Ruas Jl Ki Mangun Sarkoro Tersendat, Ini Yang Dilakukan Dishub Jepara

Ruas Jl. Ki Mangun Sarkoro, Kelurahan Panggang,Jepara selalu saja padat, terutama bila jam masuk dan pulang sekolah. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Ruas Jl. Ki Mangun Sarkoro, Kelurahan Panggang,Jepara selalu saja padat, terutama bila jam masuk dan pulang sekolah. Selain aktivitas antar jemput, di ruas tersebut pun terdapat perkantoran pemerintah dan beberapa tempat makan yang menjadikan sisi kanan kiri jalan dijadikan tempat parkir darurat. 

Hal itu tentu menimbulkan ketidaknyaman bagi pemakai jalan. Seperti yang dialami oleh Toto, ia mengaku kepadatan arus di ruas tersebut memang kerap terjadi. 

“Ya kalau jam segini (12.30 WIB) selalu padat, sehingga agak tersendat bila melalui arus ini,” tutur dia, Selasa (25/7/2017). 

Perlu diketahui, selain SDN Panggang 01, di sana juga terdapat kompleks perkantoran seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, BPBD Jepara dan instansi lain yang bertugas melayani warga. 

Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara Soleh Sudarsono mengungkapkan, pada ruas tersebut memang kerap terjadi kepadatan ketika jam sekolah. Upaya pengendalian pun telah dilakukan, dengan memasang rambu peringatan. 

“Untuk rambu anak sekolah dan marka sudah kami pasang di sana. Di ruas tersebut, kami juga memberlakukan satu arah, untuk kendaraan dari perempatan rumah makan rengkot buyut, tak boleh ke barat,” ujarnya. 

Menanggapi masih banyaknya kendaraan yang nekat melewati jalur tersebut (dari timur ke barat) ia mengaku sudah berkoordinasi dengan polisi. Soleh menyebut sudah ada rapat koordinasi dengan pihak berwenang. 

“Kalau ada pelanggaran rambu, kami minta petugas kepolisian melakukan penindakan. Hal itu agar di masyarakat tercipta budaya tertib,” tambahnya. 

Menurut dia, bukan hanya ruas Jl Ki Mangun Sarkoro yang mendapatkan sorotan. Pada simpang Jl Sutomo dengan Jl Veteran dan Jl A.R. Hakim tepatnya di SD Kanisius Jepara, juga terjadi hal serupa. Guna mengatasi hal tersebut, pihak Dishub Jepara berncana memasang lampu lalulintas. 

“Pada perempatan Kanisius juga dalam taraf pemasangan lampu lalu lintas. Di sana juga saat jam sibuk agak tersendat, namun selepas itu kembali normal. Hal itu menjawab permintaan masyarakat, walaupun sebenarnya pada kondisi tertentu ya lengang-lengang saja disitu,” jelas Soleh.

Disinggung mengenai kemungkinan pemberlakuan jalan searah mengingat kepadatan lalu lintas, Soleh menjelaskan melihat kebutuhan yang ada. Di samping itu, pihaknya akan melihat masukan dari masyarakat. 

Editor : Kholistiono

Traffic Light Portable, ‘Jurus’ Polisi Grobogan Atasi Kemacetan saat Arus Balik Lebaran

Petugas lalu lintas membantu mengamankan arus balik Lebaran di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kesibukan personel keamanan di Grobogan makin meningkat pasca lebaran. Hal ini seiring naiknya kendaraan arus balik yang melewati wilayah tersebut dan berpotensi menyebabkan kemacetan lalu lintas.Guna mengatasi kemacetan, ada upaya lain yang dilakukan jajaran kepolisian disamping menyiagakan personil di lapangan. Yakni, menggunakan traffic light portable.

Alat ini ditempatkan di pertigaan dan perempatan jalur utama yang belum ada traffic light permanen dan berpotensi macet. Khususnya di jalur Purwodadi menuju Semarang yang tingkat kepadatan arusnya cukup tinggi.

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano menyatakan, cara kerja alat itu sama dengan traffic light di perempatan jalan. Namun konsepnya dibuat sederhana dengan desain portabel. Tujuannya, agar bisa dipindah-pindah dan mudah penggunaannya.

“Adanya alat ini sangat membantu untuk mengurai kemacetan. Selain mudah dibawa ke mana-mana dan ditempatkan sesuai kebutuhan, alat ini juga tahan terhadap cuaca panas dan hujan. Sebab, program di lampu tersebut mudah di-setting kembali dan lebih awet penggunaannya,” jelasnya, Rabu (28/6/2017).

Cara kerja lampu portable ini persis dengan traffic light permanen. Tiga lampu yang berwarna hijau, kuning dan merah bergantian menyala sesuai durasi waktu tertentu.

Alat ini ukurannya mini. Tingginya sekitar 1,5 meter. Bentuknya masih sederhana. “Alat ini kita pasang di beberapa titik di jalur utama,” imbuh Satria.

Editor: Supriyadi

Hindari Titik Macet Tahun Baru di Kudus Ini

Kendaraan terjebak di salah satu ruas di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

Kendaraan terjebak di salah satu ruas di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Jalur persimpangan yang terdapat di Kudus, pada malam pergantian tahun diprediksi bakalan padat pengguna jalan. Hal itu disebabkan banyaknya masyrakat yang memilih keluar ketimbang tetap berada di rumah.

“Pada malam Tahun Baru, masyarakat memilih keluar. Maka jalur akan padat. Khususnya daerah perkotaan. Ini perlu pengamanan supaya pengguna jalan juga lancar,” kata Wakapolres Kudus Kompol Yunaldi kepada MuriaNewsCom.

Jalur yang diwaspadai macet ada di beberapa titik. Di antaranya, perempatan Jember, perempatan Kojan, pertigaan Pentol, dan sebagainya. Jalur persimpangan di masing masing kecamatan juga dijaga petugas kepolisian.

Polisi juga akan mengurai massa jika dinilai sudah menggangu kelancaran arus lalu lintas. Selain itu jika ada perusuh, maka petugas juga tidak akan segan menindak.

“Jangan sampai akhir tahun dan awal tahun ini dengan kejelekan, kita ciptakan suasana yang aman dan kondusif, supaya bermakna,” tambahnya.

Termasuk jika ada yang melanggar lalu lintas atau melanggar aturan, polisi tidak akan segan untuk menertibkan. Sebab polisi akan memberikan rasa aman kepada masyarakat.

“Seperti minum-minuman keras misalnya. Kami juga akan menindaknya,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Perempatan Panjang Macet Parah

7 (E)7884962782macet2KUDUS – Perempatan Desa Panjang, Kecamatan Bae, mengalami macet yang parah, Selasa (28/7/2015). Kemacetan terjadi lantaran adanya perbaikan jalan akses kendaraan hanya dibuka sebagian.

Berdasarkan pantauan, selain jalan yang hanya dibuka sebagian, kendaraan dari berbagai arah saling menyerobot. Jalan yang berada di perempatan tersebut sempat macet total.

Selain itu, lampu merah yang hanya menyala beberapa detik tidak cukup membuat kendaraan yang melintas sampai di seberang. Sebab banyaknya pengguna jalan sedikitnya ruas jalan yang dapat di lalui.

Sugiono, petugas proyek pengaspalan jalan mengatakan, kondisi macet susah dimulai kemarin, dan kondisi bisa terjadi hingga sore. Sebab panjangnya pengaspalan sehingga membutuhkan waktu hingga dua hari.
“Sudah mulai kemarin dimulai pengaspalan. Hari ini hari kedua, sehingga nanti sore selesai pengerjaannya,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom.

Proyek jalan sepanjang 1,8 kilometer tersbeut, membutuhkan 700 ton aspal dalam mengerjakannya. Selain itu, dua alat berat juga dikerahkan dalam mempercepat pengaspalan di jalan utama utara.

“Panjangnya itu sampai 1,8 kilometer, dan lebar jalan yang sebelah barat dekat perempatan seluas 6,5 meter, namun yang depan UMK lebar nya 7 meter,” ujarnya. (FAISOL HADI/SUWOKO)
Foto ilustrasi macet

Warga Kandangmas Jadi Pak Ogah Dadakan

Sejumlah kendaraan terjebak macet di tanjakan Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (23/7/2015). (MuriaNewsCom / Ali Muntoha)

Sejumlah kendaraan terjebak macet di tanjakan Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (23/7/2015). (MuriaNewsCom / Ali Muntoha)

KUDUS – Demonstrasi penolakan pendirian pabrik semen di ruas Pantura Pati berimbas pada jalur alternatif yang menghubungkan Pati dan Kudus. Kemacetan di jalur alternatif Pati-Kudus, di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, hingga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, membuat arus lalu lintas di sepanjang jalur tersebut tak bisa bergerak. Meski kemacetan sangat parah, tidak terlihat adanya polisi yang mengatur lalu lintas di jalur itu.

Sejumlah anggota polisi hanya terlihat mengatur lalu lintas di kawasan Pasar Gembong. Melihat hal ini, warga Kandangmas berinisiatif ikut turun ke jalan. Mereka menjadi Pak Ogah dadakan, untuk membuka dan menutup jalur, agar kendaraan bisa lewat.

Karena jika tak dibuat sistem buka tutup, kemacetan akan sangat parah. Karena sempitnya jalan, sementara volumen kendaraan yang melintas sangat banyak, dan beberapa di antaranya merupakan kendaraan besar.

Sistem buka tutup oleh warga diterapkan di titik yang merupakan tanjakan tajam dan jembatan. Karena lebar jembatan di daerah tersebut, tidak cukup dilalui dua kendaraan sekaligus. Beberapa warga yang menjadi Pak Ogah dadakan itu, juga meminta imbalan kepada para pengguna jalan.

“Saya tadi diminta jasa, tak kasih Rp 2 ribu. Mereka memang tidak memaksa, tapi ya tidak enak, karena jalannya sudah diatur supaya tidak macet,” kata Jatmiko, warga Rembang yang melintas di jalur tersebut. (ALI MUNTOHA)

Pemudik Terjebak di Jalur Alternatif Gembong-Kudus

Sejumlah kendaraan terjebak macet di tanjakan Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (23/7/2015). (MuriaNewsCom / Ali Muntoha)

Sejumlah kendaraan terjebak macet di tanjakan Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (23/7/2015). (MuriaNewsCom / Ali Muntoha)

KUDUS – Ribuan kendaraan pemudik terjebak di jalur alternatif Pati – Kudus bagian utara (jalur Gembong-Kudus), Kamis (23/7/2015). Hal ini disebabkan jalur utama pantura diblokade massa yang mengelar aksi demonstrasi menolak rencana pendirian pabrik semen di Desa Sukokulon, Kecamatan Margorejo, Pati.

Kendaraan pemudik terjebak macet hingga puluhan kilometer. Yakni mulai dari Pasar Gembong, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, sampai ke Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Kendaraan berdesakan dan tak bisa bergerak sama sekali, lantaran jalur alternatif tersebut sangat sempit.

Hal ini diperparah dengan banyaknya kendaraan besar, seperti truk pengangkut sembako serta bus-bus AKAP dari arah Surabaya-Semarang-Jakarta atau sebaliknya, yang ikut melintas di jalur alternatif itu. Kontur jalan yang menanjak dan menurun tajam, membuat kendaraan harus berjalan perlahan.

Bahkan kendaraan harus berhenti total, ketika bus atau truk melintas. Berdasarkan keterangan warga sekitar, kemacetan di jalur tersebut sudah terjadi sejak pukul 09.00 WIB. Dan hingga pukul 14.00 WIB, belum ada tanda-tanda kemacetan mencair.

“Kendaraan saya tak bisa bergerak sama sekali. Apalagi di depan itu ada truk besar, yang ikut terjebak tak bisa bergerak. Saya masuk Kudus sekitar pukul 12.00 WIB, dan dialihkan ke jalur ini katanya jalannya ditutup. Tapi di sini juga macet, apalagi jalannya cukup membahayakan karena naik-turun, ,” kata Sunardi, yang mengaku akan balik ke Surabaya setelah mudik dari Batang. (ALI MUNTOHA)

Jalan Pati-Kayen Diperkirakan Macet saat Lebaran

Sejumlah pekerja tengah melakukan betonisasi di Jalan Provinsi Pati-Kayen-Sukolilo. Jalan tersebut diperkirakan macet saat Lebaran. (MURIANEWS/LISMANTO)

Sejumlah pekerja tengah melakukan betonisasi di Jalan Provinsi Pati-Kayen-Sukolilo. Jalan tersebut diperkirakan macet saat Lebaran. (MURIANEWS/LISMANTO)

PATI – Jalan utama yang menghubungkan Pati, Kayen dan Sukolilo diperkirakan macet saat lebaran. Sebab, proyek betonisasi jalan provinsi yang juga menghubungkan Pati-Grobogan tersebut dipastikan belum rampung hingga lebaran.  Lanjutkan membaca

Urai Kemacetan, Warga Kencing Gunakan Sistem Buka Tutup Jalan

emacetan sepanjang 2 km terjadi di wilayah Kencing, Jalan Lingkar Kudus-Jepara terjadi mulai pagi hingga sore hari. Sebaiknya para pengendara memilih alternatif jalur lain untuk menghindari kemacetan tersebut. (MURIANEWS/EDY SUTRIYONO)

KUDUS – Guna mengurai kemacetan yang terjadi karena pembangunan gorong-gorong milik PT. Pura Kudus di wilayah Kencing tepatnya Jalur Lingkar Kudus Jepara, warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati memberlakukan buka tutup untuk jalur satu arah saja.

Lanjutkan membaca