Ratna Beberkan Rahasia Membuat Cincin Akik dari Batok Kelapa

atna tengah melubangi batok kelapa untuk dijadikan cincin akik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

atna tengah melubangi batok kelapa untuk dijadikan cincin akik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ratna Septi Anggrahenie (48), warga Desa Winong, Pati saat ini baru mengembangkan cincin akik yang terbuat dari batok kelapa. Kendati baru dirintis, tetapi Ratna tak segan untuk membeberkan rahasia membuat cincin akiknya tersebut.

Salah satu yang harus dipersiapkan, kata Ratna, di antaranya batok kelapa dengan tekstur paling keras. Sayangnya, batok dengan tekstur keras sulit dijumpai di Pati.

“Batok kelapa yang bagus berasal dari Bali. Di Pati, batok kelapa yang mendekati tekstur itu berasal dari Kecamatan Sukolilo. Ini bagus untuk membuat cincin akik,” ujar Ratna kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Setelah itu, lanjutnya, buat garis melingkar menyesuaikan ukuran batu akik, kemudian dipotong secara melingkar menggunakan alat bor duduk.

“Kalau sudah, diperhalus menggunakan gerenda. Pasang batu dalam cincin batok dengan direkatkan menggunakan lem khusus. Itu sudah selesai. Tinggal jual,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Kreatif! Warga Winong Pati Ciptakan Cincin Akik dari Batok Kelapa

Ratna menunjukkan cincin akik yang dibuat dari tempurung kelapa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratna menunjukkan cincin akik yang dibuat dari tempurung kelapa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kreativitas Ratna Septi Anggrahenie (48), warga Desa Winong, Kecamatan Pati yang mengembangkan ragam kerajinan dari batok kelapa tak berhenti pada satu karya. Saat ini, ia mengembangkan kreativitasnya dengan menciptakan cincin akik dari tempurung kelapa.

Kendati gairah batu akik saat ini sudah melesu, tetapi tidak membuat Ratna enggan berkarya di bidang akik. Ia menilai, pengembangan cincin akik yang dibuat dari tempurung kelapa sebagai sebuah karya seni klasik yang menawan, untuk disodorkan kepada pencinta akik.

”Bisnis akik memang saat ini melesu. Tapi, saya tidak bicara soal dari aspek bisnis. Ini bicara soal seni yang memanfaatkan limbah tempurung kelapa menjadi cincin akik,” ujar Ratna saat ditemui MuriaNewsCom di rumahnya, Senin (2/11/2015).

Satu cincin akik dibanderol mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu. Tak hanya model melingkar, Ratna rencananya akan mengembangkan bentuk cincin dengan berbagai model. Salah satu yang diminati, antara lain cincin berbentuk hati atau daun waru. (LISMANTO/TITIS W)

Keren, Murid SD 1 Wergu Kulon Pandai Membuat Karya dari Barang Bekas

Para murid kelas VI SD 1 Wergu Kulon sedang asyik membuat rangkaian bunga berbahan dasar botol plastik bekas dan sedotan minum. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para murid kelas VI SD 1 Wergu Kulon sedang asyik membuat rangkaian bunga berbahan dasar botol plastik bekas dan sedotan minum. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Murid di SD 1 Wergu Kulon, Kecamatan Kota ini ternyata memiliki bakat seni yang bisa diperhitungkan. Tidak diperlukan modal besar untuk membuat hasil karya yang unik dan menarik. Dari tangan-tangan terampil, siswa tersebut mampu memanfaatkan barang bekas di sekililing mereka.

Kepala SD 1 Wergu Kulon Jumiwati menjelaskan, dalam pemanfaatan barang bekas ini diterapkan dalam materi pendidikan keterampilan bagi murid kelas VI (enam). Materi tersebut pun tidak melulu sepenuhnya dari guru, namun kreativitas murid juga diuji dengan diperbolehkannya mengusulkan ide untuk mengisi pelajaran keterampilan tersebut.

Selain itu, lanjut Jumiwati, usulan murid tersebut merupakan materi pendidikan keterampilan yang menggunakan media barang bekas. Seperti halnya sedotan minum, gelas palstik, botol plastik dan sebagainya. Nantinya media barang bekas tersebut mereka sulap menjadi benda yang lebih indah. Misalnya vas bunga, baling-baling, maupun barang kerajinan lainnya yang bisa dimanfaatkan kembali. Dari bahan dasar barang bekas itulah, tercipta kreasi warna-warni yang bervariasi.

”Tak jarang, murid meminta jam tambahan untuk materi keterampilan ini. Sehingga pihak sekolah mengadakannya kembali sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sore hari setiap Senin,” ungkapnya.

Pihaknya sangat mendukung kegiatan positif tersebut. Karena selain mengeksplore kemampuan murid dalam berkreativitas, juga meningkatkan daya imaginasi murid sejak dini. Karena hal itu akan berpengaruh dalam pembentukan pola pikir anak.

”Dengan adanya pengaplikasian terhadap materi keterampilan tersebut, secara otomatis tingkat kemampuan murid tumbuh. Selain itu, untuk hasil karyanya bisa dibawa pulang atau disimpan di kelas. Sehingga karya tersebut juga bisa diwariskan kepada adik-adik kelasnya,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Muda, Kreatif, dan Mempunyai Penghasilan. Kenapa Tidak? Siswi MTS di Dawe Kudus Sudah Membuktikannya

Siswi MTs NU Manbaul Falah sedang membuat karya kerajinan untuk memenuhi pesanan.(MuruaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswi MTs NU Manbaul Falah sedang membuat karya kerajinan untuk memenuhi pesanan.(MuruaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Siswi MTs NU Manbaul Falah, Kecamatan Dawe, Kudus, ternyata telah mampu mempunyai penghasilan sendiri. Hal itu diperoleh setelah mereka membuat keterampilan baki lamaran. Baki lamaran ini terbukti telah memberikan hasil kepada siswi. Salah satu siswi, Ainur Rohmah menjelaskan, dirinya mengikuti kegiatan mambuat baki lamaran karena tertarik.

“Sebab kegiatan ini ke depnnya bisa bermanfaat untuk mencari uang. Baik itu memenuhi pemesan baki lamaran atau bekerjasama dengan penjual atau pemilik kios yang ada di pasar.

Kegiatan yang dilakukan setiap Kamis seusai pulang sekolah tersebut difokuskan pada kelas satu dan dua. Sebab kelas tiga sudah mulai dikonsentrasikan pada materi pelajaran.

“Dalam kegiatan ini memang untuk kelas satu dan dua. Dan itupun pesertnya tidak menentu. Terkadang full berangkat semua sekitar 55 anakm nanun juga kurang dari itu. Sebab kegiatan ini memang tidak memaksa,” ujarnya.

Menurutnya, dengan mengikuti kegiatan ini pihaknya bisa mempunyai kehlian khusus. Sebab sebelumnya tidak tahu apa apa, maka saat ini bisa membuat rangkaian baki lamaran.

Pembuatan baki lamaran yang dimulai dari pemilihan bahan baku sperti halny pita, keranjang, peniti serta pernak pernik lainnya ini memang harus membutuhkan kesabaran tersendiri. Sebab bahan tersebut akan dirangkai dengan jarum, sehingga menciptakan karya yang bagus.

“Ya asal mulanya agak sedikit kurang sabar, namun lama kelamanaan bisa. Mungkin sudah paham. Selain itu, dalam keikutsertaan sebanyak 3 kali inilah kemungkinan bisa lebih tahu proses merangkainya,” ujarnya.

Dia berharap bisa terus berkarya membuat baki lamaran. Sehingga mampu membantu orang tua. “Tidak merepotkan orang tua lagi,” pungkasnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)