Sensasi Berkuliner di Atas Perahu di Waduk Tempuran Blora, Nyam..Nyam!

Pengunjung menikmati kuliner di atas perahu di Waduk Tempuran, Kecamatan Kota, Kabupaten Blora. (Tim Berita Humas Protokol Setda Blora)

MuriaNewsCom, Blora –  Waduk Tempuran yang berada di kawasan Pegunungan Kendeng Utara, tepatnya di Desa Tempuran, Kecamatan Kota, Blora, memang sudah lama dikenal sebagai salah satu objek wisata unggulan. Selain sebagai wisata alam, kuliner dan pusat pelatihan dayung, kini ada yang baru di waduk peninggalan Belanda ini.

Yakni sensasi berkuliner di atas perahu. Pengunjung, khususnya para pecinta kuliner bisa menikmati berbagai menu olahan ikan sambil berkeliling naik perahu dengan panorama alam Pegunungan Kendeng yang berbalut hutan jati hijau. Sesekali perahu akan berhenti di tengah waduk dan mempersilakan penikmat kuliner untuk makan sampai berswa foto (selfie).

Sebagai pengamanan, di atas perahu para pengunjung ditemani oleh dua orang petugas. Perahu juga dilengkapi dengan pelampung dan penyeimbang agar tidak mudah goyang saat berada di tengah waduk.

Seperti yang ada pada akhir pekan lalu. Sepasang muda mudi tampak asyik menikmati menu ikan bakar sambil berkeliling waduk dipandu oleh dua orang petugas. Dari kejauhan, mereka tampak asyik berdua sambil  berswa foto membidik pemandangan alam sebagai latar belakang foto.

“Tempuran sekarang lebih menarik dengan adanya fasilitas perahu. Kita bisa makan di atas perahu sambil keliling waduk, sensasinya beda. Apalagi kalau ditemani orang tersayang, cocok untuk kalangan muda,” ucap Nanik Wijaya (27) salah satu penikmat kuliner di atas perahu dikutip dari Facebook Akun Humas Protokol Kabupaten Blora.

Tak hanya makan ikan bakar sambil berkeliling waduk, di kawasan ini para pengunjung juga diberikan fasilitas. Yaitu sebuah dermaga menyerupai kapal yang dibangun menjorok ke tengah waduk. Tempat ini biasa digunakan para pengunjung untuk berburu foto, terutama saat matahari terbenam.

Sulastri (40) pemilik Warung Iwak Kali (WIK) di tepi Waduk Tempuran yang melayani kuliner di atas perahu menyatakan bahwa fasilitas berkeliling waduk sambil makan di atas perahu merupakan paket baru untuk memberikan kesan menarik kepada para pecinta kuliner.

“Ini paket baru yang kita tawarkan kepada para pengunjung. Sehingga mereka datang tidak hanya makan saja, tapi juga bisa menikmati pemandangan alam dengan berkeliling waduk,” ucap Sulastri.

Pengunjung menikmati kuliner di atas perahu di Waduk Tempuran, Kecamatan Kota, Kabupaten Blora. (Tim Berita Humas Protokol Setda Blora)

 

Menurutnya, untuk pengunjung yang ingin menikmati kuliner di atas perahu harus memesan terlebih dahulu di Warung Iwak Kali miliknya. Sistemnya paketan, di mana pengunjung bisa dilayani kekeling waduk selama 30 menit sambil makan sajian kuliner yang dipesan.

“Berhubung ini fasilitas baru, sehingga jumlah perahu masih terbatas. Jika respons pengunjung bagus, tidak menutup kemungkinan kedepan perahunya akan kami tambah lagi,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Sego Dodok, Kuliner Jepara Merakyat yang Ngehits

Suasana tempat kuliner Sego Dodok di Jalan Ahmad Yani Jepara, saat waktu petang, kemarin. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Sekitar 2 tahun silam kuliner “Sego Dodok” di Kota Ukir Jepara berkembang pesat. Khususnya di pusat kota setempat. Kuliner ini berbentuk umumnya Angkringan, dengan menu variatif. Mulai lauk, makanan gorengan, dan nasi bungkus (nasi kucing). Dengan harganya terjangkau.

Sego Dodok dalam Bahasa Indonesia yakni nasi yang dimakan sambil jongkok atau duduk. Warga Jepara menyebutnya dengan sebutan Sego Dodok. Tempat yang banyak dijumpai penjual kuliner ini yakni di sepanjang Jalan Ahmad Yani atau sebelah utara alun-alun setempat, hingga Jalan Syima Jepara. Biasanya, kuliner ini mulai beroperasi sore hingga malam hari.

Salah satu penjual Sego Dodok dari Kelurahan Pengkol Jepara, Erni mengatakan, ia berjualan kuliner Sego Dodok sejak 2, 5 tahun lalu. Sejauh ini, banyak dari warga setempat menjadi langganannya. “Mereka lebih suka makan di Sego Dodok. Harganya terjangkau. Ketimbang makan di rumah makan pinggir jalan,” kata Erni.

Sementara itu, penjual lainnya Budi mengatakan, kondisi Jepara di saat malam hari memang berbeda dengan kota lain. Di pinggir jalan, lebih banyak tempat mebel daripada warung. “Jadi Sego Dodok jadi pilihan utama,” kata Budi.

Biasanya, pembeli berasal dari warga yang baru pulang kerja. Ada yang makan di lokasi warung, ada pula yang membeli makanan untuk dibawa pulang. Harga sebungkus nasi di warung Sego Dodok bervariasi. Mulai dari Rp.1.500 per bungkus hingga Rp 2.500 per bungkus, tergantung lauk di dalamnya.

Sedangkan untuk gorengannya dari Rp 500 hingga Rp 2 ribu.  Adapun harga lauknya sate usus, sate jeroan, sate jengkol mulai dari Rp 1.000 hingga Rp. 2.500 per tusuknya.

Editor : Akrom Hazami

Inilah Filosofi Lontong Tuyuhan yang Perlu Kamu Tahu

f-lontong tuyuhan (e)

Lontong Tuyuhan yang bentuknya segitiga (MuriaNewsCom/Edi Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Jika berkunjung ke Kabupaten Rembang, belum lengkap rasanya jika belum mencicipi kuliner khasnya. Salah satunya adalah Lontong Tuyuhan. Ya, Kuliner yang berasal dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur ini dipercaya para pecinta kuliner memiliki cita rasa khas jika disantap langsung di tempat asalnya.

Namun, tahukah Anda? Jika bentuk Lontong Tuyuhan memiliki perbedaan dengan lontong yang selama ini dijumpai. Jika pada umumnya lontong dibungkus dengan daun pisang dengan bentuk bulat dan memanjang, namun lain halnya Lontong Tuyuhan yang bentuknya segi tiga.

Di balik bentuk Lontong Tuyuhan yang segi tiga itu, ternyata memiliki makna dan filosofi tersendiri. Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Rembang Edi Winarno mengatakan, bentuk segi tiga pada Lontong Tuyuhan itu menggambarkan unsur terterntu yang saling berhubungan.

Pertama, katanya, memiliki makna Ketuhanan. Yakni, manusia sebagai hamba-Nya harus taat perintah dan menjauhi larangan atau amal makruf nahi munkar. Jika hal itu dijalankan, maka kehidupan manusia, khususnya di Rembang bisa berjalan dengan baik, dengan berpedoman pada agama.

Menurutnya, Jika dikaitkan dengan hal itu, tak heran di Rembang banyak dijumpai ratusan pondok pesantren maupun sekolah agama. Sehingga kehidupan di kota Rembang sangat kental sekali ajaran agamanya.

“Yang kedua yakni, manusia harus taat akan Rasul hingga ulama. Sebab, mereka yang membimbing kehidupan manusia akan sesusai dengan perintah agama. Dan itu nantinya akan bermuara pada makna yang pertama. Yakni taat kepada Tuhan,” paparnya.

Selanjutnya, untuk yang ketiga yaitu, taat pada pemerintah. Hal ini, supaya kehidupan warga bisa tertata dan sejahtera. “Selain itu, Lontong Tuyuhan yang dibungkus daun pisang ini, juga ada tiga lidi yang ditusukkan, yang berfungsi sebagai perekat, sehingga berasnya tidak berceceran. Tiga lidi ini juga memiliki makna tegak lurus, yaitu, ajaran agama harus benar-benar diamalkan, atau tegak lurus jangan tergoyahkan,” ujarnya.

 

Editor : Kholistiono

Ini Sensasi Rasa Tongseng Iga Sapi di Pati yang Tak Biasa

Pengunjung tengah menikmati tongseng iga bakar di Jalan Tondonegoro Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Pengunjung tengah menikmati tongseng iga bakar di Jalan Tondonegoro Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jika berkunjung ke Kota Pati, pastinya tak asing dengan menu khasnya yaitu Nasi Gandul. Namun tak ada salahnya jika Anda mencoba mencicipi kuliner istimewa yang ada di kota pensiunan ini, yaitu tongseng iga sapi.

Selama ini, tongseng identik dengan daging kambing. Beda halnya tongseng yang ada di Jalan Tondonegoro Pati, menu tongseng yang ditawarkan terbuat dari iga sapi. Rasanya pun tak kalah dengan tongseng biasa.

Tak ayal, menu yang terbilang cukup unik ini selalu ramai dikunjungi penikmat kuliner, terutama pada saat jam-jam makan siang hari. Penikmatnya pun lintas generasi dan profesi.

Hal itu wajar, karena harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Untuk menikmati satu porsi tongseng iga sapi, pengunjung cukup merogoh kocek Rp 18 ribu saja.

”Harganya cukup terjangkau. Satu porsi tongseng iga sapi cukup dengan Rp 18 ribu saja. Padahal, rasanya mantap dan pas di perut. Enak,” kata Agus Rianta, salah satu penikmat kuliner iga sapi asal Desa Kayen kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, kuliner iga sapi tersebut cocok disantap pada siang hari. Pasalnya, racikan bumbu dan jenis masakannya memang pas saat dimakan pada siang hari.

Meski begitu, kata dia, tongseng iga sapi bisa saja disantap sebagai menu sore hari. “Kalau pagi sepertinya kok tidak masuk. Ini cocoknya menu siang dan sore,” imbuhnya.

Hal itu diakui pemilik warung, Budi Siswanto. ”Warung kami paling ramai dikunjungi pada siang hari. Banyak pegawai dan staf yang memilih makan siang di warung kami,” ujar Budi.

Dalam sehari saja, Budi mengaku bisa menjual sekitar 70 hingga 100 porsi tongseng iga sapi. ”Rata-rata, saya bisa menjual 70 sampai 100 porsi dalam sehari. Dari 12 kilogram iga sapi, biasanya menghasilkan 50 porsi saja,” tuturnya.

Selain tongseng iga sapi, Budhi’s warung juga menawarkan beragam menu lainnya seperti iga sapi penyet, iga sapi bakar, dan asem iga sapi. Rasanya benar-benar mantap! (LISMANTO/TITIS W)

SMKN 1 Kudus Siap Jadi Yang Pertama

KUDUS – SMK Negeri 1 Kudus terpilih menjadi sekolah kuliner nusantara yang pertama di Indonesia. Ini tentu saja merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seluruh penghuni sekolah tersebut.
Perjalanan untuk menjadi yang pertama ini, memang sudah dipersiapkan sejak awal. Tujuannya untuk mencetak calon-calon koki atau chef yang mampu menguasai 30 ikonik kuliner nusantara. Sehingga nantinya dapat ditiru dan menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lainnya di Indonesia.
Peresmian SMKN 1 Kudus menjadi sekolah kuliner nusantara pertama di Indonesia ini, dilakukan langsung Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Kerja sama antara Djarum Foundation dan BNI ini, juga menghadirkan pakar kuliner Indonesia William Wongso, Bupati Kudus H Musthofa, Presiden Direktur PT Djarum Victor R Hartono, Wakil Direktur BNI Melia Salim, dan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus Hadi Sucipto.

Lanjutkan membaca