Peringati Hari Anti Korupsi, KMKB Tuntut Kudus Bersih

Pengunjuk rasa menyuarakan Kudus bersih dari korupsi di Alun-alun setempat, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pengunjuk rasa menyuarakan Kudus bersih dari korupsi di Alun-alun setempat, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Konsorsium Masyarakat Kudus Bersih (KMKB) melakukan aksi unjuk rasa dalam memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia. Mereka menuntut Kudus bersih dari korupsi.

Ketua KMKB Sururi Mujib, mengatakan, pihaknya mengingatkan pemerintah setempat menyelenggarakan pemerintahan yang bersih. Hal itu mereka lakukan demi wujud komitmen dan konsistensi menjaga agar pemerintah tetap bersih dan bagus.

“Kami meminta kepada semua penyelenggara pemerintahan, baik itu pemkab, dewan, maupun penegak hukum dari polisi, jaksa, hakim dan pengacara serta lainnya dapat berkomitmen melaksanakan amanat UU no 28 tahun 1999,” kata Sururi dalam aksi, di Alun-alun Kudus, Jumat (9/12/2016).

Selain itu juga, KMKB meminta supaya tak ada praktik pungutan liar (pungli) di semua instansi pelayanan public. Tujuannya demi tercapainya kesejahteraan rakyat di Kudus. Segala bentuk penyelewengan juga diminta untuk segera ditangani dan diproses menurut aturan yang berlaku.

Sekertaris KMKB Selamet Machmudi menambahkan, korupsi di Kudus sebenarnya dilakukan secara terstruktur. Yakni mulai dari penganggaran di tingkat dewan, sampai dengan tingkat SKPD selaku pengerjaan proyek. Melihat hal itu, masyarakat menduga mulai pembahasan sudah terjadi korupsi.

“Seperti halnya progam aspirasi dewan, itu menghabiskan biaya yang amat banyak, yang seharusnya dapat diperuntukan pada hal yang lebih membutuhkan supaya anggaran juga lebih efisien,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Koruptor Asal Pati Ini Sudah 5 Tahun Jadi Buronan Kejagung RI

JS berfoto bersama petugas kepolisian di depan Mapolsek Gembong, sebelum dibawa ke Kejaksaan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

JS berfoto bersama petugas kepolisian di depan Mapolsek Gembong, sebelum dibawa ke Kejaksaan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – JS (54), seorang warga Desa/Kecamatan Gembong, Pati yang diduga melakukan korupsi raskin di Cikarang Selatan, Bekasi ternyata sudah buronan Kejaksaan Agung RI sejak tahun 2010, dan akhirnya ditangkap di kediamannya, Kamis (11/2/2016) malam.

Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo kepada MuriaNewsCom mengatakan, penangkapan terhadap pelaku yang dilakukan Satgas Intelijen Kejagung sesuai dengan Surat Perintah Penangkapan Nomor: PRINT.500/0.2.35/Fd.1/II/2016 Kejaksaan Agung RI.

“Pelaku diduga korupsi penyaluran raskin senilai Rp 117 juta dan sudah dipanggil sebanyak tiga kali. Tapi, pelaku tidak memenuhi panggilan tersebut,” ujar Sundoyo, Jumat (12/2/2016).

Pada 12 Juli 2010, upaya penangkapan sudah dilakukan di kediaman pelaku di kawasan Pasarkonci, Desa Pasir Sari, Cikarang Selatan, Bekasi. Namun, pelaku tidak berada di kediamannya.

Upaya penangkapan kembali dilakukan pada 12 Februari 2015, tetapi pelaku masih tidak ada di tempat tinggalnya. Bahkan, keberadaannya sudah tidak diketahui lagi.

“Setelah ada koordinasi dengan petugas kepolisian di Pati. Pelaku akhirnya berhasil ditangkap di rumahnya di Desa gembong yang tinggal bersama istri dan anaknya. Sehari-hari, pelaku pulang ke rumah dan bekerja sebagai sopir di sebuah toko material yang ada di Desa Gembong,” tukasnya.

Editor : Kholistiono

 

Baca Juga : Koruptor Asal Gembong Pati Dibekuk Satgas Intelijen Kejagung RI 

Koruptor Asal Gembong Pati Dibekuk Satgas Intelijen Kejagung RI

JS (kiri) saat diamankan di Mapolsek Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

JS (kiri) saat diamankan di Mapolsek Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang warga Desa/Kecamatan Gembong, Pati berinisial JS (54) ditangkap petugas Satuan Tugas Intelijen Kejaksaan Agung RI, karena diduga melakukan tindak pidana korupsi dana raskin di Kecamatan Cikarang Selatan, Bekasi sebesar Rp 117 juta.

JS ditangkap di kediamannya, Kamis (11/2/2016) malam. Penangkapan yang melibatkan empat Satgas Intelijen Kejagung tersebut didampingi Kasi Pembinaan Kejaksaan Negeri Pati Prayitno dan Kapolsek Gembong AKP Sugino beserta Kanit Bimas Aiptu Sunoto dan Kanit Intelkam Aiptu Suprapto.

“Penangkapan berlangsung lancar dan kondusif. Tidak ada perlawanan sama sekali. Pelaku diduga melakukan korupsi di Cikarang, Bekasi kemudian melarikan diri ke Gembong dan tinggal bersama istri serta kedua anaknya,” ujar Sugino saat dimintai keterangan MuriaNewsCom, Jumat (12/2/2016).

Usai ditangkap Satgas Intelijen Kejagung, pelaku kemudian diamankan di Kejaksaan Negeri Pati. “Setelah diduga korupsi dan diburu Satgas Intelijen Kejagung, pelaku tinggal bersama istri dan anaknya. Dia sehari-hari bekerja sebagai sopir di toko material di Desa Gembong,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Selama jadi Buronan 1,5 Tahun, Koruptor Bansos Grobogan Hutomo Ini Sempat Menikah 4 Kali

Kasi Pidsus Kejari Purwodadi Bangun Setya Budi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasi Pidsus Kejari Purwodadi Bangun Setya Budi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Selama dalam pelarian, buron kasus korupsi dana bansos Pemprov Jateng 2011 Hutomo Teguh Yuwono ternyata sempat menikah. Tidak tanggung-tangung, duda 38 tahun itu kabarnya sempat menikah empat kali dalam kurun waktu sekitar 1,5 tahun. Empat perempuan yang dinikahi semuanya berstatus janda.

“Dari pengakuannya setelah tertangkap memang Hutomo bilang kalau pernah empat kali menikahi janda selama pelarian. Tetapi, pernikahannya hanya secara siri saja,” kata Kajari Purwodadi Abdullah melalui Kasi Pidsus Bangun Setya Budi.

Selain itu, terdakwa korupsi ini juga mengaku sempat mau berangkat jadi TKI ke luar negeri. Beberapa persyaratan untuk jadi TKI sudah sempat disiapkan. Namun, niat untuk mengais rezeki di negeri orang itu akhirnya urung dilakukan karena beberapa kendala.

“Batal jadi TKI, Hutomo kemudian bekerja jadi penjual tahu kelilingan di wilayah Mranggen, Demak. Akhirnya, Hutomo berhasil kita tangkap sekitar pukul 19.00 WIB saat berada di rumahnya yang ada di Dusun Mlati, Desa Manggar Mas, Kecamatan Godong, kemarin,” jelas Bangun.

Seperti diberitakan, dalam kasus korupsi dana bansos dengan nilai kerugian negara sekitar Rp 200 juta itu ada tiga orang yang terlibat selain Hutomo. Yakni, mantan Kadisporabudpar Grobogan Heryi Rusdidjanto dan Khomsatun, mantan istri Hutomo. Keduanya, divonis 13 bulan penjara oleh majelis hakim pengadilan Tipikor Semarang dan beberapa waktu lalu sudah bebas lantaran masa hukumannya selesai.

Sedangkan Hutomo mendapat vonis 2 tahun penjara ditambah denda Rp 50 juta subsider 4 bulan serta uang pengganti Rp 65.883.000 subsider 6 bulan kurungan. Dalam sidang itu, majelis hakim menjatuhkan vonis terhadap Hutomo secara in absentia atau tanpa kehadiran terdakwa.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Jika Tidak Kabur Saat Pemeriksaan, Vonis Terhadap Hutomo Dimungkinkan Bisa Lebih Ringan

Koruptor Dana Bansos Grobogan Nyamar jadi Penjual Tahu Keliling di Demak