Kesenian Kentrung dan Pembuat Barongan Grobogan Difilmkan

Proses pembuatan barongan yang dilakukan Mbah Suro Gatot akan diabadikan dalam film dokumenter produksi Disporabudpar Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Proses pembuatan barongan yang dilakukan Mbah Suro Gatot akan diabadikan dalam film dokumenter produksi Disporabudpar Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Dua film pendek bertema dokumenter akan diproduksi Disporabudpar Grobogan. Nantinya, film tersebut akan diikutkan dalam lomba tahunan tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Plt Kepala Disporabudpar Grobogan Wiku Handoyo menyatakan, ada dua tema yang akan diangkat dalam pembuatan film berdurasi 15 menit tersebut. Pertama adalah keberadaan kesenian kentrung yang ada di Desa Bringin, Kecamatan Godong. Kemudian, Mbah Suro Gatot, perajin barongan asal Desa Ngarap-arap, Kecamatan Ngaringan.

Dipilihnya dua tema itu ada alasan tersendiri. Yakni, seni kentrung itu sudah jarang lagi ditemukan. Di Grobogan kemungkinan hanya tinggal satu grup itu saja yang masih eksis sampai saat ini. Kemudian, sosok perajin barongan juga cukup minim. Terlebih, perajin yang membikin barongan dengan beberapa perlakuan khusus seperti Mbah Suro Gatot tersebut.

“Sebenarnya, ada beberapa pilihan tema yang akan kita jadikan film dokomenter. Namun, setelah kita bahas bersama, pilihan akhir ada pada dua tema tadi. Seni kentrung dan pembuat barongan,” kata Wiku melalui Kabid Kebudayaan Disporabudpar Marwoto.

Menurutnya, sejak beberapa hari lalu, tim pembuatan film dokumenter sudah melakukan serangkaian persiapan awal. Seperti, persiapan waktu pengambilan gambar, naskah, peralatan, dan penyusunan jadwal pembuatan film. “Kita masih persiapan internal dulu. Kemungkinan, minggu depan mulai ambil gambar ke lokasi,” jelasnya.

Ditambahkan, untuk pembuatan film dokumenter itu punya waktu sekitar dua bulan. Untuk lomba film pendek yang digelar Disbudpar Jateng dijadwalkan pada bulan Juli mendatang. “Waktu dua bulan untuk bikin dua film memang cukup mepet. Namun, kita usahakan bisa selesai tepat waktu,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Pelaku Seni Berharap Kesenian Tradisional Tidak Tergerus Modernisasi

Masturi, pegiat kesenian tradisional (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Masturi, pegiat kesenian tradisional (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Masturi, salah satu pelaku seni wayang kulit dan kentrung asal Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus berharap agar kesenian tradisional tidak tergerus dengan modernisasi.

Menurutnya, kesenian tradisional seperti wayang dan kentrung, merupakan salah satu alat untuk menyebarkan agama pada zaman dulu. Baik itu agama Islam, Hindu, Budha maupun lainnya.

”Sebenarnya kesenian ini ialah sebuah cara untuk menyebarkan agama. Baik agama Islam, Hindu, Budha atau yang lain. Seperti halnya cerita pewayangan yang di dalamnya ada unsur ajaran agama,” ujar Mastur.

Untuk itu, katanya, kesenian tradisional harus bisa dijaga serta dipertahankan. Sehingga anak cucu, nantinya masih bisa mengenal sejarah dengan baik.
”Pengetahuan sejarah itu memang perlu. Makanya, kesenian tradisional bisa menjadi salah satu media untuk mengenalkan sejarah tersebut secara mudah,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Masturi, untuk mempertahankan kesenian tradisional itu harus dilakuakan secara bersama- sama. Sehingga, setiap orang akan merasa saling memiliki terhadap kesenian tersebut. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)