Jubir Haryanto-Arifin Yakin Hakim MK Objektif Tangani Gugatan Pilkada Pati

Juru bicara tim pemenangan Haryanto-Arifin, Muhammadun. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Juru bicara tim pemenangan Haryanto-Saiful Arifin dari PKB, Muhammadun yakin Mahkamah Konstitusi (MK) dapat berlaku objektif dalam menangani gugatan Pilkada Pati yang diajukan Gerakan Masyarakat (Geram) Pati. Hal itu disampaikan Muhammadun, Jumat (17/3/2017).

“Kami yakin, hakim MK dapat objektif dalam menangani perkara perselisihan  hasil Pilkada Pati. Sebab, dari sisi perolehan suara, paslon mendapatkan suara jauh lebih besar dengan selisih 50 persen,” ujar Muhammadun.

Secara hukum, perkara perselisihan hasil pemilu yang diajukan ke MK harusnya memenuhi ambang batas tertentu. Khusus daerah dengan penduduk yang sangat padat lebih dari satu juta seperti Kabupaten Pati, persentase selisih suara semestinya 0,5 persen.

Ambang batas tersebut diatur dalam Pasal 8 ayat 2 Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Peraturan MK Nomor 2 Tahun 2016 tentang Pedoman Beracara dalam Perkara Perselihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota dengan satu pasangan calon.

“Sidang yang berlangsung hari ini kan baru pemeriksaan pendahuluan, belum masuk pokok perkara. Bisa jadi, setelah diteliti hakim konstitusi, perkara tersebut tidak dapat dilanjutkan dalam sidang yang membahas pokok perkara,” tuturnya.

Muhammadun yakin, ketentuan dalam regulasi tersebut dijadikan acuan bagi hakim MK, sebelum memutuskan untuk melanjutkan sidang perkara tersebut. Terlebih, pokok permohonan yang disampaikan Geram Pati sebagai pemohon di MK, data perolehan suara yang menunjukkan kotak kosong menang 700.000 suara diragukan kevalidannya.

Menurut pemohon, penghitungan suara Pilkada Pati, kotak kosong meraih 700.000 suara dan paslon Haryanto-Arifin 300.000 suara. Data tersebut berbeda dengan hasil yang  dilakukan KPU Pati menggunakan metode manual, paslon Haryanto-Arifin meraih 519.675 suara dan kotak kosong 177.762 suara.

Editor : Kholistiono

Gugatan Pilkada Pati ke MK Jadi Sorotan Komisi A DPRD Jateng

Ketua Komisi A DPRD Jateng Masruhan Samsurie. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Gugatan Gerakan Masyarakat (Geram) Pati kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pati ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dengan pembatalan hasil Pilkada Pati mendapatkan sorotan dari Komisi A DPRD Jawa Tengah. Menurut Ketua Komisi A DPRD Jateng Masruhan Samsurie, kotak kosong menjadi bagian dari demokrasi dalam pilkada.

Hanya saja, jumlah perselisihan hasil pemilihan (PHP) pada Pilkada Pati diakui sangat jauh sehingga tidak menjadi persoalan bagi pasangan calon. “Dari sisi jumlah, selisihnya memang jauh, 75 persen dan 25 persen. Itu bukan menjadi persoalan,” ungkap Masruhan, Kamis (16/3/2017).

Yang menjadi persoalan menurut Masruhan, justru persoalan jumlah perolehan kotak kosong yang cukup tinggi di Pati. Hal itu diakui bisa menjadi pembelajaran demokrasi bukan hanya masyarakat Pati, tetapi juga masyarakat Indonesia.

“Penduduk Pati sangat padat. 25 persen suara itu termasuk sangat tinggi. Ini sebetulnya yang bisa menjadi pembelajaran bersama. Kalau gugatan ke MK itu tidak jadi persoalan, karena selisihnya sangat jauh,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua KPU Pati Much Nasich mengaku sudah siap menjawab dalam persidangan pertama yang digelar MK, Jumat (16/3/2017) besok. Dalam sidang tersebut, Komisioner KPU Pati akan mendengarkan permohonan yang diajukan pemohon.

“Persiapan matang sudah kami lakukan. Besok, sekitar jam 14.00 WIB, kita mengikuti sidang pertama terkait perselisihan hasil pemilihan (PHP). Jawaban-jawaban yang sesuai aturan dan regulasi sudah dipersiapkan, sehingga kami berharap bisa berjalan dengan baik,” harap Nasich.

Editor : Kholistiono

Komisi A DPRD Jateng Kunjungi KPU Pati Bahas Kotak Kosong

Jajaran Komisi A DPRD Jawa Tengah mengunjungi Kantor KPU Pati, Kamis (16/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Fenomena kotak kosong dalam Pilkada Pati ikut menjadi sorotan Komisi A DPRD Jawa Tengah. Sejumlah anggota Komisi A DPRD Jateng mengunjungi Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pati untuk membahas fenomena kotak kosong, Kamis (16/3/2017).

Ketua Komisi A DPRD Jateng Masruhan Samsurie mengatakan, tidak terkovernya kotak kosong dalam undang-undang menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kalangan legislatif maupun eksekutif di tingkat pusat. Pasalnya, Samsurie menganggap, kotak kosong menjadi bagian dari proses demokrasi yang tidak bisa dianggap sepele.

“Setelah melakukan pembahasan dan pengkajian bersama, kami berharap ada perubahan regulasi pilkada tentang calon tunggal. Hal itu untuk menata dan mengakomodasi kotak kosong agar tidak berpolemik seperti di Pati,” kata Samsurie.

Menurutnya, fenomena kotak kosong akan lebih besar bila tidak ada regulasi yang mengaturnya. Padahal, Pilkada di Indonesia akan digelar serentak pada 2018 dan 2019. Karena itu, pihaknya akan mengusulkan kepada DPR RI untuk membuat regulasi baru terkait eksistensi kotak kosong.

Selain kotak kosong, Samsurie juga menyoroti persoalan politik uang. Dia menilai, dugaan politik uang menyebar secara merata di berbagai daerah di Indonesia. Bila tidak segera diatur dalam regulasi yang lebih visibel dan jelas, politik uang akan sulit ditangani.

“Sekarang ini, jarang sekali ada politik uang yang bisa dibuktikan, ditangani dan ada sanksinya. Kalau ada regulasinya yang visibel dan jelas, penanganannya akan lebih muda. Maka, perlu ada regulasi baru yang mengaturnya,” imbuhnya.

Ketua KPU Pati Much Nasich mengatakan, masukan dari Komisi A DPRD Jateng sangat penting bagi KPU Pati. Pasalnya, kotak kosong selama ini tidak diatur dalam undang-undang, sehingga beberapa kali sempat mengalami kegamangan.

“Kami berharap ada segera regulasi sehingga bisa ditindaklanjuti dengan petunjuk teknis, sehingga kita tidak mengalami kegamangan dalam menangani persoalan kotak kosong,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Polemik Pilkada Pati Jadi Sorotan Presiden Joko Widodo

Suasana kunjungan Deputi Bidang Politik Nasional Dewan Ketahanan Nasional Brigjen Pol Iwan Hari Sugiarto di Ruang Joyokusumo Setda Pati, Rabu (8/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah polemik dalam pelaksanaan Pilkada Pati yang diikuti calon tunggal menjadi sorotan Presiden RI Joko Widodo. Hal itu dikatakan Pembantu Deputi Bidang Politik Nasional Dewan Ketahanan Nasional Brigjen Pol Iwan Hari Sugiarto saat mengunjungi Pati, Rabu (8/3/2017).

“Kami diutus secara khusus oleh Presiden Jokowi untuk mengumpulkan berbagai persoalan dan penyebab adanya calon tunggal. Bahan ini yang nantinya akan dijadikan sebagai materi rekomendasi pada pelaksanaan Pilkada serentak 2018,” ungkap Brigjen Pol Iwan.

Saat ini, ada kenaikan keberadaan calon tunggal pada pilkada serentak yang digelar di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi tersebut dianggap perlu mendapatkan perhatian khusus, karena keberadaan kotak kosong belum diatur dalam UU Pilkada.

Pada 2015, ada tiga daerah yang diikuti pasangan calon tunggal. Pada 2017 mengalami kenaikan menjadi sembilan paslon tunggal. Karena itu, pemerintah pusat merasa perlu untuk segera mendapatkan masukan dari daerah.

“Masukan-masukan akan dijadikan referensi untuk melakukan pembahasan regulasi yang akan digunakan pada Pilkada 2018. Dengan demikian, keberadaan calon tunggal bisa dikurangi untuk memastikan agar setiap Pilkada bisa berlangsung demokratis,” tuturnya.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pati Much Nasich mengatakan, kunjungan DKN di Pati dalam rangka meminta masukan kepada penyelenggara pilkada. Harapannya, pemerintah pusat memiliki gambaran tentang calon tunggal dan permasalahannya yang selanjutnya akan dilaporkan kepada Presiden.

Editor : Kholistiono

KPU Pati Tegaskan Siap Hadapi Gugatan Relawan Kotak Kosong

Komisioner KPU Pati Imbang Setiawan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pati menyatakan kesiapannya menghadapi gugatan dari relawan kotak kosong yang tergabung dalam Aliansi Kawal Demokrasi Pilkada Pati (AKDPP) ke Mahkamah Konstitusi (MK). Hal itu dikatakan Komisioner KPU Pati Imbang Setiawan, Kamis (2/3/2017).

Dia mengaku sudah berkoordinasi secara intensif dengan KPU RI dalam mempersiapkan gugatan AKDPP ke MK. “Kami sudah mendapatkan informasi, memang sudah ada pendaftaran gugatan ke MK terkait Pilkada Pati. Namun, saat ini kami masih menunggu informasi dari KPU RI tentang kepastian tindak lanjut dari MK,” ungkap Imbang.

Dari informasi yang dihimpun, Ketua AKDPP Sutiyo mendaftarkan gugatan Pilkada Pati ke MK. Pendaftaran dilakukan pada 28 Februari dengan kuasa hukumnya, Haris Azhar, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Ditanya soal materi gugatan, Imbang belum mengetahui materi yang didaftarkan. Menurutnya, hal itu akan diketahui bila gugatan diterima dan akan disidangkan.

“Normatifnya, gugatan ke MK terkait dengan perselisihan hasil pemilihan (PHP). Namun, kami akan menunggu kepastiannya setelah MK mengumumkan secara resmi,” tutur Imbang.

Secara teknis, informasi kepastian sidang atas pengajuan gugatan di MK akan disampaikan Lembaga Yudikatif kepada KPU RI. Selanjutnya, informasi dari KPU RI akan diteruskan ke KPU Daerah.

Selama ini, KPU Pati diakui sudah melakukan tahapan sesuai dengan aturan dan sudah terdokumentasi dengan rapi. Bila dibutuhkan untuk dibuka setiap saat, pihaknya akan siap. “Materi gugatannya belum diketahui, sehingga jawaban belum bisa kami sampaikan,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Ini Hasil Rekapitulasi Surat Suara Pilkada Pati, Haryanto-Arifin Unggul atas Kotak Kosong

KPU Pati menggelar rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara Pilkada Pati di Aula KPU Pati, Kamis (23/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rekapitulasi surat suara pada Pilkada Pati sudah selesai dilakukan. Hasil rekapitulasi diumumkan melalui rapat pleno penghitungan suara hasil Pilkada Pati di Aula KPU Pati, Kamis (23/2/2017).

Dari hasil rekapitulasi, pasangan calon tunggal Haryanto-Saiful Arifin memperoleh 519.675 suara, unggul atas kotak kosong yang mendapatkan 177.762 suara. Sebelumnya, melalui perhitungan entri data formulir C1, Haryanto-Arifin mendapatkan 519.627 suara dan kotak kosong 177.771 suara.

Artinya, ada sejumlah selisih suara antara penghitungan real count entri data formulir C1 dan rekapitulasi yang dilakukan secara manual. Haryanto-Arifin mendapatkan selisih suara 48 lebih banyak dari perhitungan entri data formulir C1, sedangkan suara kotak kosong mendapatkan sembilan selisih suara lebih sedikit.

Sementara itu, jumlah suara sah terhitung ada 697.437 dan suara tidak sah 14.984. Jumlah keseluruhan suara dalam Pilada mencapai 712.421 suara. Adapun tingkat partisipasi mencapai 68,9 persen atau 712.421 suara.

Ketua KPU Pati Much Nasich mengatakan, tingkat partisipasi Pilkada Pati masih berada di bawah target 77,5 persen. Meski demikian, pihaknya mengaku cukup puas mengingat banyak warga Pati yang terdaftar di daftar pemilih tetap (DPT) berdomisili di luar Pati sehingga tidak menggunakan hak pilihnya.

“Target nasional sebetulnya akan tercapai bila data formulir C6 yang tidak dibagikan dan dikembalikan ke KPU dengan alasan meninggal dunia, merantau, tidak ditemui dan dikeluarkan dari DPT,” kata Nasich.

Sementara itu, saksi paslon Haryanto-Arifin, Hendro Jatmiko mengaku, perhitungan awal saat KPU melakukan input data C1 memang ada perbedaan perolehan suara dibanding hasil rekapitulasi manual. Perbedaan itu ada di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS), antara lain Desa Jontro, Kecamatan Wedarijaksa, Desa Maitan, Kecamatan Kayen, dan Desa Sidoarum, Kecamatan Jakenan.

Kendati begitu, ia menerima hasil rekapitulasi manual yang dilakukan di tingkat kabupaten dan tidak keberatan. “Perbedaan sudah bisa diselesaikan dengan membuka C1 plano,” tandas Hendro.

Editor : Kholistiono

Pemilih Kotak Kosong di Kecamatan Pati dan Margoyoso Tinggi, Ini Kata Pengamat Politik

Seorang warga Desa Pasucen, Trangkil, saat melakukan pemungutan suara pada 15 Februari 2017 lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada sejumlah kecamatan di Kabupaten Pati yang warganya banyak memilih kotak kosong pada pesta demokrasi 15 Februari 2017. Salah satunya, Kecamatan Pati, Margoyoso, Tambakromo, Trangkil, Wedarijaksa, dan Kayen.

Dari enam kecamatan yang memperoleh suara kotak kosong lebih dari 30 persen tersebut, Kecamatan Pati dan Margoyoso mendulang suara paling tinggi. Kecamatan Pati memperoleh suara 40,4 persen dan Margoyoso 41,9 persen. Perhitungan tersebut berdasarkan entri data model C1 yang dilakukan KPU Pati.

Pengamat politik dari Universitas Diponegoro, Hakim Alif Nugroho menilai, ada beberapa kemungkinan terkait tingginya perolehan suara kotak kosong di sejumlah kecamatan seperti Pati dan Margoyoso. Salah satunya, kawasan tersebut banyak pemilih rasional.

“Faktor pendidikan juga sangat memengaruhi. Masyarakat dengan pendidikan tinggi dan melek politik, bisa dikatakan pemilih rasional. Dia tidak bisa dipengaruhi apapun, termasuk politik uang. Kemungkinan, Pati dan Margoyoso mendekati pemilih rasional,” ujar Hakim, Sabtu (18/2/2017).

Dia melihat, masyarakat kecil di Pati masih belum mengerti kotak kosong. Artinya, sosialisasi kotak kosong yang dilakukan relawan belum sampai menyentuh ke akar rumput, sehingga perolehan kotak kosong tertinggi ada pada masyarakat dengan pemilih rasional.

Selain itu, Hakim juga memberikan kemungkinan lain terkait tingginya suara kotak kosong di Kecamatan Pati dan Margoyoso. “Haryanto-Arifin dikawal delapan partai politik. Itu kekuatan besar, tidak main-main. Kalau ada sejumlah kecamatan yang kecolongan, itu juga bisa menjadi tanda tanya,” imbuh Hakim.

Editor : Kholistiono

Surat Suara Mulai Direkapitulasi di Berbagai Kecamatan di Pati

Salah seorang PPK melakukan rekapitulasi surat suara Pilkada Pati di Kantor Kecamatan Pati, Jumat (17/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Surat suara hasil pencoblosan Pilkada Pati yang berlangsung Rabu (15/2/2017), mulai direkapitulasi sejak Jumat (17/2/2017). Dijadwalkan, rekapitulasi surat suara di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) akan selesai pada Rabu (22/2/2017).

Proses rekapitulasi di tingkat kecamatan tersebut berlangsung terbuka. Namun, hanya pihak yang berkepentingan saja yang diperbolehkan memasuki area rekapitulasi suara.

“Rekapitulasi dilakukan untuk menghitung hasil pemungutan suara secara manual. Tujuannya untuk memastikan hasil pencoblosan, mulai dari jumlah pemilih untuk paslon, kotak kosong, suara tidak sah, angka golput, hingga jumlah partisipasi masyarakat,” ujar Ketua PPK Pati, Kastono.

Ada perbedaan proses rekapitulasi antara pilkada lalu dengan sekarang. Bila awalnya rekapitulasi dimulai per tempat pemungutan suara (TPS) dan PPK tinggal merekap, saat ini proses rekapitulasi hanya dilakukan di tingkat kecamatan.

Praktisi Hukum Sebut Hasil Pilkada Pati Tidak Bisa Digugat, Ini Alasannya

Sementara itu, perhitungan suara tingkat PPS menggunakan formulir C1 diserahkan KPU Pati untuk dilakukan entri data. Karena itu, hasil penghitungan KPU menggunakan formulir C1 bisa saja diralat bila ada perbedaan dengan hasil rekapitulasi di tingkat kecamatan.

“Kami diberikan waktu hingga 22 Februari 2017 untuk rekapitulasi per TPS dan 27 Februari 2017 untuk rekapitulasi per desa atau kelurahan. Hasil rekapitulasi tersebut akan diserahkan ke KPU Pati,” tandas Kastono.

Editor : Kholistiono

Praktisi Hukum Sebut Hasil Pilkada Pati Tidak Bisa Digugat, Ini Alasannya

Proses penghitungan suara di TPS 02 Desa Winong, Kecamatan Pati pada Rabu (15/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Praktisi hukum Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Advokasi Nasional, Maskuri menilai, hasil Pilkada Pati tidak bisa digugat. Hal itu disebabkan tidak ada pihak yang memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Secara de facto, hasil Pilkada Pati sudah bersifat final. Sebab, tidak ada pihak yang punya legal standing untuk mengajukan gugatan ke MK, mengingat tidak ada satu lembaga pemantau yang terdaftar atau terakreditasi di KPU Pati sebagai pemantau pilkada,” ujar Maskuri, Jumat (17/2/2017).

Sesuai dengan Peraturan MK Nomor 4 Tahun 2015, pihak penggugat yang punya legal standing adalah paslon itu sendiri dan lembaga pemantau pilkada. Pun, persoalan selisih suara yang dapat digugat ke MK ada ketentuan prosentasenya.

Pilkada Pati Jadi Acuan untuk Membuat UU Penyelenggaraan Pemilu

Dalam Pilkada Pati 2017, kata Maskuri, tidak ada satu pihak yang punya legal standing untuk mengajukan gugatan ke MK. Hal itu yang membuat dirinya berani memastikan bila hasil dari Pilkada Pati tidak bisa digugat.

“Kecuali, kemarin ada pihak yang punya legal standing sebagai pemantau pilkada dan terdaftar di KPU Pati. Itupun, selisih suara, apabila dipersoalkan, biasanya tidak lebih dari dua persen yang diajukan ke MK,” tuturnya.

Hal itu juga berlaku untuk Aliansi Kawal Demokrasi Pilkada Pati (AKDPP) yang selama ini mengawal suara kotak kosong. AKDPP dinilai tidak bisa mengajukan gugatan, lantaran tidak punya legal standing atau tidak memenuhi syarat secara hukum.

Editor : Kholistiono

Pilkada Pati Jadi Acuan untuk Membuat UU Penyelenggaraan Pemilu

Suasana pemungutan suara di RSUD Soewondo Pati, Rabu (15/2/2017) lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati kembali menjadi sorotan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI dan pemerintah pusat dalam pesta demokrasi Pilkada Pati 2017. Fenomena kotak kosong di Pati yang sempat menjadi “bola salju” akan dijadikan acuan untuk membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyelenggaraan Pemilu.

Hal itu disampaikan Pimpinan Bawaslu RI, Endang Wihdatiningtyas, Jumat (17/2/2017). Menurutnya, fenomena gerakan relawan kotak kosong yang ikut mengkampanyekan dan meramaikan Pilkada Pati belum ada sebelumnya. Gerakan itu juga belum terakomodasi dalam UU.

Kondisi tersebut yang akan dijadikan Bawaslu sebagai acuan untuk membahas RUU Penyelenggaraan Pemilu dengan DPR RI. “Gerakan masyarakat yang ikut mengkampanyekan kolom kosong merupakan hal baru di Indonesia. Warga yang memilih kotak kosong juga terbilang cukup banyak. Fenomena ini perlu menjadi bahan untuk merancang RUU Penyelenggaraan Pemilu,” ucap Endang.

Pada saat pelaksanaan pilkada, pihaknya sudah melakukan supervisi di Kabupaten Pati. Langkah supervisi dilakukan, karena Bawaslu telah melakukan pemetaan yang hasilnya menunjukkan Pilkada Pati rawan konflik.

Salah satu indikasinya, antara lain Pilkada Pati hanya diikuti satu paslon, tetapi gelombang masyarakat yang mengkampanyekan kotak kosong cukup tinggi. Terlebih, sejumlah laporan menunjukkan adanya aksi saling lapor antara kubu timses paslon dan relawan kotak kosong. Sementara eksistensi kotak kosong belum diatur dalam UU.

Uniknya, gerakan kotak kosong di Pati tidak ditemukan di sejumlah daerah lain yang menyelenggarakan pilkada dengan calon tunggal. Di daerah lain, penyelenggaraan calon tunggal berlangsung aman dan tanpa gejolak sosial.

“Di Pati sudah sangat cukup dijadikan sebagai acuan untuk membahas RUU Penyelenggaraan Pemilu. Selain berbeda dengan daerah lain yang mengikuti pilkada calon tunggal, fenomena ini belum ada pada pelaksanaan pemilu pada 2015 lalu,” tandas Endang.

Editor : Kholistiono

Terpengaruh Berita Hoax, Ini Klarifikasi Mendagri yang Sebut Kotak Kosong Menang di Pilkada Pati

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Tjahjo Kumolo (Foto/Humas Kemendagri)

MuriaNewsCom, Pati – Publik di Kabupaten Pati dikejutkan dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Tjahjo Kumolo terkait dengan kemenangan kotak kosong pada Pilkada Pati yang dimuat di sejumlah media. Namun, Tjahjo akhirnya memberikan klarifikasi.

“Sudah diklarifikasi. Pasangan calon tunggal yang menang. Itu pemberitaan awal yang menunjukkan kotak kosong saja bisa mencapai suara banyak. Berita online juga ada yang sebutkan, ternyata hoax bahwa berita tersebut salah,” ujar Tjahjo, Kamis (16/2/2017).

Tjahjo juga menegaskan, pernyataannya tersebut pada saat perhitungan sementara. Meski belum ada keputusan KPU yang menunjukkan pasangan calon tunggal menang mutlak dari kotak kosong, tetapi pernyataan itu disampaikan pada awal perhitungan sementara.

“Kalau ada berita klarifikasi saya, saya kirim. Ada tim Kemendagri yang memantau TPS-TPS di Pati memposting TPS yang pemilih kotak kosong besar pilihannya. Itu baru penghitungan awal,” ucap Tjahjo.

Mendagri RI Nyatakan Kemenangan Kotak Kosong, Ketua PDIP Pati Bereaksi Keras


Karena itu, pihaknya berharap kepada semua pihak untuk memaklumi bila ada kesalahpahaman dalam mengartikan pernyataan tersebut. Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap mengutamakan kondusivitas pascapilkada.

Dari hasil hitung TPS (form C1) KPU Kabupaten Pati, paslon tunggal Haryanto dan Saiful Arifin mendapatkan 74,52 persen suara dan kotak kosong memperoleh 25,48 persen suara. Data tersebut diperoleh dari proses entri data model C1 yang belum ditetapkan KPU secara final.

Editor : Kholistiono

Timses Haryanto-Arifin Nyatakan Siap Hadapi Gugatan Hasil Pilkada Pati

Juru bicara Timses Harfin, Joni Kurnianto menyatakan kesiapannya bila ada gugatan terkait hasil Pilkada Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Juru bicara tim pemenangan Haryanto-Saiful Arifin, Joni Kurnianto menyatakan kesiapannya menghadapi gugatan hasil Pilkada Pati 2017. Hal itu disampaikan Joni, Kamis (16/2/2017), menyusul wacana yang menyebutkan adanya gugatan pascapilkada.

“Sesuai dengan hasil hitung TPS (form C1) Kabupaten Pati, paslon Haryanto-Arifin menang dengan perolehan suara 74,52 persen. Meski begitu, kalau nanti ada gugatan terkait hasil pilkada, kami sudah menyiapkannya,” ujar Joni.

Ketua DPC Partai Demokrat Pati ini juga sudah menyiapkan tim advokasi untuk mengantisipasi bila ada sejumlah pihak yang mempersoalkan hasil pilkada. Pasalnya, paslon Haryanto-Arifin selama ini sudah melakukan mekanisme dan tahapan pilkada sesuai dengan aturan.

Mendagri RI Nyatakan Kemenangan Kotak Kosong, Ketua PDIP Pati Bereaksi Keras

“Kami ikut mengawal, paslon Haryanto-Arifin sudah mengikuti tahapan pilkada sesuai dengan aturan, dari penjaringan di tingkat partai hingga pemungutan suara. Meski sudah sesuai aturan, kalau ada pihak-pihak yang ingin menggugat, kami siap mengawal,” ucap Joni.

Dia sadar, Haryanto-Arifin mendapatkan perlawanan dari relawan kotak kosong sejak ditetapkannya sebagai paslon tunggal. Karena itu, pihaknya bersama delapan partai politik yang mengusung Haryanto-Arifin akan mengawalnya hingga lima tahun ke depan.

KPU Pati Umumkan Haryanto-Arifin Raih Suara 74,52 Persen dan Kotak Kosong 25,48 Persen

“Kami itu kan tidak sok-sokan, berjalan sesuai aturan. Waktu kampanye kemarin, juga biasa-biasa saja. Kenapa? Kami mengutamakan kondusivitas Kabupaten Pati. Tapi, kalau masih ada pihak-pihak yang mencoba menguggat hasil pilkada, kami siapkan tim advokasi,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

KPU Pati Umumkan Haryanto-Arifin Raih Suara 74,52 Persen dan Kotak Kosong 25,48 Persen

Suasana proses entri data model C1 yang dilakukan KPU Pati di Hotel New Merdeka Pati, Kamis (16/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pati akhirnya mengumumkan hasil Pilkada Pati, setelah melakukan proses input dan scaning data di Hotel New Merdeka, Pati, Kamis (16/2/2017).

Pasangan calon tunggal Haryanto-Saiful Arifin mendapatkan 519.588 suara sah atau 74,52 persen, sedangkan kotak kosong memperoleh 177.682 suara atau 25,48 persen. Dari total pemilih sebanyak 1.035.660 orang, pengguna hak pilih sebanyak 711.412 atau 61,8 persen.

Dari total pengguna hak pilih sebanyak 711.398 orang, 696.475 suara dinyatakan sah dan 15.186 suara dinyatakan tidak sah. Data tersebut berdasarkan hasil hitung TPS (form C1) Kabupaten Pati yang berakhir pada Kamis (16/2/2017) sekitar pukul 15.30 WIB.

“Kami diberikan waktu selama lima hari untuk menyelesaikan proses input data dan scanning. Namun, kami berhasil menyelesaikan proses tersebut selama kurang dari dua hari,” ucap Komisioner KPU Pati, Jukari.

Dia menuturkan, KPU Pati tidak berani mengumumkan hasil perolehan suara dari hasil quick count melalui informasi cepat dari masing-masing TPS. Hal itu didasarkan pada instruksi KPU RI yang memerintahkan KPUD untuk mengumumkan data hasil pilkada berdasarkan entri data model C1.

Mendagri RI Nyatakan Kemenangan Kotak Kosong, Ketua PDIP Pati Bereaksi Keras

Juru Bicara Tim Pemenangan Haryanto-Arifin, Joni Kurnianto mengaku sangat bersyukur dengan perolehan 74,52 persen pada Pilkada Pati. Kendati perolehan kotak kosong diakui cukup tinggi yang mencapai 25,48 persen, tetapi hal itu dianggap wajar dan menjadi bagian dari demokrasi.

“Artinya, masyarakat Pati ingin Pak Haryanto dan Saiful Arifin memimpin Kabupaten Pati lima tahun ke depan. Ini kemenangan bersama, kemenangan rakyat Pati. Meski didukung delapan partai dengan kerja maksimal, peran dan dukungan masyarakat secara langsung sangat berpengaruh pada perolehan suara,” tandas Joni.

Editor : Kholistiono

Mendagri RI Nyatakan Kemenangan Kotak Kosong, Ketua PDIP Pati Bereaksi Keras

Ketua DPC PDIP Pati Ali Badrudin saat berorasi pada kampanye Haryanto-Arifin beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ketua DPC PDIP Pati Ali Badrudin bereaksi keras terhadap sikap Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Tjahjo Kumolo yang memberikan statemen kemenangan kotak kosong pada Pilkada Pati di sejumlah media. Hal itu disampaikan Ali, Kamis (16/2/2017).

Ketua Tim Pemenangan Haryanto-Arifin itu mengatakan, Mendagri semestinya lebih berhati-hati dalam memberikan statemen tentang pilkada. Informasi kemenangan pilkada, kata Ali, mesti didasarkan pada data, bukan laporan dari pihak yang tidak jelas.

“Pak Mendagri harus hati-hati dalam memberikan statemen. Pilkada itu rawan gesekan sosial. Kalau statemennya itu tidak berdasarkan data, itu justru bisa memperkeruh suasana. Padahal, pemerintah mestinya bisa menjaga kondusivitas,” ungkap Ali.

Ali sendiri memastikan bila Haryanto-Arifin meraih 75,61 persen. Sesuai dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) RI, paslon yang mendapatkan suara sah sebanyak 50 persen plus satu akan terpilih menjadi pasangan bupati dan wakil bupati.

“PDIP punya saksi di masing-masing TPS. Dari data real count yang kami buat, pasangan Haryanto-Arifin meraih suara 75,61 persen. Kalau Pak Mendagri bilang seperti itu, kami sangat menyayangkannya,” imbuh Ali.

Real Count, Haryanto-Arifin Dipastikan Menang Pilkada Pati


Sementara itu, Komisioner KPU Pati Jukari menuturkan, Haryanto-Arifin mendapatkan suara 74,52 persen dan kotak kosong 25,48 persen. Perhitungan tersebut didasarkan pada real count, setelah melakukan input data dan proses scan dengan pengguna hak pilih sebanyak 711.412 orang.

Sebelumnya, Mendagri memberikan statemen kemenangan kotak kosong dalam Pilkada Pati. “Ada yang menarik, kotak kosong menang, dan itu di daerah padat penduduk, padat pemilih, hampir 1,5 juta, di Pati. Padahal partai yang mendukung banyak, tapi yang menang tetap kotak kosong,” kata Tjahjo seperti dikutip dari detik.com.

Sontak, pernyataan Mendagri tersebut menuai reaksi keras dari Tim Pemenangan Haryanto-Arifin. Juru Bicara Haryanto-Arifin, Joni Kurnianto melontarkan kekecewaannya pada Mendagri. Sebagai representasi pemerintah, statemen Tjahjo dianggap bisa membuat gaduh pascapilkada.

Editor : Kholistiono

Anomali Suara Kotak Kosong di Pilkada Pati

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

HASIL Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Pati sebenarnya sudah bisa diduga jauh-jauh hari. Calon tunggal yang merupakan petahana sudah diperkirakan akan tetap bertengger meski mendapat rongrongan dari kotak kosong. Namun ada yang perlu dicermati dari hasil Pilkada Pati ini, yakni suara dari kotak kosong.

Dalam coblosan yang digelar Rabu 15 Februari 2017 kemarin, suara dari kotak kosong memang tak bisa dipandang sebelah mata. Hasil penghitungan sementara yang dilakukan KPU perolehan suara kotak kosong mencapai 25 persen. Sebuah angka yang tak bisa dipandang enteng untuk ukuran pilkada.

Dari suara sah sebanyak 674.481, kotak kosong berhasil meraih 171.060 suara atau 25.33 persen (penghitungan data masuk 97.17 persen). Raihan suara kotak kosong ini memang cukup sebanding dengan gerakan yang dilakukan relawan kotak kosong yang begitu massif.

Hanya saja yang membuat banyak orang tercengang adalah sebaran suara kotak kosong. Memang hampir semua kecamatan terdapat suara kotak kosong, namun wilayah Pati selatan yang digadang-gadang akan menjadi lumbung suara kotak kosong justru terjun bebas.

Kampanye kotak kosong selama ini dikait-eratkan dengan kampanya penolakan pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng. Wilayah Pati selatan yang menjadi daerah terdampak (Tambakromo, Kayen, Sukolilo) disiapkan menjadi wilayah perlawanan paling kuat untuk pasangan calon tunggal Haryanto-Saiful Arifin.

Namun apa mau dikataka, prediksi tak sesuai dengan hasil. Hasil penghitungan suara di Pati bagian selatan suara kotak kosong keok, tak ada satupun kecamatan yang memenangkan kotak kosong. Meskipun ada beberapa desa di mana kotak kosong menang telak.

Perlawanan yang cukup berarti memang terlihat di Kecamatan Tambakromo, di mana suara antara Haryanto-Arifin cukup tipis. Di kecamatan ini, suara kotak kosong tercatat sebanyak 10.160 dari 120 TPS, sementara suara calon tunggal unggul sedikit yakni 15.358. Sementara di kecamatan lain di Pati selatan seperti Sukolilo, Gabus, Kayen, Winong, perolehan suara kotak kosong tak bisa diharapkan.

Justru sumbangan suara untuk kotak kosong dari wilayah Pati bagian utara lebih terlihat dominan dibandingkan wilayah selatan. Daerah-daerah seperti Margoyoso, Tayu, Trangkil dan Wedarijaksa bahkan bisa menyumbang suara kotak kosong yang sangat berarti. Padahal daerah ini tak berkaitan langsung dengan kampanye tolak pabrik semen.

Margoyoso mampu menyumbang 16.340 suara, Tayu 19.664 suara, Wedarijaksa 11.644 suara dan Trangkil 12.317. Dan dari 21 kecamatan di Kabupaten Pati, Kecamatan Pati (kota) lah yang paling banyak memberikan sumbangan suara untuk kotak kosong yakni sebanyak 23.179 suara.

Apakah ini ada kaitanya dengan wilayah asal Wakil Bupati Pati Budiyono yang berada di Pati utara?. Seperti diketahui banyak pihak, hubungan antara Haryanto dan Budiyono sudah sangat buruk, saat keduanya memutuskan untuk saling maju sebagai calon bupati.

Budiyono yang tak mendapatkan kendaraan (partai politik) untuk mengusungnya, belakangan terakhir sangat mesra dengan relawan kotak kosong. Memang sangat mungkin pengaruh Budiyono di wilayah Pati utara yang begitu besar, sehingga mampu menggerakkan warga untuk memilih kotak kosong.

Fakta ini kemudian membuat banyak orang berpikir, apakah kampanye tolak pabrik semen tak begitu efektif untuk menggerakkan suara kotak kosong? Karena nyatanya pemilih di wilayah yang terdampak rencana pembangunan pabrik semen juga tak banyak yang memilih kotak kosong.

Apakah karena sifat pragmatisme warga Pati kidul yang masih begitu kuat hingga mengalahkan idealisme untuk memperjuangkan penolakan pabrik semen? Banyak pihak yang menuding idealisme warga Pati selatan mudah goyah dengan serangan fajar yang dilakukan calon (meski ini harus dibuktikan lebih lanjut).

Anomali suara kotak kosong ini sedikit banyak bisa memberi pelajaran bahwa tidak ada yang pasti dalam kontestasi politik. Lumbung suara bisa saja menjadi bocor, jika memang tak ada upaya untuk merawat dan menjaga suara itu agar tetap aman.

Terlepas dari itu semua, pelaksanaan Pilkada Pati telah berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan anarkisme yang berarti. Pesta demokrasi untuk warga Pesantenan ini telah menghasilkan calon pemimpin yang akan membawa nasib Pati lima tahun ke depan. Apapun hasilnya, baiknya semua pihak menghormati.

Selain itu, dengan banyaknya suara kotak kosong dalam Pilkada Pati harus menjadi renungan dan cambuk bagi Haryanto-Arifin untuk merangkul banyak pihak. Karena diakui atau tidak, suara kotak kosong yang begitu banyaknya bisa menjadi indicator tingkat kesukaan warga pada Haryanto-Arifin yang masih cukup rendah.

Setelah ditetapkan KPU nantinya, pasangan ini harus segera melakukan langkah-langkah strategis, tak hanya sekadar langkah untuk pembangunan tapi upaya merangkul semua pihak, agar tercipta kondusivitas di Pati. (*)

Real Count, Haryanto-Arifin Dipastikan Menang Pilkada Pati

Suasana rekapitulasi dan entri data yang dilakukan KPU Pati di Hotel New Merdeka Pati, Rabu (15/2/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pasangan calon tunggal Haryanto dan Saiful Arifin dipastikan menang dalam pesta demokrasi di Pati yang berlangsung Rabu (15/2/2017) kemarin. Ada tiga sumber real count yang dihimpun MuriaNewsCom, Kamis (16/2/2017).

Hingga berita ini turun, Haryanto-Arifin dinyatakan menang dalam perhitungan yang dihimpun MuriaNewsCom dari data Kodim 0718/Pati. Paslon Harfin meraih 75,76 persen atau 407.222 suara, sedangkan kotak kosong mendapatkan 24,24 persen atau 130.313 suara.

Sementara itu, real count yang dilakukan Tim Pemenangan Haryanto-Arifin menunjukkan, Harfin meraih 74,9 persen dan kotak kosong 25,1 persen. Dalam hitungan real count yang diterima MuriaNewsCom pada Kamis (16/2/2017) pukul 10.33 WIB, Harfin mendapatkan 488.140 suara dan kotak kosong 163.148 suara.

Quick Count Pilkada Pati, Haryanto-Arifin 74,5 Persen, Kotak Kosong 25,5 Persen

Hampir sama dengan real count yang dilakukan Tim Pemenangan Haryanto-Arifin, data yang dihimpun dari KPU Pati, Harfin meraih 74,57 persen atau 490.714 suara dan kotak kosong 25,43 persen atau 167.331 suara. Data tersebut dihitung dari prosentase total suara sebanyak 94,73 persen.
Melihat real count dan perhitungan dari KPU tersebut, Juru Bicara Timses Haryanto-Arifin, Joni Kurnianto memastikan paslon Harfin memenangkan Pilkada Pati 2017. Haryanto dan Saiful Arifin dipastikan akan menjadi pasangan Bupati dan Wakil Bupati Pati periode 2017-2022.

Editor : Kholistiono

Quick Count Pilkada Pati, Haryanto-Arifin 74,5 Persen, Kotak Kosong 25,5 Persen

Hasil perolehan suara smentara Pilkada Pati versi tim pemenangan Haryanto-Saiful Arifin. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pasangan calon tunggal Haryanto-Saiful Arifin mendapatkan perolehan suara sementara sebanyak 74,5 persen, sedangkan kotak kosong memperoleh 25,5 persen.

Perolehan suara tersebut dihitung berdasarkan perhitungan cepat (quick count) Timses Haryanto-Arifin pada Rabu (15/2/2017) pukul 20.50 WIB.

Dari perhitungan suara sah sebanyak 561.540, paslon Haryanto-Arifin mendapatkan 418.410 suara, sedangkan kotak kosong 143.130 suara. Kendati kotak kosong memenangkan perolehan suara di beberapa TPS, tetapi quick count yang dihitung secara acak di seluruh Kabupaten Pati menunjukkan kemenangan Haryanto-Arifin sebanyak 74,5 persen.

Dari pantauan MuriaNewsCom di lapangan, perolehan suara Haryanto-Arifin di TPS 07, Desa Raci, Kecamatan Batangan, TPS di mana Haryanto mencoblos bersama keluarganya, yakni 431 suara dari total 438 suara. Enam suara dinyatakan tidak sah, sedangkan satu suara untuk kotak kosong.

Di kampung halaman Saiful Arifin, TPS 01 Desa Mojoagung yang berdekatan dengan rumah Arifin, kotak kosong mendapatkan 78 suara dan Haryanto-Arifin mendapatkan 262 suara.

Artinya, 29 persen warga memilih kotak kosong di TPS 01 Desa Mojoagung, kampung halaman Saiful Arifin. Sementara itu, perolehan suara Haryanto-Arifin di TPS di mana Haryanto mencoblos memperoleh kemenangan mutlak, yakni 99,8 persen.

Editor : Kholistiono

Perolehan Suara Harfin dan Kotak Kosong di TPS 02 Desa Winong Pati Seri

Ketua KPPS 02 Desa Winong, Kecamatan Pati Nyaman (berbaju merah) menunjukkan catatan rekapitulasi suara Pilkada Pati, Rabu (15/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Perolehan suara Haryanto dan Saiful Arifin di TPS 02 Desa Winong RT 7 RW 2, Kecamatan Pati, sama dengan perolehan suara kotak kosong. Paslon tunggal Haryanto-Arifin dan kotak kosong sama-sama mendapatkan 194 suara dari total partisipasi suara sebanyak 402 orang.

Ketua Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) 02 Desa Winong, Nyaman mengatakan, dari total daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 611 orang yang terdaftar, hanya 402 orang yang menggunakan hak pilihnya di TPS 02 Desa Winong.

“Haryanto-Arifin dan kotak kosong sama-sama mendapatkan 194 suara dari 402 warga yang hadir. Sebanyak 14 suara dinyatakan tidak sah. Artinya, perolehan suara di TPS 02 Desa Winong sama-sama meraih 50 persen,” ujar Nyaman, Rabu (15/2/2017).

Dia mengatakan, perolehan suara di tempatnya cukup unik. Pasalnya, suara Haryanto-Arifin dan kotak kosong sama-sama memperoleh suara yang sama. Hal itu diakui menjadi momentum yang langka.

“Ini kan tepat betul, sama-sama mendapatkan 194 suara sah. Tingkat golongan putih (golput) di TPS 02 Desa Winong juga cukup tinggi, yakni 209 suara dari 611 DPT. Bila diprosentase, ada 34 persen warga yang golput,” tandasnya.

Editor : Kholistion0

Kantor Panwas Pati Digeruduk Massa, Nyaris Terjadi Bentrok

Petugas kepolisian berupaya menenangkan massa yang berada di Kantor Panwas Pati, Selasa (14/2/2017) malam. (Humas Bawaslu Jateng)

MuriaNewsCom,Pati – Panwas Kabupaten Pati sejak akhir masa kampanye sampai dengan Selasa (14/2/2017) malam telah menerima 13 laporan dugaan politik uang. Dugaan tersebut terjadi di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Pati.  Politik uang diduga dilakukan oleh pihak pasangan Haryanto-Arifin yang merupakan pasangan calon tunggal pada Pilkada Pati.

Pimpinan Bawaslu Jateng Teguh Purnomo yang tiba di Kantor Panwas Kabupaten Pati sejak kemarin sore, menyaksikan langsung proses proses penanganan yang dilakukan oleh Panwas Kabupaten Pati. Berdasarkan pengamatan, 3 Anggota Panwas Kabupaten Pati nampak sibuk melakukan pemeriksaan terhadap pelapor dan saksi-saksi peristiwa.

Sementara di areal Gedung Panwas, terlihat massa berjumlah puluhan orang  yang juga mengawasi penanganan yang dilakukan oleh panwas. Menurut info di jajaran Panwas, massa tersebut secara bergantian hadir di Kantor Panwas setiap harinya sejak beberapa hari lalu. Massa tersebut nampak emosional dan sesekali menekan anggota Panwas. 

“Melihat situasi itu, saya menemui dan mendengarkan segala keluhan dan harapan dari massa tersebut. Upaya ini dilakukan untuk meredakan situasi agar tidak berujung pada tindakan-tindakan kekerasan,” ujar Teguh Purnomo.

Malam harinya, massa semakin bertambah.Sementara Anggota Panwas melalui forum Sentra Gakkumdu sedang melakukan pembahasan atas laporan bersama pihak kepolisian dan kejaksaan.

Sekitar pukul 22.30 WIB, tiba-tiba puluhan orang berdatangan memasuki areal Gedung Panwas dan bersitegang dengan massa yang sudah datang sebelumnya. Terdengar teriakan-teriakan dari massa yang baru berdatangan.

Dilihat dari kendaraan yang dibawa oleh massa yang beridentitas salah satu partai politik serta dari teriakan-teriakan, massa yang terakhir ini merupakan pendukung pasangan calon tunggal.

Keributan tersebut berlangsung hampir 1 jam dan berakhir setelah Kapolres Pati Ari Wibowo bersama pasukan tiba di Kantor Panwas dan meminta massa dari kedua belah pihak membubarkan diri dan meninggalkan areal gedung panwas.

Editor : Kholistiono

 

Kotak Kosong Menang di Sejumlah TPS di Pati

(Foto/Facebook)

MuriaNewsCom,Pati – Penghitungan suara hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Pati, di beberapa tempat pemungutan suara sudah selesai, pada pukul 14.00 WIB.

Dari beberapa TPS, tampak kotak kosong berhasil mengungguli Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Pati Haryanto-Saiful Arifin.  Berdasarkan pantauan MuriaNewsCom di media sosial (medsos) tampak beberapa netizen mengupload hasil penghitungan suara di beberapa TPS.

Seperti halnya akun Facebook Awant New Pholoss yang mengunggah hasil penghitungan suara di TPS 14 Desa Trangkil, Kecamatan Trangkil.

Dari foto yang diupload, di grup Facebook Kumpulan Anak Asli Pati, terlihat Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Pati Haryanto-Saiful Arifin memperoleh suara 141. Sedangkan kotak kosong mendapatkan suara 193. Kemudian suara tidak sah sebanyak 8 suara.

(Foto/Facebook)

Ada pula pemilik akun Facebook Wong Deso, yang menginformasikan hasil penghitungan suara di TPS 04 Dukuh Ngantru, Desa Gajahmati RT 04 RW 1. Di tempat ini, kotak kosong memperoleh suara 80 dan Paslon Haryanto-Saiful Arifin sebanyak 60 suara.

Kemudian ada pula pemilik akun Facebook Sutrisno Top. Terlihat di TPS 13 Desa Ngemplak Kidul, Kecamatan Margoyoso. Di TPS ini kotak kosong juga unggul dengan perolehan suara 142 dan Paslon Haryanto-Arifin mendapat 90 suara. Sedangkan suara tidak sah sebanyak 5 suara.

Editor : Kholistiono

Tidak Bisa Mencoblos, Saiful Arifin Pilih Bersantai di Desa Mojoagung Pati

Cawabup Pati Saiful Arifin menerima tamu di rumahnya, Desa Mojoagung, Trangkil pada saat pemungutan suara Pilkada Pati berlangsung, Rabu (15/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Calon Wakil Bupati Pati Saiful Arifin memilih untuk beristirahat di kampungnya, Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil, Pati, Rabu (15/2/2017).

Dia terpaksa tidak bisa menggunakan hak pilihnya, karena ber-KTP Jakarta. Karena itu, pria yang akrab disapa Mas Arifin ini beristirahat di kampung halamannya, menemui para tamu yang sejak malam berdatangan.

“Di rumah saja, istirahat sama keluarga. KTP saya Jakarta, sehingga tidak bisa menggunakan hak pilih. Hari ini, tamu berdatangan sejak pagi. Semalam juga datang, ada acara ngaji Alquran,” ucap Arifin.

Dari pantauan MuriaNewsCom di lapangan, rumah Arifin di Mojoagung tampak tenang. Sejumlah tamu yang datang bercakap-cakap di teras rumah, gazebo, hingga ruang tamu.

Bareng Istri dan Anak, Haryanto Nyoblos di TPS 7 Desa Raci

Personel pengamanan melekat dari Polres Pati juga bersiaga menggunakan seragam sipil. Sementara itu, istri Arifin terlihat melayani tamu perempuan yang datang dan menyuguhkan jamuan ala kadarnya.

Menjelang perhitungan suara, Arifin berharap perolehan suara bisa maksimal. Dia juga berdoa supaya diberikan kesempatan untuk ikut membantu Haryanto membangun Kabupaten Pati menjadi lebih baik.

Editor : Kholistiono

Bareng Istri dan Anak, Haryanto Nyoblos di TPS 7 Desa Raci

Vera, Haryanto dan Musus (dari kiri) menggunakan hak pilihnya di TPS 07 Desa Raci, Batangan, Pati, Rabu (15/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Calon Bupati Pati Haryanto menggunakan hak pilihnya di tempat pemungutan suara (TPS) 07 Desa Raci, Kecamatan Batangan, Pati, Rabu (15/2/2017).

Tidak sendirian, Haryanto ditemani dengan istri dan anaknya, Musus dan Vera Haryanto. Keduanya berangkat ke TPS bersama, diiringi selawat Nabi Muhammad dan rebana pemuda setempat.

Lokasi TPS berada sekitar seratus meter sebelah timur rumah Haryanto. Sebelum berangkat, Haryanto berdiri di teras rumah, menggelar doa bersama dan melantunkan selawat Nabi selama kurang lebih sepuluh menit.

“Bahagia sekali bisa ikut mencoblos, menggunakan hak pilih bersama keluarga. Semoga dilancarkan dan mendapatkan barokah dengan selawat,” ujar Musus, istri Haryanto.

Sementara itu, Vera, putri sulung Haryanto berharap, ayahnya bila terpilih nanti bisa membawa perubahan untuk Kabupaten Pati. Dia juga berharap, ayahnya bisa memimpin dan menyejahterakan masyarakat Pati selama lima tahun ke depan.

Usai menggunakan hak pilih di TPS 07, Haryanto beristirahat di rumah. Dia bersama keluarga duduk-duduk menyambut tamu yang berdatangan sejak pagi. Beberapa warga sekitar datang, memberikan selamat dan berbincang dengan tamu-tamu lainnya.

Editor : Kholistiono

Kontras Turun ke Pati untuk Dukung Kotak Kosong

Koordinator Kontras Haris Azhar (kanan) saat dimintai keterangan awak media terkait kedatangannya di posko pemenangan kotak kosong Pati, Sabtu (11/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar turun ke Kabupaten Pati dan menyambangi posko pemenangan kotak kosong, Sabtu (11/2/2017). Di sana, ia disambut relawan kotak kosong, termasuk Wakil Bupati Pati Budiyono.

Haris mengatakan, Mabes Polri sudah menyatakan bahwa tingkat kerawanan pilkada di Indonesia, salah satunya ada di Pati. Menurut Haris, hal itu disebabkan adanya masyarakat yang resah karena di Pati hanya ada satu calon tunggal.

“Masyarakat resah kenapa calonnya hanya ada satu? Kenapa hanya ada petahana? Ini juga kontribusinya para partai politik yang tidak menciptakan ruang kompetisi yang fair dalam pertarungan demokrasi. Seolah-olah ada pemilu, tapi hanya mendukung satu, yaitu petahana,” ujar Haris.

Dia juga menilai, parpol hanya mendukung satu praktik otoritarianisme di Pati. Bila kondisi tersebut terus dibiarkan, kata Haris, akan menjadi bencana bagi masyarakat Pati. Karenanya, dia memberikan apresiasi dengan bangkit melawannya masyarakat dalam Pilkada Pati.

“Saya memberikan dukungan masyarakat untuk pergi ke tempat pemungutan suara (TPS) dalam rangka melawan otoritarianisme lokal. Kotak kosong perlu didukung masyarakat. Sebagai advokat, saya akan mendampingi tim kotak kosong bila ada temuan-temuan pelanggaran atau kejahatan-kejahatan politik,” ucap Haris.

Sementara itu, Juru Bicara Timses Haryanto-Saiful Arifin, Joni Kurnianto mengatakan, apa yang dilakukan parpol memberikan dukungan kepada paslon Haryanto-Arifin sudah sesuai dengan aturan. Semua parpol diakui sudah mendukung melalui mekanisme yang ada.

Bahkan, saat itu KPU sudah memberikan peluang perpanjangan waktu bila ada kandidat lain yang ingin maju untuk mencalonkan diri sebagai Cabup dan Cawabup Pati. Namun, hingga massa perpanjangan berakhir, tidak ada kandidat lain yang maju. Juga tidak ada parpol yang mencabut dukungannya.

“Kondisi paslon tunggal ini harus kita hargai bersama, jangan dilecehkan seolah paslon tunggal itu orang bersalah, orang jahat, bukan. Kesan-kesan itu mesti dihilangkan, karena munculnya paslon tunggal ini resmi dan legal, sudah sesuai aturan,” tutur Joni.

Joni justru menyebut Haryanto punya kualitas, sehingga tidak ada kandidat lain yang maju. Hal itu didasarkan pada survei internal partai yang menunjukkan kredibilitas, kapabilitas, dan elektabilitas Haryanto. Survei itulah yang dijadikan dasar bagi parpol untuk memberikan rekomendasi kepada Haryanto dan Saiful Arifin.

Editor : Kholistiono

Peran Intelijen Dioptimalkan untuk Antisipasi Serangan Fajar pada Pilkada Pati

Komisioner Kompolnas Irjen Pol (Purn) Yotje Mende mengunjugi Mapolres Pati beberapa waktu lalu dalam rangka pengawasan kinerja Polri tentang persiapan pengamanan Pilkada Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Komisioner Kompolnas Irjen Pol (Purn) Yotje Mende mengunjugi Mapolres Pati beberapa waktu lalu dalam rangka pengawasan kinerja Polri tentang persiapan pengamanan Pilkada Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pati kurang sepekan lagi. Masyarakat Pati akan mengikuti pesta demokrasi yang akan digelar pada Rabu (15/2/2017) mendatang.

Untuk mengantisipasi adanya serangan “serangan fajar”, jajaran Polres Pati akan mengoptimalkan peran intelijen. Hal itu diharapkan agar polisi ikut mengamankan pilkada supaya pesta demokrasi bisa berjalan dengan jujur, tertib, dan kondusif.

“Presiden sudah mengingatkan kepada kita soal serangan fajar untuk kepentingan kelompok tertentu, salah satunya untuk politik uang. Sekecil apapun, politik uang harus diantisipasi karena hal itu menjadi embrio kekacauan,” kata Komisioner Kompolnas Irjen Pol (Purn) Yotje Mende, Selasa (7/2/2017).

Memasuki masa tenang, lanjut dia, intelijen mesti bergerak. Pada masa-masa itu, tidak menutup kemungkinan adanya serangan fajar dari kelompok tertentu yang ingin memengaruhi suara.

“Pengembangan intelijen harus dioptimalkan. Bila ada hal-hal yang menjadi embrio kekacauan, intelijen hingga Babinkamtibmas harus membuat laporan tertulis secara berjenjang. Jangan underestimate,” pesannya.

Dalam mengoptimalkan peran intelijen, Kapolres Pati AKBP Ari Wibowo akan melakukan pendekatan formal dan informal. Akurasi data juga akan diutamakan untuk mendapatkan informasi yang valid.

“Prinsip kami, lebih baik mencegah daripadi mengobati. Sebab, mengobati akan lebih berat pada tenaga dan biaya. Permasalahan sekecil apapun akan diantisipasi dengan mengoptimalkan deteksi dini,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Ini Pelanggaran yang Paling Sering Terjadi pada Pilkada Pati

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Pati – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Tengah mencatat, dari 7 daerah yang menggelar pilkada, terdapat 146 pelanggaran. Dari jumlah itu yang paling banyak berada di Kabupaten Pati, yang tercatat sebanyak 77 kasus.

Menurut Koordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan Antarlembaga Bawaslu Jateng Teguh Purnomo,  tingginya jumlah pelanggaran di Pati ini memang cukup menarik. Terlebih di Pilkada Pati hanya terdapat satu pasangan calon, yang nantinya akan melawan kotak kosong.

“Pelanggaran yang paling sering terjadi di Pati yakni pemasangan alat peraga kampanye (APK). Pemasangan dilakukan di tempat-tempat terlarang,” ujarnya, Selasa (7/2/2017).

Hal ini menurut dia, menunjukkan masih rendahnya komitmen pasangan calon dalam melaksanakan kampanye yang bersih. Padahal menurut dia, dalam setiap koordinasi yang dilakukan Bawaslu Jateng dan panswas, pasangan calon selalu memaparkan tentang niat mereka untuk melakukan kampanye sesuai aturan.

“Namun dalam implementasinya tetap saja ada yang keluar dari komitmen itu. Dan itulah yang harus kita ingatkan bersama dan bisa jadi referensi juga bagi pemilih,” ujarnya.

Baca juga : Pelanggaran Pilkada di Pati Paling Tinggi Se-Jateng

Ia mengakui fenomena di Pati memang cukup unik. Karenanya dalam pelaksanaan Pilkada serentak 2017 ini, Pilkada Pati mendapat perhatian yang cukup lebih dari Bawaslu. Pasalnya dalam pilkada ini, muncul fenomena relawan yang juga turut menyosialisasikan untuk mengajak warga untuk memilih kotak kosong.

Bahkan relawan kosong menjadi satu-satunya yang mengajukan gugatan ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). “Soal Pilkada Pati ini memang fenomenal. Selain banyak pelanggaran, hanya di Pati yang mengajukan gugatan ke DKPP, sehingga kita beri perhatian lebih,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono