Pesan Cak Nun untuk Pengamen Jalanan

Cak Nun mengimbau kepada generasi muda untuk terus berusaha dengan sungguh-sungguh dan ikhlas jika menginginkan hasil terbaik. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun menegaskan agar umat Islam jangan melakukan kejahatan untuk bisa mengetahui kebenaran. Melakukan hal-hal baik, kata Cak Nun, bukan berarti harus melakukan hal-hal buruk terlebih dahulu.

Hal itu dikatakan Cak Nun untuk menanggapi pertanyaan seorang buruh perusahaan rokok yang memiliki sampingan sebagai pengamen jalanan. Si pengamen kebetulan datang dengan berpakaian lusuh apa adanya plus gitar kecil yang sudah butut. ’’Jujur saja saya sering melakukan hal-hal yang buruk,’’ kata si pengamen.

Cak Nun lantas mengatakan bahwa Allah SWT tidak pernah memandang manusia dari apa yang dia kenakan, tapi apa yang sudah dilakukannya. ’’Maka teruslah berbuat baik sebisa kita tanpa perlu melakukan hal-hal yang buruk terlebih dahulu. Tapi kalau sudah terlanjur ya sudah. Minta maaf kepada Allah SWT dan cobalah untuk tidak mengulanginya lagi,’’ kata Cak Nun mengingatkan.

Menurut Cak Nun, Allah SWT memang menciptakan segala sesuatunya berpasangan, termasuk baik dan buruk. Namun demikian, Cak Nun mengingatkan semua yang hadir untuk tetap menjaga diri agar tidak melakukan hal-hal buruk.

’’Seperti kisah pelacur yang dinaikkan ke surga oleh Allah SWT karena keikhlasannya menolong seekor anjing yang kehausan. Kita tidak perlu kemudian menjadi pelacur, kemudian pergi ke tempat panas dan mencari anjing di sana agar kita juga bisa naik ke surga. Tidak perlu seperti itu,’’ ujarnya disambut hujan tawa pengunjung.

Cak Nun kemudian meminta kepada pengamen tersebut untuk tetap bersyukur atas apa yang sudah dikerjakan dan dihasilkannya. Cak Nun juga berpesan kepada pengamen untuk bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam mencari rezeki. ’’Aja mung keplok-keplok tah nyanyi angger-anggeran. Kudu temenanan. (Jangan hanya bertepuk tangan atau menyanyi asal-asalan. Harus sungguh-sungguh, Red),’’ pesan Cak Nun. 

Editor: Kholistiono

Ditanya Bagaimana Caranya Mencintai Rasulullah SAW, Begini Jawaban Cak Nun

Banyak cara untuk mengenal Rasulullah, salah satunya dengan membaca banyak sekali literatur mengenai sejarah Kanjeng Nabi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun memberikan doa kepada pengunjung agar dapat mencintai Rasulullah SAW secara khusus. Itu dilakukannya usai pengunjung bertanya tentang cara mencintai Rasulullah.

’’Bagaimana mencintai Rasulullah, sedangkan bertemu saja belum pernah? Saya ingin menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW, sehingga saya bisa ikut gondelan klambine Kanjeng Nabi’’ tanya seorang pengunjung.

Cak Nun kemudian mengatakan, cinta adalah perasaan. Dia menggambarkan kalau Kanjeng Nabi adalah orang yang top. Orang yang istimewa. Tapi untuk itu, warga diminta untuk lebih mengenal Rasulullah SAW.

’’Cara yang paling mudah adalah dengan banyak membaca sejarah beliau. Bisa juga dengan bertanya kepada kiai, ulama, atau juga dengan browsing internet. Saya doakan semoga kamu mendapat berkah dan bisa mencintai Rasulullah SAW. Saya hanya bisa mendoakan saja,’’ beber Cak Nun.

Cak Nun menambahkan, hanya dengan mempelajari sejarah Rasulullah SAW, seseorang diharapkan dapat lebih mengenal sosok Kanjeng Nabi. ’’Bagaimana sikap beliau. Bagaimana tutur kata beliau. Bagaimana perilaku beliau. Jika sudah kenal, pasti akan timbul rasa cinta terhadap Rasulullah SAW. Karena tidak ada manusia yang sesempurna Rasulullah SAW. Makanya Kanjeng Nabi itu sudah yang paling top lah,’’ tambah Cak Nun.

Cak Nun kemudian mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW tidak pernah marah dan menyalahkan orang lain. Ketika dua orang tentara Rasulullah SAW tertangkap musuh dan kemudian salah satunya mati dieksekusi sementara yang lain dibiarkan bebas setelah mengaku kafir, Rasulullah SAW tidak memarahi yang kembali kepadanya dalam keadaan hidup.

’’Kata Kanjeng Nabi, yang mati insha Allah langsung masuk surga karena keteguhan hatinya akan Islam. Sementara yang hidup Kanjeng Nabi memujinya dan mengatakan dia diberi waktu yang panjang oleh Allah SWT untuk masuk surga. Ini hanyalah salah satu contoh saja. Banyak sekali contoh sikap, tutur kata, dan perilaku Kanjeng Nabi yang sungguh terpuji,’’ ujar Cak Nun. 

Editor: Kholistiono

Cak Nun: Jadilah Abdullah, Bukan Insan

Allah SWT tidak menciptakan segala sesuatu dengan percuma, maka Cak Nun mengingatkan agar umat Islam senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun mengajak seluruh umat Islam agar menjadi Abdullah atau abdinya Allah SWT. Sebab, cara yang demikian akan mendatangkan rasa ikhlas, sehingga mendekatkan untuk dicukupi semua yang menjadi kebutuhannya.

Cak Nun mengatakan, orang yang mengerjakan semuanya demi Allah, maka Allah bakal memberikan ridlo-Nya kepada hamba. Karena Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya menderita apalagi sampai ditelantarkan. Hal itulah yang selama ini dipraktikkan olehnya selama ini, dengan menjadikan diri sebagai hamba Allah.

’’Misalnya saja kita diminta mengantarkan barang ke Solo dari Kudus. Jika yang memerintahkan adalah bos, maka semuanya akan dicukupi, mulai makan, transportasi bahkan keselamatan juga dijamin. Namun jika mengerjakan sendiri, maka bos tentunya tidak mau nanggung,’’ katanya.

Lebih jauh dikatakan, bahwa selama ini banyak yang kurang pas dalam hal menjalankan ibadah salat dengan niat ingin masuk surga. Padahal, jika melakukan ibadah seperti salat karena Allah, maka Allah menjamin hamba-Nya untuk menjadi penghuni surga. Tanpa adanya niatan masuk surga.

Dia mencontohkan, jika seorang mendapatkan surga namun tidak diperhatikan oleh Allah, itu akan lebih menyakitkan bagi hamba-Nya. Lain halnya jika Allah sendiri yang menaruh hambanya di surga, maka Allah menjamin memperhatikan hambanya tersebut. ’’Karena Allah itu pasti tanggung jawab, jadi tidak usah khawatir,’’ ujarnya.

Dia juga mengatakan, menjalankan ibadah bisa dilakukan sepanjang waktu. Sebab selama 24 jam lamanya, seorang yang hidup adalah sejatinya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah. Karena statusnya merupakan status hamba, sehingga harus mendekatkan diri kepada Allah setiap waktu.

’’Saat berdoa, sebagai hamba berperilaku manja-manja sedikit tidak apa-apa. Karena sebagai hamba bisanya juga meminta agar diperhatikan,’’ imbuhnya. 

Editor: Kholistiono

Cak Nun: Aja Lali Karo Jowomu!

Nilai-nilai budaya Jawa yang sudah terkenal luhur, menjadi lengkap dengan kedatangan Islam di tanah Jawa yang dibawa Walisanga. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cak Nun mengingatkan kepada warga Kudus dan sekitarnya agar senantiasa mengingat jati diri masing-masing. Jika kita lahir di Jawa, kita harus berbangga jadi orang Jawa. Jangan kemudian jadi malu atau minder karenanya.

Menurut Cak Nun, sekarang ini banyak yang salah kaprah tentang cara berpikir dalam berbangsa. ’’Banyak yang karena alasan NKRI kemudian mengatakan Indonesia itu bukanlah Jawa, Aceh, Sumatera, dan lain sebagainya. Ini keliru!’’ sergahnya.

Indonesia, kata Cak Nun, itu ibarat gado-gado. Di dalamnya ada unsur lontong, sayuran, kentang, dan bumbu kacangnya yang khas. ’’Indonesia ini juga ada Jawa, Aceh, Sumatera, dan lain sebagainya,’’ beber Cak Nun.

Bangga menjadi orang Jawa, lanjut Cak Nun, berarti sudah bentuk syukur kepada Allah SWT yang telah membuat seseorang lahir sebagai orang Jawa. ’’Dadi aja lali karo Jowomu, rek!’’ lanjut Cak Nun dengan nadanya yang khas.

Islam memang dilahirkan di tanah Arah. Tapi Cak Nun mengingatkan warga yang hadir bahwa umat Islam tidak perlu berperilaku seperti orang Arab. ’’Kita adalah orang Jawa. Bukan orang Arab. Jadi berperilakulah seperti orang Jawa,’’ katanya lagi.

Cak Nun menambahkan, ora Jawa sejak dahulu kala sebenarnya sudah melakukan hal-hal yang baik secara manusia. Ibarat sebuah botol, orang Jawa itu tinggal membutuhkan tutupnya saja. Jadi ketika Islam masuk ke tanah Jawa, hal itu menjadi pelengkap nilai-nilai budaya Jawa yang sudah terkenal tinggi.

Jawa dan Islam, imbuh Cak Nun, menjadikan keduanya saling melengkapi satu sama lain. Hal-hal baik yang dimiliki orang Jawa, menjadikannya kian sempurna dengan ajaran Islam yang dibawa Walisanga.

Editor: Kholistiono

Habib Anis: Yakinlah Allah Akan Menempatkan Kita di Tempat Terbaik

Habib Anis mengingatkan jika keikhlasan dalam segala hal menjadi kunci bagi manusia untuk mendapatkan ridla dari Allah SWT. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus ­­– Habib Anis Sholeh Ba’asyin dari Pati mengajak semua pihak untuk ikhlas dalam menjalani hidup dan kehidupan. Sebab, manusia tidak akan pernah tahu doa siapakah yang akan dipenuhi oleh Allah SWT.

’’Meski berlian itu berada di sebuah kubangan comberan, yakinlah suatu ketika akan ditemukan orang dan ditempatkan di tempat terbaik. Begitu juga dengan kita. Ikhlas lah dalam hidup ini dan yakinlah bahwa Allah SWT akan menempatkan kita di tempat yang sepantasnya,’’ bebernya.

Habib Anis lantas menceritakan sebuah kisah di tanah Arab tentang seorang pemuda yang selalu bikin onar dan mabuk-mabukan. Tiap malam si pemuda selalu menganggu dan meresahkan warga sekitar. Hingga akhirnya datanglah seorang warga yang meminta bantuan untuk menegur pemuda tersebut.

Singkat cerita, keesokan paginya seorang warga keluar rumah dengan niat untuk menegur pemuda yang meresahkan masyarakat. Hanya tiba-tiba terdengar suara yang berkata kalau jangan menggangu kekasihnya. Lantaran penasaran, dia kemudian memberanikan diri untuk datang dan bertanya kenapa dia disayangi oleh Allah.

’’Namun pemuda yang suka membuat onar tersebut menangis, dan berkata kalau sebelumnya sudah mendapatkan tulisan Allah dalam jalan yang sudah lusuh. Dia kemudian mengambil dan menyimpannya di dalam kopiahnya, dengan setiap hari dikasih minyak wangi. Dia mengira itulah sebabnya,’’ ujarnya.

Selang beberapa waktu, pemuda yang buat onar menghilang. Dan ketika warga tadi pergi ke Mekkah, bertemulah dia dengan pemuda tersebut. Tapi kemudian dikisahkan pemuda itu akhirnya meninggal di Mekkah. ’’Pada akhirnya Allah SWT menempatkannya di tempat terbaik. Ini semua karena keikhlasan si pemuda tadi, meski dia tukang onar dan suka mabuk-mabukan,’’ tambah Habib Anis. 

Editor: Kholistiono

Camat Mejobo: Teruslah Belajar, Belajar, dan Belajar

Cak Nun sependapat dengan Camat Mejobo agar generasi muda di Kudus tidak berputus asa dalam mengejar ilmu dan tidak terbatas pada pendidikan formal saja. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Camat Mejobo Harso Widodo mengatakan, kalau dalam belajar jangan sampai putus di tengah jalan. Karena, tugas belajar itu tidak akan selesai sampai dengan kapanpun juga akan tetap dilaksanakan.

’’Kami meminta semuanya, khususnya masyarakat di Mejobo dapat lebih rajin lagi dalam belajar. Jangan sampai berhenti belajar dengan alasan apapun juga,’’ katanya seraya mengingatkan bahwa Rasulullah SAW sudah memberikan contoh kepada umatnya agar tidak pernah lelah belajar.

Menurutnya, pembelajaran juga dikhususkan pada kalangan pemuda di kawasan Mejobo. Terus belajar sangat penting dilakukan dalam hal apapun, terlebih pendidikan formal. Selain itu, dalam belajar juga bisa dilakukan dengan siapapun.

’’Seperti kepada kiai, guru, atau juga kepada teman sendiri,’’ tambahnya seraya mengatakan, belajar juga bisa dilakukan bukan saja di sekolah, tapi juga di majelis-majelis pengajian seperti kegiatan Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng tersebut.

Dia mengajak Pemuda Mejobo agar tak berhenti belajar. Selain itu, ajakan juga dilakukan untuk menciptakan suasana yang aman dan tertib di lingkungan Mejobo, yang ujungnya memberikan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

Sementara Cak Nun mengatakan, belajar bisa di mana saja. Karena, sebenarnya spirit Alquran itu bisa ditemukan di tiga tempat. Pertama di alam, kedua di diri sendiri, dan ketiga di dalam kitab Alquran sendiri. Sehingga sebenarnya setiap manusia sudah memiliki Alquran di dalam dirinya masing-masing. ’’Itulah mengapa dibutuhkan belajar. Namun jika ingin mempelajari Alquran secara utuh, maka dapat dilakukan dengan cara meniru Rasulullah SAW,’’ ungkapnya. 

Editor: Kholistiono

Cak Nun: Pusat Toleransi Beragama Indonesia Ada di Kudus

Cak Nun mengajak warga Kudus untuk meneladani Sunan Kudus yang berdakwah tanpa kekerasan dan pemaksaan kehendak. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus ­– Cak Nun mengakui jika Kudus adalah kota yang menyimbolkan toleransi beragama sejak didirikan oleh Sunan Kudus. Hal tersebut dikatakan Cak Nun untuk menanggapi penggiat Jagong Kamulyan yang juga pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Gus Abdul Jalil terkait dengan temuan prasasti di Masjid Menara Kudus.

Menurut Gus Jalil, Sunan Kudus dalam menjalankan dakwahnya tidak pernah menggunakan cara kekerasan dan pemaksaan kehendak. Justru Sunan Kudus selalu menggunakan cara-cara pendekatan kultural. ’’Pada saat masyarakat Kudus saat itu menyucikan sapi, Sunan Kudus pun kemudian memelihara sapi di depan masjid dan melarang untuk menyembelihnya,’’ ujarnya.

Gus Jalil pun kemudian mengajak seluruh warga untuk meneladani cara berdakwah Sunan Kudus yang dilakukan dengan penuh damai dan toleransi yang tinggi terhadap umat beragama lain. ’’Dan dengan cara damai, justru masyarakat sampai sekarang masih melaksanakan ajaran Kanjeng Sunan Kudus,’’ imbuhnya.

Caknun pun mengamini pernyataan Gus Jalil. Sunan Kudus, kata Cak Nun, menjalankan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. ’’Dan hebatnya, apa yang kemudian diajarkan Sunan Kudus, bertahan sampai sekarang. Padahal Sunan Kudus sudah tidak ada lagi,’’ katanya.

Tidak mengherankan jika Kudus hingga kini terkenal dengan kuliner daging kerbau, bukan daging sapi. Di saat Idul Adha pun, mayoritas warga Kudus hingga kini masih memilih untuk menyembelih kerbau, daripada sapi. Sebuah tradisi yang berawal dari penghormatan Sunan Kudus terhadap masyarakat Kudus yang saat itu memeluk Hindu kuno. 

Editor: Kholistiono

Cak Nun Ajak Masyarakat Kembali ke Kanjeng Nabi

Cak Nun mengingatkan masyarakat bahwa hanya Rasulullah SAW yang mampu dan bisa memberikan syafaat kepada seluruh umatnya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Emha Ainun Nadjib atau yang biasa dikenal dengan Cak Nun, mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengingat kembali dan meneladani sikap, ucapan, dan perilaku Nabi Muhammad SAW.

Hal itu disampaikan Cak Nun dalam acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng yang mengambil tema ’’Gondelan Klambine Kanjeng Nabi’’ di Lapangan Sepak Bola Pancasila Desa Jepang Kecamatan Mejobo, Jumat (28/4) malam.

Kegiatan yang diprakarsai MuriaNewsCom dengan dukungan sepenuhnya dari PR Sukun itu digelar dalam rangka menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Hadir dalam kesempatan tersebut, Deka Hendratmanto (pendiri MuriaNewsCom), Gus Abdul Jalil (penggiat Jagong Kamulyan), Gus Romli (budayawan), dan Habib Anis Sholeh Ba’asyin (Pati). Turut hadir pula Camat Mejobo Harso Widodo, Kapolsek Mejobo AKP Suharyanto, dan Danramil Mejobo Kapten Inf Bambang Sunarto.

Di hadapan ribuan warga, Cak Nun mengingatkan, hanya Rasulullah SAW yang mampu dan bisa memberikan syafaat. ’’Hanya beliau yang bisa ngenyang jumlah rekaat salat dalam sehari kepada Allah SWT,’’ katanya.

Ditegaskan, di dunia ini tak ada yang lain yang bisa menolong manusia kecuali sang Rasul. ’’Makanya kita harus gondelan Kanjeng Nabi. Tidak bisa gondelan yang lainnya. Namun kita juga harus tahu bagaimana sifat-sifat beliau,’’ ujarnya.

Rasulullah, lanjut Cak Nun, tidak tega melihat umatnya menderita. Jadi, dengan mengetahui sifatnya itu, umat bisa meminta pertolongan kepada Rasul dengan sungguh-sungguh agar dimintakan kepada Allah SWT. ’’Karena beliau lah Kholifah,’’ imbuhnya. 

Editor: Kholistiono