Ratusan Polisi Bakal Amankan Lomban di Laut Jepara

Kapal nelayan melintas di Pelabuhan Ujung Batu, Sabtu (1/7/017), sehari sebelum pelaksanaan tradisi lomban. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara akan menerjunkan 300 personel untuk mengamankan prosesi syawalan atau lomban, esok Minggu (2/7/2017). Selain itu, Polair Polda Jateng juga berencana menurunkan bantuan pasukan pada tradisi tahunan itu. 

“Dari polres, untuk personel kita akan menurunan lebih kurang 300 personel. Selain itu, kita juga akan dibantu dari Satpol PP, TNI, melibatkan Basarnas dan pemda. Untuk gabungan ya sekitar 300 lebih, nanti ada tupoksinya masing-masing. Kita juga ada Bawah Kendali Operasi (BKO) dari Polair Polda Jateng, sekitar dua kapal besar,” kata Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho, Sabtu (1/7/2017). 

Ia menekankan pada para nelayan dan warga yang mengikuti acara tersebut, agar menaati peraturan. Satu di antaranya menggunakan jaket pelampung atau life vest saat menumpang kapal. Di samping itu, pihaknya juga telah menyosialisasikan agar pemilik kapal tidak mengangkut orang melebihi dari kapasitasnya.

“Nanti juga kami akan ingatkan lagi pada saat acara berlangsung agar memakai pelampung dan muatan penumpang tidak melebihi 20 orang,” ujarnya. 

Kapolres menuturkan, pihaknya juga akan menggandeng Polres Demak, Rembang dan sekitarnya. Hal itu karena peserta lomban diperkirakan juga berasal dari wilayah tersebut. 

Ia mengungkapkan, konsentrasi penambahan keamanan fokus pada pantai-pantai penyelenggara acara. Di antaranya, Pantai Kartini, Tempat Pelelangan Ikan, Pantai Bandengan dan Pulau Panjang.

Penempatan pasukan juga dilakukan di sumber-sumber kemacetan. Termasuk penempatan personel di perempatan yang menuju Pantai Bandengan.

“Untuk antisipasi kemacetan kita sudah buat satu jalur untuk Pantai Kartini. Di Pantai Bendengan dialihkan belok kiri ke Kedung Cino untuk keluarnya,” tutup Yudianto.

Editor : Ali Muntoha

Penjual Janur dan Ketupat Mulai Menjamur di Pasar Rembang

Jelang kupatan banyak warga berburu janur untuk digunakan membuat ketupat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Menjelang lebaran ketupat (kupatan), kini sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Rembang mulai dipenuhi para pedagang janur maupun selongsong ketupat musiman.

Selain para pedagang dadakan, penjual sembako di pasar juga memanfaatkan momen ini untuk ikut berburu keuntungan. Mereka juga ikut berjualan janur dan selongsong ketupat.

Salah seorang penjual janur asal Kedungrejo, Rembang Haryati (50) mengaku, sudah tiga Lebaran ini ia menjual janur dan ketupat kosong. “Penghasilannya lumayan. Meskipun hanya musiman saja,” katanya, Jumat (30/6/2017).

Untuk satu ikat berisi 10 lembar janur dijual atara Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu. Sedangkan ketupat kosongan satu ikatnya yang berisi 10 biji dihargai Rp 10an ribu.

Perempuan yang kesehariannya bekerja sebagai petani tersebut sudah menjual janur menjelang Lebaran ketupat sejak Kamis kemarin mulai dari pagi hingga siang.

Alhamdulillah, sejak dua hari ini bisa menjual sebanyak 50an ikat janur dan 17an ikat ketupat. Ya itung-itung buat tambahan penghasilan,” ucapnya.

Sementara itu, saat ditanya mengenai stok janur dan ketupat kosongan tersebut, ia mengaku bahwa bahan baku tersebut ia dapatkan dari wilayah Blora. “Saya beli dari seseorang yang mempunyai pohon kelapa,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Kudus: Parade Sewu Kupat Harus Terus Ada Hingga Anak Cucu

Bupati Kudus Musthofa memberikan sambutan dalam Parade Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Jumat (24/7/3025). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bupati Kudus Musthofa memberikan sambutan dalam Parade Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Jumat (24/7/3025). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Bupati Kudus Musthofa beserta sejumlah jajarannya hadir dalam Parade Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Jumat (24/7/3025). Dalam sambutannya, orang nomor satu di Kudus itu berharap tradisi Kupatan tersebut masih akan tetap ada hingga anak cucu nanti.

“Kami berharap supaya kebuadayaan ini bisa dilestarikan kepada anak cucu nanti. Kegiatn ini sudah ada sejak 2007 (sebelum) saat saya menjadi bupati periode pertama. Semoga ini akan terus dilestarikan generasi berikutnya,” kata Mustofa.

Selain itu, lanjut Musthofa, dia juga berharap dengan gelaran acara ini pihaknya bisa mendapat keberkahan dari Sunan Muria.

“Saya juga berharap pada pemimpin Kudus yang akan datang dapat melestarikan kebudayaan ini. Supaya ke depannya kepimpinannnya bisa berjalan lancar dan berkah atas karomah Sunan Muria,” tutur Musthofa. (EDY SUTRIYONO/SUWOKO)

Saka Pariwisata Juga Tak Ingin Ketinggalan Kirab Sewu Kupat

Anggota Saka Pariwisata ikut membantu panitia mempersiapkan Kirab Sewu Kupat Kanjeng Sunan Kudus di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Jumat (24/7/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Anggota Saka Pariwisata ikut membantu panitia mempersiapkan Kirab Sewu Kupat Kanjeng Sunan Kudus di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Jumat (24/7/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Saka Pariwisata Kudus juga tak ingin ketinggalan dalam Kirab Sewu Kupat Kanjeng Sunan Kudus di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Jumat (24/7/2015). Mereka sangat senang bisa terlibat dalam even tahunan tersebut.

“Ya saya bersyukur bisa ikut kegiatan ini. Dan saya juga sangat ikut Saka Pariwisata, karena bisa ikut dalam kegiatan-kegiatan seperti ini,” kata Istiqomah, peserta Saka Pariwisata dari MA NUMuallimat Kudus.

Menurutnya, keikutsertaan dalam kegiatan ini juga bisa menambah ilmu. Khususnya disaat ikut berbaur dalam kepanitiaan acara tersebut. Meskipun hanya sekadar membantu saja.

“Kami di sini memang mewakili pihak sekolah. Akan tetapi yang ditunjuk hanya 5 orang saja. Akan tetapi kami juga masih dibantu dari rekan dari sekokah lain,” paparnya. (EDY SUTRIYONO/SUWOKO)

Pedagang Asongan Meriahkan Parade Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria

Anggota Paguyuban Pedagang Asongan Kinanti ikut memeriahkan Parade Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Jumat (24/7/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Anggota Paguyuban Pedagang Asongan Kinanti ikut memeriahkan Parade Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Jumat (24/7/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Sejumlah pedagang asongan ikut memeriahkan Parade Sewu Kupat Knajeng Sunan Muria yang digelar di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Jumat (24/7/2015). Mereka selama ini tergabung dalam sebuah Paguyuban Kinanti yang menaungi para pedagang yang berjualan di kawasan Makam Sunan Muria.

Salah satu peserta kirab berasal dari Paguyuban Kinanti, Eva Zuliana Sari menjelaskan, pihaknya sudah merencanakan sejak awal akan ikut kirab. Dia merasa bersyukur, meskipun anggota paguyuban sebanyak 135, hanya 35 orang yang dipilih ikut kirab, termasuk dirinya.

Menurutnya, dengan mengikuti kebudayaan tersebut, secara otomatis dapat memperkenalkan kepada masyarakat pedagang asongan juga bisa berkreasi. Selain itu juga ikut serta sumbang sih dalam kegiatan berupa membawa hasil bumi.

Selain mereka, Pemerintah Desa Colo dan kepala desa se-Kecamatan Dawe juga ikut kirab budaya. (EDY SUTRIYONO/SUWOKO).

Tak Mau Dianggap Korupsi, Kerbau Lomban Dikirab dari TPI Jobokuto Jepara Sebelum Disembelih

Kerbau untuk lomban disembelih di depan masyarakat yang mengikuti Pesta Lomban. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kerbau untuk lomban disembelih di depan masyarakat yang mengikuti Pesta Lomban. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Prosesi awal rangkaian pesta lomban tahun 2015 ini mulai digelar. Ratusan warga menggiring kerbau dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kelurahan Ujungbatu hingga ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jobokuto yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi pemberangkatan, Jumat (24/7/2015).

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara Amin Ayahudi mengatakan, kirab kerbau merupakan prosesi yang baru tahun ini dalam rangkaian pesta lomban. Meski Pesta Lomban rutin dilaksanakan sepekan setelah Idul Fitri, masyarakat umum biasanya hanya bisa menyaksikan keberadaan kepala kerbau saat digelar prosesi larung ke tengah laut.

”Ada yang khawatir, kami korupsi dengan hanya membeli kepala kerbau untuk kebutuhan larung saja. Karena itu, kirab ini menjadi bukti sekaligus memberi tahu masyarakat jika kami benar-benar menyiapkan seekor kerbau untuk Lomban,” ujar Amin kepada MuriaNewsCom, Jumat (24/7/2015).

Selain bagian kepala untuk larung, daging kerbau dibagikan kepada masyarakat dalam bentuk suguhan kepada pengunjung pentas wayang kulit di TPI Ujungbatu, malam ini. Hanya, sebelumnya dilakukan ziarah ke makam Cik Lanang di Poncol serta Mbah Ronggo di Ujungbatu. Keduanya merupakan sosok yang dihormati nelayan Jepara karena menjadi tokoh cikal bakal wilayah nelayan setempat. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)

Begini Cara Warga Mlangsen Blora Lestarikan Tradisi Lebaran Ketupat

Ratusan warga Kelurahan Mlangsen tumpah ruah dihalaman masjid Al-Yahya untuk makan bersama. (MuriaNewsCom/Priyo)

Ratusan warga Kelurahan Mlangsen tumpah ruah dihalaman masjid Al-Yahya untuk makan bersama. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Menyambut lebaran ketupat yang jatuh pada hari ini Jumat (24/7/2015) sejumlah masyarakat Blora sangat antusias untuk merayakannya. Hal ini terlihat dari banyaknya warga yang rame-rame makan ketupat sayur di halaman Masjid Al-Yahya di lingkungan Dukuhan RT 01/RW 03 Kelurahan Mlangsen Blora.

Ratusan warga melakukan tradisi makan ketupat sayur bersama-sama dalam rangka memperingati Lebaran Ketupat atau yang lebih dikenal dengan istilah Bakda Kupat (Bada Kupat).

”Ini adalah acara rutin tahunan di wilayah kami. Semua warga membawa ketupatnya masing-masing yang telah dimasak untuk dikumpulkan dan didoakan bersama di halaman masjid, kemudian saling ditukar lalu dimakan bersama-sama,” kata ketua RT 01 RW 03 Kelurahan Mlangsen Rusdi, Jumat (24/7/2015).

Menurutnya acara tradisi syukuran kupat yang digelar di halaman Masjid Al-Yahya merupakan agenda rutin tahunan warga setempat. Masing-masing warga dengan membawa setampah ketupat lengkap dengan sayur dan lauknya berkumpul di halaman masjid mulai pukul 07.00 WIB.

”Mereka semua tumpah ruah di halaman masjid baik bapak-bapak, tradisi kupatan warga Mlangsen ini juga diikuti ibu-ibu, remaja dan anak-anak. Mereka makan bersama-sama dengan alas daun pisang dan daun jati,” ujarnya. (PRIYO/SUPRIYADI)

Sebelum Diarak, 25 Gunungan Didoakan di Makam Sunan Muria

166057_ketupat-(e)KUDUS – Sebanyak 25 gunungan ketupat dari berbagai desa dan sekolah yang ada di Kecamatan Dawe dipersiapkan menuju Makam Sunan Muria. Hal itu dilakukan supaya 1000 ketupat yang akan diarak bisa memberi manfaat kepada warga.

”Iya, ini sedang proses ke sana (Makam Sunan Muria). Panitia akan melakukan doa bersama sebelum berangkat. Harapannya acara tak ada kendala dan ketupat bisa dimakan tanpa ada yang mubadzir,” kata Kepala Desa Colo, Joni Awang Ristihadi terkait persiapan Kirab Parade Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria, Jumat (24/7/2015).

Rencananya, lanut Joni, setelah berdoa bersama dengan ulama setempat, nantinya gunungan ketupat yang berjumlah 1000 ketupat akan diarak turun ke bawah menuju taman Ria Colo. Di sana baik pengunjung ataupun warga bisa mengambil ketupat dengan bebas. (EDY SUTRIYONO/SUPRIYADI)

Kades Colo: Tradisi Seribu Kupat Dijamin Lebih Meriah dari Tahun Lalu

166057_ketupat-(e)KUDUS – Kepala Desa Colo, Kecamatan Dawe, Joni Awang Ristihadi memengungkapkan, perayaan tradisi syawalan Seribu Kupat yang akan digelar di Taman Ria Colo besok (24/7/2105) lebih meriah dibanding tahun seblumnya.

Hal itu diutarakan lantaran kegiatan tahunan tersebut kali ini akan diikuti siswa di se-kecamatan Dawe. “Pada tahun sebelumnya sekolah setingkat SMA, MA, SMK, SMP dan MTs tidak ikut serta. Akan tepi untuk kali ini sekolah itu akan ikut serta. Keikutsertaan itu juga dari kesadaran pihak sekolah masing masing,” paparnya.

Selain itu, lanjut Joni, dengan partisipasinya dunia pendidikan yang ada di Kecamatan Dawe inilah nantinya bisa menambah kemeriahan acara itu. Sebab sekolah itu akan menyumbang gunungan ketupat, kesenian, drum band dan kreativitas lainnya. (EDY SUTRIYONO/SUWOKO)

Ribuan Kupat Disiapkan Dalam Kirab Seribu Kupat

166057_ketupat-(e)KUDUS – Acara kirab Seribu Kupat yang berlangsung di Desa Colo kecamatan Dawe, tahun ini bakal digelar Jumat (24/7/2015). Menghadapi kegiatan tahunan tersebut, panitia sudah menyiapkan beberapa hal yang digunakan dalam kegiatan.

Kades Colo Joni Awal Istihadi (27) mengatakan, dalam perayaan tahun sebagian besar masih sama seperti tahun sebelumnya. Namun, lantaran kegiatan Kupatan yang jatuh pada Jumat, maka pihak desa beserta panitia membuat jadwal yang lebih padat.

“Jumat masih ada Jumatan, jadi sebelum pukul 11.30 WIB, kegiatan Seribu Kupat juga harus selesai karena masih ada tanggungan Jumatan,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom.

Menurutnya, kegiatan besok bakal dimulai dengan selamatan dan doa bersama pada pukul 05.30 WIB. Kemudian kirab gunungan Kupat dimulai dari Puri Colo dan finish di Taman Ria Colo sekitar pukul 11.00 WIB.

Namun, meski sebelum Jumatan harus sudah rampung, namun bukan berarti acara sudah selesai. Sebab usai Jumatan masih dilangsungkan acara hiburan dari warga setempat. Dalam Kirab besok, sedikitnya 25 gunungan juga sudah disiapkan dengan melakukan kordinasi dengan warga. Setiap RT dan Dukuh di Desa Colo turut aktif dalam mensukseskan kegiatan tradisi tersebut.

Dari segi jumlah peserta kirab, lanjutnya, tahun ini juga dinilai lebih banyak. Sebab dalam kirab nanti, sedikitnya 200 warga lebih dipastikan ikut meramaikan karnaval kirab budaya tersebut. “Bukan hanya warga saja yang meramaikannya, namun juga pelajar se-Dawe juga dipastikan ikut. Drum band saja jumlahnya sudah 25,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sunardi mengatakan, kegiatan Seribu Kupat sudah menjadi agenda wisata di Jateng. Sehingga, dalam kalender Wisata Jateng, Colo sudah masuk.

“Kami ikut aktif menyokong dan mensukseskan kegiatan tersebut. Sehingga Kudus juga makin dikenal dan tradisi tidak lagi dilupakan. Namun tetap yang berperan paling aktif adalah dari warga,” jelasnya. (FAISOL HADI/SUWOKO)