Antisipasi DBD, Poltekkes Kemenkes Semarang di Blora Dilakukan Pengasapan

Pengasapan yang dilakukan di Kampus Poltekkes Kemenkes Semarang di Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Pengasapan yang dilakukan di Kampus Poltekkes Kemenkes Semarang di Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Kampus Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang Prodi D 3 Kebidanan yang terletak di Jalan GOR Blora, dilakukan pengasapan pada Kamis (25/2/2016).

Tindakan pengasapan ini, sebagai upaya untuk mencegah pengembangbiakan nyamuk yang membawa virus demam berdarah dengue (DBD).

Agus Prasetyo,staf di Poltekkes Kemenkes Semarang mengungkapkan, pengasapan tersebut sebagi upaya preventif, supaya tidak ada mahasiswa yang terkena DBD. Karena, kampus di situ bisa menjadi sasaran yang empuk bagi nyamuk untuk menyebar virus DBD. Apalagi, letaknya berada di belakang rumah sakit.

“Kami ingin mahasiswa di Poltekkes ini semuanya sehat dan tidak terkena DBD. Makanya, salah satu antisipasinya adalah dengan melakukan pengasapan,” katanya.

Selain sebagi tindakan preventif, fogging yang dilakukan itu untuk menjaga iklim kesehatan dan memusnahkan jentik nyamuk di lingkungan kampus menjelang akreditasi oleh Lembaga Akreditasi Kesehatan Perguruan Tinggi Kesehatan.
Baca juga : Waspada! Wabah DBD di Blora Dipresdiksi Hingga Maret Depan

10 Warga terjangkit DBD, 2 RT di Kaliwungu di Foging

Muhtarom, Kadus II Desa Kaliwungu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Muhtarom, Kadus II Desa Kaliwungu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – 10 warga di Dukuh Winong, Kecamatan Kaliwungu terjangkit DBD. Sehingga diadakan upaya pembasmian nyamuk dengan cara foging yang sekaligus dilakukan di dua RT. Yaitu di RT 3 RW 7 dan RT 3 RW 6.

Hal itu diungkapkan Kepala Dusun II Desa Kaliwungu Muhtarom, menurut data yang ia terima ada 10 warga yang terjangkit DBD dan dirawat di Rumah Sakit setempat. Kegiatan foging itu pun dari pemerintah melalui Puskesmas Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu.

”Ada dua RT yang mendapatkan jatah, sehingga pagi tadi dilakukan penyemprotan dan pembasmian nyamuk,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, dengan jumlah penderita yang banyak itu, seharusnya penyemprotan juga dapat dilakukan menyeluruh di satu dukuh. Hal itu juga yang menjadi harapan pihak desa serta masyarakat di dukuh tersebut.

Sebelum dilakukan penyemprotan, petugas dari Puskesmas melakukan pendataan. Dari tinjauan lapangan yang dilakukan, di daerah tersebut terdapat yang mengidap penyakit DBD, sehingga dilakukan penyemprotan di daerah tersebut. ”Ya bagaimana lagi, jatah hanya dua. Sebenarnya usulan sudah diusulkan namun hanya dapat dua RT saja,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Dokter Maryata mengungkapkan, cara melakukan Foging adalah sejauh 100 meter dari penderita yang ditentukan oleh ahli. Atau jika sulit menentukan radius, maka dapat dilakukan dengan mengukur jarak dari 20 rumah penderita.
”Sebab nyamuk tersebut tidak dapat terbang melebihi 100 meter. Jadi kalau ada ya sudah cukup untuk membasmi,” ujarnya.

Selain itu, penyemprotan juga silahkan pada pagi hari. Sebab nyamuk itu melakuan aktivitas pada pagi hari juga. Jadi lebih efektif pada pagi hari. Berdasarkan data yang diterima, penderita DBD tidak terlalu banyak. Sebab data yang dimiliki adalah sejumlah 56 penderita dalam Januari lalu. Itu pun jumlah se Kudus.

Editor : Titis Ayu Winarni

Nyamuk Penyebab DBD Tak Berani Serang 3 Desa di Kudus Ini

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Maraknya penyakit DBD di Kudus, ternyata tidak menyerang semua wilayah di Kudus. Seperti tiga desa di Kudus ini misalnya, selama tiga tahun berturut turut. Desa tersebut tidak pernah ada yang terjangkit penyakit yang disebabkan dari nyamuk.

Hal itu diungkapkan Kepala DKK Maryata. Menurutnya, hal membanggakan datang dari ketiga desa itu, ketiganya tercatat tidak ada yang terjangkit DBD.

“Desa itu adalah di Desa Kedungsari Kecamatan Gebog, Desa Krandon Kecamatan Kota dan Desa Piji Kecamatan Dawe. Selama tiga tahun dari 2013,2014 dan 2015 tidak ada yang terjangkit DBD,” katanya kepada MuriaNewsCom

Hal itu diperoleh, lantaran desa tersebut rajin memelihara kesehatan lingkungan. Sehingga tidak memberikan kesempatan nyamuk yang suka berpindah pindah tempat menggigit sehingga menyebabkan demam.

Sedangkan untuk wilayah yang paling banyak terserang DBD selama tiga tahun adalah Kecamatan Kota, Kecamatan Bae dan Kecamatan Jati.

Kondisi kebersihan lingkungan jelas memegang peranan penting dalam mengurangi jentik nyamuk. Cara itu juga, dianggap lebih ampuh ketimbang cara Foging, karena jika dosis tidak pas akan membuat nyamuk menjadi kebal.

Bukan hanya lingkup pemerintahan saja yang melakukan, namun setiap Jumat juga dilakukan kebersihan massal hingga tingkat desa, tingkat sekolah dan tiap rumah.

Editor : Akrom Hazami

Virus Zika dan DBD Mengancam, Enam Sekolah di Rembang Diasapi

Seorang petugas melakukan fogging di salah satu Sekolah Dasar di Rembang, Kamis (4/2/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Seorang petugas melakukan fogging di salah satu Sekolah Dasar di Rembang, Kamis (4/2/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Merebaknya penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Rembang, ditambah potensi bahaya virus zika yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti membuat pemerintah setempat cemas. Apalagi diantara banyak korban masih berusia anak-anak.

Baca juga : 2 Orang di Rembang Meninggal Akibat Demam Berdarah

Berbagai upaya pencegahan pun dilakukan, seperti pengasapan (fogging) yang dilakukan di enam sekolah dasar, Kamis, (4/2) kemarin. Ribuan pelajar SD di kecamatan Rembang terpaksa dipulangkan sejak pukul 08.30 waktu setempat. Pengasapan dilakukan di tiap ruangan enam sekolah yang terletak di sekitar Alun-alun Rembang, yaitu SDN Kutoharjo I hingga SDN Kutoharjo VI.

Kepala SDN V Kutoharjo, Sudjito, ditemui kemarin, mengatakan, seluruh siswa sengaja dipulangkan lebih awal, setelah ada program dari Puskesmas Rembang I untuk menanggulangi penyebaran penyakit DBD. Sudjito mengaku di antara siswanya, ada yang ikut terserang penyakit tersebut.
”Ada siswa yang terserang penyakit DBD. Siswa tersebut diketahui izin tidak masuk sekolah sejak kemarin,” ungkapnya.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Aris Suryono mengatakan, pengasapan di enam Sekolah dilakukan sebagai tindak lanjut adanya siswa yang terserang penyakit DBD. Sekolah yang siswanya terjangkit DBD, diperlakukan sebagai titik fokus pengasapan karena rawan menular ke siswa lainnya.

”Ini sudah prosedur, jika ada anak sekolah yang terkena penyakit DBD maka sekolah tersebut menjadi titik fokus fogging. Fogging ini dilakukan DBD tidak menular siswa yang lain,” terangnya.

Sejak bulan Desember hingga Januari, Aris menyebut, jumlah pasien DBD terbilang tinggi, ada 83 kasus menyebar di seluruh kecamatan, bahkan 3 orang meninggal dunia. ”Dinas kesehatan juga mengaktifkan Pokjanal tingkat kecamatan khusus untuk mencegah penyakit berbahaya ini,” tandasnya.

Baca juga :

Lomba Desa Bebas Jentik Akan Digelar di Rembang

Wabah Demam Berdarah Merebak di Kecamatan Winong Pati, Polisi Lakukan Fogging dan Bagikan Abate

18 Hari, 13 Warga Terserang DBD

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Langkah DKK Blora Antisipasi Melonjaknya Kasus DBD

Fogging dalam rangka pencegahan peningkatan DBD di SMPN 6 Blora oleh DKK Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Fogging dalam rangka pencegahan peningkatan DBD di SMPN 6 Blora oleh DKK Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Guna mengantisipasi melonjaknya jumlah kasus DB, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Blora melakukan sejumlah langkah antisipasi secara intensif.

Baca juga : Waspada! Wabah DBD di Blora Dipresdiksi Hingga Maret Depan

Kepala DKK Blora Henny Indriyanti mengatakan, pihaknya mengintensifkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan 3 M. Yaitu menguras, menutup dan mengubur tempat perkembangan nyamuk Aedes Aegypti. ”Kami akan berikan surat edaran kepada masyarakat perihal PSN. Surat sudah di tandatangani Pj Bupati,” kata Henny.

Selain PSN, lanjut Henny, antisipasi dengan melakukan fogging (pengasapan) di daerah endemis nyamuk Aedes Aegypti. Henny mengungkapkan, pihaknya melakukan fogging di sejumlah sekolah mulai dari PAUD hingga SMA. Fogging juga dilakukan di daerah endemis seperti Kecamatan Blora, Tunjungan, dan Jepon.

Antisipasi lainnya, DKK Blora merekrut relawan juru pemantau jentik (jumantik) nyamuk. Relawan jumantik itu adalah para pelajar SD, SMP, dan SMA. Selain melakukan pemantauan jentik nyamuk di sekolah, mereka juga memantau jentik nyamuk di sekitar tempat tinggalnya. ”Kami juga memberikan bubuk abate kepada semua Puskesmas. Abate ini ditaburkan di tempat penampungan air yang tidak memungkinkan untuk dikuras,” imbuh Henny.

Baca juga :

Waspada, Kecamatan Blora Kasus Tertinggi DBD

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Jumlah Penderita DBD di Jepara Mengalami Tren Peningkatan di Tri Wulan Pertama

Tahu Nggak Sih? Obat Nyamuk Oles Dapat Cegah DBD

Tragis, 600 Warga Kudus Kena DBD

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Alasan PMI Pati Kewalahan Penuhi Stok Darah Trombosit

Safaati tengah mengetes golongan darah yang masuk ke PMI Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Safaati tengah mengetes golongan darah yang masuk ke PMI Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Meningkatnya pasien demam berdarah dengue (DBD) di Pati, menyebabkan permintaan darah trombosit meningkat. Padahal, tidak semua darah yang masuk PMI bisa diproses menjadi trombosit.

“Untuk memproses darah yang masuk menjadi trombosit, pendonor harus memiliki berat badan di atas 55 kg, tidak mengonsumsi obat-obatan, dan darah harus dalam kondisi segar. Tidak lebih dari empat jam dari proses donor,” ujar Humas Unit Donor Darah (UDD) PMI Pati Safaati saat ditemui MuriaNewsCom, Rabu (3/2/2016).

Itu sebabnya, trombosit hanya bisa diproses dari donor darah yang dilakukan di Kantor PMI langsung. Sementara itu, donor darah yang dilakukan di luar kantor tidak bisa diproses menjadi trombosit karena lebih dari empat jam.

“Stok trombosit yang minim dibarengi kebutuhan yang semakin meningkat membuat PMI Pati kewalahan. Kami berharap, warga yang ingin donor bisa langsung datang ke kantor PMI,” katanya.

Saat ini, stok darah yang tersedia di PMI sekitar 345 kantong. Darah golongan A ada 14 kantong, darah B ada 64 kantong, darah O ada 187 kantong, dan darah AB ada 63 kantong.

“Untuk trombosit, darah golongan A ada 5 kantong, darah B ada 6 kantong, darah O ada 4 kantong dan darah AB ada 2 kantong,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono 

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

 

MuriaNewsCom, Pati – Pasien demam berdarah dengue (DBD) di Pati meningkat sejak memasuki musim pancaroba pada November 2015 lalu hingga sekarang. Akibatnya, permintaan darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Pati melonjak tajam.

Hal itu diamini Humas Unit Donor Darah (UDD) PMI Pati Safaati. Ia mengatakan, kenaikan itu bahkan mencapai seratus persen.

“Biasanya, permintaan darah per harinya cuma 30 hingga 40 kantong saja. Saat ini, permintaan darah mencapai 80 kantong. Artinya, kenaikan itu mencapai seratus persen,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (3/2/2016).

Sementara itu, permintaan darah khusus trombosit mencapai 5 kantong setiap harinya. Dengan kondisi itu, pihaknya mengaku kewalahan melayani permintaan yang terus meningkat.

“Penderita DBD memang cukup meningkat karena cuaca seperti ini. Kami saat ini bisa dikatakan cukup kesulitan dalam menyediakan stok darah trombosit, mengingat tidak semua stok darah yang masuk ke PMI bisa diproses menjadi trombosit saja,” tukasnya.

Editor : Kholistiono 

93 Warga Blora Diserang Nyamuk, 3 Meninggal Dunia

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Blora – Penderita demam berdarah dengue (DBD) di Blora sampai saat ini sudah mencapai 93 orang. Bahkan tiga di antaranya meninggal dunia. Yakni dari Kedungtuban, Blora kota dan Tunjungan.

Demikian dikatakan oleh dr Henny Indriyanti, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora. Dia mengatakan setiap hari ada pasien baru penderita DBD yang masuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan secara intensif. “Hampir setiap hari,” kata Henny.

Semakin merebaknya kasus DBD, kata dia, Dinas Kesehatan akan melakukan fogging atau pengasapan di seluruh lokasi. Terutama sekolah mulai dari TK hingga SMA di Blora. “Kami akan lakukan serentak, agar penderita tidak semakin bertambah,” tambahnya.

Henny mengimbau seluruh masyarakat Blora agar meningkatkan kewaspadaan dengan giat melaksanakan pembasmian sarang nyamuk di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Di antaranya dengan menguras bak-bak penampungan air secara rutin. Dengan hal tersebut, lanjut Heny, setidaknya bisa mengurangi jumlah jentik nyamuk.

Selain itu, masyarakat diimbau pula agar mewaspadai gejala-gejala awal penyakit demam berdarah. “Seperti panas dan bintik merah,” jelasnya.

Heny berharap masyarakat agar membawa anggota keluarga maupun tetangga yang mengalami gejala panas ke fasilitas kesehatan. “Kecurigaan pertama kali ditakutkan kena penyakit DBD,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami