Warga Karangrandu Jepara Berinisiatif Tutup Saluran Limbah Tahu-Tempe 

Warga saat melihat limbah Sungai Gede Karangrandu Jepara, Senin (28/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Puluhan warga Desa Karangrandu dan Pecangaan Kulon, Jepara,  jengah dengan bau busuk akibat limbah Sungai Gede Karangrandu, Senin (28/8/2017) sore. Terutama mereka yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Mereka menutup saluran pembuangan limbah tahu dan tempe.

Muhammad Subhan warga Desa Karangrandu mengatakan, aksi murni berasal dari inisiatif warga.  “Ya itu berasal dari inisiatif warga Karangrandu dan Pecangaan Kulon, karena bau dan mencemari lingkungan,” katanya.

Menurutnya, penutupan saluran pembuangan sisa produksi tahu-tempe dilakukan dengan menggunakan campuran semen. “Semen lantas dimasukan ke saluran sedalam-dalamnya,” urainya dalam pesan singkat.

Diberitakan sebelumnya, sempat beredar kabar melalui perpesanan dari aplikasi Whats App bahwa Pemdes Karangrandu melakukan penutupan  saluran limbah tahu-tempe. Namun setelah dikonfirmasi, Kepala Desa Karangrandu Syahlan menampiknya. Akan tetapi dirinya mengakui sempat didatangi warga yang ingin menutup saluran limbah.

“Pemdes tidak pernah menyuruh ataupun melarang. Namun warga memang ada yang pernah kesini mengutarakan rencana penutupan saluran tahu-tempe,” tuturnya. 

Terpisah seorang pengusaha Ahmad Maryanto juga pernah mendengar desas-desus tersebut. Namun sampai Senin pagi, ia belum pernah mengetahui rencana tersebut betul-betul dilaksanakan. 

Dirinya juga mengklaim, bahwa tidak lagi membuang limbah tahu tempe ke sungai. Ia lebih memilih membuang sisa produksi dengan membuangnya ke sawah. Hal itu menurutnya lebih aman. 

Editor : Akrom Hazami

Limbah RSUD Kudus Dianggap Meresahkan, Ini Tanggapan Direkturnya 

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus –  Direktur RSUD dr Loekmono Hadi, dr Aziz Achyar mengaku pihaknya telah mendapat laporan terkait adanya keluhan warga ihwal limbah rumah sakit yang meresahkan warga.

Tapi hal itu buru-buru ditampiknya. Selama ini, limbah yang dibuang RSUD tidak lagi beracun, dan berbahaya.

”Limbah yang dikeluarkan melalui saluran air tidak berbahaya dan sudah memenuhi ketentuan ambang batas. Limbah tersebut juga bukan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) karena sebelum keluar diuji dulu,” kata Aziz di Kudus, Kamis (9/3/2017).

Kendati demikian, pihaknya tidak mau diam begitu saja. RSUD akan menampung keluhan warga. Dalam waktu dekat, RSUD akan melakukan pertemuan dengan pemerintah Desa Ploso, serta warga.

Sesuai rencana, RSUD akan bertemu warga dan pemdes, Sabtu (11/7/2017). Sedianya, RSUD akan menjelaskan panjang lebar soal limbah yang keluar dari rumah sakit aman bagi lingkungan sekitar.

 

Editor : Akrom Hazami

Limbah Rumah Makan di Jepara ini Dikeluhkan

Air di drainase yang berada di jalan Mangunsarkoro berwarna pekat dan berbau tak sedap. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Air di drainase yang berada di jalan Mangunsarkoro berwarna pekat dan berbau tak sedap. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Sejumlah rumah makan yang berada di sepanjang jalan Mangunsarkoro Jepara Kota dikeluhkan warga. Pasalnya, sejak turunnya hujan di kawasan kota air drainase berubah menjadi berwarna hitam pekat dan mengeluarkan aroma tidak sedap. Diduga, hal itu terjadi karena limbah rumah makan yang dibuang secara sembarangan di saluran drainase.

Salah seorang warga sekitar, Sutrisno mengatakan, kondisi air di drainase dikeluhakan warga RT 1 RW 7 Kelurahan Panggang, Kecamatan Kota, Kabupaten Jepara. Selain mengganggu warga, aroma tidak sedap yang diduga ditimbulkan dari air drainase yang tercemar, juga dikeluhkan guru dan siswa SD Negeri Panggang 9 yang berada di samping saluran drainase.

”Pencemaran air di saluran drainase Jalan Mangunsarkoro diduga dari pembuangan limbah dari tiga rumah makan yang ada di sepanjang jalan tersebut. Yaitu Rumah Makan Rengkot Buyut, Rumah Makan Padang, dan Rumah Makan Soto,” kata Sutrisno, Selasa (1/12/2015).

Menurut dia, pihaknya pernah mendatangi dan meminta penjelasan dari pengelola rumah makan Rengkot Buyut. Kemudian bersama-sama pihak rumah makan melihat kondisi air. Namun pihak rumah makan enggan menunjukkannya.

Sementara itu, Kabid Penegakan dan Penertiban pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sutarno, mengemukakan, pihaknya telah menerima laporan masyarakat terkait dengan dugaan pencemaran air di saluran drainase. Pihaknya juga melakukan pengecekan. Dari pengecekan awal, diduga air di saluran darinase dalam kota itu tercemar akibat pembuangan limbah dari tiga rumah makan.

”Rengkot Buyut tidak memiliki instalasi pengolahan limbah. Sementara rumah makan padang memang sudah mempunyai bak kontrol limbah,” katanya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, pihaknya meminta pada pengelola rumah makan Rengkot Buyut untuk segera membuat instalasi pengelolaan limbah. Sementara, pihak pengelola rumah makan padang sudah melakukan penyedotan.

”Tidak menutup kemungkinan jika masalah limbah ini tidak segera diatasi, ketika intensitas curah hujan sudah tinggi akan mencemari sumur-sumur warga,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)