Desa di Pati Ini Tak Berani Pentaskan Ketoprak dengan Lakon Angling Darma

Sebuah pemantasan ketoprak memperingati Hari Jadi Pati. Di kawasan Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, pementasan ketoprak dengan lakon Angling Darma menjadi sebuah pantangan.(MuriaNewsCom/Lismanto)

Sebuah pemantasan ketoprak memperingati Hari Jadi Pati. Di kawasan Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, pementasan ketoprak dengan lakon Angling Darma menjadi sebuah pantangan.(MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebagian masyarakat Pati meyakini sebuah mitos yang dipegang erat sebagai tradisi dan budaya. Di kawasan Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, pementasan ketoprak dengan lakon Angling Darma menjadi sebuah pantangan.

Hal itu tidak lepas dari keberadaan petilasan Angling Darma yang berada di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi. Mitos itu dipegang teguh penduduk setempat hingga sekarang. Mereka tidak berani mementaskan kesenian ketoprak dengan lakon Angling Darma, seorang raja legendaris yang diyakini pernah hidup di kawasan tersebut.

Warga setempat, Bambang Riyanto mengatakan, pagelaran ketoprak dengan lakon Angling Darma pernah dipentaskan di Kuwawur, sebuah desa yang berada di atas Dukuh Mlawat, Baleadi. Tak lama setelah dipentas, panggung ketoprak tiba-tiba runtuh.

“Setiap ada ketoprak Angling Darma di kawasan Baleadi, panggungnya pasti ambrol. Itu sudah beberapa kali terjadi. Satu kali pernah di Kuwawur, desa yang berada di atas Mlawat,” ujar Bambang, Sabtu (14/1/2017).

Di Baleadi sendiri, warga tidak berani mementaskan ketoprak Angling Darma. Mereka takut sesuatu akan menimpa bila pemilihan lakon Angling Darma nekat digelar di desanya. Mereka masih menghormati Sang Prabu sebagai raja yang dulu pernah hidup di wilayah tersebut.

Namun, mitos itu tidak berlaku di Desa Kedungwinong, tetangga Desa Baleadi yang terdapat petilasan Batik Madrim. “Kalau di Kedungwinong tidak masalah, hanya di daerah Mlawat saja,” tutur Masirin, warga Kedungwinong.

Editor : Kholistiono

Ironis, Pemain Ketoprak di Pati Banyak Berasal dari Luar Daerah

Pertunjukan salah satu ketoprak di Pati yang mengangkat kisah Sejarah Kadipaten Pati Pesantenan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Pertunjukan salah satu ketoprak di Pati yang mengangkat kisah Sejarah Kadipaten Pati Pesantenan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pati mulai dikenal publik sebagai kabupaten yang masih mempertahankan kesenian ketoprak sebagai media hiburan masyarakat. Sayangnya, para pemain ketoprak banyak yang bukan berasal dari Pati sendiri.

Mereka justru berasal dari daerah lain, antara lain Rembang, Blora, dan Grobogan. Hal ini diakui Nirwan Basuki, pegiat seni ketoprak yang juga mengelola Ketoprak Laras Budoyo.

“Kami akui, lahan untuk nanggap ketoprak memang ada di Pati. Tapi, pemain ketoprak banyak yang berasal dari luar daerah, seperti Blora, Grobogan, dan Rembang. Ini ironis sekali,” tuturnya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (15/8/2015).

Menurutnya, penyebab minimnya pemain ketoprak dari Pati disebabkan beberapa hal, antara lain minimnya minat dan tidak ada kaderisasi. “Mungkin saja karena tidak ada kaderisasi yang baik, disertai dengan tidak ada motivasi dari warga Pati sendiri,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Ledek di Pati Lebih Memilih Jadi Biduan Ketimbang Manggung pada Kesenian Ketoprak 

 

Sejumlah ledek asuhan Ketoprak Laras Budoyo tengah pentas. Saat ini, pengelola Laras Budoyo mengaku banyak ledeknya yang memilih pentas untuk dangdut. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah ledek asuhan Ketoprak Laras Budoyo tengah pentas. Saat ini, pengelola Laras Budoyo mengaku banyak ledeknya yang memilih pentas untuk dangdut. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sejumlah pengelola kesenian ketoprak di Pati mengeluh, lantaran sulit mencari ledek atau penyanyi dalam kesenian tradisional. Hal ini dikeluhkan Nirwan Basuki, pengelola ketoprak Laras Budoyo yang merupakan warga Desa Wedarijaksa.

“Sekarang ini musimnya warga Pati nanggap ketoprak. Tapi, kami susah mencari ledek. Kami sudah berhari-hari mencari ledek, tapi mereka selalu bilang jadwalnya padat. Mereka lebih memilih manggung untuk hiburan dangdut,” keluh Nirwan kepada MuriaNewsCom, Sabtu (15/8/2015).

Ia juga mengaku sudah beberapa kali melatih seseorang untuk menjadi ledek. Setelah mahir menyanyi, kata dia, mereka lebih suka menjadi biduan di pentas musik dangdut.

“Dalam beberapa kesempatan, kami sudah melatih beberapa orang yang menjadi ledek. Dengan begitu, kami punya kader saat pentas seni ketoprak maupun kesenian lainnya. Faktanya, setelah mereka pintar nyanyi, mereka sibuk manggung untuk pentas dangdut dan mengabaikan ketoprak,” tuturnya.

Karena itu, ia berharap agar ada pegiat seni yang memang punya pandangan mulia untuk nguri-uri budaya dan kesenian Jawa. Dengan begitu, kesenian Jawa diharapkan tidak hilang ditelan pusaran zaman. (LISMANTO/KHOLISTIONO)