Warga Kandangmas Berharap Pihak Logung Tepati Janji Pengelolaan Wisata Alam

Camat Dawe Eko Budi Santoso. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Camat Dawe Eko Budi Santoso. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Camat Dawe Eko Budi Santoso mengatakan, warga  Kandangmas menuntut kepastian akan rencana pembuatan wisata alam. Kepastian yang dimaksud bukan hanya persoalan wisata, tapi pada pemberdayaan masyarakat setempat.

Hal itu merupakan salah satu hasil sosialisasi Waduk Logung di Balai Desa Kandangmas, Dawe (10/1/2017) lalu,”Bahkan masyarakat meminta agar mereka diutamakan. Sebab merekalah yang terkena dampak pembangunan Logung. Mereka membutuhkan bukti kalau nantinya merekalah yang diutamakan,” kata Eko kepada MuriaNewsCom di ruang kerjanya, Jumat (13/1/2017).

Tujuannya agar warga tidak dibohongi pihak Logung akibat tidak menepati janji akan memprioritaskan mereka. Terkait rencana pembangunan, saat ini pemetaan wilayah sedang dilakukan guna menentukan lokasi objek wisata.

Dia mengatakan,warga juga tidak paham tentang gambaran peta desain pembangunan wisata beserta ukurannya. Dalam pemaparan dulu hanya disinggung ada 18 titik kosong yang akan digunakan sebagai lokasi wisata. Untuk itu, pihak desa juga diminta menjelaskan lokasi mana saja yang dimaksud.

“Jadi pemdes bisa menjabarkan, misal peta satu itu masuk RT RW berapa, batasnya mana dan potensi apa. Sehingga warga semakin jelas bagaimana memaksimalkan,” ungkapnya.

Tentang pintu utama masuk wisata, kata dia juga sepakat dengan wilayah utara atau melewati Desa Kandangmas. Sebab lokasi tersebut bukankah menuju akses utama bendungan yang termasuk kawasan tertutup. “Dengan itu juga akan membuat perekonomian bertambah. Dan warga Kandangmas juga senang dan diuntungkan atas hal tersebut,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Warga Kandangmas Ikuti Sosialisasi Bendungan Logung Kudus

Warga mengikuti kegiatan sosialisasi Logung di Balai Desa Kandangmas, Dawe, Kudus, Selasa (10/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga mengikuti kegiatan sosialisasi Logung di Balai Desa Kandangmas, Dawe, Kudus, Selasa (10/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan warga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus, mengikuti sosialisasi bendungan Logung di balai desa setempat, Selasa (10/1/2017). Sosialisasi merupakan tindak lanjut aksi pascaaudiensi di akhir Desember lalu.

Dalam kegiatan sosialisasi, turut hadir Camat Dawe Eko Budi, Asisten I Agus Satrio, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Yuli Kasianto dan sejumlah warga di lingkungan setempat. Selain itu nampak pula Forum Komunikasi Masyarakat Korban Embung Logung (Forkoma Kembung) , dan pengelola Logung

Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Camat Dawe, dilanjutkan dari paparan pengelola proyek Logung untuk kemudian dilakukan proses tanya jawab. Eko menyebutkan kegiatan dilakukan agar warga mendapat informasi soal pembangunan secara jelas. Diharapkan nantinya, pembangunan Logung berjalan lancar. “Jadi silakan nanti jika masyarakat ada pertanyaan. Ini adalah bentuk sosialisasi yang diberikan seperti keinginan warga,” katanya.

Asisten I Agus Satrio menyebutkan keberadaan waduk akan melahirkan banyak potensi. Di antaranya adalah memajukan perekonomian warga setempat. “Nanti akan dibahas, dikemas agar dapat maju. Dan pendampingan juga akan dilakukan oleh pihak dinas kepada masyarakat secara intensif,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Pembangunan Logung Kudus Didesak Dihentikan

Sejumlah armada pengangkut material pembangunan Waduk Logung melintas di area lokasi proyek, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah armada pengangkut material pembangunan Waduk Logung melintas di area lokasi proyek, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Komunikasi Warga Dampak Logung (Forkemakembung) Kudus mendesak pekerjaan proyek Logung dihentikan. Hal itu dilakukan lantaran tanah yang masih sengketa milik warga dianggap belumlah final. Mekainkan masih diproses di Mahkamah Agung (MA).

Kordinator Forkemakembung Harjuno mengatakan selama proses kasasi masih dalam penanganan MA. Maka pembangunan tidak dapat dilakukan. Khususnya, di daerah yang masih dalam proses sengketa 

Kan masih belum selesai. Jadi tidak bisa dilakukan pekerjaan di wilayah yang masih bermasalah tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (16/12/2016).

Menurutnya, Forkemakembung mengambil keputusan untuk aksi. Sebab warga merasa diperlakukan tidak adil. Selain proses di MA yang masih berjalan, tanah kerukan juga dianggap dibuang ke sungai Logung yang berada di sekitar waduk.

Tanah buangan itu, kata dia, bakal mengakibatkan bencana di kemudian hari. Yakni dengan limpasan air yang memasuki tanah warga. Dikhawatirkan, limpasan sungai saat banjir bakal merusak lahan pertanian warga. 

Selain itu, warga juga mengkhawatirkan tentang tanah yang sudah dipatok. Bagi warga, hal itu menghawatirkan karena patokan tanah jauh melebihi pembangunan Logung. Hal itu diminta untuk dijelaskan kepada warga.

“Besok kami akan aksi, sedikitnya 250 warga siap turun jalan menyuarakan hak kami. Semua warga dari dua kecamatan (Dawe dan Jekulo) akan menggelar aksi,” jelasnya.

Jumlah peserta aksi yang ikut kemungkinan masih terus bertambah. Karena banyaknya warga yang terdampak. Mereka direncanakan akan mendatangi lokasi sengketa yang digarap. Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes dan meminta pembangunan untuk tidak dilanjutkan. 

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i mengatakan, terkait aksi yang dilakukan warga, diminta tidak perlu anarkis. Jalan terbaik juga tengah diupayakan untuk kesejahteraan bersama, baik warga maupun pembangunan Logung.

“Kami siagakan 500 petugas dalam aksi besok. Namun kami meminta aksi berjalan damai dan tidak berbuat yang anarkis serta menjaga ketertiban,” inbaunya.

Editor : Akrom Hazami

Pembangunan Saluran Air Logung Akan Diserahkan ke Pemkab Kudus

Sejumlah pekerja sedang menyelesaikan proyek pembangunan Waduk Logung, di Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol  Hadi)

Sejumlah pekerja sedang menyelesaikan proyek pembangunan Waduk Logung, di Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol  Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) Waduk Logung, Zulfan Arief Mustafa, mengatakan kalau pembangunan Waduk Logung akan diselesaikan sesuai dengan kontrak. Untuk pembangunan saluran air baku yang digunakan PDAM, dipercayakan kepada memkab untuk membangunnya. Pemkab bebas mengerjakan apakah setelah jadi, ataukah sambil jalan.

“Prinsipnya bebas, ibaratnya membuat tandon air, jadi jika salurannya jadi lebih dulu kan tidak masalah, tinggal nanti menyambungkan dengan tandon air tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (12/11/2016).

Pihaknya siap  diajak komunikasi jika ingin membicarakan tentang saluran air tersebut. Sehingga nantinya tidak akan saling terganggu dengan proses pembangunan, baik saluran maupun, Waduk Logung sendiri.

Dia menjelaskan, satu dari sekian banyak manfaatnya. Jika nanti ada  saluran air, maka air bisa lebih bersih. Air bersih tersebut nantinya dapat digunakan oleh PDAM dan juga pengairan sawah.

Hanya, air di Logung juga memiliki masalah pencemaran. Kondisi itu membuat tugas tambahan PDAM atau Pemkab Kudus untuk mengatasinya. Pencemaran dimungkinkan akibat sampah rumah tangga di kawasan dataran tinggi.

Hal itu dikatakan Dodik Indra Irawan, Konsultan Supervisi Pembangunan Bendungan Logung. Menurutnya, satu dari dua sumber pengisi waduk Logung sudah tidak sehat lantaran banyak tercemar.

“Saya menduga karena limbah rumahan. Mungkin masyarakat membuang sampah dan sejenisnya masih di sungai, sehingga airnya tercemar,” katanya saat didatangi Komisi C bebebepa waktu lalu.

Menurutnya, aliran pengisi air ada dua sungai, yakni sungai Gajah dan Sungai Logung. Yang tercemar, adalah sungai Gajah yang berasal dari pemukiman warga. Sedangakn untuk sungai Logung, hingga kini masih aman karena dari perkebunan.

Sementara, Direktur PDAM Kudus Ahmadi Safa kini sedang mempersiapkan saluran air yang akan dipasang untuk Logung. Hanya pihaknya masih memastikan apakah akan memasang dalam waktu dekat ini ataukan nanti

Hal itu berkaitan dengan biaya yang dikeluarkan. Kekhawatiran akan adanya saluran yang rusak juga menjadi pertimbangan jika tidak segera terisi air dari Logung.

“Untuk airnya kami tahu tidak bersih. Makanya kami juga mempersiapkan cara untuk mensterilkan. Dan itu juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga,” ungkapnya.

Editorial : Akrom Hazami

Warga Dampak Logung Menang di Pengadilan Tinggi, Pemkab Kudus Ajukan Kasasi

Suprayitno Widodo (Kiri), Kuasa Hukum warga dampak Logung saat menjelaskan hasil dari Pengadilan Tinggi, Semarang. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Suprayitno Widodo (Kiri), Kuasa Hukum warga dampak Logung saat menjelaskan hasil dari Pengadilan Tinggi, Semarang. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Warga Dampak Logung yang bertarung dalam kasus lahan Logung, berhasil menang dalam Pengadilan Tinggi (PT) Semarang. PT memenangkan permintaan warga mengalahkan Pemkab Kudus.

Hal itu diungkapkan kuasa hukum warga Suprayitno Widodo. Menurutnya, PT sudah memenangkan warga dampak Logung soal lahan yang dikonsinyasi.

”Putusan itu nomor 352/PdT/2015/PT SMG. Dalam putusan itu, PT memenangkan warga dampak Logung soal kasus pembangunan Logung,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Putusan itu juga sekaligus menyuarakan putusan sela Pengadilan Negeri Kudus dan putusan akhir 2015 lalu. Dalam putusan akhir, PN memutuskan untuk pemkab ganti lahan dengan harga yang naik, kisaran Rp 9 ribu hingga Rp 14 ribu. Yaitu putusan majelis yang menyebutkan penggantian untuk lahan miring yang sebelumnya seharga Rp 28 ribu menjadi Rp 39,7 ribu untuk tiap meternya. Sedangkan lahan datar, harus diganti pemkab dengan nominal Rp 44,2 ribu per meter dari Rp 31 ribu. Itu saja masih membuat warga tidak puas.

Lantaran dianggap terlalu murah dan tidak sesuai, maka warga memutuskan untuk mengajukan banding, sehingga waktu itu kasus sampai pada Pengadilan Tinggi.

Gugatan warga, adalah untuk ganti lahan tanah dengan tanah. Pada persidangan sebelumnya di PN Kudus, warga juga berhasil mengalahkan pemkab Kudus untuk menaikkan harga konsinyasi. Namun warga menolak sehingga mengajukan bandung ke PT. Jumlah warga yang menolak sejumlah 46 warga. Semuanya sepakat untuk ganti lahan, sedari dulu wacana Logung digulingkan sampai dengan sekarang.

Namun, kata dia, pemkab Kudus juga tidak mau kalah dalam kasus tersebut. Sebab pemkab juga sudah melayangkan Kasasi untuk perihal kasus tersebut. ”Kasasi dilayangkan Pemkab Kudus secara resmi pada 8 Januari kemarin. Sehingga, kasus Logung sekarang sampai pada ranah Mahkamah Agung,” ujarnya.

Dia menjelaskan, disebabkan kasus sudah sampai di sana, maka untuk waktunya tidak dapat diketahui selesainya. Sebab menurut pengalaman yang dilakukan, selesainya kasus dapat memakan waktu dua, tiga, bahkan tempat tahun lamanya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Lahan Diratakan untuk Pembangunan Logung, Warga Lapor ke Polres

Suprayitno Widodo (Kiri), Kuasa Hukum warga dampak Logung saat menjelaskan hasil dari Pengadilan Tinggi, Semarang. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Suprayitno Widodo (Kiri), Kuasa Hukum warga dampak Logung saat menjelaskan hasil dari Pengadilan Tinggi, Semarang. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sejumlah warga melaporkan kepada petugas kepolisian terkait perusakan tanah dan tanaman milik warga di lahan pembangunan Waduk Logung di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus. Warga melaporkan, lantaran tanah tersebut sudah diratakan untuk pembangunan Logung.

Hal itu diungkapkan Kuasa Hukum warga dampak Logung, Suprayitno Widodo. Menurutnya, sejumlah warga sudah melaporkan secara resmi kepada pihak kepolisian sekitar sebulan lalu. Dalam masalah itu, warga menunjuk pekerja yang meratakan tanah di sana.

”Nanti dalam proses yang dilakukan pihak kepolisian akan tahu, pekerja itu melakukan hal semacam itu atas perintah siapa. Sebab kami juga tidak tahu siapa yang menyuruhnya. Jadi biar petugas saja yang melakukannya,” katanya Kepada MuriaNewsCom.

Perkembangan kasus itu, kata dia juga sudah dilaksanakan. Dengan demikian, maka tinggal menunggu hasil untuk memeriksa dan meneruskan kasus tersebut.

Mengenai luasan lahan yang dirusak, kata dia, seluas 283 meter persegi. Jumlah tersebut dari jumlah 850 meter persegi yang terdapat dalam tanah pembuatan Logung.

”Tanah itu punya tiga warga, yakni Suwoto, Jamasri, dan Siradi. Mereka melaporkan ke Polres, karena tanah sebagian tanah dirusak. Bukan hanya tanah, namun tanaman juga dirusak,” ujarnya.
Menurut dia, tanah itu jelas masih milik warga. Sebab warga masih belum menerima biaya konsinyasi yang dititipkan ke Pengadilan Negeri (PN) Kudus. ”Dan lagi, dalam waktu 14 hari mereka juga sudah mengajukan tuntutan,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Berikut Keluhan Warga Tanjungrejo Terkait Galian C

Suasana warga Tanjungrejo yang berunjuk rasa ancam akan gantung diri jika tuntutannya tidak segera dipenuhi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Suasana warga Tanjungrejo yang berunjuk rasa ancam akan gantung diri jika tuntutannya tidak segera dipenuhi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kegiatan galian C di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, memberikan dampak kekeringan terhadap warga sekitar. Hal itu dinilai sangat merugikan warga, lantaran sumur warga mengalami kekeringan. Padahal air merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan.

Hal itu diungkapkan salah satu warga yang kerap disapa Gembeng. Menurutnya, semenjak ada galian C di lokasi tersebut, berdampak pada sumur warga yang kering. Hal itu jauh berbeda dengan lokasi sekitar yang jauh dari tempat galian C.

”Lokasi kami di RT 1 RW 8 mengalami kekeringan. Berbeda dengan daerah yang jauh dari lokasi yang jauh dari tempat galian, air sumurnya masih banyak,” katanya.

Dia berharap pemerintah dapat mengabulkan tuntutan warga, agar kehidupan warga juga tetap nyaman dan air yang menjadi kebutuhan warga tetap terpenuhi.

”Kami dari warga menolak adanya galian C. Jadi warga dapat nyaman berada di sana. Sebab galian C sudah sangat mengganggu,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Pendemo Ancam Gantung Diri Jika Tuntutan Warga Tanjungrejo Tidak Digubris

Suasana warga Tanjungrejo yang berunjuk rasa ancam akan gantung diri jika tuntutannya tidak segera dipenuhi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Suasana warga Tanjungrejo yang berunjuk rasa ancam akan gantung diri jika tuntutannya tidak segera dipenuhi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sejumlah warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, yang melakukan aksi unjuk rasa di depan pendapa Alun-alun Kudus, mengancam akan melakukan aksi gantung diri di depan pendapa tapatnya di tengah Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Koordinator aksi Moh Kholilul Umam mengatakan, pihaknya akan melangsungkan aksi gantung diri di pusat kota jika tuntutan tidak kunjung dipenuhi. Hal itu dilakukan guna keseriusan yang dilakukan.

”Ini bukanlah main-main, kami akan melakukan aksi gantung diri mengenai hal tersebut. Lihat saja nanti,” katanya.

Menurutnya, tuntutan yang diinginkan tidaklah sekedar tuntutan belaka. Melainkan sebuah tuntutan yang menginginkan transparansi keterbukaan publik. Tidak hanya itu, transparan yang dimaksud adalah muncul di media massa terkait dokumen lingkungan.

”Kami pasti kan akan datang dengan masa yang lebih banyak. Untuk mendatangi tempat ini dengan tuntutan yang sama,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Warga Tanjungrejo Unjuk Rasa Tuntut Dokumen Lingkungan Dipublikasikan dan Tolak Galian C

Suasana warga Tanjungrejo yang berunjuk rasa tuntut transparansi dokumen lingkungan tolak galian C di depan Pendapa Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Suasana warga Tanjungrejo yang berunjuk rasa tuntut transparansi dokumen lingkungan tolak galian C di depan Pendapa Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Puluhan Warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, kenali melakukan aksi unjuk rasa di pendapa Kudus. Puluhan warga tersebut menggeruduk pendapa untuk meminta transparansi dokumen lingkungan.

Aksi tersebut dipimpin oleh Moh Kholilul Umam, bersama puluhan warga, mereka meminta agar transparansi mengenai dokumen tersebut dapat dilaksanakan.

”Ini merupakan hak kami sebagai rakyat. Transparansi dan keterbukaan publik harus dilaksanakan,” katanya saat unjuk rasa.

Menurutnya, sejumlah warga sudah keberatan dengan adanya galian C di lokasi tersebut. Warga berharap pemkab dapat segera menindak dengan memihak rakyat.

”Kami minta galian C segera diselesaikan. Warga sudah menderita dengan adanya kegiatan tambang tersebut,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Periksa Fosil Baru, Pemkab Kudus Datangkan Tim Ahli dari Sangiran

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Untuk memeriksa fosil yang baru diketemukan, pemkab Kudus datangkan tim ahli dari Sangiran. Rencananya, besok tim akan datang dan memeriksa fosil tersebut.

Kabid Kebudayaan Kabupaten Kudus Supratiwi  mengatakan, mengenai penemuan fosil, sudah dikomunikasikan dengan pihak museum Patiayam dan dengan Sangiran. Menurut jadwal, besok siang tim asal Sangiran akan langsung melihat kebenaran fosil tersebut.

”Akan dilihat langsung, apakah itu fosil atau tidak. Sebab bisa juga itu bukan fosil. Rencananya besok siang akan sampai di Kudus,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kedatangan tim dari Sangiran juga dalam rangka meninjau museum Patiayam sekaligus melihat gading dan fosil yang diketemukan belum lama ini.

”Penemu fosil akan diberikan tali asih dari Sangiran. Mereka langsung yang akan memberikannya kepada penemu fosil besok,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Pembangunan Waduk Logung di Sekitar Lokasi Penemuan Fosil Dihentikan Sementara

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Dengan adanya penemuan fosil di kawasan pembangunan Waduk Logung, membuat pembangunan waduk dihentikan sementara. Hal itu dilakukan untuk menjaga kalau fosil yang baru ditemukan akan rusak.

Hal itu diungkapkan Petugas Museum Patiayam, Djamin. Menurutnya pembangunan waduk sekitar lokasi diminta untuk menyesuaikan lantaran terdapat fosil dengan jumlah yang banyak.

“Dimungkinkan lebih banyak lagi. Itu saja fosil yang nampak diluar jenis gading berukuran dua meteran. Sehingga sebagian besar masih ada di dalam tanah,” katanya.

Mengenai tindakan yang bakal dilakukan, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Dan mengenai pembangunan waduk di lokasi sekitar penemuan fosil bakal dilanjutkan dalam waktu yang tidak lama.

”Sebentar lagi fosil akan diambil. Namun, masih menunggu dari tim ahli yang menangani persoalan tersebut,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Heboh, Fosil Gajah Purba Kembali Ditemukan di Pembangunan Waduk Logung Kudus

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Penemuan Fosil kembali ditemukan di Kudus, kali ini penemuan fosil tersebut terletak di Waduk Logung, di areal pembangunan waduk.

Hal itu diungkapkan Petugas Museum Patiayam, Djamin. Menurutnya fosil tersebut baru ditemukan Sabtu malam lalu, saat petugas pembangunan waduk hendak menggali lebih dalam Logung.

”Malam Minggu lalu kami dapat informasi. Akhirnya kami mengunjunginya untuk melihat kebenaran kabar tersebut. Dan benar saja di sana ditentukan fosil gajah purba dalam ukuran raksasa,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Menurutnya, fosil yang ditemukan adalah gading gajah, kepala gajah, dan leher. Mengenai ukurannya belum dapat diketahui panjangnya, lantaran hingga kini fosil masih berada di lokasi penggalian waduk.

Karena terdapat di lokasi penggalian, maka gading yang anyar ditemukan itu mengalami kerusakan. Setidaknya setengah meter gading putus akibat alat berat yang mengenainya. (FAISOL HADI/TITIS W)