Warga di Sekitar Sungai yang Airnya Menghitam Diberi Bantuan Air Bersih

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara langsung mengambil tindakan, merespon kondisi Sungai Gede Karangrandu yang menghitam. Bupati Jepara Ahmad Marzuqi lantas mengintruksikan untuk memperlancar aliran sungai dan melakukan droping air bersih, untuk kebutuhan warga. 

“Langkah jangka pendek, kami perintahkan agar bendungan di bendung Karangrandu agar dibuka. Sementara untuk mengatasi kebutuhan air bersih kami menyediakan air yang nantinya akan disuplai dari BPBD dan PDAM Jepara, banyaknya nanti menyesuaikan kebutuhan dari warga,” katanya, saat inspeksi penyebab menghitamnya Sungai Gede Karangrandu, Sabtu (19/8/2017) siang. 

Ia mengatakan, langkah tersebut untuk mengatasi keluhan warga Desa Karangrandu yang airnya menjadi hitam dan berbau, sebulan belakangan.

Terkait anggaran untuk droping air, pihaknya akan menggunakan dana yang telah diposkan untuk penanggulanan krisis air yang ada di BPBD Jepara. 

Direktur PDAM Jepara Prabowo mengatakan, pihaknya siap untuk melaksanakan droping air kepada warga Karangrandu. “Kami siap untuk droping air kepada warga, sudah disiapkan tangkinya, tinggal nanti kalau ada calling (perintah) kita langsung berangkat,” tuturnya. 

Editor : Ali Muntoha

PMI Mulai Salurakan Bantuan Air Besih ke Daerah Kekeringan di Grobogan

Bantuan air bersih yang disalurkan PMI Grobogan langsung diserbu warga yang terkena kekeringan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bantuan air bersih mulai disalurakan ke daerah yang terkena dampak kekeringan. Salah satunya dilakukan PMI Grobogan yang sudah sejak beberapa hari lalu mendistribusikan bantuan air bersih pada masyarakat.

Kasi Pelayanan PMI Grobogan Gesit Kristyawan menyatakan, pasokan air bersih sudah ditujukan ke sejumlah titik kekeringan. Seperti di wilayah Kecamatan Geyer, Toroh, Pulokulon,Karangrayung, Kradenan, Tawangharjo, Purwodadi, dan Gabus.

Distribusi air bersih ini dilakukan dengan menggunakan satu mobil tangki berkapasitas 6.000 liter. Kebutuhan air sebanyak ini diperkirakan bisa mencukupi kebutuhan sekitar 50 KK selama beberapa hari.

Menurut Gesit, setiap harinya PMI hanya mampu mendistribusikan maksimal 3 kali pengiriman. Soalnya, distribusi dilakukan dengan sistem ecer. Yakni, warga langsung mengambil air dari tangki menggunakan jeriken atau ember.

“Dengan sistem ecer begini, butuh waktu agak lama. Beda kalau distribusinya dimasukkan ke dalam sumur, waktunya bisa cepat,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

2 Desa di Jepara Alami Krisis Air

air-e

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa pekan terakhir sejumlah wilayah di Kabupaten Jepara kerap diguyur hujan. Meski begitu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mengklaim masih terjadi krisis air di dua desa.

Kedua desa yang diketahui masih terjadi krisis air adalah Desa Raguklampitan, Kecamatan Batealit dan Desa Clering, Kecamatan Donorojo. Khusus Desa Raguklampitan, justru wilayah yang krisis air meluas. Semula hanya puluhan kepala keluarga (KK) di RT 26. Kini meluas ke RT lain.

“Dua pekan terakhir, krisis air bersih merambah keenam RT lainnya. Yakni RT 1, 2, 6, 9, 23 dan 24 yang jaraknya saling berdekatan. Untuk RT 26, kami sudah melakukan droping air sebanyak 20 kali. Sedangkan untuk enam RT lainnya, sudah belasan kali dilakukan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayetno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaludin kepada MuriaNewsCom, Jumat (30/9/2016).

Menurutnya, hujan yang mulai mengguyur wilayah Jepara sejak beberapa pekan terakhir belum membuat Desa Raguklampitan, Kecamatan Batealit, terbebas dari krisis air bersih. Bantuan air bersih (droping) masih terus dilakukan, bahkan meluas.

“Sumur-sumur milik warga setempat masih kering. Intensitas hujan belum cukup membuat sumur kembali terisi air. Kemungkinan karena Raguklampitan terletak di wilayah dataran tinggi. Air hujan belum cukup meresap hingga ke sumber air,” jelas Jamal.

Untuk memermudah proses drop air, BPBD meminjamkan beberapa tanki air. Tanki diletakkan secara merata dan tidak terfokus pada satu titik sehingga memudahkan warga yang membutuhkan air bersih.

“Kami akan terus melakukan droping air selama warga masih membutuhkan,” tuturnya.

Jamal mengemukakan, baru-baru ini pihaknya mendapatkan laporan jika Desa Clering juga membutuhkan bantuan air bersih. Tapi secara resmi, pihak desa setempat belum berkirim surat permohonan.

“Jika sudah ada permintaan resmi, maka kami akan lakukan droping air. Tapi karena lokasinya jauh dari depo, maka akan dilakukan dengan menggunakan drum yang diangkut pikap. Air diambil dari sumber air terdekat,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Kudus Terancam Krisis Air Bersih, Ini Antisipasi PDAM

Petugas mengisi air bersih ke dalam tangki di Kudus. (MuriaNewsCom)

Sejumlah petugas sibuk mengisi air bersih ke dalam tangki di beberapa unit truk sebelum didistribusikan ke sejumlah wilayah di Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – PDAM Kudus mengantisipasi ancaman krisis air yang diperkirakan terjadi pada 2032. Di antaranya dengan membuat embung, resapan air, dan Waduk Logung.

Direktur PDAM Kabupaten Kudus Achmadi Safa, mengatakan pihaknya telah melakukan antisipasi krisis air semenjak sekarang. “Jika krisis air benar terjadi, maka PDAM mengandalkan sumber air permukaan yang dianggap mempunyai rentang pemulihan lebih pendek dibandingkan sumber air dalam,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Mengingat mengembalikan air bawah tanah tidak bisa singkat dilakukan. Setidaknya butuh waktu hingga ratusan tahun guna mengembalikan dan mengisi air bawah tanah. Hal itu belum lagi dengan adanya pergerakan tanah yang mengganggu pengisian air bawah tanah. Karena itulah, air permukaan dianggap lebih pas dan tepat.

Hingga saat sekarang, elevasi air pada sumur produksi yang dimilikinya masih relatif aman. Namun kedepan tidak ada yang menjamin. Sehingga persiapan harus dilakukan.

Antisipasi jangka pendek dilakukan dengan menambah pasokan air baku bersumber dari air bawah tanah, dari 400 liter per detik menjadi 480 meter per detik. “Mudah- mudahan masyarakat bisa berhemat air serta lebih banyak menanam pohon. Sebab dapat membantu menahan air agar tidak langsung habis,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Bantuan Air Bersih Diprioritaskan Bagi Warga yang Alami Krisis

kering

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Jamaludin mengatakan, droping air bersih akan diprioritaskan pada desa-desa yang warganya benar-benar kesulitan mendapatkan air bersih.

Dari 16 kecamatan di Jepara, sebanyak 11 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan. “Masing-masing kecamatan, rata-rata empat desa yang mengalami kekeringan setiap tahunnya,” katanya.

Sementara itu, Camat Karimunjawa M Taksin mengatakan, kekeringan yang terjadi di Desa Kemujan belum begitu parah. Warga yang sumur-sumurnya mulai mengering masih bisa mendapatkan air bersih dari sumur warga lainnya.

“Kebutuhan air di Kemujan masih cukup. Memang sudah ada beberapa warga yang mulai mengambil air dari sumur-sumur tetangga,” kata Taksin.

Taksin menambahkan, sampai saat ini sesekali hujan masih turun di wilayah terluar Kabupaten Jepara itu. Sehingga, kebutuhan air bersih di Desa Kemujan maupun Desa Karimun masih cukup. Hanya saja, debitnya memang mulai berkurang.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Krisis Air Bersih Serang 4 Desa di Jepara

air 1

Sejumlah tandon dipersiapkan untuk menghadapi krisis air bersih. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara –  Meskipun kemarau tahun ini tergolong kemarau basah, namun sejumlah desa di Kabupaten Jepara saat ini sudah terasa krisis air bersih. Setelah Desa Raguklampitan, Kecamatan Batealit, kini ditambah tiga desa yang juga mengalami krisis air. Mereka mulai mengajukan permohonan bantuan droping air.

Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Jamaludin mengatakan, selain Desa Raguklampitan, juga disusul Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Desa Datar, Kecamatan Mayong, dan Desa Guyangan Kecamatan Bangsri.

“Meskipun mereka sudah mengajukan surat permohonan droping air bersih, pasokan air bersih akan dilakukan ke desa-desa apabila pihak pemerintah desa sudah menginformasikan benar-benar butuh. Sebab, desa-desa tersebut merupakan desa yang lengganan kekeringan setiap tahun. Jadi mereka tiap tahun memang mengajukan permohonan ke kami,” ujar Jamaludin kepada MuriaNewsCom, Selasa (16/8/2016).

Menurut dia, sampai saat ini BPBD baru melakukan droping air bersing ke satu desa, yaitu Desa Raguklampitan Kecamatan Batealit. Sedangkan untuk desa yang lain belum menunggu informasi mendesak untuk didroping air.

“Desa-desa yang setiap tahunnya mengalami kekeringan, maka kami imbau untuk segera mengajukan permohonan, karena droping air juga butuh persiapan,” terangnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Serunya Belajar Jurnalistik Pada Kemah Konservasi 

Peserta kemah konservasi sedang mendengarkan materi tentang jurnalistik. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Peserta kemah konservasi sedang mendengarkan materi tentang jurnalistik. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Peserta kemah konservasi yang diadakan Muria Research Center (MRC) Kudus tidak hanya diberikan materi mengenai penanganan krisis air. Namun, peserta juga mendapatkan pembelajaran mengenai jurnalistik.

Dalam hal ini, peserta kemah dipandu oleh Merie, pemimpin redaksi koranmuria.com dan MuriaNewsCom. Peserta dikenalkan mengenai dunia jurnalistik, baik mengenai cara penulisan ataupun bagaimana memperoleh informasi dan pengemasan berita yang baik dan benar, sehingga nyaman untuk dibaca.

Dirinya mencontohkan, kegiatan kemah konservasi yang dilaksanakan pada 24-25 Oktober 2015 ini, dapat dijadikan menjadi salah satu bahan untuk karya jurnalistik. “Dengan mengusai dasar-dasar penulisan atau materi lain mengenai jurnalistik, kegiatan kemah inipun bisa diolah menjadi karya jurnalistik yang menarik,” katanya.

Selain itu, katanya, peristiwa kebakaran yang terjadi di lereng Gunung Muria beberapa waktu lalu, juga bisa menjadi salah satu berita menarik.

Kemudian, dirinya juga menantang masyarakat ataupun mahasiswa untuk berperan aktif dalam menulis. Isu-isu lokal, katanya, bisa menjadi salah satu bahan untuk diulas secara menarik. “Sejauh ini, materi-materi yang ditulis masih banyak membahas isu nasional, padahal sebenarnya isu lokal yang ada di sekitar kita itu cukup banyak,” ungkapnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Ini Lho Salah Satu Cara Mengatasi Krisis Air

Salah satu pemateri sedang memberikan materi terhadap peserta kemah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu pemateri sedang memberikan materi terhadap peserta kemah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Muria Research Center (MRC) mengadakan kemah konservasi yang diadakan di kebun kopi kawasan Colo, Kecamatan Dawe. Kegiatan ini, salah satunya membahas mengenai krisis air yang melanda di Indonesia sekarang ini.

Kegiatan yang diikuti oleh sedikitnya 32 peserta, dari beberapa instansi tersebut, menggandeng beberapa pemateri dari instansi terkait dan media massa lokal di Kudus.

Salah satu pemateri dari Kantor Lingkungan Hidup Kudus Meri menjelakan, untuk menangansi krisis air, khususnya yang melanda di wilayah Kudus, salah satu solusinya adalah dengan membuat sumur resapan air atau biopori.

Sumur resapan air, merupakan sebuah lubang yang mempunyai kedalaman sekitar 5 hingga 10 meter, yang nantinya bisa menampung sampah bersih. Sehingga sampah yang terdiri dari dedaunan tersebut, pada saat musim hujan bisa menyerap air. Dan disaat musim kemarau, sumur yang ada di sekitar biopori itu bisa mengeluarkan mata air.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau supaya warga bisa sadar menanam pohon. Sebab dengan menanam pohon, maka airnya bisa diserap oleh akar dari pohon tersebut, serta bisa dijadikan cadangan disaat musim kemarau.Pohon yang dianjurkan untuk ditanam, di antaranya pohon dengan jenis akar serabut.

“Sebaiknya pohon yang ditanam sejak dini itu harus yang mempunyai akar serabut atau bisa juga akar tunggang. Sebab pohon itu nantinya bisa mempunyai cadangan air yang berlimpah,” paparnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Kades Pastikan Kurang Air Sudah Biasa

Bupati Kudus H Musthofa meninjau area persawahan Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus. Pihaknya mengimbau jika ada desa yang membutuhkan bantuan air bisa menghubungi BPBD Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

Bupati Kudus H Musthofa meninjau area persawahan Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus. Pihaknya mengimbau jika ada desa yang membutuhkan bantuan air bisa menghubungi BPBD Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

KUDUS – Kepala Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Supardiyono mengatakan bahwa tidak ada krisis air atau kekeringan di desanya. Hanya saja, warga memang mengalami kekurangan air, yang biasa terjadi setiap tahunnya.

”Kalau kurang air itu sudah biasa. Karena memang daerah Kutuk daerah kering. Jadi sudah biasa setiap tahunnya begitu,” katanya.
Termasuk juga areal persawahan. Menurut Supardiyono, kondisi sawah memang harus kering, karena untuk menanam palawija. Di mana tanaman palawija memang tidak membutuhkan air.

”Bahkan, areal sawah harus dikeringkan sebelum bisa ditanami palawija. Sekarang ini malah sudah ada yang panen,” jelasnya.

Supardiyono mengaku sudah menjelaskan kepada bupati mengenai hal itu. Bahkan, bantuan air untuk keperluan minum dan masak, juga sudah dipasok oleh Pemkab Kudus.

”Sehingga kami tidak perlu khawatir. Karena memang bagi warga ini satu hal yang biasa, dan sudah terbiasa mengatasinya,” ujarnya.

Bupati Kudus H Musthofa menambahkan, jika kemudian ada desa yang membutuhkan bantuan air, bisa menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus.

”Supaya bisa segera tertangani. Sehingga tidak terlalu lama diatasinya. Kami pastikan nanti semua akan bisa tertangani. Kirimkan saja permohonan bantuan, kalau memang perlu,” imbuhnya. (MERIE)

Bupati: Harus Jelas soal Kekeringan Itu Apa

Dalam kunjungannya ke Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Bupati Kudus H Musthofa menegaskan jika tidak ada kekeringan yang terjadi di desa tersebut, sebagaimana diberitakan. (MuriaNewsCom/Merie)

Dalam kunjungannya ke Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Bupati Kudus H Musthofa menegaskan jika tidak ada kekeringan yang terjadi di desa tersebut, sebagaimana diberitakan. (MuriaNewsCom/Merie)

KUDUS – Dalam kunjungannya ke Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Bupati Kudus H Musthofa menegaskan jika tidak ada kekeringan yang terjadi di desa tersebut, sebagaimana diberitakan.

”Jika musim kemarau seperti sekarang ini, wajar jika kemudian areal persawahan kering. Karena tanaman yang ditanam itu palawija. Bukan padi,” jelasnya.

Bupati mengatakan jika musim tanam saat ini berbeda. Jika musim kemarau seperti ini, maka petani menanam palawija. ”Sehingga wajar kalau kemudian yang ditanam palawija. Kalau misalnya tidak menanam palawija, malah aneh,” terangnya.

Bupati menegaskan bahwa tidak ada juga krisis air yang terjadi di Kutuk. Semuanya sudah bisa dikondisikan, karena setiap tahunnya daerah Kutuk memang topografi daerah kering.

”Sehingga setiap saat, setiap tahunnya, selalu ada droping air bersih. Itu topografi daerah Kutuk. Dan kita dari pemkab memang sudah memahami benar bagaimana tipikel atau topografi daerah ini,” tuturnya.

Sekali lagi, bupati menegaskan bahwa tidak ada krisis air yang terjadi di Kudus. Tapi kalau kekurangan, diakui memang ada.
”Kalau kekurangan saya akui ada. Tapi kekeringan tidak ada. Apalagi krisis air,” tegasnya.

Dalam kunjungan tersebut, bupati juga memperlihatkan bagaimana panen kedelai yang siap panen. (MERIE)

Bupati Kudus “Sewot” Kutuk Disebut Krisis Air

Bupati Kudus H Musthofa datang ke lokasi untuk mengetahui kabar kekeringan di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus, Kamis (6/8/2015). (MuriaNewsCom/Merie)

Bupati Kudus H Musthofa datang ke lokasi untuk mengetahui kabar kekeringan di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus, Kamis (6/8/2015). (MuriaNewsCom/Merie)

KUDUS – Bupati Kudus H Musthofa sewot saat Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, disebut mengalami kekeringan. Yang bersangkutan bahkan perlu mengecek sendiri kebenaran berita tersebut.

Didampingi sejumlah kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD), bupati datang ke lokasi untuk mengetahui sejauhmana kabar kekeringan tersebut terjadi.

Bahkan, bupati sempat mempertanyakan kepada sejumlah perangkat desa dan kepala SKPD yang ikut, daerah mana di desa itu yang mengalami kekeringan.

“Sing mbok sebut garing kuwi endi (yang kau sebut kekeringan itu yang mana, red),” katanya kepada sejumlah pejabat yang mendampingi.

Kepada Kepala Desa (Kades) Kutuk Supardiyono, bupati juga mempertanyakan kabar soal kekeringan itu. Dia ingin memastikan bahwa kabar tersebut benar atau tidak.

SKPD yang turut mendampingi adalah Asisten 2 Budi Rahmat, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus Bergas Catursasi Penanggungan, Camat Undaan Catur Widyatmoko, perwakilan PDAM Kudus, dan sejumlah pejabat lainnya. (MERIE)