Kerajinan Sangkar Burung dari Megawon Kudus Masih Jadi Primadona

sangkar burung (e)

 

KUDUS – Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus, merupakan salah satu sentra pembuatan sangkar burung. Kerajinan industri rumahan ini, pemasarannya tak hanya menjangkau Kudus saja, namun sudah sampai beberapa daerah di luar Kudus, khususnya di eks Karesidenan Pati.

Bahkan, sangkar burung buatan warga Megawon, saat ini laris di pasaran dan masih menjadi primadona bagi konsumen, baik dari Kudus sendiri maupun luar Kudus.

Mujianto, perajin sangkar burung dari Megawon RT 1 RW 1 mengatakan, jika sebagian besar permintaan sangkar burung adalah tengkulak. Nantinya, sangkar tersebut akan diedarkan atau dipasarkan lagi ke daerah Pati, Rembang, Blora, Purwodadi dan lainnya.

Untuk harga sangkar burung sendiri bervariatif. Mulai dari Rp 60 ribu hingga ratusan ribu, tergantung ukuran dan model sangkar.

“Kalau tengkulak yang beli, biasanya sampai 100 hingga 150 sangkar. Dan itupun masih belum di cat atau mentahan. Selain itu, untuk harga sangkar sendiri sekitar Rp 60 ribu hingga ratusan ribu,” paparnya.

Ia katakan, untuk tengkulak, sebagian besar juga berasal dari luar Kudus. “Mayoritas tengkulak yang datang untuk membeli produk sangkar burung dari Desa Megawon memang biasanya dari luar Kudus. Seperti halnya Pati, Demak dan Purwodadi,” imbuhnya.

Dia menambahkan, untuk saat ini tengkulak yang sudah berlangganan dengan dirinya, sudah ada sekitar 5 orang. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Video – Begini Cara Ubah Sampah Jadi Rupiah

Salah satu peserta sedang menunjukkan salah satu kerajinan berbahan dasar sampah (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu peserta sedang menunjukkan salah satu kerajinan berbahan dasar sampah (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Berbagai karya kreatif dipamerkan dalam pameran bank sampah di Kabupaten Jepara, Selasa (22/12/2015). Salah satu dari karya yang dipamerkan adalah memanfaatkan limbah plastik dan kertas menjadi barang bernilai ekonomi, seperti pakaian, tas, pot, hiasan hingga memanfaatkan sampah menjadi bahan untuk bercocok tanam.

Hal ini seperti yang dilakukan salah satu peserta bernama Dwi. Dirinya membuat sejumlah produk seperti tas, baju, kotak pot, kotak tisu, dan tempat sampah dengan bentuk yang unik.

“Saya buat tas dari bahan plastik yang sudah tidak digunakan. Jika sudah menjadi tas, bisa dijual dengan harga sekitar Rp 70 ribu hingga 125 ribuan,” ujar Dwi kepada MuriaNewsCom, Selasa (22/12/2015).

Menurutnya, untuk membuat satu tas dengan bahan plastik bekas, dirinya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari saja. Sedangkan untuk membuat satu baju dengan bahan limbah juga hanya membutuhkan waktu beberapa hari saja.

Sementara itu, salah seorang pembimbing anak peduli lingkungan dari SMA 1 Bangsri Haryanto menjelaskan, dirinya bersama anak didik membuat sejumlah karya yang juga terbuat dari bahan limbah atau sampah. Misalnya saja, dia memanfaatkan sampah menjadi arang yang dapat digunakan untuk membakar sate. Selain itu juga membuat pupuk yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman.
“Pupuk bisa digunakan untuk tanaman hidroponik. Selain itu juga botol-botol plastic bekas juga dapat digunakan untuk pot tanaman,” kata dia.

Dia menambahkan, untuk membuat berbagai karya tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama. Namun hanya membutuhkan keseriusan dan ketelitian saja untuk memanfaatkan limbah menjadi barang berharga bahkan memiliki nilai ekonomi. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

 

Kerajinan Kubah Masjid Buatan Warga Pati Terkenal Sampai Luar Jawa

Mulyono tengah menyelesaikan kerajinan kubah dalam ukuran kecil. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Mulyono tengah menyelesaikan kerajinan kubah dalam ukuran kecil. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kerajinan kubah masjid buatan Mulyono, warga Kelurahan Mertokusuman, Kecamatan Pati Kota diminati pasar Luar Jawa, seperti Ambon, Aceh hingga Kalimantan.

Karena, kubah buatan Mulyono ini dikenal dengan kualitasnya yang baik dengan bahan stainlees steel. Sementara itu, kubah yang saat ini laris di pasaran, di antaranya model panel.

“Saya usaha membuat kubah masjid sudah hampir 26 tahun. Saya memulai sejak 1990. Memang, awalnya jatuh bangun karena belum punya pasar. Saat ini, saya sudah punya pasar di sekitar Pati hingga Aceh, Ambon dan Kalimantan,” ujar Mulyono kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/12/2015).

Ia mengatakan, harga kubah beragam, mulai dari Rp 300 ribu dengan diameter 0,4 meter hingga berbahan baja antikarat senilai Rp 300 jutaan untuk di kubah raksasa berdiameter 20 meter.

“Harganya beragam. Untuk ukuran kecil, berkisar di harga Rp 300 ribuan hingga Rp 1 juta. Untuk pesanan yang ukuran paling besar berdiameter 20 meter biasanya dihargai sekitar Rp 300 juta. Yang berdiameter besar pengerjaannya butuh waktu cukup lama dan bahannya juga cukup mahal,” tukasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Modal dari Hasil Jual Motor Butut, Pengusaha Ini Raup Rp 50 Juta Sebulan

Darsono pengusaha mebel dan kerajinan tangan dari kayu jati (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Darsono pengusaha mebel dan kerajinan tangan dari kayu jati (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Pantang menyerah dan yakin dengan kemampuan membawa seseorang menjadi sosok hebat. Termasuk juga menjadi pengusaha.

Adalah Darsono (40) warga Jepon, Blora. Pengusaha ini sukses menjalani bisnisnya di sektor mebel dan kerajinan tangan berbahan dasar kayu jati. Usaha dilakoninya sejak tahun 2001.

Ia memulai karir sebagai wirausahawan dengan modal awal menjual sepeda motor, ketika itu seharga 4,2 juta. Ia menggunakan uang tersebut untuk membangun kios di jalan Blora-Cepu km 9.

Sekarang, omzet per bulan yang ia dapat sudah mencapai 50 juta.

“Awalnya saya belajar dengan teman, tanpa mau mendapatkan bayaran atas apa yang saya kerjakan dari teman,” ungkap Darsono kepada MuriaNewsCom.

Kini usahanya yang sudah berkembang, mampu mempekerjakan empat orang karyawan. Harapannya, sebentar lagi bisa mengepakkan sayap dengan membuka usaha yang sampai di luar daerah Blora. “Saya sudah punya rencana matang sebentar lagi mau buka kios di Bandung, Jabar,” ujar Darsono.

Dengan keuletan dan tentunya kerja keras, ia mampu mengembangkan usahanya yang pemasarannya kini sampai luar Blora di antaranya sampai Sumatra dan Kalimantan. “Semula saya nekat, dengan jual motor buat modal usaha dan alhamdulillah sekarang sudah berkembang” imbuh Darsono. (RIFQI GOZALI/AKROM HAZAMI)

Yuk, Percantik Rumah Anda dengan Kerajinan Jati dari Jepon Blora yang Murah Tapi Bukan Murahan

Darsono perajin kayu jati Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Darsono perajin kayu jati Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Kabupaten Blora yang memiliki kekayaan alam berupa hutan jati yang luas, membuat masyarakat sekitar berupaya memaksimalkan hal tersebut, dengan membuat kerajinan yang berbahan dasar kayu jati.

Desa Jepon, Kecamatan Jepon, Blora, merupakan salah satu sentra kerajinan kayu jati. Di sana, terdapat aneka ragam kerajinan yang menarik, untuk bisa menambah nilai artistik rumah Anda. Dan jangan khawatir, harga kerajinan dari kayu jati di tempat ini harganya bisa lebih murah dibanding di tempat lain. Namun, pastinya hal itu tidak murahan.

“Kalau ada yang beli dengan partai besar, dan langsung kesini kami bisa memberikan harga yang lebih miring,” ungkap Darsono, salah satu perajin kayu jati di Desa Jepon.

Berbagai kerajinan tangan, di tempat ini antara lain, aneka lampu hias, tempat payung, asbak, celengan, patung, piring, tempat makan, meja, kursi, dan lain-lain. (RIFQI GOZALI/KHOLISTIONO)

Mengukir Sandal Jepit Mampu Didik Siswa Jadi Kreatif

Para siswa antusias membuat sendal jepit ukir dan memamerkan hasil karyanya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para siswa antusias membuat sendal jepit ukir dan memamerkan hasil karyanya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Setiap kegiatan belajar mengajar pasti tidak terlepas dari pengembangan kualitas akademiknya. Selain akademik, kreativitas pemikiran juga harus ditingkatkan, sehingga mendukung kemampuan berpikir anak untuk menciptakan karya inovatif.

Begitu halnya dengan MTs NU Ma’rifatul Ulum, Mijen, Kaliwungu. Sekolah tersebut selalu memberikan bimbingan kreativitas terhadap siswanya. Yaitu dengan membuat kerajinan tangan. Kerajinan tersebut tak hanya membuat siswa kreatif tapi juga melatih menjadi wirausahawan sejak dini.

Salah satu siswa Anna Sholihah mengatakan, untuk melatih kreativitas siswa diajarkan membuat kerajinan tangan. Dan kali ini siswa diajarkan mengukir di media sandal jepit.

”Kegiatan pembuatan kerajinan ini memang tidak tentu harinya. Tetapi jika siswa berkeinginan untuk membuat kerajinan, maka harus mengajak teman yang lain sampai terkumpul satu kelas agar efektif,” paparnya.

Anna melanjutkan, untuk pembuatan seni tersebut setiap siswa membawa sendal jepit polos dengan harga murah, karena masih dalam latihan mengukir. Hasil karya para siswa kemudian dikemas dan dikumpulkan. Pengumpulan tersebut nantinya dipromosikan sesama teman satu sekolah.

”Untuk penjualan produk hasta karya sendal ukir dihargai Rp 10 ribu. Hasil penjualannya pun seluruhnya diberikan kepada siswa yang membuat,” tuturnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Keterbatasan Fisik Tak Batasi Kasmani Berdaya Mandiri Miliki Usaha Sendiri

Kasmani, meski keterbatasan fisik ia ulet membuat satu demi satu keranjang plastik untuk dipasarkan ke beberapa kota di eks Karesidenan Pati. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kasmani, meski keterbatasan fisik ia ulet membuat satu demi satu keranjang plastik untuk dipasarkan ke beberapa kota di eks Karesidenan Pati. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Kasmani (50), Warga Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan tetap bertanggung jawab untuk bisa menghidupi keluarganya, meski fisiknya tidak lagi sempurna. Kecelakaan kerja yang menimpa dirinya tersebut terjadi ketika ia masih bekerja sebagai buruh bangunan di GOR salah satu pabrik rokok besar di Kudus

”Sekitar empat tahun silam, saya terjatuh dari atas bangunan. Hal itu menyebabkan kaki dan tangan kiri saya patah. Sehingga saya kesulitan berjalan dan bekerja bangunan. Meski begitu, saya sebagai kepala rumah tangga harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Yaitu dengan cara membuat keranjang,” katanya.

Dalam jasa pembuatan keranjang ini, pria yang berdomisilisi di Rt 2 Rw 1, Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan tersebut disetori oleh saudaranya berupa bahan baku plastik pembuat keranjang. Karena kondisi Kasmani yang tidak memungkinkan untuk belanja bahan sendiri.

”Kami membuat sesuai dengan permintaan pasar saja. Bersyukur selalu ada pesanan, dan kami produksi setiap hari,” ujarnya.

Meski, tangan kiri dan kaki kirinya masih disangga dengan pen, tetapi dia sangat lihai dalam menganyam satu demi satu keranjang plastik. Yaitu dengan membuat dua buah keranjang setiap harinya. Baik ukuran kecil dan besar.

”Untuk pembuatan keranjang itupun harganya disesuaikan dengan tebal tipisnya bahan, serta besar kecilnya ukuran keranjang. Karena untuk harga bahan yang tebal harganya Rp 45 ribu. Bahan tersebut sulit untuk dilipat atau dibentuk sebab kurang lentur,namun lebih kokoh,” ujarnya.

Sedangkan, untuk bahan baku plastik tipis harganya Rp 35 ribu. Bahan tersebut mudah dilipat serta di bentuk melingkar atau persegi empat. Sehingga dengan harga bahan baku tersebut harga jual keranjang pun turut menyesuaikan.

Kasmani memiliki pemicu semangat untuk tak berhenti berkarya, yaitu satu anaknya yang masih sekolah dasar, dan satu lagi berusia balita. Sang istri yang menjadi ibu rumah tangga juga tak enggan membantu pekerjaannya dan setia mendampinginya.

”Biasanya untuk produk keranjang ini dijual oleh saudaran saya yang juga sebagai pemodal usaha saya ke pasar Pati, Purwodadi, Blora dan beberapa daerah sekitar. Untuk harga keranjang yang berukuran kecil kami banderol Rp 130 ribu dan yang besar Rp 150 ribu,” tuturnya.

Dengan adanya perhatian dari saudaranya itulah, ia kembali optimistis dan membangun kepercayaan dirinya untuk berdaya mandiri memiliki penghasilan sendiri. Pihaknya juga berharap pemerintah terkait bisa membantu dalam pengembangan usahanya tersebut. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Bahan Baku Melimpah, Usaha Kerajinan dari Limbah Kayu Tak Ada Matinya

Achmad Syauki dengan kreasinya dari limbah kayu (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Achmad Syauki dengan kreasinya dari limbah kayu (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Usaha bidang kreatif dari olahan limbah kayu yang digeluti Achmad Syauki, memiliki potensi untuk berkembang lebih besar lagi. Apalagi, untuk mendapatkan bahan baku, selama ini tak mendapatkan kendala.

Syauki mengatakan, untuk ketersediaan bahan baku, maupun tenaga kerja, sejauh ini tak pernah mengalami kendala. Tenaga kerja ia banyak ambilkan dari teman pengusaha mebel yang sudah mapan.

“Kalau order yang diminta banyak, biasanya saya meminta uang deposite dulu. Kalau pesan dengan jumlah kecil masih dapat diatasi sendiri,” katanya.

Bisnis barunya ini relatif mudah ia jalani. Sebab, sebelumnya ia lumayan lama bekerja di perusahaan mebel.

“Saya dulu sempat mengajar setelah lulus kuliah. Banyak waktu luang, setelah mengajar bekerja di perusahaan mebel,” ungkapnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Kaligrafi dari Pelepah Pisang Tembus Pasar Luar Blora

Sri Mulyanto sedang menyelesaikan pekerjaannya membuat lukisan kaligrafi dari pelepah pisang (MuriaNewsCom/Priyo)

Sri Mulyanto sedang menyelesaikan pekerjaannya membuat lukisan kaligrafi dari pelepah pisang (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Kerajinan kaligrafi dari pelepah pisang yang dibuat perajin asal Desa Keser RT 01/02, Kecamatan Tujungan, Blora, Sri Muyanto telah menembus pasar luar Jawa, seperti Bangka Belitung, Jakarta, Gresik, Bali dan beberapa daerah lainnya.

Usaha kecil menengah kerajinan tangan yang dibangun Mulyanto sejak 2013 itu, kini sudah memiliki pelanggan tetap dari luar Blora. Biasanya, pembeli dari luar Blora tersebut memesan kaligrafi dari pelepah pisang ini dalam bentuk lukisan.

Sebelum menggeluti usahanya ini, Mulyanto dahulunya sempat bekerja di Jakarta. Namun, karena sesuatu hal, dirinya kembali lagi ke kampung halaman, dan ternyata pada tahun 2010, dirinya mengalami musibah jatuh dari pohon. Akibat insiden itu, dirinya mengalami cacat kaki.

”Sebelum menjadi penrajin kaligrafi, saya sempat kerja di Jakarta dan pulang lagi ke rumah.Namun, pada tahun 2010 lalu saya kecelakaan, bahkan sempat dua tahun tak bisa jalan.Pada 2012, saya sudah mulai membaik dan mencobaikut kerja jadi tukang las.Tapi, karena fisik kurang, sehingga  mencoba untuk berkreasi membuat kerajinan dari pelepah pisang,” ungkapnya.

Menurutnya, karya kaligrafinya ini dijual dengan harga yang bervariasi, mulai dari harga Rp 100 ribu hingga jutaan. “Tergantung ukuran dan tingkat kesulitan,” imbuhnya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Produksi Kerajinan Pelepah Pisang di Blora Terkendala Pemasaran

 

Sri Mulyanto menunjukkan lukisan kaligrafi dari pelepah pisang hasil karyanya (MuriaNewsCom/Priyo)

Sri Mulyanto menunjukkan lukisan kaligrafi dari pelepah pisang hasil karyanya (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Kreatifitas Sri Mulyanto, warga Desa Keser RT 01/02, Kecamatan Tujungan, Blora, yang memanfaatkan limbah pelepah pisang menjadi sebuah karya seni yang memiliki nilai ekonomi tinggi, ternyata belum sepenuhnya bisa berjalan lancar.

Bukan persoalan kesulitan bahan baku ataupun produksinya, namun, kerajinan dari pelepah pisang ini masih terkendala dengan pemasaran.

”Saat ini baru melalui via online saja untuk para pembelinya. Terkadang saya titip sama teman saya, kadang juga ada yang pesan lewat facebook, karena ada beberapa produk saya upload dan ada yang respon minta dibuatkannya,” katanya.

Meski demikian, dirinya tetap optimis jika kerajinan dari bahan pelepah pisang, seperti kaligrafi, tisu maupun tas, akan mendapatkan tempat di hati masyarakat. Ke depan, dirinya bakal lebih gencar mempromosikan produknya, khususnya melalui via online.

Ia mengaku dalam membuat sebuah kaligrafi bisa memakan waktu mencapai 4 hari bahkan dua minggu, tergantung kesulitan dalam pembuataanya.

“Cepat atau tidaknya dalam pengerjaan tergantung besar kecil dan mudah sulitnya pada karya yang diminta. Selain itu, dalam pengerjaan ini harus teliti dan dengan pikiran yang fresh. Kalau lagi suntuk ya lama mengerjakannya,” ungkapnya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Keren! Pemuda di Blora Ini Bisa Ubah Pelepah Pisang Jadi Uang

Sri Mulyanto sedang menyelesaikan kerajinan kaligrafi yang berbahan baku pelepah pisang (MuriaNewsCom/Priyo)

Sri Mulyanto sedang menyelesaikan kerajinan kaligrafi yang berbahan baku pelepah pisang (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Kebanyakan orang beranggapan bahwa limbah pelepah pisang hanya sebatas sampah yang tidak bernilai. Pelepah pisang dianggap barang yang tidak terlalu berharga secara ekonomis dan layak dibuang.

Namun, di tangan Sri Mulyanto, pemuda yang tinggal di Desa Keser RT 01/02, Kecamatan Tujungan, Blora, pelepah pisang dapat diolah menjadi kerajinan yang indah dan bernilai ekonomi tinggi, yakni membuat lukisan kaligrafi dari pelepah pisang.

Ide awal untuk menggeluti usaha kerajinan kaligrafi berbahan baku pelepah pisang tersebut, bermula dari rasa cinta lingkungan dan jiwa seni. Saat itu, dirinya melihat banyak pelepah pisang di samping rumahnya, hanya sebagai sampah saja.

Dengan hanya bermodalkan kreatifitas yang tinggi dan rasa ingin selalu berinovasi, limpah pelepah pisang yang dulunya terbuang, kini bisa dibuah Sri Mulyanto menjadi peluang bisnis baru yang menghasilkan untung besar.

”Awal mula menekuni membuat lukisan kaligrafi dari bahan baku pelepah pisang ini pada tahun 2013 yang lalu, dan alhamdulillah saat ini bisa membantu perekonomian keluarga,” ujar Sri Mulyanto, Rabu (30/9/2015)

Untuk pembuatan lukisan kaligrafi dari pelepah pisang, katanya, tidak membutuhkan alat yang istimewa atau peralatan penunjang yang mahal. Cukup dengan menggunakan pisau cutter, gunting dan beberapa alat lainya saja.

“Yang jelas, kita berani bereksperimen atau berinovasi, dan hanya perlu ketelatenan saja.Pastinya akan menjadi sebuah karya yang bernilai,” ungkapnya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Ciamik, Sampah Plastik Disulap Jadi Tas Cantik

Contoh tas yang terbuat dari bahan sampah plastik (MuriaNewsCom/Kholistiono)

Contoh tas yang terbuat dari bahan sampah plastik (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

PATI – Selama ini, bekas bungkus kemasan makanan berbahan plastik sering dibuang begitu saja. Benda-benda itupun akhirnya hanya menjadi sampah yang semakin lama semakin menumpuk.

Di tangan-tangan terampil, barang yang sering menjadi sampah tersebut bisa berubah menjadi benda kerajinan yang unik dan menarik. Bahkan, nilai ekonominya lumayan dan tidak jarang menjadi buruan banyak orang.

Hal itulah yang dilakukan dua wali murid TK Pertiwi Kembang, Dukuhseti, Pati. Di tangan mereka, sampah-sampah plastik, semisal sedotan, bungkus permen, bungkus kopi atau bungkus kemasan makanan dari bahan plastik lainnya, disulap menjadi benda yang punya nilai manfaat.

Dengan sedikit sentuhan keterampilan tangan, sampah plastik itu diubah menjadi pot bunga, pita, bros, dompet, hingga tas jinjing. Benda-benda tersebut akhirnya memiliki nilai jual sekaligus bisa mendatangkan penghasilan tambahan bagi si pembuatnya.

Ide untuk memanfaatkan sampah plastik menjadi benda kerajinan yang unik tersebut, tidak lepas dari keprihatinan dari banyaknya sampah plastik yang menumpuk di tempat sampah, karena sulit terurai.

”Ketika saya mengantar anak di sekolah, saya lihat banyak sampah-sampah plastik berupa bungkus makanan ringan di tempat sampah. Kemudian, terlintas bagaimana agar barang-barang tersebut menjadi sebuah hal yang memiliki nilai ekonomis. Apalagi, saya pernah melihat di televesi mengenai pemanfaatan barang bekas dari limbah plastik,” kata Alis Mahmuti, wali murid TK Pertiwi Kembang.

Dari situ, kemudian dia bersama wali murid lain berburu sampah plastik. Tujuannya, sampah tersebut bakal dijadikan barang kerajinan yang berharga.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya, kerajinan-kerajinan menarik yang berbahan sampah plastik dapat diselesaikan. “Setelah jadi, ternyata hasilnya bagus. Misalnya saja tas, banyak juga tertarik, karena bentuk dan warnanya sangat menarik, tak kalah dengan tas buatan pabrik,” imbuhnya.

Untuk harganya sendiri, katanya, dirinya mematok harga mulai dari Rp 50 ribu hingga ratusan. “Tergantung ukuran dan tingkat kerumitan,” tukasnya. (KHOLISTIONO)

Warga di Desa Ini Tak Mau Hanya Jadi Buruh Pabrik

Salah satu usaha sangkar burung milik warga Desa Karangbener (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu usaha sangkar burung milik warga Desa Karangbener (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kudus, yang wilayahnya terdapat beberapa perusahaan rokok, membuat sebagian besar warganya bekerja di perusahaan tersebut sebagai buruh.

Namun, hal itu ternyata tidak menghalangi warga untuk tetap mengembangkan kreatifitas dan membuat peluang kerja baru bagi warga. Tak hanya menggantungkan biaya hidup sebagai buruh pabrik, warga juga membuat usaha sampingan, yang memiliki potensi omzetnya bisa lebih besar dari gaji sebagai buruh.

Kepala Desa Karangbener Sandung Hidayat mengatakan, meski sudah bekerja di perusahaan, namun warga di Desa Karangbener berupaya produktifitas perekonomian terus berjalan dan maju. Hal ini, diwujudkan dengan membuat kerajinan-kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.

”Memang desa ini rata rata penduduknya bekerja sebagai buruh di pabrik rokok. Akan tetapi pekerjaan itu tidak menghalangi warga untuk mengembangkan usaha lainnya. Di antaranya industri sangkar burung,” katanya.

Terkait hal ini, katanya, pihak desa sangat mendukung dan bahkan mau membantu menfasilitasi dalam hal pelatihan maupun permodalan. ”Kami akan selalu memberikan arahan dan pantauan terhadap usaha-usaha milik warga ini. Sehinga, kedepannya industri rumahan yang memang bisa membuat meningkatkan perokonomian tersebut akan didaftarkan dalam program pemerintah,” katanya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Ibu-ibu di Tondomulyo Pati Bikin Sirup yang Rasanya Bikin Dunia ‘Bergetar ‘

 Ibu-ibu muda kelompok Kitomulyo, Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan tengah membuat sirup secang. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Ibu-ibu muda kelompok Kitomulyo, Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan tengah membuat sirup secang. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Kayu secang yang sempat menjadi komoditas penting pada abad ke-17 bersama dengan merica, pala dan puluhan rempah Nusantara lainnya kini bukan lagi menjadi komoditas yang diminati. Padahal, kayu secang menyimpan pewarna merah alami dengan rasa yang menyegarkan jika dibuat minuman.

Inilah yang digagas ibu-ibu muda dalam kelompok Kitomulyo di Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, Pati, yang mencoba untuk menghidupkan “kayu secang” sebagai rempah kebanggaan Nusantara yang punya nilai manfaat lebih. Bagaimana cara membuatnya?

“Caranya mudah, silakan kumpulkan bahannya dulu, yaitu secang, kayu manis, kapulaga, serai dan gula. Semua bahan direbus hingga mendidih,” ujar Kasti, Ketua Kelompok Kitomulyo kepada MuriaNewsCom, Sabtu (19/9/2015).

Jika ingin dibuat sirup, lanjutnya, perbanyak gula karena nantinya akan dicampur dengan air saat diminum. Namun, jika langsung dijadikan minuman, beri gula sesuai dengan selera. “Semua bahan alami. Tidak ada pemanis atau pewarna buatan. Warna merah yang dihasilkan berasal dari batang kayu secang,” imbuhnya.

Selanjutnya, jika ingin dikemas, buatlah kemasan botol yang bersih dan steril, kemudian disegel dengan tutup botol. “Minuman secang rasanya khas rempah dan memberikan sensasi plong di tenggorokan. Bisa diminum dingin maupun panas,” pungkasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Hebat! Ibu-ibu Tondomulyo Pati Ini Ciptakan Produk Sirup

Produk sirup kayu secang buatan ibu-ibu muda di Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan yang sudah dikemas dalam botol. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Produk sirup kayu secang buatan ibu-ibu muda di Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan yang sudah dikemas dalam botol. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Berawal dari kegiatan ibu-ibu yang mengisi waktu luang untuk kegiatan sehari-hari di Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, Pati, justru tercipta sebuah produk sirup secang yang dibuat dari bagian kayu tanaman secang.

Kelompok ibu-ibu tersebut diberi nama “Kitomulyo” yang berarti “kita mulia”. Pemberian nama kelompok ibu-ibu tersebut diharapkan bisa memberikan kemuliaan dari berbagai aspek, mulai dari finansial hingga soal ibadah.

Ketua Kitomulyo Kasti kepada MuriaNewsCom, Sabtu (19/9/2015) mengatakan, kelompok itu beranggotakan sebelas ibu-ibu muda yang konsen pada kegiatan pemanfaatan pekarangan rumah dengan tanaman organik, mulai dari sayuran hingga buahan.

Dalam suatu pembahasan, akhirnya mereka punya ide untuk membuat sirup secang untuk konsumsi pribadi. Setelah berhasil, banyak tetangga yang berminat membeli. Akhirnya, kelompok Kitomulyo membuat sirup secang dalam kemasan botol.

“Alhamdulillah, saat ini sudah lumayan yang pesan sirup secang buatan kami. Ini minuman praktis yang enak dan bermanfaat untuk kesehatan. Warna merah minuman secang berasal dari bahan alami kayu secang yang berwarna merah,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Pengusaha Kuningan Juwana Keluhkan Kondisi Ekonomi di Indonesia

Menteri Koperasi dan UMKM RI Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga saat melihat kerajinan kuningan di Juwana beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Menteri Koperasi dan UMKM RI Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga saat melihat kerajinan kuningan di Juwana beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sejumlah pengusaha kerajinan kuningan di Kecamatan Juwana mengeluhkan kondisi ekonomi di Indonesia. Menurutnya, kenaikan dollar Amerika atas rupiah yang semakin tak terkendali membuat pengusaha kuningan pusing tujuh keliling.

Wartoyo, pengusaha kuningan asal Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, misalnya. Pemilik usaha Wartindo ini mengeluh dengan penjualan kuningan yang tidak sesuai dengan biaya produksi yang harus ditanggung.

“Rupiah melemah, imbasnya harga bahan baku ikut melonjak tajam. Tapi, harga produk kuningan dituntut untuk stabil di pasaran. Imbasnya, biaya produksi tidak sebanding dengan omzet penjualan,” keluhnya saat dikonfirmasi MuriaNewsCom, Sabtu (5/9/2015).

Karena itu, ia berharap agar pemerintah bisa membuat rupiah stabil agar pengusaha kuningan bisa kembali bergairah dalam menggeluti kerjinan kuningan. “Juwana itu dikenal dengan penghasil kerajinan kuningan. Kalau kondisi ekonomi belum stabil, kami belum berani bekerja optimal,” imbuhnya.

Saat ini saja, sebanyak 30 pekerja dirumahkan untuk sementara waktu. Hal tersebut untuk menunggu kepastian ekonomi kembali stabil. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Ini Cara Membuat Miniatur Vespa dari Pelepah Pisang

 Agung menunjukkan miniatur becak dan vespa yang dibuat dari pelepah pisang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Agung menunjukkan miniatur becak dan vespa yang dibuat dari pelepah pisang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Siapa sangka pelepah pisang yang biasanya dibuang, tetapi justru bisa dimanfaatkan menjadi beragam kerajinan miniatur seperti vespa, becak, dan tugu monas.

Agung Nugroho (22), warga Dukuh Sekarkurung, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo mengatakan, ide untuk memanfaatkan pelepah pisang berawal dari kegagalannya membuat miniatur dari kertas. Berawal dari sini, ia lantas mencoba membuat miniatur dari pelepah pisang.

“Pertama, cari pelepah pisang yang kering langsung dari pohonnya. Kedua, pelepah itu disetrika agar lurus. Ketiga, pelepah diberikan pola. Selanjutnya ditempeli kardus agar tebal dan kemudian dirangkai menggunkan lem menjadi miniatur sesuai keinginan kita,” tuturnya saat ditemui MuriaNewsCom di rumahnya, Selasa (1/9/2015).

Terakhir, kata dia, kerajinan dilapisi dengan vernis agar mengkilat. Satu miniatur buatan Agung tersebut dihargai Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu, tergantung tingkat kesulitan miniatur. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Top! Kerajinan Pelepah Pisang Buatan Warga Pati Tembus Malaysia

Agung Nugroho tengah menyelesaikan kerajinan miniatur vespa yang dibuat dari pelepah pisang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Agung Nugroho tengah menyelesaikan kerajinan miniatur vespa yang dibuat dari pelepah pisang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pelepah pisang sebagian besar dibuang menjadi sampah atau dibiarkan membusuk di tanah pekarangan rumah. Beda halnya dengan Agung Nugroho (22), warga Dukuh Sekarkurung, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo.

Di tangan Agung, pelepah pisang dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan yang unik. Salah satunya, miniatur vespa, becak, hingga tugu monas.

“Pelepah pisang sebetulnya bisa dibuat miniatur apa saja. Tapi, saat ini saya baru merancang miniatur vespa, becak dan monas. Sehari, biasanya saya bisa menghasilkan dua hingga tiga miniatur,” ujar Agung saat ditemui MuriaNewsCom, Selasa (1/9/2015).

Satu miniatur biasanya dihargai dengan Rp 50 ribu. Kendati begitu, miniatur buatan Agung tersebut sempat dihargai Rp 250 ribu. “Pernah ada pemesan dari Malaysia yang membeli dengan hitungan dollar Amerika, yaitu 20 dollar Amerika. Belinya lewat media sosial,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Disbudparpora Pati Gelar Pameran Batik dan Kerajinan

Bupati Pati Haryanto tengah melihat salah satu batik yang dipamerkan di Alun-alun Pati, Kamis (30/7/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto tengah melihat salah satu batik yang dipamerkan di Alun-alun Pati, Kamis (30/7/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Pati menggelar pameran batik dan kerajinan di Alun-alun Pati, Kamis (30/7/2015) hingga Sabtu (1/7/2015) mendatang.

Dalam pameran tersebut, berbagai karya pemuda Pati juga ditampilkan. Salah satunya, kaus oblong, kerajinan dari pemanfaatan barang bekas, makanan dari ikan laut, roti dari ketela, menghias kuku, kostum daur ulang, hingga karya anak SMKN 2 Pati yang membuat genset otomatis.

Pengunjung yang masuk stan pameran tidak dipungut biaya. Masyarakat diberikan kesempatan untuk melihat-lihat dan membeli berbagai produk yang ditawarkan dalam stan.

Terkait dengan batik, Bupati Pati Haryanto menegaskan pengembangan batik lokal memang diperlukan untuk menangkat potensi yang ada di setiap daerah. ”Kami memang komitmen untuk mengembangkan batik lokal, karena Kabupaten Pati punya banyak jenis batik mulai dari Bakaran, Langse, Pesantenan, hingga Batik Bumi Saridin,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (30/7/2015).

Komitmen tersebut, kata dia, dilakukan dengan membuat Peraturan Bupati (Perbup) penggunaan seragam batik mina tani. ”Perbup penggunaan seragam batik untuk PNS di lingkungan Kabupaten Pati sudah berjalan. Dengan demikian, kami bisa menciptakan lapangan kerja, sekaligus mengangkat potensi lokal,” imbuhnya.

Ia menambahkan, pihaknya akan gencar mencanangkan gerakan cinta produk lokal dan pembangunan pasar produk lokal di Jalur Pantura. ”Kami berharap, perekonomian di Kabupaten Pati semakin maju dengan mengangkat potensi lokal. Salah satunya dengan menggelar berbagai pameran,” tutupnya. (LISMANTO/TITIS W)