Waspada, Penyakit Jantung Bisa Datang Tanpa Gejala

ilustrasi

ilustrasi

 

KUDUS – Penyakit jantung sekarang ini dapat menyerang tiba-tiba. Tidak hanya bagi orang yang sudah ada gejala jantung, tapi bisa menimpa orang yang tidak ada risiko penyakit tersebut dan datang secara mendadak.

Hal itu diutarakan Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr Hikari Widodo. Beberapa hal yang membuat keadaan yang dapat menyebabkan penyakit jantung adalah usia lanjut, obesitas, merokok, jenis kelamin, dan kurang olahraga.

”Selain itu, pola hidup yang tidak seimbang dan tingkat stress bisa mengarah pada risiko jantung. Semakin tidak sehat pola hidup seseorang maka semakin membuat risiko tinggi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, terlalu capek juga bisa mengarah pada penyakit tersebut, tidak hanya faktor usia tapi aktivitas yang over dan makanan yang tidak terkontrol. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah hal itu adalah, seperti menjalankan perilaku hidup sehat sejak dini. Dengan menjaga perilaku sehat, maka risiko terkena serangan jantung juga sedikit.

Olahraga secara teratur juga dapat membuat tubuh tetap fit. Dengan demikian juga dapat menyehatkan jantung. ”Melakukan chek up juga diperlukan, untuk mengetahui bagaimana keadaan jantung kita,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Usia 25 Keatas, Ternyata Mulai Rawan Terkena Serangan Jantung

 ilustrasi

ilustrasi

 

KUDUS – Penderita penyakit jantung, untuk sekarang bukan hanya dialami oleh mereka yang sudah berusia lanjut saja. Melainkan bagi mereka yang masih muda, juga dapat mengalami penyakit menakutkan itu.

Hal itu diutarakan Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr Hikari Widodo. Menurutnya, kasus di 2015, sudah terdapat beberapa warga yang terkena penyakit jantung pada usia muda.

”Di 2015, penyakit jantung mulai mengarah pada usia produktif pada usia 25 tahun keatas. memang prosentasenya tidak terlalu besar, kurang lebih 10 persen usia produktif terkena jantung,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, meski jumlahnya sedikit, namun ini jangan dianggap remeh. Bisa jadi angka jantung yang menyerang usia produktif makin tinggi, seiring dengan banyaknya perilaku yang mendorongnya.

Namun, sekarang kaum usia produktif perlu waspada terhadap ancaman jantung. Pada usia produktif, jantung dapat menyerang terutama pada mereka yang gemar mengkonsumsi makanan berlemak dan narkoba, walau belum memiliki angka yang pasti.

”Jangan sampai berpikiran usia muda untuk terkena penyakit masih bisa diatasi, sehingga makanan tidak dikontrol. Namun, untuk jantung ini bisa menyerang mendadak,” ujarnya.

Apalagi sebelumnya, lanjutnya tidak pernah melakukan general chek up dan tiba-tiba terkena jantung, kasus tersebut sudah banyak dijumpai. Untuk chek up secara berkala juga dapat membantu. Meski di Kudus angka penderita jantung tidak terlalu tinggi, tapi tetap perlu waspada. Dan jantung disebabkab penyakit Hipertensi.
Dari data tahun lalu penyakit Hipertensi yang paling tinggi angka kasusnya yakni mencapai 6.810 dan disusul Diabetes Melitus yang mencapai 2.348 kasus.

”Dua penyakit ini bisa berisiko jantung dan penyakit ini mulai menyerang usia produktif, penyebab utama memang pola hidup yang kurang dijaga. Apalagi tuntutan kerja saat ini yang semakin ketat, sehingga tingkat stress meningkat sehingga pelariannya pada makanan yang siap saji dan kebanyakan meninggalkan sayur,” ungkapnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Biar Enggak Kena Osteoporosis, Ini Tips Cerdasnya

Lansia melkukan senam osteoporosis di Balai Desa Gondosari, Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Lansia melkukan senam osteoporosis di Balai Desa Gondosari, Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Organisasi Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) cabang Kudus berkeinginan supaya wanita atau pria lanjut usia di Kudus bebas osteoporosis.

Keinginan tersebut selalu digelar dengan cara menjalankan senam kesehatan di balai desa setempat, secara berkeliling.

Salah satu instruktur senam kesehatan dari Perwatusi Titien Triana mengatakan, saat ini yang sudah berjalan adalah senam kesehatan osteoporosis di Kecamatan Gebog. “Yakni senam dengan cara keliling desa ke desa,” katanya.

Adapun peserta dari senam kesehatan tersebut terdiri dari wanita atau pria pralansia yang usianya berkisar 35 hingga 40 tahun. Serta mereka yang berusia 40 hingga 70 tahun. Kegiatan senam biasanya digelar pada pukul 16.00 WIB hingga 17.00 WIB di balai desa tertentu.

“Berhubung yang sudah berjalan rutin itu di area Gebog, maka kita jadwalkan pada sore hari. Sebab waktu itu sudah pulang dari kerja. Selain itu, kami juga berharap supaya wilayah lain bisa menggelar kegiatan ini. Sehingga para pra lansia dan lansia bisa terhindar osteporosis,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Awas, Kebanyakan Keramas Justru Bikin Kulit Kepala dan Rambut Rusak

Ilustrasi Keramas. realita.co

Ilustrasi Keramas. realita.co

KUDUS – Rambut memang menjadi mahkota setiap orang. Tak hanya kaum hawa, kaum adam pun demikian. Praktis banyak yang melakukan perawatan untuk menjaga keindahannya.

Salah satunya dengan menggunakan shampo atau keramas. Akan tetapi, tahukah anda bahwa ternyata mencuci rambut setiap hari justru akan membuat kulit kepala dan rambut menjadi rusak.

Yuni Siswati, ahli perawatan rambut mengatakan sebenarnya fungsi shampo adalah untuk menghanyutkan minyak berlebih serta kotoran pada kulit kepala dan rambut.

” Jika seseorang keramas setiap hari, maka akan menghanyutkan minyak yang diproduksi oleh rambut, akibatnya kelenjar minyak justru akan memproduksi lebih banyak minyak sebagai pengganti,” ujarnya saat ditemui MuriaNewscom di Salon miliknya jalan Kyai Telingsing Kudus

Padahal minyak yang disekresikan kulit kepala tersebut berfungsi untuk melumasi kulit kepala agar tidak kering. Serta mencegah kotoran kotoran masuk kedalam kulit kepala yang tentunya akan merusak jaringan kulit. Imbasnya, kesehatan rambut juga akan terganggu.

Namun jika terlalu lama tidak dicuci, maka akan semakin banyak minyak yang keluar dan bercampur dengan kotoran. “Hal tersebut juga dapat mengakibatkan rambut berminyak dan dapat mengakibatkan ketombe serta kerontokan rambut,” jelasnya. (AYU KHAZMI/SUPRIYADI)

Penyakit Jiwa Bukan Penyakit Keturunan

KUDUS- Pengucilan masyarakat terhadap para penderita gangguan kejiwaan menyebabkan kesalahan penanganan terhadap penderita. Ketakutan masyarakat bila penderita gangguan jiwa mengamuk, membahayakan, dan mengganggu orang lain, menyebabkan mereka dikurung, dipasung atau disingkirkan. Pemahaman masyarakat yang menganggap gangguan jiwa dapat diturunkan, membuat mereka juga mengucilkan mantan penderita gangguan jiwa.

Lanjutkan membaca