Traffic Light Portable, ‘Jurus’ Polisi Grobogan Atasi Kemacetan saat Arus Balik Lebaran

Petugas lalu lintas membantu mengamankan arus balik Lebaran di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kesibukan personel keamanan di Grobogan makin meningkat pasca lebaran. Hal ini seiring naiknya kendaraan arus balik yang melewati wilayah tersebut dan berpotensi menyebabkan kemacetan lalu lintas.Guna mengatasi kemacetan, ada upaya lain yang dilakukan jajaran kepolisian disamping menyiagakan personil di lapangan. Yakni, menggunakan traffic light portable.

Alat ini ditempatkan di pertigaan dan perempatan jalur utama yang belum ada traffic light permanen dan berpotensi macet. Khususnya di jalur Purwodadi menuju Semarang yang tingkat kepadatan arusnya cukup tinggi.

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano menyatakan, cara kerja alat itu sama dengan traffic light di perempatan jalan. Namun konsepnya dibuat sederhana dengan desain portabel. Tujuannya, agar bisa dipindah-pindah dan mudah penggunaannya.

“Adanya alat ini sangat membantu untuk mengurai kemacetan. Selain mudah dibawa ke mana-mana dan ditempatkan sesuai kebutuhan, alat ini juga tahan terhadap cuaca panas dan hujan. Sebab, program di lampu tersebut mudah di-setting kembali dan lebih awet penggunaannya,” jelasnya, Rabu (28/6/2017).

Cara kerja lampu portable ini persis dengan traffic light permanen. Tiga lampu yang berwarna hijau, kuning dan merah bergantian menyala sesuai durasi waktu tertentu.

Alat ini ukurannya mini. Tingginya sekitar 1,5 meter. Bentuknya masih sederhana. “Alat ini kita pasang di beberapa titik di jalur utama,” imbuh Satria.

Editor: Supriyadi

Tiba-tiba Saja Teman Saya Bilang Diamput…

Siti Merie merqi194@yahoo.com

Siti Merie
merqi194@yahoo.com

INI kisah teman saya yang tiba-tiba saja menuliskan di akun Facebook-nya, kata-kata atau dialek khas Jawa Timur sana. Diamput. Sebuah kata-kata yang dirasakan pas, untuk mengungkapkan rasa jengkel luar biasa, namun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap sebuah kondisi atau keadaan. Kalau di Jawa Timur sana, itu adalah sebuah umpatan biasa. Tapi kalau di sini, orang lain akan bilang ”saru” atau tidak sopan.

Tapi tidak apa-apalah. Karena saya pikir, semua orang sekarang sudah menyadari bahwa lain lubuk lain belalang alias lain daerah lain kebiasaan. Namun, jangan lupa juga bahwa di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sehingga semua harus bisa menyesuaikan di manapun Anda berada.

Oh, ya. kita tidak sedang membicarakan soal dialek tertentu pada satu wilayah kok, ya. Kita sedang membicarakan teman saya yang memang dari daerah timuran sana, yang tiba-tiba saja mengeluarkan umpatan ”diamput” di akun fesbuknya. Pasalnya, dia kena tilang karena dinilai telah melanggar lampu merah saat berada di perempatan jalan, yang ndilalahnya bentuknya tidak tepat segi empat, melainkan perempatan yang serong.

Sudah dianggap melanggar lampu bangjo, begitu biasa disebut, masih ditambah lagi ”hukuman” karena dirinya tidak membawa STNK sepeda motornya. Lah, kok ndilalahnya, dia tidak bisa kongkalingkong dengan sang penilang, meski yang nilang kenal dirinya. Mungkin saat ini sedang hangat-hangatnya pemberantasan pungli, sehingga sang penilang takut kalau dia membiarkan teman saya itu lolos, maka bisa-bisa dia yang kena masalah. Siapa ada yang merekamnya dan meng-upload-nya di media sosial. Kan, bisa-bisa dirinya yang sooo-sial sekali. Namun jika ingin berbaik sangka, setidaknya sang penilang itu sudah jujur melaksanakan tugasnya. Menilang teman saya yang ”dianggap” melanggar lampu merah dan tidak membawa STNK.

Penilangan itu terjadi, karena teman saya terlambat mengencangkan gas motornya, saat lampu hijau sudah kriyip-kriyip hendak berubah menjadi merah. Apalagi, jalur yang dilalui adalah perempatan yang tidak lurus, namun serong. Sehingga kecepatan motor harusnya tetap kencang. Sayangnya, dia agak terlambat melakukannya, sehingga sudah terkena lampu merah. Dan arus lalu lintas dari depannya, ternyata sudah duluan ngegas, sehingga tempuklah di tengah-tengah. Apesnya, yang dianggap menerobos lampu lalu lintas adalah teman saya itu. Makanya, dia tetap saja ditilang. Ndilalah, STNK motornya tidak kebawa juga. Apes dua kali.

Ini terjadi di jalan yang sekarang ini mendadak sering dikeluhkan para pengguna kendaraan di Kudus. Yakni Jalan Jenderal Sudirman. Sejak diujicoba sebulan lalu menjadi dua arah, tiba-tiba saja banyak sekali keluhan yang muncul akibat kebijakan itu. Rata-rata keluhannya adalah makin semrawutnya jalur tersebut, akibat kebijakan dua arah. Apalagi pada jam-jam sibuk, yang semakin menambah urusan soal kesabaran. Jam sibuk dibagi menjadi tiga. Pertama di pagi hari saat anak-anak masuk sekolah dan orang tua berangkat bekerja, siang hari saat orang tua menjemput anak-anaknya yang pulang sekolah, dan ketiga adalah saat orang tua pulang kerja. Satu lagi jam sibuk kalau boleh ditambahkan, adalah saat-saat jam istirahat kantor. Ada empat kali jam sibuk di Kudus ini.

Jalan-jalan di Kudus memang sempit. Meski keuntungannya adalah, banyak sekali jalur-jalur kecilnya sehingga banyak jalur yang digunakan untuk arus ”buangan” kalau tiba-tiba saja, para pemangku kebijakan di Kudus ini menyelenggarakan suatu acara di Alun-alun Kudus, yang pastinya bermassa banyak. Otomatis, arus lalu lintas harus dibuang ke beberapa jalur kecil, yang memang sejauh ini dapat ditampung. Karena itulah, di Kudus banyak sekali jalur satu arah.

Rupa-rupanya, Pemkab Kudus berpikiran untuk menggandakan jalur yang ada. Dari satu jalur ke dua jalur. Sehingga kalau Anda yang datang dari arah Pasar Kliwon, tidak perlu lagi mutar arah untuk menuju ke alun-alun. Cukup lurus saja ke sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, sudah sampai ke alun-alun. Itu contoh jalur dua arah yang sekarang sepertinya akan diterapkan kepada jalur-jalur lain di Kudus ini.

Contoh saja di Jalan Ahmad Yani. Dengar-dengar juga, jalur itu akan dibuat dua arah. Apalagi, median jalan juga sudah disingkirkan, yang lantas menjelma menjadi jalur-jalur parkir, dengan mengesampingkan kenyamanan pengguna sepeda motor. Dan penataan dua jalur, juga sepertinya akan dilakukan di Jalan Sunan Kudus. Pohon-pohon juga sudah ditebangi, median jalan juga sudah disingkirkan. Sehingga terlihat jika jalan menjadi lebih lebar.

Sayangnya, yang terlihat ”menang” dari situasi itu adalah keberadaan parkir. Di Jalan Jenderal Sudirman yang sering menimbulkan keluhan akibat kemacetan yang makin parah, salah satu penyebabnya karena kendaraan yang parkir di kanan dan kiri jalan. Lebar jalan yang tidak seberapa itu, harus dibagi dua jalur, yang dipersempit lagi dengan keberadaan kendaraan-kendaraan yang parkir di pinggir kanan dan kiri jalan. Masih ditambah lagi rentetan pertokoan yang tidak memiliki lahan parkir untuk pelanggan mereka. Jadilah kemudian yang terlihat adalah macet sepanjang hari.

Pemandangan kemacetan itu makin parah, karena ternyata masih banyak truk-truk besar yang melewati jalur perkotaan. Sehingga jalan yang sudah sangat sempit itu, menjadi makin tidak bisa dibelah, akibat banyaknya kendaraan yang ada. Ditambah perilaku pengendara yang belum sepenuhnya sadar, bagaimana menempatkan diri mereka dengan sebaik-baiknya.

Saat ini, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Kudus, sedang menggodok yang namanya Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Lalu Lintas. Di mana salah satunya isinya nanti adalah pembahasan mengenai ketentuan lalu lintas yang ada di Kudus ini. Bagaimana arus lalu lintas diatur, areal parkir di jalan diberi ketentuan sendiri, dan lain sebagainya yang terkait lalu lintas. Sehingga diharapkan kondisi lalu lintas di Kudus ini akan tertata dengan baik.

Kita patut melihat bagaimana Dishubkominfo nanti menjabarkan arus lalu lintas di Kudus, menjadi sebuah arus yang nyaman bagi penghuninya, meski dengan kondisi jalan yang tidak kemana-mana lebarnya. Masih di situ-situ saja. Bagaimana kreativitas dinas, bisa memperkirakan bagaimana bentuk arus lalu lintas di Kudus untuk dua puluh tahun mendatang misalnya, di mana penduduk akan semakin banyak. Sehingga pengguna kendaraan juga akan semakin banyak.

Rasanya, memang masih banyak pekerjaan rumah bagi dinas tersebut, untuk menata kembali arus lalu lintas yang baik. Bagaimana memikirkan jalur Jenderal Sudirman itu, menjadi jalur yang nyaman meski dua arah. Termasuk pembenahan sarana dan prasarananya, sehingga tidak ada lagi umpatan sayang dari penggunanya. Meski di satu sisi ada juga yang bilang, kebijakan memang harus dipaksakan. Setelah itu akan menjadi biasa. Kan, ada pepatah bilang ala bisa karena biasa. Namun kalau ala-nya sudah ruwet sejak awal, maka yang terjadi kita akan ter-biasa untuk melawannya. Atau setidaknya, mengumpat ”diamput” seperti teman saya tadi. Pemkab Kudus juga harus rajin meminta masukan kepada masyarakat luas, akan baik tidaknya sebuah kebijakan. Pelibatan masyarakat adalah satu hal penting, supaya mereka benar-benar bisa ikut serta dalam pembangunan. Pemerintah tentu saja tidak mau dihujani kata ”diamput” yang dilontarkan bareng-bareng oleh ratusan ribu warga Kudus, kan. (*)

Sering Dilanggar, Polisi Blora Gelar Razia di Lampu Merah

operasi lantas (e)

Operasi yang dilakukan Unit Lantas Polsek Cepu di Perempatan Jalan Diponegoro Cepu, Senin (11/4/2016). (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Lampu lalu lintas berupa traffic light yang mengatur pengendara untuk bisa tertib berlalu lintas, ternyata sering dilanggar di wilayah Kabupaten Blora.

Karena hal itu, Satlantas Polres Blora menggelar razia di lampu merah. Tepatnya di Kota Blora dan Kecamatan Cepu. Karena meski sangat padat lalu lintasnya, namun masih banyak dilanggar.

Misalnya saja operasi yang digelar pada Senin (11/4/2016). Tepatnya di Perempatan Jalan Diponegoro. Dan dalam waktu yang cukup singkat, petugas berhasil menindak 20 pelanggar yang tertangkap.

Sebanyak 10 pelanggar mendapat sanksi teguran, sementara 10 pelanggar yang lain mendapatkan sanksi tilang.

Operasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesadaran pengendara agar lebih menghargai keberadaan lampu lalu lintas di setiap perempatan di Cepu. ”Lampu tidak ada artinya. Sering diabaikan. Ada petugas saja nekat, apalagi tidak ada,” ungkap Kanitlantas Polsek Cepu Iptu Les Pujianto.

Ia menyebutkan, meski banyak orang-orang pintar, namun kesadaran akan berlalu lintas sangat kurang. ”Buktinya, jumlah pelanggar pelajar dan pegawai sama itu 50-50,: katanya.

Menurutnya, selain kurangnya kesadaran pengendara, ruwetnya lalu lintas di Cepu juga disebabkan kurangnya pos polisi. Sebab saat ini hanya ada empat pos yang terdapat di Perempatan Jalan Diponegoro, Pertigaan Ketapang, Perempatan Kantor Pos, dan Pertigaan Plaza Cepu.

”Seharusnya dua pos lagi. Yakni di Pertigaan Terminal Cepu dan pertigaan Jalan Baypass Wonorejo Cepu. Banyak pengendara yang tidak pernah melihat lampu lalu lintas,” pungkasnya.

Editor: Merie

Polres Rembang Ajarkan Siswa Pendidikan Berlalu Lintas Sejak Dini

Pelaksanaan giat pendidikan masyarakat (Dikmas) yang diikuti sebanyak 109 murid salah satu TK di Rembang, (Foto: Humas Polres Rembang)

Pelaksanaan giat pendidikan masyarakat (Dikmas) yang diikuti sebanyak 109 murid salah satu TK di Rembang, (Foto: Humas Polres Rembang)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Angka Kecelakaan dengan korban anak dan remaja di bawah umur dalam beberapa tahun terakhir tercatat masih memprihatinkan. Untuk itu, pendidikan keselamatan berlalulintas kepada anak usia dini digencarkan oleh pihak kepolisian Satlantas Polres Rembang.

“Kami dari Polres Rembang mendatangi sekolah mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA. Untuk kelompok usia anak-anak, pola pemebelajarannya bermain sambil belajar. Sedangkan usia remaja, kami sampaikan dengan materi yang disesuaikan, seperti penyampaian dalam upacara bendera dan kegiatan lainnya,” ujar Ipda Ngaenul Mujib, pemateri dari Satuan Lalu Lintas Polres Rembang kepada MuriaNewsCom, Rabu (27/1/2016).

Ia katakan, kegiatan yang dikemas dalam bentuk permainan ternyata berhasil menyedot perhatian para murid di sekolah-sekolah. Namun, menurutnya pola penyampaian materi dibedakan per jenjang pendidikan.

Mujib mencontohkan, pelaksanaan giat pendidikan masyarakat (Dikmas) yang diikuti sebanyak 109 murid salah satu Taman Kanak-kanak (TK) di Rembang, Selasa (26/1/2016) kemarin. Beragam permainan disediakan, diantaranya tentang bagaimana cara pakai helm yang benar dan cara menyeberang.

Sebagai media pembelajaran, pihaknya menggunakan alat peraga berupa banner bergambar jalan raya yang dilengkapi zebra cross dan bermacam rambu lalu lintas. “Tujuannya agar anak-anak ada gambaran kecil bagaimana cara nyeberang, misalnya apabila ada petugas polisi menghentikan kendaran dengan peluit, kemudian memberikan aba-aba, barulah anak-anak boleh menyeberang,” tuturnya.

Mujib menambahkan, peran orang tua juga penting untuk menumbuhkan kesadaran berlalulintas pada anak. Sebab meski pihaknya telah memaparkan materi berlalulintas kepada anak, dalam ranah kehidupan sehari-hari, tidak semua kegiatan bisa tercakup oleh fungsi kepolisian.

“Intinya orang tua juga ikut berpartisipasi. Kami pun berpesan kepada para guru, agar memberi masukan kepada orang tua untuk mengajari anak sejak usia dini. Misalnya dalam hal membelikan helm. Semua masyarakat pun diharapkan membantu menumbuhkan kesadaran berlalulintas,” pintanya.

Editor : Kholistiono 

Tabrakan Supra VS Tronton di Jekulo Akibatkan Motor Remuk dan Korban Luka Parah

Kecelakaan (e)

Sepeda motor milik korban Ali Supriyadi bernopol K 3744 WC yang menghantam tronton nampak rusak parah di bagian depan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kejadian laka kembali terjadi di Kudus, Jumat (8/1/2016), tepatnya di Jekulo Jalan Kudus Pati sekitar gardu PLN. Kejadian laka itu, antara sepeda motor Honda New Supra X 125 warna hitam merah melawan kendaraan besar jenis tronton atau kontainer.

Ali Supriyadi, pengendara sepeda motor asal Juwana Pati yang mengalami kecelakaan mengungkapkan, kejadian tersebut sangat cepat. Bahkan, dirinya yang sedang memacu kendaraan agak kencang itu langsung berbenturan dengan kendaraan besar jenis tronton.

”Baru saja kok, sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu jalan agak sepi mungkin karena masih pada Jumatan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Akibat kecelakaan itu, dirinya mengalami luka parah. Kaki kanan patah serta bagian tubuhnya berlumuran darah. Bahkan, pendarahan juga mengucur dari bagian kepalanya. Bukan hanya itu, bibir bagian bawah juga robek dan tangan berdarah akibat benturan yang sangat keras dengan kendaraan besar itu.

Kencangnya benturan, terlihat dari kondisi kendaraan. Terlihat sepeda motor benopol K 3744 WC yang dikendarai Ali Supriyadi sampai hancur pada bagian depan. Hingga tidak dapat ditunggangi lagi.

Selain itu, helm yang digunakan juga pecah akibat kerasnya tabrakan. Dia mengaku sempat terlempar dari kendaraan sebelum ditolong warga sekitar.

Korban kini dilarikan ke RSUD Umum Kudus dengan angkutan umum yang melintas di sana. Sedangkan kendaraan masih diamankan di lokasi sekitar. (FAISOL HADI/TITIS W)

Bawa Bronjong, Pengendara Sepeda Motor di Purwodadi Jadi Sasaran Polisi Lalu Lintas

razia (e)

Polisi sedang memasang rambu mata kucing di bronjong (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Sejumlah penggendara yang melintas di Jalan Diponegoro Purwodadi sempat kaget ketika kendaraannya dihentikan polisi lalu lintas. Khususnya, pengendara yang membawa bronjong diatas kendaraannya.

Namun tidak berselang lama, pengendara ini merasa lega. Sebab, polisi tersebut menghentikan kendaraan untuk memasang rambu mata kucing dari scotlight pada bronjong yang dibawa.

“Dari pengamatan selama ini, pengendara yang membawa bronjong untuk membawa barang ini cukup banyak. Bronjong ini perlu kita kasih rambu mata kucing untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan. Untuk kegiatan pemasangan rambu mata kucing ini dipimpin oleh Kaur Bin Ops Satlantas Ipda Afandi,” kata Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Nur Cahyo, Jumat (8/1/2016).

Pemasangan mata kucing pada bronjong itu secara tidak langsung bisa menekan terjadinya kecelakan. Sebab, dengan adanya rambu tersebut, pengendara yang di belakangnya bisa tahu jika kendaraan di depannya membawa bronjong.

Keberadaan rambu mata kucing ini sangat membantu khususnya pada malam hari. Soalnya, mata kucing itu akan memantulkan cahaya ketika kena sorot lampu kendaraan. Dengan kondisi ini, kendaraan di belakangnya akan menjadi lebih berhati-hati.

“Selain pada bronjong, mata kucing juga kita pasang di beberapa titik jalan yang yang rawan laka lantas. Seperti di ruas jalan dari Purwodadi menuju Semarang, Pati, Kudus, Blora dan Solo,” imbuhnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Angkutan Umum Langgar Rambu Lalu Lintas, Jalan RS Soewondo Pati Sering Macet

Angkutan

Sejumlah angkutan umum nekat mangkal di depan RS Soewondo, kendati sudah dipasang papan larangan berhenti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kendati sepanjang Jalan Dr Susanto Pati sudah diperlebar, tetapi kemacetan masih saja sering terjadi di kawasan tersebut. Salah satu titik kemacetan paling parah, antara lain depan RS Soewondo Pati.

Hal ini menuai protes dari pengguna jalan. Dewi Anggraheni, misalnya. Ia mengkritik sejumlah angkutan umum yang mangkal di depan RS Soewondo Pati.

Padahal, kata dia, kawasan tersebut sudah dipasang rambu dilarang berhenti. Namun, sejumlah angkutan umum masih saja nekat melanggar rambu-rambu tersebut demi mendapatkan penumpang.

”Jalannya memang sudah lebar, tapi kondisinya masih saja macet. Kalau lalu lalang pengunjung rumah sakit yang menyeberang itu tak jadi masalah. Tapi, jalan yang sudah dipasangi rambu dilarang berhenti masih digunakan untuk mangkal angkutan umum,” kata Dewi saat dimintai keterangan MuriaNewsCom, Jumat (27/11/2015).

Karena itu, ia berharap agar pemerintah setempat bisa memberikan sanksi tegas kepada sejumlah angkutan yang tidak mematuhi rambu lalu lintas. ”Ini masalahnya jadi penyebab macet. Kami berharap agar Dishubkominfo bisa bertindak tegas,” harapnya. (LISMANTO/TITIS W)

Banyak Pengendara Terobos Lampu Merah di Pertigaan di Kudus Ini

engguna jalan tampak ada yang berhenti dan ada juga yang jalanmeski lampu menyala merah di Pertigaan Prima, Dersalam, Kudus.(MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

engguna jalan tampak ada yang berhenti dan ada juga yang jalanmeski lampu menyala merah di Pertigaan Prima, Dersalam, Kudus.(MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

KUDUS – Di lampu lalu lintas mana pun, kalau saat menyala merah, makapengguna jalan wajib berhenti. Kemudian saat lampu menyala hijau,barulah pengendara bisa kembali tancap gas melajukan kendaraannya.

Tapi tidak demikian dengan lampu lalu lintas di Dersalam, Kudus. Ataulebih dikenal dengan pertigaan Prima.Di titik itu, pengguna jalan malah tetap melaju asyik meski lampumenyala merah. Apalagi di lokasi itu tidak ada penjagaan polisi,membuat tingkah salah mereka kian menggelora.

Biasanya, pengendara yang nakal ini dari arah timur (Pati) ke barat (pusat kota Kudus). “Dulunya di lampu merah ini, kalau melaju lurus, boleh jalan terus.Sekarang harus berhenti. Jadi masyarakat biasa kalau lurus ya jalanterus,” kata salah satu pengguna jalan, Tri, warga Kudus.

Kejadian ramai-ramai melanggar lampu lalu lintas mudah kok ditemui.Silakan saja ke lokasi itu. Anda bisa dengan mudah melihat hal itu.Semoga Anda bukan bagian dari mereka. Keselamatan adalah segalanya. Tertiblah di mana pun berada. (AKROM HAZAMI)

Awas, Sekitar Pasar Godong Macet Parah

Kondisi jalan sekitar Pasar Godong yang kerap macet parah karena sedang ada perbaikan jalan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kondisi jalan sekitar Pasar Godong yang kerap macet parah karena sedang ada perbaikan jalan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Bagi pengendara dari Purwodadi yang akan menuju arah Semarang dan sebaliknya tampaknya harus ekstra sabar. Pasalnya, ada kemacetan parah di sebelah timur dan barat Pasar Godong. Hal ini terjadi lantaran ada proyek perbaikan jalan di titik tersebut.

Akibat macetnya arus lalu lintas menjadikan waktu tempuh menjadi makin panjang. Siang tadi, sekitar pukul 13.00 WIB, MuriaNewsCom bersama rombongan wartawan butuh waktu dua jam lamanya, untuk menempuh perjalanan dari Purwodadi sampai Gubug yang berjarak sekitar 45 km. Padahal waktu tempuh normal hanya berkisar 45 menit saja.

Bertambahnya waktu tempuh terjadi, karena ada sistem buka tutup arus di sekitar pasar Godong. Yakni, arus yang berbelok menuju Juwangi di sebelah timur pasar. Kemudian di pertigaan sebelah barat pasar ada pergantian arus menuju Demak.
”Antrian kendaraan di sini bisa panjang dan lama. Kadang-kadang kendaraan bisa tidak bergerak sampai satu jam lamanya,” ungkap Zainudin, pedagang keliling yang berjualan di lokasi kemacetan.

Jika ingin lebih cepat, pengendara bisa memilih jalur alternatif. Yakni, dari Purwodadi-Penawangan-Truko-Jeketro-Gubug. Kalau melawati rute ini, pengendara akan terhindar dari kemacetan di Pasar Godong. Selain itu, waktu tempuhnya melewati rute ini hanya berkisar satu jam dari Purwodadi-Gubug atau sebaliknya dan arus lalu lintasnya juga tidak begitu ramai. (DANI AGUS/TITIS W)

20 Persen Angka Pelanggaran Lalu Lintas di Blora dari Kalangan Anak di Bawah Umur

Kasatlatas Polres Blora AKP Eko Pujiono saat memberi materi pada guru (MuriaNewsCom/Priyo)

Kasatlatas Polres Blora AKP Eko Pujiono saat memberi materi pada guru (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Kasatlantas Polres Blora AKP Eko Pujiono mengatakan, pelanggaran lalu lintas yang dilakukan anak di bawah umur, angkanya mencapai 20 persen. Kemudian, dari hampir 25 persen adalah warga dari desa.

“Pelanggaran yang dilakukan anak usia dibawah umur cukup banyak, sehingga untuk mengantisipasi dan meminimalisir akan hal tersebut, maka perlu ada sosialisasi sejak dini mengenai pendidikan berlalu lintas,” ujarnya, Sabtu (22/5/2015).

Menurutnya, banyaknya para pengendara sepeda motor yang masih berada di bawah umur tentu memicu pelanggaran- pelanggaran dalam berlalulintas.Karenan itu, penyuluhan dimaksudkan agar para guru bisa menyisipkan ke dalam mata pelajaran, sehingga, tercipta tertib berlalulintas.

”Potensi kecelakaan justru saat ini adalah anak-anak dan .Karena itu kami berharap, guru nantinya bisa memberikan sedikit materi berlalulintas kepada anak didiknya, agar mereka mampu dan paham akan tata cara berlalulintas yang benar,” ungkapnya.

Terkait hal ini, pihaknya siang tadi memberikan penyuluhan tentang pendidikan lalu lintas kepada guru SD dan MI se- Kabupaten Blora. Penyuluhan ini diadakan di Aula Polres Blora.

”Tujuan diadakan penyuluhan ini adalah untuk menindak lanjuti MoU antara Kapolda Jawa Tengah dan Gubernur Jawa Tengah tentang pengintegrasian pendidikan berlalul lintas kedalam mata pelajaran PPKN,” katanya.

Sementara itu, salah satu guru MI Al Muslimiah Nur Solikin mengungkapkan,pendidikan lalu lintas memang perlu disosialisasikan, Sebab banyak anak-anak yang menggunakan sepeda motor secara yang tidak mematuhi aturan berlalu lintas. Makanya, perlu ada arahan dari guru dan orangtua.

”Kegiatan ini tentu sangat positif. Guru nantinya dapat menyampaikan kembali kepada anak didik di sekolah,” ungkapnya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Puncak Syawalan, Kendaraan Dilarang Melintas di Pantura Kota Rembang

Sejumlah pengendara melintas di jalur Pantura Kota Rembang tepatnya di kawasan TRPK Dampo Awang Beach pada Kamis (23/7/2015). Selama dua hari atau tepatnya mulai Jumat (24/7/2015) hingga Sabtu (25/7/2015) pengguna kendaraan dilarang melintas di jalur setempat. (MuriaNewsCom/AHMAD FERI)

Sejumlah pengendara melintas di jalur Pantura Kota Rembang tepatnya di kawasan TRPK Dampo Awang Beach pada Kamis (23/7/2015). Selama dua hari atau tepatnya mulai Jumat (24/7/2015) hingga Sabtu (25/7/2015) pengguna kendaraan dilarang melintas di jalur setempat. (MuriaNewsCom/AHMAD FERI)

REMBANG – Demi mengantisipasi kemacetan parah saat puncak perayaan Syawalan, aparat kepolisian bakal menerapkan larangan melintas di jalur Pantura Kota Rembang. Polisi bakal membuat rekayasa lalu lintas di jalur setempat selama dua hari, tepatnya pada Jumat (24/7/2015) hingga Sabtu (25/7/2015) untuk mengantisipasi macet parah di ruas tersebut. Potensi kemacetan arus lalu lintas cukup tinggi mengingat di waktu tersebut berlangsung puncak perayaan Syawalan dan sedekah laut. Lanjutkan membaca

Pertigaan Godong Rawan Kemacetan

Pertigaan Godong menjadi salah satu titik rawan macet karena menjadi persimpangan jalur dari Purwodadi menuju arah Demak dan Semarang. Kemacetan sering terjadi pada waktu siang hingga sore hari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Meski secara keseluruhan arus lalu lintas terlihat lancar, namun para pengendara kendaraan perlu mewaspadai titik macet paling rawan. Yakni, di pertigaan Godong yang menjadi persimpangan jalur dari Purwodadi menuju arah Demak dan Semarang.

Dalam beberapa hari terakhir, sering terjadi kemacetan cukup panjang di tempat tersebut. Tidak adanya traffic light menjadikan kendaraan dari ketiga arah, seringkali saling berebut untuk berpindah jalur sesuai tujuan masing-masing. Beruntung, pihak kepolisian sudah mengantisipasi hal itu dengan menempatkan petugas untuk mengatur lalu lintas supaya arus dari ketiga arah bisa tetap berjalan.

”Pertigaan Godong ini kalau pas penuh kendaraan bisa macet panjang hingga dua kilometer. Selama lebaran ini, kondisi macet biasanya terjadi siang hingga sore hari,” kata Fahrudin, warga di sekitar tempat itu.

Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Parno menyatakan, agar arus lalu lintas lancar pihaknya sudah menempatkan anggota di beberapa titik rawan kemacetan. Terutama di titik pasar dan pertigaan Godong yang selama ini selalu menjadi momok kemacetan.

Menurutnya, titik rawan kemacetan di Pasar Godong merupakan titik paling susah diurai. Sebab, selain memiliki lebar jalan yang sempit, ruas tersebut juga dipadati para pedagang dan masyarakat yang berbelanja. ”Pada puncak arus mudik dan balik di sekitar Pasar Godong selalu terjadi kemacetan. Kami sudah menyiapkan jalur alternatif untuk mengurai kemacetan tersebut,” kata Parno.

Dikatakan, jalur alternatif yang disiapkan adalah melalui rute Penawangan-Truko-Jeketro-Gubug. Namun pengendara diminta hati-hati kalau memilih jalur tersebut. Sebab, ruas jalannya agak sempit dibanding jalur utama. (DANI AGUS/TITIS W)

Busyet, Hari Pertama Ramadan Kepadatan Lalu Lintas di Pati Capai 4.200 Kendaraan Per Jam

Hasil pantauan CCTV Traffic Monitoring System Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishubkominfo Pati di Simpang Widorokandang, Kecamatan Pati Kota. (LLAJ)

Hasil pantauan CCTV Traffic Monitoring System Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishubkominfo Pati di Simpang Widorokandang, Kecamatan Pati Kota. (LLAJ)

PATI – Hari pertama Ramadan, tingkat kepadatan lalu lintas di Simpang Sukokulon, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati mencapai 4.200 kendaraan per jam. Kepadatan arus didominasi di ruas jalan Semarang-Pati. Lanjutkan membaca

Ribuan Pelanggar Lalin di Grobogan Ditilang

Sejumlah pengguna jalan ditilang polisi akibat melanggar lalu lintas di Grobogan. Sejak operasi Patuh Candi digelar, polisi mencatat ada sebanyak 2.050 pelanggar. (MURIA NEWS / DANI AGUS)

GROBOGAN – Meski pelaksanaan operasi Patuh Candi 2015 sudah diumumkan sejak lama, namun masih saja pengendara yang nekat melakukan pelanggaran. Indikasinya, sudah ada 2.050 pelanggar yang terkena sangsi tilang dari petugas. Selain itu, ada 500 pelanggar dapat teguran tertulis dan sekitar 3.000 lainnya ditegur secara lesan.

Lanjutkan membaca

Jangan Coba-coba Melintas di Kudus Kalau Anda Melanggar Lalu Lintas

Polisi melakukan razia lalu lintas di Jalan R Agil Kusumadya, Kudus, Rabu (13/5/2015). (MURIANEWS/EDY SUTRIYONO)

KUDUS – Satuan Lalu Lintas Polres Kudus benar-benar bertekad ingin menurunkan tingkat pelanggaran lalu lintas di wilayah hukumnya. Upaya yang dilakukan di antaranya rutin melakukan operasi atau razia lalu lintas secara rutin.

Lanjutkan membaca

Satlantas Blora Tantang Siswa SMK Berkendara Baik

Sejumlah siswa SMK Bhakti Husada Blora sedang mencoba praktik ketangkasan berkendara, Selasa (12/5/2015). (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA – Jajaran Satlantas Polres Blora terus melakukan kampanye tertin berlalu lintas. Kali ini yang menjadi sasaran adalah siswa sekolah yang memang banyak sekali melanggar lalu lintas. Yakni dengan melakukan sosialisasi sekaligus praktik berkendara yang baik, kepada siswa dan guru SMK Bhakti Husada Blora, Selasa (12/5/2015).

Lanjutkan membaca

Satlantas Polres Pati Bagikan Pamflet dan Stiker Tertib Lalu Lintas

Satlantas Polres Pati bagikan pamflet dan stiker, mengimbau pengguna jalan untuk menyadarkan ketertiban lalu lintas, dengan membawa badut zebra dan memberikan bunga sebagai tanda apresiasi terhadap pengguna jalan yang tertib. (MURIANEWS / LISMANTO)

PATI – Satlantas Polres Pati membagikan pamflet dan stiker yang mengimbau kepada pengguna jalan untuk menyadarkan ketertiban lalu lintas. Hal ini dilakukan di Jalan P Sudirman Pati, Kamis (7/5/2015).

Lanjutkan membaca