Tiket KA Tujuan Jakarta Ludes untuk Libur Idul Adha


Rangkaian Kereta Api yang membawa kereta kelas ekonomi. (PT KAI)

MuriaNewsCom, Purwokerto – Tiket sejumlah kereta api tujuan Jakarta telah habis terjual menjelang libur panjang yang berbarengan dengan Hari Raya Idul Adha, kata Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 5 Purwokerto Ixfan Hendriwintoko.

“Berdasarkan pantauan `rail ticketing system` PT KAI (Persero) hari ini, pukul 10.30 WIB, sebagian besar KA kelas eksekutif lintas selatan tujuan Jakarta dari Daop 5 Purwokerto maupun Daop lain telah habis terjual untuk keberangkatan tanggal 30 Agustus hingga 2 September,” katanya di Purwokerto, Senin (28/8/2017) dikutip dari Antarajateng.com.

Menurut dia, tiket kereta api kelas eksekutif lintas selatan tujuan Jakarta yang masih tersedia meskipun kurang dari 50 persen, yakni KA Bima. Ia mengatakan tiket sebagian besar kereta api ekonomi kelas ekonomi tujuan Jakarta dari wilayah PT KAI Daop 5 Purwokerto maupun Daop lainnya juga telah habis terjual. “Tiket kereta api kelas ekonomi lintas selatan yang masih tersedia di atas 50 persen, yakni KA Gaya Baru Malam Premium relasi Surabayagubeng-Purwokerto-Pasarsenen,” ungkapnya.

Sementara untuk tiket KA Logawa relasi Purwokerto-Surabayagubeng-Jember, kata dia, persediaannya menipis. Dalam hal ini, KA Logawa untuk tanggal keberangkatan 30 Agustus masih menyediakan 40 tempat duduk, sedangkan tanggal 31 Agustus, 2 September, dan 3 September telah habis terjual.

“Tiket KA Logawa masih tersedia cukup banyak, yakni keberangkatan tanggal 1 September karena berdasarkan pantauan RTS PT KAI hari ini (28/8), pukul 10.30 WIB, masih tersedia sebanyak 212 tempat duduk,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ixfan mengimbau calon penumpang untuk membeli tiket yang masih tersisa melalui kanal-kanal penjualan tiket resmi seperti Kantor Pos, Indomaret, Alfamart, aplikasi KAI Access, laman pemesanan tiket milik PT KAI.

Menurut dia, hal itu sebagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya praktik percaloan yang berujung pada penipuan melalui penjualan tiket palsu. “Jangan sampai tergiur tawaran calo karena bisa jadi tiket itu palsu seperti yang pernah terjadi belum lama ini,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

Hingga Senin Pagi, Polisi masih Periksa Kasus Kecelakaan KA di Kendal yang Tewaskan 5 Orang

Kondisi bangkai mobil yang ditabrak KA Kaligung di Desa Gebang, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal. (tribratanews)

MuriaNewsCom, Kendal – Kecelakaan maut terjadi di Gemuh, Kabupaten Kendal,Minggu (20/8/2017). Kecelakaan melibatkan sebuah mobil berwarna hitam Avanza B 998 RS dan Kereta Api (KA) Kaligung di perlintasan tanpa palang pintu km 32+4/5, di Jalan Gebang Selatan, Kecamatan Gemuh.

Saksi mata, Eko Purwanto (30) melihat kjadian berawal saat mobil akan melewati perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu. Tiba-tiba ada kereta api melintas. Nahas, bagian belakang mobil tertabrak KA. Seketika, lima orang penumpang mobil meninggal dunia di tempat kejadian.  Seluruth korban dilarikan ke RSI Muhammadiyah Kendal.

Para korban adalah Muhammad Thamrin (63), Lina Retnowati (32), Nabila Jaquin (13), Muhammad Paris Ramadhan (2 ) dan Renan (8 bulan). Mereka satu keluarga. Sekeluarga itu baru pindah ke Kendal pada awal Ramadan 2017. Semula keluarga tersebut tinggal di Kalideres Jakarta Barat.

Mereka baru menetap di Penyangkringan, Kecamatan Weleri ,kabupaten Kendal. Rencananya, mereka dari Penyangkringan menuju rumah kakeknya, Suwandi, di Tejorejo, Ringinarum, Kendal. “Cucu saya yang SMP itu telepon saya terus. Bilang Kek saya mau main ke rumah kakek,” kata Suwandi kakek korban, menirukan cucunya dikutip dari tribunjateng.com.

Katanya, cucunya telepon sekitar pukul 11.30 WIB. Sekitar 20 menit kemudian Avanza hitam itu mengalami kecelakaan. Saat melintasi perlintasan tanpa penjaga palang pintu, tiba-tiba tersambar KA Kaligung.

Posisi mobil itu sedang berada di atas rel kereta api. Saat itu, KA yang sedang melintas cepat menyambar mobil. Hingga mobil pun terpental dan terseret. Korban terlempar keluar dari mobil dan bergelimpangan.

Suwandi tak tahu apa yang terjadi. Namun ada firasat tak enak hati. Kenapa si cucu tidak menelepon lagi. Dirinya pun telepon ponsel Lina, anaknya. Telepon masuk tapi tak diangkat. Kemudian telepon cucunya, juga masuk dan tidak ada yang mengangkat. Suwandi pun makin deg-degan dan hatinya gundah.

Suwandi menelepon anaknya yang lain. Barulah dikabari jika anak cucunya mengalami kecelakaan tertabrak kereta api. Suwandi berusaha tegar meski sangat berat. Dia pun bergegas ke rumah sakit di Kendal untuk memastikan dan melihat langsung tubuh anak cucunya. Kelima jenazah kemudian dibawa ke rumah kakak pertama Lina di Desa Tejorejo, Ringinarum.

Sementara kondisii KA Kaligung tak mengalami masalah kendati usai menabrak mobil. “Keretanya aman dan normal sampai tujuan. Tak ada kerusakan,” kata Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Edy Kuswoyo.

Baca juga : Kecelakan KA Tewaskan Sekeluarga di Kendal, Pemerintah Harus Ikut Tanggung Jawab

Kapolres Kendal AKBP Adiwijaya melalui Kasat Lantas AKP Edi Sutrisno, mengatakan, kronologi dari tabrakan maut tersebut bermula dari Avanza yang berjalan dari arah barat atau Weleri menuju arah timur ke Gemuh. Sesampainya di lokasi, mobil Avanza tersebut belok kanan melintas jalur kereta api sebidang tanpa palang pintu dan saat itu juga melintas Kereta Api Kaligung jurusan Tegal – Semarang dari arah barat.

“Diduga pengemudi mobil ketika melintas jalur rel kurang berhati-hati dan akhirnya tertabrak Kereta Api hingga terseret ke timur sejauh 25 meter”, terangnya.

Polisi sampai saat ini masih melakukan mendalam ihwal kasus kecelakaan ini. 

Kepala Cabang PT Jasa Raharja Jateng, Harwan Muldidarmawan mengatakan pihaknya bakal segera mencairkan santunan untuk ahli waris korban. Para korban dijamin UU.34 Tahun 1964 tentang Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan. Besar santunan kematian untuk korban meninggal karena kecelakaan adalah Rp 50 juta dan segera diserahkan kepada ahli waris.
Adapun ketentuan ahli waris sudah ada dalam undang-undang tersebut. Pencairannya dilakukan pada hari ini, Senin (21/8/2017).

Editor : Akrom Hazami

Sudah Ada Palang Pintu, Izin Pelegalan Perlintasan KA di Katong Grobogan Belum Turun

Perlintasan kereta api di Desa Katong, Kecamatan Toroh yang dilengkapi palang dan penjaga masih menunggu izin dari Kementerian Perhubungan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah ada upaya swadaya masyarakat dengan membangun palang pintu serta penjaga namun izin untuk melegalkan perlintasan kereta di Desa Katong, Kecamatan Toroh belum kunjung turun. Padahal, pihak desa sudah mengirimkan surat permintaan izin kepada Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA) Kementrian Perhubungan.

Kepala Dinas Perhubungan Grobogan Agung Sutanto menyatakan, pihaknya juga menerima termbusan surat permohonan izin dari pihak Desa Katong yang dilayangkan ke kementerian. Surat itu dilayangkan beberapa hari setelah digelar pertemuan di Balai Desa Katong pada awal Juli lalu.

“Sejauh ini, izin dari Kementerian Perhubungan belum turun. Untuk mengeluarkan izin ini butuh proses dan pertimbangan. Tetapi, saya optimis kalau permohonan warga Katong bakal diizinkan. Kita tunggu saja, mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah keluar izinnya,” jelas Agung.

Menurut Agung, pembuatan palang pintu sederhana di Desa Katong merupakan sebuah upaya supaya perlintasan sebidang itu tidak ditutup. Hal itu dilakukan warga karena perlintasan itu dinilai jadi akses penting dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

“Lokasi perlintasan memang dinilai rawan kecelakaan karena tidak ada penjaga dan palang pintunya. Karena alasan ini, perlintasan itu rencananya akan ditutup. Namun, warga berupaya membuat palang secara swadaya dan menempatkan penjaga agar perlintasan itu tidak ditutup dan bahkan bisa dilegalkan,” kata mantan kabag humas itu.

Agung menyatakan, pihaknya akan menjadikan pembuatan palang swadaya di Katong sebagai percontohan bagi desa lainnya yang wilayahnya juga terdapat perlintasan sebidang. Tetapi, hal itu akan dilakukan setelah izin untuk melegalkan perlintasan tersebut keluar.

Ditambahkan, sejauh ini masih ada banyak perlintasan kereta yang tidak berpintu dan ada penjaganya. Dari pendataan yang dilakukan, jumlah perlintasan  keseluruhan

ada 139 titik. 

Perlintasan ini terbentang dari arah barat ke timur. Mulai Kecamatan Tegowanu, Tanggungharjo, Kedungjati, Gubug, Godong, Karangrayung, Penawangan, Purwodadi, Toroh, Pulokulon, Geyer, Kradenan, dan Gabus.

“Dari 139 titik ini, baru 11 titik perlintasan yang dilengkapi pintu atau dijaga petugas. Sementara titik perlintasan lainnya belum ada pintu maupun penjaganya. Beberapa 

perlintasan  yang arus lalu lintasnya cukup ramai biasanya ada penjaga swadaya. Untuk menekan kecelakaan, salah satu upayanya adalah memasang rambu peringatan di perlintasan dan garis kejut,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

KA TABRAK MOBIL : 4 Tewas di Katong Grobogan

Kereta Api Argo Bromo menabrak mobil di Katong, Kecamatan Toroh, Grobogan, Sabtu (20/5/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)KA

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kecelakaan maut terjadi di perlintasan kereta api di Katong, Kecamatan Toroh, Grobogan, Sabtu (20/5/2017). Sebuah mobil Daihatsu Xenia yang melintasi rel tanpa palang pintu tertabrak kereta api (KA).

Informasi yang didapat di lapangan menyebutkan, kecelakaan terjadi sekitar pukul 10.45 WIB. Mobil dari arah utara menyeberangi rel. Padahal, dalam waktu bersamaan sedang melaju kereta api Argo Bromo dari arah Surabaya.

Mengingat jaraknya sudah dekat, tabrakan tak bisa dihindari. Setelah tertabrak, mobil menempel di loko kereta dan terseret hingga ke Stasiun Desa Sedadi, Kecamatan Penawangan.

Lokasi kecelakaan berada di timur Sungai Serang yang masuk wilayah Kecamatan Toroh.  Sedangkan posisi stasiun ada di barat Sungai Serang yang masuk wilayah Kecamatan Penawangan. Jarak lokasi tabrakan hingga kereta berhenti sekitar 700 meter.

Lantaran terseret loko, muncul percikan api dari bodi kendaraan yang menempel rel. Kondisi ini akhirnya menyebabkan mobil ringsek dan hangus terbakar. Bagian depan loko kereta dengan nomor seri CC 2061392 terlihat gosong kena jilatan api dari mobil yang terbakar.

“Penumpang masih ada di dalam kendaraan belum bisa dievakuasi. Informasi sementara ada empat penumpang mobil dan semua meninggal. Data lengkap nanti setelah kita evakuasi,” kata Kapolsek Toroh AKP Sudarwati di Stasiun Sedadi.

 

Editor : Akrom Hazami

 

2 Balita Tewas Tersambar Kereta, Ini Imbauan Kapolres Grobogan kepada Warga

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano saat menyampaikan imbauannya kepada warga yang tinggal di pinggiran rel kereta api. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kecelakaan yang menyebabkan dua orang tewas tersambar kereta api di di Kampung Gubug Timur, Desa Gubug, Kecamatan Gubug, mendapat perhatian dari Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano, Selasa (4/4/2017). Sebab, dua bersaudara yang jadi korban kecelakaan diketahui masih balita. Yakni, Apitara Asriyana (4), dan Shaherra Seikha Asriyana (2) yang tinggal di wilayah RT 05, RW 12.

“Peristiwa ini hendaknya jadi perhatian kita bersama. Semoga keluarga korban diberi ketabahan dalam menghadapi musibah ini,” kata Satria didampingi Kapolsek Gubug AKP Dedy Setya.

Terkait dengan peristiwa itu, Satria mengimbau pada warga yang tinggal di sekitar jalur kereta api lebih bersikap waspada dan berhati-hati. Sebab, setelah dibangun jadi double track atau dua jalur, arus kereta yang melintas dari kedua arah bertambah padat.

Selain itu, warga juga diminta memberikan pengertian dan meningkatkan kewaspadaan pada anak-anak ketika beraktivitas di dekat jalur kereta. Sebab, melakukan aktivitas berdekatan dengan jalur kereta bisa membahayakan keselamatan diri.

“Saya minta agar pengawasan terhadap anak-anak yang beraktivitas di dekat jalur kereta agar ditingkatkan. Jangan biarkan anak-anak berakivitas tanpa pengawasan orang tua,” pesannya.

Seperti diberitakan, kedua balita perempuan tersebut tewas akibat tersambar kereta barang, Selasa sekitar pukul 08.00 WIB sekitar pukul 08.00 WIB. Peristiwa kecelakaan maut terjadi sekitar 700 meter di sebelah timur Stasiun Gubug.

Sebelum kejadian, kakak beradik itu dikabarkan hendak menyusul bapaknya Daryanto (40), yang sedang berada di warung tetangganya. Warung tersebut berjarak sekitar 250 meter dari rumah korban dan dipisahkan tenggangan sawah. Kedua balita tersebut berjalan menyusuri bantaran pinggir rel untuk menyusul bapaknya. Bagi warga setempat, memang sudah biasa berjalan menyusuri pinggiran rel, termasuk anak-anak.

Saat separuh perjalanan menuju warung, dari arah barat (Semarang) sudah terlihat akan ada kereta yang melintas. Beberapa petani yang saat itu ada di sawah sempat mengingatkan kedua balita tersebut supaya menjauh karena ada kereta mau lewat.

Namun, peringatan itu kemungkinan tidak terdengar oleh kedua bocah tersebut. Hingga akhirnya, kedua bersaudara itu terserempet bodi rangkaian kereta barang sampai terpental di areal bebatuan di pinggir lintasan. Akibat terserempet bodi kereta, kedua korban mengalami luka parah dan meninggal dunia.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : NGERI, 2 Balita Tewas Tersambar Kereta Api di Gubug Groboga

2 Balita Tewas Tersambar KA, Ibunya yang Siap jadi TKI Hanya Bisa Pasrah di Grobogan

Polisi tampak berada di lokasi balita yang tersambar KA di Gubug Grobogan, Selasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana haru terlihat saat pemakaman kedua korban tewas akibat tersambar kereta api di Kampung Gubug Timur, Desa Gubug, Kecamatan Gubug, Grobogan, Selasa (4/4/2017). Tepatnya, saat ibu korban Apitara Asriyana (4), dan Shaherra Seikha Asriyana (2) bernama Sri Maryani tiba di rumah duka.

Saat kejadian, ibu kedua balita tersebut tidak ada di rumah. Sejak sepekan terakhir, ibunya ada di tempat penampungan jasa TKI di Semarang.

“Ibu kedua korban tadi dijemput kakaknya. Begitu sampai rumah, ibunya langsung lemas karena tidak menyangka ada peristiwa menyedihkan ini. Ibu Sri, usianya sekitar 35 tahun,”kata Kepala Desa Gubug As’adul Munir.

Menurutnya, beberapa waktu sebelumnya, Sri yang punya niatan merantau jadi TKI memang sudah berada di penampungan. Namun, tiap akhir pekan selalu pulang menengok keluarganya.

Baru pada Minggu kemarin, ia dikabarkan tidak pulang. Sebab, harus menjalani masa karantina. Soalnya, dalam beberapa hari mendatang sudah akan terbang ke luar negeri.

“Ibu korban terakhir pulang tanggal 26 Maret lalu. Minggu kemarin tidak pulang karena sudah dikarantina. Biasanya, menjelang berangkat calon TKI menjalani masa karantina. Mengenai negara tujuan jadi TKI, saya kurang tahu. Warga sini biasanya jadi TKi ke Taiwan atau Malaysia,” jelasnya.

Seperti diberitakan, kedua balita perempuan yang tinggal di wilayah RT 05, RW 12 tersebut tewas akibat tersambar kereta barang sekitar pukul 08.00 WIB. Peristiwa kecelakaan maut terjadi sekitar 700 meter di sebelah timur Stasiun Gubug.

Sebelum kejadian, kakak beradik itu dikabarkan hendak menyusul bapaknya Daryanto (40), yang sedang berada di warung tetangganya. Warung tersebut berjarak sekitar 250 meter dari rumah korban dan dipisahkan tenggangan sawah. Kedua balita tersebut berjalan menyusuri bantaran pinggir rel untuk menyusul bapaknya. Bagi warga setempat, memang sudah biasa berjalan menyusuri pinggiran rel, termasuk anak-anak.

Saat separuh perjalanan menuju warung, dari arah barat (Semarang) sudah terlihat akan ada kereta yang melintas. Beberapa petani yang saat itu ada di sawah sempat mengingatkan kedua balita tersebut supaya menjauh karena ada kereta mau lewat.

Namun, peringatan itu kemungkinan tidak terdengar oleh kedua bocah tersebut. Hingga akhirnya, kedua bersaudara itu terserempet bodi rangkaian kereta barang sampai terpental di areal bebatuan di pinggir lintasan. Akibat terserempet bodi kereta, kedua korban mengalami luka parah dan meninggal dunia.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : NGERI, 2 Balita Tewas Tersambar Kereta Api di Gubug Grobogan

2 Balita Tewas Akibat Tersambar KA di Gubug Grobogan Dimakamkan Hari Ini

Dua balita yang jadi korban tersambar KA saat akan dimakamkan di taman pemakaman umum di Gubug, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tidak lama setelah diserahkan pada pihak keluarga, prosesi pemakaman dua balita yang tewas tersambar kereta api (KA) barang langsung dipersiapkan. Dua liang lahat dengan posisi berdampingan disiapkan untuk pemakaman jenazah Apitara Asriyana (4), dan Shaherra Seikha Asriyana (2), warga Kampung Gubug Timur, Desa Gubug, Kecamatan Gubug, Grobogan.

Kepala Desa Gubug As’adul Munir menyatakan, proses pemakaman dilakukan menjelang waktu zuhur. Sekitar pukul 11.30 WIB, kedua jenazah diberangkatkan menuju pemakaman desa setempat. Ratusan warga mengiringi pemakaman dua balita bersaudara tersebut. “Pemakaman selesai dikerjakan berbarengan dengan kumandang azan zuhur,” katanya.

Seperti diberitakan, kedua balita perempuan yang tinggal di wilayah RT 05, RW 12 tersebut tewas akibat tersambar kereta barang sekitar pukul 08.00 WIB. Peristiwa kecelakaan maut terjadi sekitar 700 meter di sebelah timur Stasiun Gubug.

Sebelum kejadian, kakak beradik itu dikabarkan hendak menyusul bapaknya Daryanto (40), yang sedang berada di warung tetangganya. Warung tersebut berjarak sekitar 250 meter dari rumah korban dan dipisahkan tenggangan sawah. Kedua balita tersebut berjalan menyusuri bantaran pinggir rel untuk menyusul bapaknya. Bagi warga setempat, memang sudah biasa berjalan menyusuri pinggiran rel, termasuk anak-anak.

Saat separuh perjalanan menuju warung, dari arah barat (Semarang) sudah terlihat akan ada kereta api yang melintas. Beberapa petani yang saat itu ada di sawah sempat mengingatkan kedua balita tersebut supaya menjauh karena ada KA mau lewat.

Namun, peringatan itu kemungkinan tidak terdengar oleh kedua bocah tersebut. Hingga akhirnya, kedua bersaudara itu terserempet bodi rangkaian kereta barang sampai terpental di areal bebatuan di pinggir lintasan. Akibat terserempet bodi kereta, kedua korban mengalami luka parah dan meninggal dunia.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : NGERI, 2 Balita Tewas Tersambar Kereta Api di Gubug Grobogan  

Kronologi Tewasnya 2 Balita di Gubug Grobogan Akibat Tersambar Kereta Api

Polisi tampak berada di lokasi balita yang jadi korban tersambar KA. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ada cerita memilukan sebelum dua balita, Apitara Asriyana (4), dan Shaherra Seikha Asriyana (2), tewas tersambar kereta api, Selasa (4/4/2017) sekitar pukul 08.00 WIB. Kakak beradik yang tinggal di Kampung Gubug Timur, Desa Gubug, Kecamatan Gubug, Grobogan itu dikabarkan hendak menyusul bapaknya Daryanto (40), yang sedang berada di warung tetangganya.

Warung tersebut berjarak sekitar 250 meter dari rumah korban dan dipisahkan tenggangan sawah. Kedua balita tersebut berjalan menyusuri pinggi rel untuk menyusul bapaknya. Bagi warga setempat, memang sudah biasa berjalan menyusuri pinggiran rel, termasuk anak-anak.

Saat separuh perjalanan menuju warung, dari arah barat (Semarang) sudah terlihat akan ada kereta api yang melintas. Beberapa petani yang saat itu ada di sawah sempat mengingatkan kedua balita tersebut supaya menjauh karena ada kereta mau lewat.

Namun, peringatan itu kemungkinan tidak terdengar oleh kedua bocah tersebut. Hingga akhirnya, kedua bersaudara itu terserempet bodi rangkaian kereta barang hingga terpental di areal bebatuan di pinggir lintasan. Akibat terserempet bodi kereta, kedua korban mengalami luka parah dan meninggal dunia.

Kapolsek Gubug AKP Dedy Setya menyatakan, saat kejadian, ayah kedua korban memang sedang belanja di warung tetangga. Kedua korban, bermaksud menyusul ayahnya di warung tersebut dengan berjalan melewati pinggir bantaran jalur rel ganda yang ada di depan rumahnya.

“Saat kejadian, bapaknya yang bernama Daryanto sedang belanja beli kopi di warung tetangga. Dia tidak tahu kalau kedua anaknya mau menyusul ke warung,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : NGERI, 2 Balita Tewas Tersambar Kereta Api di Gubug Grobogan

 

Jejak Stasiun KA Mayong Jepara yang Mempesona

Bangunan Stasiun Mayong Jepara yang kini telah beralih fungsi di Grabag Magelang. (rumahkuliner.wordpress.com)

Bangunan Stasiun Mayong Jepara yang kini telah beralih fungsi di Grabag Magelang. (rumahkuliner.wordpress.com)

MuriaNewsCom, Jepara – Jejak perkeretapian di wilayah Jepara masih terasa. Sebab, wilayah Jepara dulunya sempat dilintasi kereta api. Kini, moda transportasi tersebut tinggal kenangan.

Sekadar nostalgia, jejak kereta api yang membekas adalah Stasiun Mayong. Ternyata, stasiun itu merupakan salah satu yang tertua di Jawa. Stasiun itu berdiri pada 1873.

Dulunya, bangunan stasiun sangat elok. Stasiun terbuat dari kayu jat pilihan. Bentuknya masih berkarakter. Lokasi Stasiun Mayong dahulunya di daerah Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, tepatnya depan SMPN 2 Mayong.

Ada yang mengatakan konon stasiun itu dibangun untuk memudahkan pengangkutan hasil kerajinan mebel kayu dari Jepara. Untuk selanjutnya dinaikkan ke kapal via Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Selain juga untuk mempermudah hasil Pabrik Gula Pecangaan yng sekarang menjadi PT Dasaplas.

Jalur kereta api Kudus-Mayong

Jalur kereta api Kudus-Mayong

Stasiun Mayong juga menjadi salah satu titik berkumpulnya penumpang. Dulu, terdapat perusahaan kereta api dan trem Semarang Joana Stroomtram Maatschappij (SJS). Perusahaan tersebut pada tahun 1885 membuka jalur Semarang-Genuk-Demak-Kudus-Pati-Joana (sekarang Juwana).

Setelah itu, Pada 5 Mei 1895 Stroomtram Maatschappij (SJS) menambah jalurnya ke timur yakni membuka jalur Kudus-Mayong- Gotri-Pecangaan. Pada 1 Mei 1900 juga menambah jalur kereta api ke barat hingga mencapai Rembang dan Lasem. Pada tahun itu juga, pada 10 November SJS membuka jalur baru lagi yang melayani rute Mayong-Welahan-Demak-Semarang.

Tentang Stasiun Mayong

Tentang Stasiun Mayong

Sejak tahun 1980, penumpang turun drastis karena pelebaran jalan dan makin bannyaknya kendaraan pribadi. Akhirnya stasiun ini dinon-aktifkan. Saat ini lokasinya menjadi kios-kios toko, Sedangkan bangunan stasiun itu sudah tidak ada karena telah dipindahkan oleh investor akhir tahun 1990-an.

Bangunan stasiun itu ditempati dan menjadi Losari Spa Retreat & Coffee Plantation daerah Grabag Magelang.

 Editor : Akrom Hazami