Car Free Night (CFN) Kudus  Akan Gandeng Komunitas

Sejumlah PKL berada di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan Car Free Night (CFN) Kudus yang rencananya bakal dilaksanakan mulai 11 Maret, diprediksi bakal meriah. Karena sejumlah komunitas akan digandeng untuk meramaikan acara CFN nanti.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto mengatakan, beberapa komunitas yang hadir meliputi komunitas mobil dan juga komunitas motor. Keduanya dipisahkan di dua tempat dan sudah disiapkan lokasi khusus untuk keduanya.

“Untuk komunitas mobil, kami taruh di jalan Ahmad Yani. Lokasinya mulai dari selatan simpang sampai kantor pusat Djarum. Sementara untuk komunitas motor, kami taruh di jalan Ramelan,” katanya

Menurutnya, jika nantinya komunitas lain hendak gabung, seperti sepeda juga bakal ditempatkan di jalan Ramelan. Bahkan jika jalur mobil tak muat, jalur lambat di jalan Ramelan juga bisa digunakan. “Mereka malahan sangat antusias untuk mengikutinya. Bahkan, ini bisa menjadi perkumpulan yang tertata dari sebelumnya yang terpencar-pencar di sejumlah wilayah,” ujarnya.

Sama halnya dengan CFD, pada CFN juga bakal dipenuhi dengan para PKL. Bedanya, untuk PKL di CFN akan ditempatkan melingkari Simpang Tujuh Kudus. Sementara CFD di jalan Ahmad Yani.”Kami juga menyiapkan panggung hiburan, yang bakal kami letakkan di depan Pendapa Kudus. Jadi dalam CFN juga ada hiburan yang dapat dinikmati pengunjung,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca jugaCar Free Night (CFN) Diberlakukan di Kudus Bulan Ini 

Kapolres Kudus Gandeng Komunitas Motor dan Mobil Benahi Jalan Rusak

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i saat membantu menambal jalan di Lawe, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i mengatakan, dirinya bersama komunitas motor dan mobil membantu perbaikan jalan rusak di Dawe, Kamis (23/2/2017).

“Buktinya sekarang mereka bisa kami ajak peduli dengan ikut membantu perbaikan jalan rusak. Mereka membantu dalam hal tenaga untuk menambal jalan yang rusak di Dawe ini,” kata Andy.

Apa yang dilakukan anggota komunitas itu perlu mendapat apresiasi tersendiri. Harapannya, komunitas lain bisa mengikuti jejak mereka. Yakni peduli dengan jalan dan lingkungan sekitarnya. “Mereka juga banyak menggunakan jalan. Jika rusak, maka mereka juga yang merasakan. Soalnya mereka suka berkendara,” ujarnya.

Anggota komunitas motor rata-rata mengaku senang karena bisa dilibatkan dalam membantu perbaikan jalan rusak. Mereka bahkan siap membantu jika dibutuhkan dalam kegiatan sosial.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang ( PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, pihaknya akan terus melakukan penanganan jalan kabupaten yang rusak. Ruas Lau merupakan bagian dari jalan kabupaten.

Perbaikan dilakukan pada sekitar 2.500 lubang jalan. Yakni dalam bentuk penambalan jalan. Lubang jalan yang menganga mempunyai ukuran 5 cm, bahkan ada yang 20 cm. “Kami menggunakan anggaran perawatan rutin untuk memperbaikinya. Dalam perbaikan, kami ada dua tim dikerahkan,” kata Sam’ani di Kudus, Kamis (23/2/2017).

Rusaknya jalan, selain faktor air yang membuat lapisan aspal rusak, juga beban tonase kendaraan yang berlebihan. Seperti halnya kendaraan truk atau tronton bermuatan.

Editor : Akrom Hazami

Ini Pesan Komunitas Pecinta Reptil Kudus untuk Masyarakat

f-upload sekarang, reptil (e)

Komunitas pecinta reptil Kudus sedang foto bersama (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Reptil, atau hewan melata, tak jarang kita jumpai hidup di alam bebas. Bahkan, keberadaan beberapa jenis reptil tersebut, terkadang membuat sebagian orang merasa takut ketika menjumpainya.

Namun, hal tersebut tak lantas harus memusnahkan reptil tersebut dengan cara membunuhnya, karena hanya untuk mengatasi rasa takut.

Komunitas pecinta reptil Kudus menyampaikan, sebaiknya, reptil yang hidup liar tidak sembarangan dibunuh. “Mereka itu juga makhluk hidup, dan Tuhan menciptakan hewan-hewan itu tentu ada manfaatnya. Makanya jangan asal bunuh,” ujar salah satu anggota komunitas pencinta reptil Kudus Adi (25), kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jika tindakan semacam itu dilakukan, maka nantinya bisa merusak rantai makanan yang ada. Karena, keberadaan hewan-hewan itu juga untuk keseimbangan makhluk hidup.

Ia mencontohkan, ular ataureptil lainnya bisa membantu parapetani membasmi hama tikus. Oleh

sebab itu, bila sebagian orang memiliki rasa takut terhadap reptil, maka sebaiknya mencari tempataman atau menghindar ketika bertemu hewan, daripada langsung membunuhnya.

Dalam hal ini, komunitas pecinta reptil Kudus yang berdiri tahun 2009 dan beranggotakan50 orang tersebut,selalu hadir disaat car free day (CFD) di Alun-alun Kudus untuk mengkampanyekan agar tidak terjadi pembasmian reptil secara membabi buta.

“Ya, kita hadir di CFD ini tidak lain ialah untuk memberikanedukasi kepada warga. Supaya mereka juga bisatahu akan manfaat adanya reptil diciptakan. Yang paling intiialah reptildiciptakan sebagai penyeimbang ekosistem di muka bumi,”imbunya.

Editor : Kholistiono

Mengenal Komunitas Mobil Avanza-Xenia Solution Pati

Anggota AXS Pati touring di Pantai Empu Rancak Jepara. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Anggota AXS Pati touring di Pantai Empu Rancak Jepara. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ada beragam komunitas otomotif di Pati. Salah satunya, komunitas yang mewadahi pengguna mobil Avanza dan Xenia yang akrab disapa Avanza-Xenia Solution (AXS).

Tak sekadar berkumpul, mereka aktif dalam berbagai kegiatan touring, saling membantu antarsesama anggota, hingga kegiatan bakti sosial. Salah satu kegiatan tour yang pernah dilakukan, antara lain keliling bersama AXS plat K, yaitu Pati, Kudus, Jepara, Rembang, Blora, Cepu, dan Grobogan.

”Kita pernah menggelar kegiatan tour bersama dengan AXS plat K di Pantai Empu Rancak, Jepara. Itung-itung gathering membahas tentang Avanza dan Xenia, mengenal antaranggota sesama plat K, sekaligus wisata,” kata Andi Axs, Koordinator AXS Pati kepada MuriaNewsCom, Kamis (24/3/2016).

Selain menambah saudara, kata dia, AXS menjadi wadah untuk saling sharing tentang kendaraan. Misalnya, adanya kendala dan masalah mengenai Avanza dan Xenia yang dikeluhkan anggota.

”Kalau ada teman komunitas yang mungkin mogok di tengah jalan, bisa saling telepon. Mungkin ada anggota yang bisa saling bantu, entah itu memberi tahu bengkel terdekat, memberi solusi mana yang perlu diperbaiki. Kalau ada teman yang dekat di lokasi mogok bisa datang langsung,” imbuhnya.

AXS Pati sendiri belum lama berdiri. Mereka berkumpul dan sepakat membentuk wadah pada akhir Desember 2015 lalu. Kebersamaan dan kekeluargaan menjadi pijakan utama bagi mereka untuk bersatu dalam wadah AXS.

Editor : Titis Ayu Winarni

Postrec Kenalkan Ikon Pati dengan Mengelilingi Kota

Komunitas mobil stream menjelajah Kota Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Komunitas mobil stream menjelajah Kota Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Untuk mengenalkan apa itu Pati, komunitas mobil Pati Owner Stream Community (Postrec) menggelar agenda jelajah Kota Pati bersama dengan komunitas stream lainnya dari Jepara, Kudus, dan Semarang.

Sedikitnya ada 70 pengguna mobil stream dari empat daerah mengelilingi Kota Pati. Mereka dikenalkan dengan pabrik Dua Kelinci, keran melayang yang saat ini menjadi ikon Pati, patung kereta berkuda, hingga Simpang Lima yang menjadi “Malioboro” nya Kabupaten Pati.

“Kebetulan teman-teman dari luar daerah berkunjung ke Pati. Selain mendukung berdirinya komunitas stream di Pati, ini menjadi kesempatan bagi kami untuk berbaur dengan teman-teman di luar daerah dengan mengelilingi Kota Pati,” ujar Hendro Suryo, salah satu anggota Postrec kepada MuriaNewsCom, Selasa (1/3/2016).

Jika anggota di Pati sudah banyak, kata dia, rencananya Postrec bakal menggelar tour di komunitas stream yang ada di daerah tetangga seperti Rembang, Kudus, Jepara, dan Semarang. “Kita semua saudara. Kita akan mengenalkan potensi satu daerah kepada teman daerah lain melalui mobil stream,” imbuhnya.

Dengan begitu, Postrec tak sekadar untuk mewadahi pencinta mobil stream saja. Lebih dari itu, komunitas ini menjadi ajang untuk mengenalkan potensi daerah melalui penjelajahan bersama menggunakan mobil stream.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Mengenal Komunitas Pati Owner Stream

Mengenal Komunitas Pati Owner Stream

Komunitas mobil stream dari Pati, Jepara, Kudus dan Semarang menggelar kopi darat untuk pembentukan Postrec. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Komunitas mobil stream dari Pati, Jepara, Kudus dan Semarang menggelar kopi darat untuk pembentukan Postrec. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pati Owner Stream Community (Postrec) merupakan komunitas pencinta mobil Honda Stream yang berdomisili di Pati. Mereka berkumpul dalam satu wadah hobi di bidang otomotif, terutama mobil stream yang saat ini sudah tidak keluar lagi.

Ketua Postrec Pati Yogi kepada MuriaNewsCom mengatakan, Postrec baru saja berdiri pada 27 Februari 2016 lalu dan memiliki lima anggota. Dalam pembentukan komunitas itu, sejumlah komunitas stream dari daerah lain juga turut hadir seperti Jepara Stream Owner Club (JSoc), Stream Kudus Owner Club (Skoc), dan Stream Semarang Atlas (SSA).

Karena itu, ia membuka peluang kepada warga Pati yang punya mobil stream untuk bergabung. “Kita baru saja bentuk pada 27 Februari 2016 kemarin dengan lima anggota. Berdirinya komunitas ini, tak lain supaya pencinta mobil Honda Stream di Pati bisa berkumpul dalam satu wadah hobi berkendara yang sama,” kata Yogi, Selasa (1/3/2016).

Selain itu, komunitas itu diharapkan bisa menjadi ajang tukar pengalaman terkait dengan perawatan mobil stream, lantaran kendaraan itu saat ini sudah tidak keluar lagi dari pabrik (stop sale). “Ke depan, kita juga akan melakukan agenda sosial di wilayah Pati,” imbuhnya.

Pencinta mobil stream yang ingin bergabung dalam komunitas ini bisa berkunjung ke basecamp di Elegant Salon, Jalan Jiwonolo Nomor 101 Pati. “Kalau mau gabung, kunjungi basecamp kami atau hubungi nomor 085740878863 (Yogi) atau 082324454333 (Tito),” pungkasnya.

Baca juga : Wow, Penjualan Mobil Bekas di Keresidenan Pati Bikin Ngiler 

Editor : Kholistiono

Kampanye Kurangi Polusi Udara, Para Orang Tua Ini Berkeliling Kudus Gunakan Sepeda Ontel

Anggota Onto Onto Tok (OOT) Kudus selalu mengenakan kostum unik dan nyentrik saat bersepeda keliling Kota Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Anggota Onto Onto Tok (OOT) Kudus selalu mengenakan kostum unik dan nyentrik saat bersepeda keliling Kota Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Komunitas pencinta sepeda kuno yang memiliki nama Onto Onto Tok (OOT) Kudus ini memang sering berkeliling Kota Kudus. Hal itu bertujuan memberikan contoh warga, alangkah menyenangkan sekali bepergian menggunakan sepeda ontel dan sekaligus bermanfaat mengurangi polusi.

Komunitas yang mayoritas anggotanya para pria lanjut usia tersebut sering berkumpul dan berkeliling kota. Baik disaat hari Minggu ataupun saat even tertentu di Kudus.

Salah satu anggota OOT Syukrin mengutarakan, saat berkeliling ia tidak lupa untuk melengkapi sepedanya dengan tape recorder yang berisikan lagu-lagu Jawa. ”Ya biar menikmati perjalanan ditemani lagu kesukaan. Selain itu juga agar menarik perhatian warga yang saya lewati,” ujarnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, kegiatan keliling Kudus yang biasa dilakoni OOT tersebut selalu melewati rute perkampungan dahulu kemudian jalan utama Kota Kudus. Otomatis bisa memberikan contoh tidak langsung kepada masyarakat cara mengurangi polusi udara.

”Kalau kita keliling biasanya ke alun alun, jalan perkampungan (gang). Selain itu, disaat ada gelaran kegiatan, sekitar 30an anggota atau bahkan bisa lebih kami juga ikut turun ke jalan menggunakan sepeda,” tuturnya.

Dia menambahkan, yang penting dalam kegiatan sepeda keliling ini bisa memberikan contoh warga, polusi udara bisa dikurangi dari kebiasaan sehari-hari. Selain itu, dengan bersepeda juga bisa menyehatkan badan. ”Meskipun anggotanya rata-rata berusia 45 hingga 60 tahun, tapi tetap bersemangat,” katanya.

Editor : Titis Ayu Winarni

SSBC Ikut Meriahkan Fun Bike UMK 2016

Sukun Special Bicycle Community (SSBC) Kudus ikut dalam acara fun bike yang digelar di UMK .(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Sukun Special Bicycle Community (SSBC) Kudus ikut dalam acara fun bike yang digelar di UMK .(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

Muria NewsCom, Kudus – Sukun Special Bicycle Community (SSBC) Kudus ikut memeriahkan acara Fun Bike Universitas Muria Kudus (UMK) pada Minggu (28/2/2016). Sedikitnya, ada 130 anggota SSBC yang ikut berpartisipasi.

Salah satu anggota SSBC Kudus Warso mengatakan, untuk ikut memeriahkan acara fun bike tersebut, komunitasnya bahkan sampai mendirikan posko. “Selain posko ini untuk istirahat sambil menunggu undian, di sini juga dilengkapi dengan obat-obatan P3K,” katanya.

Dengan ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, pihaknya berharap, dapat mempererat antarkomunitas, dan masyarakat, sehingga akan terjalin persaudaraan yang lebih akrab.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Tak Hanya dari Kudus, Peserta dari Jawa Timur juga Ramaikan Fun Bike UMK 2016

Gerobak Tua Rembang Jadi Wadah Berbagi Informasi Perawatan Mobil Klasik

Para anggota Gerobak Tua Rembang sedang memarkir mobil klasik mereka. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Para anggota Gerobak Tua Rembang sedang memarkir mobil klasik mereka. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Memiliki mobil antik dan klasik tentu harus memiliki pengetahuan dan keterampilan tersendiri dalam perawatannya. Salah satu komunitas di Rembang yang menjadi ajang untuk tukar informasi seputar perawatan mobil klasik adalah Komunitas Gerobak Tua Rembang (GTR).

Komunitas ini diketuai oleh Jadmiko (52) warga Lasem, Rembang. Sedangkan anggotanya yakni, Aditya (26) warga Mondoteko, Fian (35) warga Lasem, Didik (25) warga Kaliori, dan Hendra (27) warga Tawangsari Rembang.

Hendra mengungkapkan, sejauh ini anggota Gerobak Tua Rembang menjalin komunikasi yang baik dengan komunitas pecinta mobil klasik di kota lain, bahkan sering touring bersama. Meski begitu, pihaknya juga membuka kesempatan untuk para pecinta mobil klasik di Rembang yang ingin bergabung.

Meskipun mobil para anggota Gerobak Tua Rembang itu Corolla, namun mereka tetap menerima pecinta mobil klasik dengan berbagai merek, tidak hanya terbatas mobil Corolla.

”Kami sedang mencari anggota baru biar lebih banyak pecinta mobil klasik yang bergabung dengan Gerobak Tua Rembang. Kalau ada mobil klasik maksimal tahun ’80an tanpa melihat merek mobil itu, asal di wilayah Rembang, silahkan bergabung untuk menjalin silaturahmi dan kebersamaan,” tandas Hendra.

Komunitas yang juga tergabung dalam Indonesia Corolla Classic (ICC) ternyata masih terbilang berumur muda. Pasalnya Gerobak Tua Rembang baru diresmikan pada bulan April tahun 2015 kemarin. ”Belum ada satu tahun, baru diresmikan April kemarin,” kata Hendra kepada MuriaNewsCom beberapa waktu lalu.

Meskipun sejauh ini, Gerobak Tua Rembang baru sebatas sebagai ajang silaturahmi dan sharing pengetahuan tentang perawatan mobil klasik. Namun, mereka berencana untuk mengadakan bakti sosial berupa santunan ke anak yatim pada saat anniversary pada April mendatang.

Selain berkumpul dan transfer pengetahuan terkait perawatan mobil klasik, kata Hendra, para anggota Gerobak Tua Rembang juga sering touring. ”Untuk touring, prinsip kami mengedepankan kenyamanan pengguna jalan yang lain. Jadi kami ingin menghilangkan stigma negatif di masyarakat terkait komunitas pecinta mobil, yang kadang dianggap ugal-ugalan ketika touring,” tambahnya.

Editor : Titis Ayu

Chapter Pajero Owners Club di Indonesia Bakal Ikut Rakornas

Komunitas Pajero Owners Club (POC) Central Java Chapter bakal mengadakan rakornas I di Noormans Hotel, Semarang, Sabtu (23/1/2016). (Istimewa)

Komunitas Pajero Owners Club (POC) Central Java Chapter bakal mengadakan rakornas I di Noormans Hotel, Semarang, Sabtu (23/1/2016). (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Komunitas Pajero Owners Club (POC) Central Java Chapter, bakal mengadakan acara Rakornas I, yang digelar di Noormans Hotel, Semarang, pada Sabtu (23/1/201) nanti.

Bukan hanya para pecinta mobil Pajero dari Jawa Tengah saja yang bakal hadir. Tapi juga dari seluruh chapter POC se Indonesia, juga akan hadir pada kesempatan itu.

Daerah lain yang juga akan hadir adalah Central Java Chapter, West Java Chapter, Manado Chapter, DI Yogyakarta Chapter, Mantap Chapter, Central Sulawesi Chapter, South Celebes Chapter, Grage Chapter, Jabodetabek Area Chapter, dan South Sumatra Chapter.

Rakornas ini akan mengusung beberapa agenda yang memang bakal menjadi kegiatan komunitas di masa mendatang. Kesempatan ini juga akan dijadikan ajang silahturrahim antaranggota komunitas.
Sementara para anggota pria melangsungkan rapat koordinasi, para ladies dan kids yang tergabung di dalamnya, akan melakukan tour by bus.

Tour ini sendiri, bergagendakan city tour Semarang dan museum kereta api Ambarawa. Komunitas yang disupport oleh PR Sukun ini, akan mulai berkumpul di Semarang mulai tanggal 22-24 Januari mendatang.

Editor: Merie

Perhatian! Anggota KMBG Diminta Tidak Salah Gunakan Senjata

Anggota Komunitas Menembak Berburu Grobogan (KMBG) terlihat serius mendengarkan pembinaan dari aparat Polres Grobogan (dok. Polres Grobogan)

Anggota Komunitas Menembak Berburu Grobogan (KMBG) terlihat serius mendengarkan pembinaan dari aparat Polres Grobogan (dok. Polres Grobogan)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya menangkal paham radikalisme terus dilakukan jajaran Polres Grobogan dengan berbagai kiat. Selain razia, aparat keamanan juga melakukan pembinaan dan penyuluhan pada anggota Komunitas Menembak Berburu Grobogan (KMBG).

“Salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk menangkal paham radikalisme, seperti ISIS dan Gafatar. Kami minta anggota KMBG tidak ikut dalam paham radikalisme tersebut karena akan merugikan diri sendiri dan masyarakat umum,” kata Kanit Intelkam Polres Grobogan Ipda Ma’arif, saat memberikan pembinaan pada anggota KMBG, belum lama ini.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut, para anggota KMBG juga diminta supaya tidak menyalahgunakan senjata yang mereka miliki. Jika nanti ada anggota yang terindikasi menyalahgunakan senjata, maka KMBG diminta segera melaporkan pada pihak kepolisian.

Pembinaan pada KMBG itu dilakukan karena organisasi ini memiliki banyak anggota. Selain itu, KMBG merupakan wadah dari berbagai klub menembak yang ada di Grobogan.

Sementara itu, Ketua KMBG Budi Santoso menyatakan, organisasi yang dipimpinnya itu terbentuk pada 11 Juni 2011. Hingga saat ini anggota dari KMBG ada 115 orang.Adapun anggotanya terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, pengusaha, PNS dan karyawan swasta.

“Klub menembak ini sudah mendapat legalisasi dari Persatuan Menembak Seluruh Indonesia (Perbakin) Cabang Kabupaten Grobogan. Selanjutnya, klub menembak ini mendapat pengawasan dan pengarahan langsung dari Perbakin. Sedangkan untuk jadi anggota klub, KMBG sangat selektif dan ada beberapa syaratnya. Antara lain, persyaratan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) hingga menempuh pelatihan yang harus dijalani dan dipenuhi oleh calon anggota baru,” katanya.

Editor : Kholistiono

Toyota Kijang Club Pati Larang Keras Anggotanya Ugal-ugalan

Toyota Kijang (e)

Anggota TKCI berfoto bersama di depan pintu masuk Kota Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Banyaknya pencinta mobil Toyota Kijang di Pati, sebuah klub bernama Toyota Kijang Club Indonesia (TKCI) Pati didirikan. Dan salah satu misi utama komunitas adalah sosialisasi antar anggota tentang safety riding.
Salah satu aturan yang harus dipatuhi anggota TKCI adalah soal safety riding. Anggota TKCI tidak diperbolehkan berkendara ugal-ugalan yang berpotensi mengancam keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya. ”Safety riding yang kami utamakan,” kata Arief Supriyadi, Ketua TKCI Pati kepada MuriaNewsCom.
Komunitas itu awalnya berdiri pada 14 Februari 2014. Namun, komunitas itu resmi sebagai sebuah klub yang memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) sejak Sabtu (16/1/2016). Komunitas itu diresmikan dengan berkumpulnya TKCI seluruh Jawa dan Bali.

”Minggu 17 Januari kemarin kami berkumpul bersama dan meresmikan komunitas. Sejak sekarang, kami sudah punya semacam klub resmi yang mewadahi pencinta mobil Toyota Kijang,” kata Arief.

Saat ini, TKCI di Pati diikuti sekitar 37 anggota. Klub ini membuka selebar-lebarnya bagi pemilik mobil Kijang yang ingin bergabung. ”Tidak ada syarat khusus. Intinya kita sesama pencinta mobil Kijang bisa berkumpul bersama,” tuturnya.

Salah satu kegiatan yang pernah dilakukan, antara lain menggelar touring bareng, jambore nasional seluruh pencinta mobil Kijang di Indonesia, bakti sosial di panti asuhan, dan bagi takjil.

”Salah satu yang paling unik dari TKCI, klub ini punya cabang paling banyak di Indonesia. Pati sendiri merupakan cabang ke 59 di seluruh Indonesia,” tambahnya. (LISMANTO/TITIS W)

Komunitas Mata Air Jepara Bakal Gelar University Expo

Poster Universty Expo IV yang diadakan komunitas Mata Air Jepara (Istimewa)

Poster Universty Expo IV yang diadakan komunitas Mata Air Jepara (Istimewa)

 

JEPARA – Komunitas Mata Air Kabupaten Jepara akan menggelar kegiatan University Expo IV pada 23-25 Januari 2016. Kegiatan tersebut rencananya akan berlangsung di Gedung Wanita Jepara.

Haidar Abied, Ketua Panitia University Expo mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu program unggulan komunitas Mata Air Jepara. “University Expo telah digelar sejak tahun 2013, semakin tahun kegiatan ini semakin dinantikan masyarakat di Kabupaten Jepara,” katanya.

Dalam kegiatan nanti, akan diadakan pameran perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri se-Indonesia. “Dengan adanya pameran pendidikan perguruan tinggi ini, diharapkan minat peserta didik dalam melanjutkan studi ke perguruan tinggi semakin besar,” lanjutnya.

Perwakilan dari masing-masing perguruan tinggi, nantinya dapat melakukan sosialisasi terhadap siswa, baik proses seleksi masuk perguruan tinggi hingga beasiswa yang ditawarkan dimasing-masing perguruan tinggi.

“Kami telah bekerjasama dengan Pemkan Jepara, Kementrian Agama, Dinas Pendidikan dan Olahraga Jepara dan Lembaga Ma’arif Jepara,” jelasnya.

Selain pameran perguruan tinggi, dalam expo tersebut nantinya juga akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, di antaranya, tryout akbar SBMPTN, lomba rebana, lomba akustik, lomba futsal, dan lomba karya tulis ilmiah. Untuk informasi pendaftaran lebih lengkap, dapat mengunjungi website uniex.mataairjepara.org. (KHOLISTIONO)

Salut, Komunitas Bangun Sebelum Subuh Dirikan Warung Sedekah Khusus Bagi Fakir Miskin

Warung Sedekah yang baru buka hari ini Kamis (7/1/2016) di Jalan Ahmd Yani Gang 1 Kudus langsung diserbu warga sekitar yang berprofesi sebagai tukang sapu dan penarik becak. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warung Sedekah yang baru buka hari ini Kamis (7/1/2016) di Jalan Ahmd Yani Gang 1 Kudus langsung diserbu warga sekitar yang berprofesi sebagai tukang sapu dan penarik becak. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Memang patut dicontoh aksi para pemuda yang tergabung dalam komunitas Bangun Sebelum Subuh. Yaitu mendirikan Warung Sedekah pada Kamis (7/1/2016). Meski nampak seperti warung tenda biasanya, namun warung tersebut sangat istimewa. Yaitu hanya melayani fakir miskin di Kudus untuk makan gratis.

Warung yang saat ini berada di Jalan Ahmd Yani Gang 1 Kudus ini, juga bukan tanpa alasan. Salah satu anggota Komunitas Bangun Sebelum Subuh Kudus Bosnia mengatakan, untuk mendirikan warung ini terinspirasi dari angka 769. Angka tersebut merupakan filosofi dari surat dan ayat yang terdapat di Alquran. Untuk angka 76 yakni surat Al Insan merupakan surat ke 76, dan angka 9 merupakan ayat yang ke 9 dari Surat Al Insan.

”Yaitu yang bermakna, kami memberikan makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula meminta (ucapan) terimakasih,” paparnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, saat ini warung sedekah tersebut banyak didatangi orang. Khususnya bagi mereka yang berprofesi menjadi tukang sapu dan tukang becak. ”Kegiatan ini memang baru kali pertama berjalan. Dan disokong dari donatur tunggal,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Bosnia, kegiatan ini nantinya dijadwalkan setiap satu pekan sekali di Kudus. Pihaknya juga akan membuka tenda dengan lokasi yang berpindah-pindah di tempat lain. Dengan adanya kegiatan sosial ini, bisa memacu orang lain untuk peduli terhadap sesama yang membutuhkan.

”Untuk menunya nasi rames, telur ceplok, dan teh. Dan disedikan sekitar 150 porsi saja,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Produk Sayur dari Komunitas Organik Pati Terkendala Sertifikat

Anggota komunitas Gagego Organik sudah mulai memasarkan produk pertanian di sejumlah toko modern di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Anggota komunitas Gagego Organik sudah mulai memasarkan produk pertanian di sejumlah toko modern di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kendati sudah menanam dengan cara organik, tetapi sebuah produk pertanian tidak bisa diklaim berstatus “organik”, selama tidak ada sertifikat dari lembaga yang berwenang.

Di satu sisi, hal itu diharapkan bisa melindungi konsumen dari klaim produk organik. Di sisi lain, proses pengajuan untuk mendapatkan sertifikat organik dirasa cukup membebani.

”Kami ini dari komunitas Gagego Organic selama ini mengkampanyekan kepada anggota untuk memanfaatkan lahan dan pekarangan rumah untuk ditanami sayuran tanpa harus melibatkan pupuk dan pestisida kimia. Kalau bisa, hasil budidaya dari pekarangan itu dijual di pasaran. Tapi, masih terkendala masalah sertifikat,” ujar Koordinator Gagego Organic Pati Eny Prasetya kepada MuriaNewsCom, Rabu (23/12/2015).

Ia mengatakan, ke depan komunitasnya akan mengupayakan untuk mengajukan sertifikasi produk pertanian dari anggotanya. Ada sertifikat atau tidak, kata dia, komunitasnya akan selalu menggalakkan budidaya sayuran bebas zat kimia.

”Sekarang ini fokus komunitas kami adalah menyebarkan pertanian ramah lingkungan, terutama pemanfaatan pekarangan untuk pemenuhan gizi keluarga secara lebih sehat. Sertifikasi organik ke depan akan kami ajukan agar produk anggota organik semakin dipercaya konsumen,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Resmikan Komunitas, HBC Kudus Tampilkan Tari Kretek

Tari Kretek dimainkan dalam rangka peresmian HBC cabang Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tari Kretek dimainkan dalam rangka peresmian HBC cabang Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Peresmian Honda Brio Community (HBC) cabang Kudus yang digelar di Saung Bambu Wulung, Jumat (18/12/2015) diramaikan dengan Tari Kretek.

Hal itu karena komunitas yang terbentuk pada Sabtu (12/12/2015) kemarin tersebut ingin mengangkat kebudayaan lokal Kudus.

Ketua HBC cabang Kudus Deni Eko mengatakan, meskipun komunitasnya adalah komunitas mobil, namun dalam peresmiannya, mereka tetap peduli dengan budaya lokal. Yakni dengan memilih kegiatan Tari Kretek.

Selain kesederhanaan yang ditampilkan ke masyarakat, ke depannya HBC juga mempunyai misi menjadi komunitas yang bisa dicontoh masyarakat Kudus. Seperti halnya memberikan pembelajaran safety driving. “Baik itu terhadap pengendara mobil di jalan atau juga pada mahasiswa,” ujarnya.

Dia menilai, berdirinya HBC Kudus ini juga sebagai sarana untuk mengubah pandangan orang awam. Bahwa selama ini komunitas mobil itu sering dianggap sebagai raja jalanan atau komunitas dengan anggota yang suka ugal- ugalan.

Saat ini, jumlah anggota HBC Kudus baru 17 orang. Ke depannya, mereka akan mengajak warga lainnya untuk bergabung.

Panitia acara Maknun mengatakan, selain kesederhanaan yang ditonjolkan ke masyarakat, seluruh anggota HBC ini diharapkan bisa saling akrab dan meningkatkan kekeluargaan. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Usaha Bersama Komunitas Bisa Dorong Desa Lebih Produktif

Tatyana Warastuti meresmikan UBK yang dijalankan oleh Desa Loram Kulon dan Loram Wetan berupa produk sabun cuci. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tatyana Warastuti meresmikan UBK yang dijalankan oleh Desa Loram Kulon dan Loram Wetan berupa produk sabun cuci. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain membuka kegiatan Loram Expo, Desa Loram Kulon dan Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati juga membuka Usaha Bersama Komunitas (UBK) yang diprogramkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa).

Nantinya UBK tersebut dikelola oleh ke dua desa untuk dijadikan badan usaha milik desa. Sehingga masyarakatnya menjadi lebih produktif sesuai dengan usaha yang dijalankan.

Salah satu staf Kemendesa, Tatyana Warastuti mengatakan program ini memang difokuskan kepada desa yang mempunyai produktivitas tinggi. Misalkan Loram Wetan dan Loram Kulon.

Meski begitu, pihaknya juga tidak mematok program tersebut harus tersasar kepada desa yang mayoritas warganya mempunyai usaha kecil saja. ”Kalau UBK itu tergantung dari perdes dan APBDesnya masing-masing. Sebab UBK itu memang dianggarkan dari dana desa. Selain itu, bagi desa yang tidak mempunyai keahlian khusus atau mempunyai usaha, juga bisa membuat UBK tersebut dengan desa lainnya,” paparnya.

Selain itu, lanjut Tatyana, dalam produk UBK tersebut diserahkan kepada pihak desa. Baik itu pembuatan sosis atau sabun seperti halnya di Loram. Dengan adanya UBK tersebut, diharapkan anggotanya bisa mejalankan usahanya untuk lebih maju.

”Kami sebagai Kemendesa, hanya bisa memfasilitasi, memantau perkembangan serta mengarahkan. Sehingga desa yang mempunyai UBK bisa maju dengan dana desa yang ada,” harapnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Aksi Bisu Komunitas Ini Hipnotis Pengunjung CFD Alun-alun Kudus

CFD (e)

Ekspresi para pantomim dari Forum Kesenian Tali Jagat menarik pengunjung CFD Alun-alun Kudus untuk berfoto bersama. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

KUDUS – Ada ada saja aksi komunitas dalam menarik perhatian masyarakat. Seperti halnya Forum Kesenian Tali Jagat, satu dari sekian komunitas di Kudus. Dalam menarik pengunjung CFD, mereka tidak pernah bicara sama sekali, melainkan hanya melakukan gerakan pantomim.

Kesenian pantomim tersebut, mampu menarik para pengunjung CFD, tak jarang, baik laki-laki maupun perempuan sangat tertarik mengabadikan momen tersebut dengan berfoto.

Perilaku jahil dati pantomim tersebut juga mengundang tawa bagi menyaksikan. Dengan polah yang saling mengerjai, membuat suasana lebih ramai.

Imam Sugiman Albahran, koordinator komunitas mengatakan, sebenarnya forum yang mereka miliki bukan hanya khusus pantomim saja. Melainkan kesenian lainnya juga banyak dalam kelompok yang baru berumur tiga bulan itu.

”Kalau Minggu lalu sudah memakai make up horor, kali ini gantian pantomim. Dan sebenarnya dalam komunitas kami juga masih ada lainnya yakni tari, teater, musik dan kesenian lainnya,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom.

Forum beranggotakan 20 orang tersebut, bermula dari sekelompok pemuda di organisasi IPNU IPPNU Ranting Kaliwungu. Namun seiring berkembang, mereka tidak hanya terpaku pada organisasi berbasis NU saja, melainkan lebih ke umum.

”Kami kini merangkul semuanya, bahkan ada anggota dari luar Kaliwungu. Kami juga menerima semua kalangan,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Komunitas Organik Pati Usulkan Hutan Rumah Tangga Jadi Program Kota Hijau

Sejumlah komunitas hijau di Pati menggelar FGD aspirasi dan visi kota hijau bersama Bappeda Pati, Jumat (20/11/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah komunitas hijau di Pati menggelar FGD aspirasi dan visi kota hijau bersama Bappeda Pati, Jumat (20/11/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Anggota komunitas organik “Gage Go Organik” Pati Edi Kristiono mengusulkan masing-masing keluarga punya hutan rumah tangga sebagai salah satu cara untuk mendukung program pengembangan kota hijau di Pati. Hal itu disampaikan dalam focus group discussion (FGD) aspirasi dan visi kota hijau yang digelar Bappeda Pati, Jumat (20/11/2015).

”Kalau masing-masing keluarga punya hutan rumah tangga, saya kira Pati tidak terkena dampak banjir saat hujan dan kekeringan saat kemarau,” ujar Edi kepada MuriaNewsCom.

Ia menilai, ada banyak manfaat jika rumah tangga menyisakan sedikit lahannya untuk membuat hutan rumah tangga. Salah satunya sebagai sumber cadangan air, menjaga kesuburan tanah, sumber oksigen, menyerap karbon, pencegah banjir, hingga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur.

”Hutan rumah tangga bukan hanya bisa memenuhi ruang terbuka hijau di wilayah Pati Kota, tetapi juga bisa menjadi cara untuk menyelamatkan manusia dari dampak pemanasan global,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Gathering Jadi Cara Muria Musang Club Perluas Wawasan Pelihara Hewan Liar

Komunitas MMC sering adakan gathering dan memperkenalkan musang kepada masyarakat. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Komunitas MMC sering adakan gathering dan memperkenalkan musang kepada masyarakat. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Memelihara musang yang merupakan jenis hewan liar tersebut memang tidak mudah. Meski begitu, masih banyak orang yang tertarik untuk bisa memelihara dan mengembangbiakkan musang.

M Fajar Nugroho, ketua Muria Musang Club (MMC) Kudus mengatakan belum banyak orang yang dapat memelihara musang. ”Karena musang memang baru-baru ini dijadikan peliharaan dan tidak semua orang memilikinya. Sehingga untuk perawatannya agak sulit, karena kurangnya pengalaman,” ujarnya.

Untuk itu, komunitas MMC tersebut mengadakan gathering rutin untuk mempertemukan para pecinta musang agar bisa saling berbagi. Setidaknya setiap Minggu pihaknya menggelar acara gathering antar komunitas pecinta musang di daerah lain.

”Kalau sama MMC Kudus bisa sering ketemu, jadi gathering-nya kita berkumpul dengan MMC luar Kudus,” imbuhnya. (AYU KHAZMI/TITIS W)

RTH di Pati Masih Kurang, Komunitas Hijau Berupaya Temukan Solusi

Komunitas Hijau di Pati menggelar focus group discussion (FGD) untuk menjalankan visi kota hijau di wilayah Pati Kota. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Komunitas Hijau di Pati menggelar focus group discussion (FGD) untuk menjalankan visi kota hijau di wilayah Pati Kota. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tim Swakelola Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) Pemkab Pati bekerjasama dengan sejumlah komunitas hijau di Pati menggelar focus group discussion (FGD) terkait dengan visi kota hijau yang digalakkan di Kota Pati, Jumat (20/11/2015).

Kegiatan itu bertujuan untuk menginventarisasi daftar masalah kota, sekaligus menyerap aspirasi terkait dengan solusi untuk menerapkan ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah Pati Kota dan Margorejo.

”Dari luas kota sebesar 6.000 hektare di wilayah Pati Kota dan Margorejo, ruang terbuka hijau yang terpenuhi masih jauh dari 20 persen. Padahal, Peraturan Menteri PU mengharuskan ruang terbuka hijau publik 20 persen dan ruang terbuka hijau privat 10 persen,” ujar Kepala Bidang Prasarana dan Pengembangan Wilayah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pati Joko Cipto Hastono kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, diskusi terbatas tersebut diharapkan bisa menyerap gagasan dari sejumlah komunitas hijau di Pati untuk menjalankan visi kota hijau di wilayah Pati Kota. ”Pelibatan komunitas memang penting untuk menciptakan konsep hijau,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Usai Guncang Panggung Rock, Kudus Rock Community Lakukan Bakti Sosial

Anak-anak Yatim Piatu dari Yayasan Samsah Singocandi berfoto bersama dengan Kudus Rock Community di United Cafe, Jumat malam (23/10/2015). (MuriaNewsCom/Titis W)

Anak-anak Yatim Piatu dari Yayasan Samsah Singocandi berfoto bersama dengan Kudus Rock Community di United Cafe, Jumat malam (23/10/2015). (MuriaNewsCom/Titis W)

 

KUDUS – Sukses gelar Kudus Rock Reincarnation 2 (KRR 2) beberapa waktu lalu di Taman Krida GOR Wergu, Kudus, segenap tim panitia yang juga tergabung dalam Kudus Rock Community (KRC) lakukan bakti sosial dengan Yayasan Yatim Piatu Samsah, Singocandi.

Ketua panitia KRR 2 Eko Slamet Riyadi mengungkapkan, acara sosial tersebut bertujuan sebagai syukuran sekaligus pembubaran panitia KRR 2. Tak hanya itu, acara yang berlangsung sejak pukul 17.00 WIB di United Cafe ini juga membahas rencana ke depan kegiatan KRC.

”Rencana kegiatan sosial ini sudah lama, tapi untuk konsep acara santunan baru kemarin malam kami bahas. Dan malam ini bisa terealisasi dengan lancar berkat teman-teman yang solid,” kata Eko saat ditemui di sela-sela acara di United Cafe oleh MuriaNewsCom.

Eko menjelaskan, meski tiket KRR 2 tidak terjual habis, namun even berjalan lancar. Adapun dana yang diperoleh dari hasil penjualan merchandise berupa kaus KRR 2 itulah, yang digunakan sebagai kegiatan sosial. Acara yang diisi berupa hiburan musik ini berlangsung hangat dan akrab. Dari Yayasan Panti Asuhan Samsah diwakilkan dengan lima anak dan ditemani pengurus yayasan.

”Selain itu, kami juga berbincang rencana KRC berikutnya. Salah satunya KRR 3, yang rencananya meregenerasi pecinta rock. Yaitu mulai dari gelaran kompetisi rock pelajar, yang endingnya kami bawa pada KRR 3 tahun depan,” paparnya.

Eko menuturkan, pihaknya juga berterima kasih kepada CEO PT Muria Indomedia Deka Hendratmanto atas support yang diberikan. Mulai dari informasi even via portal berita, media sosial, dan penyediaan tempat.

”Dengan adanya kegiatan sosial ini, kami berharap meski kami pecinta musik rock tidak lupa juga untuk peduli dan berbakti sosial terhadap yang membutuhkan,” katanya.

Disinggung tentang tanggapan penonton KRR 2 kemarin, Eko memaparkan para pengunjung menyebutnya sebagai even dahsyatnya rock di Kudus. Pecinta rock tersebut berharap untuk KRR 3 tahun depan, agar bisa menghadirkan bintang tamu satu grup komplit.

”Iya kemarin kami hanya menghadirkan satu vokalis salah satu band ternama saja. Penonton juga menginginkan even berikutnya bisa diadakan di Alun-alun atau lapangan parkir GOR. Kami sangat apresiasi masukan dari para pecinta rock tersebut. Semoga ke depan terealisasi semua,” pungkas Eko. (TITIS W)

Kucing Persia “Hipnotis” Warga di Alun-alun Kudus

Anggota komunitas Cat Lovers Community foto bersama di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

Anggota komunitas Cat Lovers Community foto bersama di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

KUDUS – Ada yang menarik dalam Car Free Day (CFD) di Alun-alun Kudus, Minggu (18/10/2015). Yaitu, kehadiran kucing Persia di tengah-tengah suasana CFD yang sedang berlangsung. Kucing-kucing itu sangat menawan. Beberapa pengunjung CFD tampak menghampiri kucing karena gemas, dan tak tahan dengan kelucuannya.

Tristyanto Prabowo selaku Koordinator Kudus Cat Lovers Community mengatakan, kucing-kucing itu merupakan peliharaan anggotanya. ”Paling banyak jenis kucing yang dipelihara adalah Persia,” kata Bowo, panggilan akrabnya.

Meski demikian, tidak melulu pemilik kucing Persia yang bisa gabung ke komunitas. Pencinta kucing jenis lain pun bisa ikut bergabung. Di komunitas yang didirikan sejak 2012 itu, anggotanya biasa mendapatkan kucing Persia dari luar kota. Di antaranya dari Bandung, Jabar, Semarang, dan Surabaya, Jatim. “Di dalam kota, belum ada kucing-kucing itu. Harus keluar kota kalau mencari kucing-kucing Persia,” tambahnya.

Dia membocorkan harga kucing Persia medium Rp 800 ribu-1,5 juta per ekor. Sedangkan jenis Persia peaknose mulai dari Rp 3 juta-5 juta per ekor untuk nonsertifikat. Kalau yang bersertifikat Rp 8 juta per ekor.

Untuk agenda komunitas, di antaranya, setiap 2 pekan sekali mereka melakukan gathering di Alun-alun Kudus. Kadang, mereka juga bikin kegiatan tutorial seperti halnya, bagaimana cara membandingkan kucing yang baik. Karena saat ada Cat Show, kucing baik itu dapat dilihat dari kesehatan dan proporsi tubuh.

Sejauh ini, jumlah anggota yang aktif 20 orang. Tapi yang tak aktif mencapai ratusan orang. Dengan anggotanya dari kalangan umum, hingga pelajar. Menurutnya, memelihara kucing Persia gampang-gampang susah. “Kendala memelihara kucing ras yaitu perawatan yang susah. Butuh ketelatenan,” terangnya.

Perawatan yang susah itu meliputi menyisir bulu panjangnya setiap hari, mandi rutin sepekan sekali, membersihkan area telinga, motong kuku, dan membersihkan kotorannya dengan rajin. Sementara menu makanannya pakai Cat Food. Seperti ikan, daging yang tak digoreng, atau hanya direbus. Makanannya memiliki harga kisaran Rp 25 ribu per kg-112 ribu per kg. Adapun kucing Persia yang dimiliki anggotanya, rata-rata berusia 4 bulan-5 tahun. Dengan tiap anggota memiliki 1 ekor sampai 22 ekor.

Kucing Persia juga memiliki kandang kucing khusus. Yang ukuran minimal panjangnya 70 cm x 60 cm. Selain itu, kata Bowo, kucing Persia kadang mengalami stres. Obatnya hanya diajak main. ”Juga diberi vaksin setahun sekali oleh dokter hewan,” ungkapnya.

Dia juga menuturkan, prestasi komunitasnya adalah, ada anggotanya menyabet kucing kampung terbaik di Cat Show di Semarang, April, 2015. Di even sama, anggota juga menyabet kategori kucing domestik terbaik, serta meraih peringka 5 di kategori Persia Peaknose, dan peringkat 6 untuk kucing eksotik. (AKROM HAZAMI/TITIS W)

Komunitas Mata Air Jepara Foundation Serahkan Bantuan Beasiswa Scholarship

Perwakilan Komunitas Mata Air Jepara Foundation, Dwi Wahyu Alfajar (kiri) menyerahkan Beasiswa Scholarship di United Café, Kudus. (MuriaNewsCom)

Perwakilan Komunitas Mata Air Jepara Foundation, Dwi Wahyu Alfajar (kiri) menyerahkan Beasiswa Scholarship di United Café, Kudus. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Komunitas Mata Air Jepara Foundation menyerahkan bantuan Beasiswa Scholarship kepada siswa SMA atau sederajat di kota setempat, Kamis (9/10/2015).
Penyerahan beasiswa dilakukan di kantor redaksi MuriaNewsCom dan Koran Muria.com.

Perwakilan Komunitas Mata Air Jepara Foundation, Dwi Wahyu Alfajar mengatakan, tujuan pemberian beasiswa untuk membantu meringankan biaya pendidikan.

“Ada sembilan orang yang menerima beasiswa,” katanya, Kamis.
Beasiswa itu berupa uang dengan nominal tertentu. Harapannya, beasiswa tersebut bisa dipakai membayar sekolah, seperti SPP, membeli perlengkapan sekolah, dan lainnya.

Pemberian beasiswa itu memang merupakan program rutin tiga bulan sekali. Beasiswa itu untuk satu periode atau satu tahun.

Adapun penerima beasiswa berasal dari siswa berprestasi dan ekonomi menengah ke bawah. “Penerima direkomendasikan oleh sekolah masing-masing,” kata anggota komunitas lain, Ika Widya Ningrum. (AKROM HAZAMI)

Mata Air Jepara Sejukkan Ruang Redaksi PT Muria Indomedia

Saat  ramah tamah perkenalan antara komunitas Mata Aiur Foundation dengan PT Muria Indomedia di United Cafe, Jumat (9/10/215). (MuriaNewsCom)

Saat ramah tamah perkenalan antara komunitas Mata Aiur Foundation dengan PT Muria Indomedia di United Cafe, Jumat (9/10/215). (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Salah satu komunitas yang bergerak di bidang pendidikan, Mata Air Foundation Jepara berkunjung ke kantor PT Muria Indomedia yang menaungi dua media online Koranmuria.com dan MuriaNewsCom pada Jumat (9/10/2015). Kunjungan tersebut bertujuan sebagai ajang silaturahim dan saling mengenal lebih jauh antara media dengan komunitas.

Acara yang dibuka oleh salah satu redaktur dari MuriaNewsCom Akrom Hazami menjelaskan tentang peran media terutama media online dan perkembangannya. ”Kami sebagai media, membuka dan memberikan akses pada komunitas-komunitas yang pastinya memiliki ide-ide cerdas serta inovatif. Hal itu sangat berpengaruh pada perkembangan zaman yang bagus. Maka kami membuka ajang silaturahim ini,” ungkapnya.

Akrom menambahkan, semua ide cemerlang dan aspirasi para pemuda harus didengar suaranya. Dan peran media adalah menjembatani ide tersebut untuk sampai ke khalayak dengan baik.

Dari komunitas Mata Air Jepara yang diwakili Dwi Wahyu Alfajr menjelaskan tentang kegiatannya yang menghimpun pelajar-pelajar di Jepara untuk mempersiapkan diri masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Selain itu juga mengadakan even pendidikan dan kelas pelatihan jurnalistik kepada anggotanya.

”Kami dari Mata Air Jepara menyambut baik undangan dari Koranmuria.com dan MuriaNewsCom, karena salah satu agenda kegiatan kami juga ada pelatihan jurnalistik. Semoga ini bisa menambah wawasan kami tentang dunia jurnalistik,” katanya.
Selain itu, usai saling memperkenalkan diri dan berbincang santai di United Cafe, para komunitas diajak melihat kinerja crew PT Muria Indomedia ke ruang redaksi. Mereka pun sangat antusias bertanya tentang proses pencarian berita hingga bisa tayang di sebuah website atau portal berita yang kemudian bisa diakses dengan mudah melalui gadget.

Acara silaturahim ini diakhiri dengan sesi foto bersama crew PT Muria Indomedia dan Komunitas Mata Air Foundation Jepara. (TITIS W)

 

Info: PT Muria Indomedia membuka kunjungan redaksi bagi komunitas, paguyuban, pelajar dan mahasiswa. Info lengkap hubungi: (0291-4250024) atau Contact Person: Titis (085729426988)