Waspada Krisis Air di Kudus saat Kemarau

Intan Puteri Yokebeth, Pembelajar Bioteknologi, Warga Kudus

KABUPATEN  Kudus merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah. Letak Kabupaten Kudus antara 110 36′ dan 110 50′ BT dan antara 6 51′ dan 7 16′ LS. Kabupaten Kudus terdiri atas 9 kecamatan, yang dibagi lagi atas 123 desa dan 9 kelurahan.

Kabupaten Kudus memiliki sumber air bersih yang terdiri dari beberapa wilayah. Pada wilayah utara yang berbatasan dengan Gunung Muria, sumber air bersihnya memiliki kuantitas dan kualitas air bersih yang baik.

Sehingga banyak warga yang masih menggunakan secara langsung dari sumber air melalui pemipaan maupun mengambil langsung disumber air.

Pada wilayah perkotaan secara kuantitas sumber air bersihnya mencukupi namun secara kualitas ada beberapa kendala. Kendala kualitas air bersih di wilayah perkotaan dikarenakan banyaknya industri yang kemungkinan limbahnya mencemari air tanah.

Sumber air bersih pada wilayah selatan air tanahnya secara kualitas kurang memenuhi syarat untuk dapat dikonsumsi.

Setiap tahunnya jumlah penduduk di Kabupaten Kudus terus meningkat. Hal ini menyebabkan tingkat kebutuhan air bersih masyarakat Kabupaten Kudus terus bertambah, selain itu limbah dan sampah yang dihasilkan juga terus meningkat. 

Hal ini menyebabkan masyarakat Kabupaten Kudus dihantui oleh krisis air bersih yang akan terjadi. Ledakan pertumbuhan penduduk yang diiringi pembangunan yang terus dilakukan juga memicu terjadinya krisis air bersih.

Selain itu perilaku tidak bertanggung jawab seperti pembuangan sampah dan limbah membuat tercemarnya sumber air bersih.

Selain itu dengan berakhirnya musim hujan yang cukup panjang maka akan masuk pada musim kemarau. Musim kemarau yang diprediksi puncaknya terjadi pada bulan Juni sampai Juli. Maka perlu diwaspadai masyarakat Kabupaten Kudus akan terjadinya kekeringan yang menyebabkan krisis air.

Setiap tahunnya kekeringan pada beberapa wilayah  Kabupaten Kudus semakin meluas. Hal ini menyebabkan semakin berkurangnya sumber air bersih. Wilayah yang paling sering mengalami kekeringan adalah wilayah bagian timur di Kabupaten Kudus yaitu wilayah kecamatan Jekulo dan Mejobo, sedangkan pada wilayah selatan meliputi kecamatan Undaan dan Kaliwungu.

Kekeringan tersebut disebabkan oleh banyaknya industri-industri yang berkembang. Krisis air bersihpun semakin menghantui masyarakat kabupaten Kudus setiap harinya. Masalah yang kompleks ini sebenarnya bukan hanya menjadi tugas untuk pemerintah saja, masyarakatpun juga memiliki tugas untuk ikut serta menyelesaikan permasalahan ini.

Masyarakat Kabupaten Kuduslah yang akan menentukan bagaimana kelanjutan tentang krisis air di Kabupaten Kudus. Apakah masyarakat Kabupaten Kudus akan terus dihantui oleh krisis air bersih yang terjadi, atau masyarakat Kabupaten Kudus akan terbebas dari ketakutan akan krisis air tersebut.

Sebenarnya ada beberapa solusi sederhana yang dapat dilakukan masyarakat Kabupaten Kudus untuk terbebas dari ketakutan krisi air. Solusi utama dari permasalahan ini adalah meningkatkan sanitasi pada Kabupaten Kudus teutama dalam hal pengolahan sampah rumah tangganya dengan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah langsung ke badan sungai, selain itu pengolahan sampah dapat dilakukan menggunakan sistem 3R (reuse, reduce, dan recycle).

Selain itu masyarakat Kabupaten Kudus juga dapat memanfaatkan air hujan salah satunya dengan membuat penampungan air hujan. Pembuatan penampungan air hujan merupakan cara ini sangat efektif untuk mendapatkan air bersih, walaupun tidak semua bak penampungan air hujan yang dibuat oleh warga mampu bertahan selama musim kemarau.

Dengan membuat bangunan penampungan air hujan, warga secara tidak langsung telah memberikan contoh penyediaan air baku mandiri dengan sistem pemanenan air hujan, meskipun saat penggunaannya berlangsung singkat namun sangat membantu.

Solusi lainnya adalah masyarakat Kabupaten Kudus diimbau untuk  membuat sumur resapan air atau biopori. Sumur resapan air merupakan sebuah lubang yang mempunyai kedalaman sekitar 5 hingga 10 meter, yang nantinya bisa menampung sampah bersih.

Sehingga sampah yang terdiri dari dedaunan tersebut, pada saat musim hujan bisa menyerap air. Dan di saat musim kemarau, sumur yang ada di sekitar biopori itu bisa mengeluarkan mata air

Adapun solusi jangka menengah yakni pemanfaatan sungai- sungai untuk air baku. Untuk solusi jangka panjang, yang harus dilakukan yakni memanfaatkan cadangan air tanah (CAT).

Karena  sebagian besar jenis tanah di Kabupaten Kudus adalah tanah aluvial merupakan tanah yang paling muda atau tergolong jenis tanah muda karena terjadi akibat endapan pasir dan juga endapan lumpur.

Tanah ini pun memiliki manfaat yaitu dapat menyimpan air pada tanah, sehingga akan dapat digunakan sebagai cadangan ketika musim kemarau, sifat tanah aluvial yang mudah menyerap air ini biasanya dimanfaatkan oleh akar untuk mengambil sebanyak-banyaknya manfaat air dan menyerap sebanyak-banyaknya air untuk cadangan kehidupan dalam proses tumbuhnya tanaman tersebut sehingga sangat tepat untuk dimanfaatkan masyarakat Kudus sebagai cadangan air tanah.

Ternyata mencegah terjadinya krisis air sangatlah mudah, banyak solusi yang sangat mudah dijalankan terutama bagi masyarakat Kabupaten Kudus jadi mulailah menjaga sumber air di kabupaten Kudus supaya kita tidak terus dihantui oleh ancaman krisis air bersih. (*)

 

(Intan Puteri Yokebeth, Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Warga Kabupaten Kudus. Artikel ini dimuat MuriaNewsCom, Kamis 23 Maret 2017).