris SMK Taman Siswa, saat berbicara di depan mahasiswa FKIP UMK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Diskusi bertajuk Guru dalam Berbagai Persepsi di Aula Masjid Darul Ilmi yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK)  Selasa (3/1/2016) berlangsung meriah. 

Salah satu pembicara, Agus Siswanto guru Bahasa Inggris SMK Taman Siswa meminta mahasiswa UMK untuk berani melakukan terobosan dalam belajar Bahasa Inggris. Salah satunya dengan bertanya langsung ataupun menggunakan metode yang tak lazim untuk meningkatkan kemampuan.

”Saya dulu menjadi mahasiswa sambil membawa radio. Radio itu saya gunakan untuk mendengarkan siaran dari VOA. Dari situ saya belajar untuk memulai berbicara Bahasa Inggris,” kata guru yang juga mengajar Bahasa Mandarin tersebut.

Hasilnya, baik pelafalan dan perbendaharaan katanya bertambah. Hasilnya, beberapa kata yang sulit, berhasil dikuasainya melalui radio. ”Artinya tak perlu hal yang mahal untuk mempertajam skill,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Agus, mahasiswa juga harus lebih berani untuk mengikuti kegiatan kampus. Salah satunya bergabung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Tujuannya, mahasiswa memiliki kemampuan yang kompleks dan serba bisa.

”Realita yang ada di lapangan, guru yang dibutuhkan adalah mereka yang serba bisa. Kalau tidak, kalian akan kalah dengan yang lain. Terlebih saat ini sudah mulai berlaku Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),” terangnya.

Ia pun berpesan, mahasiswa bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan zaman dari sekarang. Dengan begitu, lulusan UMK akan semakin terakui kualitas dan kredibilitasnya. ”Ini juga untuk mereka yang bercita-cita di luar guru. Karena profesinya beragam, maka semua harus dipersiapkan dari sekarang,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

Kembangkan Skill, Lulusan FKIP UMK Tak Harus Jadi Guru

Salah satu pembicara, Supriyadi yang berprofesi sebagai wartawan Koran Muria saat berbicara dalam kegiatan diskusi di FKIP UMK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu pembicara, Supriyadi yang berprofesi sebagai wartawan Koran Muria saat berbicara dalam kegiatan diskusi di FKIP UMK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Diskusi bertajuk Guru dalam Berbagai Persepsi di Aula Masjid Darul Ilmi yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK)  Selasa (3/1/2016) berlangsung meriah.

Salah satu pembicara, Supriyadi yang berprofesi sebagai wartawan Koran Muria menegaskan jika lulusan FKIP tak harus jadi guru. Ia pun meminta mahasiswa untuk membuka mata dan memaknai arti kata guru lebih luas.

”Meski belajar di FKIP, tapi lulusan Progdi Bahasa Inggris tak harus jadi guru. Semua profesi bisa jadi guru, contohnya wartawan. Mereka mencari berita dan menyajikannya kepada publik. Tujuannya supaya masyarakat bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk,” katanya.

Sedangkan untuk pengembangan profesi, ia menyebut banyak profesi yang bisa diambil untuk mahasiswa FKPI terutama Progdi Bahasa Inggris. Beberapa di antaranya sebagai pelaku bisnis advertising, tour guide, penerjemah, hingga seorang kontraktor.

”Syaratnya satu, mereka harus menguasai Bahasa Inggris dengan maksimal. Dengan begitu semua bisa diraih. Apalagi saat ini Indonesia sedang menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),” terangnya.

Untuk itu, ia meminta mahasiswa untuk lebih aktif memperbarui informasi dan isu yang beredar di masyarakat. Hal itu sangat penting sebagai modal memahami kebutuhan masyarakat. ”Dengan dibukanya MEA, persaingan semakin terbuka lebar. Karena itu kita harus siap. Apalagi bekal kita sudah ada, yakni Bahasa Inggris,” tandasnya.

Meski begitu, ia juga berpesan untuk tetap menjunjung tinggi ilmu keguruan yang dimiliki. Salah satunya menjadi guru bagi para pelanggan. Caranya, dengan menjunjung tinggi kejujuran. Hal itu akan membuat nilai lebih bagi pelanggan yang berasal dari berbagai kalangan. ”Jadi nilai-nilai sebagai guru tetap terjaga. Meski profesi kita berbeda dari jurusan yang kita ambil, bukan berarti nilai-nilai tersebut hilang. Itulah sebabnya semua bisa menjadi guru,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

FKJ PMII Jepara Peringati Hari HIV/AIDS Sedunia

Perwakilan dari Forum Kajian Jender PMII Jepara mengadakan kegiatan peringatan Hari HIV/AIDS se-dunia. (ISTIMEWA)

Perwakilan dari Forum Kajian Jender PMII Jepara mengadakan kegiatan peringatan Hari HIV/AIDS se-dunia. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Forum Kajian Jender PMII Jepara mengadakan kegiatan peringatan Hari HIV/AIDS se-dunia di bundaran Tugu Kartini, Rabu (30/11/2016) lalu.

Ketua FKJ PMII Jepara Uswatun Hasanah mengatakan, pihaknya memperingati Hari HIV/AIDS setiap tahun. Salah satunya, FKJ PMII mengadakan pementasan teater yang dimainkan oleh Sanggar Seni Eling.

“Kami juga mengadakan pembagian liflet di bundaran Tugu Kartini. Selain juga ada penampilan teater S.S Eling PMII Jepara yang berjudul “ Aku Seperti Kalian” pada malamnya,” kata Uswatun di rilis persnya.

Tidak ketinggalan juga FKJ mengajak masyarakat Jepara untuk menulis segala harapan untuk kota setempat. Khususnya orang dengan HIH (ODHA) agar diperhatikan dan didukung, untuk bersama memajukan Jepara  jadi lebih baik.

Kegiatan yang bertemakan “Aids Membunuhmu” diharapkan bisa menggugah kesadaran masyarakat agar waspada dan hati-hati untuk tidak mendekati segala hal yang memungkinkan terjangkit virus yang belum ada obatnya itu.

Pihaknya juga menerangkan bahwa kegiatan dimulai dengan mengadakan roadshow di beberapa sekolah  di Jepara pada 16 dan 19 November di SMKN 1 Bate Alit Jepara dan MA Nurul Muslim serta Forum Pemuda Pancasila, bekerja sama dengan BPPKB Jepara dan DUMAS GENRE Jepara (Siti Humaidah Ariyani).

“Materi yang disampaikan pada kegiatan itu adalah penyebab angka tertinggi kasus HIV di Jepara,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Jangan Ngaku Mahasiswa Akuntansi UMK Kalau Tak Paham Bisnis Perbankan

Gemi Suharyati dari Bank Jateng menjelaskan soal dunia perbankan di kalangan mahasiswa Program Studi (Prodi) Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (UMK). (ISTIMEWA)

Gemi Suharyati dari Bank Jateng menjelaskan soal dunia perbankan di kalangan mahasiswa Program Studi (Prodi) Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (UMK). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (UMK), diharapkan memahami proses bisnis di dunia perbankan. Terkait itulah, pihak Prodi menyelenggarakan perkuliahan tamu dengan menghadirkan praktisi perbankan, Kamis (24/11/2016).

Didaulat sebagai narasumber dalam perkuliahan tamu yang diikuti tak kurang dari 80 mahasiswa Prodi Akuntansi itu, Gemi Suharyati dari Bank Jateng. ‘’Perkuliahan tamu dengan menghadirkan praktisi perbankan dari Bank Jateng, ini agar mahasiswa memiliki kemampuan di bidang akuntansi, baik teori maupun praktik,’’ ujar Mochamad Edris,  Dekan Fakultas Ekonomi saat membuka acara di rilis persnya.

Dalam perkualiahan umum yang diselenggarakan di Ruang Seminar Lantai IV Gedung Rektorat itu, dia mengemukakan, kegiatan merupakan salah satu bentuk pengejawantahan dari kurikulum yang telah ditetapkan Prodi.

‘’Akuntansi harus bisa mengikuti perkembangan, termasuk perkembangan teknologi yang ada sekarang ini. Karena itulah, pemahaman akuntansi perbankan dalam dunia kerja dipandang penting, dan mahasiswa harus benar-benar memahaminya,’’ tegasnya.

Gemi memaparkan, bahwa seorang petugas di bidang akuntansi, paling tidak harus memahami dan menguasai peraturan, memahami proses bisnis Bank, dan mengetahu risiko yang melekat dalam bisnis ini.

‘’Maka dari itu, pahami Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait tugas yang melekat, dalam hal ini adalah sebagai petugas di bidang akuntansi,’’ terangnya di depan para peserta perkuliahan tamu yang hadir saat itu.

Lebih jauh, dia juga menyampaikan mengenai berbagai hal terkait, antara lain mengenai cadangan kerugian yang wajib dibentuk dihitung berdasarkan tarif, tentang penilaian kualitas aset bank, hingga bagaimana membuat laporan untuk keperluan publikasi.

Editor : Akrom Hazami

 

Menristek RI: Mahasiswa Jangan Hanya Bekerja di Indonesia, Mari Kuasai Luar Negeri

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Muhammad Nasir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Muhammad Nasir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Muhammad Nasir, mendorong mahasiwa UMK untuk tidak berpikir mencari pekerjaan dalam negeri saja. Melainkan, para lulusan dapat berpetualang dengan bekerja sebagian tenaga kerja andal di negara lain.

Hal itu disebutkan, lantaran MEA sangat dipengaruhi oleh mahasiswa atau warna negara. Jika hanya berkeinginan bekerja dalam daerah masing masing saja, maka negara tersebut akan tertinggal dengan negara lain.

”Jangan hanya berpikir setelah lulus hanya bekerja di Indonesia atau malah hanya di Kudus. Kuasai negara lain dengan menjadi tenaga kerja yang andal di sana,” katanya, Senin (16/5/2016)

Menurutnya, saat ini negara negara lain sepeti Malaysia, Singapura, Thailand serta negara asia lain sudah mulai berdatangan menjadi tenaga kerja di Indonesia. Dengan demikian, otomatis saingan dalam bekerja dalam negara semakin banyak.

Harapan adanya persebaran tenaga asal Indonesia ke luar negeri sangatlah mungkin. Terbukti, beberapa negara luar terdapat tenaga ahli asli Indonesia.

”Seperti halnya di Swedia, di sana ada dosen asal Indonesia, bahkan sudah menjadi professor. Begitupun negara lain juga demikian, ditemui terdapat warga negara Indonesia yang menjadi tenaga ahli,” ujarnya.

Untuk itu, pemeritah juga memiliki tugas dalam meningkatkan kualitas dan mutu lulusan. Hal itu, dilakukan dengan berbagi hal, mulai dari menyemangati mahasiwa dan meningkatkan kualitas dosen

“Kami ada 2 ribu beasiswa di dalam negeri, sedangkan untuk ke luar negeri ada 300an. Kalau ada dosen atau lulusan yang berminat silakan mendaftar,” ujarnya.

Dia merencanakan dosen minimal memiliki pendidikan S3. Dengan demikian ilmu yang didapat lebih banyak dan berpengalaman.

Sedangkan pemerintah memfasilitasi lain dengan mempercepat proses menjadi guru besar. Jika sebelumnya proses memakan waktu tiga bulan, maka sekarang cukup dua pekan.

Editor: Supriyadi

Ribuan Mahasiswa Kudus Terkena “Sempurnanya” Musik Akustik

Akustik Band, Band asal UMK menyanyikan lagu Sempurna di panggung Fasbu, di Auditorium Universitas Muria Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Akustik Band, Band asal UMK menyanyikan lagu Sempurna di panggung Fasbu, di Auditorium Universitas Muria Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ribuan mahasiwa asal UMK dan STAIN, malam ini tengah menikmati alunan musik akustik dari pegiat seni dari masing-masing kampus tersebut. Bahkan, mereka tak jarang menyuarakan suaranya mengikuti lagu yang didendangkan.

Seperti halnya lagu Sempurna yang dipopulerkan oleh Andra n The Back Bon serta dipopulerkan lagi oleh Gita Gutawa. Pada saat lagu itu dinyanyikan, ribuan pengunjung yang hadir dalam Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBUK) juga mengikuti musik dengan ikut bernyanyi yang dibawakan Akustik Band karya mahasiswa UMK.

Selain lagu tersebut, pertunjukan malam ini Selasa (23/2/2016) juga berlangsung dengan banyak lagu lainnya. Sebab penampilan bukan hanya dari UMK saja, melainkan dari STAIN juga tampil.
Arifin, panitia penyelenggara dari FASBUK mengatakan, pentas malam ini merupakan apresiasi sastra kampus. Pesertanya adalah delegasi STAIN yang memiliki nama SMS. ”SMS itu STAIN musik studio mereka biasa fokus di paduan suara dan band, namun pada Ruang FASBUK kami mengharapkan mereka berkarya lewat musikalisasi puisi ciptaan mereka,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, Saiful Huda seorang anggota teater kampus, juga diberi ruang untuk membaca cerpen dengan ide gagasannya sendiri. Tidak hanya itu, penampilan dari Teater Obeng asal TI UMK juga semakin memeriahkan pementasan pada malam ini.

Arifin mengatakan, meski banyak yang pentas dari mahasiswa STAIN, namun lokasi pementasan dilakukan di auditorium UMK. Hal itu tidak menjadi persoalan, sebab mereka menggunakan mama FASBUK, jadi pelaku seni diapresiasi.

”Tiap bulan ada pementasan. Dan temanya juga berubah-ubah. Bulan kemarin menampilkan pertunjukan teater, pada bulan ini lebih ke seni musik,” ungkapnya.

Rencananya, tahun depan akan dilakukan apresiasi yang sama. Namun pertunjukan yang disuguhkan adalah tari. ”Masih sebatas rencana, mudah-mudahan dapat lancar seperti malam ini juga,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Mahasiswa Undip yang Ikuti KKN di Jepara Diminta Dapat Melakukan Pendampingan Terhadap Masyarakat

Bupati Jepara secara simbolis melepas mahasiswa Undip yang mengikuti KKN di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Bupati Jepara secara simbolis melepas mahasiswa Undip yang mengikuti KKN di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Universitas Diponegoro (Undip) Semarang kembali menggelar Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah Kabupaten Jepara. Kali ini tema yang diambil adalah “Pengembangan Program KKN Multidisiplin”. Program ini mengacu pada kewajiban peserta KKN untuk menelaah data, sekaligus memberikan pendampingan masyarakat.

KKN Undip di Jepara diikuti 511 mahasiswa dari 11 Fakultas yang nantinya bakal tersebar di 43 desa, yang meliputi Kecamatan Kembang tersebar di 11 desa dan diikuti 127 mahasiswa. Kemuidan di Kecamatan Donorojo ada 128 mahasiswa di 8 desa, Kecamatan Keling 128 mahasiswa di 12 desa serta Kecamatan Bangsri 128 mahasiswa tersebar di 12 Desa. Para peserta melaksanakan KKN selama 35 hari, mulai 19 Januari hingga 23 Februari 2016.

Acara pelepasan dan serahterima secara resmi dilakukan pihak Rektorat Undip kepada Bupati Jepara di Pendopo Kabupaten, Selasa (19/1/2016). Rektor Undip yang diwakili Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Redyanto Nur menuturkan, program KKN ini bersifat wajib dan alternatif.

“Program wajib bagi kelompok tiap desa adalah pendataan dan analisis situasi tentang UMKM. Sementara program multidisipliner alternatif adalah pendampingan masyarakat. Meski terkesan alternatif, namun pendampingan masyarakat sangat penting. Karena mahasiswa akan mendapatkan kesempatan transfer pengetahuan dalam mendukung program pemberdayaan. Seperti mendorong terciptanya infrastruktur pemukiman yang berkerjasama dengan Kementerian PU dan Perumahan Rakyat,” terangnya.

Disamping itu juga, lanjutnya, pembentukan pos pemberdayaan keluarga (Posdaya) juga terdapat program pilihan lain, seperti pemberdayaan wilayah, eksplorasi SDA dan konservasi lingkungan, pengembangan SDM hingga penerapan teknologi tepat guna.

“Pada pelaksanaan KKN ini, program alternatif dilaksanakan di 6 desa di Kecamatan Keling. Meliputi Desa Kunir, Watuaji, Tunahan, Keling, Kelet dan Kaligarang. Dengan program baru ini, diharapkan peserta KKN mendapatkan pengalaman langsung. Khususnya dalam penerapan ilmu yang didapat dibangku perkuliahan dengan realita kehidupan sosial dalam masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengingatkan, bahwa KKN bukan hanya sekedar pelatihan dan aplikasi pelajaran selama di bangku kuliah saja.

“Ilmu yang bermanfaat itu manakala dapat dicerna, dipahami, dimasukkan dalam hati dan diakhiri dengan pengamalan. Yang terpenting lagi, soft skill akan lebih bermakna manakala didampingi dengan akhakul karimah atau budi pekerti yang luhur,” ujarnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Inilah Kronologi Jatuhnya Mahasiswa Baru UMK

Mahasiswa yang terjatuh dari kampusnya, Universitas Muria Kudus (UMK), di RS Mardi Rahayu Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Mahasiswa yang terjatuh dari kampusnya, Universitas Muria Kudus (UMK), di RS Mardi Rahayu Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Jatuhnya mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus (UMK), disebabkan dengan adanya lift yang masih rusak.

Hal itu diungkapkan, Supriyono, dosen UMK Fakultas Teknik. Menurutnya mahasiswa tersebut awalnya berlarian dari lantai satu hingga lantai tiga, sehingga mahasiswa tersebut jatuh dari lantai III.

“Mahrus Faruq Maulana (18), awalnya lari dari lantai satu hingga lantai III bersama empat teman lainnya. namun di sana dia melihat lift dan langsung membukanya. Namun apes, lift yang memang belum jadi, langsung membuat mahasiswa semester satu itu jatuh,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, pihak kampus telah memberi tanda peringatan terkait lift yang rusak. Hal itu bertujuan agar mahasiswa tidak menggunakannya karena memang belum dapat digunakan.

Akibat jatuh dari gedung itu, Mahrus mengalami luka di kepala bagian belakang sebelah kiri. Orang tua juga sudah langsung dihubungi dan kini mereka masih menjaga anaknya di rumah sakit.

“Kami langsung membawanya ke rumah sakit dengan kendaran kampus, untuk dirawat,” jelasnya.

Bagian Humas UMK, Harun menjelaskan, mahasiswa masih dalam keadaan sadar ketika jatuh. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan pihak rumah sakit, juga tidak menunjukkan luka yang serius terhadap mahasiswa semester awal tersebut.

“Kondisinya masih sadar, sekarang dalam perawatan di rumah sakit dan dalam penanganan di sana,” katanya.

Menurutnya, saat kejadian berlangsung mahasiswa tersebut berada di lantai tiga dari gedung lima lantai yang berada di sana. Hanya, saat di depan lift yang masih tertutup mahasiwa tersebut membuka hingga akhirnya jatuh.

“Liftnya masih belum dapat digunakan. Selain itu juga, lift dalam keadaan tertutup. Keterangan bahwa lift belum dapat dipakai juga sudah ada di sana,” jelasnya.

Juru bicara UMK, Rosidi, juga membantah sejumlah kabar yang terlanjur beredar di media sosial, bahwa korban sebanyak empat orang.

”Kami ingin memastikan bahwa yang terjatuh hanya Mahrus saja. Tidak benar kalau kemudian ada kabar yang menyebutkan jika ada empat orang yang terjatuh dalam peristiwa itu,” imbuhnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Tragis, Mahasiswa Baru UMK Jatuh dari Lantai 3 Kampus

Mahasiswa yang terjatuh dari kampusnya, Universitas Muria Kudus (UMK), di RS Mardi Rahayu Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Mahasiswa yang terjatuh dari kampusnya, Universitas Muria Kudus (UMK), di RS Mardi Rahayu Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Seorang mahasiwa Universitas Muria Kudus (UMK), jatuh dari gedung kampusnya. Yakni lantai 3 Gedung J Fakultas Tehnik UMK, Kamis, (8/10). Akibat jatuh dari ketinggian, mahasiswa tersebut mengalami luka yang serius.

Hendi, teman korban mengatakan, korban bernama Mahrus Faruq Maulana (18), mahasiswa semester satu yang kuliah di jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UMK. Dia terjatuh dari bangunan lantai empat saat hendak menggunakan lift gedung tersebut.

“Kejadian sekitar pukul 15.00 WIB sore tadi. Saat kejadian saya tidak tahu langsung hanya setelah jatuh, saya mengantarkan teman saya yang dilarikan ke Rumah Sakit Mardi Rahayu,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom.

Menurutnya, mahasiwa asal Pati tersebut mengalami luka yang serius sehingga harus dirawat di rumah sakit di ruang UGD.

Berdasarkan pantauan, kondisi korban mengalami luka yang parah. Sebab hingga kini masih belum sadar dan mendapatkan perawatan di UGD. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Puluhan Mahasiswa Akbid Bakti Utama Pati Keracunan Usai Buka Bersama

Kampus Akbid Bakti Utama yang beralamat di Jalan Ki Ageng Selo 15, Desa Blaru, Kecamatan Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Kampus Akbid Bakti Utama yang beralamat di Jalan Ki Ageng Selo 15, Desa Blaru, Kecamatan Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

PATI – Sebanyak 25 mahasiswa Akademi Kebidanan (Akbid) Bakti Utama, Pati, mengalamai keracunan makanan saat menggelar acara buka bersama. Mereka yang keracunan merupakan mahasiswa yang menempati asrama yang disediakan pihak kampus. Lanjutkan membaca