Sepenggal Kisah Angling Darma yang Ditampilkan Duta Wisata Pati

Duta Wisata Pati, Farizki Bagus Kurniawan dan Gunita Wahyu Sektyanti saat memerankan Angling Darma dan belibis putih pada Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Krisno, seorang tokoh masyarakat Desa Durensawit, Kecamatan Kayen tidak henti-hentinya mempromosikan Pati sebagai bagian dari Kerajaan Malawapati pada zamannya. Dia yakin, Sang Prabu Angling Darma pernah hidup di kawasan Kendeng yang kini masuk wilayah Kabupaten Pati.

Hal itu yang melatari Krisno mengangkat kisah Angling Darma dalam perhelatan akbar “Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso” pada Selasa (29/8/2017) kemarin. Di tengah kontingen lain mempromosikan potensi ekonomi, dia justru ingin menunjukkan potensi Pati di bidang sejarah dan kearifan lokal.

Duta Wisata Pati terpilih, Farizki Bagus Kurniawan dan Gunita Wahyu Sektyanti ditunjuk sebagai perwakilan dari Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) untuk memerankan sosok Angling Darma dan Belibis Putih.

“Kami, pengelola wisata bukit pandang bekerja sama dengan Dinporapar untuk ikut berpartisipasi dalam festival pembangunan. Kami angkat kisah Angling Darma sebagai bentuk promosi Pati di bidang sejarah, kebudayaan dan kearifan lokal,” kata Krisno saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Kamis (31/8/2017).

Sebelum mengelilingi rute di wilayah Pati Kota, dua duta wisata sempat memeragakan adegan Kisah Angling Darma saat dikutuk menjadi belibis putih oleh ketiga dara resi Widata, Widati dan Widaningsih.

Belibis putih yang mengepakkan sayapnya mendapatkan lambaian tangan dari ribuan warga Pati yang menonton dan memadati jalanan. Peragaan keduanya menggugah ingatan warga bahwa Pati pada masa lampau juga memiliki raja agung yang berwibawa dan dihormati rakyat.

“Ceritanya, aku jadi belibis putih karena dikutuk tiga dara resi. Setelah itu, aku mengembara ke hutan belantara hingga sampai di Kerajaan Bojanegara. Di sana, aku ketemu putri Bojanegara, kembali menjadi Angling Darma dan menikahi sang putri. Saat menjadi Angling Darma itu, peranku digantikan Farizki,” ucap Gunita.

Bagi Gunita, memerankan tokoh legenda Angling Darma dan belibis putih merupakan pengalaman baru. Ia senang bisa ikut mempromosikan Kabupaten Pati sebagai daerah yang penuh dengan potensi, termasuk potensi sejarah dan budaya yang harus dilestarikan.

Karena itu, ia mengajak kepada pemuda di Pati untuk tidak melupakan sejarahnya sendiri. Dari sejarah, orang akan terinspirasi untuk menjadi generasi penerus bangsa yang membanggakan.

Editor : Ali Muntoha

Ini Sejumlah Tempat di Pati yang Diduga Pernah Disinggahi Angling Darma

Seorang siswi SDN Slungkep 02 Kayen tengah berada di Makam Sibatang, tempat yang diduga pernah menjadi persinggahan Angling Darma di Desa Jimbaran, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang siswi SDN Slungkep 02 Kayen tengah berada di Makam Sibatang, tempat yang diduga pernah menjadi persinggahan Angling Darma di Desa Jimbaran, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada berbagai tempat di Pati yang diduga pernah menjadi tempat persinggahan Angling Darma, raja agung yang selalu menjadi bahan perbincangan meski kisahnya tak pernah diakui sebagai sebuah fakta sejarah.

Warga Pati yakin, Angling Darma pernah eksis di kawasan yang sekarang berada di Pati selatan, seperti Sukolilo dan Kayen. Di Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, ada sebuah tempat yang diduga menjadi tempat peristirahatan terakhir Sang Prabu.

Juru kunci setempat, Suroso, membenarkannya. Menurutnya, Prabu Angling Darma menghabiskan sisa hidupnya di Kerajaan Malawapati yang kemudian menjadi nama sebuah dukuh di Desa Baleadi, yakni Mlawat. Tempat peristirahatan terakhir itulah yang kemudian dibangun menjadi semacam makam dan diziarahi banyak orang dari berbagai daerah.

Ditanya soal keberadaan makam di Kabupaten Bojonegoro, Suroso mengaku itu hanya tempat persinggahan Sang Prabu ketika menjadi belibis putih. Di sana, dia mengawini putri Bojonegoro dan melahirkan putra bernama Angling Kusuma. Setelah itu, Sang Prabu kembali pulang ke Malawapati hingga akhir hayat.

Dengan analisa tersebut, Suroso yakin bila tempat peristirahatan terakhir Sang Prabu ada di Dukuh Mlawat. Belum lagi, ada juga sebuah tempat di Desa Kedungwinong yang diduga sebagai makam Batik Madrim, patih Sang Prabu. Jaraknya dari Dukuh Mlawat, tidak lebih dari empat kilometer.

Keyakinan itu diamini pemerhati sejarah Pati, Krisno. Bahkan, dia menghubungkan antara Malawapati dengan pengembaraan Sang Prabu sampai di Desa Jimbaran, Kecamatan Kayen. Dalam pengembaraannya, Sang Prabu bertemu dengan tiga orang cantik bernama Widata, Widati dan Widaningsih.

Ketiganya punya kebiasaan aneh, yakni makan daging manusia. Di sebuah tempat yang sekarang menjadi Makam Sibatang, Jimbaran, Sang Prabu menjelma sebagai seekor burung gagak untuk melihat kebiasaan tiga wanita cantik yang sebetulnya siluman.

Sang Prabu akhirnya dikutuk ketiga wanita siluman tersebut menjadi seekor belibis, mengembara hingga di sebuah kerajaan yang sekarang Bojonegoro. Sementara itu, Gua Pancur yang saat ini menjadi kawasan wisata diyakini sebagai tempat mandi tiga wanita bernama Widata, Widati dan Widaningsih tersebut.

Meski mereka belum menemukan bukti sejarah yang menunjukkan tempat itu pernah disinggahi Sang Prabu, tetapi mereka yakin nama-nama tempat itu bisa menjadi rujukan. Sebab, setiap orang punya pendapat yang berbeda.

Arum, misalnya. Warga Desa Sukolilo ini menegaskan bila yang berada di Baleadi bukanlah makam, tetapi petilasan. Lepas dari istilah makam atau tidak, setidaknya warga Pati di bagian selatan yakin bahwa daerahnya pernah menjadi saksi bisu kebesaran peradaban yang dibangun Sang Raja, Prabu Angling Darma.

Editor : Kholistiono